Ingin Kurus dan Langsing? Baca Tentang Pima Paradox dan Sumo


Sumber Gambar

The Pima, Sumo and Canine Diets – Fenomena Obesitas
By: Dokter Jason Fung

Orang Pima Indian dari Amerika SouthWest memiliki tingkat obesitas dan diabetes tertinggi di Amerika Utara. Diperkirakan 50% orang dewasa Pima adalah obesitas dan di antaranya, 95% menderita diabetes. Bagaimana ini bisa terjadi? Ada banyak hipotesis. The Thrifty Gene Hypothesis menjadi populer di tahun 1970an dan beberapa orang masih mempercayainya. Menurut hipotesis ini, kita semua diprogram secara genetis untuk menggemuk. Tetapi, karena makanan pada umumnya tidak tersedia, kita tidak mengalami obesitas. Di zaman modern, makanan mudah didapat setiap saat. Gen kita sekarang bekerja melawan kita dan memaksa kita untuk makan dan menyimpan makanan sebagai lemak. Ada banyak masalah dengan teori ini.

Di masa makanan di alam berlimpah (crops, game, ikan), obesitas atau diabetes tidak tumbuh kembang pada orang Pima. Seorang pria seberat 160 pound dengan persentase lemak tubuh 10% (sangat kurus) bisa bertahan selama 30 hari tanpa makanan. Jadi, sesungguhnya, gen kita tentu saja tidak perlu untuk memprogram kita untuk memiliki 30 atau 40% lemak tubuh. Selain itu, super duper penting untuk menghindari kelebihan lemak tubuh agar sanggup bertahan hidup. Pada masa kita tinggal di goa, menurut saya, orang seberat 400 pon, yang mana hampir tidak bisa berjalan, pasti tidak akan sanggup bertahan di alam liar untuk waktu yang lama.


Suku Pima

Sebelum tahun 1900an, Pima hidup dengan cara tradisional, mereka bergantung pada pertanian, perburuan dan penangkapan ikan. Makanan olahan bukan bagian dari hidangan mereka. Semua laporan dari waktu itu menunjukkan bahwa Pima ‘sigap’ dan kondisinya sehat-sehat saja.

Pada awal 1900-an, pos perdagangan Amerika mulai terbentuk di sepanjang Barat. Tak lama kemudian, petani Amerika memindahkan pasokan air yang seharusnya untuk Pima, malah dialihkan untuk pertanian. Hal ini menyebabkan kelaparan meluas. Pemerintah memberikan bantuan pangan untuk meringankan beban mereka. Gula dan tepung mulai dipasok. Kedua benda itu mulai menggantikan makanan tradisional Indian Pima. Pada tahun 1950-an, terjadilah obesitas yang meluas terkait dengan kemiskinan yang mulai dienyahkan.

Situasi yang melanda Indian Pima tentu saja tidak unik. Obesitas dan diabetes (Diabesity) telah menjadi masalah bagi hampir semua suku asli Amerika. Hal ini terjadi beberapa dekade sebelum epidemi obesitas saat ini melanda di Amerika Utara. Sebagian besar suku asli mengembangkan obesitas di era 1920-1950, jauh sebelum epidemi saat ini yang dimulai pada tahun 1977.


Sumber Gambar

Beberapa orang percaya bahwa obesitas adalah merupakan akibat karena kita terlalu banyak menconggok di depan komputer, atau duduk manis bermain games, atau karena kemana-mana menggunakan mobil. Yang lain berasumsi karena adanya peningkatan prevalensi makanan cepat saji, atau karena makan di luar. Namun, ini tidak menjelaskan epidemi obesitas di Pima beberapa dekade sebelum obesitas meluas di Amerika Utara. Tampaknya obesitas paradoks telah terbentuk sebelum faktor-faktor yang disebutkan di atas.

Jadi, apa dong yang bisa merupakan penjelasan tentang Pima Paradox? Cukup sederhana. Obesitas di mana-mana penyebabnya sama saja, bukan hanya di Pima. The fattening carbohydrate atau karbohidrat yang menggemukkan. Ketika Pima mengganti makanan tradisional (yang tidak dimurnikan) dengan gula dan tepung yang sangat halus, mereka menjadi gemuk.


Makanan Pesumo Chankonabe

Saat mereka mengalami obesitas, mereka mengalami resistensi insulin dan setelah itu diabetes. Resistensi insulin menyebabkan peningkatan kadar insulin lebih tinggi dan melestarikan diabetes.

Coba kita tengok diet Sumo. Bagaimanapun, orang Jepang telah menghabiskan waktu lama mempelajari bagaimana membuat seseorang bertambah berat—sesuatu yang jarang diminati orang lain. Mereka juga terobsesi dengan toilet, manga dan pohon yang benar-benar kecil (bonsai), tapi kita tidak juga belajar dari mereka. Menarik, karena tidak ada budaya lain yang membuat studi tentang bagaimana cara menggemuk.

Timbangan pegulat sumo biasanya menunjukkan angka 400-600 pound, tapi tentu saja, porsi yang signifikan adalah otot dan juga lemak. Dasar diet mereka adalah chankonabe—sup ikan, daging, tahu dan sayuran. Dan, pastinya, 5-10 mangkuk nasi dan 6 liter bir. Dan itu hanya untuk makan siang—mereka juga akan makan segabruk lagi saat makan malam. Ini adalah makanan dengan kadar lemak rendah yang sangat ekstrim—sekitar 16% lemak dan 57% karbohidrat.

Tidur setelah makan juga rutin. Makan siang yang besar diikuti dengan tidur siang, dan makan malam yang banyak dilanjutkan dengan tidur. Let’s see. Diet rendah lemak. Tinggi dalam karbohidrat halus dan bir. Makan malam yang besar diikuti dengan tidur. Kedengarannya sangat mengerikan seperti diet yang direkomendasikan oleh American Heart Association.


Minum bir 6 Liter setiap malam sebelum tidur jika ingin menggemuk.

Mereka makan 10.000 kalori, dan mungkin Anda berpikir bahwa hal itu juga berperan. Tentu saja, bisa jadi itu mungkin, tapi kalori saja tidak cukup seperti yang telah kita eksplorasi di Seri Kalori. Ada kemungkinan mengonsumsi 5.000 kalori per hari dari karbohidrat rendah, tetapi tinggi lemak, dan ternyata tidak menimbulkan kenaikan berat badan yang signifikan. Jadi kalori sendiri tidak mencukupi. Overfeeding studies/ studi-makan-banyak juga menunjukkan kesulitan, kalori berlebih tidak menyebabkan kenaikan berat badan. Dalam beberapa penelitian overfeeding (makan banyak), subjek mengonsumsi sebanyak 10.000 kalori per hari, namun hanya naik beberapa kilogram.

Bukan hanya manusia yang sedang mengalami obesitas. Hal yang sama berlaku untuk hewan peliharaan juga. Lebih dari 50% kucing dan anjing tergolong kelebihan berat badan atau obesitas. Jika kita lihat dengan seksama kandungan apa yang ada dalam makanan anjing, kita akan mendapatkan petunjuk, apa penyebab obesitas.

Bahan pertama adalah jagung kuning. Ada juga makanan gluten jagung, tepung terigu utuh, tepung beras dan gula pasir. Semua karbohidrat olahan. Anjing, tentu saja adalah karnivora dan seharusnya tidak makan karbohidrat. Baik anjing ataupun manusia, bisa menggemuk karena karbohidrat olahan.


Sumber Gambar

Hal yang sama berlaku untuk ternak. Di peternakan industri saat ini, ada penekanan untuk membuat ternak digemukkan sehingga mereka bisa secepatnya sampai di meja makan. Sapi biasanya makan rumput, tapi ternyata ini cara yang sangat buruk untuk membuat mereka gemuk.

Biasanya, sapi yang dibesarkan untuk program gemuk, akan diberikan pakan dengan mayoritas 90% biji-bijian. Ini memiliki efek penggemukan yang melesat, sehingga bisa disembelih lebih cepat. Baik sapi ataupun manusia sama saja, jika ingin menjadi obesitas hanya ada satu cara yang super ampuh—karbohidrat yang menggemukkan. Di negara tropis yang tidak banyak tumbuh biji-bijian, molasses/ sari tebu bisa digunakan. Peternak, yang telah mempelajari segala cara untuk menggemukkan ternak, segera menyadari bahwa fattening carbohydrate/ karbohidrat halus bisa membuat hewan ternak membulat. Tidak ada yang lebih baik daripada itu.


Beer Belly atau Fatty Liver

Memberi makan biji-bijian sapi juga memiliki efek ada lemak di tengah-tengah otot. Ini, tentu saja, tidak normal atau tidak sehat bagi sapi. Lemak tidak seharusnya berada di tengah otot. Namun, memang membuat daging lebih empuk sehingga proporsi biji-bijian harus lebih banyak dibandingkan rumput.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *