Rejimen Puasa Panjang Untuk Meramping

Sumber Gambar

 

Puasa dibagi berbagi jenis, tergantung durasi. Selain tujuan klasifikasi, tujuan fisiologis juga dijadikan alasan. Tidak ada garis pemisah mengandung magic. Nah, postingan kali ini akan membahas puasa lebih dari 24 jam.

Puasa 24 jam

Masa puasa ini pada dasarnya adalah makan malam bertemu dengan makan malam, atau sarapan pagi, makan lagi nanti saat sarapan, apa pun yang kamu suka. Misalnya, kamu akan makan malam jam 7 malam dan kemudian puasa sampai makan malam hari berikutnya jam 7 malam. Dalam rejimen ini, kamu tidak puasa sehari penuh, karena kamu masih makan sehari sekali pada periode puasa. Ini sangat mirip dengan gaya ‘Warrior’ meskipun, masih ada jendela makan selama 4 jam, jadi secara teknis merupakan periode puasa 20 jam.

Periode puasa ini memiliki beberapa kelebihan penting, yaitu:

  1. Pertama, karena durasi yang lebih lama, ia cenderung menjadi lebih efektif.  Oleh karena itu, kamu masih makan setiap hari, sehingga obat yang perlu diminum dengan makanan tetap bisa dikonsumsi. Misalnya, metformin, atau suplemen zat besi, aspirin, semuanya harus ditelan bersama makanan dan bisa disantap pada satu kali makan pada hari puasa.
  2. Selain itu, teknik ini yang paling mudah untuk dipraktikan sehari-hari. Kebanyakan orang, akan makan malam bersama keluarga setiap hari. Karena kamu masih makan malam, rutinitas berpuasa ini bisa jadi tidak akan diketahui oleh orang lain, sehingga lebih memudahkan prosesnya, karena kamu hanya melewatkan sarapan dan makan siang. Hal ini sangat mudah selama hari kerja. Kamu cukup minum secangkir kopi pagimu, tapi skip sarapan pagi. Kamu bisa bekerja saat makan siang sehingga bisa melewatkan maksi, dan pulang ke rumah untuk makan malam. Ini menghemat waktu dan uang. Tidak harus memasak atau mencuci untuk sarapan pagi. Kamu menghemat satu jam saat makan siang dimana kamu bisa bekerja, dan pulang ke rumah untuk having dinner tanpa ada orang yang menyadari bahwa kamu telah berpuasa selama 24 jam.

By: Dokter Jason Fung (Longer Fasting Regimens – Part 7)

Eat Stop Eat

Jadwal puasa 24 jam yang dilakukan satu atau dua kali per minggu ini direkomendasikan oleh Brad Pilon dalam bukunya Eat, Stop, Eat. Brad adalah seorang binaragawan yang merupakan pelopor dalam mempopulerkan puasa intermittent dan telah melakukan kajian menyeluruh tentang sains di balik puasa.

Sumber Gambar

The 5:2 Diet

Puasa lainnya adalah 5: 2 yang diperjuangkan oleh Dr. Michael Mosley, produser TV dan dokter yang paling dikenal karena mempopulerkan tren ini. Dia muncul dalam program BBC bernama Horizon berjudul “Eat, Fast, and Live Longer”. Meskipun ada beberapa model puasa yang dihasilkan oleh pelopor seperti Martin Berkhan dan Brad Pilon, mereka belum benar-benar memukul arus. Dengan dokumenter BBC dan buku yang segera terbit, para peminatnya mulai menguat, terutama di Inggris. Buku yang berjudul “The Fast Diet” menjadi best seller di Inggris dan segera di follow-up dengan dirilisnya buku-buku sejenis. Basic diet itu tidak cukup 24 jam puasa, seperti Brad Pilon deskripsikan. Sebagai gantinya, diet 5: 2 terdiri dari 5 hari diet normal. Pada dua hari lainnya, kamu bisa makan total 500 kalori. 500 kalori itu bisa dikonsumsi semua dalam sekali makan. Jika, misalnya, kamu makan malam, maka akan identik dengan Eat, Stop, Eat diet. Namun, kamu juga bisa menyebarkan 500 kalori itu ke dalam beberapa jam makan. Kedua pendekatan dan perbedaannya secara fisiologis nyaris mirip.

Alternatif Harian Puasa (ADF)

Inilah strategi diet yang paling banyak diriset. Sebagian besar dilakukan oleh Dr. Krista Varady, asisten profesor nutrisi di University of Illinois – Chicago. Dia menulis sebuah buku tentang strateginya dalam The Every Other Day Diet, meskipun kesuksesannya tidak bisa mengimbangi blockbuster metode 5:2. Meski sepertinya kamu dalam beberapa hari, hanya makan sekali, tetapi faktanya tidak begitu. Kamu bisa makan sampai 500 kalori pada hari puasa, seperti pada diet 5: 2. Tetapi, hari puasa dilakukan dua hari perminggu sehinga ini tampak seperti rejimen yang intensif. Keuntungan esensial dari rejimen ini adalah bahwa lebih banyak penelitian tersedia mengenai rejimen ini daripada yang lain. Kita akan mempertimbangkan studi ini secara lebih rinci di postingan selanjutnya.

Before dan After Setelah Melakukan Intermittent Fasting

36 jam puasa

Seiring progresif dan semakin lama kamu berpuasa, ada manfaat yang didapat lebih cepat, tapi ada juga risiko komplikasi. Karena saya sering menangani penderita diabetes tipe 2 dan sulit mengobati kasus obesitas, saya cenderung tertarik pada masa puasa yang lebih lama, namun kamu harus mengerti bahwa saya selalu memantau tekanan darah, kerja darah dan kemajuan mereka dengan sangat seksama. Jangan membuat puasa menjadi pekerjaan yang membuat kamu stres, jika kamu merasa tidak enak badan, kamu harus berhenti. Kamu boleh lapar, tapi kamu seharusnya tidak merasa mual atau sakit. Estimasi fundamental lainnya adalah bahwa pengobatan harus dipantau dengan hati-hati oleh dokter. Masalah majornya ialah jika kamu meminum obat diabetes dan kamu berpuasa, kemungkinan kamu akan mengalami hipoglikemik dan itu sangat berbahaya. Gula darah yang rendah tidak menjadi komplikasi per se, karena pada umumnya ini adalah  tujuan puasa. Memang benar, kita ingin gula darah menjadi rendah. Tetapi, bukan berarti kamu overmedicated atau kelebihan ‘obat’ pada hari itu.

Kamu harus bekerja sangat hati-hati dengan dokter untuk menyesuaikan obat dan memonitor gula. Selain itu, ada beberapa obat tertentu yang dapat menyebabkan nyeri lambung pada saat perut kosong. NSAIDS, ASA, suplemen Besi dan metformin adalah obat sentral di sini. Secara umum, obat diabetes dan insulin HARUS dikurangi pada hari puasa untuk menghindari hipoglikemia. Berapa banyak jumlahnya, harus diawasi oleh doktermu.

SAYA TIDAK MEREKOMENDASIKAN PASIEN YANG SEDANG MEMINUM OBAT UNTUK MELAKUKAN PUASA JANGKA PANJANG TANPA BERKONSULTASI DENGAN DOKTER MEREKA.

Puasa 36 jam berarti kamu berpuasa sepanjang hari. Kamu selesai makan malam pada hari 1 pada pukul 7 malam misalnya, dan kamu akan melupakan semua makanan pada hari ke 2, dan tidak makan lagi sampai sarapan pukul 7 pagi pada hari ke 3. Jadi totalnya 36 jam puasa.

Sumber Gambar

42 jam puasa

Kami sering menyarankan klien kami untuk melakukan rutinitas dengan melewatkan sarapan dan berbuka puasa pada siang hari. Cukup simpel untuk mengikuti periode puasa 16: 8 pada hari reguler. Setelah beberapa hari, mayoritas orang mulai terbiasa membuka hari mereka dengan hanya segelas air dan secangkir kopi. Jika kamu mengkombinasikan dengan puasa selama 36 jam, total puasamu menjadi 42 jam. Misalnya, kamu makan malam pukul 6 sore pada hari ke 1. Kamu skip semua makanan pada hari kedua dan berbuka puasa pada jam 12 siang. Total puasamu sebanyak 42 jam.

Untuk puasa dengan durasi yang lebih lama, kita sering mencoba untuk tidak membatasi kalori selama periode makan tersebut. Seringkali, saat orang terbiasa berpuasa, kita sering mendengar bahwa selera makan mereka mulai turun drastis.Tidak naik. Malah turun. Mereka harus makan sampai kenyang pada hari makan mereka. Ada alasan bagus untuk mengurangi nafsu makan. Saat kamu mulai mematahkan siklus resistensi insulin, tingkat insulin mulai menurun. Karena insulin adalah pengatur superior tubuh yang mengatur berat badan (BSW) tubuhmu, sekarang si badan ‘ingin’ si BSW menjadi lebih rendah.

Sebagai responnya, rasa lapar ditekan dan total pengeluaran energi dipertahankan. Jadi—nafsu makan turun dan TEE tetap sama atau naik. Ingat bahwa strategi Pengurangan Kalori sebagai Primer (CRAP) menghasilkan kebalikannya. Nafsu makan naik dan TEE turun. Menurutmu, mana yang akan bekerja dalam jangka panjang?