Ingin Ramping dan Mengusir Diabetes? Baca tentang apakah Resistensi Insulin Itu Hal Buruk?

Sumber Gambar

Semua orang mengatakan bahwa resistensi insulin itu sesuatu yang bobrok. Situasi yang sangat jelek. Pertanda bahwa tubuh kita sudah aus. Ini adalah akar penyebab diabetes tipe 2 (T2D), dan sindrom metabolik, ya kan? Jadi, jika begitu rombeng, mengapa tubuh kita selalu membikin dia eksis? Ditambah ini adalah reaksi pertama yang dikerjakan oleh si badan. Jangan-jangan, resistensi insulin itu tidak seburuk yang kita pikirkan.

Apa penyebabnya?

Dr. Gary Fettke dari Tasmania menulis sebuah buku—yang bersifat iluminasi—berjudul Inversion dimana dia menggambarkan bagaimana Anda dapat belajar banyak dari melihat sesuatu dari kacamata lain.
Tengkurapkan (lihat terbalik) perspektif Anda, dan lihat bagaimana cakrawala Anda diperluas secara bernas.

Jadi mari kita lihat mengapa kita mengembangkan resistensi insulin. Mengapa itu baik?

Analisis Akar masalah                 

Apa kausa alasan terjadinya resistensi insulin? Beberapa orang mengatakan bahwa peradangan atau stres oksidatif atau radikal bebas menyebabkan resistensi insulin. Itu adalah jawaban cop-out total. Peradangan adalah respon tubuh yang tidak spesifik terhadap cedera. Tapi hal pertama apa yang menyebabkan luka? Itulah masalah sebenarnya. Peradangan hanya respon tubuh lantaran luka, apa pun jenis cederanya.

Think about it this way.

Sumber Gambar

Misalkan kita adalah ahli bedah medan perang. Setelah berpuluh-puluh tahun bekerja, kita memutuskan bahwa darah itu buruk. Bagaimanapun, setiap kali kita melihat darah, hal-hal fatal sedang berlangsung. Bila kita tidak melihat darah, hal inferior tidak terjadi. Pasti darah itu berbahaya. Jadi, kita memutuskan bahwa darah adalah apa yang membunuh orang, kita menemukan sebuah mesin untuk menyedot semua darah manusia. Genius! Masalahnya, tentu saja, adalah apa yang menyebabkan pendarahan, bukan darah itu sendiri.

By: Dokter Jason Fung (Insulin Resistance is Good? – T2D 7)

Carilah akar penyebabnya. Pendarahan hanya responnya, bukan penyulutnya. Pendarahan adalah penanda penyakit. Begitu juga radang. Sesuatu menyebabkan perdarahan, respon tubuh yang tidak partikular. Sesuatu mengakibatkan radang, respon si badan yang tidak istimewa. Ditembak menyebabkan pendarahan, luka pisau membikin pendarahan, dan pecahan peluru membuat pendarahan. Itu adalah akar penyebab. You got shot.  You bleed. Tapi masalahnya adalah tembakan, bukan pendarahan. Hal yang sama berlaku untuk peradangan. Apapun yang menyebabkan luka (penyebab utamanya) juga merangsang peradangan (respon nonspesifik terhadap cedera).

Peradangan hanyalah indikator penyakit. Jadi orang mengatakan bahwa penyakit kardiovaskular, diabetes, gangguan neurodegenerative, obesitas dan kanker semua melibatkan peradangan kronis. Tapi peradangannya tidak menyebabkan penyakit, itu hanya penanda saja. Jika peradangan sebenarnya merupakan akar penyebab penyakit jantung, misalnya, maka obat antiinflamasi (prednisone, ibuprofen, NSAID) akan efektif dalam mengurangi penyakit jantung, atau obesitas, atau kanker. But they are not. Kapan pun orang berbicara tentang peradangan sebagai penyebab penyakit, they just bandying around the latest buzzword.

Sumber Gambar

Maksudnya bukan bahwa peradangan (atau perdarahan) tidak berguna sebagai gejala penyakit. Jika darah berhenti, maka perawatan (tourniquet) sangat mungkin efektif. Tapi itu tidak cespleng karena pendarahan mandek. Itu manjur, lantas perdarahan pun mereda (ini adalah penanda untuk efektivitas). Demikian pula dalam peradangan dan diabetes tipe 2, seperti yang saya catat sebelumnya, terapi insulin tidak mengurangi peradangan. Jadi, pemberian insulin adalah salah kaprah. Diabetes yang semakin meraja lela ini merupakan sinyal bahwa pengobatan—dengan terapi insulin—adalah kacau.

Hal yang sama berlaku untuk stres oksidatif (atau radikal bebas). Tell me what is causing the oxidative stress, apa yang menyebabkan stres oksidatif? Itulah sebabnya mengapa terapi antioksidan sangat tidak efektif. Jadi, vitamin C, atau E atau N-acetylcysteine atau terapi antioksidan lainnya tidak pernah bekerja kapan pun mereka diuji dengan ketat. Karena stres oksidatif hanya respon (seperti radang) terhadap apapun proses penyakit yang mendasarinya. Jika seseorang terus-menerus mengatakan bahwa stres oksidatif (atau radikal bebas atau pembengkakan, atau mikrobiom usus buruk) sebagai penyebab penyakit XXX, larilah, jangan berjalan ke arahnya. “Resistensi insulin disebabkan oleh peradangan” seperti “luka tembak yang disebabkan oleh pendarahan”.

Resistensi insulin

Jadi, kembali ke resistensi insulin. Mengapa tubuh mengembungkannya begitu intens (sampai 50% dari populasi Amerika)? Ini tidak bisa mal adaptif. Tubuh kita tidak dirancang untuk gagal, karena kita bertahan selama beberapa milenium sebelum epidemi diabetes modern. Jangan-jangan, sebenarnya resistensi insulin sebenarnya berfungsi sebagai pelindung. Mungkin resistensi insulin ini sebenarnya protektif.

Sumber Gambar

Regulasi sensitivitas insulin adalah bagian dari respon fisiologis normal—ia dapat naik atau turun tergantung pada banyak hal, termasuk hormon lain (misalnya kehamilan) atau ketersediaan nutrisi.

Jadi bagaimana resistensi insulin bisa protektif?

Pertimbangkan ini. Glukosa yang jumlahnya bombastis di dalam darah itu tragedi bagi kita (gula darah menjulang). Jika kadar glukosa adiluhung ini beracun dalam darah, maka ia juga menjadi toksin di tubuh, dong. Bukankah seharusnya kita menyingkirkan kadar sengat glukosa? Kok ini malah hanya mendorongnya dari darah ke jaringan tubuh? Bagaimanapun, insulin sebenarnya tidak sanggup menyingkirkan glukosa. Ini menendang kelebihan glukosa dari darah dan memaksanya masuk ke dalam tubuh. Di suatu tempat di manapun. Mata. Ginjal. Saraf. Jantung.

Bayangkan Anda memiliki terlalu banyak sampah di rumah Anda. Tapi Anda ingin menjaga kursi Anda tetap molek dan rapi, caranya? Anda hanya memindahkan segala barang ke tempat lain. Alih-alih membuang sampah dari rumah, Anda hanya menggesernya. Bukan ide bagus. Untuk glukosa, bukannya menggunting jumlah total glukosa seluruh tubuh, kita hanya mengungsikannya dari darah ke dalam organ tubuh.

Jadi, jika glukosa tinggi ini beracun, maka respons alami jaringan (tubuh) adalah melindungi dirinya sendiri dari beban glukosa yang berlimpah ini.

Sumber Gambar

Misalkan Anda tinggal di jalanan DiabetesVille (setiap rumah adalah sel tubuh). Semua orang ramah dan biasanya membiarkan pintu mereka terbuka (sama seperti sel terbuka terhadap glukosa dalam keadaan sensitif insulin).

Sebuah truk penuh limbah beracun (glukosa) datang ke jalanan. Dan bapak tukang sampah (Insulin) ingin menyapu lendir ini. Jadi, setiap kali melihat pintu terbuka, ia menyekopkan beberapa limbah beracun (glukosa).

Setelah beberapa hari ini, apa yang akan Anda lakukan?

You’d bar your f***ing door, is what you’d do! You’d say,”I don’t want this toxic slime!” Itu resistensi insulin, dear! Anda membangun benteng pertahanan, sehingga, limbah beracun tidak menjebol pintu Anda. Ini bukan hal yang nista, itu hal yang manis. Resistensi insulin mencoba memagari sel dari tingkat toksik glukosa yang dicoba dijejalkan oleh si insulin ke dalam organ. Jadi, resistensi insulin adalah reaksi melawan insulin yang eksesif. Dia adalah sang pelindung.

Sebelum dan Sesudah Puasa Intermittent. Sumber Gambar

Dengan kata lain, seperti yang telah kita tulis sebelumnya, Insulin mengakibatkan resistensi insulin. Tapi penyebab utamanya di sini adalah Insulin, bukan resistensi insulin.

Jaringan (jantung, saraf, ginjal, mata) semua sibuk meningkatkan ketahanan mereka untuk melindungi diri dari Insulin yang mencoba memasukkan beberapa gelas racun ke dalam rumah mereka.

Jadi kita panggil dokter spesialis endokrin. Dr. Endo memutuskan bahwa lendir itu memang beracun, dan harus segera keluar dari jalanan. Ada beberapa pilihan:

  1. Mengurangi produksi glukosa toksik (diet rendah karbohidat) atau
  2. Membakar glukosa toksik (puasa).

Tapi sebaliknya, dia memutuskan bahwa dia akan mempekerjakan lebih banyak abang tukang sampah (insulin) untuk mendorong glukosa toksik ini ke dalam rumah. Paling tidak, Dr. Endo tidak akan bisa melihatnya lagi. Sekarang Dr. Endo bisa berpura-pura melakukan pekerjaan yang brilian.

Look! Jalan-jalannya elok dan bersih. Tapi semua racun glukosa masuk ke rumah (jaringan).

Dan apa yang terjadi seiring berjalannya waktu? Nah, semua jaringan tubuh mulai membusuk. Kami secara tidak sengaja ‘mengatasi’ resistensi insulin pelindung jaringan berkembang. Alih-alih menargetkan insulin, dan mengurangi jumlah total glukosa yang harus kita hadapi, kita semakin meningkatkan cara menyingkirkannya. Jadi, dengan meresepkan banyak insulin untuk pasien, kita tidak membuat hal-hal yang lebih baik, kita membuat mereka lebih buruk.

Warning – Technical talk ahead – feel free to skip ahead.

Biasanya, ada hubungan terbalik antara glukosa darah dan asam lemak bebas (FFA). Dalam keadaan puasa, glukosa rendah dan FFA tinggi. Tubuh membakar lemak untuk energi. Saat Anda makan, insulin naik, glukosa naik dan lipolisis dihambat dan kadar FFA turun. Tapi untuk penderita diabetes tipe 2, kadar insulin tinggi. Glukosa mengangkasa. Tapi karena insulin resisten meluber, FFA juga memuncak.

Jadi, jaringan tubuh sekarang berisiko menerima glukosa dan lemak double bahkan triple, dan lantas, sekarang menyebabkan stres oksidatif dan respons inflamasi. Tapi faktor penghasut di sini, adalah glukosa dan insulin yang berlebihan.

Kelebihan glukosa ke mitokondria membebani rantai transpor elektron dan menghasilkan produksi ATP yang lebay banget, serta Reactive Oxygen Species—semuanya menyebabkan stres oksidatif. Glukosa dimetabolisme melalui jalur anaplerosis yang menghasilkan AcCoA dan MalCoA yang menjadi substrat untuk sintesis asam lemak dan kolesterol. MalCoA menghambat FACoA menghasilkan steatosis, atau produksi dan pengendapan abnormal dari lemak ini.

Baiklah, bicara teknis sudah selesai. Selamat datang kembali. Jadi, di hati, insulin berlebih menghasilkan fatty liver. Kita dapat dengan mudah menunjukkan hal ini pada manusia. Dalam penelitian ini, 16 subjek uji overfed tambahan 1000 kalori camilan manis per hari.

Ini terdiri dari 1 kaleng Pepsi, 30 ml jus buah dan sekantong permen. Lebih dari 3 minggu, hanya ada peningkatan 2% dalam berat total tubuh. Namun, ada peningkatan lemak hati yang tidak proporsional sebesar 27% karena DeNovo Lipogenesis.

Dengan kata lain, insulin mendorong banyak kelebihan glukosa ini ke dalam hati dan berubah menjadi lemak. Beberapa lemak ini dapat diekspor keluar dari hati ke jaringan lain seperti otot dan pankreas yang membuat Anda mempunyai ‘pankreas berlemak’.

Di sel otot, kita mendapatkan timbunan lemak di antara untaian otot. Anda bisa menyebut ‘otot berlemak’ ini. Secara teknis, ini disebut akumulasi lipid intramyocyte.

Banyak yang berpikir hal ini menyebabkan resistensi insulin, namun ini lebih mungkin akibat glukosa dan insulin yang berlebihan. Akumulasi lemak di antara serabut otot (dimana seharusnya tidak ada), pada sapi, disebut lezat. Peternak, tentu saja, tahu persis bagaimana cara mengembangkan marbling pada sapi. Faktor penentu yang paling penting adalah jenis pakan.

Sapi adalah ruminansia, yang berarti bahwa mereka biasanya makan rumput. Tetapi, dengan memberi makan energi tinggi, diet gandum berat, peternak dapat meningkatkan tingkat pertumbuhan sapi sekaligus meningkatkan marbling.

Lihat apakah Anda bisa melihat perbedaan antara daging sapi marbled dan lean beef yang baik. Jika sapi diberi makan rumput, si daging tidak menghasilkan marmer, yang membuat steak harus dibumbui banyak-banyak supaya enak.

Untuk alasan ini, banyak sapi dicekoki jagung supaya mereka bisa mengembangkan marbling yang gemuk. Insulin dan glukosa. No secret. Ia bekerja pada manusia juga. Anda bisa melihat tumpukan lemak yang sama di sel otot jantung dan ini bisa menyebabkan gagal jantung

Sebuah Paradigma Baru

Jadi buku ini memaksa kita untuk melihat diabetes tipe 2 dari perspektif baru. Agen beracun di sini adalah glukosa yang berlebihan, dan konspirator co-nya, insulin.

Memindahkan glukosa toksin dari darah dan memaksanya masuk ke dalam tubuh tidak memiliki manfaat menyembuhkan, seperti yang telah banyak didemonstrasikan oleh beberapa penelitian acak jangka panjang—ACCORD, ADVANCE, VADT, dan ORIGIN. Sebaliknya, resistensi insulin merajalela dengan tepat karena ini melindungi jaringan melawan darah yang mencoba memasukkan semua muatan toksiknya ke dalam sel. Inilah sebabnya mengapa perkembangan resistensi insulin bersifat universal.

Itu hal yang baik, bukan hal yang buruk. Pemberian insulin eksogen untuk mengatasi insulin resisten ini sebenarnya merugikan. Jadi masalahnya sama sekali bukan insulin resisten. Sebagai gantinya, cari akar penyebabnya—kelebihan glukosa dan insulin yang meruah.

Camkan itu, dan diabetes tipe 2 pun hilang. Jadi ada perawatan yang busuk untuk diabetes tipe 2, dan ada yang ciamik. Yang  menurut kita buruk mengatasi resistensi insulin jaringan, justru untuk berperan sebagai benteng untuk jaringan. Ini adalah insulin dan sulfonilurea. Treatment yang tepat menyingkirkan glukosa dari tubuh. Anda dapat melakukan ini dengan mencegahnya masuk ke dalam tubuh terlebih dahulu (makanan rendah karbohidrat tinggi lemak, Acarbose), atau membakarnya (puasa) atau buang air kecil (Inhibitor SGLT-2).

Ini menjelaskan kekuatan kelas pengobatan baru ini dalam hal perlindungan jantung.

Resistensi insulin buruk? Tidak, tidak sama sekali. Ini baik. Resistensi insulin bukanlah akar penyebabnya. Ini adalah reaksi protektif alami terhadap akar penyebab—kadar insulin tinggi. It’s the insulin, stupid!

Apa implikasi praktisnya? Think about it this way.  Jika rumah Anda penuh dengan sampah, Anda bisa melakukan 2 hal. Berhenti memasukkan sampah ke dalam (Diet Tinggi Lemak Rendah Karbohidrat). Atau Anda bisa mulai membuang sampah keluar (puasa). Akan lebih cepat, yaitu stop memakan sampah, dan bakar sampai habis (LCHF + IF) atau diet rendah karbo dan puasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *