Teh dan Pencegahan Penyakit (Jantung, Kanker dan Metabolik Sindrom Lainnya)

Sumber Gambar

Teh hijau kedapatan di Cina pada sekitar 3000 SM. Para pendeta Buddha menggiring tradisi minum teh ke Jepang. Bahkan di zaman kuno, teh diyakini mengantongi gelar sekaliber kualitas obat.

Pada tahun 1211 M, imam Zen Jepang Yeisai menerbitkan buku ‘Kitcha-Yojoki’ yang diterjemahkan menjadi ‘Promosi Teh dan Kesehatan’

Sumber Gambar

Pada saat itu, perang saudara pecah dan minum teh terbengkalai selama dua abad. Dengan perdamaian yang dipulihkan, introduksi tanaman teh di Jepang dilakukan lagi oleh Yeisai.

Dia menulis tentang metode panen, produksi, dan juga banyak atribut yang dipersegar penyajiannya. Dia mengklaim bahwa teh adalah “obat ilahi dan karunia surga yang tertinggi”. Dimana, sebelumnya, minum teh dibatasi untuk bangsawan dan imam, lantas diubah dan disebar ke populasi umum.

Ketika Shogun Sanetomo sakit akibat pesta berlebihan, dia memanggil Yeisai untuk menjampi-jampi dengan doa. Bhikkhu Buddhis menokok doanya dengan teh, dan setelah sembuh, shogun menjadi pemuja teh nomor wahid.

Sumber Gambar

Obat modern sekarang mengejar kebijaksanaan kuno ini. Obesitas dan diabetes tipe 2 yang berkaitan erat secara signifikan, melonjakkan risiko kematian dan penyakit jantung. Apakah muatan utama teh hijau? Senyawa kimia yang ternyata dapat merampingkan beban penyakit. Dalam satu percobaan, pasien diinstruksikan untuk mengonsumsi dua minuman yang berbeda:

1. Teh oolong.

2. Teh hijau.

Beberapa penelitian telah disinyalir memuat manfaat yang gemilang, ketika voluntir menambahkan senyawa teh hijau ke dalam diet mereka, kadar katekin— bahan kimia yang dianggap efektif untuk menurunkan berat badan—dalam teh hijau, nyatanya memang lebih minim.

Teh oolong terbuat dari daun teh yang sama, tetapi proses fermentasi mengubah banyak katekin menjadi theaflavin. Teh oolong adalah teh dijual di Jepang dan paling membludak peminatnya.

Teh hijau menyimpan katekin dalam jumlah yang lebih melimpah, tetapi jumlah ini diperkaya LAGI dengan membuat sejumlah katekin terkonsentrasi. Setelah periode 12 minggu, ada antagonisme nyata dalam berat badan, kelompok teh hijau kehilangan 1,1 kg lebih banyak dibandingkan dengan divisi oolong. Ada benefit lain juga. Ukuran pinggang menukik 3,4 cm pada kelompok teh hijau, sedangkan kelompok oolong hanya 1,6 cm.

Faktanya, obesitas perut jauh lebih berbahaya bagi kesehatan manusia daripada berat badan total, dan oleh karena itu kriteria untuk sindrom metabolik dialaskan pada lingkar pinggang, bukan indeks massa tubuh. Efek mengurangi lemak tubuh dan lingkar pinggang juga diharapkan menyandang konsekuensi menguntungkan pada pengurangan diabetes tipe 2.

Sumber Gambar

Lantas, para periset yang sama pada studi pertama menggarap penelitian di 2009. Apakah tujuan dari uji coba ini? Untuk menentukan efek dari teh hijau. Pasien-pasien penderita diabetes tipe 2 ini hanya meminum teh hijau, tanpa tambahan insulin sama sekali. Mereka diteliti dengan metode pengecekan terkontrol plasebo secara acak.

Hasilnya cukup spektakuler.

Memang, berat badan tidak bergeming di antara kedua kelompok tersebut, tetapi lingkar pinggang—indikasi lemak perut yang lebih berbahaya—berkurang 3,3 cm pada kelompok katekin, tetapi tidak di plasebo. Tekanan darah sistolik melemah menjadi 5,9 mmHG dan diastolik sejumlah 3,0 mmHG pada kelompok katekin.

Trigliserida melonjak lebih dari 10%. Profil metabolik yang meningkat ini dikonfirmasi oleh tes darah yang menunjukkan retrogresi glukosa darah dan hemoglobin A1C, semacam rata-rata 3 bulan pengukuran glukosa darah.

Sumber Gambar

Dalam kelompok katekin, A1C diturunkan dengan 0,37, hampir sama kuatnya dengan beberapa obat yang digunakan saat ini untuk terapi diabetes. Efek menguntungkan ini juga ditemukan dalam kelompok studi lain.

Sebuah studi tahun 2006 yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine yang mengenali sebagai JACC (Studi Cohort Kolaborasi Jepang untuk Evaluasi Risiko Kanker) diikuti lebih dari 16.000 subjek dengan usia rata-rata 53 tahun dan indeks massa tubuh 22,7 (berat badan normal).

Teh hijau dan kopi keduanya sanggup melindungi kita dari kerusakan gigantis akibat diabetes tipe 2, sedangkan oolong dan teh hitam nggak nunjukkin manfaat ini. Meminum teh hijau dan kopi menelurkan hasil sekitar 30-40% risiko. Studi epidemiologi lainnya telah meneriakkan benefit yang sama untuk minum kopi.

Studi MEDIS mengusut 1.190 pasien lanjut usia di Kepulauan Mediterania Yunani, Siprus dan Kreta. Sekali lagi, meminum (1-2 cangkir) alias porsi moderat teh hijau dalam jangka panjang secara substansial menyaburkan kadar glukosa darah.

Pada para lansia yang terpapar risiko tinggi penyakit, penambahan konsumsi 1 cangkir teh per hari diharapkan sanggup mengurangi probabilitas diabetes sebesar 70%. Peningkatan sindrom metabolik ini mempunyai goal untuk memangkas penyakit jantung, hal ini telah kita diskusikan sebelumnya.

Sumber Gambar

Selain itu, kami melihat manfaat ini dalam preventif stroke juga. Meskipun variasi luas dalam konsumsi teh ada di 6 negara, terdapat hubungan yang profitabel yang konsisten antara minum teh dan risiko stroke. Subjek yang minum 3 cangkir teh atau lebih per hari memiliki 21% depresiasi risiko stroke.

Ada tiga mekanisme utama ‘asilum’ berteori:

  1. Pertama, katekin mendongkrak turunnya tekanan darah, faktor risiko elementer untuk stroke.
  2. Kedua, minum teh dapat bermanfaat untuk fungsi endotel (dibahas sebelumnya), antarmuka antara pembuluh darah dan aliran darah yang sangat vital untuk aterosklerosis.
  3. Manfaat ketiga yang mungkin melibatkan theanine, asam amino yang ditilik dalam konsentrasi tinggi di daun teh datang hampir secara eksklusif dari sumber itu.

Theanine mudah diserap ke dalam tubuh, melintasi penghalang darah otak, dan dapat membikin cagak, sehingga berfungsi sebagai benteng krusial pada kerusakan yang merajalela akibat stroke. Minum teh dapat membantu mengubah ‘goresan’ kecil menjadi tidak terdeteksi. Sebagian besar data mengenai teh hijau dan kanker berasal dari hasil meneliti dan mengupas satu demi satu riset pada hewan, yang menarik tetapi tidak definitif.

Sumber Gambar

EGCG, katekin utama dalam teh hijau mampu mencegah metastasis dengan menghalangi adhesi sel kanker ke lapisan endotel. Sel-sel kanker sering bergantung pada matriks metalloproteinase (MMP) untuk bermetastasis, dan EGCG telah disambangkan untuk menghambat MMP-2 dan MMP-9.

Dalam studi sel yang terisolasi, ini merupakan penyangga yang memblokir metastasis kanker. Alur fundamental lain dimana katekin teh hijau dapat utilitas adalah dalam induksi apoptosis (kematian sel terprogram).

EGCG mengikat ligan mati untuk membabat jalur mitokondria. Setelah diaktifkan, sel yang telah tewas tadi dan nggak pernah punya oportuniti untuk menjadi kanker.

Studi epidemiologi mini tampaknya membidik manfaat untuk kanker perut di Jepang, tetapi studi secara keseluruhan memang masih samar-samar. Manfaat ini kansnya kecil, tetapi resikonya juga mungil aja. Mengingat biaya minum teh yang murah tapi tetap meriah, ini kemudian membuat minum teh plus puasa, merupakan salah satu yang terjangkau, sepele dan paling kuat peranannya sebagai ‘bio hacks’.