Mau Kurus dan Ramping? Baca tentang Solusi Body Shaming pada Penderita Obesitas

Sumber Gambar

Hai, Geng. Apa kabar kalian? I want to talk about fat shaming or body shaming atau habit sebagian orang untuk memperolok-olok penderita obesitas. Padahal kegemukan itu sendiri bukan masalah si pasien rakus atau nggak bisa mengontrol diri. Ada hal esensial terkait hormon yang harus dibenahi. Jika isu telah diedit. Kegemukan bukan lagi perkara gigantis.

Kali ini, saya akan menerjemahkan penuturan dokter Jason Fung, seorang pendiri klinik IDM di Toronto Kanada, supaya lebih shahih dong. Cekidot.

By: Dokter Jason Fung (The Blame for Fat Shaming)

Membicarakan masalah obesitas kadang kala memicu sisi emosional seseorang. Terutama yang dihakimi nggak niat atau nggak punya motivasi untuk hidup sehat. Perihal lemak tubuh memang telah menjadi masalah sensitif. Alasan simpelnya, kadang kala kita memfitnah orang menjadi gemuk karena:

  1. Kurang aspirasi.
  2. Nggak ada kemauan.
  3. Karakter yang lemah.

Obesitas unik dibandingkan penyakit lain karena selalu ada tuduhan diam-diam bahwa penderita kegemukan sengaja menjadi gendut karena memang itu yang dimau.

Sumber Gambar

Padahal, faktanya, orang obesitas sudah melakukan berbagai upaya untuk bisa memangkas lemaknya, dia tampak a weak willed glutton alias tukang melahap yang lemah-iman-pada-godaan-kenikmatan-dunia bernama makanan.

Bukan hanya masyarakat umum yang ngelakuin ‘kejahatan’ pada penderita-kelebihan-lemak-ini, bahkan banyak dokter yang diam-diam melakukan fat shamming alias percaya bahwa pasien nggak punya motivasi ekstra. Lantas, siapa sesungguhnya yang harus disalahkan?

Para penggemar CICO (Calories In Calories Out) garis keras atau kalori-masuk-kalori-keluar, yang sering kali adalah kumpulan para dokter dan peneliti, terus-menerus berteriak, “makan dikit aje, olahraganya banyakin, dooooong !” A.k.a kegemukan hanyalah perkara kalori, Eat Less, Move More, atau makan lebih sedikit, bergerak lebih banyak.

Sumber Gambar

Jangan pernah-pernah ngatain orang lain dengan kalimat, “ini semua salah kamu, Gembrot!” The-CICO-crowd, bukannya berusaha menyembuhkan obesitas dengan compassion dan pengertian, malah mempermalukan dengan personal shame atau mengolok-olok. Sesungguhnya, itu hanyalah sebuah paket-super-besar-berisi-sebundel-kebohongan, yang dicekoki pada Anda, karena adanya sokongan beberapa perusahaan besar.

Contoh kasus, jika Anda mengalami kanker payudara, nggak ada seorang pun yang secara sikrit berpikir seharusnya Anda melakukan 1001 cara untuk mencegahnya. Nggak ada seorang pun yang akan membentak, “get with the program!” Misalnya, jika Anda ngalamin serangan jantung, Anda tidak harus menghadapi tuduhan yang tersembunyi itu.

Nah, oleh karena itu, obesitas menjadi aneh sendiri karena asosiasinya dengan rasa malu itu tadi. CICOpaths menyiratkan bahwa semua ini adalah salah Anda, karena Anda itu pecundang dan nggak mau dengerin mereka, seharusnya kamu kayak Brad Pitt atau Julia Roberts. It’s not true.

Selama beberapa dekade, manusia mencoba menangkis kesalahan epidemi obesitas dengan saran diet yang ngeri banget. Mengapa? Karena logika yang eror merupakan fondasi dari CICO.

Kita telah dibrainwash bahwa masalah fundamentalnya adalah adanya ketidakseimbangan kalori. Ini adalah kesalahan krusial dari yang terkrusial. Di dalam buku, The Obesity Code, saya telah menjelaskan bahwa obsesif pada fiksasi kalori itu inkorek alias salah fatal.

Let’s think about this. Obesitas tidak mewabah sampai dengan tahun 1970-an. Orang sebenernya nggak tau lho berapa banyak mereka memakan kalori. Plus, mereka juga nggak tau berapa kalori yang mereka bakar. Lagian, olahraga juga bukan sesuatu yang dilakukan untuk bersenang-senang.

Sumber Gambar

Tetapi, faktanya, tanpa usaha sebesar itu pun, warga di seluruh dunia dapat hidup tanpa obesitas tuh. Mereka nggak makan saat kenyang, dan pastinya, memakan sesuatu ketika lapar lah. Sejak tahun 1980, ngitung kalori menjadi sangat fundamental, padahal nyaris seluruh penduduk dunia sebelum itu tidak mengenal menjumlah kalori.

Namun sejak tahun 1980, entah kenapa, kita jadi sangat ketergantungan dengan calorie counters and step counters? Padahal sebelum itu manusia telah berhasil menghindari obesitas selama lebih dari 5000 tahun.

Ada dua perubahan diet yang sangat penting sejak tahun 1970-an di Amerika. Yaitu:

  1. Kita disuruh untuk menurunkan asupan lemak dan menambah karbohidrat. Artinya, kita diminta untuk memakan lebih banyak roti dan pasta, tetapi sialnya, ini malah membuat kita membulat. Hal ekstra lainnya, ada masalah yang terbang bebas di bawah radar.
  2. Dan frekuensi makan juga melonjak. Sementara itu, pada tahun 1970-an, mayoritas orang makan 3 kali/ hari—sarapan, makan siang, dan makan malam. Dan jika Anda nggak lapar, adalah sesuatu yang biasa aja jika kita melewatkan jam makan. Kamu harus mendengarkan tubuhmu, ketika si tubuh menyuruh makan, cobalah makan, jika tidak, jangan. Jumlah makanan per hari telah meningkat mendekati 6 hari—hampir dua kali lipat, dan ini terjadi pada 2004.

 Nah sekarang, ngemil bukan lagi hanya sebuah sarana memanjakan diri/ indulgence, tapi justru karena didorong oleh slogan sebagai cara untuk hidup sehat. Melewatkan jam makan sangat digemari.

What kind of Bizarro world was this? Dunia aneh apa, sih, ini? Untuk menurunkan berat badan, advis yang masuk akal menurut mereka adalah dengan memasukkan makanan ke mulut Anda tanpa henti.

Seriously? Jika Anda nggak makan, Anda akan semakin gemuk? Seriously? Ini benar-benar bodoh, baru berupa ide aja, udah tampak sangat bodoh. Pelarangan agar tidak makan digaungkan dengan sangat keras. Mereka—dokter, ahli gizi, ditopang oleh korporat menggaruk uang, mengatakan kepada pasien agar jangan pernah melewatkan makan.

Konsekuensi mengerikan mereka tanamkan. Majalah juga ikut-ikutan menyuarakan bahaya dari nggak makan. Tapi, apakah benar jika Anda nggak makan, akan ada konsekuensi super buruk dari kacamata fisiologis? Let’s see. Anda akan membakar lemak tubuh jika tubuh membutuhkan energi, ini akan terjadi saat Anda nggak makan. That’s all. There’s nothing else.

Bagaimana pun, tujuan teresensial dari tubuh membawa lemak pada saat pertama kali kan memang itu. Kita akan menyimpan lemak di tubuh saat kita nggak pake itu. Lemak tubuh akan digunakan saat kita nggak makan. Seruan agar orang makan lebih banyak dan dengan frekuensi lebih sering sering diserukan, ini yang bakal membuat orang mengemuk.

Namun intinya, ini sangat sia-sia. Dokter akan mengatakan bahwa pasien harus memotong kalori dan makan secara konstan seperti sapi perah di padang rumput, dan ini membuat orang membulat. Saran yang super seram ini nggak pernah sakses. Problem yang potensial ada dua sumber.

Antara 2 pilihan sih:

  1. Apakah saran diet itu memang buruk
  2. Sebetulnya baik, namun orang memilih untuk nggak ngikutin.

Di satu sisi, problemnya adalah advis dari dokter. Di sisi lain, itu hanyalah masalah dari pasien.

Mari kita uraikan ke basic-nya. Dokter dan otoritas gizi percaya secara terobsesi, bahwa kelebihan kalori akan nyebabin berat badan bertambah. The spirit is willing but the flesh is weak. Anda bermimpi doang, tapi nggak berbuat apa-apa.

 Saya percaya bahwa #1 benar. Oleh karena itu, pasien penderita obesitas—sialnya—, dapet saran yang tidak kompeten, yaitu dengan petuah agar memamah biak terus menerus, plus, memangkas asupan lemak dalam rangka mengurangi kalori masuk.

Gejala gagal-paham-penyakit-obesitas ini adalah masalah hampir semua simptom kegemukan. Saya nggak percaya bahwa mereka pemalas atau karakter mereka cacat. Nggak ada bedanya lah mau menangani pasien dengan penyakit kanker.

Periset dan banyak dokter percaya opsi #2. Saya pikir, anjuran itu sebenarnya bukanlah problemnya. Dan mereka percaya masalahnya adalah si pasien. Oleh karena itu, fat shaming sesuai asumsi mereka selama ini, atau lemak yang membuat mereka ketakutan saya akan berikan dalam dosis yang proper. Fenomena fat shaming yang selalu dijadikan problematika adalah a calorie is a calorie atau kalori adalah kalori.

Pemahaman mereka yang ngawur tentang kenapa manusia bisa menimbun lemak, pada akhirnya, membuat mereka menyalahkan pasien.

Epidemi obesitas dipercaya karena :

  1. Kehilangan kemauan dan
  2. Tidak berkarakter secara simultan dan kolektif.

Nama permainan ini adalah ‘Salahkan Korban.’ Dengan jalan itu, para dokter dapat meyakinkan diri mereka sendiri, bahwa nasihat yang mereka berikan adalah perfek apa adanya. Ini adalah kesalahan pasien. Does this make sense?

Di Amerika, orang obesitas (dengan BMI lebih dari 25)  sudah mencapai 70%, dan BMI lebih dari 30% mencapai 40%. Jadi, apakah sebenarnya krisis obesitas ini karena will power atau kehendak yang lemah?

Pertimbangkan analogi ini. Katakanlah, ada seorang guru mengajar kelas dengan 100 anak. Jika yang gagal hanya satu anak, mungkin itu adalah kesalahan anak. Mungkin dia nggak belajar. Namun jika 70 anak-anak nggak lulus, apakah ini kesalahan guru atau anak-anak? Sudah pasti gurunya.

Jika kaitannya dengan obesitas, perkaranya bukan karena pasien. Ini pasti karena saran diet yang keliru. Jadi ini bukan kegagalan karakter pribadi, tapi memang CICOpath itu yang salah kaprah.

Mereka denial bahwa kesalahannya ada di mereka, dokter yang salah mengerti apa itu obesitas, pasien hanya menjadi korban.

Inilah sebabnya mengapa obesitas bukan hanya penyakit dengan konsekuensi kesehatan yang fatal tetapi juga ditambah seiris rasa malu. Penyakit ini diiringi segepok konsekuensi psikologis yang mengerikan. Dan orang-oang menyalahkan diri sendiri karena semua orang mengatakan bahwa itu salah mereka sendiri.

Ketika mereka beneran ngomong, “salah lo lah, siapa suruh makan mulu.” Atau mereka melempar kalimat eufemisme ‘personal responsibility’ atau tanggung jawab pribadi. Tapi ternyata tidak. Masalah sesungguhnya adalah karena asumsi yang diterima dan diyakini secara serentak bahwa obesitas disebabkan oleh Calories in Calories Out atau kalori masuk dan kalori keluar.

Mentalitas CICO yang gagal ini telah merasuki seluruh jagat raya dan menyimpulkan secara alami bahwa, “ini adalah salahmu, dan, “let yourself go.”

Anda gagal mengontrol makan (rendahnya motivasi, rakus) atau nggak cukup olahraga (malas, sloth). But it is not true.

Obesitas, seperti yang saya tulis di The Obesity Code, bukan gangguan kebanyakan kalori. Ini adalah ketidakseimbangan hormon insulin atau hiperinsulinemia.

Dan memangkas kalori bukanlah solusi jika problematikanya adalah insulin. And guess what? It doesn’t.

Tidak hanya orang dengan masalah berat badan menderita semua masalah kesehatan fisik—diabetes tipe 2, masalah persendian, dll. Tetapi mereka juga disalahkan.

Isu-isu kesehatan yang diusung oleh obesitas adalah:

  1. Diabetes tipe 2.
  2. Masalah otot.
  3. Osteoporosis.
  4. Ektra disalah-salahin masyarakat.

Jika mengikuti saran CICO, tingkat kegagalan yang presentase-nya 99%, jadi jika target ini tidak dipenuhi seharusnya jangan menyalahkan pasien lah, ini nggak adil.

Haruskah orang marah karena itu? Pastinya, dong.

Jadi, sah-sah aja jika Anda ingin membasmi beberapa-dokter yang mengatakan bahwa kegemukan ini masalah kalori.