Ingin Ramping dan Kurus? Aku Bisa Membuatmu Kurus Dengan Cepat Lho

Sumber Gambar

Berdasarkan Hormonal Obesity Theory (HOT), kita telah menarik sebuah dalil  bahwa insulin dengan kadar tinggi dapat menyebabkan obesitas. Meski kita telah membatasi asupan kalori, makan super sedikit, namun jika kita menyuntikkan insulin atau meminum obat yang menstimulasi insulin (sulphonyureas), kita tetap akan menggemuk. Jika memang teori ini benar adanya, maka, jika kita mengurangi insulin, harusnya kita meramping dong. Dengan kata lain, walaupun kita menambah kalori, tetapi jika insulin ditekan, seharusnya kita sanggup membuang lemak. Faktanya, ternyata teori tadi benar 100%.

Diabetes Tipe 1 adalah penyakit autoimun pankreas. Apakah itu? Sel penghasil insulin di tubuh telah rusak. Oleh karena itu, level insulin terjun bebas ke tingkat yang sangat rendah. Gula darah meningkat dalam darah. Tapi ciri khas penyakit ini adalah penurunan berat badan yang parah. Deskripsi klasik Aretaeus tentang diabetes tipe 1 “Diabetes adalah … mencairnya daging dan anggota badan menjadi air kencing”. Artinya, apa pun yang kamu makan, kamu tetap akan kurus kerontang. Sebelum ditemukan insulin, penyakit ini selalu berakibat fatal. Esensinya, insulin adalah sinyal bagi tubuh untuk menimbun lemak. Jika kita memberi insulin, tubuh akan bertambah gemuk. Jika kita menyedot insulin keluar, kita akan melangsing.

By: Dokter Jason Fung (I Can Make You Thin…Insulin – Hormonal Obesity V)

Dengan kalimat lain artinya adalah insulin merupakan salah satu pengendali utama bodi set weight (BSW). Jika jumlah insulin naik, tubuh kita diperintahkan untuk menambah berat badan. Inilah yang membuat nafsu makan kita menggila. Kita akan merasa sangat lapar dan terpaksa makan.

Jika kita tidak makan, kemudian tubuh akan menurunkan Total Energy Expenditure (TEE) atau Kalori keluar, sehingga meskipun kita makan sedikit semuanya berubah menjadi daging dan lemak. Nafsu makan menggelegak dan malas bergerak adalah akibat dan efek samping dari obesitas bukan penyebab kegemukan.

 The Great Gary Taubes telah mengatakan-

Kita tidak gemuk karena kita makan berlebihan

Kita makan berlebihan karena kita gemuk

Oleh karena itu, sekarang kita bisa membikin pertanyaan sempurna. Mengapa kita gemuk? Kita menjadi gendut karena kadar insulin kita terlalu tinggi. Dalam sebagian besar kasus, insulin adalah pemain utama dalam obesitas. Meskipun, bukan satu-satunya pelaku kejahatan—kortisol juga memainkan peran. Kortisol adalah hormon stres.

Nah, sekarang, jika kita berhipotesis bahwa kortisol yang meluber bisa mengakibatkan kegemukan, mudah saja solusinya, mari kita beri pasien asupan kortisol, lantas kita amati, apakah ia menggemuk atau tidak.

Kita bisa mengobservasi kasus dimana kortisol terlalu banyak diproduksi di tubuh. Ini disebut penyakit Cushing atau Cushing’s Syndrome. Ciri penyakit ini? Menggemuk.

Sumber Gambar

Di pasaran terdapat obat sintetis kortisol—sangat lumrah digunakan sebagai obat yang disebut prednisone, yaitu kortikosteroid. Ini adalah anti-inflamasi yang setrong dan sering digunakan dalam pengobatan asma, lupus dan gangguan inflamasi lainnya. Jadi, kalau kita memberikan prednison kepada seseorang, apa yang terjadi? Sindrom cushinoid akan berkembangbiak.

Dengan kata lain, pasien ini terlihat seperti berpenyakit Cushing. Sebagian besar mereka menyadari fakta bahwa mereka bertambah gemuk. Ciri khasnya, distribusi lemak tidak merata, dimana dinamakan obesitas truncal, yang artinya lemak tertimbun di bagian tengah tubuh, bukan di tempat biasanya lemak bersemayam (lengan dan kaki).

Sumber Gambar

Bagaimana jika terjadi sebaliknya? Jika kita percaya bahwa kortisol dapat menyebabkan obesitas, lalu bagaimana jika tingkat kortisol turun ke tingkat yang sangat rendah? Ya, ada juga penyakit Addisons. Ini juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal.

Kelenjar adrenal menghasilkan kortisol dan jika kelenjar ini rusak, maka kadar kortisol serta hormon lainnya berada di level sangat minimal. Ciri penyakit Addison? Penurunan berat badan.

Jadi apakah kunci kegemukan? Hormon. Dan ini adalah hubungan kausal. Satu hal menyebabkan yang lain. Ini adalah hubungan yang jauh lebih bertenaga dibandingkan kebanyakan studi korelasi (lihat peraturan #2 – Studi korelasi kebanyakan omong kosong)

Jika kita meningkatkan insulin, kita bertambah gemuk. Jika kita menurunkan insulin, kita menurunkan berat badan. Bobot tubuh kita (dan juga segala sesuatu di tubuh) diatur oleh hormon.

Variabel fisiologis yang penting bukan pada asupan kalori namun regulasi hormon. Kamu menggemuk jika hormon insulin dan kortisolmu tumpah-tumpah. Ini sungguh masuk akal.

Pertimbangkan hal ini. Jika kita makan 2000 kalori/ hari, jumlahnya mencapai 730.000 kalori dalam setahun (2000 * 365 = 730.000). Hampir semua orang, menambah berat badan sekitar 1-2 pon per tahun. Tidak banyak, tapi  bayangkan jika lebih dari 25 tahun, timbunan lemak di tubuh kita bisa mencapai 50 pound, ekstra. Dalam istilah kalori, ini berarti kelebihan kalori dari 7.200 kalori selama 1 tahun dengan asumsi bahwa 1 pon lemak kira-kira 3.600 kalori.

Tingkat kesalahannya sangat rendah, bahkan tidak mencapai angka 1%. Jika kita mempunyai kemampuan untuk melacak berapa banyak kalori yang kita makan dan berapa banyak kalori yang kita bakar, apakah menurutmu kamu bisa menghitungnya dengan sangat akurat? Sebagian besar dari kita bahkan tidak tahu berapa banyak kalori yang kita makan atau bakar pada waktu tertentu! Iya kan? Bagaimana ini bisa dikendalikan oleh otak rasional kita?

Seharusnya tubuh kita seperti ini. Idealnya. Tanpa insulin dan kortisol berlebihan.

Kita tidak mengendalikan berat badan kita, sama halnya kita nggak bisa mengontrol detak jantung kita. Keduanya berlangsung secara otomatis di bawah pengaruh hormon. Hormon memberitahu pada saat kita lapar. Hormon membisiki kita bahwa kita kenyang.  Hormon memberi tahu kita kapan harus meningkatkan pengeluaran energi. Hormon memberi tahu kita kapan harus memblokade energi mengalir.

Obesitas adalah disregulasi hormonal, yang mengakibatkan akumulasi lemak. Saat kita memforsir pengeluaran hormon, kita terkena penyakit seperti obesitas. Jika kita bisa mengerti bahwa obesitas adalah ketidakseimbangan hormon, maka kita siap untuk mengajukan pertanyaan selanjutnya—bagaimana kita mengatasi obesitas?

Jika kita percaya bahwa kelebihan kalori menyebabkan obesitas (Kalori Reduksi sebagai Primer) maka pengobatannya adalah mengurangi kalori. Dan ini adalah salah kaprah. Pemahaman gagal total. Jika kita paham bahwa obesitas disebabkan oleh insulin yang membludak, maka kita perlu menggeret insulin di kadar rendah.

Faktanya, jika kita melihat di data ini, bahwa pemahaman kita tentang obesitas keluar gelanggang dan tidak karu-karuan sejak zaman William Banting (pertengahan 1800an). Dari pertengahan 1800 sampai pertengahan 1900-an mereka percaya bahwa gula dan pati menyebabkan obesitas. Kegemukan diobati dengan memangkas gula dan pati. Dan hei, coba tebak, mereka telah sukses parah.

Dari tahun 1950 sampai 2000an, kita percaya bahwa kalori menyebabkan obesitas. Hal ini menyebabkan saran diet membatasi kalori—yang mana sudah pasti menuju gerbang neraka kegagalan. Dan hei, coba tebak, tingkat obesitas pun meledak.Kini, dengan membaca postingan ini kita 100% paham tentang dasar-dasar hormonal obesitas, kita sanggup melihat sebuah lingkaran utuh, dan kita sadar sebuah fakta bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab menjamurnya obesitas.

Kuncinya adalah me-restore insulin, dan menurunkan tingkat kortisol ke level sangat rendah. Sekali lagi, trik jitunya bukan menyeimbangkan kalori—namun menyelaraskan hormon.