Ingin Ramping dan Sehat? Baca Kaitan Antara Kegemukan dan Kanker

Sumber Gambar

Obesity and Cancer (1)

Kita telah berbicara secara ekstensif tentang obesitas, sindrom metabolik, puasa, dan diabetes tipe 2. Ini sangat penting karena akan berkembang menjadi penyakit kardiovaskular (serangan jantung dan stroke). Penyakit kardiovaskular merupakan pembunuh nomor 1 di Amerika, namun kita belum menyentuh pembunuh Amerika yang sangat dekat—si besar K—Kanker.

Penyebab kematian yang umum adalah penyakit jantung, dan stroke. Dan kanker sering di-anak-tirikan. Hal yang super duper krusial, hampir semua penyakit disebabkan oleh masalah metabolik. Ini termasuk diabetes, penyakit Alzheimer, penyakit hati, dan penyakit ginjal. Penyebab kematian tertinggi mempunyai benang merah yang sama, yaitu dikarenakan masalah metabolik, kira-kira 6 dari 10 kematian. Penyebab utama lainnya karena infeksi penyakit menular, merokok (penyakit paru-paru) dan bunuh diri/ kecelakaan.
Pada tahun 1977, penelitian apakah adanya hubungan antara penyakit kanker dengan epidemi obesitas baru saja dilakukan. Sebelum tahun 1977, kaitan keduanya belum diteliti. Sebelumnya kanker dianggap sebagai penyakit genetis atau keturunan. Dengan penemuan terbaru ditemukan banyak alasan yang bisa menyebabkan kanker. Tapi, yang perlu digarisbawahi, penyakit kanker bukan penyakit keturunan.

By: Dokter Jason Fung

Sebelum kita mengupas lebih dalam, pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan adalah apa yang dimaksud dengan kanker? Penyebab kanker bukan hanya satu faktor tunggal. Ada beberapa jenis kanker, dan penyebabnya berlainan satu sama lain. Misalnya, ada kanker umum, seperti payudara, kolorektal, prostat, kulit, pankreas, hati dll.

Ada kanker darah seperti berbagai leukemia dan limfoma. Mereka semua berbeda, tapi mereka juga memiliki beberapa karakteristik nyaris serupa. Ciri khas umum inilah yang ingin saya diskusikan. Ini seperti mendiskusikan olahraga profesional.

Anda bisa mengatakan bahwa sepak bola, sepak bola, hoki, pagar dan bola basket semuanya berbeda tapi semuanya bisa dipertimbangkan sama pada umumnya. Sepak bola, hoki, basket semuanya tidak sama, tetapi tetap saja mempunyai benang merah yang sejenis. Semua melibatkan kompetisi dan keterampilan fisik meski berbeda satu sama lain. Begitu pula kanker, mereka mempunyai banyak kesamaan. Salah satu artikel yang paling banyak dikutip dalam onkologi (studi tentang kanker) adalah makalah Weinberg klasik yang merinci 8 karakteristik umum/ Weinberg paper detailing 8 common characteristics. Nanti, kita akan membahasnya secara mendetail.

Hubungan antara kanker dan obesitas benar-benar dibuat kaya raya pada tahun 2003/ solidified in 2003 with a large scale epidemiological study dengan penelitian epidemiologi berskala besar yang diterbitkan di NEJM. Ini adalah studi-kohort-prospektif dengan skala gigantis yang disebut Cancer Prevention Study II. Ini berarti bahwa partisipan diidentifikasi dan terdaftar sebagai orang sehat dan kemudian mengikuti prosedur untuk melihat apa yang terjadi pada mereka. Ini dimulai pada tahun 1982 dan membutuhkan 77.000 relawan, yang berjumlah lebih dari 1 juta. Pada tahun 1984, 1986 dan 1988, relawan secara pribadi memanggil jutaan peserta ini untuk melihat siapa yang meninggal dan mengapa. Itu benar-benar mind-boggling alias menampar kita bolak-balik. Setelah tahun 1988, dengan adanya database nasional sanggup memperlicin segalanya. Variabel yang menarik adalah penyebab kematian karena kanker.

Secara keseluruhan, jika Anda menggemuk, sebenarnya Anda tidak berisiko terkena kanker. Risiko peningkatan kanker nilainya kecil, terkait dengan kelompok ‘kelebihan berat badan’ (BMI 25-30). Setelah itu, risiko meningkat secara bertahap yaitu 1,52 untuk kelompok obesitas yang tidak sehat (BMI lebih dari 40). Dalam bahasa sederhana, itu berarti bahwa peningkatan risiko kematian akibat kanker mencapai angka 52% pada orang sangat gemuk. Kanker tertentu lebih mencemaskan daripada yang lain, termasuk kanker hati dimana risiko Anda meningkat sebesar 452%!

Sumber Gambar

Berita itu membuat kita deg-deg ser. Namun, kanker paru-paru, menunjukkan hubungan terbalik. Risiko relatifnya adalah 0,67, yang berarti jika Anda gemuk, kemungkinan Anda terserang penyakit kanker paru-paru berkurang sebesar 33%. Tapi, bisa jadi itu disebabkan karena perokok cenderung berbadan langsing. Karena kanker paru-paru adalah salah satu pembunuh kanker terbesar, ini berarti bahwa 52% peningkatan risikonya bisa dianggap kelas teri. Jika Anda menghapus semua perokok dari kelompok, maka Anda mulai melihat hubungan yang jelas. Pada wanita yang tidak merokok, risiko relatif meningkat menjadi 1,88 pada BMI> 40 atau peningkatan risiko kanker sebesar 88%. Dengan kata lain, semakin gemuk, risiko terkena kanker pun semakin melonjak.

Namun ada satu hal yang menarik, dengan adanya fenomena yang terkenal yaitu kanker cachexia (kecenderungan yang terjadi pada pasien kanker di stadium lanjut kehilangan nafsu makan dan berat badan melorot drastis), menyebabkan hubungan antara obesitas dan kanker menjadi kabur. Efek ini akan, sekali lagi, menyebabkan kita tidak bisa melihat hubungan antara obesitas dengan kanker.

Dari data ini, peneliti menghitung PAF(Populasi Attributable Fraction), berdasarkan seberapa kuat asosiasi dan prevalensi obesitas. Secara umum, ini memberikan estimasi, berapa persen obesitas berkontribusi pada kanker. Pada pria, perkiraannya adalah 4,2-14,2%, dan pada wanita 14,3-19,8%. Dengan kata lain, kaitan antara obesitas dengan kanker nilainya sebesar 15%.

Perlu diingat, estimasi ini hanya mencakup data sampai tahun 1998. Sembilan belas tahun terakhir, angka obesitas terus melonjak naik, yang artinya fraksi yang ada terlalu rendah, sehingga kaitannya tidak terlalu signifikan lagi. Untuk beberapa jenis kanker, risikonya bahkan lebih tinggi. Untuk kanker endometrium, misalnya, PAF diperkirakan 56,8%.

Jadi, kanker jenis apa  yang kaitannya paling setrong dengan obesitas? Kanker payudara adalah salah satu kanker yang terkuat. Studi epidemiologis sejak tahun 1970an secara konsisten menemukan kaitan ini, relasi antara kanker dan prognosis juga lumayan erat. Pada wanita pascamenopause, tingkat kanker payudara meningkat 30-50% seiring dengan kenaikan berat badan. Beberapa studi menemukan bahwa adipositas sentral atau penumpukan lemak di area perut adalah faktor risiko tambahan, namun ada juga yang tidak. Tingkat kematian pada wanita gemuk akibat kanker payudara 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada wanita langsing. Alasan untuk kaitan ini belum ditemukan 100%, namun satu hipotesis yang kuat adalah bahwa penumpukan jaringan adiposa/ atau semakin Anda gemuk, maka efek estrogen pun semakin merayap naik. Kanker endometrium mungkin menunjukkan hubungan yang sama dengan alasan yang serupa. Tetapi, kanker lain kaitannya juga cukup kuat meskipun esterogen bukan pemain utama. Misalnya, adenokarsinoma (tipe kanker) kerongkongan juga menunjukkan PAF membengkak menjadi 52,4% di Amerika, untuk alasan yang belum jelas. Kanker ginjal juga melambung secara signifikan pada orang gemuk. Kanker pankreas, kanker kolorektal, kanker hati dan kandung empedu semuanya menunjukkan tingkat hubungan yang lebih rendah, namun tetap substansial.

Sumber Gambar

Kanker tertentu tidak terkait dengan obesitas sama sekali. Kanker paru-paru, menunjukkan sedikit asosiasi dengan obesitas, ini tentu saja masuk akal, karena penyebab utama kanker paru-paru adalah kebiasaan merokok. Kanker serviks juga tidak menunjukkan hubungan. Sekali lagi ini masuk akal karena Human Papilloma Virus dianggap merupakan pelaku utama.
Tapi kanker ovarium, dan kanker prostat juga tidak menunjukkan bukti bahwa obesitas bisa mempengaruhi.

Intinya adalah bahwa obesitas merupakan faktor penting dalam kanker pada umumnya, meski tidak semua kanker. Jelas, kanker adalah penyakit multi faktor, ada banyak penyebab yang bisa mengakibatkan kanker. Hal ini mirip dengan penyakit kardiovaskular, dimana tidak ada penyebab tunggal. Merokok, genetika, seks, keadaan menopause, pembengkakan, diet, olahraga, stres, obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, sindrom metabolik semuanya berperan dalam perkembangannya. Ini tidak mengurangi pentingnya salah satu dari faktor-faktor ini, namun berarti kita harus menerima bahwa ada beberapa jalur penting yang tidak bisa diabaikan. Dalam penyakit jantung, ini adalah dogma yang telah mapan.

Namun, pada kanker, telah ada konsensus yang meluas bahwa hal itu disebabkan oleh satu masalah—mutasi, dan bahwa segala sesuatu yang menyebabkan kanker adalah merupakan mutasi genetik. Hal ini tentunya berlaku untuk beberapa hal seperti radiasi ion yang menyebabkan kanker.Tetapi, teori mutasi somatik yang disebut SMT ini hampir pasti salah, nanti kita akan menyimaknya bersama-sama. Hubungan kuat dengan obesitas juga merupakan contoh yang bagus. Hal ini jarang didiskusikan karena obesitas diasumsikan hanya menyumbang 20-30% kanker umum (PAF). Menggemuk tidak menyebabkan mutasi genetik. Sel lemak tidak mutagenik. Tapi tentu saja membuka pintu untuk mempertimbangkan sisi hormon/ metabolik kanker. Karena jika penyakit metabolik memainkan peran kunci dalam kanker tertentu, maka pencegahan penyakit tersebut akan bergantung pada pembalikan cacat metabolik tersebut. Sekali lagi, sebuah harapan baru muncul. Kita bisa mencegah kanker. Horeeeeee.