Ingin Kurus dan Langsing? Simak Tentang Revolusi Atkins

Sumber Gambar

Revolusi Atkins – Hormon Obesitas

Penelitian jangka pendek diet-rendah-karbohidrat-ala-Atkins sangat menggembirakan. Tidak hanya pasien sanggup lebih langsing, namun profil metabolik para pasien menjadi lebih baik dibandingkan dengan diet-rendah-lemak, beberapa tahun yang lalu. Jutaan orang mengadopsi gaya hidup rendah karbohidrat, dan sepertinya menikmati manfaatnya. Menjelang pertengahan 2000-an, impian dokter Atkins mengenai Revolusi Diet telah berjalan dengan baik, mulus dan tepat sasaran. Ditambah lagi, penelitian lain, yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine nan bergengsi sepertinya menunjukkan bahwa diet Atkins mungkin bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan mempertahankan berat badan ideal.

By: Dokter Jason Fung

Dengan judul “Diets with High or Low Protein Content and Glycemic Index for Weight-Loss Maintenance”, penelitian ini dipublikasikan pada 25 November 2010. Sebanyak 773 pasien yang dipilih secara random setelah kehilangan berat 10% pada 4 kelompok protein tinggi dan rendah yang berbeda. Atau indeks glikemik rendah. Tiga dari 4 kelompok mulai menggemuk kembali. Satu-satunya kelompok yang berhasil mempertahankan penurunan berat badan adalah kelompok protein tinggi-kelompok indeks glikemik rendah. Ini terlihat sangat bagus bagi pengikut Atkins garis keras.

Pada tahun 2005, dalam Annals of Internal Medicine, artikel “Effect of a Low-Carbohydrate Diet on Appetite, Blood Glucose Levels, and Insulin Resistance in Obese Patients with Type 2 Diabetes” menunjukkan bahwa 2 minggu diet karbohidrat sangat rendah tanpa batasan  kalori ternyata sanggup mengurangi nafsu makan dan menurunkan berat badan. Dr. Boden menulis, “ketika kami menghilangkan karbohidrat, pasien secara spontan mengurangi konsumsi energi sehari-hari mereka sebesar 1.000 kalori per hari.” Tingkat insulin turun dan sensitivitas insulin dipulihkan. Great!

Dr. David Ludwig menyiramkan bensin ke api pada tahun 2012 saat menerbitkan artikelnya “Effects of Dietary Composition on Energy Expenditure During Weight-Loss Maintenance” pada tahun 2012 dalam Journal of American Medical Association. Dia mempelajari perbedaan Total Pengeluaran Energi (kalori yang terbakar) setelah penurunan berat badan, dia menemukan bahwa penurunan terbesar TEE adalah diet rendah lemak. Diet terbaik? Diet karbohidrat sangat rendah. Implikasinya di sini adalah diet karbohidrat yang sangat rendah akan menjaga metabolisme tetap tinggi dan mendorong penurunan berat badan. Hidup revolusi!

 Hal pertama yang terjentik di otak adalah bahwa karbohidrat olahan sering menyebabkan ‘kecanduan makanan’. Sementara protein dan lemak selalu menyalakan sinyal kenyang. Hormon seperti CCK dan peptide YY merespons protein dan lemak yang tertelan untuk memberi sinyal pada tubuh bahwa kita kenyang. Pikirkan terakhir kali Anda makan prasmanan, ketika Anda merasa sangat kekenyangan dan tidak sanggup mengunyah apa pun lagi. Sekarang, pikirkan makan 2 potong bistik daging. Ugh. Mungkin Anda tidak sanggup menelannya. Itulah hormon kenyang yang bekerja.

Tapi bagaimana jika Anda ditawari satu sendok kecil es krim dan pai apel? Sepertinya tidak terlalu sulit untuk melahapnya, bukan? Beberapa orang di keluarga saya biasa menyebut fenomena ‘perut kedua’. Artinya, setelah perut pertama kenyang, kami membayangkan ada perut kedua untuk makanan pencuci mulut.

Pikirkan makanan yang konon mempunyai efek ‘kecanduan’. Pasta, roti, biskuit, coklat, keripik. Sadar tentang sesuatu? Semua makanan yang mempunyai efek adiksi ini adalah karbohidrat yang sangat halus. Apakah ada yang pernah mengatakan bahwa mereka ‘kecanduan’ ikan? Apel? Daging sapi? Bayam? Not likely.

Pertimbangkan beberapa makanan yang mempunyai ciri khas memberikan rasa nyaman. Mac dan keju. Pasta. Es krim. Pai apel. Kentang tumbuk. Pancake. Notice anything?  Semua ini adalah karbohidrat yang sangat halus atau tepung. Karbohidrat olahan mudah menjadi ‘kecanduan’ dan membuat kita makan berlebihan justru karena tidak ada hormon kenyang alami. Pasalnya, tentu saja, karbohidrat olahan bukanlah makanan alami, tapi makanan hasil proses tingkat tinggi. Toksisitasnya terletak pada pengolahan.

There were objectors, of course. Salah satu konsentrasi utama pada diet Atkins adalah mengenyahkan water weight atau membuang air. Hal ini tentu saja benar. Salah satu tujuan nomor wahid pada diet adalah menurunkan kadar insulin dengan mengendalikan asupan karbohidrat.

Salah satu efek insulin yang diketahui adalah merangsang retensi garam dan air. Secara khusus, insulin bekerja pada tubulus proksimal di ginjal untuk merangsang reabsorpsi natrium. Jadi diet yang mengurangi kadar insulin dengan sangat membatasi karbohidrat mengakibatkan kita kehilangan garam dan air. Karena kita menumpuk banyak air di tubuh kita cukup banyak, dengan melakukan diet Atkins, awalnya, sebenarnya kita bukan kehilangan lemak, tapi kita melenyapkan air.

Sumber Gambar

Mengapa ini hal yang buruk?

Maksudku, siapa yang menginginkan pergelangan kaki oakematik membengkak sangat besar? Cankles (betis + pergelangan kaki) menggelembung—saya sih tidak mau. Hiiiy.

Kelebihan garam dan retensi air juga akan menyebabkan tekanan darah tinggi, sehingga kehilangan berat air merupakan hal yang sangat baik untuk saya. Jadi mengapa para kritikus selalu memalu dan mempermasalahkan hal ini?

Ada pendapat lain yang sering terdengar bahwa diet rendah karbohidrat membuat gizi tidak seimbang. Ini juga tidak masuk akal. Yang tubuh kita butuhkan pada dasarnya adalah asam lemak atau Fatty Acid, dan asam lemak ini tidak diproduksi oleh tubuh, jadi harus diimpor dari luar. Oleh karena itu, untuk bisa bertahan hidup kita menggantunglan diri pada asam lemak ini. Omega 3 dan Omega 6 adalah contoh asam lemak tadi.

Ada juga asam amino esensial. Ini adalah blok bangunan protein yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia. Oleh karenanya, kita bergantung pada makanan kita untuk menyediakan asam amino esensial ini agar bisa bertahan hidup. Phenyalanine, valin, dan treonin adalah contoh asam amino esensial.

Sumber Gambar

Tidak ada karbohidrat yang penting. Mereka tidak dibutuhkan untuk bertahan hidup. Karbohidrat pada dasarnya adalah rantai gula. Gula secara inheren tidak bergizi. Banyak makanan nabati yang mengandung karbohidrat (kangkung, brokoli) mengandung vitamin, mineral dan zat bermanfaat lainnya. Tapi karbohidrat itu sendiri tidak penting dan juga tidak sehat. Jika kita menghilangkan tepung, kita bisa menambahkan makanan bergizi lainnya dalam hidangan kita. Jadi, mengapa di dunia ini ada orang waras yang merekomendasikan memakan makanan yang kandungan gizinya 25% bangkrut, atau mengapa kita harus menambahkan karbohidrat yang adiktif?

Isu lain yang sering terdengar adalah bahwa diet tinggi protein buruk bagi ginjal. Pertama, dengan diet rendah karbohidrat menyebabkan kita mengonsumi makanan tinggi protein atau lemak, dan ini perlu kita kaji kembali. Dokter tertentu, seperti Dr Eenfeldt dengan sangat ciamik menulis blog hebat www.dietdoctor.com, merekomendasikan diet Low Carbohydrate High Fat (LCHF). Diet ini tampaknya telah mengakar di negara asalnya—Swedia—dan dengan cepat menyebar.

Diet tinggi protein mungkin tidak direkomendasikan untuk orang dengan masalah ginjal. Sebagai nephrologist, saya mengkhususkan diri pada penyakit ginjal. Dalam Penyakit Ginjal Kronis, kemampuan untuk mengatasi produk pemecahan protein terganggu dan diet protein tinggi tidak disarankan. Namun, untuk mereka dengan fungsi ginjal normal, tidak ada kekhawatiran. Beberapa penelitian terbaru menyorot masalah serupa. Dalam makalah “Comparative Effects of Low-Carbohydrate High-Protein Versus Low-Fat Diets on the Kidney—Friedman et al, Klinik J Am SocNephrol 7: 1103-1111; 2012 “Subjek obesitas sehat diperiksa secara khusus untuk efek yang merugikan pada ginjal. Intinya tidak ada masalah seperti itu. Mereka menulis bahwa diet protein tinggi “was not associated with noticeably harmful effects on GFR, albuminuria, or fluid and electrolyte balance”