Ingin Ramping dan Kurus? Baca Tentang Sejarah Hormon Obesitas

Sumber Gambar

Apakah yang menyebabkan kegemukan? Dari postingan sebelumnya, kita sudah menggagalkan teori bahwa kelebihan kalori bukan akar masalahnya. Sekarang, coba kita lebih fokus pada pertanyaan berikutnya, JADI APA SEBENARNYA PENYEBAB OBESITAS atau etiologi gemuk? Kita sudah terobsesi dengan kalori selama 50 tahun dan selalu saja menemui jalan buntu. Agar lingkaran setan ini bisa diputus, kita harus menemukan akar masalah yang paling mendasar. Jadi, apa sih penyebab adipositas itu? Mari kita kembali ke masa silam, dan melihat apa yang dipikirkan tentang obesitas oleh manusia jadul?

Historic Perspective on Obesity – Hormonal Obesity I

William Banting 1796-1878 dianggap telah menulis buku diet pertama. Saat remaja dan awal usia 20-an, berat badanya normal. Tetapi, saat menginjak usia 30-an, 40-an dan 50-an, bobot badannya merayap naik. Tidak banyak, hanya beberapa kilogram per tahun. Tak lama kemudian, ketika berusia 62 dan beratnya 202 pound. Tidak buruk menurut standar modern, tapi menjadi si monyet-chunky untuk standar waktu itu. Jadi, atas saran dokternya, ia mencoba mengurangi porsi makan. Tapi kemudian, dia merasa lelah, lapar dan berat badannya tidak melorot, bergeming di angka yang sama. Lalu, dia mencoba berolahraga lebih banyak. Dia mendayung di atas sungai Thames dan menjadi sangat sehat secara fisik. Namun, dia masih belum bisa menurunkan berat badannya.

Akhirnya, atas saran seorang ahli bedah Prancis, dia memulai diet baru. Dia tidak membatasi kalori, tapi pantang gula dan tepung—yang sekarang kita sebut karbohidrat olahan. Dia menghindari semua roti, susu, bir, permen dan kentang. Poor fellow ini mencintai karbohidrat, sesungguhnya, namun harus bagaimana lagi.

By: Dokter Jason Fung

Singkat cerita, dia pun melangsing dan merasa lebih sehat sehingga ia memutuskan untuk menerbitkan temuannya di “Letter on Corpulence Addressed to the Public”. Pamflet ini dianggap sebagai buku diet modern pertama. Berdasarkan pengalaman pribadi, Banting merasa bahwa kalori TIDAK menyebabkan kenaikan berat badan, tapi karbohidrat olahanlah si biang keroknya.

Sampai dengan 100 tahun berikutnya, gagasan mengenai bahwa gula dan tepung menyebabkan obesitas masih juga terkenal. Sir William Osler—dokter Kanada yang terkenal, disegani, dan cukup berpengaruh, yang juga menulis “Prinsip dan Praktik Pengobatan”— menggambarkan bahwa sebagian besar dokter pada awal tahun 1900-an menganggap bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab utama obesitas. Dalam buku teks terkenalnya, dia menggambarkan pengobatan obesitas dengan makanan yang didominasi daging dan telur dan rendah karbohidrat olahannya. Dalam monograf 1882-nya “Obesitas dan Pengobatannya” Dr. Osler merasa bahwa makanan berlemak sangat penting untuk mengurangi obesitas karena mereka meningkatkan kenyang (perasaan kenyang).

Hal ini kontras dengan demonisasi lemak diet yang modern. Namun, toh kenyataannya, mengurangi lemak dan meningkatkan karbohidrat telah menyuburkan dengan epidemi obesitas. Mungkin Dr. Osler benar. Saran itu cukup standar untuk tahun 1950. Jika kamu meminta nasihat pada zaman itu, bagaimana supaya bisa kurus, mereka tidak akan membicarakan kalori. Kalori sebagai satuan energi sebagian besar tidak diketahui pada saat itu. Mereka akan mengatakan sebaliknya, bahwa makanan manis dan tepung bisa menyebabkan obesitas. Dr. Spock’s pemilik Baby and Child Care atau perawatan bayi, balita, dan batita—sebuah kitab suci cara membesarkan anak tahun 1950-an—menggambarkan bahwa anak kecil bisa menggemuk atau melangsing penyebab mayoritasnya adalah tergantung jumlah makanan penutup dan tepung yang dikonsumsi.

Sumber Gambar

Dr. Passmore dalam British Journal of Nutrition pada tahun 1963 menulis “Setiap wanita tahu bahwa karbohidrat menggemukkan”. Every. Woman. Knows. This was no secret. Everybody knew it.

Gagasan ini telah bertahan berpuluh-puluh tahun silam. Akal sehat dan pengamatan empiris bertugas untuk mengkonfirmasi kebenaran dari masalah ini. Gagasan ini adalah “Anti-Fragile” seperti yang telah dikatakan oleh Nassim Taleb. Dan obesitas bukanlah masalah besar saat itu.

Inilah yang mereka pikirkan: Namun, semuanya mulai berubah di tahun 1950an. Penyakit jantung meningkat. Apakah ini merupakan fakta atau sekedar asumsi, masih diperdebatkan. Gary Taubes berpendapat bahwa ini keliru dalam buku terobosannya “Why We Get Fat”. Namun demikian, orang-orang mulai mencari alasan di balik ‘epidemi hebat’ penyakit jantung ini.

Pelototan mereka segera jatuh pada makanan berlemak. The “Diet-Heart Hipotesis” semenjak mendapatkan daya tarik di tahun 1960-an. Ancel Keys, seorang ‘pakar’ gila yang sangat berpengaruh memainkan peran penting dalam mempopulerkan gagasan ini. Dengan antusiasme yang besar dan sains yang goyah, gerakan demonisasi lemak (makanan yang dikunyah manusia sejak, yah, kita menjadi manusia) ditancapkan. Masalah yang superior, meski saat itu kita tidak melihatnya.

Protein cenderung tetap konstan dalam makanan manusia. Hal ini sebenarnya cukup sulit untuk meningkatkan konsumsi protein menjadi lebih dari 20-30% kalori tanpa menggunakan protein bar/ shake dll. Jadi, jika seseorang membatasi karbohidrat, maka seseorang harus meningkatkan lemak makanan dan sebaliknya.  

Inilah hasilnya: Lemak Rendah = Karbohidrat Tinggi dan Karbohidrat Rendah = Lemak Tinggi. Karena lemak makanan sekarang menjadi penjahat kelas kakap, diet yang direkomendasikan oleh Heart Healthy adalah makanan apa pun asalkan kandungan karbohidratnya tinggi. Karena karbohidrat di belahan bumi barat cenderung disaring dan dihaluskan, kita makan lebih banyak lagi dan lagi, kita mengunyah roti dan pasta rendah lemak dengan gila-gilaan. Lagi pula, kita tidak sudi menukar hamburger dengan kembang kol dan kangkung, tapi, kita dengan senang hati mensubtitusi lemak dengan roti dan sepiring pasta ukuran jumbo.

Melalui debat ilmiah tahun 1950-an dan 1960 (terkadang sangat sengit) mereka mengamuk, sesekali maju lantas mundur. Beberapa pakar percaya bahwa lemak adalah kriminal, sementara ahli yang lain, seperti John Yudkin yakin bahwa karbohidrat olahan adalah biang keroknya.

Bukunya, “Murni, Putih dan Mematikan – Bagaimana Gula Membunuh Kita” adalah hal yang menakutkan, dan pastinya memenangkan penghargaan untuk Judul Buku Terbaik. Vitriol terkadang mencapai tingkat ekstrim. Jean Mayer, PhD dari Harvard pernah menyamakan  mengurangi karbohidrat  dalam diet “artinya setara dengan pembunuhan massal”. Hanya sedikit ekstrem … .

The American Heart Association merasa bahwa diet ini juga mode berbahaya. Umm … Bung … yang bener? Gagasan yang berusia 200 tahun? Ide yang telah bertahan dalam ujian waktu?

Lemak yang dikonsumsi manusia selama bertahun-tahun yang lalu? Itulah yang membunuh kita?

Tidakkah ini hal yang sangat genius, jika lemak diet akan membunuh kita, itu pasti sudah terjadi sebelumnya, katakanlah, 1 juta tahun yang lalu? Diet rendah lemak, tentu saja, sampai titik sekarang, sesungguhnya belum teruji pada manusia. Tak seorang pun dalam sejarah yang pernah memutuskan untuk menurunkan kandungan lemak dari makanan mereka karena alasan kesehatan. Kami tidak tahu apa efeknya. Tentu saja, ini saat dimana kita juga percaya bahwa kita bisa membuat zat yang lebih bergizi untuk bayi daripada ASI. Bahwa kita lebih cerdas dari 20 juta tahun evolusi. Jadi, daripada mengonsumsi lemak alami seperti krim, mentega, dan minyak zaitun, kita beralih ke minyak artifisial murni seperti margarin. Tentu saja, ini ternyata membunuh kita dengan lemak trans tapi itu adalah cerita untuk lain waktu.

Kita pindah dari lemak dan menuju karbohidrat olahan. Jadi siapa yang menang? Kamu sudah tahu jawabannya, dan kita semua semakin buruk karena telah memilih itu.