Ingin Ramping dan Kurus? Baca Mengapa Diet Membuat Kita Lapar

Sumber Gambar

How Dieting Makes Us Hungry – Calories Part VIII

Bagaimana Diet Membuat Kita Lapar—Kalori Bagian VIII

Kita telah melihat pengeluaran energi dalam jangka panjang. Apa saja perubahan hormonal yang menyertai penurunan berat badan? Untuk itu mari kita lihat studi ini:

Long-Term Persistence of Hormonal Adaptations to Weight Loss
N Engl J Med 2011; 365:1597-1604 October 27, 2011 Sumithran P

Penelitian ini merekrut 50 pasien yang diberi makanan cair (51% karbohidrat). Selama 10 minggu pertama percobaan, mereka hanya menerima 500 kalori per hari. Ini menghasilkan penurunan berat badan rata-rata 13,5 kg. So far, so good. Selanjutnya, mereka diberi resep diet untuk memelihara berat badan berdasarkan pengeluaran energi terukur mereka. Pasien juga difollow-up setiap 2 bulan dan dianjurkan berolahraga selama 30 menit per hari. Mereka disarankan untuk mengonsumsi karbohidrat indeks glisemik rendah dan diet rendah lemak. Sialnya, semua tidak berjalan sesuai rencana. Terlepas dari niat baik mereka, hampir setengah dari berat badannya kembali. Rata-rata, 5,5 kg kembali dari minggu ke 10-62. Mereka kembali menggemuk lho.

Perubahan Hormon

Analisis hormon dilakukan pada peserta pada minggu ke 0, 10 dan 62 setelah puasa dan memakan hidangan standar. Apa hasilnya? Hormon pertama yang harus dilihat adalah ghrelin—yang disebut sebagai hormon penyebab lapar. Pada dasarnya hormon ini membuat kita ingin ngegares atau mengunyah terus. Pasien lebih lapar selama fase penurunan berat badan di tahap awal, tapi bahkan setelah 62 minggu, ada peningkatan hormon ghrelin yang signifikan. Apa artinya? Artinya mereka merasa lebih lapar. Rasa lapar tidak bisa diusir.

By: Dokter Jason Fung

Hormon berikutnya yang harus dilihat adalah peptida YY. Ini adalah hormon kenyang yang dilepaskan tubuh sebagai respons kepada protein dan lemak. Esensinya, Peptide YY membuat kita merasa kenyang. Mereka juga menganalisis hormon amylin dan cholecystikinin, namun hasilnya serupa, jadi saya hanya memasukkan grafik untuk peptide YY.

Sekali lagi, selama fase penurunan berat awal, peptida YY diturunkan, namun bahkan setelah 62 minggu, Peptide YY (dan juga amylin dan cholecystikinin) berkurang secara substansial. Apa artinya? Itu berarti bahwa makanan standar yang dahulu biasa kita makan tidak lagi mengenyangkan. Kita ingin menambah porsi lagi dan lagi. Seperti aksi balas dendam.

Kelaparan dan Hasrat untuk Makan

Perubahan hormonal ini terjadi dengan tiba-tiba dan bertahan hampir tanpa batas waktu. Hasil kelaparan dan keinginan makan bisa dilihat pada grafik di bawah ini.

 

Subjek setelah mengalami penurunan berat badan merasa lebih lapar dan hasrat ingin makan tak dapat dibendung. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pasien yang sedang diet cenderung merasa lebih lapar. Ternyata ini bukan semacam voodoo psikologis. Apa yang membuat kita lapar? Ini adalah hormon.

Hormon lapar (ghrelin) lebih tinggi dan ini menyebabkan kita menjadi lebih lapar. Hormon Satiety lebih rendah (amylin, peptide YY, dan cholecystekinin) dan oleh karena itu subjek merasa kurang kenyang dan hasrat untuk mengunyah lebih menggebu-gebu.

Mari kita menggabungkan semua ini dan memikirkan hal ini dari sudut pandang tubuh. Ingat bahwa tubuh bertindak sebagai termostat dengan Body Set Weight (BSW) tertentu.

Misalkan BSW kita, misalnya 200 pound. Kita bisa membatasi kalori dan meninggalkan kandungan makronutrien sama (misalnya 50% karbohidrat, 30% lemak, 20 protein). Untuk sementara, kita memang akan melangsing— katakanlah sampai 180 kilogram.

Namun, karena BSW masih 200 pound, tubuh akan mencoba menaikkannya hingga 200 pound. Sekonyong-konyong si tubuh akan mencoba menambah asupan kalori kita. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan ghrelin dan menekan amylin, peptide YY dan cholecystikinin (hormon kenyang). Efeknya membuat kita lapar dan melambungkan hasrat untuk memamah biak.

Pada saat bersamaan, penurunan berat badan ini akan menyebabkan menukiknya total pengeluaran energi. Tubuh akan mulai ‘mematikan’ metabolismenya. Seperti yang kita lihat dengan studi kelaparan—suhu tubuh rendah, denyut jantung menurun, tekanan darah menjadi di bawah rata-rata, dan volume jantung menyusut, semua dilakukan dalam usaha untuk menghemat energi, si tubuh tampaknya sudah putus asa. Ada juga efek psikologis yang dihasilkan, seperti terobsesi dengan makanan, dan tidak sanggup berkonsentrasi.

Hasil akhir—kita kembali menggemuk. Hal ini, tentu saja, pasti sudah dialami oleh para pelaku diet.

Seperti yang bisa Anda lihat, gagalnya diet, nothing, nothing, dan nooooothing alias tidak ada hubungannya dengan kurangnya kemauan atau kegagalan moral atau apapun. Ini hanyalah fakta siklus hormonal. Kita merasa lapar, kedinginan, capek dan depresi. Ini semua adalah efek fisik yang nyata dan dapat diukur dari membatasi kalori.

Jadi inilah intinya. Dengan memusatkan perhatian hanya pada kalori dan pembatasan kalori (Caloric Restriction as Primary), kita mengabaikan fakta bahwa melangsing dengan metode ini akan mengakibatkan tubuh mati-matian mencoba mengembalikan berat badan ke berat aslinya. Kita merasa lapar dan tubuh mematikan metabolisme untuk menghemat kalori sehingga kita akan kembali menggemuk. Ini adalah jaminan virtual.

Hampir semua studi diet jangka panjang (seperti Women’s Health Initiative) menunjukkan Anda akan kembali menggemuk. Sebenarnya, bahkan, saya tidak perlu meyakinkan Anda tentang fakta ini. Di lubuk hati yang terdalam, Anda tahu tentang fakta ini.

Sumber Gambar

Ini, inilah lingkaran setan kurang makan. Kita mulai dengan makan lebih sedikit. Kita melangsing. Kemudian metabolisme kita melambat dan kelaparan meningkat. Kita mulai menggemuk. Lantas, kita melipatgandakan usaha kita dengan makan lebih sedikit lagi.

Turun berat badan hanya secuil, tapi kita kembali mengurangi pengeluaran energi dan rasa lapar melonjak. Kita kembali membulat. Siklus ini berlanjut sampai tak bisa ditoleransi lagi.

Pada saat itu, kita tidak bisa mengikuti diet ini lagi, dan berat badan kita kembali seperti sebelum berdiet. Teman, keluarga, profesional medis sekarang menyalahkan korban dengan diam-diam, berpikir bahwa ini adalah ‘kesalahan kita’. Entah bagaimana, kita merasa bahwa kita adalah sebuah kegagalan. Itu terjadi pada kita semua—bahkan dokter/ even doctors. Sound familiar? Yeah, I thought so.