Ingin Ramping dan Kurus? Baca Tentang Hipotesis Diet-Jantung

Sumber Gambar

Dr. Key’s telah menerbitkan sebuah buku dengan judul Seven Country Study, yang mana telah menetapkan asal mula hipotesis Diet Jantung. Lantas, apa dong masalahnya? Problematikanya adalah ini merupakan data observasi atau data hasil pengamatan, yang akibatnya akan menimbulkan beberapa interpretasi yang parah.

Di dalam dunia pengobatan, penelitian yang paling berbahaya adalah studi korelasi. Mengapa? Karena tidak bisa digunakan untuk membuktikan hipotesis tersebut, hanya bisa dipakai untuk membantah. Misalnya, lihat kesimpulan yang berbeda-beda meskipun melihat data yang sama dari Dr. Keys.

Memang benar, lemak jenuh berkorelasi dengan penyakit jantung, namun, sebagian besar adalah pengaruh lemak hewani. Lemak nabati sama sekali tidak ada korelasinya. Tetapi, yang berkorelasi dengan penyakit jantung bukan hanya lemak hewani tapi juga protein hewani. Jadi sebenarnya adalah produk hewani, misalnya dilema daging merah.

Perlu diingat, bukan berarti lemak nabati sehat aman sejahtera. Masalahnya adalah, minyak yang mendominasi di pasaran adalah minyak sawit, canola, atau minyak jagung. Sementara minyak yang lebih sehat adalah minyak zaitun. Namun, mungkin juga konsumsi hewan hanyalah penanda industrialisasi. Daerah dengan level industri yang tinggi bertendensi memakan produk hewani lebih banyak—daging dan dairy.

Jadi, apakah kamu mengatakan bahwa negara-negara yang lebih kebarat-baratan memiliki lebih banyak penyakit Barat? Hmm…  Seems kind of obvious, that. Itu adalah penjelasan yang masuk akal. Sebenarnya ada banyak hipotesis yang bisa keluar dari Studi Tujuh Negara.

Mungkin pelakunya memang saturated fat/ lemak jenuh. Mungkin itu lemak hewani. Mungkin itu protein hewani. Mungkin itu industrialisasi dan makanan olahan. Mungkin itu protein total. Mungkin itu karbohidrat. Semua hipotesis ini bisa dihasilkan dari penelitian yang sama.

Tapi yang kita dapatkan adalah Hipotesis Diet-Jantung. Sampai batas tertentu, ini terus berlanjut hingga saat ini. Kebanyakan orang masih percaya pada Hipotesis Diet-jantung sebagaimana dibuat pertama kali pada tahun 1970.

By: Dokter Jason Fung  (The Diet-Heart Hypothesis – Hormonal Obesity XXXV)

Hipotesis lemak mengacu pada hipotesis bahwa kolesterol serum menyebabkan penyakit jantung. Hipotesis Diet-jantung mengacu pada hipotesis bahwa lemak jenuh meningkatkan kolesterol dan karena itu menimbulkan penyakit jantung. Sebenarnya ada masalah dengan semua bagian dari hipotesis ini.

Sumber Gambar

Masalah pertama yang dihadapi adalah fakta bahwa kolesterol serum total ternyata tidak berkorelasi dengan penyakit jantung sama sekali. Ada korelasi yang sangat lemah antara kematian dan kolesterol total. Padahal, untuk para manula, kolesterol tinggi sangat protektif. Hal ini ditunjukkan dalam beberapa penelitian lainnya.

Total kolesterol sama sekali tidak bagus. Masalah ini terpecahkan dengan melihat HDL kolesterol ‘baik’ versus kolesterol jahat LDL. Hal ini sepertinya memperbaiki keadaan menjadi lebih baik. Jika ada, ada korelasi kuat antara HDL rendah dan penyakit jantung dibandingkan LDL.

Manipulasi makanan cenderung untuk memindahkan HDL dan LDL ke atas atau ke bawah. Obat-obatan, seperti torcetrapib dikembangkan dengan biaya besar untuk menaikkan kadar HDL. Sayangnya, semua obat ini membunuh dan sekarang ditinggalkan.

Pfizer menghabiskan hampir $ 1 miliar dolar untuk mengembangkan obat ini semua berdasarkan data korelasi yang salah. Segera setelah itu, ribuan orang dipecat. HDL rendah tidak menyebabkan penyakit koroner, itu hanya penanda penyakit.

Jika menilik ke masa lalu, semuanya tampak begitu jelas. Berolahraga meningkatkan HDL. Mungkin orang yang berolahraga memiliki HDL tinggi dan penyakit jantung rendah. Peningkatan minyak zaitun menaikkan HDL. Mungkin minyak zaitun menaikkan HDL dan menurunkan penyakit jantung. Berhenti merokok meningkatkan HDL dan mengurangi penyakit jantung.

Ini menekankan lagi bahaya studi korelasi. Kendati demikian, para ilmuwan berupaya sangat keras mencoba membuktikan bahwa lemak jenuh meningkatkan kadar kolesterol. Studi Framingham adalah tempat yang ideal untuk melakukan pengamatan.

Pada tahun 1948, Universitas Harvard memutuskan untuk melakukan pengujian ekstensif di Framingham, Mass. Pembuangan darah dan kebiasaan makan seluruh masyarakat akan dipantau selama beberapa dekade untuk mempelajari faktor risiko penyakit jantung. Setiap 2 tahun, semua warga akan menjalani skrining dengan darah dan kuesioner. Dengan membandingkan mereka yang menderita penyakit jantung dan yang tidak, mereka berharap dapat mempelajari faktor-faktor yang penting.

Pada awal 1960-an, setelah usaha jor-joran Studi Diet Framingham pun berhasil. Berharap menemukan hubungan pasti antara asupan lemak jenuh, kolesterol serum dan penyakit jantung. Sebaliknya apa yang mereka temukan jauh dari perkiraan.

Nada.  Nothing.  There was absolutely no correlation.

Jadi mereka melakukan apa yang semua peneliti lakukan di seluruh dunia. Mereka mengubur hasilnya. Mengabaikan hasilnya dan berpura-pura penelitian itu tidak pernah ada. Dr. Michael Eades, yang menulis di blognya, dapat menemukan salinan lama dan membaca dengan teliti hasilnya. Dari salinannya, dia mencatat bahwa laporan tersebut menyatakan: Tidak ada indikasi adanya hubungan antara kadar kolesterol dalam makanan dan kadar kolesterol serum. Paling tidak bagian ini konsisten. Dr. Ancel Keys mencatat hal yang sama.

Fisiologi juga mendukung fakta bahwa sebagian besar kolesterol dalam tubuh kita dibuat oleh hati kita sendiri. Bahkan saat ini, National Cholesterol Education Programme (NCEP) menyatakan: Kolesterol menyebabkan hiperkolesterolemia yang ditandai pada banyak hewan percobaan, termasuk primata bukan manusia. Asupan kolesterol yang tinggi pada manusia, bagaimanapun, tidak menyebabkan peningkatan kolesterol serum.

Sumber Gambar

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia—primata non manusia harus menghindari diet kolesterol.

Mengenai lemak:

No association between percent of calories from fat and serum cholesterol level was shown; nor between ratio of plant fat to animal fat intake and serum cholesterol level. Tidak ada hubungan antara persen kalori dari kadar lemak dan kadar kolesterol serum yang ditunjukkan; atau antara rasio lemak tanaman terhadap asupan lemak hewani dan kadar kolesterol serum.

Ingat bahwa penelitian asli juga menunjukkan tidak adanya hubungan antara total lemak dan kolesterol. Yang membuat perbedaan hanyalah lemak jenuh. Namun, di sini, the Seven Countries Study, lemak hewan versus tumbuhan tidak ada bedanya.

Bagian yang paling penting adalah relasinya dengan penyakit jantung. Inilah kesimpulan akhir dari ‘permata’ yang terlupakan ini:

Singkatnya, tidak ada saran adanya hubungan antara diet dan pengembangan CHD selanjutnya di kelompok studi. Ya. Pada dasarnya tidak ada hubungan antara diet dan penyakit jantung. Sangat banyak untuk hipotesa diet-aman-untuk-jantung.

Ini seharusnya merupakan studi untuk mengubur hipotesis keliru ini. Sebaliknya, peneliti memilih untuk menyembunyikan hasil penelitian mereka sebagai gantinya. Mereka mengutuk kita selama 40 tahun lebih. Dengan diet rendah lemak ini, kita dikutuk dengan epidemi penyakit diabetes dan obesitas.

Yang sangat menyedihkan adalah komentar pada berita oleh Dr. William Kannel, direktur Framingham Heart Study. Dia menyatakan bahwa, hanya karena penelitiannya sendiri membuktikan bahwa diet tidak berhubungan dengan kolesterol, “tidak benar menafsirkan temuan ini berarti diet tidak berhubungan dengan kolesterol darah.”

Dude—you making no sense.

Selama setengah abad berikutnya, tidak peduli seberapa keras kita melihat, tidak ada hubungan antara lemak makanan dan kolesterol serum. Penelitian lain, seperti studi Tecumseh, lantas menemukan tidak ada hubungan yang jelas. Bahkan Program Pendidikan Kolesterol Nasional mengakui bahwa “Diet kolesterol menyebabkan hiperkolesterolemia yang ditandai pada banyak hewan percobaan, termasuk primata bukan manusia.

Asupan kolesterol yang tinggi pada manusia, bagaimanapun, tidak menyebabkan peningkatan kolesterol serum seperti itu. Jadi primata non manusia harus menghindari kolesterol diet.