Ingin Kurus dan Ramping? Lihat Lebih Detail Tentang Kortisol

Sumber Gambar

Kamu ingin gemuk? Gampang. Saya bisa membuat semua orang menggendut. Bagaimana caranya? Gampang dan sangat sederhana. Hanya dengan meresepkan prednisone— versi sintetis dari hormon manusia kortisol—-kamu bisa segera menjadi bulat.

Prednisone digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit inflamasi, termasuk asma, rheumatoid arthritis, lupus, psoriasis, penyakit radang usus, kanker, glomerulonefritis dan myasthenia gravis. Kortisol membuatmu gemuk. Bukan kebetulan, baik insulin maupun kortisol memainkan peran kunci dalam metabolisme karbohidrat.  

Kortisol adalah hormon stres. Ini memediasi ‘flight or fight response’ dengan bantuan sistem saraf simpatik. Kortisol adalah bagian dari kelas hormon steroid yang disebut glukokortikoid (glukosa + korteks + steroid) yang diproduksi di korteks adrenal.

Mengapa tubuh menghasilkan kortisol? Sebagai respons terhadap stres. Pada masa Paleolitik, ini sering merupakan stres fisik, seperti dikejar predator. Pelepasan kortisol sangat penting dalam mempersiapkan tubuh kita untuk bertindak— to fight or flee atau untuk melawan atau melarikan diri. Kortisol meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi kebutuhan tidur. Secara substansial, tubuh menyetok gudang glukosa. Mengapa seperti itu? Tubuh menyediakan energi untuk otot, sebagai upaya membela diri agar tidak dimakan.

By: Dokter Jason Fung (A Closer look at Cortisol – Hormonal Obesity XXXX)

Semua energi dikumpulkan untuk bertahan dan menghadapi serangan stres selanjutnya. Pertumbuhan, pencernaan dan masalah jangka panjang lainnya dibatasi untuk sementara. Protein dipecah dan diubah menjadi glukosa (glukoneogenesis).

Cara Menurunkan Kortisol

Dalam keadaan puasa, kortisol memiliki beberapa mekanisme untuk meningkatkan glukosa dalam tubuh. Efek peningkatan glukosa darah prednison kortisol sintetis telah dikenal paling sedikit 40 tahun. Ini termasuk:

  1. Stimulasi glukoneogenesis hati
  2. Penghambatan pengambilan glukosa pada jaringan periferal
  3. Stimulasi lemak dan asam amino (membantu memberikan substrat untuk glukoneogenesis hati)

Sejumlah kegiatan fisik yang berat (fight or flight), akan segara membakar glukosa di gudang lemak, yang stoknya bertambah berkat peranan kortisol. Tak lama kemudian, kami mati, atau bahaya bisa diatasi. Dalam kedua kasus tersebut, tingkat kortisol menurun kembali ke tingkat rendah. Bagaimana cara tubuh beradaptasi? Untuk jangka pendek, tubuh akan meningkatkan kortisol dan glukosa.

Secara substansial suplai glukosa ditambah. Mengapa seperti itu? Karena otot membutuhkan berlimpah-limpah energi supaya tidak dimakan binatang buas. Insulin adalah hormon penyimpan glukosa. Jika insulin tinggi, tubuh akan menyimpan energi dalam bentuk glikogen dan lemak.

Kortisol, di sisi lain mempersiapkan tubuh untuk melakukan sebuah aksi. Kortisol memindahkan energi dari gudang, dan mengubahnya menjadi bentuk yang mudah dipakai seperti glukosa. Tetapi, efeknya sama saja, yaitu membuatmu menggemuk. Insulin dan kortisol berakting bertolak belakang saat menghadapi stres jangka pendek.

Namun, jika stres psikologis berlangsung dalam jangka waktu panjang, situasinya akan berbeda. Di zaman modern, stres kronis, stresor non fisik meningkatkan kortisol.

Misalnya, masalah perkawinan, masalah di tempat kerja, pertengkaran dengan anak-anak, dan kurang tidur adalah penyebab stres yang serius, tetapi tidak diikuti dengan kegiatan fisik yang memadai, sehingga glukosa darah tetap tinggi. Dalam kondisi stres yang kronis, kadar glukosa tetap tinggi.

Ciri-ciri kortisol tinggi atau mengalami cushing syndrome

Tidak ada aktivitas fisik  untuk membakar glukosa, dan tidak ada resolusi pada stressor. Glukosa darah bisa tetap tinggi selama berbulan-bulan. Peningkatan glukosa kronis ini dapat memicu pelepasan insulin. Kortisol yang meningkat secara kronis menyebabkan peningkatan insulin. Hal ini telah ditunjukkan dalam beberapa penelitian.

Sebuah studi telah mengukur secara berulangkali secara acak pada jam kerja. Kortisol meningkat dengan tingkat stres. Peningkatan kortisol terkait stres ini menunjukkan hubungan kuat yang konsisten dengan peningkatan glukosa dan peningkatan kadar insulin (16). Pendorong utama obesitas adalah insulin. Oleh karena itu, nggak heran jika ada hubungan antara BMI dengan perut buncit.

Dengan menggunakan kortisol sintetis, kita juga bisa meningkatkan insulin secara eksperimental. Relawan sehat diberi kortisol 50mg empat kali sehari selama 5 hari.

Tingkat insulin naik 36%. Studi lain menunjukkan bahwa penggunaan prednisone meningkatkan kadar glukosa sebesar 6,5% dan kadar insulin sebesar 20%. Seiring waktu, resistensi insulin juga berkembang terutama di organ hati. Ada hubungan dosis-respon langsung antara kortisol dan insulin.

Untuk setiap unit kenaikan kortisol gratis, insulin meningkat sebesar 9,7 mU / I. Penggunaan jangka panjang prednison dapat menyebabkan keadaan resisten insulin atau berkembangnya diabetes. Melonjaknya resistensi insulin yang terlihat pada diabetes tipe 2, menyebabkan naiknya kadar insulin.

Bahkan lima tahun setelah penyembuhan penyakit Cushing, tingkat insulin yang merayap naik tetap ada. Hal ini kemungkinan terkait dengan sindrom resistensi insulin yang telah berkembang. Ini adalah mekanisme lain dimana kelebihan kortisol menyebabkan peningkatan insulin. Glukokortikoid menghasilkan resistensi insulin pada otot rangka. Bagaimana cara kerjanya? Dengan mengganggu sinyal insulin, sehingga jaringan tidak menangkap sinyalnya.Bagaimana mekanisme molekuler? Ia melakukan pemetaan,  termasuk degradasi IRS-1, dan eskalasi kadar protein PTP1B dan p38MAPK. Setelah ia mengikat reseptor insulin, dia akan segera memberantakkan kerja insulin. Selain itu, otot melepaskan asam amino untuk glukoneogenesis, sehingga meningkatkan resistensi insulin. Glukokortikoid juga menekan adiponektin (meningkatkan sensitivitas insulin). Siapa yang mensekresikan adiponektin? Sel lemak.

Di satu sisi, resistensi insulin memang sesuai dengan ekpektasi, karena kortisol umumnya melawan insulin. Kortisol meningkatkan gula darah dimana insulin menurunkannya. Resistensi insulin ini, seperti yang akan kita lihat di bab selanjutnya, adalah faktor terkrusial yang menyebabkan kamu membulat. Resistensi insulin akan menembak langsung pada melompatnya kadar insulin.Tingginya level  insulin merupakan pendorong utama obesitas.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kortisol menegaskan resistensi insulin ini. Jika kortisol menaikkan insulin, maka memangkas kortisol harusnya mengurangi insulin. Situasi ini ditemukan pada pasien yang ditransplantasi, dan mengonsumsi kortisol sintesis selama bertahun-tahun, atau selama beberapa dekade.

a buffalo hump atau punuk kerbau

Menghentikan pemakaian prednisone menyebabkan penurunan insulin plasma sebesar 25%. Artinya berat badan turun sekitar 6.0%, dan lingkar pinggang mengecil menjadi 7,7%.

Kelebihan kortisol sama saja seperti kelebihan insulin, sama-sama menyebabkan konsekuensi kardiovaskular.

Ini juga dikenal sebagai sindrom metabolik yang ditandai dengan:

  1. Gula darah tinggi,
  2. Tekanan darah,
  3. Kolesterol dan
  4. Obesitas perut.

Sindrom Cushing juga mencakup insulin tinggi, gula darah, tekanan darah, kolesterol dan obesitas truncal. Apakah kelebihan kortisol, dari tekanan psikologis jangka panjang menyebabkan penambahan berat badan?  Tentu bukti anekdotal nampaknya menunjukkan bahwa stres menyebabkan obesitas.

Tapi ada beberapa penyakit tertentu yang ditandai dengan produksi kortisol yang berlebihan. Ini disebut penyakit Cushing atau sindrom Cushing. Harvey Cushing awalnya menggambarkan seorang wanita berusia 23 tahun pada tahun 1912 yang menderita kenaikan berat badan, pertumbuhan rambut yang berlebihan dan tidak mengalami haid. Gula darah tinggi dan diabetes setidaknya dialami 1/3 kasus.

Pasien yang memakai prednison jangka panjang sering terlihat mirip dengan pasien ini dan mengembangkan sindrom Cushinoid. Ada redistribusi lemak tertentu dari tungkai ke batang tubuh dan wajah disebut obesitas truncal. Istilah ‘moon face’ digunakan untuk menggambarkan kenaikan berat badan yang aneh di wajah.

A ‘buffalo hump’ atau  ‘punuk kerbau’ menggambarkan pengendapan lemak di belakang. Tapi ciri khas penyakit ini adalah penambahan berat badan. Dalam rangkaian kasus, 97% pasien menunjukkan kenaikan berat badan di area perut, dan 94% menunjukkan berat badan yang melambung tinggi. Resistensi insulin adalah karakteristik kunci lain dari sindrom Cushing. Kortisol dan prednison menyebabkanmu menjadi gembrot.

Banyak pasien mengeluh bahwa mereka menggemuk meski makan sedikit dan kosisten berolahraga. Setiap penyakit yang menyebabkan kelebihan sekresi kortisol menyebabkan penambahan berat badan. Kortisol menyebabkan timbangan bergeser ke kanan. Sindrom Cushing subklinis dikaitkan dengan obesitas.

Pasien ini bisa ditemukan dengan tes darah, namun belum memiliki gejala penyakit. Glukosa setelah puasa dan insulin juga membumbung pada pasien ini. Kortisol menyebabkan kamu menggemuk.

Namun, efek ini terlihat bahkan di dalam populasi normal, tanpa sindrom Cushing.

Dalam sampel acak dari Glasgow Utara, Skotlandia, tingkat ekskresi kortisol berkorelasi kuat dengan Indeks Massa Tubuh (BMI) dan ukuran pinggang. Tingkat kortisol yang lebih tinggi terlihat pada orang yang lebih gemuk. Kortisol terkait akumulasi lemak terutama deposito lemak di perut, yang menghasilkan rasio pinggang/ pinggang meningkat (WHR) atau buncit. Distribusi berat lemak di perut ini lebih berbahaya bagi kesehatan daripada lemak  di anggota tubuh yang lain.

Meditasi Bisa Menurunkan Kortisol

Untuk mengukur kortisol, kita bisa melihatnya dari besarnya ukuran perut. Orang dengan ekskresi kortisol lebih tinggi memiliki rasio pinggang dan pinggul yang lebih tinggi. Pasien yang di air liurnya ditemukan kortisol tingkat tinggi juga mengalami kenaikan BMI dan rasio pinggang/ pinggul.

Dengan kata lain, ada bukti substansial bahwa stimulasi kortisol kronis melambungkan insulin dan obesitas. Paparan jangka panjang terhadap kortisol dalam tubuh dapat diukur dengan analisis rambut kepala. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan pasien obesitas dengan berat badan normal, peneliti menemukan peningkatan kadar kortisol di kulit kepala.

Tes akhir adalah ini. Dapatkah saya membuat seseorang gemuk dengan prednison? Jika bisa, ini membuktikan hubungan kausal, bukan sekadar hubungan. Apakah prednisone menyebabkan obesitas? Ya, benar sekali! Kenaikan berat badan adalah salah satu efek samping pengobatan yang paling lumah dan populer.

Ini adalah hubungan kausal. Pemberian prednison dosis tinggi menyebabkan penambahan berat badan. Kortisol melonjak. Pasien menggemuk. Kortisol menyebabkan kenaikan berat badan.

Bagaimana jika dilakukan sebaliknya? Jika kortisol tinggi menyebabkan kenaikan berat badan, maka kadar kortisol yang rendah harusnya membuatmu meramping. Ya. Ini terjadi pada penyakit Addison. Juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal, Thomas Addison menggambarkan kondisi klasik ini pada tahun 1885. Kortisol diproduksi di kelenjar adrenal.

Jika mengalami kerusakan, level kortisol menjadi sangat rendah. Penyebab major penyakit Addison adalah kerusakan autoimun. Sebelumnya, tuberkulosis telah menjadi penyebab utama sindrom ini. Ciri khas penyakit Addison adalah penyusutan berat badan.

Dalam rangkaian kasus besar, 97% pasien menunjukkan kehilangan berat badan. Kadar kortisol turun. Orang melangsing. Kortisol menyebabkan kenaikan berat badan. Kortisol bisa menyebabkan kadar insulin tinggi dan resistensi insulin.

Mungkin ada jalur obesitas lain yang belum ditemukan. Tetapi, fakta yang tak terbantahkan adalah kelebihan kortisol menyebabkan kamu menggemuk. Dengan ekstensi, stres menyebabkan obesitas. Ini adalah sesuatu yang secara intuitif dipahami banyak orang, meskipun tidak ada bukti. Ini pasti masuk akal. Jauh lebih masuk akal daripada kalori yang menyebabkan kegemukan.

Mengurangi stres itu sulit, tapi sangat penting. Bertentangan dengan anggapan populer, duduk di depan televisi atau komputer adalah cara yang buruk untuk menghilangkan stres. Sebaliknya, merilis stres adalah proses yang aktif. Ada banyak metode penanggulangan stres yang telah teruji waktu. Ini termasuk meditasi kesadaran, yoga, terapi pijat, dan olahraga. Studi tentang intervensi perhatian dapat menggunakan yoga, meditasi terpandu, dan diskusi kelompok untuk berhasil mengurangi kortisol dan lemak perut.