Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Efek Incretin

Sumber Gambar

Apakah efek incretin itu? Dengan Indeks Glikemik (GI), kami memiliki skala fisiologis untuk mengklasifikasikan karbohidrat. Memang, beberapa makanan bertendensi meningkatkan gula darah lebih banyak daripada yang lain. Saat periset meneliti makanan yang mengandung karbohidrat, ada korelasi yang sangat erat antara GI dan jumlah insulin yang dilepaskan (Insulin Index – II). Insulin adalah hormon yang mendominasi dalam regulasi gula darah. Karbohidrat meningkatkan gula darah dan insulin meningkat untuk mengatasi lonjakan gula darah.

Lemak dan protein tidak memicu glukosa darah. Selama bertahun-tahun kita berkeyakinan seperti itu, sehingga kita berasumsi bahwa mereka tidak berefek apa-apa pada sekresi insulin. Ini sebenarnya tidak benar. Kita baru saja mengabaikan fakta yang agak merepotkan ini. Protein juga menyebabkan peningkatan insulin.Karena lemak dan protein tidak meningkatkan gula darah, seharusnya tidak ada efek insulin. Tapi protein dan bagian penyusunnya—asam amino juga dapat meningkatkan insulin meskipun efeknya pada gula darah adalah nihil. 

Sejauh 1966, dalam Journal of Clinical Investigation, makalah “sekresi insulin dalam menanggapi konsumsi protein” menunjukkan bahwa pemberian leukine asam amino oral atau intravena akan menghasilkan stimulasi sekresi insulin.

Dr. Nuttall menemukan kembali fakta ini di tahun 1991 dalam makalahnya “Respon glukosa plasma dan insulin terhadap macronutrients pada subjek non diabetes dan NIDDM” (Diabetes Care 1991: 14: 824-38). Jadi protein dan asam amino mampu merangsang insulin tanpa ada perubahan pada glukosa darah.

By: Dokter Jason Fung (The incretin effect – Hormonal Obesity XXII)

Dengan adanya fakta ini membuat kita mengubah cara pandang kita terhadap makro nutrien. Sekitar waktu yang sama, ada peningkatan pada hormon yang diproduksi di perut (hormon usus), dinamakan efek incretin. Pada tahun 1986, Nauck dan rekannya melihat sesuatu yang aneh. Pada manusia, respon gula darah terhadap glukosa yang diberikan melalui intravena atau diberikan secara oral ternyata sama saja. Itu tidak mengejutkan. Gula sederhana seperti glukosa cepat dan mudah diserap di usus. Namun, yang menarik adalah sekresi insulin.

Sebagai respons terhadap kadar gula darah dengan kadar yang sama, ada perbedaan besar dalam respon insulin. Banyak obat powerful yang diberikan secara intravena karena ada ketersediaan bioavailabilitas 100%. Ini berarti semua obat itu aktif. Bila diberikan melalui mulut, banyak obat diserap secara tidak sempurna atau sebagian dinonaktifkan oleh hati sebelum sampai ke aliran darah. Jadi obat intravena cenderung lebih efektif dibandingkan oral. Tetapi, dalam kasus ini, glukosa oral jauh, jauh lebih baik dalam menstimulasi insulin daripada intravena. Selanjutnya, mekanisme ini tidak ada kaitannya dengan gula darah. Respon insulin tidak sama dengan respon gula darah.

Ini belum pernah terlihat sebelumnya. Akhirnya, diketahui bahwa perut memproduksi hormon—sekarang disebut hormon incretin yang memicu sekresi insulin. Karena glukosa intravena melewati perut, tidak ada efek incretin. Ini mungkin mencakup 50-70% sekresi insulin setelah asupan glukosa oral. Sejauh ini, dua hormon incretin peranannya pada manusia sudah cukup jelas.

Sumber Gambar

Ini adalah Glucagon Like Peptide 1 (GLP-1) dan glukosa-dependent insulinotropic polipeptide (GIP). Kedua hormon tersebut dinormalkan oleh hormon dipeptidyl peptidase-4 (DPP4). Penghambatan DPP4 oleh obat-obatan seperti saxagliptin menyebabkan peningkatan kadar hormon incretin. Hal ini meningkatkan tingkat insulin dan membantu menurunkan gula darah. Efek incretin dimulai beberapa menit setelah menelan zat ini dan mencapai puncaknya kira-kira 60 menit. 

Incretin memiliki efek selain stimulasi insulin. Mereka juga menghambat glukagon dan menunda pengosongan perut. Ini memiliki efek memperlambat penyerapan glukosa dalam tubuh. Adanya jalur sekresi insulin yang sepenuhnya independen terhadap glukosa darah itu baru dan menarik. Inilah jalur dimana protein bisa merangsang sekresi insulin. Mungkin asam amino merangsang jalur incretin sebagai mekanisme sekresi insulin glukosa-independen. 

Membandingkan asupan protein yang berbeda, produk susu dan dairy product khususnya, merupakan stimulan insulin yang potensial. Makalah ini “Glikemia dan insulinemia pada subyek sehat setelah makanan setara laktosa susu dan protein makanan lainnya” yang diterbitkan di AJCN pada tahun 2004 menunjukkan efek dari protein yang berbeda.

Sementara susu dan keju merangsang insulin paling banyak, bahkan ikan cod pun berpengaruh di sini. Saat susu diganti dengan makanan lain, hal itu juga menyebabkan peningkatan respons insulin.

Dalam makalah “Susu sebagai suplemen untuk makanan campuran dapat meningkatkan insulinaemia postprandial”, susu atau air diberikan untuk menguji subjek selain spaghetti.  Jelas dari diagram bahwa insulin meningkat lebih banyak dengan penambahan susu versus air. Protein susu menunjukkan perbedaan yang besar antara efek glukosa darah (Glycemic Index) dan efek insulin. Sebagian besar produk susu sangat rendah pada indeks glikemik, namun sangat tinggi pada Indeks Insulin.

Sumber Gambar

Sementara laktosa adalah karbohidrat yang terkandung dalam susu, tampaknya tidak banyak berperan dalam respons insulin. Menguji efek laktosa murni, indeks glisemik dan indeks insulin adalah paralel. Ternyata, itu adalah protein susu yang menyebabkan kenaikan insulin. Ada dua jenis protein susu—kasein (80%) dan whey (20%). Keju sebagian besar terdiri dari protein kasein.

Bagian whey dari susu dirasakan memainkan peran lebih besar dalam stimulasi insulin, namun keju juga mungkin memiliki sisa protein whey yang signifikan. Asam amino rantai cabang yang ditemukan dalam produk susu mungkin sangat ampuh. Apakah efek incretin berperan dalam sekresi insulin sebagai respons terhadap whey?

Makalah “Glikemia dan insulinemia pada subyek sehat setelah makanan susu setara laktosa dan protein makanan lainnya: peran asam amino plasma dan insulin” menyoroti mekanisme sekresi insulin.

Mereka mengukur kadar glukosa dan insulin setelah makan, dan kemudian melangkah lebih jauh untuk menguji kadar GLP-1 dan GIP. Apa yang mereka temukan adalah bahwa protein whey dalam produk susu secara khusus merangsang sekresi insulin paling banyak.

Sementara kadar GLP-1 tidak berbeda antara protein yang diuji (cod, milk, whey dan cheese), whey merangsang GIP ke tingkat yang jauh lebih besar daripada yang lain. Ini, setidaknya, menjelaskan beberapa temuan yang telah kita diskusikan di posting terakhir kita. Karbohidrat bukanlah satu-satunya stimulator insulin. Protein juga menyebabkan peningkatan insulin.

Whoa, Nelly.  This changes everything.