Ingin Ramping? Baca Tentang Reduksi Kalori Versus Puasa

Teori Kalori Keluar Dikurangi Kalori Masuk Adalah Payah

 

Apakah efek profitable dari puasa? Beberapa orang mengatakan karena adanya reduksi kalori. Jika memang seperti itu, mengapa ada perbedaan mencolok antara puasa dengan limitasi kalori? Pengurangan Kalori sebagai Primer (CRaP) telah dicoba berkali-kali, dan nyaris gagal hampir setiap saat. Tetapi, puasa lebih efektif, sementara reduksi kalori sederhana tidak. Mengapa ini terjadi? Karena dengan berpuasa kita bisa mendapat benefit yaitu dengan adanya perubahan hormon. Jika kita makan secara konstan, transformasi hormon tidak akan terwujud. Efektifitasnya akan bertambah dengan adanya puasa berselang-seling. Selain itu juga akan menghentikan insulin resisten yang meraja lela, seperti yang sudah kita bahas di jurnal sebelumnya. Mari bandingkan teknik CRaP yang gagal dengan puasa intermiten (IF).

Mari kita meninjau saran konvensional (mengontrol porsi) atau mereduksi total kalori/ hari. Kita sering mendengar saran untuk memangkas 500 kalori sehari dan berharap kehilangan 1 pon lemak per minggu. Meskipun metode ini biasanya menuai kegagalan, namun bukan berarti para profesional kesehatan berhenti merekomendasikannya. Saya tanya sekarang, siapa yang belum pernah mencoba metode diet ini? Dengan strategi diet di atas, adakah yang mampu mempertahankan berat badan mereka dalam jangka waktu panjang? Apakah itu sukses? TIDAK. Dengan fakta tersebut, saya sering terkejut, hari gini masih ada yang percaya dengan teori itu?

Dari sudut pandang yang murni praktisnya, pertimbangkan hal ini. Kami, sebagai ahli medis, telah menyarankan orang-orang yang berusia minimal 40 tahun untuk mengendalikan kalori mereka. Kami memberitahu mereka bahwa itu semua tentang kalori masuk dikurangi kalori keluar. Secara teknis ini memang TAMPAK benar, ternyata kalori keluar, bagian yang TIDAK SANGGUP kita kontrol jauh lebih penting daripada kalori masuk. Meski begitu, dokter seperti Dr. Katz, terus menyarankan untuk memotong kalori mereka dan berpura-pura bahwa mereka akan gol, dan sanggup melangsing. Tapi itu tidak pernah berjaya. Tingkat kegagalan adalah 98%.

By: Dokter Jason Fung  (Caloric Reduction vs Fasting – Part 9)

Pengalaman pribadi mensinyalir bahwa ini mungkin benar. Jadi, meskipun kamu mempercayainya 100%, reduksi kalori TIDAK BEKERJA. Ini adalah fakta yang telah terbukti. Terbukti dengan air mata nanah, dari sejuta orang yang percaya dan merasa tertipu. Tapi, tidak peduli berapa kali saya memberi tahu para penggemar kalori, I get the uncomprehending gaze of an anxious monkey.

Sumber Gambar

Lantas, apa yang terjadi dengan strategi CRaP ini? Sebuah tinjauan rinci dapat ditemukan di seri kalori sebelumnya. Esensinya, tubuh bertendensi menjaga body set weight (BSW). Tubuh pada awalnya mampu melangsing. Tetapi, saat berat badan melorot, tubuh mengkompensasi penurunan berat badan ini dengan mencoba mendapatkan kembali berat badan yang hilang.

Mediator hormonal  lapar (ghrelin) melambung. Ini berarti bahwa rasa lapar dan nafsu makan meningkat. Hal ini terjadi hampir seketika dan berlanjut hampir tanpa batas waktu. Selanjutnya, metabolisme tubuh mulai dimatikan. Menanggapi turunnya 30% kalori, ada sekitar 30% penyusutan total pengeluaran energi. Kita mulai merasa lelah, kedinginan, dan kita memiliki sedikit energi untuk hal-hal seperti olahraga. Seiring TEE tubuh menurun, penurunan berat badan mulai melambat dan kemudian terjadilah plateau.

Akhirnya berat badan mulai kembali, bahkan saat kita terus mengikuti diet. Jadi adaptasi metabolik terhadap CRaP adalah degradasi rasa lapar dan metabolisme basal terjun bebas. Jadi, saat kamu diet, kamu merasa lapar, lelah, dingin dan umumnya sengsara.

Apakah ini terdengar akrab bagi pelaku diet? Mungkin terdengar akrab bagi para dieter. Inilah yang Dr. Ancel Keys telah tunjukan, puluhan tahun yang, lalu dalam eksperimen Starvation Minnesota-nya. Bagian terburuknya adalah strategi ini dijamin gagal. Sudah dibuktikan oleh sains sejak dulu. 50.000 percobaan acak wanita (Inisiatif Kesehatan Wanita) dari diet rendah kalori rendah terbukti menjadi kegagalan total untuk menurunkan berat badan. Masalah dengan strategi ini adalah tidak mengatasi kasus jangka panjang resistensi insulin dan kadar insulin tinggi. Karena insulin menetapkan ‘termostat BSW’—tubuh terus berusaha untuk mendapatkan kembali berat badan yang hilang.

Inilah intinya. Saat kamu mengerem masuknya kalori, nafsu makan naik, dan TEE turun. Kamu mengurangi kalori diserap, tapi kalori keluar juga ambles. Ini adalah kegagalan yang dijamin 100%. It’s as stupid as cracking the safe of your own bank.

Puasa Intermittent

Seperti yang baru-baru ini kami rinci dalam seri puasa, perubahan hormonal yang terjadi di IF berbeda sepenuhnya. Berbeda dengan CRaP, saat puasa, nafsu makan turun dan TEE naik. Tubuh sedang mencoba membikin tubuhmu menjadi semampai dan membantumu sekuat tenaga. Poin utamanya adalah mengatasi masalah resistensi insulin jangka panjang. Selama pengurangan kalori, kamu tidak mendapatkan adaptasi hormonal. Adaptasi hormonal sangat berbeda, seperti yang telah kita bahas sejauh ini dalam rangkaian ini. Glukosa dan insulin juga ikut turun dan tetap terjaga.

Selama IF, sifat intermiten intervensi membantu mencegah masalah resistensi insulin. Sebuah percobaan baru-baru ini—Dampak pembatasan energi intermiten atau kontinu terhadap penurunan berat badan dan penanda risiko penyakit metabolik: uji coba secara acak pada wanita muda yang obesitas—membandingkan CRaP dengan IF.

Segala Hal Yang Ingin Kamu Ketahui Tentang Diet 5:2

Dalam penelitian ini, 107 wanita dirandom untuk dua strategi. Yang pertama adalah pembatasan energi kontinu 25% (CER)—serupa dengan strategi kontrol porsi CRaP. Strategi kedua adalah pembatasan energi intermiten (IER). Pasien diijinkan memakan asupan normal pada 5 hari dalam seminggu, namun hanya 25% kalori biasa pada 2 hari dalam seminggu—sangat mirip dengan diet 5: 2 Dr. Michael Mosley.

 Anggap asupan kalori biasa adalah 2000 kalori per hari. Dengan CER, kalori dikurangi menjadi 1500, atau 10.500 kalori selama 1 minggu. Dengan IER, kalori mingguan adalah 11.000 kalori per minggu. Jadi penelitian ini secara efektif membuat asupan kalori tetap stabil.

Basic dari diet adalah diet gaya Mediterania dengan lemak 30%. Setelah dikerjakan lebih dari 6 bulan, apa hasilnya? Dalam hal penurunan berat badan dan kehilangan lemak, tidak ada perbedaan yang signifikan walaupun IER cenderung melakukan yang lebih baik (berat badan 5,7 vs 5,0 kg, kehilangan lemak 4,5kg vs 3.2kg). Tapi bagian penting dari penelitian ini adalah efek pada insulin dan resistensi insulin.

Ditambah, saya telah menghabiskan 60+ entri blog terakhir yang menyatakan bahwa insulin dan resistensi insulin adalah faktor kunci dalam obesitas dan akumulasi bobot badan. Apa yang terjadi pada tingkat insulin? Nah, ada peningkatan kadar insulin yang jelas dan menguntungkan kelompok IER.

Yang lebih mengesankan lagi adalah perubahan resistensi insulin. Ini diukur dengan HOMA, yang merupakan perbandingan glukosa puasa dengan insulin puasa. Pada kelompok CER, hampir tidak ada perubahan resistensi insulin mereka (IR). Karena tidak ada perubahan pada IR, ini akan terus menyebabkan kadar insulin lebih tinggi dan terjebak dalam lingkaran setan. Tingkat insulin yang lebih jenjang ini mengabadikan IR yang lebih tinggi.

Ini adalah masalah jangka panjang dari program melangsing. Ini adalah bagian dari equation yang biasanya diabaikan dan menyebabkan timbangan rata-rata kembali. Intermittent diet yang membuatnya efektif.

Sumber Gambar

Kita bisa melihat kembali sejarah manusia. Puasa telah digunakan selama 2000 tahun terakhir sebagai metode yang sangat efektif untuk mengendalikan obesitas. Portion control (CRaP) hanya digunakan secara ekstensif selama 50 tahun terakhir dengan kegagalan yang menakjubkan. Namun, pakar seperti Dr. Katz dan yang lainnya terus-menerus meneriaki kami melalui buku, TV, dan online untuk mengurangi kalori. Tidakkah mereka mengira kita sudah mencobanya dan khatam dengan metode itu?

Tapi strategi yang busuk luar biasa, berpuasa, terus diremehkan sebagai praktik berbahaya yang mirip dengan pemberian darah dan voodoo. Masalah diet yang mayoritas terjadi adalah bahwa mereka mengabaikan prinsip biologis homeostasis—-yaitu kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Tubuh memiliki keadaan pilihan. Jika kamu menjauh dari itu, tubuh akan menyesuaikan diri dengan itu. Misalnya, jika kamu berada di ruangan yang gelap dan tiba-tiba masuk ke ruangan yang dipenuhi sinar matahari yang terang, tiba-tiba kamu akan merasa buta. Namun, dalam beberapa saat, tubuh kamu akan beradaptasi.

Hal yang sama berlaku untuk melangsing. Jika kamu mencoba untuk tetap diet konstan, tubuh akan beradaptasi. Ini berarti bahwa diet yang berhasil memerlukan strategi intermiten/ berseling, bukan yang konstan. Ini adalah perbedaan krusial.

Variasinya adalah antara membatasi beberapa makanan setiap saat (CER) dan menyekat semua makanan pada beberapa waktu (IER). Inilah perbedaan antara kegagalan dan kesuksesan.