Kelaparan dilihat dari sisi biologi – Kalori Bagian IV

The Biology of Starvation – Calories Part IV

Klik di sini untuk Kalori bagian I, bagian II, dan bagian III. Jadi, inilah pandangan konvensional kita tentang obesitas. Makan terlalu banyak membuat Anda gemuk. Makan lebih sedikit seharusnya membuat Anda meramping. Tetapi, seperti yang kita lihat di bagian III, obesitas tidak sesederhana itu. Pada tahun 1917, percobaan menunjukkan bahwa mengurangi kalori akan memangkas Total Energy Expenditure (TEE) yang jumlahnya cukup besar, yang bertendensi akan menghalangi proses melangsingkan tubuh.

Mari kita percepat beberapa dekade, ilmuwan Ancel Keys telah membuat sebuah catatan, yang kemudian memainkan peran krusial dalam membentuk ortodoksi nutrisi saat ini, berusaha mempelajari efek pengurangan kalori dalam Minnesota Starvation Experiment/ Eksperimen Starvation Minnesota yang terkenal, yang diterbitkan pada tahun 1950. Dengan adanya Perang Dunia II menggurita di mana-mana, jutaan orang berada di ambang kelaparan dan eksperimen ini merupakan upaya untuk memahami efek pada tubuh manusia.

By: Dokter Jason Fung

Kunci si Ancel

Salah satu masalah pertama adalah menemukan relawan. Sebagai alternatif untuk menghindari pergi ke medan perang, conscientious objectors  atau para voluntir pun telah direkrut. Akhirnya 36 ‘sukarelawan’ tersebut berpartisipasi dalam penelitian ini.

Ancel Keys memperkirakan bahwa subjek ini makan sekitar 3.200 kalori per hari. Mereka dimasukkan ke dalam diet ‘semi-kelaparan’ sebanyak 1.560 kalori per hari dengan makanan yang serupa dengan yang ada di Eropa yang dilanda perang pada saat itu—kentang, lobak, roti, dan makaroni. Mereka kemudian dipantau selama 20 minggu berikutnya setelah periode semi-kelaparan.

Apa yang terjadi pada mereka? Disini kita bisa membagi efeknya menjadi efek fisik dan psikologis.

Efek fisik

Kedinginan, kelaparan tak henti-henti, lemas, kelelahan, pusing, otot gembyor, dan rambut rontok adalah beberapa gejala.

Volume jantung menyusut 20%. Detak jantung melambat. Suhu tubuh turun. Tingkat metabolisme istirahat turun sebesar 40%. Menariknya, ini tidak jauh dari penelitian sebelumnya pada tahun 1917 yang menunjukkan TEE menurun sebesar 30%. Dengan kata lain, pabrik dalam tubuh kita dimatikan. Mari pikirkan hal ini lagi dari sudut pandang sang tubuh. Tubuh kita sudah terbiasa mendapatkan 3.200 kalori per hari dan sekarang mendapat 1.560. Untuk menjaga dirinya sendiri, ia menerapkan pengurangan energi.

  1. Energi untuk jantung berkurang banyak—detak jantung melambat dan volume jantung menyusut. Tekanan darah menukik turun.
  2. Sistem pemanas dimatikan—tubuh terasa dingin.
  3. Otot mendapatkan sedikit tenaga—kelelahan fisik.
  4. Rambut dan kuku mendapatkan sedikit pasokan bahan bakar—rambut rontok dan kuku yang rapuh.

Ingatlah kunci ini, bagaimanapun, tubuh telah memastikan kelangsungan hidup individu di bawah tekanan yang ekstrem. Ya, Anda mungkin merasa luar biasa tak berdaya, tapi Anda akan tetap hidup untuk menceritakan kisahnya. Ini adalah hal yang cerdas yang dilakukan tubuh. Si tubuh tidak terlalu bodoh untuk tetap membakar energi yang sebenarnya telah kosong.

Pertimbangkan alternatif lainnya. Tubuh biasanya mengonsumsi 3.200 kalori per hari dan sekarang hanya mendapat jatah sebesar 1.560. Tubuh masih harus membakar 3.200 kalori. Awalnya tidak ada keluhan, semuanya terasa normal. Tiga bulan kemudian, kamu sudah mati. Hal ini benar-benar tak terbayangkan bahwa tubuh tidak bereaksi terhadap pengurangan kalori dengan mereduksi pengeluaran kalori.

Pertimbangkan banyak pernyataan bahwa jika Anda mengurangi 500 kalori per hari, Anda akan kehilangan satu pon dalam satu minggu. Apakah itu berarti bahwa dalam 200 minggu timbangan Anda akan menjadi 0 pon? Jelas bahwa pada suatu saat, tubuh harus, harus, harus mengurangi pengeluaran kalori. Ternyata adaptasi itu terjadi hampir seketika dan berlanjut dalam jangka panjang. Kita akan membahas lebih dalam mengenai hal ini, nanti.

Sumber Gambar

 

Efek psikologis

Mikirin makanan terus (terobesi pada makanan). Perilaku balas dendam pada makanan. Depresi yang ekstrem. Tekanan emosional yang parah. Cepat marah. Kehilangan libido. Lenyapnya minat pada segala hal, kecuali pada makanan. Menjauh, mengunci diri, dan isolasi sosial. Beberapa subjek menjadi neurotik terang-terangan. Seorang pasien dilaporkan mengamputasi 3 jari dengan kapak dalam tindakan mutilasi diri. (Meskipun kita tidak yakin bahwa dia memotong diri sendiri, tampaknya agak sulit memotong jari sendiri dengan kapak—bagaimana Anda mengayunkan kapak dan tetap menjaga jari Anda di atas blok pemotong?). Lupakan tentang memotong jari, saya yakin Anda mulai mendapatkan gambarannya.

Ingatkah Anda terakhir kali Anda mencoba diet dengan mengurangi kalori dan mengurangi porsi makan? Apakah ini terdengar familiar? Ya, kayaknya sih saya setuju dengan saya.

Melangsing sementara lantas Menggemuk Kembali

Apa yang terjadi dengan berat badan mereka setelah periode semi-kelaparan?

Mari kita lihat gambaran di atas. Sepanjang sumbu x kita memiliki 24 minggu periode kelaparan (0 – S24). Anda bisa melihat bahwa keduanya, baik berat badan maupun lemak tubuh turun. Saat mereka memulai masa pemulihan, mereka kembali menggemuk. Sebenarnya proses menggemuknya agak cepat— kira-kira sekitar 12 minggu, berat badannya kembali pada garis dasar.

Tetapi, ini tidak berhenti sampai di situ saja. Anda dapat melihat bahwa berat badan terus melonjak sampai melampaui berat badan awal (sebelum percobaan dimulai).

Dan lihat saja lemak tubuh itu! Ini melonjak di atas garis dasar. Rahasia kecil dari kebanyakan studi diet adalah bahwa karena berat badan hilang, lemak dan berat otot menurun. Tapi saat berat badan naik kembali, sebagian besar yang kembali adalah lemak.

Sumber Gambar

 

Terdengar akrab? Ya kan?

Pikirkan tentang hal ini dalam soal diet. Mari tinjau apa yang terjadi saat Anda mengurangi kalori, karbohidrat tinggi, diet rendah lemak 1.560 kalori/ hari – sama seperti yang diperintahkan dokter Anda. Anda merasa payah, lelah, dingin, lapar, mudah marah dan tertekan. Itu bukan hanya karena Anda berdiet, ada alasan fisiologis mengapa Anda merasa sangat lesu. Tingkat metabolisme turun, hormon membuat Anda lapar, suhu tubuh turun dan ada banyak efek psikologis. Hal terburuk adalah Anda kehilangan sedikit berat badan tapi Anda menggemuk kembali saat berhenti diet.

Semakin jelas bahwa salah satu asumsi utama Pengurangan Kalori sebagai teori Primer (CRAP) adalah salah. Pengeluaran kalori dan asupan kalori saling terkait satu sama lain.

Kalori Masuk, Kalori Keluar

Jika kita mengatakannya dengan cara lain—mengurangi kalori masuk menurunkan kalori keluar. Mengurangi asupan kalori pasti menyebabkan berkurangnya pengeluaran kalori. Skala sederhana ini benar-benar 100% salah. Mereka TIDAK independen satu sama lain. Itulah sebabnya diet konvensional seperti yang kita tahu itu tidak bekerja. Saya tahu itu. Kamu tahu itu.

Sebenarnya, kita sudah mengetahui sejak 1917. Sesungguhnya, di dalam hati kita, kita mungkin selalu tahu itu benar. Makan lebih sedikit untuk jangka waktu lama membuat Anda lelah dan lapar. Dan yang terburuk … Anda mendapatkan kembali semua berat yang telah hilang. Berat badan yang hilang adalah otot dan lemak. Anda kembali membulat.

Kita baru saja memilih untuk melupakan fakta yang tidak menyenangkan ini karena dokter kita, ahli gizi, pemerintah, ilmuwan, politisi, dan media kita semua telah berteriak kepada kita selama puluhan tahun bahwa ini adalah tentang ‘Kalori Masuk  vs Kalori keluar’. Pengurangan Kalori adalah Primer. Makan lebih sedikit, bergerak lebih banyak, dan kebodohan semacam itu.

Kita perlu benar-benar memikirkan kembali pandangan konvensional tentang obesitas yang telah berurat berakar.