Ingin Ramping dan Kurus? Baca Tentang Paranoia Terhadap Lemak dan Kolesterol

Sumber Gambar

“Sekarang semakin diakui bahwa kampanye rendah lemak didasarkan pada sedikit bukti ilmiah dan mungkin telah menyebabkan konsekuensi kesehatan yang tidak diinginkan.”

Sudah lebih dari satu dekade sejak peneliti Harvard yang terkenal Drs. Frank Hu dan Walter Willett menulis ini pada tahun 2001. Bahkan sekarang, juru kampanye rendah lemak ada di mana-mana, asalkan kamu mau memperhatikan. Harus kita akui, banyak hal yang telah berubah.

Baru-baru ini, pengakuan bahwa lemak jenuh mungkin bukan musuh, berani nongkrong dan unjuk gigi di halaman depan Time Magazine.

Sejarahnya begini. Petisi tentang lemak, akarnya dimulai pada tahun 1960an. Tokoh kunci yang merupakan ahli gizi terkemuka adalah Dr. Ancel Keys.

Pada tahun-tahun pasca perang, ada kekhawatiran yang meningkat mengenai apa yang disebut epidemi penyakit koroner yang melanda Amerika Serikat. Penyebab penyakit arteri koroner adalah plak aterosklerotik yang pecah. Studi patologis dengan jelas mengidentifikasi bahwa ada kolesterol yang terkandung di dalam plak ini.

Kita lantas heboh mencari siapa penjahatnya. Dan ditemukanlah penjahat kelas kakap yaitu kolesterol.

By: Dokter Jason Fung  (Fat Phobia – Hormonal Obesity XXXIV)

Kolesterol berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Hal ini tampaknya membuat beberapa pengertian dangkal. Kadar kolesterol tinggi diyakini menyebabkan penumpukan plak sehingga menghalangi arteri yang menyebabkan serangan jantung.

Jika kadar kolesterol darah tinggi, maka makan kolesterol menyebabkan levelnya meninggi juga dong. Ini mengabaikan fakta bahwa mayoritas (80%) kolesterol dalam darah diproduksi oleh hati kita. Hanya 20% yang berasal dari makanan. Dari reputasi yang buruk itu, mungkin kamu berasumsi bahwa kolesterol yang berasal dari makanan harus dieliminasi.  Sebenarnya, mungkin kenyataannya jauh daripada itu.

Kolesterol adalah blok bangunan utama di membran plasma yang mengelilingi semua sel di tubuh kita. Faktanya, kolesterol adalah bagian yang vital.  Setiap sel dalam tubuh kecuali otak, yang sangat spesial, memiliki kemampuan untuk membuat kolesterol. Jika kamu mengurangi kolesterol dalam makananmu, tubuhmu hanya akan menghasilkan lebih banyak kolesterol. Pada awal 1950-an, perhatian pada serangan jantung meningkat, yang mana melanda kalangan usia paruh baya secara acak.

Selama cuti panjang ke Universitas Oxford pada tahun 1951, Dr Ancel Keys dipukul oleh fakta bahwa pekerja Italia memiliki tingkat serangan jantung yang rendah dan berhipotesis bahwa asupan makanan rendah lemak membantu melindungi mereka. Melalui tahun 1950 ia memulai survei informal tentang diet di berbagai negara dan mengukur darah termasuk tingkat kolesterol darah.

Sumber Gambar

Dr Keys dengan gigih mengejar hipotesisnya bahwa peningkatan lemak diet menyebabkan kenaikan penyakit koroner. Hal ini menyebabkan Studi Tujuh Negara yang terkenal, sebuah studi observasional yang membandingkan tingkat penyakit koroner yang berbeda dan faktor diet dan gaya hidup yang berbeda.

Pada tahun 1970, ada 3 kesimpulan utama yang berkaitan dengan lemak:
1. Tingkat kolesterol memprediksi risiko penyakit jantung
2. Jumlah lemak jenuh dalam makanan memprediksi kadar kolesterol

  1. Lemak monounsaturated melindungimu dari penyakit jantung

SCS memberikan kontribusi penting untuk pemahaman kita tentang faktor risiko koroner lainnya yang pada akhirnya terbukti benar. Misalnya, secara signifikan memperkuat hubungan antara merokok dan penyakit jantung. Pentingnya tekanan darah juga diidentifikasi dalam penelitian ini. Aktivitas fisik diidentifikasi sebagai pelindung utama. Dari penelitian inilah minat mengikuti diet Mediterania meningkat, dan berlanjut sampai sekarang.

Banyak percobaan yang awalnya diawali dengan periode Low Fat Dr. Key, namun hal yang TERPENTING adalah bahwa total lemak tidak berkorelasi dengan penyakit jantung. Justru, dia memisahkan lemak jenuh dan tak jenuh yang ujung-ujungnya berakibat fatal.

Jadi, tampaknya lemak jenuh meningkat dalam makanan, kolesterol serum juga meningkat. Kesimpulan selanjutnya adalah karena lemak jenuh naik, begitu pula kematian akibat penyakit koroner. Ini adalah pertama kalinya lemak jenuh masuk ke layar radar. Ada beberapa masalah dengan ini, meski masih samar-samar.

Pertama, ini adalah studi korelasi. Itu berarti bahwa ini tidak bisa membuktikan sebab-akibat. Salah satu pendapat pribadi saya adalah bahwa studi korelasi kebanyakan omong kosong. Tidak ada yang lebih berbahaya dalam kedokteran sebagai studi korelasi.

Saya pernah menulis tentang ini sebelumnya. Mereka berbahaya karena kamu bisa dengan mudah dan keliru menarik kesimpulan kausal. Misalnya, wanita yang mengonsumsi hormone replacement memiliki kecenderungan akan mereduksi sebanyak 50% penyakit koroner. Tapi saat kamu memberi HRT, kamu meningkatkan tingkat penyakit jantung, pembekuan darah dan kanker payudara.

Masalahnya, wanita yang pernah memakai HRT juga lebih sehat dengan cara lain. HRT tidak bermanfaat, itu berbahaya, dan pembuat obat Wyeth dituntut, namun tiba-tiba perusahaan itu tidak eksis.

Jika kita membuat klaim yang sama tentang orang, itu akan disebut rasisme. Misalnya, banyak pemain bola basket yang berkulit hitam. Ada korelasi kuat. Tapi mereka menjadi jempolan karena bukan karena mereka berkulit hitam. Mereka menjadi jagoan karena berlatih keras berjam-jam.

Sumber Gambar

Banyak orang Cina pandai matematika. Tapi mereka menjadi ciamik bukan karena mereka orang Tionghoa. Mereka berlatih keras berjam-jam.

Ada banyak stereotip negatif juga, tapi saya lebih memilih untuk tidak mencantumkannya.

Kamu hanya bisa membuktikan bahwa lemak jenuh menyebabkan penyakit jantung melalui uji coba secara acak yang sangat mahal dan sulit dilakukan. Memang, ada kalanya data hasil observasi adalah yang terbaik. Data dari Studi Kesehatan Perawat yang besar dan Tindak Lanjut Profesional Kesehatan mengalami masalah yang sama. Meski harus kita akui bahwa datanya masih ada kekurangan. Mengapa demikian? Karena pengobatan berbasis bukti masih di tahap awal, dan masalah berdasarkan data observasi masih disepelekan hingga detik ini.  Jadi, jika di suatu negara kebetulan memiliki tingkat penyakit jantung tinggi, dan kebiasaan penduduknya adalah memakan lemak jenuh, bukan berarti lemak jenuh menyebabkan penyakit jantung.

Beberapa ilmuwan dapat segera menangkap cacat fatal nan parah ini. Drs. Yerushalmy  and Hilleboe (sebagai upaya menyanggah Dr. Keys) telah menulis:

But quotation and repetition of the suggestive association soon creates the impression that the relationship is truly valid, and ultimately it acquires status as a supporting link in a chain of presumed proof. Namun, kutipan dan pengulangan asosiasi sugestif segera menciptakan kesan bahwa hubungan tersebut benar-benar valid, dan akhirnya memperoleh status sebagai tautan pendukung dalam rangkaian bukti yang dianggap perlu.

Seperti yang ditulis Denise Minger di rawfoodsos.com. True.  That.  This, of course would soon be standard operating protocol for nutritional doctrines everywhere.

Ini tentu saja akan segera menjadi protokol operasi standar untuk doktrin gizi di mana-mana. Contohnya adalah, apakah kamu tidak yakin bahwa garam tidak enak? Gampang. Coba ulangi lagi dan lagi, sampai kamu yakin bahwa garam tidak enak. Apakah kamu tidak yakin bahwa lemak itu buruk untukmu? Coba ulangi lagi dan lagi, sampai kamu mual dan kamu merasa yakin. Oh, kamu nggak yakin tablet kalsium itu jelek? Ulangi lagi dan lagi.

Innuendo and repetition.

Masalah utama kedua adalah penerapan ilmu nutrisi yang salah kaprah. Mengapa demikian? Karena ini merupakan a fatal conceit atau kesombongan fatal yaitu kita telah salah memahami bahwa ada reaksi yang keliru terutama masalah biologi yang mencampurkan lemak, protein dan karbohidrat.

Di sini, misalnya, Dr. Keys membuat klaim (yang keliru namun sebenarnya tidak sengaja) bahwa semua lemak jenuh, semua lemak tak jenuh, semua kolesterol diet dan lain-lain sama. Ini mirip dengan membandingkan gula dengan kangkung karena keduanya mengandung karbohidrat. Atau membandingkan margarin yang kaya akan trans-fat dengan alpukat karena keduanya mengandung lemak. Atau membandingkan sepotong salami olahan—penuh dengan nitrit—dengan daging sapi organik—makanannya hanya rumput—hanya karena keduanya adalah protein.

Sekali lagi, jika kita menerapkannya pada orang, itu akan disebut rasisme. Kamu tidak bisa berasumsi bahwa teman negromu pintar bermain basket dan menyamakannya dengan Michael Jordan, hanya karena keduanya berkulit hitam.

Saya tidak bisa menyanyi seperti Celine Dion hanya karena saya orang Kanada. Saya tidak secerdas Albert Einstein hanya karena kita berdua laki-laki.

Di sini kesalahannya sudah jelas. Dalam nutrisi, kita gagal untuk mempertimbangkan makanan sebagai individu –semuanya unik, memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri. Tetapi, sebenarnya, beberapa orang telah mengeluh mengenai analisa Dr. Keys yang telah melakukan ‘cherry picked’ lantas meragukan teorinya, karena  korelasi si dokter sungguh ngawur.

Sumber Gambar

Mungkin kasusnya tidak persis seperti ini, namun benang merahnya adalah semua tidak relevan. Hal semacam ini memang sudah umum dan biasa terjadi dalam penelitian.

Sebenarnya dua fokus utama kita  adalah

  1. Penggunaan data observasional yang ngaco luar biasa,
  2. Dan bangkitnya ilmu nutrisi.

Salah satu korelasi penting yang dikoar-koarkan oleh Dr. Keys adalah ia ngotot TIDAK ada hubungan antara kolesterol diet dan kolesterol serum.

Karena kolesterol dalam darah (80%) sebagian besar diproduksi oleh hati, maka, jika kamu mengurangi kolesterol dari makanan, maka pengaruhnya nyaris tidak ada atau tidak signifikan sama sekali.

Ini dikenali sejak awal, namun demikian, hal itu menjadi tertanam dalam budaya populer bahwa kolesterol diet adalah JUELEEEEEEEEK sekali. Dari mana kita mendapat ide itu, saya juga nggak tahu. Blank.