Taktik Move On dari Mantan (Cara Menghilangkan Mantan dari Pikiran)

Sumber Gambar

Hai, saya Sarah. Btw, melupakan mantan apalagi jika kamu masih suka dan sangat terikat padanya adalah sesuatu yang berat dan nyaris mustahil, ya kan? Saya juga merasakannya. Tapi, bagaimana pun, ini adalah hidup. Kita harus melepaskan sesuatu yang sebaiknya wajib dilepaskan, lantas hidup di dunia realita, bukan lagi di dalam alam khayal, sepakat?

Setelah mencari beberapa artikel yang cocok dengan kondisi ini, saya menemukan sebuah blog yang punya tembakan jitu (menurut saya sih) untuk menyelesaikan perkara per-move-on-an. Oleh karena itu, kali ini saya akan menerjemahkan tulisan Noah Elkrief, yang mana, sebenarnya, kamu sangat boleh membaca versi aslinya, namun jika kamu lebih nyaman membaca format bahasa, silakan dilanjutkan.

Baiklah, mari kita mulai.

By: Noah Elkrief

Kamu penasaran bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang? Apakah kamu ingin tahu metode efektif apa yang digunakan untuk mengiklaskan orang yang harus dilepaskan? Tenang, saya akan menjawab kedua pertanyaan ini.

Umumnya, ketika kita ingin melupakan mantan, kita mencoba:

  1. Menyingkirkan pikiran, lantas menghentikannya.
  2. Menyangkal bahwa kita memilikinya.
  3. Atau mengalihkan perhatian kita dari pemikiran ini.

Seperti yang mungkin telah kamu alami sendiri, taktik ini umumnya tidak membawa hasil yang kita inginkan dan malah membuat kita semakin memikirkannya. Oleh sebab itu, saya akan mengenalkan kamu pada taktik baru yang mungkin jauh lebih efektif. Tapi, sebelum saya berbicara lebih mendalam, saya hanya ingin menjelaskan secara singkat apa yang membuatmu merasa KEHILANGAN dan HAMPA TANPANYA.

Apa yang tampaknya menjadi penyebab kangen mantan dan merasa kehilangan?

Jika seseorang telah terbiasa berada di hidupmu, namun kini mereka tidak lagi berada di sisimu, rasanya kangen padanya adalah efek langsung. SEPERTINYA merindukannya  adalah reaksi otomatis, normal, dan MUSTAHIL kamu lari dari rasa kangen itu.  Seolah-olah, ketika dia meninggalkanmu, saat ini juga kamu harus berlari menghampirinya, dan kamu ingin kembali bersamanya. Pokoknya kamu maunya mengulang kembali masa lalu, dan kamu berasumsi memang begitulah cara kerjanya. Tidak ada pilihan lain dalam masalah ini. Sekali lagi, kita MENGIRA KANGEN adalah NORMAL.

Tapi sekarang saatnya untuk memeriksa asumsi ini.

Penyebab yang sesungguhnya

Izinkan saya mengajukan pertanyaan, apakah yang membuatmu hepi dan merasa nyaman? Luangkan waktu sejenak untuk memikirkan beberapa hal yang paling kamu sukai. Misalnya, mungkin menonton film, mungkin saat memakan es krim, mungkin ketika memainkan games, mungkin olahraga, atau mungkin saat kamu bercanda dengan teman atau anak-anak.

Jika kamu kehilangan seseorang, dan kemudian kamu terlibat dalam beberapa aktivitas yang benar-benar kamu sukai dan nikmati, apakah kamu dapat bersenang-senang atau enjoy? Dengan kata lain, apakah kamu dapat bersenang-senang dan bahagia saat terlibat dalam aktivitas ini meskipun orang yang kamu cintai tidak ada di sini? Ya, kamu pasti akan tetap bisa bersenang-senang saat melakukan sesuatu yang kamu cintai.

Bila kamu terlibat dalam kegiatan yang kamu sukai, kamu dapat menikmatinya karena kamu mengalihkan perhatianmu dari pikiran yang membuatmu tidak bahagia. Jadi, jika orang yang kamu cintai tidak lagi ada di sini, namun kamu mampu bahagia hanya dengan mengalihkan perhatianmu dari pikiran, maka dengan jelas perasaan kehilanganmu tidak diciptakan oleh keadaan faktual. Jika memang rasa kehilangan mantan diciptakan oleh si mantan, maka rasa hilang itu terasa permanen, melakukan kegiatan yang kamu suka tidak akan bisa mengubah apa-apa. Kamu tetap hampa. Padahal faktanya, saat kamu tidak teringat padanya, kamu baik-baik saja.

Dapatkah kamu melihat dengan sangat jelas bahwa perasaan kehilangan bukan disebabkan karena dia tidak ada di sini tapi sebenarnya diciptakan langsung oleh PIKIRAN? Bila kamu MEMIKIRKAN seseorang yang kamu cintai tidak berada di sini, kamu MERINDUKANNYA. Tapi, saat kamu TIDAK MEMIKIRKANNYA, kamu TIDAK MERINDUKANNYA.

Untuk berhenti memikirkannya, kamu perlu paham mengapa kamu memikirkannya

Pertama, izinkan saya mengatakan hal ini: tidak ada masalah dengan memikirkan seseorang. Bukan berarti kamu tidak boleh mikirin mantan, dan mikirin mantan bukan dosa. Tapi, jika kamu ingin tahu bagaimana CARA BERHENTI MEMIKIRKAN mantan, maka pertama-tama kamu harus mengerti MENGAPA KAMU MEMIKIRKANNYA. Jika kamu TIDAK MENGERTI MENGAPA kamu memikirkan mantan, maka SANGAT SULIT untuk BERHENTI memikirkannya. Kamu akan berakhir HANYA MENCOBA MENGALIHKAN pikiranmu, bukan langsung menembak inti permasalahannya.

Alasan mengapa kita memikirkannya adalah karena kita berpikir bahwa kita akan lebih bahagia jika mantan berada di sini.

 

Sumber Gambar

Sekali lagi…

 ALASAN MENGAPA kamu terus teringat padanya, atau mengapa kamu kehilangannya, KARENA KAMU BERPIKIR KITA AKAN LEBIH BAHAGIA JIKA DIA ADA DI HIDUP KITA.

Apakah kamu memikirkan seseorang karena kamu pikir kamu akan lebih bahagia jika ia berada di sini?

Untuk menguji ini, pikirkan saat kamu menikmati kegiatan dengan diri sendiri ketika orang yang kamu rindukan tidak ada di sini. Pada saat kamu bersenang-senang, bahagia, dan enjoy dengan diri sendiri, apakah kamu memikirkan mantan? Tidak, hampir pasti tidak. Ini karena saat kamu sudah bahagia, tidak ada alasan untuk memikirkan orang yang dulu mungkin kamu kangenin.

Tapi saat kamu duduk di sana, tidak terlalu bahagia, atau sedang tidak melakukan apa-apa, pikiranmu terus menggiringmu pada asumsi bahwa kamu akan lebih bahagia jika ia berada di sini dan hal itu menyebabkanmu terus memikirkannya.

Jika kamu berpikir bahwa kamu tidak akan senang jika ia berada di sini, maukah kamu terus memikirkannya? Tidak, hampir pasti tidak. Sepakat dengan saya?

Mari kita periksa apakah kamu benar-benar akan lebih bahagia jika orang yang kamu pikirkan ada di sini

Ketika kita memikirkan seseorang, apa yang kita lakukan adalah kita mengingat saat-saat bahagia, dan kemudian kita berpikir (seringkali tanpa sadar) “Saya akan lebih bahagia jika mereka ada di sini”. Tapi sekarang mari kita periksa asumsi ini.

Taktik #1: Apakah kamu selalu bahagia dan fulfilled saat bersama dengan mereka?

Bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang: Apakah kamu selalu senang bila orang yang kamu rindukan itu ada di sini? Apakah seluruh waktumu ketika bersamanya menyenangkan? Apakah ada saat-saat ketika kamu bersamanya dan kamu mengkhawatirkan apa yang mereka pikirkan?

Apakah ada saat-saat dimana kamu benar-benar kesal dengannya, saat kamu menghakiminya, ketika dia menghakimimu, ketika beradu argumen, saat kamu khawatir apakah dia menyukai orang lain, ketika kamu khawatir apakah pacarmu saat itu masih mencintaimu? Ketika kamu membencinya karena ia tidak cukup menghargaimu, ketika kamu merasa tidak nyaman karena kamu selalu mencoba untuk mengalah?

Bila kamu memikirkan bahwa kamu akan lebih bahagia jika ia berada di sini, kamu jangan hanya memikirkan momen yang manis-manis saja. Kamu harus menerima satu paket utuh. Kamu akan mengembalikan semuanya kembali. Kamu akan menerima rasa khawatir juga, dendam juga, kekecewaan juga, perdebatan juga, melakukan hal-hal yang tidak kamu sukai juga, dan semua hal itu satu kemasan dengan masa bahagia. Iya kan?

Jadi, izinkan saya bertanya lagi kepadamu: Apakah kamu tahu dengan pasti bahwa kamu akan lebih bahagia jika orang yang kamu pikirkan ada di sini? Mungkinkah akan ada lebih banyak ketidakbahagiaan jika ia kembali ke hidupmu? Tanyakan pada dirimu sendiri pertanyaan-pertanyaan ini, sehingga bisa membantumu menemukan “Saya sebenarnya tidak tahu apakah saya akan lebih bahagia jika ia ada di sini lagi”.

Taktik #2: Mungkinkah hal baru bisa membuatmu lebih bahagia?

Bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang: Mungkin pengalamanmu dengan orang yang kamu pikirkan hampir selalu indah dan penuh dengan kebahagiaan. Tapi, pengalaman itu sudah berakhir sekarang. Sekarang, kamu memiliki pengalaman baru dalam hidupmu. Dengan kata lain, pengalaman hidupmu sekarang berbeda karena kamu tidak lagi memiliki orang itu dalam hidupmu. Dan kemudian kamu memutuskan “Saya akan lebih bahagia jika ia ada di sini”. Tapi, tahukah kamu apa efeknya kehilangan orang yang kamu sukai?

Apakah kamu tahu pasti justru saat kamu menjomblo kamu malah menjadi lebih bahagia? Mungkinkah kehilangan orang tersebut akan memungkinkan kamu meluangkan lebih banyak waktu bersama teman, mempunyai teman baru, atau semakin mendalami dan menikmati hobimu? Mungkinkah kamu akan menemukan orang lain yang mana akan memberikan saat-saat yang lebih membahagiakan dibandingkan bersama dengan mantan? Dapatkah kamu benar-benar yakin bahwa hal-hal ini tidak mungkin dilakukan? Mungkinkah ini bisa berakhir membuatmu lebih bahagia ketika kamu hidup tanpanya? Masuk akalkah sesuatu yang indah akan terjadi padamu sekarang karena mereka tidak lagi berada dalam kehidupanmu? Bisakah kamu memikirkan beberapa efek bagus pada saat kamu tidak lagi dengannya?

 Jika MUNGKIN KAMU BISA LEBIH BAHAGIA tanpa mantanmu, maka kamu TIDAK PERLU TERUS MEMIKIRKANNYA seandainya dia ada di sini. Karena sebenarnya KAMU TIDAK TAHU apakah kamu akan lebih bahagia JIKA IA BERADA DI SISIMU.

Sumber Gambar

Taktik #3: Mungkinkah ketidakbahagiaanmu memotivasimu untuk mengenali dirimu sendiri, yang bisa membuatmu lebih bahagia?

Bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang: Kehilangan mantan tampaknya telah menciptakan ketidakbahagiaan untukmu. Tapi, itu hanya satu, dan efeknya pun sangat jangka pendek. Mungkinkah ketidakbahagiaan yang kamu alami akan memancingmu untuk mulai memeriksa ketidakbahagiaanmu, untuk mulai mempertanyakan apa yang membuatmu tidak bahagia, untuk menemukan bahwa pikiran menyebabkan emosi yang tidak kamu inginkan, dan untuk menemukan bagaimana mengatasi pemikiran ini, yang pada akhirnya akan membuatmu lebih bahagia?

Dengan kata lain, mayoritas dari kita menjalani hidup dengan asumsi bahwa kondisi dan kejadian eksternal membuat kita bahagia dan tidak bahagia. Tapi, sebenarnya PIKIRAN kita tentang situasi dan peristiwa eksternal menyebabkan semua EMOSI kita. Dan, jika kamu belajar mengatasi, atau menghilangkan pikiran yang biasanya membuatmu tidak bahagia, maka kamu akan semakin bahagia. Ada kemungkinan ketidakbahagiaan yang kamu alami karena kehilangan seseorang akan menyebabkanmu melihat pemikiran yang tidak kamu ketahui, dan entah bagaimana membawamu ke situs web seperti ini yang dapat menunjukkan kepadamu bagaimana menangani pemikiran yang membuatmu tidak bahagia. Dan itu bisa membuat hidupmu lebih bahagia.

Taktik #4: Mungkinkah akan terjadi hal-hal “buruk” jika kita masih bersamanya?

Bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang: Mungkinkah jika orang yang kamu pikirkan masih ada di sini, malah terjadi sesuatu yang buruk? Mungkinkah ia berselingkuh? Mungkinkah hubungan itu akan menjadi garing dan membosankan? Mungkinkah kamu akan terlibat dalam argumen besar yang benar-benar menyakiti kalian berdua? Mungkinkah kamu akan semakin cemburu atau lebih khawatir apakah mereka masih mencintaimu? Mungkinkah jika mereka ada di sini, mereka akan mencegahmu melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan dan penting bagimu, dan kamu akan kehilangan kesempatan itu? Mungkinkah kamu akan jauh lebih tidak bahagia jika ia berada di sini?

Mungkin kamu tidak tahu apakah ini akan terjadi atau tidak. Jadi saat kamu berasumsi bahwa jika ia berada di sisimu saat ini membuatmu lebih bahagia, ini adalah asumsi yang tidak diinvestigasi. Jadi, mengapa harus mempercayai asumsi?

Taktik #5: Bisakah salah satu dari kalian telah berubah, membuat hubungan itu tidak kompatibel?

Bagaimana cara berhenti memikirkan seseorang: Jika orang yang kamu pikirkan masih ada di sini, mungkinkah mereka telah berubah di suatu sisi yang tidak kamu sukai? Mungkinkah kamu akan berubah dalam beberapa cara dimana kamu tidak lagi suka bersama mereka? Mungkinkah sesuatu akan terjadi sehingga membuat kalian berdua tidak cocok satu sama lain lagi? Mungkinkah saat-saat menyenangkan yang kalian alami bersama akan segera berakhir?