MAU KURUS DAN RAMPING? BACA TENTANG EROR YANG FATAL PADA TEORI EAT LESS MOVE MORE

Sumber Gambar

Jika kamu mendatangi dokter dan meminta resep ampuh untuk meramping, dokter biasanya menyarankan untuk melakukan move-more-eat-less. Betul? Kegagalan yang epic adalah frase yang tiba-tiba tuing-tuing di otak, saking nggak manjurnya resep ini.

Dan tahu tidak apa yang paling menarik? Meskipun tingkat gagalnya sangat mencolok mata—gagal total sekujur tubuhnya—tetapi semua para pemangku jabatan di dunia medis masih saja merekomendasikan this great big bag of suck alias sampah ini. Kita telah mendiskusikan mengenai ini di seri kalori. Sekarang mari kita memeriksa pilar lain dari kegagalan konvensional yaitu OLAHRAGA.

Logika pertama adalah jika memang olahraga merupakan senjata krusial dalam memerangi obesitas, seharusnya, negara-negara yang paling getol berolahraga mempunyai angka langsing dengan skor bagus. Ah, mungkin salah. Untungnya studi tentang ini sudah selesai dilakukan. Kamu pasti nggak bisa nebak negara mana yang ngelakuin olahraga paling banyak. Benar sekali. Negara paling keren sedunia: USA.

Berapakah rata-rata global dalam setahun? Orang Amerika 112 hari pertahun. Mereka mengabdikan diri di gym-centre rata-rata 135 hari, sementara, Belanda yang kejam hanya 93 hari/ tahun. Motivasi utamanya? Menjadi ramping, dong. Lantas bagaimana dengan tingkat obesitas? Senang Anda bertanya. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Andreas Eenfeldt dari www.dietdoctor.com, “Obesitas bukan disebabkan oleh Kurangnya Olahraga”.

Jangan ngimpi punya badan sekece ini kalo cuma ngandelin olahraga tanpa diet

Ratusan juta dolar telah dihabiskan untuk mempelajari teori Eat-Less-Move-More. Sebuah publikasi baru-baru ini dinamakan the HEALTHY study.

Ini diterbitkan dalam New England Journal of Medicine bergengsi di tahun 2010 dan berjudul “Intervensi Berbasis Sekolah untuk Mengurangi Resiko Diabetes”. Mari kita lihat lebih dekat. Penelitian ini melibatkan 42 sekolah dan 4603 siswa kelas 6-8. Setengah dari total siswa menerima intervensi multikomponen. Setengahnya lagi tidak ada yang istimewa. Intervensi itu mencakup apa yang harus dimakan (nutrisi) dan jenis olahraga apa saja yang harus dilakukan.

By: Dokter Jason Fung  (Eat Less, Move More – Exercise Part IV)

Pedoman nutrisi melibatkan jenis intervensi diet yang biasa—makanan rendah kalori dan rendah lemak.

Beberapa tujuan termasuk:

  1. Turunkan kadar lemak makanan rata-rata.
  2. Sajikan minimal 2 porsi buah dan sayuran.
  3. Setidaknya 2 porsi makanan dan biji-bijian berbasis padi—dengan kata lain—menurunkan kalori, menurunkan lemak, dan menambah asupan gandum dan sayuran/ buah.

Sedangkan untuk olahraga meningkatkan durasinya dari mulai moderat sampai dengan sangat lama. Kedengarannya seperti teman dingleberry lama kita – Eat Less, Move More. Tidak terlalu terang-terangan, tapi sama akrabnya dengan selimut tua. 

Sumber Gambar

Karena ratusan juta dolar dihabiskan untuk Inisiatif Kesehatan Wanita dan kita tidak mendapatkan hasil yang kita harapkan, mungkin kita berpikir bahwa menghabiskan ratusan juta dolar lebih banyak untuk strategi gagal yang sama adalah ide bagus. Kebohongan murni dan tidak dipalsukan nampaknya relatif umum di kalangan nutrisi akademis.

Hasil utama dari penelitian SEHAT adalah kombinasi prevalensi siswa dengan kelebihan berat badan dan obesitas pada akhir penelitian. Studi itu sendiri sangat ketat dan dilaksanakan dengan baik. Hal yang terpuji dari studi ini, para peneliti mengamati dan menindaklanjuti sampai 3 tahun. Pada awal penelitian, kedua kelompok memiliki sekitar 50% siswa yang dianggap kelebihan berat badan atau obesitas (persentil BMI> 85).

Lantas apa yang terjadi? Pada akhir tiga tahun, kedua kelompok telah mengurangi persentase tersebut menjadi sekitar 45%. Dengan kata lain—tidak ada manfaat terukur untuk kelompok diet dan latihan ini dibandingkan dengan tidak melakukan sesuatu yang istimewa. Ini hampir tidak berguna. Ingatlah bahwa ini bukan studi pertama yang menunjukkan betapa tidak bergunanya pendekatan ini sebenarnya. Semua penelitian besar menunjukkan pola yang sama. Inilah pertanyaan yang lebih baik. Siapa yang belum mencoba pendekatan Eat Less and Move More dan hasilnya adalah gagal? Fakta bahwa olahraga tidak membantu kamu menjadi ramping tidak berarti olahraga tidak baik untukmu, atau itu tidak boleh dilakukan. Don’t wig out on me.  I am not saying you shouldn’t exercise. Namun, faktanya, olahraga bukan senjata mandraguna untuk melangsing. Ini seperti menyikat gigi. Haruskah kita menyikat gigi? Harus. Tapi, jangan berharap kita akan lebih ramping dengan menggosok gigi. Sama halnya dengan olahraga.

Sumber Gambar

Ini bukan sekadar renungan belaka. Implikasi kesehatannya sangat besar. Pertimbangkan sejumlah besar uang yang dikeluarkan untuk mempromosikan Pendidikan Jasmani di kelas, memperbaiki akses ke fasilitas olahraga, dan memperbaiki taman bermain untuk anak-anak di lingkungan di dalam kota. Sementara masing-masing hal ini bagus, kita seharusnya tidak mengharapkan adanya peningkatan obesitas. Mereka semua didasarkan pada gagasan yang keliru bahwa olahraga itu penting dalam memerangi obesitas.

Apa yang terjadi adalah kita ‘mengalihkan pandangan kita dari bola’. Jika tujuan kita adalah mengurangi obesitas, kita perlu fokus pada apa yang membuat kita gemuk. Ini bukan kurangnya olahraga. Ini adalah diet. Ini adalah Apa yang Kamu Makan, dan seperti yang akan kita lihat di seri berikutnya – ini adalah When You Eat atau kapan kamu makan. Tetapi jika kita menghabiskan semua uang, penelitian, waktu dan energi mental kita, berfokus pada meningkatkan olahraga, kita tidak akan memiliki sumber daya yang tersisa untuk benar-benar melawan obesitas.

Sumber Gambar

Ingat contoh permainan bisbol dan melempar bola. Sementara melempar bola penting, kita seharusnya tidak menghabiskan 50% waktu latihan kita untuk melempar bola karena itu sama sekali tidak penting.

Jika kamu menghabiskan seluruh waktumu untuk berlatih melempar, tidak ada waktu lagi untuk berlatih memukul, menangkis, dan pitching yang jauh lebih jauh, jauh lebih banyak dalam permainan bola bisbol. Misalkan kita sedang menulis ujian akhir yang disebut Obesitas 101. 95% ujian akan didasarkan pada porsi “Diet” dan 5% dari ujian akan menjadi bagian “olahraga”.

Namun, kita malah menghabiskan 50%, 60%, 70% waktu dan energi untuk mempelajari bagian “olahraga”. Isn’t that crazy stupid?

Tidak mengherankan jika kita gagal dalam ujian akhir ini. Kita berpikir bahwa kita dapat belajar lebih banyak lagi, memasukkan lebih banyak sumber ke dalam belajar dan kita akan baik-baik saja. Tapi ternyata kita telah mempelajari bagian yang salah yang disebut “Exercise”. Kami telah gagal untuk memahami bagian paling dasar dari obesitas – Apa yang MENYEBABKAN obesitas (etiologi). Kita perlu memahami The Aetiology of Obesity sebelum kita dapat mengharapkannya untuk menyembuhkannya.

Kita akan meninggalkan topik olahraga dan sekarang fokus lagi pada penyebab obesitas.