Mau Kurus dan Ramping? Pahami Kaitan antara Lemak Jenuh vs Serangan Jantung

Sumber Gambar

Sejak tahun 1960an, lemak jenuh selalu dituduh sebagai penyebab penyakit jantung. Para periset berusaha memisahkan lemak jenuh dan lemak tidak jenuh, karena sadar bahwa mereka memang berbeda. Salah satu sumber utama lemak trans adalah margarin.

Studi Margarine intake and subsequent heart disease in Menmelihat risiko penyakit jantung dibandingkan dengan asupan margarin, dengan menggunakan data dari studi Framingham, yang secara prospektif mengumpulkan data pada keseluruhan populasi Framingham, Mass.

Membandingkan konsumsi margarin dengan data yang dipantau selama 20 tahun, mereka menabulasikan hasilnya. Hasilnya mengejutkan. Intinya, margarin selama beberapa dekade telah membual tentang rendahnya lemak jenuh terutama dibandingkan dengan pembunuh manusia nomor satu, yaitu mentega.

Hell, buku terlaris Becel ini berlandaskan akronim BCL— Blood Chloresterol Lowering. Itu selalu berkoar-koar dan membanggakan dirinya sendiri sebagai makanan  untuk ‘jantung sehat’. Semakin banyak ‘margarin sehat’ dimakan, semakin besar kemungkinan mereka terkena serangan jantung.

Masakan apa pun lebih sehat dan enak dengan menggunakan mentega/ butter.

Sementara itu, mentega dianggap sebagai penyumbat arteri. Namun kenyataannya, semakin banyak memakan mentega, serangan jantung semakin berkurang. Tunggu. Bukankah seharusnya sebaliknya? Mentega mungkin sudah penuh dengan lemak jenuh (yang sesungguhnya bagus untukmu), tapi margarin penuh dengan lemak trans.

Mana yang lebih buruk? Lemak trans jauh lebih berbahaya. Apabila lemak trans berbeda dengan lemak jenuh. Apa gunanya dong penelitian selama ini? Jadi dengan kata lain, apakah analisa selama ini merupakan kesimpulan yang invalid? Untuk meneliti lebih lanjut, apakah memakan lemak berbahaya seperti halnya  lemak trans, Dr. Hu menganalisis large Nurse’s Health Study yang diikuti 80.082 para perawat selama 14 tahun.

Para wanita ini dibagi enjadi 5 kelompok yang berbeda berdasarkan asupan total lemak. Risiko penyakit arteri koroner (CAD) kemudian dipantau di masing-masing kelompok. Perempuan yang memakan lemak lagi dan lagi, ternyata, hasilnya sungguh mengejutkan. Tidak ada peningkatan risiko penyakit jantung, terutama ketika lemak trans dihilangkan. Kesimpulan akhir dari studinya adalah, “total asupan lemak tidak terkait dengan penyakit jantung koroner.” Kesimpulan yang sama berlaku juga untuk kolesterol.  Dengan mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol, tidak ada peningkatan risiko penyakit jantung secara statistik.

Ingatkah kamu pada penelitian sebelumnya, kesimpulannya juga sama. Pada studi terpercaya beberapa waktu yang lalu bahwa memakan makanan yang mengandung kolesterol tidak berkontribusi pada level kolesterol darah.

Setelah Memakan Lemak Jenuh (Lemak Hewan, Mentega/ butter, olive oil, dan minyak zaitun)

Analisis terbaru telah sampai pada kesimpulan yang sama. Pada tahun 2009 di Annals of Internal Medicine, “Sebuah Tinjauan Sistematis tentang Bukti yang Mendukung Hubungan Sebab-Akibat Antara Faktor Diet dan Penyakit Jantung Koroner” meneliti semua percobaan sampai saat ini, sehingga kita bisa melihat korelasinya.

Melihat semua percobaan yang ada sampai dengan tahun 2009, tidak ada bukti  yang mendukung kaitan antara total lemak dan penyakit jantung. Tidak ditemukan asosiasi lemak jenuh . Begitu pula  dengan lemak tak jenuh ganda. Dengan kata lain, tidak ada link sama sekali.

Lemak jenuh bukan penjahat.  Lemak tak jenuh ganda (minyak sayur) ternyata tidak bagus. Sama sekali tidak ada kaitan sama sekali. Bagaimana dengan obesitas? Sebenarnya juga tidak ada bukti.

Makanan berlemak selalu dituduh merupakan penyebab terjadinya epidemik penyakit jantung.

Konsentrasi kita sekarang berpindah ke masalah obesitas. Ketika orang memutuskan bahwa lemak makanan itu buruk bagi jantung, mereka juga beralasan bahwa si lemak juga membuat badan kita membulat.

Namun, tidak pernah ada data untuk mendukung asumsi ini. Never assume, Kids. Makes an ASS out of U and ME. Bahkan Program Pendidikan Kolesterol Nasional mengakui bahwa “Studi prospektif baru-baru ini (atau meta-analisis penelitian) telah gagal untuk mendeteksi hubungan penyebab antara (persentase lemak makanan dan obesitas)”.

Terjemahannya—meski sudah 50 tahun mencoba membuktikan bahwa lemak dalam makanan menyebabkan obesitas, kita tetap tidak dapat menemukan bukti apapun. Alasannya? Karena datanya sangat sulit ditemukan.

Dengan perlahan, lemak jenuh memperoleh kembali energinya. Lemak jenuh tidak jelek, malah sebaliknya, ia sangat bagus. Dalam studi tahun pada tahun 1996, “Diet lemak dan risiko penyakit jantung koroner pada pria: studi lanjutan kohort di Amerika Serikat”, 43.757 profesional kesehatan diikuti selama 10 tahun dan risiko serangan jantung mereka dibandingkan dengan konsumsi lemak jenuh.

Sekali lagi, membagi subyek dengan jumlah lemak jenuh yang dimakan, ada 5 kelompok dari asupan terendah hingga tertinggi. Lo and behold, increased intake of saturated fat was not bad for you, it was good for you.  Meningkatkan asupan lemak jenuh malah bagus untukmu.

What’s that crazy talk? Lemak jenuh itu baik untukmu. Siapakah yang mempunyai risiko terkena serangan jantung tertinggi? Kelompok yang konsumsi lemak jenuhnya paling rendah. Mari kita sedikit menoleh ke arah lain, dan berganti gigi sejenak. Kita akan berbicara tentang risiko stroke dan beberapa penelitian yang mendukung.

Studi Oahu “Diet dan Faktor Resiko Lain pada Stroke, Subjek merupakan para Pria Jepang di Hawaii” diikuti 7.895 orang di pulau Oahu selama 10 tahun. Apa saja yang dipantau? Asupan lemak, protein dan sodium. Semuanya dicatat dan dimonitor dengan hati-hati.

Sekali lagi, para pria ini dibagi menjadi 5 kelompok. Pembagiannya berdasarkan asupan lemak, protein dan sodium.  Sebelumnya, reputasi buruk telah disandang oleh sodium dan garam. Mereka difitnah sebagai pelaku utama yang meningkatkan tekanan darah, sehingga membuat angka serangan jantung dan stroke melonjak.

Hasilnya apa? Ternyata tidak ada korelasi sama sekali lho.  Kelompok yang mengkonsumsi garam paling banyak, ternyata, risiko stroke-nya tidak parah. Protein dan lemak  malah melindungi jantung. Ini berarti, semakin banyak kita memakan lemak dan protein, angka serangan stroke melorot.

Memang, studi korelasi seperti ini tidak bisa membuktikan bahwa lemak atau protein bersifat protektif. Tetapi, mereka bisa membantah hipotesis bahwa lemak itu buruk bagi kita. Jika memang lemak makanan merupakan faktor penting dalam stroke, maka seharusnya  harus ada korelasi, dong. Tapi, hasilnya ternyata tidak ada. Relasi mereka berjalan ke arah yang salah.

Meramping Setelah Memakan Mentega dan Keju Tinggi Lemak

Dan, setelah 20 tahun mengikuti data Framingham, efek protektif dari makanan berlemak dan mengandung kolesterol, semakin tampak. Studi tahun 1997  studyInverse association of dietary fat with development of ischemic stroke in men“.

Membagi kelompok berdasarkan asupan lemak makanan, ditemukan bahwa mereka yang makan lemak paling banyak, adalah yang mengalami stroke paling sedikit. Mereka yang melahap lemak paling rendah, angka stroke-nya malah yang tertinggi.

Sekali lagi, makan lemak itu tidak buruk, malah bagus, lho. Tetapi, lemak yang berasal dari tumbuhan (lemak nabati) atau minyak poly-unsaturated (minyak tak jenuh ganda) berefek sebaliknya. Ia merupakan petaka.

Stigma yang terlanjur beredar, lemak jenuh berbahaya, lemak tak jenuh aman. Dan hasilnya ternyata sebaliknya. Lemak tak jenuh tunggal (olive oil) juga protektif. Sekali lagi, kita memasuki dunia nutrisi aneh, yang baik dicap penjahat, dan tokoh antagonis dianggap pahlawan.