Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Mitos Mengenai Olahraga

Sumber Gambar

Kita tunda dulu pembahasan mengenai hormon. Sekarang mari kita menelaah mengenai pilar nan gigantis mengenai teori CRAP, yaitu kalori masuk dikurangi kalori keluar—yakni, OLAHRAGA. Pemikiran umum berjalan seperti ini.

Obesitas adalah ketidakseimbangan kalori—kalori masuk vs kalori keluar.

Jika masalahnya bukan kalori masuk, maka pasti terletak di kalori keluar. Kalori keluar lebih tepat disebut Total Energy Expenditure (TEE) yang terdiri dari basal metabolic rate (BMR) plus voluntary spending (olahraga).

TEE = BMR + Olahraga

BMR tanggungjawabnya adalah mengerjakan tugas-tugas rumah tangga metabolik seperti bernapas, menjaga suhu tubuh, menjaga jantung tetap memompa, menjaga organ vital dll. Masalahnya adalah TEE sangat sulit diukur. Oleh karena itu, mari kita asumsikan bahwa BMR selalu konstan. Maka, satu-satunya variabel yang kita khawatirkan adalah berolahraga. Tak lama kemudian, kita membuat asumsi bahwa TEE sama dengan olahraga. Satu masalah kecil adalah bahwa tingkat metabolisme basal tidak stabil. Saat kami menjelajahi seri Kalori, BMR bisa naik atau turun sebanyak 50%. Misalnya, sebagai respons terhadap upaya menurunkan kalori, kita bisa mengharapkan BMR menurun 40-50%.

Tetapi, setelah kembali ke teori CRaP, kita percaya bahwa jika kita cukup berolahraga, maka kita akan ‘membakar’ kalori yang kita konsumsi, dan oleh karena itu, berat badan pun turun. Masa sih?

Jika itu benar, maka kita bisa berharap bahwa saat kita meningkatkam durasi olaharaga, maka lemak pun melumer seiring berjalannya waktu. Sepertinya dugaan yang masuk akal. Iya kan?

Untuk sebagian besar sejarah manusia, gagasan untuk berolahraga sungguh menggelikan. Pastinya, ide bahwa mungkin ada manfaat kesehatan dari berlari atau aerobik tidak ada sampai tahun 1960an. Obesitas juga bukan masalah utama saat itu. Pada tahun 1966, Dinas Kesehatan Masyarakat AS mulai menganjurkan agar kita meningkatkan aktivitas fisik, yang merupakan salah satu cara terbaik untuk menurunkan berat badan.  

By: Dokter Jason Fung  (The Myth about Exercise – Exercise Part I)

Selama beberapa dekade berikutnya, kita menyaksikan ledakan pusat-pusat kebugaran. LA Fitness dan studio aerobik lainnya tumbuh seperti jamur setelah badai hujan. Buku-buku seperti The Complete Book of Running oleh Jim Fixx menjadi buku terlaris pada tahun 1977. Fakta bahwa dia meninggal pada usia 52 tahun karena serangan jantung masif  diabaikan. Buku Dr Kenneth Cooper “The New Aerobics” merupakan bacaan wajib pada tahun 1980 (saat SMA). Semakin banyak orang mulai memasukkan olahraga ke waktu senggang mereka. Jika olahraga benar-benar penting dalam memerangi obesitas, maka saat meningkatkan durasi, kita harus melihat adanya penurunan obesitas seperti yang mungkin kita harapkan dari teori CRaP.

You go girl!

Inilah masalahnya. Semakin banyak orang yang berolahraga, tetapi sama sekali tidak berpengaruh, obesitas masih saja merupakan epidemi. Oh, snap.  Dan, fakta pun menyembul keluar, semua merasa malu bagaikan nudis tertangkap basah mengenakan bajunya. Obesitas meningkat bahkan saat kita berkeringat dengan oldies. 

Seperti yang dapat Anda lihat pada grafik di atas, ada korelasi 82% antara olahraga dan obesitas. Artinya, saat kita meningkatkan olahraga, obesitas meningkat. Jangan salah paham. Maksud saya bukan berarti bahwa olahraga menyebabkan obesitas.

Kemungkinan besar, saat kita menjadi lebih gemuk, kita meningkatkan olahraga untuk mencoba menurunkan berat badan. Tapi itu tidak berhasil. Padahal, bukti utamanya benar-benar pengalaman pribadi. Siapa yang belum mencoba olahraga untuk menurunkan berat badan? Itu tidak berhasil.

Lihat makalah ini “Prevalensi aktivitas fisik dan obesitas di negara bagian AS 2001-2011″. Jika kita percaya bahwa aktivitas fisik yang rendah menyebabkan obesitas (CRaP), maka seharusnya, dengan pontang-panting olahraga kita pun melangsing. Kedengarannya legit … 

Menurut data NHANES, di Amerika, aktivitas fisik meningkat pada populasi orang dewasa di Amerika.

Daerah tertentu (berwarna hijau tua dan biru – Kentucky, Virginia, Florida dan Carolina Twins) olahraga meningkat dengan kecepatan tinggi. You go girl!

Sumber Gambar

Jadi kita mungkin mengharapkan penurunan prevalensi obesitas. Nah inilah kebenaran yang menyedihkan. Tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi tidak mengurangi obesitas. Apakah aktivitas fisik meningkat atau menurun, hampir tidak ada hubungan dengan prevalensi obesitas. Tidak ada penurunan obesitas yang terukur dari latihan yang meningkat. Olahraga hanyalah sia-sia. Tidak relevan.

Sama pentingnya dengan kesibukan yang dilakukan guru sekolah dasar untuk mencegah anak-anak tidak melakukan kenakalan.

Tunggu, bagaimana dengan anak-anak? Mungkin olahraga lebih penting untuk obesitas masa kecil? Mari kita lihat artikel “Asosiasi antara perilaku tak beraturan yang diukur secara obyektif dan indeks massa tubuh pada anak-anak prasekolah” yang diterbitkan pada tahun 2013.

Anak-anak usia 3-5 dijadikan volunteer, dan aktivitas mereka diukur dengan menggunakan akselerometer dan ini dibandingkan dengan beratnya. Inilah kesimpulan mereka “Terlepas dari cutpoints yang digunakan, perilaku menetap yang diturunkan dari akselerator tidak dikaitkan secara independen dengan skor z-BMI dalam dua sampel independen anak-anak prasekolah.”

Terjemahan ke bahasa Indonesia? Tidak ada hubungan antara aktivitas dan obesitas. Aw Dang. Kita mungkin juga memiliki ide yang telah berakar sebelumnya bahwa masyarakat primitif bergerak lebih banyak daripada kita. Inilah hipotesis “Mobil”.

Masyarakat primitif biasa berjalan kemana-mana. Sekarang kita menyetir. Oleh karena itu mereka makan banyak tapi mereka membakar semuanya dengan olahraga yang tidak disengaja. Seperti penipuan yang bagus, yang satu ini terdengar cukup masuk akal pada awalnya. There is a eensy weensy problem, though. Itu salah kaprah.

Peneliti Herman Pontzer menemukan satu komunitas pengumpul-pemburu modern seperti – Hadza di Tanzania. Banyak hari mereka akan menempuh jarak 15-20 mil untuk mengumpulkan makanan.

Dengan aktivitas seperti itu, orang mungkin berasumsi bahwa pengeluaran energi harian mereka jauh lebih tinggi daripada pekerja kantor modern. Dan New York Times “Membongkar olahraga Hunter-Gatherer” dia membahas hasil yang mengejutkan.Kami menemukan bahwa terlepas dari semua aktivitas fisik ini, jumlah kalori yang dikonsumsi Hadza setiap hari tidak dapat dibedakan dari orang dewasa biasa di Eropa dan Amerika Serikat. Sami mawon.

Sumber Gambar

Kami menjalankan sejumlah tes statistik, menghitung massa tubuh, massa tubuh tanpa lemak, usia, jenis kelamin dan massa lemak, dan tetap tidak menemukan perbedaan dalam pengeluaran energi harian antara Hadza dan rekan-rekan Barat mereka.

Apa lagi itu? Tidak ada perbedaan dalam kalori harian yang dibakar antara pengumpul Hadza yang selalu berjalan seharian dan pantat keledai saya yang malas. Beneran tuh?. Oui. Ja. Itu benar, pak. WTF – Bagaimana ini bisa terjadi? 

Alasannya adalah kompensasi. Suku Hadza, yang berjalan sepanjang hari, akan mengurangi aktivitas fisik mereka bila tidak perlu. Orang-orang Amerika Utara yang duduk seharian, di sisi lain, kemungkinan meningkatkan aktivitas mereka. Pikirkanlah seperti ini.  Jika Anda telah berjalan seharian mengumpulkan akar dan serangga untuk dimakan, hal terakhir yang ingin Anda lakukan di waktu luang Anda adalah dengan menempuh jarak 10 km.

Di sisi lain, jika Anda telah duduk dalam sebuah meeting sepanjang hari, maka lari 10 km setelah selesai bekerja terdengar aduhai. Inilah intinya.  Tidak ada asosiasi terukur antara obesitas dan aktivitas fisik. Saya tidak mengatakan olahraga tidak baik untuk Anda. Hanya saja bukan merupakan senjata super untuk meluruhkan lemak.

Kita percaya bahwa olahraga efektif untuk menurunkan berat badan karena telah dibor ke kepala kita sejak sekolah dasar. Korelasinya sama sekali tidak ada. Ada yang mengira itu terdengar brilian, tapi buktinya sama sekali tidak mendukung hubungan ini.