Serat Mengurangi Insulin

Sumber Gambar

Mengapa kita makan? Apa yang kita pertimbangkan ketika mengunyah sesuatu? Kita menyantap makanan karena kita ingin mendapatkan vitamin, mineral dan nutrisi, ya kan? Kita berpikir bolak-balik tentang komponen mana yang akan menutrisi tubuh.  Tetapi, peran serat sangat bertolak belakang. Efek serat adalah sebagai anti gizi. Kemampuan serat adalah untuk mengurangi penyerapan dan pencernaan. Peran serat ialah meminimalisasi. Dalam kasus gula dan insulin, ini bagus. Serat larut mengurangi penyerapan karbohidrat, yang pada gilirannya mengurangi kadar glukosa darah dan insulin.

Dalam sebuah penelitian, penderita diabetes tipe 2 diberi makanan cair yang mengandung 55% karbohidrat dengan atau tanpa penambahan serat makanan. Serat mengurangi glukosa dan memperlambat lonjakan insulin, meski mengkonsumsi jumlah karbohidrat dengan jumlah yang persis sama. Serat bertindak sebagai anti zat pertumbuhan.

By: Dokter Jason Fung  (Fibre reduces Insulin – How To Lose Weight X)

Karena insulin adalah pendorong utama obesitas dan diabetes, pengurangan itu bermanfaat. Intinya, serat bertindak sebagai semacam ‘penangkal’ pada karbohidrat, yang, dalam analogi ini, adalah ‘racun’. Karbohidrat, bahkan gula, tidak secara harfiah beracun, namun perbandingannya berguna untuk memahami efek serat.

Bukan suatu kebetulan bahwa hampir semua makanan nabati, dalam keadaan alami dan tidak mentah mengandung serat. Mother Nature telah mempaketkan antidote atau ‘perisai’ dengan ‘racun’ tersebut. Dengan demikian, masyarakat tradisional dapat mengikuti diet tinggi karbohidrat tanpa mengalami obesitas atau Diabetes Tipe 2.

Sumber Gambar

Orang-orang Okinawa, misalnya, mayoritas makanan mereka adalah ubi jalar, dan kalori mereka 80% didapat dari karbohidrat. Serat tinggi membuat kita melangsing. Sampai saat ini, mereka adalah salah satu masyarakat berusia terpanjang di bumi.

Kitavans of New Guinea mengikuti diet mendekati 70% karbohidrat dan mereka sehat-sehat saja. Perbedaan yang relevan adalah bahwa karbohidrat mereka utuh, mereka tidak dibuat tepung, pati atau dimurnikan. Racunnya terdapat pada proses pengolahan.

Makanan Barat mempunyai ciri khas. Apakah yang membedakan makanan tradisional dengan makanan barat? Bukan jumlah lemak, garam, karbohidrat dan protein. Tetapi, makanan barat mayoritas diolah dalam level tinggi. Karakter utama Makanan Barat adalah kaya akan karbohidrat olahan

 Coba tengok pasar tradisional di Asia, selalu dipenuhi daging segar dan sayuran. Banyak budaya Asia membeli makanan segar setiap hari sehingga pemrosesan untuk memperpanjang umur simpan tidak perlu dan tidak disambut baik. Sebaliknya, supermarket Amerika Utara dipenuhi makanan kemasan dan olahan. Beberapa koridor di supermarket didedikasikan untuk makanan beku penuh pengawet.

Orang Amerika Utara jarang berbelanja. Sekali mereka ke Supermarket mereka akan membeli kebutuhan untuk stok selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Pengecer volume besar Costco, misalnya menggantungkan hidupnya pada hal ini. Serat dan lemak adalah bahan utama yang dibuang dalam proses pemurnian. Serat dilepas untuk mengubah tekstur, sehingga rasa makanan menjadi ‘lebih baik’.

Lemak alami dibuang untuk memperpanjang umur simpan karena lemak cenderung menjadi tengik seiring berjalannya waktu. Misalnya, tepung putih memiliki hampir semua serat alami dan lemak yang dibuang selama pemrosesan. Itu membuat kita terancam dengan karbohidrat telanjang, dan inilah yang menyebabkan kadar insulin tinggi. ‘Racun’ tertelan tanpa ‘obat penawar’. Serat dan lemak yang berfungsi sebagai efek protektif malah diusir.

Berbagai tips melangsing, klik di sini.

Karbohidrat yang belum diproses hampir selalu mengandung serat, protein makanan dan lemak. Tubuh kita telah berevolusi untuk mencerna makanan ini tanpa membutuhkan serat. ‘Penangkal’ itu tidak perlu tanpa racun. Di sini sekali lagi, Mother Nature telah membuktikan dirinya jauh lebih bijaksana daripada kita. Makanan alami memiliki keseimbangan gizi dan serat, dan tubuh kita telah beradaptasi selama ribuan tahun untuk memakan makanan utuh. Problematikanya bukan dengan masing-masing  partikel makanan yang spesifik, namun secara keseluruhan haruslah seimbang. Misalnya, misalkan kita memanggang kue dengan mentega, telur, tepung dan gula. Sekarang kita memutuskan tidak memakai tepung sama sekali, tetapi malah menambahkan telur sebanyak-banyaknya. Si rasa kue kini menjadi sangat aneh dan mengerikan. Telur sebenarnya tidak selalu buruk.Tepung belum tentu bagus, tapi tanpa tepung, rasa kue menjadi tidak sempurna.

Hal yang sama berlaku untuk karbohidrat. Seluruh paket karbohidrat yang tidak dimurnikan, dengan serat, lemak, protein dan karbohidrat belum tentu bobrok. Tapi menghapus semuanya kecuali karbohidrat bisa menghancurkan situasi proporsional dan membuatnya berbahaya bagi kesehatan manusia.

Menghilangkan protein dan lemak dapat menyebabkan konsumsi berlebihan. Ada hormon kenyang alami (Peptide YY, cholecystokinin) yang merespon protein dan lemak. Makan karbohidrat murni tidak mengaktifkan sistem ini dan menyebabkan over dosis.

Contohnya, segelas jus jeruk membutuhkan 4-5 jeruk. Sulit untuk makan 4-5 jeruk, dengan semua pulpnya. Namun, dengan hanya meminum porsi karbohidrat, dan membuang sisanya, kamu mungkin terlalu banyak meminum karbohidrat tersebut. Masalah lain muncul karena hasil karbohidrat murni dapat meningkatkan kecepatan pencernaan.

Kenaikan glukosa darah yang kilat akan menghasilkan peningkatan insulin yang ekspres. Sekali lagi, toksisitasnya bukan pada makanan, tapi dalam proses pengolahannya.

Nutrisi, di mana makanan dianggap berdasarkan kandungan macronutrien mereka menyembunyikan bahaya penyulingan selama bertahun-tahun. Seluruh biji-bijian, sayuran dan gula semuanya dianggap serupa karena semuanya mengandung karbohidrat. Tapi sesungguhnya, karbohidrat olahan dan karbohidrat-tidak-dimurnikan sangatlah berbeda.

Serat dan Diabetes Tipe 2

Baik obesitas maupun Diabetes Tipe 2 adalah penyakit yang disebabkan oleh insulin yang berlebihan. Resistensi insulin berkembang seiring berjalannya waktu, dengan insulin yang terus-menerus tinggi. Jika serat dapat protektif terhadap insulin yang tinggi, maka harus melindungi terhadap Diabetes Tipe 2 juga, dong.

Itulah yang ditunjukkan oleh penelitian.

Studi Kesehatan Perawat 1 dan 2 memantau catatan diet ribuan wanita selama beberapa dekade. Secara keseluruhan, risiko Diabetes Tipe 2 meningkat saat indeks glikemik meningkat. Ini tidak mengherankan. Studi ini juga mampu mengkonfirmasi efek perlindungan asupan serat serealia. Wanita yang mengonsumsi makanan GI tinggi tetapi juga mengkonsumsi serat sereal dalam jumlah besar terlindungi dari Diabetes Tipe 2.

Esensinya, diet ini tinggi ‘racun’ tapi juga tinggi ‘penawar’ pada saat bersamaan. Keduanya saling membatalkan tanpa efek membuat sampah. Wanita yang mengonsumsi makanan rendah GI (rendah ‘racun’) tapi juga serat rendah (obat penawar rendah) juga terproteksi. Sekali lagi keduanya saling membatalkan.

Tapi kombinasi mematikan diet GI tinggi (‘racun’ tinggi) dan tingkat serat yang rendah (obat penawar rendah) meningkatkan risiko Diabetes Tipe 2 sebesar 75%, dan ini sangat mengerikan. Ini adalah risiko dari karbohidrat yang diolah—indeks glikemik meningkat dan merosotnya serat.

The massive Health Professionals Follow-up studied 42,759 men berusia di atas 6 tahun, pada dasarnya memiliki hasil yang sama. Diet GL dan serat yang tinggi tidak memberikan ekstra risiko pada diabetes tipe 2. Diet Rendah GL dan diet rendah serat juga tidak memiliki risiko tinggi. Namun diet tinggi kandungan glikemik (racun) dan rendah serat (antidote) meningkatkan risiko penyakit sebesar 217%. Yikes! The Insulin Resistance Atherosclerosis study menegaskan bahwa serat merupakan faktor pelindung penting melawan resistensi insulin.

The Black Women’s Health Study menunjukkan bahwa diet indeks glisemik tinggi dikaitkan dengan 23% peningkatan risiko Diabetes Tipe 2. Asupan serat sereal yang tinggi, sebaliknya dikaitkan dengan risiko diabetes 18% lebih rendah.

Cara Lain Untuk Melangsing

Salah satu langkah kunci dalam menurunkan berat badan adalah penambahan serat. Bahkan lebih baik lagi, jangan keluarkan serat dari makanan alami yang mengandungnya. Toksisitasnya terletak pada pengolahannya. Karbohidrat dalam bentuk alami, utuh, tidak diproses, kecuali madu, selalu mengandung serat.

Inilah mengapa junk food dan fast food sangat berbahaya. Dengan definisi yang sangat, ini adalah makanan olahan.Sesuai dengan definisinya, ini adalah makanan yang diproses tingkat tinggi. Tubuh kita tidak didesain untuk sanggup mengolah bahan kimia yang terkandung di dalam makanan sampah. Itulah mengapa mereka toksik.

Pertimbangkan, misalnya ramuan dalam paket kue Betty Crocker Super Moist, salah satu makanan olahan dengan penjualan menempati peringkat nomor 1 di Kanada. Di tahun-tahun yang lalu, ini adalah kue yang telah saya panggang dengan ceria untuk anak-anak saya sendiri untuk ulang tahun dan perayaan lainnya.

Tepung Terigu yang Diperkaya, Gula, Kakao, Sirup Jagung, Baking Soda, Tepung Jagung, Kedelai dan / atau minyak biji kapas diperpendek, Serbuk carob, Propylene Glycol Monoester Asam Lemak, Monogliserida, Monocalcium Fosfat, Garam, Sodium Aluminium Fosfat, Dissium Fosfat, Sodium Stearoyl -2-Lactylate, Xanthan Gum, Selulosa Gum, Flavor Buatan, Asam Sitrat

Apakah ada satu ramuan saja yang tidak diproses? Apakah ada satu ramuan tunggal yang bisa ditemukan di alam? Penulis makanan yang luar biasa Michael Pollan selalu menasehati kita untuk makan Makanan Nyata, bukan “bahan makanan yang enak dimakan”.

Kearifan menakjubkan seperti itu disampaikan dengan sangat singkat. Sesungguhnya, ada banyak makanan tradisional yang dapat membantu melindungi dari peningkatan insulin dan pengaruhnya.