Ingin Kurus? Baca Kesalahan Terhebat tentang Nutrisi


Sumber Gambar.

Aloha, ketemu lagi dengan Sarah. Baru saja saya membaca percakapan di grup mengenai salah seorang anggota grup yang suaminya dideteksi mengalami jantung koroner karena kolesterol. Saya ikut merasakan pusingnya juga, karena suaminya itu atletis, vegetarian, dan menyantap makanan sehat. Lantas apa yang harus kita lakukan agar terjauh dari penyakit?

Percakapan melebar mengenai minyak kelapa yang konon katanya tidak sesehat yang digembar-gemborkan, karena adanya kecenderungan memicu kolesterol dan, memang saya perhatikan, akhir-akhir ini orang memperlakukan minyak kelapa dengan fanatik. Membubuhkan minyak kelapa hampir pada semua minuman dan makanan, atau dikenal dengan makanan fat bomb. Ya, makanan atau minuman apa pun jika dikonsumsi berlebihan pastinya nggak baik lah.

Tapi, sepertinya segitu dulu uneg-uneg saya hari ini. Mari kita melanjutkan membaca penuturan dokter yang satu ini untuk lebih jelasnya.

By: Dokter Jason Fung

Dr. Ancel Keys telah dituduh melakukan banyak kejahatan nutrisi, namun kesalahan terbesarnya adalah kemenangan teori gizi yang tidak disengaja. Dr. Keys adalah salah satu pendukung utama yang menyatakan bahwa lemak jenuh adalah salah satu penentu primer epidemi penyakit koroner di tahun 1950an dan 1960an. Hal ini menyebabkan banyak orang menjadi pemuja-rendah-lemak-mania pada tahun 1980an, yang diyakini mayoritas orang sebagai penyebab utama melebarnya panggung epidemi obesitas. Baru-baru ini, Academy of Nutrition and Dietetics membalikkan teori lemak jenuh. Kini, mereka merekomendasikan lemak jenuh dan kolesterol untuk dikonsumsi, karena tidak lagi dianggap ‘nutrisi yang harus disingkirkan’. Dengan kata lain, mereka tidak lagi percaya bahwa mengonsumsi lemak jenuh dan kolesterol buruk bagi Anda. Seperti yang ditulis Dr. Sarah Hallberg – Yes, pigs are flying. Hell is freezing over. Sesungguhnya, apa yang terjadi?

Studi Tujuh Negara adalah pencapaian puncak sehingga mahkota di anugerahkan kepada Dr. Key. Dengan mempelajari tingkat penyakit jantung dan lemak jenuh makanan, dia menunjukkan relasi antara kedua variabel ini. Dengan jelas, bukti sahih tidak disertakan, dan sesungguhnya tidak masuk akal. Dalam tulisannya dia menyindir bahwa ada hubungan kausal bahwa lemak jenuh dan kolesterol adalah elemen utama penyebab jantung koroner. Tentu saja ia keliru. Dan oleh karena itu, dia sering disalahkan.

Sesungguhnya, Dr. Keys hanyalah seorang pria yang memiliki hipotesis. Tentu saja, dia seharusnya tidak memiliki korelasi campuran dengan sebab-akibat, tapi dia bukan orang pertama yang melakukannya, dan juga bukan yang terakhir. Kesalahan kritis, tapi masih bisa diluruskan ini terjadi dalam dunia medis setiap saat.

Misalnya, katakanlah terapi sulih hormon (hormone replacement therapy/ HRT) pada wanita pasca menopausal. Ada korelasi kuat antara wanita yang memakai HRT dan penurunan penyakit jantung. Tak lama kemudian, dokter meyakinkan diri mereka bahwa HRT menyebabkan penyakit jantung tereduksi. Cukup bodoh kan? Nah, hal itu tidak menghentikan ribuan dokter meresepkan HRT ke jutaan wanita, termasuk ibu saya. Saat hasil uji coba masuk, HRT tidak menguntungkan, itu berbahaya. Sangat merusak. Kanker payudara meningkat 26%. Stroke meningkat 41%. Serangan jantung meningkat 29%. Gumpalan darah meningkat 100%. Tidak ada manfaatnya pada mengurangi penyakit jantung. Perusahaan yang membuat HRT yang seharusnya digugat, tiba-tiba menjadi tidak eksis. Manuver yang brilian.


Sumber Gambar.

Atau pertimbangkan bahwa HDL tinggi berkorelasi dengan berkurangnya penyakit jantung. Pfizer menghabiskan miliaran dolar untuk mengembangkan torceptratib untuk meningkatkan HDL. Ini hanyalah sebuah asosiasi, bukan sebab-akibat. Saat penelitian dilakukan untuk membedah lebih lanjut, hasilnya sensasional. Tapi bukan impak yang diharapkan.

Obat itu bisa membunuh manusia dari segala sisi. Korelasi, tentu saja bukan sebab akibat. Fakta bahwa orang yang berolahraga memiliki HDL yang lebih tinggi, dan orang-orang yang berolahraga jarang mengalami penyakit jantung tampaknya tidak tertangkap oleh radar mereka. Beruntung eror ini tertangkap sebelum jutaan orang terpapar. Jadi, ya, korelasi = kesalahan sebab akibat memang biasa terjadi. Banyak. Dan tidak menutup kemungkinan yang melakukan kesalahan ini adalah beberapa dokter yang berprestasi. Hal ini mungkin karena dokter, lebih dari kebanyakan, ingin bisa melakukan sesuatu untuk menyembuhkan orang lain dan mengurangi beban hidup pasien. Kerinduan untuk menolong membutakan mereka dalam pencarian kebenaran. Jadi Dr. Ancel Keys bukan satu-satunya dokter yang telah membuat kesalahan ini.

Tidak, kejahatan nomor wahid Dr. Key adalah kemenangan teori gizi yang tidak disengaja. Inilah praktik di mana semua makanan dikategorikan berdasarkan kandungan makro atau mikro. Jadi, daripada mendiskusikan makanan dengan spesifik seperti daging sapi dan kangkung, kita berbicara tentang protein dan karbohidrat. Kita menutup mata, tanpa bukti dan menganggap bahwa semua karbohidrat sama. Bahwa semua protein sama. Bahwa semua lemak sama. Bahwa semua lemak jenuh sama.


Sumber Gambar.

Jika makanan adalah manusia, mereka akan menyebut ini adalah rasisme. Dengan melukis seluruh ras dengan sikat yang sama, kita kehilangan semua perasaan individualisme. Jadi kita mungkin membuat kesalahan bahwa Tiger Woods (setengah Afrika dan setengah Asia) harus bermain bola basket, atau menjadi ahli matematika atau senang bernyanyi karaoke alih-alih menjadi pegolf terpopuler di generasinya. Kita menyadari ini menggelikan jika terjadi pada manusia, namun kita telah menerapkan logika yang sama pada makanan.

Ini membawa kita pada artikel terbaru yang menarik di The Lancet, Diabetes and Endocrinology, yang mempertimbangkan efek yang berbeda dari rentang genotip versus rantai aneh pada lemak jenuh.

Asam lemak jenuh (SFA) yang kandungan lemaknya berbeda memiliki efek yang berlainan pula pada kesehatan. Sementara sebagian besar perhatian diarahkan pada efek pada kolesterol serum, SFA memiliki efek fisiologis lainnya, khususnya pada respons insulin. Selanjutnya, kadar SFA darah tidak semata-mata terkait diet. Hati dapat menghasilkan lemak baru sebagai respons terhadap asupan insulin dan karbohidrat yang tinggi dalam proses yang disebut lipogenesis deodinamin hepatik (DNL). SFA yang diproduksi oleh DNL biasanya dirantai, sedangkan SFA rantai aneh biasanya ditemukan dalam makanan. Konsekuensi kesehatan jelas beragam.

SFA yang aneh (15: 0 dan 17: 0) adalah penanda asupan SFA diet yang baik. Ini berasal terutama dari susu SFA. Tubuh tidak membuat SFA, semua SFA panjang unik mencerminkan asupan makanan.

SFAs yang panjang, asam palmitat (16: 0) dan asam stearat (18: 0), dapat disintesis di hati oleh DNL sebagai respons terhadap asupan karbohidrat berlebih. Selain itu, SFA ini dapat diperoleh melalui diet. Jadi, SFA yang panjang bisa mencerminkan makanan SFA berlebihan atau karbohidrat berlebih.

Jadi apa implikasi dari SFA yang berbeda ini?
Investigasi The European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition Study (EPIC), sebuah studi kohort multi nasional yang gigantis yang diikuti 340.234 orang di 8 negara Eropa mengidentifikasi, ada 12.403 kasus baru diabetes tipe 2.

Bahkan rantai panjang SFA (14: 0, 16: 0, dan 18: 0) berhubungan positif dengan diabetes tipe 2. Ini berarti bahwa semakin tinggi rantai lemak jenuh dalam darah maka kemungkinan diabetes pun semakin tinggi. Hal ini mungkin disebabkan oleh asupan makanan SFA, namun konsumsi karbohidrat yang berlebihan juga memicu hal yang sama. Menelan karbohidrat yang melebihi ambang batas menyebabkan De Novo Lipogenesis di hati (secara harfiah pembuatan lemak baru) yang memproduksi lemak jenuh semakin melimpah. Jadi, karbohidrat yang meluber adalah biang kerok yang membuat rantai SFA semakin panjang.

Bagaimana dengan panjang rantai yang unik itu? Ini biasanya lemak jenuh makanan—seperti lemak susu misalnya. “SFAs rantai unik (15: 0 dan 17: 0) … berbanding terbalik dengan diabetes tipe 2.” Susu full cream mengandung sejumlah besar rantai SFAs aneh, dan secara konsisten dikaitkan dengan perlindungan terhadap Diabetes Tipe 2. Dengan kata lain, mengonsumsi lebih banyak susu full cream melindungi kita dari diabetes.

Sumber Gambar

Lemak susu juga secara konsisten dikaitkan dengan perlindungan terhadap obesitas juga, tapi itu adalah cerita yang lain, dan kita simak di jurnal selanjutnya. Dan jika kita melihat bagan mengenai korelasi antara asam lemak rantai aneh versus asam lemak biasa, sangat mengejutkan bahwa susu meningkatkan hanya sedikit rantai SFA, namun memperpanjang rantai SFA unik—rantai SFA unik adalah protektor kita dari diabetes tipe 2. Daging merah juga cenderung meningkatkan rantai SFA namun hanya sedikit, tapi alkohol, kentang, minuman ringan dan margarin adalah penjahat utama di sini. Mereka cenderung menaikkan FA berantai genat dan lebih rendah lagi rantai FA unik—kombinasi terburuk.

Jadi, kekeliruan kita selama ini adalah minum susu rendah lemak dan memuja keju rendah lemak, kita semua diselubungi delusi bahwa keduanya akan membuat kita lebih sehat. Kita mengganti mentega dengan margarin–benar-benar kejahatan keji terhadap selera yang baik. Kita mengurangi lemak jenuh, tapi jenisnya salah. Semua SFA rantai ganjil itu sama sekali tidak berbahaya. Semua asam lemak jenuh tidak sama. Kita seharusnya mengonsumsi susu tinggi lemak, bukan susu rendah lemak. Kita seharusnya menikmati krim di kopi bukan susu skim. Kita seharusnya makan keju triple cream brie. Dan man, oh man, seharusnya kita makan mentega.

Bahkan ada lemak trans yang eksis di alam dan tidak berbahaya bagi kesehatan manusia. Ini adalah asam linoleat terkonjugasi (CLA). Faktanya, banyak orang mengonsumsi suplemen CLA ini. Namun, lemak trans buatan yang dihasilkan oleh hidrogenasi parsial cukup berbahaya. Jadi, kita tidak bisa membuat stereotip semua minyak trans. Kita perlu membicarakan makanan, bukan nutrisi.

Dr. Ancel Keys telah dianggap penjahat karena melakukan tindakan “kriminal” nutrisi. Kampanye melawan lemak jenuh itu salah, tapi kejahatan yang lebih berbahaya dan akhirnya lebih mengancam jiwa adalah nutrisi. Semua lemak tidak setara. Semua lemak jenuh tidak sama. Semua karbohidrat berbeda. Seperti yang kita lihat di posting sebelumnya “Gandum” Anda bisa makan karbohidrat sama, amilopektin, tapi dengan konsekuensi metabolisme yang sangat berbeda. Tentang gandum, Anda makan amilopektin A yang sangat mudah dikonversi menjadi glukosa. Namun kacang polong, Anda menelan amylopectin C yang sebagian besar tidak tercerna dan merupakan makanan untuk bakteri kolonik yang nanti akan mengubahnya menjadi … kentut.

Ada perbedaan luar biasa bahkan antara karbohidrat yang sama—amilopektin. Lupakan dulu upaya membandingkan selulosa dan hemi-selulosa (sayuran) melawan amilosa dan amilopektin (roti). Melabeli semua karbohidrat sebagai ‘baik’ atau ‘buruk’ saja sudah sangat jelas merupakan pekerjaan orang bodoh.

Mengklasifikasikan semua lemak sebagai ‘baik’ atau ‘buruk’ adalah salah. Mengklasifikasikan semua karbohidrat sebagai ‘baik’ atau ‘buruk’ adalah salah. Kita harus menghentikan stereotip ini. Kita harus berbicara tentang makanan sebagai individu. Ya, brokoli adalah karbohidrat, tapi tidak, itu tidak buruk untuk Anda. Ya, margarin itu lemak, tapi tidak, itu tidak baik untukmu. Kita harus berbicara tentang makanan, bukan nutrisi. Rasisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Nutrisi adalah kejahatan terhadap kesehatan manusia.