Apakah Semua Diet Gagal?

Sumber Gambar

Semua diet gagal. Diet jangka panjang adalah sia-sia belaka. Pasca di awal periode, ketika kita melihat berat badan melorot drastis, plateau yang ditakuti pun muncul, diikuti oleh bobot yang lebih mengerikan lagi.

Apa yang saya maksud?

Turunnya berat badan selalu mengikuti basis kurva yang sama, yang sangat familiar bagi pelaku diet sejagat raya. Entah itu Mediterania, Atkins, atau bahkan yang kuno—rendah lemak, rendah kalori—semua diet dalam jangka pendek sepertinya sanggup membuat kita meramping.  Pastinya, memang ada perbedaan secara kuantitas—-ada yang lebih banyak, ada yang lebih sedikit—, tetapi, semua diet pasti sukses.

Namun, dari 6 bulan sampai 1 tahun, penurunan berat badan secara bertahap akan stuck, lantas diikuti kembalinya si kiloan meskipun kita telah patuh terhadap aturan diet.  Jadi strategi diet tidak berpengaruh sama sekali.

By: Dokter Jason Fung (Do All Diets Fail? – How to Lose Weight XI)

Misalnya, dalam Program Pencegahan Diabetes  dengan durasi 10 tahun, berat badan yang kembali sekitar 7 kg. Plateau atau stuck yang ditakuti, kemudian kembali menggemuk. Kesimpulannya adalah semua diet gagal. Pertanyaannya adalah mengapa. Memang ada orang-orang tertentu yang bisa mempertahankan berat badan mereka dalam jangka waktu setahun, tetapi, mayoritas orang, berjuang dengan berat badan mereka. Ditambah, sebagian besar riset akademik mengindikasikan hampir semua diet gagal, penyebabnya? Entah karena dietnya gagal bekerja dalam jangka waktu panjang, atau memang pelaku tidak mematuhi aturan diet. Mengapa ini terjadi? Karena tubuh bereaksi dengan dengan kembali ke berat badan original (BSW).

Ini adalah berat badan ‘termostat’, yang banyak disebut appestat, atau lipostat. Bahkan diet rendah karbohidrat yang merupakan juarak dan selalu superior ketika dijalani dalam jangka waktu pendek, juga menunjukkan proses plateau dan berat badan kembali dengan semena-mena. Kita semua berharap bahwa BSW akan menurun seiring berjalannya waktu, namun ini seperti mimpi di siang bolong.

Mengapa BSW tetap tinggi meski kita telah menjunjung diet sesuai aturan? Karena kadar insulin tetap tinggi. Masalah yang dipecahkan hanya setengah.

Apakah yang menyebabkan insulin selalu tinggi?

  1. Apa yang kita makan. Biasanya kita hanya fokus ke masalah ini. Tetapi kita gagal mencari tahu hal yang terpenting.
  2. When to Eat atau kapan kita makan. Ini biasanya menjadi masalah jangka panjang.

Karena telah terjadi resistensi insulin.

Resistensi insulin membuat kadar insulin berada di tahap paling banter secara terus-menerus. Tingginya insulin mempertahankan BSW yang tinggi. Ini yang terus menerus menyabotase usaha kita untuk melangsing. Rasa lapar melonjak. Metabolisme (TEE) terus menyusut

sampai di bawah tingkat asupan energi. Berat badan mengalami plateau dan kemudian dengan kejam meningkat kembali ke BSW yang asli, meskipun diet yang sudah dianggap korek dipertahankan.

Bagi beberapa orang, mengubah ‘apa yang kita makan’ jelas tidak cukup. Inilah masalah yang kita semua kenal. Semua diet gagal. Untuk berhasil, kita harus memutus siklus resistensi insulin. Tapi bagaimana caranya? Pertimbangkan masalah analog resistensi antibiotik.

Jika antibiotik digunakan pada tingkat yang terus-menerus tinggi, resistensi berkembang. Bagaimana kamu mematahkan resistansi antibiotik? Reaksi spontan adalah dengan menggunakan antibiotik dosis tinggi untuk ‘mengatasi’ si bebal. Tapi ini hanya akan mendorong berkembangbiaknya resistensi.

Jawabannya justru sebaliknya. Responsnya adalah mengurangi penggunaan antibiotik. Memiliki periode penggunaan antibiotik yang sangat rendah akan mengatasi resistensi. Logika yang sama berlaku untuk resistensi insulin. Reaksi spontan tubuh terhadap resistensi insulin adalah meningkatkan derajat insulin.

Tapi ini hanya menelurkan resistensi insulin yang lebih meruah. Jawabannya justru sebaliknya. Kita harus menciptakan periode dengan tingkat insulin yang sangat rendah dengan tempo berulang, karena resistensi disebabkan oleh insulin tingkat tinggi yang persisten Tapi bagaimana kita bisa menciptakan tingkat insulin yang sangat rendah?

Jadi pertanyaan yang terlantarkan ketika melangsing adalah “kapan kita harus makan?” Kita tidak boleh  mengabaikan pertanyaan tentang frekuensi. Jatuh dari bangunan setinggi 1000 kaki kemungkinan besar akan membunuh kita. Tapi apakah ini sama dengan jatuh dari dinding setinggi 1 kaki sebanyak 1000 kali? Tidak sama sekali. Meski jarak total terjatuh masih 1.000 kaki.

Bagaimana Cara Melangsing

Langkah pertama adalah menghilangkan kebiasaan ngemil di sela waktu makan dan menjelang tidur. Ini ide yang brilian. Kita hanya kembali ke tahun 1960an. Mengkonsumsi makanan ringan atau makan di tempat selain meja secara aktif  dianggap tidak sopan. Tidak makan di mobil, atau di depan TV. Jika semua makanan dikunyah antara jam 8 pagi sampai 6 sore, ini sudah cukup untuk mencegah obesitas.

Jadi, meski mereka makan roti putih dan pasta, tingkat obesitas di masa itu masih rendah dibandingkan jaman now.

Maksud saya—siapa yang makan roti gandum di tahun 1960an? Tidak ada yang menjual roti multigrain. Gandum hitam? Yang bener aja. Dan jangan sampai saya membahas tentang pasta gandum utuh— tidak ada saat itu. Meminta quinoa dan orang-orang mengira kamu sedang memaki dalam bahasa Spanyol.

Semua makanan akan menumbuhkan kadar insulin sampai tingkat tertentu. Mengonsumsi makanan yang tepat akan mencegah insulin melonjak tinggi, tapi tidak akan mengedropkannya. Beberapa makanan yang lebih baik dari yang lain, tapi semua makanan tetap membuat insulin melonjak.

Kunci pencegahan resistensi adalah secara berkala mempertahankan tingkat insulin yang sangat rendah. Jika semua makanan meningkatkan insulin, maka satu-satunya jawaban logis adalah harus menghilangkan makanan selama beberapa jam. Jawaban yang kita cari adalah, dalam satu kata, puasa.