Ingin Ramping dan Kurus? Baca Tentang Toleransi Obat

Sumber Gambar

Kita telah membahas mengenai resistensi insulin, dan mengapa tingkat resisten semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Tanda penting dari sistem biologi lain menunjukkan bahwa zat itu sendiri atau “orang dalam”  bisa jadi merupakan hal yang memperburuk kondisi resisten. Bagaimana dengan obat-obatan terlarang, terutama obat adiktif seperti kokain? Resistensinya juga berkembang, meskipun namanya berbeda. Bila obat terlarang (katakanlah, kokain) biasanya dimulai dengan reaksi intens.

The ‘high’ atau giting jika dibiarkan dalam jangka waktu lama, maka semakin lama, dosis awal yang bisa membuat giting menjadi tidak ampuh lagi, sehingga seiring berjalannya waktu, kita harus meningkatkan takarannya. Ini dikenal sebagai toleransi obat. Tetapi, sesungguhnya, ini hanya nama lain untuk resistensi.

Dalam pemakaian jangka panjang, tubuh menjadi resisten terhadap efek kokain. Dengan kata lain, obat menyebabkan resistensi obat. Efek ini terlihat pada obat-obatan lain, bukan hanya kokain. Narkotika, ganja, nikotin, kafein, alkohol, benzodiazepin, dan nitrogliserin semuanya memiliki efek toleransi obat yang sama.

Orang mungkin mulai menambah dosis untuk mendapatkan reaksi yang sama. Ini adalah perilaku adiktif. Ini juga merupakan respons alami. Respon otomatis resistensi insulin adalah meningkatkan dosis. Respon otomatis terhadap resistensi antibiotik adalah dengan menggunakan lebih banyak antibiotik. Respons otomatis terhadap resistansi obat adalah melipatgandakan pemakaian obat. Respon otomatis resistensi insulin adalah melonjaknya kadar insulin. Ini dinamakan efek lanjutan dari resistensi. Namun, menjadi jelas bahwa ini adalah proposisi yang merugikan diri sendiri. Jika kamu menambah dosis kokain, maka tubuh akan mengalami resistensi lebih tinggi lagi. Ini akan terus berlanjut sampai kamu tidak sanggup melewati ambang batas.

By: Dokter Jason Fung (Drug Tolerance – Hormonal Obesity IX )

Hal yang sama berlaku pada antibiotik. Saat kamu menggunakannya, dosisnya akan terus bertambah, sehingga kamu tidak bisa lagi menaikkan dosisnya. Ini menjadi siklus resistensi atau lingkaran setan.

 Paparan menyebabkan resistensi. Resistensi menyebabkan eksposur yang lebih tinggi. Dan siklus terus berputar, tidak ada putusnya. Pada akhirnya, menggunakan dosis tinggi memiliki efek paradoks. Artinya, efek penggunaan antibiotik dosis tinggi adalah membuat antibiotik kurang efektif. Begitu pula dengan kokain, pemakaian kokain dalam dosis tinggi membuat kokain kurang ampuh.

Untuk sistem hormonal, fenomena ini dijelaskan dengan apik dan nantinya akan terkait regulasi reseptor. Coba kamu pikirkan contoh kunci dan gembok. Dalam situasi normal misalkan kita memiliki 100 kunci (insulin) dan 100 gembok (reseptor insulin).

Setiap kunci membuka gembok dan kita memiliki 100 pintu terbuka di bagian akhir. Inilah yang kita inginkan. Dalam kondisi resisten, kunci tidak lagi bekerja dengan baik. Sekarang dibutuhkan 2 kunci untuk membuka 1 gembok. Dengan 100 kunci kita hanya sanggup buka 50 pintu saja. Karena kita ingin membuka gembok sebanyak 100 pintu, sekarang kita harus membutuhkan 200 kunci supaya pintu bisa dibuka.

Sumber Gambar

Resistensi insulin bekerja dengan cara yang sama. Ketika kita mengalami resistensi insulin, tubuh kita harus menambah pasokan insulin agar bisa bekerja dengan hasil yang sama—glukosa di dalam sel. Tetapi, harga yang kita bayar adalah kenaikan kadar insulin. Ini adalah efek hormon yang popular, dan kadang kita manfaatkan dalam pengobatan penyakit tertentu.

Salah satu contohnya adalah ADHD (Attention Deficit Hypractivity Disorder). Pada penyakit ini, anak-anak mengalami hiperaktif. Pengobatannya menggunakan Methyphenidate (Ritalin). Tapi Ritalin bukanlah obat penenang (obat yang menenangkan). Sebaliknya, Ritalin adalah stimulan.

Jika kamu tidak tahu aturan mainnya, kamu akan mencaci dengan WTF? Mengapa kita harus merawat anak hiperaktif dengan stimulan? Bukankah itu memperburuk keadaan? Jawabannya adalah tidak. Dan pengalaman klinis mendukung hal ini. Obat (stimulan) benar-benar menenangkan anak-anak ini.

Tingkat stimulan stimulasi yang tinggi pada akhirnya akan menyebabkan resistensi terhadap stimulan. Stimulan menyebabkan reaktivitas stimulan. Resistansi stimulan ini sekarang menyebabkan perilaku menenangkan.

Jadi mari kita rekap:

Virus menyebabkan resistensi virus. Dosis tinggi memperburuk keadaan. Antibiotik menyebabkan resistensi antibiotik. Dosis tinggi memperparah kondisi. Obat (kokain) menyebabkan resistensi obat (tolerance). Dosis tinggi menghancurkan keadaan. Stimulan menyebabkan resistensi stimulan. Dosis tinggi memperkeruh situasi.

Jadi sekarang, kita kembali ke topik semula dan mulai bertanya—apa yang menyebabkan resistensi insulin? Nah, hal tersignifikan yang akan saya lihat adalah tingkat insulin yang tinggi dan terus-menerus.

Impikasinya sangat gigantis. Jika ini benar, maka teori hormon obesitas akan tampak seperti ini:

Apakah insulin itu sendiri menyebabkan resistensi insulin?

Sumber Gambar

Kita akan melihat beberapa bukti pada beberapa postingan berikutnya. Tapi pikirkan konsekuensinya. Insulin menyebabkan resistensi insulin. Resistensi insulin menyebabkan level insulin lebih tinggi. Insulin dengan kadar tinggi menyebabkan resisten lebih kuat yang mana meningkatkan levelnya.

Tiba-tiba, sekarang, resisten insulinlah yang menjadi pendorong major tingginya level insulin, bukan diet. Kadar insulin yang tinggi, akan menjadi pemicu kenaikan berat badan yang terus-menerus. Karena lingkaran setan ini, seiring berjalannya waktu, maka problem ini akan semakin bobrok. Orang gemuk akan semakin membulat. Tetapi, alasannya bukan karena mereka makan lebih banyak atau kurang berolahraga dibandingkan orang langsing. Intinya adalah bahwa insulin mereka sebagian besar dipicu oleh resistensi dan bukan diet mereka. Mereka tidak malas. Mereka juga tidak serakah. Mereka memiliki ketidakseimbangan hormon yang perlu segera diperbaiki.

Apakah implikasinya? Orang yang mengalami kegemukan dalam jangka waktu panjang, akan lebih sulit untuk melangsing. Tetapi, mereka yang baru kemarin sore mengalami obesitas akan lebih mudah untuk melangsing karena belum mengalami resistensi insulin. Sementara itu, orang yang mengalami obesitas masa kecil akan lebih sulit meluruhkan lemak karena mereka telah gembrot sepanjang hidup mereka. Mereka yang lahir dari ibu obesitas akan terendam insulin sepanjang masa sampai akhir masa.

Sumber Gambar

Mereka akan menuai banyak masalah. Meski tanpa melalui penelitian, kamu pasti sudah tahu mengenai fakta di atas. Obesitas di kandungan ibu akan mendorong obesitas masa kanak-kanak. Kegemukan di masa kecil akan menyebabkan obesitas di saat dewasa. Obesitas jangka panjang membuat diet menjadi lebih pelik, akibatnya meramping menjadi sesuatu yang membuat frustasi. Semua itu adalah konsekuensi efek durasi obesitas.

Tapi penelitiannya cukup konsisten. Makalah ini “Memprediksi Obesitas pada Anak Muda dari Masa Kecil dan Obesitas Orang Tua” yang diterbitkan di NEJM 1997; 337: 869-873 menegaskan pengamatan akal sehat kita. Risiko terbesar yang dialami adipositas masa remaja adalah obesitas masa kecil. Berapakah probabilitas orang dewasa mengalami obesitas jika di saat kecilnya mengalami kegemukan? 17 kali. Semakin lama kamu berbadan tambun, maka si lemak akan semakin sulit untuk diusir. Beberapa kegemukan dihasilkan oleh genetika, untuk lebih jelasnya kita akan membahasnya nanti.

Tak perlu dijelaskan lebih lanjut, baik kalori masuk maupun kalori keluar atau hipotesis karbohidrat insulin tidak dapat dijabarkan lebih lanjut pada prediposisi genetik. Jika salah satu orangtuanya obesitas, kemungkinan si anak mengalami kegemukan menjadi dua kali lipat. Namun, jika kedua orangtuanya gempal, itu akan meningkatkan risiko pada anak sebanyak 5 kali lipat. Dan mereka sama sekali mengabaikan efek ketergantungan waktu.