Mau Kurus? Cermati Vitamin dan Suplemen Kalsium


Sumber Gambar

Aloha, jumpa lagi dengan Sarah. Apa kabar kalian? Jujur, saya sedang pusing. Saya puyeng menjelaskan kepada orang tua saya bahwa susu rendah lemak tinggi kalsium dan suplemen vitamin itu tidak perlu. Jika ingin lebih sehat minumlah susu tinggi lemak, lebih baik lagi yang dibeli langsung di peternakan. Lantas mengenai vitamin, makan saja sayuran dan buah-buahan dengan porsi sewajarnya.

Mereka adalah orang-orang yang termakan iklan dan tergiur dengan kemasan glosi warna-warni di supermarket. Membumi hanguskan televisi agar mereka tidak terbius iklan bukan hal yang masuk akal. Jadi? Ya, pelan-pelan diberi pengertian.

Ya sudahlah ya, sebaiknya saya kemas kepuyengan saya ke dalam peti kemudian saya jejalkan saja si doi ke inti bumi paling dalam, sambil berharap, seiring berjalannya waktu semua bisa diselesaikan. Btw, di bawah ini dokter Jason akan menjelaskan mengenai bahaya suplemen vitamin dan kalsium.

Cekidot.

By: Dokter Jason Fung

Salah satu pertanyaan yang sangat umum adalah, “apakah saya menyarankan suatu suplemen?” Saya merekomendasikan nyaris tidak ada. Oke, untuk puasa sangat panjang, saya merekomendasikan multivitamin umum, walaupun, manfaat dari multivitamin belum ada buktinya. Faktanya, hampir semua suplemen vitamin telah terbukti tidak berguna. Dalam beberapa kasus, seperti vitamin B, selain tak ada manfaatnya juga cukup ‘berbahaya’. Semua vitamin mengalami masa-masa populer dan masa anyep. Ini lebih buruk dari pada masa SMA. Satu menit yang lalu, Anda adalah anak yang paling populer di kelas, tetapi semenit kemudian Anda adalah bahan tertawaan.

Pada tahun 1960-an, rajanya vitamin adalah vitamin C. Linus Pauling adalah satu-satunya orang yang telah memenangkan dua hadiah Nobel yang tak terbendung—nobel yang pertama adalah untuk kimia dan yang kedua untuk perdamaian. Dia memiliki keyakinan teguh bahwa banyak masalah nutrisi modern dapat disembuhkan oleh vitamin C dengan dosis mega. Dia menyarankan agar kita mengonsumsi vitamin C, karena dengan dosis tinggi, si doi dapat mencegah atau mengobati demam, flu dan bahkan kanker. Dia bahkan mensugestikan bahwa “75% dari semua kanker dapat dicegah dan disembuhkan HANYA oleh vitamin C.” Itu, tentu saja merupakan optimis tingkat langit ke tujuh. Banyak penelitian yang telah dilakukan selama beberapa dekade berikutnya, yang sialnya, secara jelas membuktikan bahwa sebagian besar klaim vitamin C ini hanya harapan palsu. Ternyata satu-satunya penyakit yang dapat disembuhkan oleh vitamin C hanyalah penyakit kudis. Since I don’t treat many 15th century pirates, ini tidak terlalu berguna bagi saya.

Begitu suplementasi vitamin C terbukti tidak berguna untuk mencegah penyakit, harapan besar berikutnya dilabuhkan kepada vitamin E. Klaim mulia yang utama adalah sebagai ‘antioksidan’. Seharusnya, vitamin E akan menetralkan semua radikal bebas nyebelin yang menyebabkan kerusakan pada sistem vaskular kita. Fantasi mereka, bahwa dengan menelan vitamin E akan mencegah penyakit jantung. Kecuali, tentu saja, itu hanya sekedar khayalan. Uji coba HOPE, adalah percobaan yang paling diingat sampai dengan saat ini sebagai salah satu uji coba untuk menetapkan penggunaan kelas pengobatan ACEI dalam perlindungan kardiovaskular. Tetapi, uji coba terkontrol secara acak ini juga menguji apakah vitamin E dapat mencegah penyakit. Sayangnya, jawabannya adalah tidak. Suplemen vitamin E tidak mencegah penyakit jantung atau stroke. Memang, lebih banyak pasien dalam kelompok vitamin ini telah meninggal, mengalami serangan jantung dan stroke meski hal ini tidak signifikan secara statistik. Vitamin C adalah a bust, begitu juga vitamin E. Tapi daftar-rasa-malu tidak akan berhenti di situ.

Harapan besar berikutnya ditenggerkan kepada vitamin B. Pada awal tahun 2000an, orang berlomba-lomba melakukan tes darah yang disebut homosistein. Jika tingkat homosistein Anda tinggi, korelasinya dengan peningkatan risiko penyakit jantung. Vitamin B bisa menurunkan kadar homosistein, tapi apakah ini bisa diterjemahkan ke dalam hasil kesehatan yang lebih baik? Jawabannya masih merupakan misteri hingga kini. Beberapa percobaan berskala besar diluncurkan untuk memenuhi harapan ini. Salah satunya adalah uji coba NORVIT, yang diterbitkan pada tahun 2006 di New England Journal of Medicine, dan ini adalah jurnal yang bergengsi lho.

Berita itu menakjubkan. Menakjubkan busuknya. Dibandingkan dengan mengkonsumsi plasebo (pil gula), suplementasi dengan folat, vitamin B6 dan B12 membuat orang lebih banyak terkena serangan jantung dan stroke. Beneran lho ini, bukan dagelan. Kelompok yang mengonsumsi vitamin bukannya mendapatkan hasil yang lebih baik, namun malah semakin buruk. Tapi kabar super buruknya akan datang sekejap lagi, if you can believe it. Pada tahun 2009, para periset mempelajari dua uji-coba terkontrol secara acak terhadap suplementasi vitamin B dan menemukan bahwa selain meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, risiko kanker meningkat sebesar 21%! Aw snap! Risiko kematian akibat kanker meningkat sebesar 38%. Memakan vitamin bedebah-tak-ada-guna adalah satu masalah kecil, Anda tidak dirugikan apa-apa, namun, mengonsumsi vitamin yang bisa membunuh Anda adalah ratunya masalah.

Penggunaan suplemen vitamin B untuk penyakit ginjal juga sangat suram. Penelitian DIVINe mempelajari dua kelompok pasien acak dengan penyakit ginjal kronis (CKD) terhadap suplemen plasebo atau vitamin B dengan harapan dapat memperlambat perkembangan penyakit ginjal. Tingkat homosistein tinggi pada CKD dan vitaminnya mampu menurunkan kadar ini. Tapi apakah mereka membuat perbedaan nyata? Tentu saja. Penggunaan vitamin B memperburuk keadaan. Jauh lebih parah lagi. Ini melipatgandakan keadaan yang sudah busuk menjadi super duper menyedihkan. Another nail in the coffin of the homocysteine story and vitamin B supplements. 10 tahun penelitian telah terbuang sia-sia.

Bagian ironis dari pengetahuan yang cacat ini adalah bahwa kita masih membayar harganya. Enriched wheat flour/ tepung terigu yang diperkaya, misalnya, adalah gandum dengan segala kebaikan alaminya yang telah diekstraksi dan kemudian, mereka telah mengganti beberapa vitamin tertentu. Jadi hampir semua vitamin dibuang, dan diganti dengan zat besi dan vitamin B dosis tinggi. Jadi, apa yang kita dapatkan adalah kelebihan vitamin yang gigantis. Ini mungkin cukup berbahaya. Memang, mayoritas orang khawatir kekurangan nutrisi seperti menderita penyakit beri beri, anemia (defisiensi besi), dan lain-lain. Masalahnya, tentu saja, sekarang kita memiliki data yang menunjukkan bahwa memberi dosis besar vitamin B dapat meningkatkan tingkat kanker dan penyakit kardiovaskular lainnya.

Tapi mengapa suplemen vitamin B bisa berakibat buruk? Bagaimanapun, suplemen folat telah mengurangi kejadian cacat saraf pada kehamilan secara signifikan. Seperti segala sesuatu yang lain dalam dunia kedokteran, ini adalah masalah konteks. Vitamin B dibutuhkan untuk progres sel. Selama masa pertumbuhan, seperti kehamilan dan masa kanak-kanak, ini adalah hal yang baik.
Masalahnya bertolak belakang dengan masa dewasa. Pertumbuhan yang berlebihan TIDAK baik. Sel yang paling cepat berkembang adalah sel kanker, jadi mereka cinta, cinta, cinta sekali vitamin B ekstra. Ini tidak begitu baik untuk kita. Bahkan untuk sel biasa, pertumbuhan yang di ambang batas tidak baik, karena mengarah ke jaringan parut dan fibrosis. Ini menjelaskan mengapa saat ini serangan jantung, stroke dan penyakit ginjal menjamur di mana-mana. Penyakit kardiovaskular disebabkan oleh aterosklerosis, pengerasan arteri dan fibrosis berlebihan mungkin membuatnya lebih buruk.

Suplemen kalsium, tentu saja sudah direkomendasikan oleh dokter selama puluhan tahun sebagai strategi pencegahan osteoporosis. Saya menjelaskan semuanya dalam kuliah saya dari beberapa tahun yang lalu “The Calcium Story“. Hampir setiap dokter telah merekomendasikan suplemen kalsium untuk mencegah osteoporosis.

Mengapa? Alasan yang menurut mereka rasional adalah bahwa tulang mengandung banyak kalsium sehingga makan kalsium seharusnya bisa membuat tulang manusia lebih kuat. Ini tentu saja, alasan yang mungkin digunakan siswa kelas tiga SD, tapi lupakan tentang logika anjlok ini. Perhatikan kalimat berikut ini, mengonsumsi otak membuat kita lebih cerdas. Makan ginjal memperbaiki fungsi ginjal. Betul? Tapi peduli setan siapa yang telah menyebarkan kebodohan masal ini, masalahnya, dan ini masalah yang super besar, penalaran ngawur ini telah berlangsung sekitar 50 tahun.

Kita berpura-pura bahwa dunia kedokteran berbasis bukti. Sama seperti yang telah kita diskusikan mengenai kalori, nampaknya bukti itu tidak diperlukan untuk status quo, tapi hanya untuk ‘sudut pandang alternatif’. Mereka akhirnya melakukan percobaan acak-terkontrol-yang-lebih-tepat mengenai suplemen kalsium dan menerbitkannya di tahun 2006. The Women’s Health mengelompokkan lebih dari 36.000 wanita pada kelompok-kalsium dan grup-vitamin-D (plasebo). Kemudian mengikuti mereka selama lebih dari 7 tahun dan memantau mereka, menyorot masalah utama tentang patah tulang pinggul. Apakah dengan mengkonsumsi kalsium setiap hari selama 7 tahun membuat wanita mempunyai tulang super kuat yang tidak pernah retak?

Hardly. Tidak ada perbedaan total fraktur, patah tulang pinggul, vertebra atau patah pergelangan tangan. Dengan kata lain, suplemen kalsium sama sekali tidak berguna. Sebenarnya, itu tidak benar. Ada perbedaan yang signifikan. Orang-orang yang mengonsumsi kalsium memiliki batu ginjal lebih banyak. Jadi, mereka justru dirugikan dengan mengonsumsi pil ini. Bagus. Apakah wanita-wanita ini setia meminum pil setiap hari selama 7 tahun terakhir?


Mau Kurus? Kurangi ngemil macem gini, Seus.

Mengapa suplemen ini tidak berguna dan sangat berbahaya? Ini sangat sederhana. Anda harus memahami akar penyebab (etiologi) penyakit untuk meresepkan pengobatan yang rasional. Penyakit yang kita hadapi saat ini—obesitas, diabetes tipe 2, osteoporosis, kanker, penyakit jantung dll. BUKAN PENYAKIT KARENA DEFISIENSI VITAMIN. Jika ini bukan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin, mengapa kita mengharapkan suplementasi untuk membuat perbedaan? Mari kita lihat lebih seksama dan dengan sejelas-jelasnya. Jika Anda terkena penyakit kekurangan vitamin (yaitu kekurangan vitamin B12) maka ya, Anda harus minum vitamin. Jika Anda mengalami obesitas atau memiliki penyakit jantung (yaitu BUKAN PENYAKIT KEKURANGAN VITAMIN) maka vitamin-vitamin itu tidak bermanfaat untuk Anda.

Analoginya begini. Misalkan mobil kita mogok karena mesinnya meledak. Kemudian seseorang berkata “Oh, hei, dulu, mobil gue modar karena kehabisan bensin. Coba ente isi bensin dulu dah, siapa tau nyala.” Tapi, ternyata itu tidak berhasil. Mengapa? Karena Anda harus mencari akar masalahnya terlebih dahulu, baru dicari jalan keluarnya. Problematikanya tadi adalah mesinnya meledak. Jadi apakah dengan mengisi bensin bisa menyelesaikan masalah?


Jualan Terus, Bung. Sah-sah aja sih sebenernya, cuma kocak aja.

Jadi, jika kita mengobati penyakit kekurangan vitamin (scurvy, beri beri, osteomalacia) maka meminum vitamin sangat logis dan efektif. Jika kita mengobati obesitas, maka mengunyah vitamin sama sekali tidak ada gunanya. Saya tidak khawatir dengan gizi hidangan Anda, karena saya tidak mengobati penyakit kekurangan gizi. Namun, orang-orang di luar sana mencoba menjual suplemen untuk melangsing yang laris manis tanjung kimpul (green coffee, raspberry ketones, PGX, fibre, Sensa, dll)

Jika Anda mengajukan pertanyaan “Apa yang bisa saya makan/ borong/ hajar bleh supaya saya bisa melangsing?” Maka Anda telah mengajukan pertanyaan yang kurang tepat dan bisa jadi salah alamat. Pertanyaan yang perlu Anda tanyakan adalah “Apa yang TIDAK BOLEH SAYA makan/ borong / hajar bleh untuk membantu saya menurunkan berat badan?” Uang yang harus dikeluarkan untuk menjawab pertanyaan terakhir adalah jumlah yang sungguh imut untuk menjawab pertanyaan Anda. Melangsing itu murah, nyaris tanpa biaya.