Ingin Kurus dan Ramping? Baca Juga Solusi untuk Panjang Umur, dong

Semangat pagi! Apa kabar? Saya Sarah Sastrodiryo, pemilik blog ini. Saya bercerita sedikit personal, karena saya yakin, mungkin ini bisa bermanfaat untuk kalian. Ceritanya begini, saat ibu saya meninggal karena Diabetes Tipe 2, saya cukup terpukul. Seharusnya saya bisa berbuat sesuatu, supaya penyakit ibu bisa diringankan. Berdasarkan kegeraman saya itu, saya menjadi terobsesi dengan penyakit ini, dan mencari sedetail-detailnya. Pada akhirnya, saya malah terdampar pada sebuah fakta, bahwa semua itu terkait dengan apa yang kita makan.

Impian semua orang ingin sehat dan tampak lebih tampan juga cantik. Berapa pun usianya, mereka ingin selalu terlihat awet muda. Kita boleh saja berusia 60 tahun, tetapi, performa tubuh kita inginnya tetap 20 tahun dong. Fungsi tubuh di dalamnya juga tetap prima seolah-olah masih berusia 17 tahun. Cihuynya, ini bukanlah utopia bukan pula habu—hayalan babu.

Kali ini saya akan menerjemahkan article ahli ginjal dari Kanada yang juga guru diet, master puasa, jago di bidang diabetes tipe 2, tentang longevity atau fisiologi dan organ tubuh tetap bisa bekerja dengan oke meski kita menua. Tua tetapi tidak sakit-sakitan. Tua tapi masih tetap energik dan bertenaga kuda. Silakan dinikmati.

Dokter Jason Fung (The Longevity Solution)

Diet telah diakui sebagai cornerstone atau landasan untuk kesehatan dan wellness, dan ini sudah sejak zaman Hippocrates. Mengurangi gula, menghindari ngemil camilan, makan makanan natural yang belum-diolah-terlalu-brutal, bisa membuat berat badan terkontrol dan juga membikin metabolisme tubuh lebih apik.

Tetapi, healthy aging atau usia yang sudah tua dan tetap sehat a.k.a nggak sakit-sakitan, tidak hanya dijamin oleh aspek pola makan.

Longevity atau panjang umur bukan hanya tentang menjalani umur panjang. Di dunia ini, nggak ada satu pun yang mau hidup dengan penyakit kronik dan bentar-bentar minum obat. Rentang kesehatan yang ditingkatkan, merupakan salah satu fokus utama untuk longevity.

Ini lebih tentang kualitas hidup, bukan panjang total usianya sampe angka berapa.

Itu adalah topik yang memikat, jadi saya telah bekerja sama dengan Dr. James DiNicolantonio mengenalkan Anda sebuah buku anyar, The Longevity Solution. Dalam buku ini, saya bukan hanya membahas peran puasa dan umur panjang, tetapi ada setumpuk hal menarik yang jauh lebih banyak tersedia dari buku ini.

Kami membahas teori-teori ilmiah di balik penuaan.

Sementara usia kronologis adalah sungai, bergerak hanya dalam satu arah, di sisi lain, menjadi sepuh secara fisiologis tidak berdasarkan tahun. Maksudnya begini, Anda berusia 30 tahun, tapi fisiologis Anda bisa aja baru 20 tahun. Beberapa orang menua lebih anggun daripada orang lain dan ‘praktik terbaik’ inilah yang menjadi fokus buku ini.

Kami membahas teori-teori penuaan, dan paradigma yang mendominasi buku ini adalah persaingan antara pertumbuhan versus penuaan.

Emang sih, tubuh kita punya ‘program’ pertumbuhan yang dominan banget selama tahun-tahun awal lahir hingga awal dewasa. Kemudian, tubuh kita berhenti tumbuh. Kita mencapai tingkat dewasa kita, dan nggak mungkin tumbuh lagi.

Faktor pertumbuhan memainkan peran superior dalam hal ini. Dan sensor nutrisi insulin, mTOR dan AMPK juga terkait secara intim dengan pertumbuhan. Tetapi setelah dewasa, secara fundamental, pertumbuhan bertentangan dengan umur panjang.

Sama seperti mesin mobil, jika Anda memutarnya berkali-kali, ia akan berjalan lebih banter, tetapi juga akan terbakar lebih cepat. Jadi dengan ‘program’ yang sama, yang mana selama masa muda sungguh optimal, nggak lagi kondusif jika Anda ingin menua dengan anggun.

Jika kita ingin memperlambat pertumbuhan, maka kita ingin mengurangi pensinyalan nutrisi juga. Insulin dan mTOR, adalah sensor nutrisi yang elementer, konsekuensinya pertumbuhan melonjak.

Dengan mengurangi karbohidrat, kita dapat menurunkan insulin dan umur panjang pun bisa ditambah. Namun, ada pertanyaan tricky tentang asupan protein optimal. Terlalu sedikit protein jelas buruk, karena tubuh kita bergantung banget padanya, supaya bisa mempertahankan fungsi. Tetapi pertanyaan yang paling kontroversial adalah, “apakah terlalu banyak protein itu jahat?”

Ini adalah pertanyaan yang sulit, dan membutuhkan pendekatan dengan banyak nuansa.

Sampai beberapa tahun terakhir, praktisnya, dianggap mustahil untuk makan terlalu banyak protein. Diet rendah karbohidrat seperti diet Atkins merekomendasikan asupan karbohidrat rendah, tetapi tidak membuat saran khusus tentang protein atau lemak.

Ketika dikombinasikan dengan rendah lemak mania, kami melihat beberapa orang mengonsumsi makanan karbohidrat dan lemak yang minimalis—yang mana hanya menyisakan protein dalam makanan.

Ini ternyata sangat sulit untuk diikuti. Itu sangat ketat, dan pada dasarnya hanya boleh makan putih telur, salad, dan kalkun sepanjang hari. Perbedaan besar dari diet rendah karbohidrat gaya lama dan diet ketogenik atau keto yang populer adalah bahwa diet keto memungkinkan jumlah lemak yang banyak, dan menyarankan protein makanan porsi moderat. Makan protein yang melimpah membuat seseorang tidak ketosis, ditambah jika Anda juga makan terus-menerus. Ingat, selama waktu ini, ada keyakinan kuat bahwa kita harus makan 6-10 kali per hari, dipromosikan oleh banyak dokter based on no evidence whatsoever, berdasarkan pada sesuatu yangnggak ada bukti sama sekali.

Makan dengan porsi melimpah, membuat ketosis lemak jauh lebih tinggi, dan bagi sebagian orang, itu sangat sukses.

Ada segepok nuansa lain dalam asupan protein juga. Ada gap akbar pada protein hewani versus nabati. Generally, karena kita adalah hewan, protein-protein itu lebih dekat dengan apa yang kita butuhkan, dan memiliki nilai biologis yang jauh lebih jangkung.

Protein hewani jauh lebih bergizi, dan alasan mengapa masyarakat tradisional menghabiskan begitu banyak upaya untuk berburu hewan, meskipun bagi sebagian besar sumber makanan sentral mereka adalah tanaman.

Nilai gizi yang lebih adiluhung ini kece jika orang tersebut ngalamin mal nutrisi atau kekurangan gizi. Sayangnya, pada zaman now, over gizi bertendensi menjadi problematika utama di dunia. Karena itu, nilai gizi yang rafi nggak selalu berfaedah.

Protein, khususnya asam amino adalah stimulan paling kuat bagi mTOR, sensor nutrisi yang dikenal sebagai target mekanis rapamycin. Sinyal pro-pertumbuhan ini telah dikaitkan dengan setumpuk penyakit penuaan dan protein eksesif. Jika Anda tertarik pada diskusi yang lebih mendalam tentang pertanyaan sulit tentang asupan protein optimal ini, beli buku The Longevity Solution.