Tips Cara Berdamai dengan Gelisah

tips-cara-berdamai-dengan-gelisah

Tips cara berdamai dengan gelisah. Emang bisa kita terbebas dari rasa nggak nyaman tadi?

Kita dapat hidup damai tanpa merasa gelisah dalam segala situasi. Sebetulnya, gelisah adalah masalah yang biasa kita rasakan. Tapi, akan menjadi isu besar pada saat gelisah mendominasi dan mengambil porsi yang cukup besar dalam hidup kita. Dan, saya menuliskan artikel ini, untuk memperlihatkan kepadamu, bahwa sesungguhnya kita dapat hidup tenang tanpa harus merasakan gelisah yang berlebihan. Dan, yang perlu kita camkan hanyalah kita harus mengerti dan menelusuri, serta mencungkil akar masalahnya apa, sehingga rasa gelisahmu akan lenyap seperti dihembus angin. Harapan saya, rasa gelisah itu tidak akan pernah akan kembali lagi.

Tipe-tipe gelisah yang umum

Saya akan membahas tiga golongan besar kategori gelisah

  • Gelisah karena kita tidak mendapatkan apa yang kita mau.
  • Gelisah karena kehilangan sesuatu yang telah kita miliki.
  • Gelisah dengan hal buruk apa yang akan terjadi di masa depan.

Dan ada tipe gelisah yang lain, yaitu gelisah sosial, tapi, saya tidak akan membicarakannya di sini, karena itu akan saya bahas di topik tersendiri.

Untuk melepaskan rasa gelisah, hal mendasar yang harus digarisbawahi adalah kamu harus paham hal gigantis apa yang kamu inginkan dalam hidup ini

Setelah kamu tahu apa yang menjadi tujuan hidupmu, semua rasa gelisah dapat dilibas dan dilenyapkan. Mari kita bahas. Sejujurnya, hal apa yang sangat super duper kamu inginkan? Nomor wahid apa yang sangat penting yang kamu mau? Perlu saya pertegas lagi.

Anyway, pembicaraan tentang tips cara berdamai dengan gelisah mulai menarik, kan?

NOMOR PERTAMA YANG SANGAT INGIN KAMU RASAKAN DI HIDUP INI.

NOMERO UNO.

Mungkin kamu akan menjawab:

  • Saya ingin sukses.
  • Saya ingin kaya raya.
  • Saya ingin kekuasaan.
  • Saya ingin respek.
  • Saya ingin cinta.
  • Saya ingin menikah.
  • Saya ingin mempunyai relasi yang baik.
  • Saya ingin mempunyai anak.
  • Saya ingin memaksimalkan potensi saya.
  • Saya ingin mencari tujuan hidup saya dan berakibat baik untuk orang lain.
tips-cara-berdamai-dengan-gelisah
Sumber Gambar: Daria Lisovtsova from Burst

Memang benar, mungkin salah satu jawaban di atas mengambarkan apa yang kamu mau. Tapi, apa hal yang paling esensi dari semuanya?

Kita semua ingin merasa damai dan bahagia setiap saat

Mari kita melihat lebih dalam, dan lebih dekat dengan apa yang kita ingin. Berikan saya kesempatan untuk mengajukan sebuah pertanyaan. Apa yang kamu inginkan adalah merasa puas, utuh, damai, dan bahagia, bukan? Kamu ingin mencetak gol dalam hidupmu, atau hal apa pun yang kamu anggap sangat penting, karena kamu berharap hal itu akan membuatmu bahagia.

Ini berarti apapun tujuan hidupmu, apa pun yang kamu punya, peduli setan dengan alasan yang kamu buat, hal sesungguhnya yang kamu inginkan adalah kamu ingin bahagia.

Tujuan hidupmu sebenarnya bukan tujuan, tapi rasa yang kamu alami pada saat prosesnya itu adalah yang terpenting, benar?

Apa yang kamu inginkan adalah rasa hepi, dan untuk menjadi hepi, kamu hanya berharap dengan menggapai impianmu, maka kamu akan ada di tahap hepi.

Pada saat saya bertanya kepadamu, apa yang sangat kamu inginkan, kenyataannya adalah, kamu hanya ingin merasa damai.

Kamu hanya ingin merasa oke dengan dirimu, kamu ingin merasa utuh dan tidak ada satu serpihan pun yang lepas, kamu hanya ingin berhenti menderita, ingin membunuh rasa gelisah, khawatir, malu dan rasa takut.

Kamu hanya perlu merasa damai, dan kamu berharap akan mendapatkan apa yang kamu mau ketika kamu merasa damai.

Tips Cara Berdamai dengan Gelisah Temukan cara agar kamu dapat melepaskan penderitaan

To make that clear, if I give you two options – achieve what you want in life, but be unhappy, have all the same anxiety, worry, shame, judgment, anger; or not achieve what you want in life, and be happy and in peace, in every moment – which would you choose?

Ini membuatnya ini menjadi jelas, saya akan mengajukan dua opsi. Mana yang akan kamu pilih:

  1. Mendapatkan apa saja yang kamu inginkan di dalam hidup, tapi kamu merasa tidak bahagia —sedih, marah, gelisah, takut, malu, menghakimi, khawatir. Atau,
  2. Tidak mendapatkan apa yang kamu mau, tapi kamu merasa bahagia dan damai setiap saat.

Hmm, saya menebak bahwa jika kamu benar-benar jujur dengan dirimu, kamu akan memilih merasa damai, meskipun kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan.

When I was just a little girl, (Saat aku menjadi gadis kecil)
I asked my mother, “What will I be? (Aku bertanya pada ibuku, aku akan menjadi apa?)
Will I be pretty? (Akankah aku menjadi cantik?)
Will I be rich?” (Akankah aku menjadi kaya?)
Here’s what she said to me: (Inilah yang dia katakan padaku)
“Que sera, sera,
Whatever will be, will be; (Apapun yang terjadi nanti)
The future’s not ours to see. (Masa depan tidak untuk kita lihat)
Que sera, sera,
What will be, will be.” (Apa yang terjadi, terjadilah)
When I was just a child in school, (Saat aku masih bersekolah)
I asked my teacher, “What will I try? (Aku bertanya pada guruku, apa yang akan kupelajari?)
Should I paint pictures? (Apakah aku akan melukis?)
Should I sing songs?” (Apakah aku akan bernyanyi?)
This was her wise reply: (Inilah jawaban bijaknya)
“Que sera, sera,
Whatever will be, will be; (Apapun yang terjadi nanti)
The future’s not ours to see. (Masa depan tidak untuk kita lihat)
Que sera, sera,
What will be, will be.” (Apa yang terjadi, terjadilah)
When I grew up and fell in love, (Saat aku tumbuh dewasa dan jatuh cinta)
I asked my sweetheart, “What lies ahead? (Aku bertanya pada jantung hatiku, apa yang terbentang di depan?)
Will we have rainbows (Akankah kita memiliki pelangi)
Day after day?” (hari demi hari?)
Here’s what my sweetheart said: (Inilah yang jantung hatiku katakan)
“Que sera, sera,
Whatever will be, will be; (Apapun yang terjadi nanti)
The future’s not ours to see. (Masa depan tidak untuk kita lihat)
Que sera, sera,
What will be, will be.” (Apa yang terjadi, terjadilah)
Now I have children of my own. (Sekarang aku punya anak sendiri)
They ask their mother, “What will I be? (Mereka bertanya pada ibu, aku akan menjadi apa?)
Will I be handsome? (Akankah aku menjadi tampan?)
Will I be rich?” (Akankah aku menjadi kaya?)
I tell them tenderly: (Aku memberitahu mereka dengan lembut)
“Que sera, sera,
Whatever will be, will be; (Apapun yang terjadi nanti)
The future’s not ours to see. (Masa depan tidak untuk kita lihat)
Que sera, sera,
What will be, will be. (Apa yang terjadi, terjadilah)
Que sera, sera!”
Que Sera-sera (Whatever Will Be)
written by Jay Livingston and Ray Evans
for Alfred Hitchcock’s 1956 re-make of his 1934 film
“The Man Who Knew Too Much” starring Doris Day and James Stewart.

Sekarang pertanyaan apa sih tips cara berdamai dengan gelisah, sudah terjawab, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *