Siapa yang harus Menghindari Bomb Fat dan Bulletproof Coffee?

Beberapa bulan yang lalu, saya menemukan sebuah racikan kopi yang rasanya mirip dengan kopi yang dijual di gerai-gerai kafe. Pahit dan gurih serta wangi mentega. Nama kopi itu adalah bulletproof coffee. Konon kopi ini merupakan minuman rahasia penambah stamina dan mempertajam otak di Silicon Valley—pusat starts-ups di US.

Kopi tersebut tinggi kalori dari lemak karena dua komposisinya adalah minyak kelapa dan butter/ mentega, tetapi tidak menggemukkan. Mengapa? Karena, kalian tentu sudah tahu mengenai fisiologi lemak makanan di tubuh kita. Namun, ternyata fakta sebenarnya tidak seperti itu. Kopi ini memang tidak membikin gemuk bagi orang yang bertubuh langsing, tapi malah membuat lemak di tubuhmu semakin menebal jika kamu sudah tambun.

Untuk lebih jelasnya, mari kita membaca penuturan dokter yang biasa saya culik tulisannya.

By Jason Fung

Apakah mengonsumsi lemak ekstra via Fat Bombs dan Bullet Proof Coffee membuatmu gemuk? Inilah jawaban singkatnya. Iya dan tidak. Jika kamu ramping, maka makan lemak tidak akan membikin endut. Jika kamu obes/ kelebihan berat badan, ya, makan lebih banyak lemak akan membuatmu semakin bulat.

Mari saya jelaskan. Jawabannya, tentu saja, tidak ada hubungannya dengan kalori (konsep yang sudah ketinggalan jaman dan tidak berguna). Semua ini berkaitan dengan fisiologi. Mari kita menelaah sedikit.

Dengan memilih diet ketogenic/ Low Carb High Fat, kita dianjurkan untuk makan sebagian besar kalori dari lemak. Umumnya, mereka harus makan real food (bukan makanan instan atau olahan), sampai kenyang. Beberapa orang telah menganggap ini berarti bahwa mereka harus menambahkan lemak ekstra pada semua makanan yang mereka makan—menyaksikan popularitas ‘Fat Bombs’—semua hidangan ditambah lemak tinggi atau meminum Bullet Proof Coffee—kopi dengan tambahan minyak ekstra (MCT, Minyak kelapa dan mentega) setiap saat. Ada beberapa orang yang menganggap ini mempercepat penurunan berat badan, di sisi lain ada juga sekelompok orang yang malah menjadi semakin “montok”. Sesungguhnya, apa yang terjadi?

Insulin adalah pendorong utama kenaikan berat badan. Saat kamu menumpuk lemak tubuh, tubuh merespons dengan meningkatkan sekresi hormon yang disebut leptin, yang mana akan memberitahu tubuh agar berhenti menimbun lemak. Ini adalah loop umpan balik negatif, yang dirancang untuk mencegah kita menjadi terlalu gemuk. Ini adalah mekanisme bertahan hidup karena hewan gemuk yang sulit bergerak akan dimangsa predator. Ini juga salah satu alasan mengapa orang mengatakan “Kami diprogram secara genetis untuk makan apa pun yang disajikan di depan wajah kami” atau “Kami diprogram untuk menjadi gemuk, meski hanya makan angin, mungkin sudah takdir,” benar-benar keliru. Jadi bagaimanakah mekanisme yang benar?

Insulin dan leptin pada dasarnya berlawanan. Insulin memberitahu tubuh kita untuk menyimpan lemak tubuh dan leptin mengatakan: STOP. Jika kita makan fruktosa terus menerus, maka akan menyebabkan resistensi insulin atau insulin selalu tinggi setiap saat, di sisi lain kita juga akan terus-menerus merangsang leptin. Seperti semua hormon, tingkat hormon yang tinggi secara terus-menerus menyebabkan turunnya reseptor hormonal dan menyebabkan resistensi bertumbuh dan berkembang. Jadi tingkat leptin yang terus-menerus tinggi akhirnya menyebabkan resistensi leptin, itulah yang kita lihat pada obesitas umum. Jadi, orang kurus peka terhadap leptin dan orang gemuk resisten kepada leptin.

Sekarang mari pikirkan fisiologi lemak. Ingat hanya ada 2 bahan bakar untuk tubuh:
1. Kamu membakar gula, atau
2. Membakar lemak.

Saat kamu mengonsumsi karbohidrat atau protein yang berlebihan, ia pergi ke hati, melalui vena porta dan merangsang insulin, yang memberitahu tubuh untuk mulai membakar gula, dan menyimpan sisanya sebagai glikogen atau lemak. Diet lemak, di sisi lain, cara kerjanya tidak seperti itu. Lemak diserap dalam usus sebagai chylomicrons, melewati sistem limfatik ke duktus toraks dan langsung ke sirkulasi darah sistemik (bukan sirkulasi portal hati). Dari situ masuk ke sel lemak yang akan disimpan. Dengan kata lain, lemak tidak mempengaruhi hati, dan karena itu tidak memerlukan bantuan dari sinyal insulin dan langsung masuk ke gudang lemak pada tubuhmu.

Jadi, bukankah itu berarti mengonsumsi lemak membuatmu gemuk? Tidak, tidak sama sekali. Mari kita amati orang kurus (peka terhadap leptin) dulu. Ingat kisah eksperimen 5000 kalori/ hari Sam Feltham? Dia makan sejumlah besar kalori per hari, dan tetap kurus (makanannya terdiri dari 53% lemak, 10% karbohidrat). Saat kamu banyak makan lemak, itu akan disimpan ke dalam sel lemak, tapi insulin tidak naik. Saat massa lemak naik, leptin juga meningkat. Karena orang kurus peka terhadap leptin, dia akan berhenti makan untuk membiarkan berat badan turun kembali. Jika kamu memaksanya makan, seperti yang Sam lakukan, metabolisme tubuhnya akan naik dan membakar semua kelebihan kalori.

Nah, berbeda situasinya untuk orang gemuk alias si leptin resisten. Saat kamu banyak makan dan mengonsumsi banyak lemak, insulin tidak naik. Namun, ‘bomb fat’ itu malah langsung masuk ke gudang lemakmu. Tubuhmu merespons dengan meningkatkan kadar leptin dalam darahmu. Tapi inilah bedanya. Tubuhmu tidak peduli. Badanmu resisten terhadap efek leptin. Jadi, metabolismemu tidak naik. Nafsu makanmu tidak turun. Tidak ada efek penurunan berat badan yang menguntungkan dari makan ‘bomb fat’. Dan ya, kamu tetap harus membakar lemak ekstra yang telah kamu konsumsi.

Implikasi praktisnya begini. Jika kamu ramping dan sensitif terhadap leptin, maka makan lebih banyak lemak, seperti keju, tidak akan membuatmu bertambah gemuk. Namun, jika kamu mencoba menurunkan berat badan, dan memiliki beberapa masalah dengan resistensi obesitas/ insulin/ leptin, maka menambahkan lemak ekstra pada makananmu BUKAN ide bagus. Sekali lagi, ini bukan berarti kita harus kembali ke diet kalori (mengurangi porsi) yang sudah kadaluarsa dan tidak berguna. Obesitas adalah hormonal, bukan ketidakseimbangan kalori.

Apa yang bisa kamu lakukan? Nah, mengonsumsi lebih banyak karbohidrat bukanlah ide bagus. Begitu pula dengan protein. Juga tidak boleh makan lemak terlalu banyak. Jadi, apa yang tersisa? Itulah yang kita sebut puasa.

Pada titik ini, kamu mungkin khawatir tentang kekurangan nutrisi. Itulah sebabnya mengapa banyak orang membicarakan nutrient density atau kepadatan gizi. Bagaimana kamu bisa mendapatkan nutrisi maksimal untuk kalori minimum? Ini adalah pemikiran yang kacau. Mengapa saya harus peduli? Tanyakan kepada dirimu sendiri–apakah kamu khawatir tentang mengobati obesitas atau kamu was-was kekurangan nutrisi? Jika kamu memilih obesitas, maka khawatirkan kegemukan. Kamu tidak membutuhkan lebih banyak nutrisi, kamu memerlukan lebih sedikit. Segalanya harus dikurangi.

Jika kamu malah khawatir tentang kekurangan gizi, maka atasi kekurangan nutrisi, tapi mari kita perjelas – ITU TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN PENGOBATAN OBESITAS. Jika kamu khawatir tentang, katakanlah, Vitamin C karena kamu menderita penyakit kudis, maka dengan segala cara, konsumsilah makanan yang kaya dengan Vitamin C. Tapi tidak akan mempengaruhi pada pengobatan obesitas. Masalah obesitas dan masalah kekurangan gizi sama sekali berbeda. Jangan membuat keduanya menjadi ambigu. Saya mengobati obesitas, bukan penyakit beriberi. Jadi saya khawatir tentang hiperinsulinemia/ resistensi insulin/ resistensi leptin. Jika kamu resisten terhadap leptin, maka jangan menambahkan lebih banyak lemak, karena itu tidak membuatmu melangsing. Fat bombs, bagimu, bukanlah ide bagus.

Sam Feltham

Update:
Menurut saya beberapa orang gagal paham mengenai postingan kali ini, dan menganggap saya menyarankan diet rendah lemak. Tidak, saya sarankan kamu menyantap makanan rendah karbohidrat dan tinggi lemak saat kamu makan, namun jangan menambahkan lemak setelah itu.
Inilah intinya – jika kamu memiliki 2 pilihan:
A – Makan LCHF sampai kenyang.
B – Makan LCHF sampai kenyang, lalu makan lebih banyak mentega, minyak, bulletproof coffee dan fat bombs.
Maka kamu harus memilih pilihan A. Saya akan berpikir bahwa ini masuk akal, namun ternyata, banyak orang memilih pilihan B, yang menurut saya merupakan pilihan yang keliru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *