Kunci Kurus Langsing Bahaya Fruktosa dalam Gula

Kunci-Kurus-Langsing-Bahaya-Fruktosa-dalam-Gula

Kunci kurus langsing bahaya fruktosa dalam gula? Apakah gula sangat berbahaya?

Halo, Geng. Apa kabar?

Ini Sarah lagi. Eniwei, sebelum kita membahas ‘bahaya’ gula pasir yang jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan nasi atau roti (pati), saya ingin sedikit curhat. Hari ini saya stres agak berat. Penyebabnya saya sendiri sih. Saya pusing membaca tentang islam garis keras atau radikal or teroris yang mulai menancapkan kukunya perlahan tapi pasti. Saya sibuk membaca di… twitter. Akhirnya, setelah menulis status gak keru-keruan di sana, saya pun uninstall. Lega rasanya. Hal yang sama yang telah saya lakukan pada Facebook dan Whatsapp.

Dan saya kembali hepi, di sela-sela menerjemahkan jurnal dokter Fung, saya berolahraga lagi, berkeringat lagi. Jadinya hepi.

Oke, kembali ke topik kita mengenai gula. Di bawah ini, dokter Jason akan membahas bahaya fruktosa yang tersembunyi pada gula pasir (sukrosa). Yuuuuuk….

By: Dokter Jason Fung (Fruktosa dan fatty liver (Penyakit Hati Berlemak)


Kaitan antara fruktosa dan diebetes lebih erat dibandingkan teman sejawatnya—glukosa. Dari sudut pandang nutrisi, baik fruktosa maupun glukosa mengandung nutrisi yang esensial. Sebagai pemanis, keduanya serupa. Namun, fruktosa sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dibandingkan dengan glukosa karena metabolisme uniknya di dalam tubuh.

Cara tubuh memetabolisme keduanya sangat berbeda. Mengapa? Karena hampir setiap sel dalam tubuh dapat menggunakan glukosa untuk energi, namun sialnya, tidak ada satu pun yang bisa mengunakan fruktosa. Begitu fruktosa masuk ke dalam tubuh, hanya hati yang bisa memetabolismenya. Sementara glukosa dapat menyebar ke seluruh tubuh, kemudian setiap jaringan tubuh, dengan rakus akan menggunakannya sebagai energi. Tetapi fruktosa ditargetkan seperti peluru kendali yang langsung menembak hati.

Ketika sejumlah besar glukosa dimakan, dia akan beredar di hampir setiap sel di tubuh, muatannya akan disebar rata. Jaringan tubuh selain hati memetabolisme delapan puluh persen glukosa yang tertelan. Setiap sel dalam tubuh, termasuk jantung, paru-paru, otot, otak, dan ginjal membantu diri mereka terhadap prasmanan glukosa all-you-can-eat ini. Kemudian hanya tersisa dua puluh persen dari beban glukosa yang masuk agar hati bisa mengepel sisanya. Jika ada kelebihan glukosa, maka mereka akan diubah menjadi glikogen untuk cadangan makanan, lantas meninggalkan sedikit glukosa saja sebagai substrat untuk produksi lemak baru.

 Kunci-kurus-langsing-bahaya-fruktosa-dalam-gula

Hal yang sama TIDAK BERLAKU untuk fruktosa. Sejumlah besar fruktosa yang tertelan masuk, langsung ke hati, karena tidak ada sel lain yang dapat membantu memanfaatkan atau memetabolismenya, sehingga akan memberikan tekanan yang signifikan pada hati. Tingkat karbohidrat dan insulin mungkin 10 kali lebih tinggi di sini daripada di bagian lain. Dengan demikian hati terkena kadar karbohidrat jauh lebih tinggi—baik fruktosa dan glukosa daripada organ lainnya. (Kasihan si hati)

Analoginya adalah, hasilnya akan berbeda antara memukul dengan palu dibandingkan dengan jarum jahit, menekan dengan palu semua pukulan di arahkan pada satu titik. Dan sukrosa (gula pasir) menyediakan baik glukosa maupun fruktosa. Dimana glukosa akan dimetabolisme oleh 170 pon jaringan rata-rata manusia, sementara fruktosa akan dimetabolime dengan sesak napas dan ngos-ngosan hanya oleh si hati yang beratnya tidak lebih dari 5 pound. Artinya, fruktosa akan menyebabkan 20 kali lebih banyak terjadinya fatty liver (masalah utama resistensi insulin). Ini menjelaskan mengapa banyak masyarakat primitif sanggup menoleransi karbohidrat yang dikonsumsi dengan sangat ekstrim tanpa menyebabkan hiperinsulinemia atau resistensi insulin.

Hati memetabolisme fruktosa, glukosa, laktosa menjadi glikogen. Khusus untuk fruktosa, tidak ada batasan pada sistem metabolisme. Semakin banyak Anda makan, semakin Anda memetabolisme. Ketika gudang glikogen yang kapasitasnya terbatas telah penuh, kelebihan fruktosa diubah langsung menjadi lemak hati melalui de novo lipogenesis. Kelebihan fruktosa dapat meningkatkan DNL lima kali lipat, dan meningkatkan lemak hati hingga 38% hanya dalam delapan hari. Justru hati berlemak ini sangat krusial bagi perkembangan resistensi insulin.

Kecenderungan Fructose menyebabkan fatty liver unik di antara karbohidrat. Hati berlemak secara langsung menyebabkan pengaturan resistensi insulin dalam gerakan lingkaran setan hiperinsulinemia—resistensi insulin. Selain itu, efek fruktosa yang berbahaya ini tidak menyebabkan glukosa darah menjadi tinggi atau kadar insulin dalam darah tidak menimbulkan malapetaka. Selanjutnya, efek penggemukan ini, karena ia bertindak melalui hati berlemak dan resistensi insulin, tidak dapat dilihat dalam jangka pendek—hanya dalam jangka panjang.

Metabolisme etanol (alkohol) sangat mirip dengan fruktosa. Setelah tertelan, jaringan hanya bisa memetabolisme 20% alkohol yang menyebabkan 80% dikirim langsung ke hati, yang mana dimetabolisme menjadi asetaldehid, yang merangsang de novo lipogenesis. Intinya alkohol itu mudah berubah menjadi lemak hati.

Konsumsi etanol yang berlebihan merupakan penyebab fatty liver yang populer. Karena hati berlemak merupakan langkah signifikan yang akan menapak pada resistensi insulin, tidak mengherankan jika penggunaan etanol yang berlebihan juga merupakan faktor risiko untuk pengembangan sindrom metabolik.

Fruktosa dan resistensi insulin


Pengetahuan tentang menelan fruktosa dalam jumlah banyak dapat memicu resistensi insulin, sebenarnya, telah diketahui sejak tahun 1980. Subjek sehat yang diberi makan fruktosa 1000 kalori per hari menunjukkan sensitif insulin yang memburuk sebanyak 25%—hanya dalam jangka waktu tujuh hari! Mereka yang diberi tambahan 1000 kalori per hari glukosa tidak menunjukkan kemunduran yang serupa.


Sebuah studi 2009 yang lebih baru menguatkan betapa mudahnya fruktosa menginduksi resistensi insulin pada sukarelawan yang sehat. Subyek diberi makan 25 persen kalori harian mereka dengan Kool-Aid (minuman manis yang mengandung glukosa dan fruktosa). Banyak orang mengkonsumsi gula dalam jumlah tinggi ini dalam makanan mereka. Fruktosa, tapi bukan kelompok glukosa, telah meningkatkan resistensi insulin mereka sehingga mereka secara klinis diklasifikasikan sebagai pra-diabetes. Yang lebih luar biasa lagi, kondisi memburuk ini hanya membutuhkan waktu delapan minggu.

Fruktosa terdapat dalam buah-buahan juga. Jangan mengonsumsi buah terlalu banyak. Picture Source: heliberry.wordpress.com

Hanya dibutuhkan enam hari fruktosa menggunung di tubuh kita dan menggiring pada resistensi insulin. Hanya butuh delapan minggu untuk memungkinkan pra-diabetes untuk membangun tempat pijakan yang kokoh. Apa yang terjadi setelah puluhan tahun mengkonsumsi fruktosa tinggi? Hasilnya adalah bencana diabetes; tepatnya, apa yang terjadi dewasa ini. Konsumsi berlebihan fruktosa merangsang hati berlemak dan mengarah langsung pada resistensi insulin.

Pasti ada sesuatu yang mengerikan tentang menelan fruktosa berlebihan. Ya, Dr. Robert Lustig benar. Gula adalah toksin.

Faktor toksisitas


Kunci kurus langsing bahaya fruktosa dalam gula. Fruktosa sangat beracun karena beberapa alasan.


1. Pertama, metabolisme fruktosa hanya terjadi di dalam hati, sehingga hampir semua fruktosa yang tertelan menjadi tersimpan sebagai lemak baru. Sebaliknya, semua sel dapat membantu metabolisme glukosa.

2. Kedua, fruktosa dimetabolisme tanpa batas. Menelan fruktosa lebih banyak menyebabkan hepatic de novo lipogenesis dan melumuri hati dengan lebih banyak lemak. Tidak ada rem alami untuk memperlambat produksi lemak baru. Fruktosa secara langsung merangsang DNL secara independen dari insulin, karena fruktosa memiliki efek minimal pada glukosa darah atau kadar insulin serum yang tidak signifikan. Metabolisme fruktosa kurang diatur dengan ketat. Dengan demikian, bisa membanjiri mesin ekspor hati yang menyebabkan penumpukan lemak berlebihan di hati. Kita akan berbicara lebih banyak tentang bagaimana hati mencoba melepaskan diri dari lemak yang baru dibuat di bab berikutnya.

3. Ketiga, tidak ada jalur limpasan alternatif untuk fruktosa. Kelebihan glukosa disimpan dengan aman dan mudah di hati sebagai glikogen. Bila diperlukan, glikogen dipecah kembali menjadi glukosa sehingga memudahkan tubuh untuk mendapat energi. Fruktosa tidak memiliki mekanisme penyimpanan yang mudah. Hal ini dimetabolisme menjadi lemak, yang tidak mudah dibalikkan.


Sementara fruktosa adalah gula alami, dan bagian dari makanan manusia sejak zaman purba, kita harus selalu mengingat asas pertama toksikologi. Dosisnya membuat racun. Tubuh memiliki kemampuan untuk menangani sejumlah kecil fruktosa. Dan ini tidak berarti bahwa tubuh dapat menangani jumlah yang tidak terbatas tanpa konsekuensi kesehatan yang merugikan.

Kesimpulan Kunci Kurus Langsing Bahaya Fruktosa dalam Gula


Fruktosa pernah dianggap tidak berbahaya karena indeks glikemiknya rendah. Dalam jangka pendek, ada beberapa risiko kesehatan yang jelas. Sebaliknya, fruktosa menggunakan toksisitasnya terutama melalui efek jangka panjang pada lemak hati dan resistensi insulin. Efek ini telah diukur beberapa kali dalam beberapa dasawarsa, yang menyebabkan perdebatan sengit.

Sukrosa (gula pasir) atau sirup jagung fruktosa tinggi, dengan bagian glukosa dan fruktosa yang hampir sama, oleh karena itu memainkan peran ganda dalam obesitas dan diabetes tipe 2. Ini bukan sekadar ‘kalori kosong’. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan karena orang-orang tidak sadar dengan apa yang terjadi.

Hmm, bahasan tentang kunci kurus langsing bahaya fruktosa dalam gula jadi semakin atraktif.

Glukosa adalah karbohidrat olahan yang secara langsung merangsang insulin. Tetapi, sebagian besar bisa langsung dibakar untuk energi sehingga hanya sedikit yang bisa dimetabolisme di hati. Meski begitu, konsumsi glukosa yang sangat tinggi juga bisa menyebabkan fatty liver. Efek glukosa segera terlihat dalam glukosa darah dan respon insulin.

Konsumsi fruktosa yang lebay secara langsung menghasilkan fatty liver, yang pada gilirannya secara langsung menciptakan resistensi insulin. Kemungkinan fruktosa menyebabkan fatty liver besarnya lima sampai sepuluh kali lebih besar dibandingkan glukosa. Ini memicu lingkaran setan. Resistensi insulin menyebabkan hiperinsulinemia, untuk ‘mengatasi’ resistensi ini. Namun, ini menjadi bumerang, karena hiperinsulinemia, yang diperparah oleh beban glukosa yang menyertainya, menyebabkan resistensi insulin lebih lanjut.

Oleh karena itu, gula pasir merangsang produksi insulin baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Dengan cara ini, gula pasir jauh, jauh lebih mengancam daripada pati yang mengandung glukosa, seperti amilopektin. Melihat indeks glikemik, efek glukosa sudah jelas, namun efek fruktosa benar-benar tersembunyi. Fakta ini telah lama menyesatkan ilmuwan sehingga mengganggap gula sebagai warga kelas dua dalam obesitas. Gula adalah bahaya laten. Diam, namun menghanyutkan.

Karena sifatnya yang tersembunyi itu, efek menggemuk dan memicu resistensi insulin selama bertahun-tahun atau bahkan beberapa dekade tidak terlalu tampak. Studi pemberian makanan jangka pendek benar-benar tidak memunculkan bahaya fruktosa. Sebuah analisis sistemik baru-baru ini, dengan menganalisis banyak penelitian yang berlangsung kurang dari seminggu, menyimpulkan bahwa fruktosa tidak menunjukkan efek khusus di luar kalori. Namun efek fruktosa, begitu pula obesitas, berkembang selama beberapa dekade, bukan berminggu-minggu. Jika kita menganalisa hanya studi jangka pendek tentang merokok, kita mungkin membuat kesalahan yang sama dan menyimpulkan bahwa merokok tidak menyebabkan kanker paru-paru.

Menyingkirkan gula dan permen selalu menjadi langkah awal dalam mengurangi berat badan di hampir semua makanan sepanjang sejarah. Gula pasir bukan sekadar kalori kosong atau karbohidrat olahan. Ini jauh lebih berbahaya, karena merangsang insulin dan resistensi insulin secara bersamaan. Nenek moyang kita selalu mengetahui fakta ini, meski mereka tidak mengetahui fisiologi.

Kita telah mencoba menyangkal hal ini selama 50 tahun karena obsesi kita terhadap kalori. Dalam usaha kita untuk menyalahkan semua hal pada kalori, kita belum menyadari bahaya inheren dari konsumsi berlebihan fruktosa. Tapi sebenarnya, bau bangkai tidak akan bisa disembunyikan selamanya, kita tidak bisa memungkiri sebuah kebenaran selamanya, dan ada harga untuk kedunguan kita. Kita membayar untuk the caloric pied piper dengan epidemi kembar diabetes tipe 2 dan obesitas. Tapi efek gula yang bisa menggemukan namun cukup spesial akhirnya bisa dikenali lagi. Ini adalah kebenaran yang telah lama ditenggelamkan.

Jadi, ketika Dr. Lustig mempresentasikan on a lonely stage in 2009 dan menyatakan bahwa gula itu beracun, dunia mendengarkan dengan penuh perhatian. Karena profesor endokrinologi ini mengatakan sesuatu kepada kita, secara naluriah kita tahu benar. Terlepas dari semua omong kosong dan kepastian bahwa gula tidak menjadi masalah, dunia sudah tahu, di dalam hatinya, kebenaran sebenarnya. Gula adalah toksin.

Pertanyaan tentang apakah kunci kurus langsing bahaya fruktosa dalam gula, sudah terjawab kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *