Diabetes menjadi Epidemi? Kok, Bisa?

Diabetes-menjadi-Epidemi-Kok-Bisa

Diabetes menjadi epidemi? Sungguh? Adakah datanya? Kok bisa mewabah seperti itu? Bagaimana cara mengatasinya?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awal pekan ini merilis statistik baru mengenai epidemi global diabetes. Diabetes mellitus telah dikenal sebagai penyakit sepanjang sejarah manusia selama ribuan tahun. Teks medis Mesir kuno Ebers Papyrus, ditulis sekitar tahun 1550 SM. Pertama kali  menjelaskan tentang kondisi ‘buang air kecil terlalu banyak’. Sekitar waktu yang sama, tulisan-tulisan Hindu kuno mencatat penyakit madhumeha, yang secara longgar diterjemahkan sebagai madu urin. Pasien secara misterius membuangnya begitu saja, tapi anehnya, semut tertarik pada air kencing mereka. Pada tahun 250 SM seorang dokter Yunani bernama Apollonius of Memphis menyebut kondisi ‘diabetes’ yang, dengan sendirinya berkonotasi buang air kecil bombastis.

Thomas Willis menambahkan istilah ‘mellitus’ yang berarti ‘dari madu’ pada tahun 1675. Bentuk diabetes lain yang jauh lebih jarang disebut diabetes insipidus, yang berarti ‘hambar’. Kelainan ini juga ditandai dengan buang air kecil yang kelewat batas, namun urinnya tidak manis.


Penyebab utama diabetes insipidus adalah cedera otak, paling sering terjadi akibat trauma atau bedah saraf.

Umumnya, istilah diabetes mengacu pada diabetes mellitus. Pada tulisan di jurnal ini, kita juga akan menggunakan istilah diabetes yang berarti diabetes mellitus. Gambaran diabetes mellitus yang lebih lengkap akan menunggu sampai abad ke-1 Masehi ketika dokter Yunani Aretaeus dari Cappacdocia menulis deskripsi klasik diabetes tipe 1 sebagai “melelehkan daging dan anggota badan ke dalam air kencing”. Ini mengkaptur esensi fitur penyakit ini dalam bentuknya yang tidak diobati.

By: Dokter Jason Fung (How Diabetes became an Epidemic – T2D 10)

Ada urin eksesif, tapi juga membuang semua jaringan secara komplet. Penderita tidak bisa menambah berat badan apapun yang mereka makan. Dia berkomentar lebih jauh dengan mengatakan bahwa “hidup (dengan diabetes) berumur pendek, menjijikkan dan menyakitkan” karena tidak ada pengobatan yang efektif. Lovely.

Diabetes-menjadi-epidemi

Metode diagnosis klasik adalah mencicipi urin pasien karena pasien diabetes rasanya manis. Pada 1776 Matthew Dobson (1745-1784), dokter Inggris mengidentifikasi gula sebagai zat penyebab rasa manis dalam urin. Cara seperti itu sangat sulit untuk diketahui. Dia juga menduga bahwa manisnya darah (oh, that is sooo gross) juga karena gula.

Dia mengamati eskalasi pada pasien diabetes yang diobati dengan semua diet daging. Ini akan menjadi pengobatan diet pertama dari jenisnya. Sebaliknya, dokter Prancis Pierre Priorry (1794-1879) menyarankan penderita diabetes untuk mengonsumsi gula dalam jumlah besar untuk menggantikan yang hilang dalam urin. Seorang kolega diabetes yang cukup malang mengikuti saran ini meninggal dunia. Tak perlu dikatakan lagi, sejarah hanya menertawakan kebaikan Dr. Priorry.

Apollinaire Bouchardat (1806-1886) kadang-kadang disebut pendiri Diabetologi modern, menetapkan pola makannya sendiri berdasarkan observasinya bahwa kelaparan periodik selama perang 1870 Franco-Prusia mengakibatkan lebih sedikit glukosa dalam urin. Bukunya De la glycosurie ou diabète sucré, mendata makanan ‘terlarang’ seperti gula dan pati. Pada 1889, Joseph von Mering dan Oskar Minkowski akhirnya mengidentifikasi pankreas sebagai si organ pelaku kejahatannya.

Eksperimen menghilangkan seluruh pankreas dari anjing ternyata mengarah ke tanda dan gejala diabetes yang identik. Pada tahun 1910, Sir Edward Sharpey-Schafer mengusulkan bahwa hormon insulinlah yang bertanggung jawab. Kata insulin berasal dari insula Latin, yang berarti pulau karena hormon ini diproduksi di pulau Langerhans di pankreas.

Pada tahun 1910, Frederick Madison Allen (1879-1964) mengembangkan “pengobatan starvasi Allen” yang secara luas dianggap sebagai terapi diet terbaik hingga ditemukannya insulin. Diet ini sangat rendah kalori (1000 kalori per hari) dan sangat membatasi karbohidrat (<10g per hari).

Buku Mason “Studi Mengenai Glikosuria dan Diabetes” merevolusi perawatan diabetes. Pasien yang dirawat di rumah sakit diobati dengan wiski dan kopi hitam setiap dua jam dari jam 7 pagi hingga 7 malam. Ini terus dilakukan sampai gula menghilang dari urin. Mengapa whiskey? Nggak begitu jelas, sih, tetapi feeling saya, sih, pada saat itu, mereka berasumsi bahwa wiski bisa menyembuhkan hampir segalanya. Setidaknya itu membuat mereka tidak menelan apa pun kecuali wiski dan kopi.

Sementara penderita diabetes tipe 2 melakukannya dengan ekselen, pasien diabetes tipe 1 sering meninggal. Karena penyakit itu berakibat fatal, tetapi ini bukan tragedi. Justru, respon dari penderita diabetes tipe 2 adalah lonjakan prestasi yang menakjubkan, tidak seperti yang terlihat sebelumnya, dan Allen segera menjadi direktur penelitian diabetes di Rockefeller Institute. Dia dan Dr. Elliott Joslin dianggap spesialis diabetes terkemuka di era mereka. Apakah ini detik-detik di mana diabetes menjadi epidemi? Hold on! Sebentar dulu!

Dr. Joslin menulis pada tahun 1916, “Masa-masa kurang gizi yang bersifat temporer itu sangat membantu dalam perawatan diabetes yang mungkin akan diakui oleh semua orang setelah dua tahun melakukan puasa”. Frederick Banting, Charles Best dan orang lain (John MacLeod) membuat terobosan dengan menemukan insulin di Universitas Toronto pada tahun 1921.

Diabetes menjadi Epidemi? Kok, Bisa?

Mereka mengisolasi dan memurnikan insulin dari pankreas babi dan memberikannya kepada pasien pertama pada tahun 1922. Leonard Thompson, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun hanya 65 pound ketika ia mulai disuntik insulin. Gejala dan tanda-tandanya dengan cepat menghilang. Enam pasien lainnya diobati dengan hasil gigantis, keduanya mendapatkan impak yang kece badai. Hmm, sepertinya, di detik ini diabetes tidak diprediksi menjadi epidemi.

The lifespan atau umur perkiraan rata-rata pasien yang didiagnosis melambung dari 1,3 tahun menjadi 35 tahun! Eli Lilly and Company bermitra dengan Universitas Toronto yang lantas mengelaborasi produk secara komersial. Banting and Best mempatenkan secara gratis sehingga pasien di seluruh dunia dapat mewarisi manfaat.

Pada musim gugur 1923, 25.000 pasien diobati dengan menginjeksikan insulin. Banting dan MacLeod menerima Hadiah Nobel pada tahun 1923 untuk memperingati penemuan bersejarah mereka. Belakangan, Sir Frederick Sanger akan menerima Hadiah Nobel 1958 untuk karyanya yang menguraikan struktur asam amino insulin.

Euforia pun terjadi. Mereka tidak memperkirakan beberapa puluh tahun diabetes menjadi epidemi.

Dipercaya secara luas bahwa penyebab diabetes telah ditemukan dan penyembuhan sekarang udah eksis, dong.

Tes urine untuk glukosa disempurnakan. Jenis insulin baru dikembangkan. Penemuan Insulin benar-benar melampaui treatment diet dari abad sebelumnya. Tetapi secara eksplisit bahwa ada dua kelompok penderita diabetes.

Pada tahun 1936, Sir Harol Percival Himsworth (1905-1993) membagi penderita diabetes berdasarkan ‘sensitivitas insulin’. Pada 1948, Dr. Joslin berspekulasi bahwa banyak orang menderita diabetes yang tidak terdiagnosis dan bahwa insulin tidak dapat menyelesaikan semua masalah mereka.

Pada tahun 1959, dua jenis diabetes diakui secara resmi:

  1. Diabetes tipe 1 (pasien hidup dengan insulin)
  2. Dan tipe 2 pasien wafat jika diberikan insulin.

Dengan pemahaman lebih lanjut, nama-nama insulin-dependent and non-insulin dependent secara formal melandai pada tahun 2003. Sebelumnya, nama juvenile dan adultonset diabetes juga dipakai. Tetapi, sejak diabetes tipe 1 dapat terjadi pada orang dewasa dan diabetes tipe 2 semakin lazim pada anak-anak, klasifikasi ini juga telah disemayamkan.

Apa yang ironis adalah bahwa meskipun banyak pengetahuan yang terkumpul dalam dua abad terakhir, perdebatan tentang diabetes memburuk dibandingkan tahun 1816 (8). Pada tahun 1800-an, tipe 1, atau defisiensi insulin yang parah mendominasi gelanggang.

Meskipun tingkat fatalnya hampir seragam, kasus-kasus ini masih relatif jarang dan diabetes tidak termasuk top 10 penyebab kematian.

Kita percepat pada tahun 2016, dan diabetes tipe 1 hanya mencapai 10% dari total kasus. Kasus-kasus ini secara efisien diobati dengan insulin. Diabetes tipe 2 mendominasi dan berkembang menjadi proporsi epidemi. Hampir semua pasien ini berbadan tambun atau obesitas dan akan menderita komplikasi yang terkait dengan diabetes mereka.

Lebih buruk lagi, prevalensi diabetes tipe 2 adalah fenomena baru, yang terjadi hanya dalam 30 atau 40 tahun terakhir. Di Cina, prevalensi telah meroket dari kurang dari 1% pada tahun 1980 menjadi 11,6% pada tahun 2010. Itu lebih dari 1160% kenaikan dalam satu generasi. Baik jumlah total penderita diabetes dan persentase populasi (usia yang disesuaikan) merayap. Yang lebih rombeng adalah sepertinya tidak ada akhir yang terlihat. Masalahnya bukan hal sepele. Pada 2012, diperkirakan bahwa diabetes menelan biaya $245 miliar di Amerika Serikat karena biaya kesehatan direk dan hilangnya produktivitas (10). 14,3% orang dewasa AS dideteksi menderita diabetes tipe 2, tetapi kasusnya bahkan lebih buruk daripada kelihatannya. Sejumlah 38% populasi memiliki pradiabetes, sehingga total prediabetes + diabetes adalah 52,3%. Ini berarti bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada lebih banyak orang penyakitan dibandingkan yang enggak. Luar biasa. Bagian dari memuncaknya prevalensi dari fakta bahwa kita melihat diabetes tipe 2 dalam populasi yang lebih muda dan bahkan balita.

Klinik pediatrik, yang dulu merupakan satu-satunya domain diabetes tipe 1, sekarang dikuasai oleh epidemi pasien diabetes tipe 2—yang mayoritas mengalami obesitas. Ini adalah fenomena dunia. Di Jepang, 80% dari semua kasus baru diabetes adalah diabetes tipe 2.

Tapi pertanyaannya masih tetap MENGAPA? Mengapa kita tidak berdaya untuk mencegah terjadinya diabetes tipe 2? Mengapa kita nggak berdaya mencegah si diabetes ke kelompok usia anak? Mengapa kita tidak sanggup menyetop kebobrokan akibat diabetes tipe 2 di tubuh kita? Mengapa kita tidak mencegah serangan jantung, stroke, kebutaan, penyakit ginjal, dan amputasi yang menyertai diabetes tipe 2?

Lebih dari 3000 tahun setelah penemuannya, MENGAPA TIDAK ADA OBATNYA? Satu-satunya probabilitas adalah bahwa kita salah mengerti dasar penyakit yang disebut diabetes tipe 2. Kita harus menafsirkan pangkal masalahnya jika ingin sembuh. Dalam istilah medis, dinamakan etiologi. Apa etiologi diabetes tipe 2? Setelah kita memahami itu, kita dapat mulai mendesain treatment rasional yang memiliki peluang sukses.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *