Kanker

Kaitan antara Langsing, Kurus, Ramping, dan Kanker? Baca tentang Evolusi dan Kanker Konvergen (Kanker bagian 9)

Konsep evolusi berguna banget jika diaplikasikan pada kanker, karena ia ngebentuk paradigma pemahaman bahwa genetika sederhana sebenernya nggak cocok. Charles Darwin, yang mempelajari binatang di pulau-Galapagos-nan-indah merumuskan teori evolusi melalui seleksi alam yang revolusioner pada saat ia menerbitkannya dalam bukunya On the Origin of Species (1859).

Menurut legenda, ia memperhatikan bahwa bentuk dan ukuran paruh burung kutilang bervariasi tergantung sumber makanan.

Misalnya:

  1. Paruh panjang dan runcing perfek untuk menelan buah.
  2. Sedangkan paruh lebih pendek lebih baik untuk ‘mencaplok’ biji di tanah.

Dia beralasan bahwa ini bukan hanya kebetulan. Sebaliknya, ia mendalilkan bahwa ada proses seleksi alam yang terjadi di sini. Seperti halnya manusia, ada yang lebih cepak atau lebih semampai, berotot atau ramping, lebih gemuk atau lebih tipis, mata biru atau cokelat.

Dalam populasi burung, ada paruh yang lebih jenjang dan lebih mini, dan paruh yang lebih pipih dan lebih tebal. Jika basis makanan utama adalah buah, maka mereka yang memiliki paruh lebih bangir memiliki keunggulan bertahan hidup dan akan bereproduksi sering banget. Seiring waktu, mayoritas burung akan memiliki paruh runcing yang mancung. Sebaliknya terjadi jika basis pakan elementer adalah biji.

By: Dokter Jason Fung (Convergent Evolution and Cancer – Cancer 9)

Pada manusia, kita melihat bahwa orang-orang di Eropa utara cenderung memiliki kulit yang sangat putih, yang beradaptasi lebih kece pada dengan sinar matahari yang ‘letoi’ dibandingkan dengan kulit gelap orang Afrika asli.

Sementara ‘mutasi genetik’ adalah pencetus proximate frontal dari seleksi alam ini, tetapi, pada akhirnya, lingkunganlah yang memandu mutasi. Dengan kata lain, yang esensial bukanlah mutasi genetik spesifik yang nyebabin paruh runcing panjang, tetapi kondisi lingkungan yang berbuntut pada seleksi paruh runcing panjang.

Ada banyak mutasi divergen yang dapat melahirkan paruh panjang runcing yang sama, tetapi membuat katalog berbagai mutasi ini nggak mengarah pada pemahaman mengapa paruh ini bisa berbiak sedemikian liar dan subur. Jelas, itu bukan kumpulan acak dari mutasi yang mana berakibat eksisnya si bentuk paruh-panjang-nan-runcing.

Kisah tentang Darwin dan burung finch (yang mungkin merupakan tangers) mungkin benar atau mungkin tidak benar, tetapi ‘legenda’ itu menuntunnya untuk melihat lebih dekat pada model tiruan dari fenomena serupa. Alih-alih seleksi alam, ia mengaplikasikan seleksi palsu a.k.a artificial.

Merpati (sebenarnya Rock Doves) didomestikasi ribuan tahun yang lalu, tetapi pada tahun 1800-an ada peternak merpati yang telah membiakkan burung-burung ini, dia lantas membongkar-bongkar formasi tertentu. Jika seorang peternak mendambakan merpati yang ultra putih, ia akan breed together a.k.a dikawinkan dengan merpati yang mayoritas warnanya sangat terang atau light, dan akhirnya, ia akan dapet merpati putih.

Jika dia kebelet pengen satu dengan bulu raksasa di kepala, dia akan membiakkan burung bersama-sama dengan fitur yang dia inginkan dan akhirnya, sim salabim abrakadabra, jadilah si burung dengan kepala bulu besar.

Yang bikin kaget adalah desain seleksi buatan ini telah dimainkan sejak awal manusia hidup, since the dawn on humanity.

Jika Anda menginginkan sapi yang memproduksi susu berlimpah, you would breed together the most prolific milk, Anda akan mengembangbiakkan sapi yang menghasilkan susu paling produktif berulang kali selama beberapa generasi. Perolehan akhirnya, Anda mendapat sapi Holstein, dengan pola hitam dan putih yang sudah familiar.

Jika Anda ingin daging lezat (dengan banyak marbling), Anda akhirnya memilih daging sapi Angus. Dalam kasus ini, nggak ada seleksi alam, tetapi seleksi buatan, buatan manusia dengan tujuan dapet satu atau lebih dari satu sifat daging sapi atau burung yang di-pengen-in.

Bukan ‘mutasi acak’ yang melahirkan sapi Holstein, tetapi tekanan selektif berdasarkan produksi susu. ‘Mutasi’ yang mengeluarkan susu kian berjibun, dikembangkan bersama-sama, dan yang lainnya menjadi sup daging sapi. Namun, yang prinsipil, spesies yang berbeda ini nggak dihasilkan dari mutasi genetik, Sob.

This is a given.

Yang vital adalah apa yang menyetir mutasi menuju prestasi akhir. Jika kita memilih mereka yang memiliki lebih banyak penghasil susu, kita menggerakkan mutasi yang akseptabel untuk produksi susu.

Analogi yang lain, jika Anda memiliki lingkungan yang identik, Anda mungkin berhujung dengan mutasi serupa.

Konsep biologi ini dikenal sebagai evolusi konvergen. Dua spesies yang berbeda banget yang bertumbuh di lingkungan yang serupa pada akhirnya mungkin tampak seperti kembar. Contoh klasik adalah antara spesies di Australia dan Amerika Utara.

Mamalia di Amerika Utara secara genetik nggak ada kaitannya dengan marsupial—hewan berkantung misal Kanggguru—di Australia, tetapi lihat seberapa mirip satu sama lain. Dalam kedua kasus, tupai-terbang 100% lain banget, mereka independen, Sob.

Australia adalah sebuah pulau, benar-benar terpisah dari Amerika Utara, tetapi lingkungan yang sama menyebabkan tekanan selektif yang serupa dan pengembangan fitur yang sejenis. Jadi moles, serigala, trenggiling dll, punya rekan marsupial di benua lain.

Sekali lagi, tekanan selektiflah yang mendorong mutasi sehingga ia menjadi paling gagah dan bergeming.

Akan sangat tidak masuk akal nan absurd untuk mengatakan bahwa tupai-terbang berkembang dari 200 mutasi yang sepenuhnya acak pada gen tupai dan, hei, secara kebetulan hal yang persis sama terjadi di Australia. Kuncinya adalah menilik tekanan seleksi.

Hidup di antara tajuk/ kanopi pohon, membikin tupai punya benefit untuk sanggup menumbuhkan kemampuan sebagai maestro meluncur. Jadi, di Amerika Utara dan Australia, Anda bisa melihat tupai terbang yang kembar.

Namun, mutasi genetik spesifik yang membuahkan metamorphosis ini bertolak belakang banget. Mendeteksi tekanan lingkungan yang mendorong seleksi mutasi ini jauh lebih substansial.

Sekarang mari kita kembali ke kanker. Kita tau bahwa semua kanker berbagi fitur seragam, yang disebut Hallmark of Cancer (pertumbuhan yang tidak diatur, angiogenesis, dll). Meskipun Anda mungkin menderita satu kanker payudara dengan satu set mutasi, Anda memiliki set mutasi yang sama sekali berbeda yang terlihat persis sama dengan yang pertama.

Jelas ini adalah kasus mutasi konvergen.

Jika mutasi benar-benar acak, maka satu set mutasi mungkin memiliki pertumbuhan tak terbatas (kanker) di mana yang berikutnya mungkin bersinar dalam gelap. Nggak ada yang random tentang mutasi kanker karena mereka semua mengembangkan karakteristik yang identik.

Jadi pertanyaan logik bukanlah mutasi tertentu apa yang mendasari kanker, sampai ke rincian jalur menit onkogen tertentu. Ini adalah kemerosotan riset kanker. Everybody is focused on the nitty gritty of the particular gene. Semua orang fokus pada seluk-beluk gen definit. Semua penelitian berfokus pada mendeteksi kelainan genetik tanpa memahami apa yang menyaring mutasi tersebut.

Perang 45 tahun melawan kanker tidak menjadi apa-apa selain latihan raksasa dalam membuat katalog jutaan cara yang mungkin dilakukan mutasi gen.

Gen p53 terkait kanker yang paling terkenal, ditemukan pada tahun 1979. Ada 65.000 makalah ilmiah yang ditulis pada gen ini saja. Dengan biaya konservatif $100.000 per kertas (ini bisa jadi merupakan cara dengan biaya paling rendah), upaya riset ini secara fokus pada mutasi gen acak, dan spektakulernya, doski telah menelan biaya $6,5 miliar.

Holy Shittake Mushrooms.

Milyaran dengan 75 juta orang memiliki kanker terkait p53 sejak saat penemuan p53. Namun terlepas dari biaya yang sangat besar ini, baik dalam dolar dan penderitaan manusia, sialnya telah menghasilkan total nol besar pada treatment yang disetujui FDA berdasarkan pengetahuan super mahal ini.

Silakan banting pintu, Sob.

Saya bisa aja menumpahkan segunung cemoohan pada Teori Mutasi Somatik, tetapi ya udahlah ya, thank you, next.

Anyway, kita kehilangan hutan karena pohon. Kita melihat sangat dekat pada mutasi genetik tertentu, kita nggak mampu melihat mengapa gen ini bermutasi lantas menghasilkan kanker.

  • Lihat, pohon.
  • Lihat, pohon lain.
  • Lihat, pohon lainnya lagi.

Saya tidak mengerti ‘hutan’ apa sih yang selalu mereka bicarakan. Kuncinya adalah melihat apa yang sebenarnya mendorong mutasi itu, bukan mutasi itu sendiri.

What is causing cancer to become, well, cancer? Apa yang menyebabkan kanker menjadi kanker?

Ini benar-benar pertanyaan yang sama dengan melihat penyebab proximate versus tidak ultimate. Sel-sel kanker ini dipilih untuk bertahan hidup, padahal sebenarnya, mereka seharusnya mati.

Itu tidak bisa acak, karena banyak mutasi yang berbeda bertemu pada fenotipe yang sama. Yaitu—semua kanker mirip di permukaan, tetapi secara genetik, semuanya berbeda, sama seperti the marsupial flying squirrel tupai terbang berkantung sama sekali berbeda secara genetik dari yang mamalia, tetapi terlihat persis sama.

Melihat kanker melalui lensa evolusi mungkin merupakan cara yang paling membantu untuk melihat persepsi tentang itu. Kanker sebagai pertumbuhan yang tidak terkendali adalah Cancer Paradigm 1.0. Ini berlangsung hingga sekitar tahun 1960 atau 1970-an, ketika ledakan pengetahuan dalam biologi molekuler memaksa pandangan kanker menjadi genetik.



Kanker sebagai kumpulan mutasi acak yang nyebabin pertumbuhan tidak terkendali adalah Cancer Paradigm 2.0. Ini berlangsung dari tahun 1970-an hingga kira-kira 2010-an, meskipun masih ada beberapa diehard atau fans fanatik yang percaya sampai dengan hari ini.

Cancer Genome Atlas adalah pisau berdarah terakhir di perut teori mutasi somatik ini, mencabik-cabiknya dengan menyakitkan dan tidak dapat ditarik kembali sampai tidak ada ilmuwan serius yang dapat menggunakannya.

Sekarang, dengan lensa evolusi, kita mengupas bawang kebenaran satu lapisan lagi untuk melihat apa yang mendorong mutasi itu. Itulah Cancer Paradigm 3.0.

Ada sesuatu mendorong mutasi sehingga melejitkan pertumbuhan kanker yang nggak terkendali. Dia menjadi super powerful. Menjadi sangat semena-mena, Sob.

Jawaban untuk pertanyaan Darwin tentang ‘mengapa banyak burung memiliki paruh runcing’ bukanlah ‘mutasi genetik acak’.

Jawaban untuk pertanyaan Kanker tentang ‘Mengapa begitu banyak kanker memiliki sifat yang sama’ juga bukan ‘mutasi genetik acak’. Sesuatu memilih sel-sel ini untuk bertahan hidup. Sesuatu yang mengangkasa itu terlihat seperti kerusakan mitokondria dan kesehatan metabolisme.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *