Kanker

Adakah Kaitan antara Langsing, Ramping dan Kanker? Baca tentang Nutrisi versus Kanker (Kanker bagian 10)

Ketika menjadi jelas bahwa pengaruh lingkungan berkonsekuensi pada stadium kanker, tersangka nomor wahid adalah pola makan. Oleh karena itu, pertanyaan naturalnya adalah bagian spesifik dari hidangan apa sih yang bertanggung jawab?

Terdakwa spontan adalah lemak makanan.

Dari akhir 1970-an hingga 1990-an kita dicekam in a hysterical fat phobia a.k.a fobia lemak yang membikin histeris. Kita pikir lemak makanan menyulut semuanya menjadi tengik.

  • Lemak menyebabkan obesitas.
  • Lemak mengakibatkan kolesterol menjangkung.
  • Membenihkan penyakit jantung.
  • Mungkin mengundang bau mulut, rambut rontok, dan memuntahkan potongan kertas juga.

By: Dokter Jason Fung (Nutrition and Cancer – Cancer 10)


Tidak ada bukti aktual bahwa lemak makanan, yang telah dimakan manusia sejak, yah, kita menjadi manusia, sebenarnya adalah TIDAK baik-baik saja. Tapi itu nggak terlalu esensial, karena seluruh dunia sains ditilik dari lensa makan-lemak-itu-terkutuk.

Siapa yang butuh bukti jika Anda termakan dogma?

Semua hal rombeng gara-garanya adalah lemak makanan, jadi itu mungkin juga melahirkan kanker. Nggak ada yang 100% tahu mengapa lemak makanan harus membangkitkan kanker. Nggak ada yang pernah benar-benar memperhatikan bahwa orang yang makan banyak lemak menderita kanker. Tapi itu nggak masalah. Menyalahkan lemak untuk semuanya adalah nama games teranyar.

Jadi mainkan!

Berdasarkan kabar angin ini, National Institute of Health menenggelamkan jutaan dolar ke dalam percobaan kolosal untuk membuktikan bahwa lemak makanan memicu badan gemuk, serangan jantung dan kanker payudara juga. Women’s Health Initiative ini mendaftarkan hampir 50.000 wanita ke dalam uji coba terkontrol acak besar-besaran—the gold standard atau standar emas obat berbasis bukti. Cara kerjanya begini:

  1. Beberapa wanita diinstruksikan untuk mengikuti diet yang biasa mereka lakukan, dan.
  2. Kelompok lain akan mengurangi lemak makanan mereka hingga 20% dari kalori, juga porsi biji-bijian dan sayuran/ buah-buahan ditambah.

Selama 8,1 tahun berikutnya, para wanita ini dengan setia ngurangin lemak makanan dan asupan kalori keseluruhan mereka dengan keyakinan menggelora bahwa itu akan memangkas berat badan, penyakit jantung, dan kanker.

Apakah keyakinan mereka pada dokter dan peneliti mereka dijustifikasi? Ah, well, jawabannya tidak, tidak dan tidak.

Diterbitkan pada 2007, tidak ada penyusutan penyakit jantung. Berat badan mereka nggak bergeser. Dan fase kanker payudara mereka—yah itu juga nggak mendingan. Masih sama aja seperti dulu. Itu adalah kekalahan yang keren banget.

Jika memotong lemak makanan tidak meredam tingkat kanker payudara, maka itu adalah peluang yang cukup molek bahwa lemak makanan tidak mendatangkan kanker payudara. Melorotkan lemak makanan dan asupan kalori nggak ngehasilin manfaat yang terukur sama sekali.

Ini, satu-satunya uji coba terkontrol acak skala besar dari diet rendah lemak yang pernah dilakukan, yang mana adalah bencana. Benefit dari diet rendah lemak, jika ada, sangat kecil sehingga tidak terdeteksi. Ini secara langsung bertentangan dengan kepercayaan yang berdendang dari seluruh komunitas ilmiah.

Kita bisa:

  • Percayalah pada ilmu pengetahuan, wawasan yang mahal dan sulit ini bahwa membatasi lemak makanan nggak berfaedah.
  • Abaikan hasilnya, karena nggak setuju dengan prasangka pada gagasan kami sebelumnya.


Pemenangnya adalah #2. Jauh lebih simpel untuk tetap menggarap apa yang sudah biasa kita lakukan, bahkan jika itu sama sekali nggak ampuh. Bagaimana pun, mengubah habit itu sulit, Sob.



Orang-orang akan menjadi lebih sakit, tetapi hei, seenggaknya kita nggak perlu mempelajari sains nutrisi. Cukup kubur kepala kita di pasir dan sebut pelajaran krusial yang besar banget ini Berita Palsu.

Jadi, pemikiran selanjutnya adalah, bahwa mungkin kanker asal mulanya karena adanya kekurangan nutrisi daripada kelebihan nutrisi. Di sini, tatapan mendarat pada serat makanan.

Ahli bedah Irlandia legendaris Denis Burkitt menghabiskan sebagian besar karirnya di Afrika, di mana ia memonitor bahwa semua ‘penyakit peradaban’ jelas tidak ada dalam populasi asli Afrika. Ini termasuk kanker, yang jarang terjadi pada orang Afrika yang makan hidangan tradisional.

Orang Afrika melahap serat makanan dengan porsi membludak, jadi dia menyimpulkan bahwa serat makanan tinggi bisa mencegah kanker. Mengikuti alur pemikiran ini, ia menulis buku terlaris internasional, “Jangan lupa serat dalam diet Anda”.

Itu adalah hipotesis yang cukup koheren, tetapi tidak ada bukti pada saat itu untuk mengatakan apakah ini faktual. Jadi, sekali lagi jutaan dolar riset dikerahkan untuk nemuin jawabannya.

Apakah makan lebih banyak serat mencegah kanker usus besar adenoma (bentuk pra-ganas)?

Pada tahun 1999, analisis terhadap lebih dari 16.000 wanita dari Nurse’s Health Study selama 16 tahun tidak mengekspos korelasi antara jumlah serat yang mereka makan dan risiko adenoma. Tahun berikutnya, bukti pasti akan kesia-siaannya dipublikasikan di New England Journal of Medicine.

Sebuah uji coba terhadap 1303 pasien secara acak menugaskan pasien untuk mengonsumsi suplemen sereal serat atau tidak berserat, dan kemudian mengukur berapa banyak orang yang mengembangkan adenoma. Sayangnya, angka itu ternyata persis sama, apakah mereka mendapat serat ekstra atau tidak.


Ya, serat mungkin membuat buang air besar Anda lebih laju, tetapi tidak, mereka nggak  mencegah kanker. Darn.

Jadi, gimana dong dengan vitamin? Orang-orang menenggak suplemen vitamin dengan keyakinan bahwa makanan-olahan-modern kita kekurangan nutrisi esensial, yang membuat kita ambruk.

Asam folat adalah vitamin B yang diwajibkan untuk pertumbuhan multipel sel yang progresif nan brutal. Suplementasi dengan asam folat telah ngurangin insiden cacat tabung saraf secara signifikan. Mungkin itu bisa memangkas derajat kanker juga.

Pada awal 2000-an, ada gelombang antusiasme yang akbar untuk suplemen vitamin B. Kadar homocysteine dalam darah berkorelasi dengan multipel penyakit, dan ternyata vitamin B dosis tinggi dapat memangkas kadar homocysteine. Sayangnya, seperti yang kita ketahui kemudian, ini nggak akan memiliki efek profitabel karena homocysteine hanya penanda penyakit dan bukan kausal. Ini jelas bukan hal esensial.

Apakah suplemen asam folat meredam kanker usus besar?

Uji coba terkontrol secara acak, suplementasi asam folat untuk pasien berisiko semampai, muncul dengan jawaban menyentak. Shockingly bad, that is. Sayangnya, si hasil sangat buruk, Sob. Tidak ada efek protektif ketika ‘menenggak’ suplemen asam folat.

Lebih lanjut, tampaknya malah menumbuhkan risiko kanker stadium lanjut, dan juga meluaskan kaliber adenoma. Yowzers! Di sini para peneliti berusaha mencegah kanker, dan sebaliknya mereka malah memberi pasien kanker menjadi lebih terkena kanker.

Ini mencakup hal yang lebih buruk lagi tapi memang belum datang.

Pada tahun 2009 uji coba NORVIT untuk asam folat dosis luks dan suplementasi Vitamin B juga mensinyalir kanker LEBIH melimpah, bukannya malah mengempis. Ada 21% eskalasi kanker dan 38% penambahan kematian akibat kanker. Yowzers ganda! Tentu saja, dengan melihat ke belakang, ini masuk akal banget. Sel-sel kanker bereproduksi dengan kecepatan spektakuler. Ini ngebutuhin segala macam faktor pertumbuhan dan nutrisi untuk ‘berkecambah’.

Dengan gizi melimpah, sel-sel kanker yang tumbuh gancang paling mampu memanfaatkannya. Ini seperti menaburkan pupuk ke ladang kosong. Anda ingin rumput, tetapi gulma (menjadi tanaman yang tumbuh paling ekspres) adalah orang-orang yang mengembat nutrisi dan tumbuh seperti, yah, gulma. Sel kanker sangat aktif dan bersemi seperti, yah, gulma.

Gimana dengan beta karoten dan vitamin E?

Nutrisi ini memberi wortel warna oranye dan mungkin suplemen ini akan bekerja untuk menendang kanker karena efek anti-oksidannya. Vitamin E adalah yang paling populer di tahun 1990-an karena alasan yang egaliter, dan suplemen dosis canggih seharusnya menyembuhkan kanker.

Studi epidemiologis (studi observasi—salah satu studi yang paling berbahaya dan rawan kesalahan dalam pengobatan) menunjukkan bahwa diet tinggi makanan ini dikaitkan dengan kesehatan yang lebih baik. Mungkin suplemen akan membantu.

Sayangnya, ternyata nggak sesuai harapan tuh.

Sebuah studi acak pada tahun 1994 menunjukkan bahwa tidak satu pun agen mampu menurunkan tingkat kanker atau kematian. Beta karoten tidak hanya tidak mencegah kanker, tetapi juga meningkatkan tingkat kanker dan kematian.

Memberikan sel-sel kanker vitamin yang dibutuhkan untuk tingkat pertumbuhan yang tinggi ternyata bukan ide yang baik. Kita tidak menyelamatkan pasien, kita membunuh mereka! Triple yowzers!

Ini berasal dari fakta sederhana bahwa kanker bukanlah penyakit kekurangan gizi seperti penyakit kudis. Penyakit kudis adalah penyakit kekurangan vitamin C, jadi memberikan vitamin C sanggup menyembuhkannya. Kanker bukanlah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin, jadi suplemen vitamin tidak terlalu membantu.

Jadi, inilah yang tersisa.

  1. Diet memainkan peran besar dalam kanker.
  2. Kanker tidak disebabkan oleh terlalu banyak lemak makanan.
  3. Kanker tidak disebabkan oleh kekurangan serat makanan.
  4. Kanker tidak disebabkan oleh kekurangan vitamin.
  5. Kanker sangat terkait dengan obesitas.

Walaupun kedengarannya sepele, 5 bit pengetahuan ini membutuhkan, secara harfiah, ratusan juta dolar uang penelitian, tersebar selama 25 tahun untuk ditemukan. Fakta ke-5 hanya mendapatkan pengakuan dalam beberapa tahun terakhir.



Baru-baru ini, CDC merilis laporan “Tren Insidensi Kanker yang Berhubungan Dengan Kegemukan dan Obesitas—Amerika Serikat, 2005-2014″ menyoroti fakta bahwa setidaknya 13 kanker terkait, dan ini menyumbang 40% dari semua kanker yang didiagnosis pada 2014
Ini terdiri dari 55% kanker pada wanita, dan 24% pada pria. Lebih buruk lagi, kejadian kanker terkait obesitas ini melambung dengan gesit.

Kenaikan berat badan orang dewasa hanya 5kg (11 pon) meninggikan risiko kanker payudara sebesar 11%. Apa artinya semua ini adalah bahwa kanker belum tentu merupakan penyakit vitamin atau makronutrien spesifik (karbohidrat vs protein vs lemak).

Lebih umum, kanker berkaitan dengan metabolisme secara keseluruhan. Kanker adalah penyakit metabolisme di hati. Dua gen yang paling sering bermutasi pada kanker manusia, p53 dan PTEN sekarang diakui berhubungan erat dengan sinyal dalam metabolisme sel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *