AutofagyautophagyKurusLangsing

Langsing Permanen, Mau? Baca tentang Autophagy

Demi langsing, kurus, singset, sehat, pada umumnya, orang-orang rela merogoh kocek sedalam palung samudera, bahkan tak segan pake metode pay later jika sedang nangadong hepeng atau kondisi finansial sedang sekarat.

Mengapa sampai terobsesi langsing sedemikian rupa? Salah satu faedah jika Anda telah menjadi langsing, cha ching cha ching alias pundi-pundi rupiah Anda juga akan menggemuk—ini berlaku terutama bagi para breadwinners atau para pencari nafkah, nevertheless, jika Anda tidak mempunyai tanggung jawab segadang itu pun, banyak benefit lain yang bisa Anda petik, misalnya Anda tidak insecure ketika berhadapan dengan seseorang yang tampak lebih good looking. Itu sekedar contoh.

Anyway….

Kali ini, saya akan mengulang-ulang lagi kalimatnya sampai Anda bosan, jadi, mengapa langsing bisa membuat kita memulung uang lebih banyak? Karena Anda lebih fokus dan yakin ketika melakukan apa pun. Juga, ini menyangkut self confidence atau kepercayaan diri. Demi jelasnya, mari kita breakdown, apa saja manfaat yang Anda pegang erat-erat, jika Anda sanggup melangsing dan sehat:

  1. Fungsi organ tubuh Anda ciamik, akibatnya, Anda lebih bisa berhemat untuk biaya perawatan dokter. Apalagi jika Anda freelancer, yang mana biaya asuransi kesehatan tidak ditanggung oleh kantor. Jika Anda sakit lagi lagi dan lagi, gimana Anda bisa produktif?
  2. Pakaian Anda ketika berumur 17 tahun bisa dipakai lagi dong, kan asik. Ini namanya memangkas pengeluaran.
  3. Orang langsing lebih menarik.
  4. Langsing cenderung berkonotasi dengan orang berusia muda. Feeling di hati rasanya melambung lho, kalo Anda dipanggil kakak saat di department store, padahal faktanya Anda sudah 45 tahun.
  5. Coba sekarang perhatikan foto-foto di buku catatan akhir sekolah Anda, para selebritas sekolah yang berkulit-mulus-halus-kinclong-seperti-gelas-super-mahal-yang-berharga-satu-miliar-seperti-merek-Acqua di Cristallo Tributo a Modigliani  itu, dan berbadan semampai itu kini telah berubah menjadi penampakan, “Om Om Gadun” atau “Mbokde… budhe, uwak, alias bibi a.k.a halmoni (bahasa Korea). Anda nggak mau seperti itu kan? Keinginan terdalam Anda ingin tetap cantik tampan aduhai ‘menggemaskan’ kan?
  6. Tidak capek bawa badan.
  7. Tidak tertukar dengan babi bulat…
  8. Dan lain-lain sebagainya… silakan tambah sendiri.

Tetapi, problematika super-besar-dari-yang-terbesar untuk menjadi langsing adalah, untuk mencapai impian langsing singset eplok cendol  dan sehat senantiasa itu, pastinya bukan perkara semudah membuang kertas. Bahkan, jika pun Anda telah berhasil melangsing, itu tidak bertahan lama. Jadi percuma saja kan, Sob, jika hasilnya tidak permanen?

Iya… itu karena Anda tidak tahu dasar ilmunya.

Setelah sekian trilyun uang Anda gelontorkan untuk impian Anda itu, ternyata Anda mengalami hal yang 70% manusia rasakan yaitu sindrom diet yoyo atau kembali menggemuk lagi, bahkan lebih bulat dibandingkan pertama kali Anda nyemplung ke dunia pelangsingan badan. Bisa jadi Anda ingin mencangkul tanah jika demikian? Kesal luar biasa, bukan?

Nah, langsung saja, apakah dasar dari melangsing itu sendiri?

Berdasarkan peraih nobel ahli biologi yang meriset tentang sel dan anti penuaan—Oshinori Ohsumi—berkata seperti ini, “ngapain sih Anda repot-repot, Anda itu sudah punya mesin super pintar dalam tubuh Anda, hanya saja, Anda memang harus mengaktifkan si mesin brilian ini.”

Langsing versus autophagy
Sumber Gambar

Nama metode yang Ohsumi maksud adalah autofagy atau autophagi. Apaan tuh? Dia semacem housekeeper yang tugasnya adalah bersih-bersih, atau ‘mengunyah’ sel yang sudah tidak berfaedah atau sel yang udah tua bangka, dan menggantinya dengan sel paling gres. Kece kan? Di blog ini saya sudah berulang kali menjelaskan tentang hal itu, tapi kali ini saya ulang kembali.

Disclaimer: seperti biasa, postingan ini akan lebih berat pembahasannya, tapi, jika saya berikan rincian yang paripurna, saya yakin kedepannya Anda tidak akan gagal paham.

Mari kembali ke bahasan semula.

Autophagy—proses pembersihan sel, akan langsung on, karena sebagai cara untuk merespons beberapa jenis stres metabolik, yaitu:

  1. Kekurangan nutrisi.
  2. Penipisan faktor pertumbuhan.
  3. Hipoksia (kurang oksigen pada sel dan jaringan tubuh).

Jadi jangan salah ya, saat SEL TUBUH Anda ‘frustasi’ sedikit, ini malah menguntungkan, karena membuat tubuh menjadi lebih muda. Ekstrimnya, bahkan jika sirkulasi pada tubuh tidak memadai, setiap sel dapat memecah bagian sub-seluler dan mendaur ulangnya menjadi protein atau energi baru yang diperlukan untuk bertahan hidup. Ini superb sekali, saudara-saudara.

Nah, inilah penjelasan sahihnya, mengapa mTOR dan autophagy selalu terlihat di setiap organisme, baik setingkat ragi hingga manusia.

Studi tentang mutasi hewan yang bervariasi seperti ragi, jamur lendir, tanaman dan tikus menunjukkan bahwa penghapusan gen terkait autophagy (ATG) pada hewan, mayoritas disebabkan karena udah nggak sesuai lagi. Artinya, sebagian besar kehidupan di bumi nggak bisa bertahan tanpa autofagi.

Bisa nggak dibedah lebih detail lagi gimana mekanismenya? Oh tentu bisa. Jadi gini, regulator utama ATG adalah asam amino dan insulin melalui mTOR. Ini juga merupakan dua dari sensor-nutrisi kita yang paling basic. Jadi:

  1. Ketika kita makan karbohidrat, insulin menanjak.
  2. Ketika kita makan protein, baik insulin dan mTOR juga ikut naik.

Ketika sensor nutrisi kedip-kedip pertanda dia menyala, dia akan memberi sinyal pada tubuh kita untuk tumbuh lebih besar, bukan untuk menjadi lebih kecil. Dengan demikian sensor nutrisi menendang autophagy, terutama membunuh proses katabolik (pemecahan) yang mana bertentangan dengan proses anabolik (penimbunan). Namun, ada autofagi basal tingkat rendah yang terjadi setiap saat (ingat lho, tapi ini levelnya rendah aja), karena ia bertindak sebagai semacam mbak-asisten-pembantu-rumah-tangga-seluler yang kerjanya harian.

Jadi sekali lagi, di bawah inilah peran utama autophagy, yaitu:

  1. Menghapus protein dan organel yang bobrok nan rusak.
  2. Mencegah akumulasi agregat protein abnormal.
  3. Membuang patogen intraseluler.

Mekanisme ini terlibat dalam banyak penyakit yang terkait penuaan—aterosklerosis, kanker, penyakit Alzheimer, penyakit neurodegeneratif (Parkinson). Mengapa demikian? Ini berkat adanya layanan dasar pada sel, yang mana ngasih kontrol kualitas pada protein dalam tubuh kita.

Tikus yang secara genetik bermutasi stok autophagy atau ATGs-nya sedikit aja, sehingga ia mengembangkan sejenis protein yang lebay di dalam sel. Ada terlalu banyak protein di dalamnya, Sob. Baik protein rusak maupun protein yang baik-baik saja.

Ini seperti sampah yang Anda timbun di gudang dekat dapur Anda. Jika Anda memiliki furnitur lama yang sudah nggak karu-karuan, Anda mungkin harus membuangnya. Jika Anda masih aja menyimpannya, rumah Anda akan terlihat seperti Bantar Gebang.

Ada proses terkait yang disebut mitofagi untuk memusnahkan organel abnormal (mitokondria, maksudnya).

Pada kanker, prinsip yang dapat diterima secara umum bahwa autophagy dapat menekan inisiasi tumor. Tumor nggak akan berkelanjutan, karena baru aja dia akan berbentuk tunas sudah akan dihempas. Ini jadi ultra logis, kan? Karena autophagy memblokir pertumbuhan dan ningkatin pemecahan protein.

Sebentar, Sarah. Tadi kita membahas langsing, mengapa sekarang jadi kanker? Karena keduanya saling berkaitan, Ladies and Gentlemen!

Contohnya adalah sel-sel kanker yang tadi itu, mereka punya tingkat autofagi yang lebih cetek dibanding sel-sel normal. Banyak onkogen dan gen penekan tumor yang telah diriset ternyata terkait erat dengan autophagy. Misalnya, PTEN yang merupakan gen penekan tumor yang mana menghambat PI3K/ Akt— doski sanggup menekan tumor.

Mutasi pada PTEN, ternyata ditemukan pada kanker, sehingga menyebabkan tingkat autophagy yang lebih dangkal dan mengangkasanya risiko kanker.

Namun, itu tetap saja, autophagy adalah pedang bermata dua. Ketika kanker merajalela, autophagy malah dapat membantu kelangsungan hidup kanker, ia justru membantu semua sel bertahan dalam lingkungan yang penuh tekanan. Selama masa kurang gizi, autophagy memecah protein untuk asam amino, yang dapat digunakan untuk energi.

Kanker, yang mana punya kemampuan dasar tumbuh begitu kilat sehingga sanggup memenuhi suplai darahnya sendiri, trus, kekuatannya digandakan akibat dibantu adanya peningkatan autophagy, oleh karena itu akan memasok energi yang sangat dibutuhkan dan juga sanggup mengatasi stres. Jadilah si kanker ini sekuat Thanos dalam film Avengers.

Langsing itu bagai bertarung antara Captain Amerika melawan Thanos
Sumber Gambar

Bidang lain yang sangat seksi untuk dipelajadi terkait autophagy dan langsing-melangsing adalah penyakit neurodegeneratif misal, penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, dan Huntington’s chorea.

Emang sih, kesimpulan temporer pada semua penyakit di atas bermanifestasi secara berbeda:

  1. Alzheimer dengan kehilangan ingatan dan perubahan kognitif lainnya.
  2. Parkinson dengan kehilangan gerakan sukarela dan tremor istirahat.
  3. Huntington dengan gerakan tidak sadar.

Tetapi, Sob, mereka semua memiliki satu kesamaan patologis, lho. Apakah persamaannya? Ditandai dengan adanya penumpukan protein yang tumpah-tumpah di dalam neuron, yang pada akhirnya mengakibatkan disfungsi, atau fungsi organ tersebut tidak berjalan normal, yang akibatnya jadi penyakit, deh.

Mau langsing ah, gimana dong caranya? Trus, mau tau juga gimana dong untuk mencegah penyakit ini? Mau nggak mau jalur degradasi protein harus dipotong. Namun sayangnya, peran yang pasti dan absolut autophagy pada penyakit ini masih juga belum ketemu.

Tapi tenang saja, seiring berjalannya waktu, maka, penelitian pun berkembang, yang implikasinya adalah ditemukan segelitir kabar bagus, bahwa penyakit neurogeneratif ini bisa merajalela karena adanya gagal fungsi pada mitokondria yang mana merupakan jalur vital. Meski tetap saja, studi pada manusia sulit dilakukan karena adanya jalur berpotongan ganda.

Bukti paling transparan biasanya berasal dari obat-obatan di mana jalur tunggal dapat diubah kapan pun.

Obat yang sifatnya memblokade atau inhibitor mTOR misalnya rapamycin, everolimus, bisa menghidupkan autophagy dan membendung mTOR.

Apa itu mTOR?

Lompat ke beberapa paragraf sebelumnya. Jadi doi adalah sensor nutrisi, asam amino adalah pemicu yang paling sensitif. Membuat si mTOR mudah terbangun. Jadi jika Anda memakan protein, maka mTOR merayap naik, dan jalur pertumbuhan dibiarkan ON atau menyala. Sementara itu jika nggak ada makanan yang masuk mTOR drop, dan autophagy naik. Rapamycin mengekang mTOR, membodohi tubuh dengan berasumsi bahwa nggak ada makanan masuk, dan ini ngasih power pada si autophagy.

Tapi, sesungguhnya fungsi esensial dari obat-obatan ini adalah memberikan efek ‘pemencet’ kekebalan dalam pengobatan transplantasi. Spektakulernya, mayoritas obat penekan kekebalan di dunia ini akan membuat risiko kanker melambung, dan sebaliknya, rapamycin nggak beroperasi seperti itu lho.


Hal yang lebih menggemparkan lainnya, pada kasus kanker langka tertentu, inhibitor mTOR telah mengekspos impresi anti kanker. Dengan kata lain, BISA JADI, mr. R bisa dijadikan sebagai obat penangkal kanker.

Ada obat lain yang bekerja brilian yaitu metformin. Mr. M ini banyak ditelan oleh penderita diabetes tipe 2, cara kerjanya sama-sama mengaktifkan autophagy tetapi tidak melalui mTOR.  

David A. Sinclair, Ph.D., A.O. yaitu Professor dari Department of Genetics and co-Director of the Paul F. Glenn Center untuk Biologi anti penuaan di Harvard Medical School, telah menjelaskan hal ini, yang mana di kesehariannya, ia selalu mengonsumsi Metformin sehari 1 gram meskipun ia tidak menderita diabetes.

Tetapi, bukan berarti saya menganjurkan hal ini kepada Anda, tetap Anda harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter Anda.

Metformin melonjakkan AMPK, sebuah molekul yang memberi sinyal status energi sel. Jika AMPK tinggi, sel tahu bahwa energinya nggak cukup, oleh karena itu akan meningkatkan autophagy. AMPK merasakan rasio ADP/ ATP, sehingga mengetahui level energi seluler—semacam pengukur bahan bakar tetapi secara terbalik.

Jika AMPK tinggi, maka status enerhi seluler cetek aja. Tingkat AMPK yang tinggi secara langsung dan tidak langsung mengaktifkan autophagy, tetapi juga produksi mitokondria.

Perhatikan bagaimana mTOR adalah sensor nutrisi paling sentral yang menguasai autophagy. mTOR mengintegrasikan sinyal dari insulin, nutrisi (asam amino atau protein makanan) dan pengukur bahan bakar sel, AMPK (semua energi termasuk lemak) untuk menentukan apakah sel harus membelah dan tumbuh, atau melibatkan dan menjadi tidak aktif.

Kelebihan nutrisi—bukan hanya karbohidrat, tetapi semua nutrisi dapat merangsang sistem mTOR dan dengan demikian mematikan autophagy, menjadikan tubuh dalam mode pertumbuhan. Ini mendorong pertumbuhan sel, yang mana, seperti akan saya ulangi berkali-kali, biasanya malah nggak baik jika terjadi pada orang dewasa.

Untuk organisme bersel tunggal, misalnya ragi, jika nggak ada nutrisi yang cukup, mereka hanya akan melaju ke tahap dormant atau istirahat sejenak. Mereka akan mengering menjadi spora jika tidak ada makanan. Tetapi, apabila spora dikucuri air, ia akan mekar dan bertumbuh. Jadi ragi atau jamur misal merek Fermipan yang Anda beli itu, pasti dalam kondisi kering dan sedang bobok. Jika kita menaburkannya ke dalam adonan roti, fermipan akan tumbuh seperti ragi aktif dan berlenggak-lenggok menjalankan tugasnya dengan cekatan. Jelas di sini bahwa jamur akan tumbuh jika ada cukup nutrisi dan air.

Sementara itu, pada organisme multi sel, segalanya agak sedikit lebih rumit. Untuk menyelaraskan ketersediaan nutrisi dan sinyal untuk tumbuh atau nggak usah tumbuh, tidak semudah menengok ke samping tenggara.

Katakanlah binatang dianalogikan sebagai manusia. Manusia telah didesain untuk sanggup hidup berhari-hari atau berminggu-minggu tanpa makanan. Lah, gimana dong caranya biar bisa survive? Sebagai pengganti makan, manusia akan mendapatkan energi dari ‘gudang’ alias lemak tubuh. Manusia akan membakar persediaan lemak tubuhnya sendiri.

Jadi inilah tiga pilar utama sensor nutrisi bagaimana lemak ditimbun adalah:

  • mTOR—peka terhadap protein makanan.           
  • AMPK—alat pengukur bahan bakar terbalik dari sel.
  • Insulin—sensitif terhadap protein dan karbohidrat.

Nah inilah bagian paling tampannya, jika sensor nutrisi di atas nggak mendeteksi adanya makanan, mereka segera ngasih tau sel-sel tubuh untuk berhenti tumbuh, dan menyetop si tubuh untuk memecah bagian-bagian yang nggak penting—ini adalah mekanisme bersih-bersih dari autofagy/ autophagy.

Camkan ini karena ini adalah bagian paling kritikal. Jika seseorang terserang penyakit pertumbuhan berlebihan, maka cara mengurangi pensinyalan pertumbuhan adalah dengan mengaktifkan tiga sensor nutrisi di atas tadi.

Apakah jenis penyakit pertumbuhan berlebihan itu? Inilah daftarnya:

  1. Obesitas.
  2. Diabetes tipe 2.
  3. Alzheimer.
  4. Kanker.
  5. Aterosklerosis (serangan jantung dan stroke).
  6. Sindrom ovarium polikistik.
  7. Penyakit ginjal polikistik.
  8. Penyakit hati berlemak.

Kabar ultra menyenangkannya, seluruh penyakit di atas bisa disembuhkan tanpa obat. Bonus lainnya, Anda langsing permanen. Jadi, gimana supaya nggak mengulang pola diet yoyo lagi? Pahami mekanisme autofagy/ autophagy, dan terapkan dalam keseharianmu, misal melakukan puasa intermittent. Bagaimana caranya? Saya akan jelaskan di postingan berikutnya. Namun, jika Anda mau, Anda bisa search atau klik pencarian di blog ini.

2 thoughts on “Langsing Permanen, Mau? Baca tentang Autophagy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *