Tips Cantik

Skincare Pemutih Hydroquinon. By Dermatologist

Skincare-Pemutih-Hydroquinon-By-Dermatologist

Skincare pemutih hydroquinon? Ih seram! Tapi benarkah begitu? Bagaimana jika, kali ini, kita membedah mitos yang beredar, dipandu langsung oleh dermatologist atau dokter kulit dari Amerika.

Jadi begini ceritanya.

Selama ini. Jika sepupuku yang apoteker itu. Ngasih saran untuk membeli hydroquinone untuk membasmi bintik hitam dan melasma. Aku akan mengernyitkan dahi. Aku membatin, “gila kali ye. hydroquinone kan nggak baik.”

Si H dan Merkuri adalah barang ‘haram’.

Terlarang hukumnya untuk menyentuh wajahku. Suatu ketika. Aku udah nggak tahan lagi. Aku sangat-super-duper kepo dengan sarannya. Oleh karena itu, aku pun speak up. “Gimana sih mbak, kasih masukan kok parah. Hydroquinone brutal lho efeknya.”

Dia menjawab, “sok tau kamu. Kata siapa hydroquinone bahaya? Bahaya lah kalo kamu belinya di luar apotik. Belinya di tempat yang bener dong, nih aku kasih resep.” Akhirnya, aku dapet resep untuk membeli hydroquinone dan tretinoin (vitamin A).

In the end of the day, here I am. Bebas dari si noda hitam.

Masalahnya. Aku udah di ambang putus asa. Dia selalu nempel tak mau pergi. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk menghilangkan si sun spot itu. Dengan cara:

  1. Laser.
  2. BB Glow.
  3. Krim racikan dokter.

Aku jadi pelanggan-setia-dokter-kulit dari lulus kuliah. Sudah lama sekali. Sejak ratusan tahun yang lalu. Lol.

Tapi, efek dari krim mereka tidak permanen. Jika aku berhenti memakai krim itu, maka si hitam menjengkelkan itu berkunjung lagi.

Kondisi semakin parah. Yaitu, ketika aku ingin kulitku berwarna cokelat. Karena kebelet banget pengen meng-gelap, kala itu, aku sering menjelajah dari satu pulau ke pulau lain. Sanghiang. Dolphin. Pari. Dll. Aku SENGAJA berjemur. I want to get tan very badly. Ingin berwarna. Enggak mau pucat. Sangat kepengen.

Tetapi, hasilnya si bintik malah makin berkoloni. Kok aku jadi macam budhebudhe gini, sih? Tua sekali penampakan aku saat itu. Kok wajahku jadi penuh flek gini?

Nah, kali ini. Kita akan membahas, mengapa hydroquinone telah disalahpahami selama ini.

Karena aku bukan apoteker—memang sempat kuliah farmasi, tapi tidak lanjut sampe apoteker—, bukan pula dokter kulit atau scientiest, maka, aku memutuskan untuk menerjemahkan penjelasan dermatologist atau dokter kulit dari Amerika yaitu dokter Dray. Kamu bisa cek vlog versi aslinya di sini.

Cekidot.

Apakah Skincare Pemutih Hydroquinon Aman?

Sebagai dokter kulit, saya selalu mendapat pertanyaan itu. Saya memakai hydroquinone juga, kok. Tujuannya, untuk memudarkan bintik-bintik hitam di punggung. Namun, sebelum menjawab apakah hydroquinone aman untuk dioleskan ke kulit manusia. Izinkan saya menjelaskan sejarah dari hydroquinone.

Sejarah Hydroquinone

Hydroquinone adalah krim yang sudah lama eksis. Dikenal perdana sebagai agen-pemutih-kulit sekitar tahun 1936. Namun, pertama kali digunakan pada tahun 1950. Yaitu:

  1. Sebagai resep dokter.
  2. Dijual bebas.

Lalu riset pertama kali pada tahun 1961, melalui uji coba terkontrol secara acak. Studi yang dilakukan dengan destinasi apakah benar dia bisa:

  1. Menghilangkan melasma.
  2. Melenyapkan bintik hitam akibat post inflammatory hyperpigmentation, salah satunya noda bekas jerawat.

Dan hasil penelitian mengatakan bahwa, dia memang terbukti ampuh sebagai pemutih topikal.


Skincare-Pemutih-Hydroquinon-By-Dermatologist
Sumber gambar: shoppee

Karena mister H sudah ada sekian lama di sekitar kita, maka, Amerika serikat memiliki two safety records atau dua catatan keamanan hydroquinone. Saya, sih, merasa sangat nyaman dengan fakta itu.

Tetapi kekhawatiran timbul dari negara lain, karena tidak dijual bebas di sana.

Apakah Skincare Pemutih Hydroquinon Tidak Bahaya Jika Diserap oleh Tubuh?

Ya memang, berdasarkan studi dari FDA, penyerapan hydroquinone kisaran 10-11%, di suatu tempat nun jauh di sana, di luar Amerika. Bisa jadi itu berbahaya.

Lalu Jika Memang Diserap oleh Tubuh dan Berbahaya, Mengapa Anda Sebagai Dermatologis Tetap Merasa Aman meresepkan Krim Hydroquinone?

Anda harus tau tentang riset itu. Kutipan itu berasal dari mana. Intinya adalah, Anda harus teliti.

Jadi begini lho. Penyerapan krim hydroquinone itu sangat bergantung dari kendaraan apa yang dipakai. Si pembawa ini sangat menentukan, sejauh mana hydroquinone diserap tubuh. Di studi itu disebutkan bahwa instrumen yang dipakai adalah etanol. Ini menyebabkan penyerapan sistemik yang jauh lebih tinggi daripada ‘mobil’ non etanol. Oleh karena itu, di Amerika Serikat, hydroquinone + etanol sangat-sangat dilarang. Di Amerika, Anda tidak akan menemukan satu pun—produk yang dijual bebas—dengan komposisi seperti itu.

Jadi perhatikan hal itu. Apa base dari hydroquinone yang dijual di negara Anda. Jika mengandung etanol. Jangan dibeli.

Fakta lainnya adalah, setelah mengoleskan hydroquinone, ternyata,  pink plasma concentrations, sesungguhnya sangat rendah di dalam tubuh. Artinya, tubuh kita punya kemampuan cukup gesit nan tajam, untuk menangani hydroquinone. Lagi pula, mister H kuantitasnya sudah meruah. Bisa ditemukan di dalam makanan alami kok.

Mengapa Sesungguhnya Kita Telah Memakan dan Meminum Hydroquinone dengan Tidak Sadar?

Sebelum saya menjawab hal itu, saya berikan penjelasan dulu tentang hal di atas. Jadi, misalnya krim hydroquinone 2%, akan mencapai konsentrasi plasma puncak sekitar 0,04 mikrogram ekuivalen per liter.

Mungkin, hydroquinone di pasaran sedikit lebih tinggi dari 2%, tetapi keduanya bisa diabaikan saja. Mengapa? Selama ini, kita telah mengonsumi hydroquinone dari makanan sehari-hari. Mister H, sudah tersedia dengan melimpah dan bergelimpangan di hidangan kita. Misalnya:

  1. Setengah cangkir teh mengandung empat belas mikrogram hydroquinone.
  2. Secangkir kopi mengandung sekitar 31 mikrogram hydroquinone.
  3. Roti gandum juga mengandung hydroquinone.
  4. Buah pear memiliki lebih dari 637 mikrogram hydroquinone.

Jika memang hydroquinone begitu membunuh. Anda pasti kaget begitu tau berapa banyak saya minum kopi. Kalian nggak penasaran mengapa saya masih hidup? Saya minum kopi lebih dari setengah cangkir selama puluhan tahun dari 99% hidup saya. Dan buah pear adalah makanan pertama yang diberikan pada bayi. Dan pear memiliki masa transisi yang baik, tuh. Pear tidak membuat bayi mati.

Jadi, dari mayoritas hidup saya, saya sepertinya mengisinya dengan minum kopi dan makan buah pear dengan kuantitas yang cukup hiper. Dan saya yakin, orang di luar sana juga melakukan hal yang sama.

Percaya atau tidak. Makanan yang kita telan, tidak hanya tinggi derajat hydroquinonenya, tetapi juga mengandung alpha arbutin dalam jumlah melimpah. Jadi, tubuh kita sesungguhnya sudah dipersenjatai dengan abiliti menangani kedua jenis bahan pemutih itu dengan sangat apik.

Alpha arbutin hampir sama seperti prekusor hydroquinone. Itu adalah tipe hydroquinone yang berasal dari tumbuhan. Dan di lambung kita, yang mana sangat asam, alpha arbutin akan dikonversi menjadi hydroquinone dengan dosis tinggi.

Jadi, dari hal yang kita kunyah sehari-hari saja, kita telah menelan pre hydroquinone dalam kadar berlipat. Dan jumlah hydroquinone yang dikonsumsi tubuh melalui makanan bisa jadi melebihi krim hydroquinone 2% atau 4%, yang kita oleskan secara topikal.

Sekali lagi. Kesimpulannya adalah, tubuh kita punya kemampuan yang sangat baik dalam menghandle hydroquinone, sehingga si tubuh sanggup memprosesnya, lantas mengeluarkannya di ginjal dengan sangat cepat. Dan kemungkinan hydroquinone hanya bertahan di tubuh sekitar 24 jam saja.

Sepertinya, senyawa itu adalah sesuatu yang familiar. Jadi si tubuh telah didesain dengan sangat ahli untuk berurusan dengannya. Metabolisme kita sungguh canggih untuk urusan yang satu ini. Bisa jadi.

Ada satu lagi hal krusial. Ternyata tes bio modern untuk kesuburan reproduksi dan teratogenesis, telah gagal mendemonstrasikan apakah hydroquinone merupakan isu makro. Tak satu pun hasil uji yang menunjukkan adanya kerusakan organ. Tak ada setitik pun yang menganggu kesuburan.

Apakah Skincare Pemutih Hydroquinon Menyebabkan Kanker

Ada informasi simpang siur yang mengasosiasikan antara hydroquinone versus kanker ginjal. Hydroquinone dan kanker leukimia sumsum tulang belakang. Mungkin itu memang benar.

Pertanyaanya adalah. Haruskah kita berkonsentrasi secara spesifik pada riset yang dirujuk oleh orang-orang, di mana tikus jantan diobati dengan hydroquinone tingkat tinggi, ternyata, berdampak melonjakkan derajat adenoma sel tubular ginjal.

Yang mana ini merupakan tipe tumor ginjal pada bibinya. Tikus-tikus tersebut adalah jenis tikus laboratorium yang dinamakan f34. Mereka mengembangkan sesuatu yang disebut nefropati progresif kronis. Ini adalah problem berkenaan dengan ginjal mereka.

Lalu tumor itu berkembang meski Anda nggak melakukan apa-apa. Karena mengingat fakta bahwa mereka cenderung memiliki kanker ginjal sebelumnya. Lalu pastinya mereka akan menumbuhkan kanker ini terlepas apa pun yang Anda lakukan. Anda nggak ngerjain apa-apa juga si kanker tetap akan bertumbuh kok.


Skincare-Pemutih-Hydroquinon-By-Dermatologist
Sumber Gambar: Tokopedia

Tebakan saya, tidak ada yang namanya nefropati kronis yang progresif pada manusia. Ini spesial untuk tikus ini saja.

Oleh karenanya, relevansi dari model ini, jika disamakan dengan manusia, terlalu meleset jauh. Ingat lho, mereka termasuk kategori tikus f34. Yang secara umum, sudah jadi perbedaan cukup signifikan. Kondisi kita enggak sama dengan tikus-tikus f34.

Lagian, tikus tidak punya kapasitas hebat untuk memetabolisme hydroquinone menjadi sesuatu yang kurang toksik. Kemampuan tikus ini, jelas di bawah manusia. Simpelnya, mereka tidak bisa mendetoksifikasi hydroquinone dengan cara yang sama. Secara biologis kita ini berbeda. Manusia lebih siap menghandle mister H.

Spesial untuk kasus tikus ini. Pada dasarnya, mereka memiliki kapasitas lebih rendah ketika dihadapkan pada hydroquinone. Pathway atau jalur yang dinamakan glukuronidasi mereka nggak sebagus punya kita. Jalur inilah yang sesungguhnya membantu organisme untuk mengaktivasi hydroquinone.

Dan kita, manusia, sangat-sangat keren di jalur ini. Dan sayangnya, karena mereka tidak menjalani jalur glukuronidasi, maka formula hydroquinone sangat toksik bagi mereka. Selain itu, mereka akan membentuk racun lebih pol. Sudah awalnya beracun, eh jadi lebih beracun lagi. Zat yang pada akhirnya merusak ginjal mereka.

Ditambah, mereka sudah punya penyakit di ginjal mereka, sehingga ini akan melambungkan penderitaan. Ingat kan tadi, metabolisme toksik ke ginjal mereka tidak oke.

Jadi ini mungkin penjelasan yang masuk akal, mengapa mereka lebih banter menghebatkan tumor ginjal.

Pertimbangkan hal ini. hydroquinone telah digunakan sejak tahun 1930. Tetapi belum ada tuh laporan tentang tumor ginjal, atau kanker ginjal karena penggunaan krim hydroquinone.

Dan ingat satu hal lagi. Penyerapan hydroquinone dari pemakaian topikal super duper rendah. Plus, kita juga mengabsorpsi hydroquinone dari makanan kita. Dan tubuh kita punya perlengkapan yang ciamik untuk mengatasinya.

Apakah Benar Skincare Pemutih Hydroquinon Menyebabkan Leukemia?

Lalu sekarang kita membahas tentang risiko leukemia karena hydroquinone. Kekhawatiran ini bertunas dari riset pada tikus lagi. Di mana tikus betina mengalami leukemia, pasca terkena hydroquinone. Nah. Sekali lagi. Manusia bukan tikus. Dan ada beberapa perbedaan antara tikus dan manusia.

Begini lho. Leukemia pada tikus dimulai dari limpa tikus, sedangkan pada manusia, adalah dari sumsum tulang. Jadi, di sana ada aneka kanker yang esensinya merajalela dari organ-organ yang berbeda. Sehingga, jika ingin membandingkan keduanya, kok terasa aneh sekali. Bagai menyamakan anggur dengan jeruk. Limitasinya jadi super lebat.

Baiklah. Kita telah membahas dua penelitian ‘mega’ pada tikus yang terpapar hydroquinone dosis jenjang.

Dan poin selanjutnya adalah bahwa data leukimia tidak muncul. Penelitian tentang tikus ini tidak lagi direproduksi. Mengapa? Karena belum ada peningkatan kasus pada jumlah leukemia pada tikus-tikus itu.

Lebih jauh lagi, ada sesuatu yang terjadi pada uji kelompok terkontrol pada tikus-tikus yang lain. Ini yang menarik. Ternyata. Tikus-tikus yang juga tidak bersentuhan dengan hydroquinone tetap terkena leukemia tuh.

Jadi, sekali lagi saya tegaskan. Tikus-tikus sakit yang terkena kanker, dimulai dari organ yang sangat berlainan dengan manusia. Dan bisa jadi mereka menderita leukemia, karena memang faktanya mereka memang rentan terkena leukeumia. Terlepas realita, apakah mereka terkena hydroquinone atau tidak. Faktor tambahan yang krusial adalah. Dosis yang diberikan pada tikus-tikus ini sangat tinggi lho. Apalagi jika dibandingkan dengan krim yang dioles.

Apakah Skincare Pemutih Hydroquinon yang Formulasinya Krim Bersifat Hepatotoksik atau Merusak Hati

The National toxicological, pada studi awal terhadap tikus telah menunjukkan adanya total adenoma hepatoseluler yang merayap naik. Yang mana merupakan tipe pre tumor hati di tikus, tetapi anehnya, apa yang mereka perlihatkan, justru hanya sedikit saja jumlah peningkatannya. Itu pun hanya mencakup tumor jinak mungil.

Percaya atau tidak. Secara keseluruhan, nilai itu hanya kecil saja. Plus, penelitian sub sekuen selanjutnya, pada hewan lain, menunjukkan data bahwa hydroquinone tingkat toksiksitasnya di hati hanya sedikit saja lho. Kecuali kasus kanker hati ya. Namun pada hewan normal, tampaknya malah tidak merusak hati sama sekali. Dan jika ada sesuatu, malah berpotensi menjadi hepatoprotektif. Setidaknya, itulah yang mungkin disarankan beberapa literatur. Jadi, memang, sesungguhnya, ada studi pada hewan lainnya, yang mana sangat berbeda dari tikus.

Dan uji coba pada hewan itu, mudah-mudahkan telah membantu memperjelas beberapa informasi, yang mungkin bertentangan dan menyesatkan. Riset terbaru telah memperbaiki studi di lab yang lebih tua.

Nah coba pikirkan ini. Apa kabar manusia yang mengonsumsi hydroquinone lebih boyas? Secara manusia kan telah memakan hydroquinone, dengan level tinggi lho, di keseharian mereka. Dengan tidak sadar.

Jadi perlukah diadakan studi langsung pada manusia? Ya. Penelitian telah dilakukan kok. Salah satunya, mereka mengonsumsi 500 miligram setiap hari. Kelompok lainnya, mengambil sekitar 300 miligram setiap hari. Lalu apa hasilnya? Tidak ada laporan adanya peningkatan kasus kanker jenis apa pun lho.

  1. Tidak ada leukemia.
  2. Nggak ada hepatotoksisitas.

Padahal orang-orang ini telah mengonsumsi hydroquinone dengan derajat super jangkung.

Riset lainnya adalah, tentang 9000 pekerja di pabrik skincare pemutih hydroquinon. Dengan sangat jelas, para ilmuwan memantau para pekerja itu, yang mana memiliki tingkat paparan hydroquinone yang sangat tinggi. Percaya atau tidak. Individu-individu ini, secara keseluruhan, insiden kanker yang menimpa mereka justru sangat rendah dibandingkan dengan riset pada kelompok yang dikontrol.

Ada lagi satu studi menarik. Di mana, para pekerja ini terekspos pada aerosolize hydroquinone. Dan konsentrasinya bukan main-main. Mereka terpapar konsentrasi 30 miligram hydroquinone per meter dari luas permukaan tubuh.

Nah berita baiknya adalah, tidak ada laporan tentang efek sistemik yang merugikan. Tidak ada sama sekali. Ini ajaib.

Oleh karena itu, orang-orang nggak bisa tuh sembarang tuduh, bahwa skincare pemutih hydroquinon adalah karsinogen whatsoever.

Dari data lebih dari 50 tahun mengatakan, bahwa tidak ada efek samping seram, yang berkenaan dengan segala penyakit sistemik. Atau kanker. Atau penuaan kulit tipe apa pun. Ini bisa membalikkan segala jenis argumen.

Lalu, Apa Kaitan antara Hydroquinone dengan Penyakit Bernama Exogenous Ochronosis

Konon risiko penggunaan hydroquinone jangka panjang adalah adanya kondisi kulit yang bernama Exogenous Ochronosis. Apakah itu? Dan bahayakah?

Exogenous Ochronosis adalah, kondisi yang mengacu pada deposit homogentisic acid, pada layer lebih dalam di kulit. Dan itu sebenarnya terjadi pada penyakit genetik yang disebut alkaptonuria.

Exogenous Ochronosis
Sumber Gambar: researchgate.net

Dan ada sesuatu yang sedikit berbeda, yaitu Exogenous atau pseudo-ochronosis, atau senyawa yang tertelan dapat menyebabkan pengendapan homogentisic acid ini, ke lapisan kulit yang lebih dalam. Kemudian membuat adanya noda super hitam, yang disebut Exogenous or Pseudo-ochronosis. Tetapi bahan kimia yang menyebabkan Exogenous ini bukan hanya hydroquinone. Tetapi juga fenol dari senyawa fenolik, juga obat-obatan, misalnya l-dopa, obat untuk parkinson. Ada juga obat anti malaria. Jadi ini tidak spesifik tertuduhnya adalah hydroquinone.

Believe it or not. Kasus pseudo-ochronosis dari mengoleskan hydroquinone 2% atau 4% di Amerika, sesungguhnya NOL. Tidak ada kasus itu.

Jadi kasus penyakit ini, yang telah terdokumentasi dari krim pemutih, sebagian besar berasal dari penelitian di luar Amerika. Dan mungkin dijejali senyawa tercemar di dalamnya. Ini adalah tren yang bikin gelisah. Itu lho krim-krim yang dijual bebas yang belum terdaftar di badan BPOM (kalo di Indonesia). Lalu ramai juga krim bebas yang mengandung senyawa berbahaya misalnya merkuri. Yang mana super brutal. Bahaya sekali.

Kembali lagi ke bahasan semula. Jadi, tidak ada bukti nyata bahwa hydroquinone menyebabkan penyakit tadi. Lagi pula, dari 789 kasus, 756 kasus berasal dari Afrika. Ini ultra membingungkan. Masalahnya adalah, kasus malaria di Afrika lebih tinggi dibandingkan di negara belahan dunia lain. Orang di sana meminum obat anti malaria. Dan obat anti malaria berasosiasi dengan pengembangan penyakit pseudo-ochronosis. Jadi mungkin ya mereka memakai krim pemutih yang bukan hanya mengandung hydroquinone, tetapi juga komponen lain. Trus, ditambah lagi meminum obat anti malaria.

Sekali lagi. hydroquinone, memiliki rekam jejak yang sangat baik, plus, data yang mendukung juga berjibun, sehingga menyebabkan menjadi krim topikal paling kuat dalam pencerah kulit, di mana kulit mengalami kondisi rusak. Misalnya adanya hiperpigmentasi seperti melasma. Mengapa ini krusial? Karena ini bukan hanya kosmetik. Dampaknya sungguh luar biasa pada kepercayaan diri dan kesejahteraan secara keseluruhan. Jadi jika ingin meremehkan hydroquinone, agak sulit. Mengingat banyaknya track record yang membantu manusia menyembuhkan hiperpigmentasi.

Jadi Apakah Kelebihan Skincare Pemutih Hydroquinon Dibanding Krim Pemutih Lainnya?

  1. Memiliki bukti paling munjung.
  2. Sudah eksis lebih dari 50 tahun.
  3. Telah dikontrol dan diregulasi lebih dari 50 tahun.

Jadi datanya sudah sangat kuat. Potensi risikonya juga kami telah tahu. Dari tadi saya sudah menjelaskannya pada Anda. Senyawa lain kami belum memiliki data selengkap itu. Mereka tidak diawasi seperti halnya hydroquinone.

Sesuatu yang bebas hydroquinone dan 100% alami belum tentu lebih terjamin. Semuanya berisiko. Saya percaya kok, komponen alami ini mungkin saja terjaga. Tapi jangan gagal paham bahwa krim bebas hydroquinone lebih aman. Mengapa? Karena belum dipelajari dengan baik.

Jadi bagi siapa pun di luar sana yang menderita karena melasma atau hiperpigmentasi. Anda jangan ketakutan di malam hari. Jangan gelisah akan terjadi hepatoksisitas, leukemia, atau kanker ginjal. Karena sesungguhnya realitanya jauh dari itu. Dan hal ultra urgen lainnya, jangan lupa sunscreen!

Ternyata benar kata sepupu saya. Mungkin karena dia apoteker jadi mengerti ranah ini. Jangan takut membeli krim hydroquinone jika dokter telah menyuruh. Karena datanya sungguh sahih. Dan kalian. Jangan pernah beli skin care pemutih abal-abal di luaran sana ya. Cek dulu di BPOM. Sudah terdaftar atau belum.

Jika kalian penasaran ingin melihat ulasan lain tentang skincare, dari mulai The Ordinary, Pitera, Lendir Siput.. klik di sini.

Baiklah, selamat weekend semuanya. Sampai jumpa di insight selanjutnya. Kita akan terus frolic with insight. Bermain-main dengan wawasan. Bye bye.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *