BAGAIMANA CARA MENGHENTIKAN GELISAH BY DALE CARNIEGE (HOW TO STOP WORRYING AND START LIVING BAB 2)

Untuk membaca bagian sebelumnya klik di sini dan di sini.

Nasihat itu menyelamatkan saya secara fisik dan mental selama perang; dan sekarang berkontributif pada posisi saya dalam bisnis. Saya seorang a Stock Control Clerk atau Pegawai Kontrol Saham untuk Perusahaan Kredit Komersial di Baltimore.

Saya menemukan problem yang sama muncul lagi dalam bisnis, yang mana menjedul juga selama perang: sebundel tugas harus dilakukan sekaligus—dan sialnya, hanya ada sedikit waktu untuk menamatkannya.

  1. Stok kami rendah.
  2. Ada segepok formulir baru yang harus ditangani.
  3. Pengaturan suplai baru.
  4. Perubahan alamat.
  5. Pembukaan dan penutupan kantor, dan sebagainya.

Alih-alih menjadi tegang dan gugup, saya ingat apa yang dokter katakan kepada saya.

“One grain of sand at a time. One task at a time.”

 “Satu butir pasir pada satu waktu.” Hanya mengerjakan satu tugas dalam satu waktu. Multitasking? Haram!

Dengan mengulangi kalimat itu kepada diri saya berulang kali, saya menyelesaikan tugas saya dengan cara yang lebih efisien dan saya ngerjain pekerjaan saya tanpa perasaan bingung dan campur aduk yang mana hampir melumatkan saya di medan perang.”

Salah satu komentar yang mengerikan banget adalah bahwa pola hidup kita saat ini udah sangat berantakan. Buktinya, setengah dari seluruh tempat tidur di rumah sakit disediakan untuk pasien dengan masalah saraf dan mental—pasien yang telah kolaps di bawah beban berat dari akumulasi kemarin dan hari esok yang super seram.

Namun, sebagian besar dari orang-orang itu akan beredar di jalanan hari ini dengan tralala-trilili, jika mereka sudi mengindahkan kata-kata Nabi Isa atau Yesus, “jangan khawatir tentang besok,” atau kata-kata Sir William Osier. “Hidup hanya untuk hari ini saja.”

You and I are standing this very second at the meeting-place of two eternities: the vast past that has endured for ever, and the future that is plunging on to the last syllable of recorded time.

Anda dan saya berdiri di detik ini, di tempat pertemuan dua keabadian: masa lalu yang luas yang telah bertahan selama-lamanya, dan masa depan yang mengarah pada suku kata terakhir dari waktu yang tercatat.

Kita nggak mungkin hidup dalam kedua kekekalan itu—tidak, bahkan untuk sepersekian detik pun kita nggak akan pernah sanggup. Tetapi, dengan nyoba ngelakuin itu, kita malah meremukkan tubuh dan pikiran kita sendiri. Jadi mari menikmati satu-satunya yang bisa kita nikmati: dari detik ini sampai tidur.

“Siapa pun dapat memikul bebannya, betapapun kerasnya, sampai malam tiba,” tulis Robert Louis Stevenson.

“Siapa aja pasti sanggup ngerjain pekerjaannya, sekeras apa pun, untuk satu hari. Siapa pun dapat hidup dengan super sweet, sabar, penuh kasih, pure, sampai matahari terbenam. Dan inilah yang sesungguhnya dimaksudkan oleh kehidupan.”

Ya, hanya itulah yang dituntut kehidupan dari kita; tetapi Ny. E. K. Shields, 815, Court Street, Saginaw, Michigan, terdorong keputusasaan—bahkan ke ambang bunuh diri—-sebelum dia belajar untuk hidup hanya sampai sebelum tidur aja.

“Pada tahun 1937, saya kehilangan suami saya,” kata Mrs. Shields ketika dia menceritakan kisahnya kepada saya, “Saya sangat tertekan—dan nyaris nggak punya uang sepeser pun. Saya menulis kepada mantan majikan saya, Mr. Leon Roach, dari Roach-Fowler Company of Kansas City, dan mendapatkan kembali pekerjaan lama saya. Sebelumnya saya mencari nafkah dengan menjual buku ke dewan sekolah desa dan kota.

Sesungguhnya, saya udah terlanjur menjual mobil saya dua tahun sebelumnya, ketika suami saya sakit; tetapi saya berhasil menabung uang muka untuk membeli mobil bekas dan mulai menjual buku lagi.

Sumber Gambar: Tenthousandvilages.com

“Saya telah berpikir bahwa kembali ke jalan akan membantu meringankan depresi saya; tetapi mengemudi sendirian dan makan sendirian ternyata malah membikin saya makin tertekan. Beberapa wilayah itu nggak produktif, dan saya merasa sulit untuk membayar mobil itu, walaupun cicilannya kecil.

“Pada musim semi 1938, saya bekerja dari Versailles, Missouri. Sekolahnya buruk, jalanannya jelek; Saya sangat kesepian dan pesimis, sehingga pada suatu waktu saya bahkan mempertimbangkan bunuh diri aja lah. Sukses? Apa itu sukses? Sukses tampak jauh dan mustahil banget. Hanya delusi.

I had nothing to live for. Saya tidak punya apa-apa untuk hidup. Saya takut bangun setiap pagi dan menghadapi kehidupan.

  1. Saya takut segalanya.
  2. Takut saya tidak bisa memenuhi pembayaran mobil.
  3. Takut saya tidak bisa membayar sewa kamar saya.
  4. Takut tidak akan punya cukup makanan.
  5. Saya takut kesehatan saya menurun dan saya tidak punya uang untuk membayar dokter.

Yang ngebikin saya nggak bunuh diri adalah pikiran bahwa saudara perempuan saya akan sangat berduka, plus saya juga nggak punya cukup punya uang untuk membayar biaya pemakaman saya.

“Lalu suatu hari saya membaca sebuah artikel yang mengangkat saya dari depresi dan itu membuat saya berani untuk terus hidup. Saya nggak akan pernah berhenti bersyukur atas satu kalimat yang menginspirasi dalam artikel itu.

Yang ialah, “setiap hari adalah kehidupan baru bagi orang bijak.”

Saya mengetik kalimat itu dan menempelkannya di kaca depan mobil saya, di mana saya melihatnya setiap menit ketika saya mengemudi. Saya pikir nggak begitu sulit untuk hidup hanya  untuk satu hari.

Saya belajar untuk melupakan hari kemarin dan nggak mikirin hari esok. Setiap pagi saya berkata pada diri saya sendiri, “hari ini adalah kehidupan baru.”

“Saya telah berhasil mengatasi ketakutan saya akan kesepian, hysteria karena ingin ini itu. Saya bahagia, sukses, antusias, dan cinta hidup. Saya tahu sekarang bahwa saya nggak akan pernah takut lagi, terlepas dari apa yang hidup berikan kepada saya. Saya tahu sekarang bahwa saya nggak perlu takut akan masa depan.

Toh saya dapat hidup satu hari dalam satu waktu—dan bahwa, “setiap hari adalah nyawa baru bagi orang bijak.”

Menurut Anda, siapa yang menulis ayat ini: “bahagianya pria itu, bahagia dia sendiri, Dia, yang bisa memanggil hari-nya sendiri: Dia yang, merasa aman di bathn, dapat mengatakan: “Besok, lakukan yang terburuk, karena aku sudah hidup hari ini.”

Kata-kata itu terdengar modern, bukan? Namun itu ditulis tiga puluh tahun sebelum Nabi Isa dilahirkan, oleh penyair Romawi Horace.

Salah satu hal paling tragis yang saya ketahui tentang sifat manusia adalah kita semua bertendensi menunda hidup. Kita semua memimpikan taman mawar ajaib di cakrawala—bukannya menikmati mawar yang bermekaran di luar jendela kita hari ini.

Kenapa kita ini bodoh—orang bahlul, eh ditambah tragis pula? “

“Betapa anehnya, prosesi kecil kehidupan kita,” tulis Stephen Leacock.

  • Anak itu berkata, “ketika aku sudah besar.”
  • Tapi setelah itu apa? Bocah lelaki itu menjawab, “Saat aku dewasa.”
  • Dan kemudian, setelah dewasa, dia berujar, “Ketika saya menikah.”
  • Tetapi setelah menikah, lalu apa? Pikiran berubah menjadi, “ketika saya bisa pensiun.”
  • Dan kemudian, ketika pensiun datang, dia melihat kembali pemandangan yang dilaluinya; angin dingin sepertinya menyapu; entah bagaimana dia telah melewatkan semuanya, dan itu hilang.
  • Hidup, kita udah terlambat, ada dalam kehidupan, dalam jaringan setiap hari dan jam.”

Almarhum Edward S. Evans dari Detroit hampir bunuh diri karena khawatir, sebelum dia tau bahwa hidup, “ada dalam kehidupan, dalam jaringan setiap hari dan jam.”

Dibesarkan dalam kemiskinan, Edward Evans menghasilkan uang pertamanya dengan menjual koran, kemudian bekerja sebagai pegawai toko bahan makanan.

Pada akhirnya, dengan tujuh orang bergantung padanya untuk membeli roti dan mentega, ia mendapat pekerjaan sebagai asisten pustakawan. Meski upahnya kecil banget, ia takut untuk berhenti. Delapan tahun berlalu sebelum dia bisa mengumpulkan keberanian untuk memulai sendiri. Tetapi begitu dia mulai, dia membangun investasi awal senilai lima puluh lima dolar uang pinjaman untuk berbisnis, dan ia melipat-ganda-kannya menjadi dua puluh ribu dolar setahun.

Then came a frost, a killing frost.

Lalu datanglah salju yang beku, es yang membunuh. Sayangnya, ia terlanjur mendukung a big note untuk seorang teman-dan si teman itu bangkrut. Segera setelah bencana itu, datanglah bencana lain: bank tempat ia menyimpan semua uangnya bangkrut.

Dia tidak hanya kehilangan setiap sen yang dimilikinya, tetapi juga jatuh ke dalam hutang sebesar enam belas ribu dolar. Sarafnya tidak bisa menahan cobaan super berat ini. “Aku tidak bisa tidur atau makan,” katanya.

“Anehnya, aku menjadi sakit. Khawatir dan tidak ada yang lain selain khawatir,” katanya, “menyebabkan lahirnya penyakit ini. Suatu hari ketika aku sedang berjalan di jalan, aku pingsan dan jatuh di trotoar. Aku tidak lagi bisa berjalan.”

Aku terbaring di tempat tidur dengan tubuh penuh dengan bisul, borok dan nanah. Bisul-bisul ini berputar ke dalam sampai aku hanya sanggup berbaring di tempat tidur, saat itu adalah agony atau momen-penuh-penderitaan-super-duper-menderita-yang-tak-tertahankan. Setiap hari, aku semakin lemah.

Sumber Gambar: tartecosmetics.com

Akhirnya, dokter saya memberi tahu saya bahwa saya hanya punya waktu dua minggu saja untuk hidup. I was shocked. Saya terkejut. Saya menyusun wasiat, dan kemudian berbaring di tempat tidur untuk menunggu ajal. Sekarang, nggak ada gunanya untuk berjuang atau khawatir. Saya menyerah, rileks, dan pergi tidur. Saya belum tidur selama dua jam berturut-turut selama berminggu-minggu; tetapi sekarang karena masalah duniawi saya berakhir, saya tidur seperti bayi. Kelelahan saya yang melelahkan banget itu pun mulai menghilang. Nafsu makan saya kembali.

Berat badan saya bertambah. “Beberapa minggu kemudian, saya bisa berjalan dengan kruk. Enam minggu kemudian, saya bisa kembali bekerja. Saya telah menghasilkan dua puluh ribu dolar setahun; tetapi anehnya, sekarang saya senang mendapatkan pekerjaan dengan upah tiga puluh dolar seminggu. Saya mendapat pekerjaan menjual balok untuk diletakkan di belakang roda mobil ketika dikirim dengan kargo.

Sekarang, saya telah belajar sebuah teladan. Saya nggak pernah lagi merasa waswas—tidak ada lagi penyesalan tentang apa yang telah terjadi di masa lalu—tidak ada lagi ketakutan akan masa depan. Saya memusatkan seluruh waktu, energi, dan antusiasme saya untuk menjual balok-balok itu.”

Edward S. Evans melesat cepat sekarang. Dalam beberapa tahun, ia menjadi presiden perusahaan.

Perusahaannya—the Evans Product Company—telah terdaftar di New York Stock Exchange selama bertahun-tahun.

Ketika Edward S. Evans meninggal pada tahun 1945, ia adalah salah satu pebisnis paling progresif di Amerika Serikat. Jika Anda pernah terbang di atas Greenland, Anda bisa mendarat di Evans Field—sebuah lapangan terbang yang dinamai untuk menghormatinya.

Inilah inti ceritanya: Edward S. Evans tidak akan pernah sukses dalam bisnis dan kehidupan ini, jika dia tidak menyadari bahwa khawatir adalah tindakan yang menyesatkan dan bodoh—jika dia tidak belajar untuk hidup untuk  hari ini saja.


Lima ratus tahun sebelum nabi Isa dilahirkan, filsuf Yunani Heraclitus mengatakan kepada murid-muridnya bahwa “semuanya berubah kecuali hukum perubahan”. Dia berkata: “Anda tidak dapat melangkah di sungai yang sama dua kali.”

Sungai berubah setiap detik; dan begitu pula orang yang melangkah di dalamnya. Hidup adalah fluktuasi tanpa henti. Satu-satunya kepastian adalah hari ini. Mengapa merusak keindahan hidup hari ini dengan mencoba memecahkan masalah masa depan yang diselimuti oleh perubahan dan ketidakpastian yang tak henti-hentinya—masa depan yang tak seorang pun bisa meramalkannya?

Orang-orang Romawi kuno memiliki kata untuk itu. Faktanya, mereka punya dua kata untuk itu.

Carpe diem. “Nikmati hari.”
Atau, “Rebut hari ini.”
Ya, raih hari itu, dan manfaatkan sebaik-baiknya.
Itulah filosofi Lowell Thomas.

Saya baru-baru ini menghabiskan akhir minggu di ladangnya; dan saya perhatikan bahwa dia memiliki kata-kata dari Mazmur CXVIII yang dibingkai dan digantung di dinding studio siarannya di mana dia akan sering melihatnya: Ini adalah hari yang Tuhan buat; kami akan bersukacita dan senang karenanya.

John Ruskin di atas mejanya memajang sepotong batu sederhana yang diukir satu kata: TODAY atau  HARI INI.

Dan sementara saya tidak memiliki sepotong batu di meja saya, saya memiliki sebuah puisi yang ditempelkan di cermin saya di mana saya bisa melihatnya ketika saya mencukur setiap pagi—sebuah puisi yang selalu disimpan Sir William Osier di atas mejanya—sebuah puisi yang ditulis oleh pemain drama India yang terkenal, Kalidasa: Salutation To The Dawn.



Look to this day!

Lihatlah hari ini!

For it is life, the very life of life.

Karena itu adalah hidup, kehidupan yang sesungguhnya.

In its brief course Lie all the verities and realities of your existence:

Dalam perjalanan singkatnya, semua kebenaran dan realitas keberadaan Anda tampak bohong.
The bliss of growth.

Kebahagiaan bertumbuh

The glory of action.

Kemuliaan beraksi

The splendour of achievement.

Kemegahan prestasi.

For yesterday is but a dream.

Kemarin hanyalah mimpi

And tomorrow is only a vision.

Dan besok hanyalah sebuah visi

But today well lived makes yesterday a dream of happiness.

Tapi hari ini hidup dengan baik dari kemarin mewujudkan mimpi menjadi hepi

And every tomorrow a vision of hope.

Dan setiap hari esok adalah visi yang penuh harapan.

Look well, therefore, to this day!

Karena itu, perhatikan baik-baik, sampai hari ini!
Such is the salutation to the dawn.

Itulah salam bagi fajar.

Jadi, hal pertama yang harus Anda ketahui tentang cemas adalah ini: jika Anda ingin menjauhkannya dari hidup Anda, lakukan apa yang Sir William Osier lakukan.

Tutup pintu besi di masa lalu dan masa depan.

Hidup hanya untuk 24 jam saja. Mengapa tidak bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan ini, dan menuliskan jawabannya?

  • Apakah saya cenderung menunda hidup di masa sekarang untuk mengkhawatirkan masa depan, atau merindukan “kebun mawar ajaib di cakrawala”?
  • Apakah saya terkadang merasa pahit saat ini dengan menyesali hal-hal yang terjadi di masa lalu-yang sudah berlalu dan selesai?
  • Apakah saya bangun di pagi hari bertekad untuk “Seize the day” atau”Rebut hari ini”—untuk mendapatkan hasil maksimal dari dua puluh empat jam ini?
  • Bisakah saya mendapatkan lebih banyak dari kehidupan dengan hanya dengan memanfaatkan 24 jam sebaik-baiknya?
  • Kapan saya mulai melakukan ini? Minggu depan?… Besok?… Hari ini?

Apa yang Harus Kita Lakukan Saat Kita Nggak Tahu Harus Berbuat Apa (Eckhart Tolle & Oprah)

Sumber Gambar

Ini contoh skenarionya: perusahaan tempat Anda bekerja nyaris pailit. Semua anggaran dipangkas. Ada kemungkinan Anda didepak. Tapi bisa jadi enggak juga sih. Masih tentatif. Dampaknya, Anda galau dan bingung, apakah Anda harus ngambil kerjaan yang bayarannya kecil di perusahaan lain atau, ya udahlah bertahan aja di perusahaan ini, siapa tau Anda nggak di-cut.

By: Eckhart Tolle (What to do when you don’t know what to do)

Kasus lain: Anda baru aja punya bayi, Anda harus pindah dong, tapi Anda nggak bisa mutusin antara mencari lingkungan yang dekat dengan sekolah yang notabene ‘cakep’ atau berburu rumah yang sesuai anggaran aja.

Sumber Gambar

Problematika lainnya: Pasca 7 tahun hidup bersama, pernikahan bersulih menjadi serangkaian argumen pahit yang nggak berhenti-henti, tetapi Anda ndak yakin  apakah Anda harus berdamai aja dengan keadaan atau mengakhiri hubungan.

Kita semuanya punya pengalaman kayak gini—saat-saat which is kita tidak tau mesti ngapain dan nggak tau harus mutusin apa.

  1. Step pertama biasanya memunguti informasi. Anda kudu mengestimasi fakta dan situasi: Untuk apa dan perkara apa yang bertentangan.
  2. Tetapi meskipun begitu, Anda mungkin belum bisa menyimpulkan.

Misalnya, jika Anda menyaring antara dua pilihan, rumah dengan tiga kamar tidur, dengan harga yang sama, dan berada di lingkungan yang sama, Anda mungkin pening harus mutusin yang mana.

Pro dan kontra adalah satu fase lanjutan dalam memungut keputusan tetapi bukan yang super vital. Ketika kita tidak sanggup making up the mind atau netapin sesuatu, itu karena pikiran kita berisik banget, atau apa yang saya sebut disebabkan oleh “suara di kepala Anda.”

Mayoritas orang bahkan nggak tau mereka punya suara ini. Sialnya, si suara berisik itu udah ngambil porsi yang bombastis, menelurkan monolog batin yang nggak pernah ngerem ocehannya, ngegas terus, Sob.

Sumber Gambar

Kadangkala suara itu terbelit dalam dialog, karena terbagi menjadi dua, dan mulai mengobrol dengan diri sendiri. Perbincangan yang gencar dan seru banget itu seperti bunyi-dengungan-terus-menerus dari kulkas atau AC di kamar, dan setelah beberapa saat, Anda ndak denger lagi.

Selama pilihan dilematis dan ruwet, suara ini nggak punya kontribusi sama sekali. Malah nambah mumet. Seringkali si pikiran ini mengkritik, dan terus aja berkomentar tentang Anda dan segepok kesalahan yang pernah Anda lakukan. Dia juga mengecam dan mengkritik orang lain.

Ini kayak hidup dengan seseorang yang nggak tahan menghadapi Anda dan sudah muak maksimal. Anda nggak akan mau hidup dengan orang seperti itu. Anda akan cabut dari hubungan kayak gitu.

Namun, karena Anda tidak bisa bebas dari pikiran Anda, Anda terjebak. Hasilnya? Anda berkecil hati. Pesimis parah. Anda tidak dapat menilik sisi positif dari segala sisi.

Voice di balik batok kepala Anda juga melahirkan sebongkah besar masalah yang bukan sepenuhnya masalah. Itu hanya hal-hal yang belum berlangsung, situasi yang bisa terjadi besok atau minggu depan.

Mendengarkan masalah yang nggak nyata menyandang nama lain: khawatir. Itulah yang dibuat ucapan di otak Anda.

What if. Itu resah. Itu menyakitkan dan ‘bengis’. Oleh karena itu, Anda nggak bisa lagi merasakan keriaan hidup. Jika kehabisan ide lain, ocehan di kepala Anda lantas berubah menjadi komplen.

Di kasus ini, saya nggak berbicara tentang Anda menegur seseorang dan berkata, “Ini salah, dan itu harus diluruskan.” Misalnya, ketika Anda berada di hotel dan Anda mendapati nggak ada air panas di situ. Tentu aja, Anda harus menelepon resepsionis dan ngomong, “Saya mau mandi. Bisa bantuin saya, nggak? “Dalam kasus ini, Anda bisa mengubah sesuatu.

Tetapi ketika Anda berada dalam situasi di mana Anda masih di tahap mengambil keputusan, dan Anda nggak tahu ke mana harus pergi, suara berisik di kepala Anda mulai mengeluh tentang segala sesuatu yang lain, bahkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan situasi:

  1. Mengeluh perkara cuaca.
  2. Kesal dengan ekonomi.
  3. Mencaci diri sendiri, gimana hidup Anda seharusnya berubah.
  4. Mengapa semua orang bisa berhasil tetapi Anda tampaknya selalu gagal lagi dan lagi.
  5. Dan Anda kebelet harus segera mencari tau sekarang juga.

Mengeluh tidak berfaedah apa pun, kecuali beban. Ini kayak Anda membopong sekarung besar batu untuk dibawa-bawa di punggung. Saat Anda mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukan, itu malah mencegah Anda, dalam banyak kasus, menjadi nggak berbuat apa pun.

Sekarang bayangkan suara di dalam kepala Anda tiba-tiba berhenti. Anda sadar, wow, sangat sunyi senyap, Indah banget. Inilah yang Anda butuhkan untuk membuat keputusan yang efektif. You need to be present. Anda harus menjadi pengamat yang apik. Anda harus bebas dari apa pun. Anda hanya harus fokus dengan apa yang terjadi sekarang. Di detik ini. Konsentrasi pada momen ini aja.

Tentu saja, Anda nggak bisa hanya menjentikkan jari, dan tiba-tiba semua keinginan Anda terkabul. Tiba-tiba kemumetan Anda kelar. Nggak gitu pastinya.

Sebagian orang pertama kali mencecapnya selama olahraga ekstrem. Mendaki gunung, misalnya, kala meraba pijakan dan pegangan, mereka sebetulnya tidak berpikir sama sekali. Mereka present 100%, karena jika mereka tergelincir ke dalam pikiran, mereka akan terjerembab dari gunung.

Yang lain pergi ke alam. Mereka menatap keelokan di sekitar mereka, mereka mendengarkan burung-burung dan gemerisik dedaunan, dan sekonyong-konyong mereka menginsafi bahwa inilah si being.

Tetapi, Anda nggak harus menunggu kok untuk terlibat dalam aktivitas berbahaya atau pergi ke hutan belantara. Anda dapat mutusin untuk present di mana saja, dalam situasi apa pun, dengan menggeser fokus perhatian Anda menjauh dari pikiran dan mengalihkannya ke dalam aliveness di setiap jengkal tubuh Anda. Ketika Anda present, persepsi indra Anda—pendengaran Anda, penglihatan Anda—refleks merayap naik.

Anda akan merasai keheningan, sesuatu yang nggak harus Anda ‘rakit’. Sudah mendekam di sana, sekian lama, tertimbun di bawah berisiknya ocehan tentang, “gue harus ngapain?”

Anda sekarang sanggup membedakan antara: Inilah situasinya dan beginilah yang pikiran saya katakan tentang situasinya, atau, dengan kata lain.

Antara: “Saya mungkin kehilangan pekerjaan”, dan “konsekuensinya saya akan kehilangan rumah saya, dan harus membawa putri saya keluar dari sekolahnya, dan tinggal bersama orang tua saya, jadi saya harus mendapatkan pekerjaan lain pada akhir minggu, bahkan jika nggak ada pekerjaan dan saya tidak terampil untuk pekerjaan itu.” Maksudnya, Anda tetap peduli dengan masa depan, dan itu nggak berarti bahwa Anda nggak sanggup berpikir tentang apa yang akan Anda lakukan besok. Itu maksudnya, bahwa fokus atensi Anda adalah CUMA pada saat ini. Anda perlu merencanakan hal-hal spesifik tetapi segera kembali ke keaktifan apa yang sebenarnya terjadi di momen ini.

How do we do this? Gimana sih cara mengerjakan hal ginian? Salah satu triknya adalah mulai mengenali voice di balik tempurung kepala. Secara otomatis ketika Anda mendengar apa yang Anda pikirkan, Anda mungkin bisa stop berpikir.

Taktik lain adalah bertanya pada diri sendiri, “Masalah apa yang saya miliki saat ini?” Seringkali, ini membikin Anda terbangun. Anda harus mengakui: “Hmm, sebenernya, saat ini saya nggak punya masalah.

Misalnya, sebenernya sih di saat ini, Anda masih punya kerja. Anda mungkin kehilangannya nanti, tetapi pada detik ini Anda masih punya gawean.

Ya, Anda mungkin masih harus ngadepin situasi yang menantang, yang esok lusa ngebutuhin respons. Tapi itu bukan problem, kan? Itu sebuah event.

Lebih jauh, jika masalah mencuat, saat ini juga, maka Anda akan ngelakuin sesuatu untuk itu. Begitu Anda menyelami apa situasi Anda yang faktual—yang sesungguhnya bukan suara yang ada di kepala Anda—maka, tentu saja, Anda bisa berhenti struggling.

Situasinya ada. Jadi Anda nggak perlu gelisah tentang hal itu atau mabuk-mabukkan, atau menangis atau berdebat atau meminta nasihat orang lain.

Anda bisa menampiknya karena apa yang menyebabkan Anda sakit adalah gagasan Anda sendiri tentang hal itu—bukan karena event itu sendiri.

Faktanya, Anda bisa melanjutkan aktivitas normal—dan di situlah intuisi menyusup. Karena ketika Anda tersambung dengan keheningan, Anda juga konek dengan kecerdasan kreatif yang lebih banter dari pemikiran analitis.

Sangat sering, simpulan yang akurat kemudian muncul secara serta merta. Itu mungkin nggak terjadi segera.

Ini mungkin ‘menjinjing’ Anda kembali ke kesibukan rutin Anda, tetapi periode waktu ini ngasih intuisi Anda ruang dan keheningan yang dibutuhkan untuk nongol ke permukaan. In the end of the day, saya percaya, apakah Anda meninting satu cara atau yang lain no problemo.

Jika Anda present ketika Anda ‘merakit’ keputusan, maka Anda akan present dalam situasi berikutnya—dan siap untuk membangun alternatif saat dibutuhkan.

Tentu saja, Anda selalu bisa ngelakuin berbagai perkara secara divergen. Namun yang paling esensial bukanlah apa yang Anda lakukan, melainkan bagaimana Anda mengerjakannya—keadaan sadar yang dibawa ke proses, yang diharapkan akan membuat Anda merasakan aliveness dari semua pengalaman Anda.