Cara Menemukan Soulmate dan Cinta Apa Adanya

Sumber Gambar

Menemukan teman/ pasangan yang biasa kita sebut soulmate, yang mana mencintai kita dengan tulus itu gampang nggak sih? Kenapa ya, PERASAAN gue udah melakukan hal baik, tapi mereka nanggepinnya lain? Gue nggak layak dapet cinta apa ya?

Ahik. Pertanyaan yang ngegemesin, bukan?

Gue akan menjawab pertanyaan nomor wahid. Menemukan pasangan atau teman yang mencintaimu dengan tulus bisa jadi perkara naudzubilah susah—kayak ngebongkar kode bom Bunker Buster–, atau bisa jadi malah segampil menjentikkan jari.

Namun, percayalah, menggantungkan harapan kepada orang lain jauh lebih sulit dibandingkan jika jij berharap pada diri sendiri. Oke, menggantungkannya sih gampang lah ya, tapi, pada saat dia  tidak melakukan hal sesuai yang kita inginkan, hmm. Ini yang menjadi persoalan.

Yang bakal terjadi adalah kamu akan menyalahkan orang lain, uring-uringan kepada keadaan, dan menyalahkan dirimu sendiri pada saat realita tidak sesuai dengan cita-cita. Efek sampingnya adalah kecewa. Memang sih, gue sepakat kecewa temporer itu normal. Kecewa itu bagian dari perasaan manusia. Wajar, Baby. Namun yang jadi persoalan adalah kamu menumpuk rasa kecewa itu dan nggak bisa move on dari rasa kecewa tadi. Nggak bisa nerima, dan nggak sanggup ngiklasin. Jadi terus aja diinget-inget dan diungkit-ungkit.

Itu akan mendepakmu dari rasa bahagia. Dan bagi gue, masalah paling vital dan paling esensi adalah SAAT KAMU MERASA TIDAK BAHAGIA dan pada akhirnya tersentuh depresi. Jadi, sebaiknya bagaimana, ya? Gue akan membahasnya nanti.

Pertanyaan kedua tentang berharap agar dicintai. Semua orang berharap dicintai, disayangi, dikagumi, diperlakukan dengan respek. Tapi, apakah semua orang mau melakukan itu kepadamu?

Gue yakin, nggak. Ada kalanya, kamu niatnya apa, dia menanggapinya apa. Dan akhirnya malah jadi situasi yang nyebelin. Atau dia sudah punya persepsi lain terhadapmu, sehingga apapun yang kamu lakukan adalah salah di matanya. Atau mungkin kamu pernah melakukan kesalahan di masa lalu, jadi dia selalu mengaitkannya dengan jejak langkahmu, jadi, meskipun kamu sudah berubah, tetep aja kamu salah di matanya. Atau kamu mungkin berbeda dalam hal ideologis dengannya, sehingga yang ada adalah selalu memakai sepatu masing-masing, jadi tidak akan menemukan titik temu. Banyak kemungkinan. Dan itu manusiawi sekali.

Tapi, dan ini adalah tapi yang besar, orang lain akan bersikap baik atau “jahat” itu BUKAN URUSANMU. Yang terpenting adalah kamu sudah memberikan cinta, dan bagaimana caramu untuk menghadapi situasi itu?

Misal, kamu merasa telah bersikap baik kepadanya. Kamu  telah berniat untuk membuat situasi menjadi harmonis. Dan kamu telah membuka dirimu agar orang lain dapat berbagi hal baik atau buruk. Namun ternyata, orang lain menanggapinya berbeda. Orang lain malah menganggap kamu reseh, aneh, freak, biang kerok kerusuhan, dan hal-hal beraura negatif yang lain—monggo kasih label. Terus gimana? Nangis seharian? Berbulan-bulan? Think twice deh. Jangan nyakitin diri sendiri ataupun orang lain.

Sumber Gambar

Contoh lainnya, kamu telah memberikan cinta, dan orang itu tidak membalasnya. Apakah ini sebuah masalah? Sebenarnya, menurut pendapat gue: THIS IS NO BIG DEAL AT ALL. Kamu dapat meninggalkannya kok. Sederhana saja, artinya kalian tidak mempunyai gelombang yang sama. Jadi nggak perlu memperkeruh keadaan, bukan? Dan jangan terlalu lebay alias menjadikan ini jadi perkara gigantis gitu. Merasa dirimu korban dan apalah. Berhenti dong, Baby!

Ini berlaku bukan hanya untuk hubungan kekasih, namun juga bisa dengan teman, keluarga dan lain-lain.

Solusinya bagaimana? Seperti yang sudah gue sentil tadi, menjauhlah. Nggak perlu bersikap buruk, atau berlebihan, namun lebih baik menjaga jarak.

Dan untuk orang yang sudah kepalang sentimen, ya udahlah ya, lebih baik nggak usah berkomunikasi. Bukan berarti benci. Karena kebencian akan menggerogoti rasa bahagiamu. Nggak berbicara satu sama lain itu dengan tujuan kamu nggak jadi sumber kemarahannya/ ke-muak-annya. Stop lah ngasih stok hal berbau negatif atau pasokan gosip untuk orang lain. Kasian dirimu dan orang lain juga.

Dan jangan lupa, ngebagi cinta pada orang lain bukan berarti kamu melupakan untuk mencintai diri sendiri. Jika kamu melihat gejala ketidakrespekkan, oh, please, jangan sakiti dirimu. Lebih baik mengambil jarak antara Semarang ke Merauke, Dear.

Dan sekali lagi, ini bukan perkara kamu adalah orang yang durjana sampah dunia, dan dia adalah orang baik—ini berlaku sebaliknya—ini hanyalah masalah kecocokkan aja kok.

Pertanyaan yang bagi gue cukup menohok, apa yang kita cari di dunia ini jika bukan rasa damai dan bahagia?

Jadi, berilah waktu kepada dirimu dan orang tersebut, agar semuanya menjadi harmonis kembali. Bukan berarti kamu mengabaikan masalah, dan lari dari masalah. Kamu hadapi itu, selesaikan itu, buang energi negatifmu, dan silakan memberikan waktu baik untukmu maupun dia.

Cintai dirimu dan orang lain, hasilnya seperti apa, que sera-sera aja.

Tujuh Resep Self-Love

Sumber Gambar

Self-love telah menjadi istilah popular, nyaris setiap hari kita mendengarnya.  “Cuy, lo kurang cinta sama diri sendiri.” Atau, “Kenapa lo nggak cinta diri sendiri, sih?” atawa,  “Tau nggak sih, cin, kalo lo lebih cinta diri sendiri, ini nggak akan kejadian.” Dan, “Lo nggak bisa sayang sama orang lain kalo lo nggak sayang diri lo sendiri dulu.”

Kalimat di atas hanyalah beberapa petunjuk dan saran agar kita lebih bahagia dan merasa hidup lebih penuh. Self-love merupakan bumbu rahasia yang krusial agar kita bisa hepi.

Mengapa self-love penting, karena ini akan mempengaruhi:

  1. Bagaimana kamu memilih pasangan.
  2. Bagaimana kamu menangani proyek di tempat kerja.
  3. Bagaimana kamu mengatasi masalah kehidupan sehari-hari.

Jadi, memang ini merupakan prioritas nomor wahid dan merupakan fondasi yang semestinya kokoh.

Jadi, kalo gitu, apa sih self-love itu? Bisa nggak sih kita beli self-love dengan make over muka kita atau memborong baju baru? Bisa nggak sih self-love nemplok di diri kita  dengan hanya membaca sesuatu yang inspirasional? Atau, apakah pacar baru bisa membuat kamu lebih mencintai diri sendiri? Dan jawaban untuk semuanya adalah TIDAK! Meski semuanya itu bisa memperbaiki suasana hati kamu dan bikin puas, tapi self love tidak akan bertumbuh melalui kegiatan di atas. Karena, self-love bukan hanya hepi-joy-joy atau rasa senang saja. Self-love adalah apresiasi pada diri sendiri atas tumbuhnya aksi kita yang telah medukung pertumbuhan fisik, psikis dan spiritual. Self-love itu dinamis dan terus bergejolak, dia kan terus bertumbuh sesuai dengan aksi yang kita ambil yang akan mendewasakan kita.

Ketika kita berakting dengan jalan mengekspansi self-love, kita mulai menerima kekurangan dan kelebihan kita, tidak perlu drama atas kejadian yang menimpa kita, tidak perlu haus akan perhatian orang, kita lebih sabar pada diri kita yang berjuang mencari makna diri, dan lebih berpusat pada tujuan hidup plus value, dan berharap pemenuhan kebahagian melalui usaha kita sendiri.

Sumber Gambar

 

Di bawah ini adalah resep untuk self-love:

  1. Membiasakan diri lebih mindful. Orang yang mempunyai self-love lebih bertendensi tahu apa yang mereka pikirkan, mereka rasakan, dan apa yang mereka inginkan. Mereka lebih sadar dengan tindakan mereka berdasarkan pengetahuan. Mereka bersandar pada diri sendiri, dan tidak melandaskan segala sesuatu pada orang lain inginkan dari mereka.
  2. Bertindak berdasarkan apa yang kamu butuhkan dibandingkan apa yang kamu inginkan. Kamu lebih mencintai dirimu sendiri pada saat kamu berpaling dari sesuatu yang menurutmu terasa menyenangkan dan asyik, lantas dialihkan pada apa yang kamu butuhkan agar tetap kuat, centered, dan berani mengambil keputusan untuk melangkah maju menjadi lebih baik. Dengan fokus pada apa yang kamu butuhkan, kamu akan beralih dari kebiasaan yang dahulu membentuk pola buruk seperti mengundangmu pada masalah, membiarkan dirimu terjebak masa lalu, dan mengurangi self-love.
  3. Praktikkan good self-care. Kamu akan lebih mencintai dirimu, ketika kamu take care pada kebutuhan dasarmu. Orang-orang yang mempunyai self-love akan menutrisi diri mereka dengan kegiatan yang sehat, seperti makan makanan bergizi, olah raga, tidur cukup, intimasi, dan interaksi sosial yang sehat.
  4. Menetapkan batasan yang solid. Dengan lebih mencintai dirimu kamu akan membentuk limit atau mengatakan tidak pada pekerjaan, cinta, dan aktivitas yang akan merusak atau menyakiti secara fisik, emosional dan spiritual atau mengekspresikan sesuatu yang buruk tentangmu.
  5. Lindungi dirimu sendiri. Memilih orang yang tepat yang boleh memasuki hidupmu. Ini yang saya pelajari dari klien saya yang lebih muda. Dia mendeskripsikan jenis-jenis teman yang bahagia jika kamu susah dan sedih saat kamu bahagia dan sukses. Saran saya: singkirkan mereka. Kamu tidak punya banyak waktu untuk dibuang-buang. Kamu tidak usah menanggapi orang yang menghilangkan kilau di wajahmu dan katakanlah kalimat, “Suwer deh, gue beneran sangat sayang pada diri sendiri dan hidup ini.” Dengan hal itu, kamu akan mencintai dan respek pada dirimu sendiri.
  6. Maafkan diri sendiri. Kita seringkali terlalu keras pada diri sendiri. Kelemahan kita adalah saat kita melakukan kesalahan kita menghukum diri sendiri karena telah salah langkah, padahal tergelincir adalah untuk belajar dan bertumbuh. Kamu harus menerima kenyataaan bahwa kamu hanya manusia dan mempunyai sifat mnusia (fakta bahwa kamu tidak sempurna), sebelum kamu benar-benar mencintai diri sendiri. Berlatih untuk lebih lembut pada saat kamu melakukan kesalahan. Ingat, sebenarnya kegagalan itu tidak ada, jika kamu belajar dan bertumbuh dari kekeliruan di masa lalu, kamu akan belajar dari sana.
  7. Hiduplah dengan tujuan. Kamu akan menerima dan dan lebih mencintai diri sendiri, apapun yang terjadi, ketika kamu hidup dengan tujuan dan mempunyai desain.Tujuan hidupmu tidak harus sebening kristal. Jika tujuan hidupmu adalah untuk mempunyai arti bagi orang lain dan lebih sehat, kamu akan memutuskan dan melakukan berbagai cara untuk mendukung niat ini, dan merasa lebih baik dengan dirimu sendiri ketika kamu sukses dengan tujuan ini. Kamu akan lebih mencintai diri jika kamu bisa mencapai apa yang targetkan. Kamu perlu menetapkan apa tujuan hidupmu, lantas kerjakan itu. Jika kamu memilih mengerjakan satu atau dua self-love yang cocok denganmu, kamu akan mulai menerima dan mencintai dirimu lebih dari pada sekarang.

Coba deh kamu bayangkan, kamu akan lebih menghargai dirimu sendiri saat kamu berlatih tujuh langkah self-love ini. Memang bener sih, kamu bisa mencintai orang lain sebesar cintamu pada diri sendiri. Jika kamu melatih dirimu sendiri dan melakukan self-love yang telah saya jelaskan di atas, kamu akan mengizinkan dan mendorong orang lain untuk mengekspresikan diri mereka dengan cara yang sama. Semakin kamu mempraktikan self-love kepada dirimu sendiri, maka kamu telah menyiapkan diri untuk hubungan yang sehat. Bahkan, yang lebih keren lagi, kamu bisa menarik orang dan lingkungan untuk mendapatkan dukungan untuk hidup yang lebih sejahtera. Saya harap kamu suka dengan postingan saya hari ini. Semoga kamu lebih bahagia dan sukses selalu buatmu.

Ingin Ramping dan Kurus? Baca Mengapa Diet Membuat Kita Lapar

Sumber Gambar

How Dieting Makes Us Hungry – Calories Part VIII

Bagaimana Diet Membuat Kita Lapar—Kalori Bagian VIII

Kita telah melihat pengeluaran energi dalam jangka panjang. Apa saja perubahan hormonal yang menyertai penurunan berat badan? Untuk itu mari kita lihat studi ini:

Long-Term Persistence of Hormonal Adaptations to Weight Loss
N Engl J Med 2011; 365:1597-1604 October 27, 2011 Sumithran P

Penelitian ini merekrut 50 pasien yang diberi makanan cair (51% karbohidrat). Selama 10 minggu pertama percobaan, mereka hanya menerima 500 kalori per hari. Ini menghasilkan penurunan berat badan rata-rata 13,5 kg. So far, so good. Selanjutnya, mereka diberi resep diet untuk memelihara berat badan berdasarkan pengeluaran energi terukur mereka. Pasien juga difollow-up setiap 2 bulan dan dianjurkan berolahraga selama 30 menit per hari. Mereka disarankan untuk mengonsumsi karbohidrat indeks glisemik rendah dan diet rendah lemak. Sialnya, semua tidak berjalan sesuai rencana. Terlepas dari niat baik mereka, hampir setengah dari berat badannya kembali. Rata-rata, 5,5 kg kembali dari minggu ke 10-62. Mereka kembali menggemuk lho.

Perubahan Hormon

Analisis hormon dilakukan pada peserta pada minggu ke 0, 10 dan 62 setelah puasa dan memakan hidangan standar. Apa hasilnya? Hormon pertama yang harus dilihat adalah ghrelin—yang disebut sebagai hormon penyebab lapar. Pada dasarnya hormon ini membuat kita ingin ngegares atau mengunyah terus. Pasien lebih lapar selama fase penurunan berat badan di tahap awal, tapi bahkan setelah 62 minggu, ada peningkatan hormon ghrelin yang signifikan. Apa artinya? Artinya mereka merasa lebih lapar. Rasa lapar tidak bisa diusir.

By: Dokter Jason Fung

Hormon berikutnya yang harus dilihat adalah peptida YY. Ini adalah hormon kenyang yang dilepaskan tubuh sebagai respons kepada protein dan lemak. Esensinya, Peptide YY membuat kita merasa kenyang. Mereka juga menganalisis hormon amylin dan cholecystikinin, namun hasilnya serupa, jadi saya hanya memasukkan grafik untuk peptide YY.

Sekali lagi, selama fase penurunan berat awal, peptida YY diturunkan, namun bahkan setelah 62 minggu, Peptide YY (dan juga amylin dan cholecystikinin) berkurang secara substansial. Apa artinya? Itu berarti bahwa makanan standar yang dahulu biasa kita makan tidak lagi mengenyangkan. Kita ingin menambah porsi lagi dan lagi. Seperti aksi balas dendam.

Kelaparan dan Hasrat untuk Makan

Perubahan hormonal ini terjadi dengan tiba-tiba dan bertahan hampir tanpa batas waktu. Hasil kelaparan dan keinginan makan bisa dilihat pada grafik di bawah ini.

 

Subjek setelah mengalami penurunan berat badan merasa lebih lapar dan hasrat ingin makan tak dapat dibendung. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pasien yang sedang diet cenderung merasa lebih lapar. Ternyata ini bukan semacam voodoo psikologis. Apa yang membuat kita lapar? Ini adalah hormon.

Hormon lapar (ghrelin) lebih tinggi dan ini menyebabkan kita menjadi lebih lapar. Hormon Satiety lebih rendah (amylin, peptide YY, dan cholecystekinin) dan oleh karena itu subjek merasa kurang kenyang dan hasrat untuk mengunyah lebih menggebu-gebu.

Mari kita menggabungkan semua ini dan memikirkan hal ini dari sudut pandang tubuh. Ingat bahwa tubuh bertindak sebagai termostat dengan Body Set Weight (BSW) tertentu.

Misalkan BSW kita, misalnya 200 pound. Kita bisa membatasi kalori dan meninggalkan kandungan makronutrien sama (misalnya 50% karbohidrat, 30% lemak, 20 protein). Untuk sementara, kita memang akan melangsing— katakanlah sampai 180 kilogram.

Namun, karena BSW masih 200 pound, tubuh akan mencoba menaikkannya hingga 200 pound. Sekonyong-konyong si tubuh akan mencoba menambah asupan kalori kita. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan ghrelin dan menekan amylin, peptide YY dan cholecystikinin (hormon kenyang). Efeknya membuat kita lapar dan melambungkan hasrat untuk memamah biak.

Pada saat bersamaan, penurunan berat badan ini akan menyebabkan menukiknya total pengeluaran energi. Tubuh akan mulai ‘mematikan’ metabolismenya. Seperti yang kita lihat dengan studi kelaparan—suhu tubuh rendah, denyut jantung menurun, tekanan darah menjadi di bawah rata-rata, dan volume jantung menyusut, semua dilakukan dalam usaha untuk menghemat energi, si tubuh tampaknya sudah putus asa. Ada juga efek psikologis yang dihasilkan, seperti terobsesi dengan makanan, dan tidak sanggup berkonsentrasi.

Hasil akhir—kita kembali menggemuk. Hal ini, tentu saja, pasti sudah dialami oleh para pelaku diet.

Seperti yang bisa Anda lihat, gagalnya diet, nothing, nothing, dan nooooothing alias tidak ada hubungannya dengan kurangnya kemauan atau kegagalan moral atau apapun. Ini hanyalah fakta siklus hormonal. Kita merasa lapar, kedinginan, capek dan depresi. Ini semua adalah efek fisik yang nyata dan dapat diukur dari membatasi kalori.

Jadi inilah intinya. Dengan memusatkan perhatian hanya pada kalori dan pembatasan kalori (Caloric Restriction as Primary), kita mengabaikan fakta bahwa melangsing dengan metode ini akan mengakibatkan tubuh mati-matian mencoba mengembalikan berat badan ke berat aslinya. Kita merasa lapar dan tubuh mematikan metabolisme untuk menghemat kalori sehingga kita akan kembali menggemuk. Ini adalah jaminan virtual.

Hampir semua studi diet jangka panjang (seperti Women’s Health Initiative) menunjukkan Anda akan kembali menggemuk. Sebenarnya, bahkan, saya tidak perlu meyakinkan Anda tentang fakta ini. Di lubuk hati yang terdalam, Anda tahu tentang fakta ini.

Sumber Gambar

Ini, inilah lingkaran setan kurang makan. Kita mulai dengan makan lebih sedikit. Kita melangsing. Kemudian metabolisme kita melambat dan kelaparan meningkat. Kita mulai menggemuk. Lantas, kita melipatgandakan usaha kita dengan makan lebih sedikit lagi.

Turun berat badan hanya secuil, tapi kita kembali mengurangi pengeluaran energi dan rasa lapar melonjak. Kita kembali membulat. Siklus ini berlanjut sampai tak bisa ditoleransi lagi.

Pada saat itu, kita tidak bisa mengikuti diet ini lagi, dan berat badan kita kembali seperti sebelum berdiet. Teman, keluarga, profesional medis sekarang menyalahkan korban dengan diam-diam, berpikir bahwa ini adalah ‘kesalahan kita’. Entah bagaimana, kita merasa bahwa kita adalah sebuah kegagalan. Itu terjadi pada kita semua—bahkan dokter/ even doctors. Sound familiar? Yeah, I thought so.

Mau Hepi? 3 Cara Cepat Yang Bisa Kamu Lakukan Hari Ini

“Very little is needed to make a happy life; it is all within yourself, in your way of thinking.”

“Ingin bahagia? Sesungguhnya sangat sedikit yang dibutuhkan; semua stok-nya ada di dalam dirimu, segalanya tergantung pola pikirmu.” Marcus Aurelius Antoninus

“If you want happiness for an hour — take a nap.’
If you want happiness for a day — go fishing.
If you want happiness for a year — inherit a fortune.
If you want happiness for a lifetime — help someone else.”
Chinese Proverb

“Seandainya kamu ingin hepi selama satu jam—tidur siang.”
Jika kamu mau bahagia seharian—-pergilah memancing.
Pabila agan menginginkan kebahagiaan selama setahun—mewarisi banyak uang.
Jikakau  Anda mendambakan hepi seumur hidup – bantu orang lain.”
Pepatah China

“When one door of happiness closes, another opens, but often we look so long at the closed door that we do not see the one that has been opened for us.” Helen Keller

“Ketika salah satu pintu kebahagiaan telah menutup, pintu lain akan terbuka, tapi seringkali kita menatap kosong lama sekali pada pintu yang ditutup sehingga kita tidak bisa melihat pintu yang sudah menganga tepat di muka kita.” Helen Keller

 Datangnya si hepi tidak harus berasal dari sesuatu yang gigantis atau kejadian luar biasa. Ia juga bisa datang dari sesuatu yang lebih kecil, bahkan dari kebiasaan sehari-hari.

Jadi, hari ini saya hanya ingin berbagi 3 tips-cepat yang membuat saya lebih bahagia, dengan menerapkan kebiasaan ini, membuat saya bersiul-siul riang menjalani detik demi detik yang dulunya terasa sesak dan hampa.

Start by setting a low bar for happiness.

Mengubah parameter si hepi di level serendah mungkin.

Gini, Bro. Ketika kamu bangun di pagi hari katakan pada diri sendiri kalimat ini, “Buddy, gue netapin bar yang rendah buat si hepi hari ini, sepakat?”

Berdasarkan pengalaman saya, ketika saya berujar pada diri saya sendiri, dan mencoba mengingatnya pada siang hari, saya jadi bisa menghargai hal-hal lain.

Makanan, pekerjaan saya, cuaca, kejadian kecil hari ini, adalah sesuatu yang patut kita syukuri, belum tentu datangnya setiap hari. Langit biru hari ini, mungkin akan digantikan langit kelabu esok hari. Sup ayam pedas detik ini akan disubtitusi dengan roti bakar di kemudian hari. Hal-hal kecil yang dulunya biasa menjadi istimewa ketika saya mencoba menghargainya. Ambil jeda beberapa detik untuk memperhatikan dan berterimakasihlah. Bersyukur dengan apa yang telah kita miliki.

Pertanyaan besarnya, dengan saya mengapresiasi hal-hal kecil di rutinitas saya, apakah saya menjadi tidak termotivasi melakukan sesuatu yang lebih wah, menjolok mimpi saya misalnya?

Not in my experience.

Justru sebaliknya. Saya berubah menjadi lebih baik. Saya memandang hidup dengan cara 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Bahan bakar saya menjadi full tank. Inspirasi saya membludak. Dan saya menjadi tahan banting serta sanggup mengeksplorasi serta bekerja lebih efisien, dan ini mencakup pekerjaan besar ataupun kecil.

Saya rekomendasikan tips ini, coba saja kalian uji dan mari kita lihat bagaimana ini akan memperlicin segalanya. Tentunya, lama kelamaan kamu akan melupakan tentang bar rendah tadi. Lantas flow-nya akan menjadi natural dan ini akan menciptakan gap yang besar.

Help someone out.

Membantu orang lain.

Cara paling simpel dan paling ampuh untuk membuat hepi adalah membantu orang lain, terutama yang sedang tertimpa masalah.

Bagaimana cara membantu seseorang? Dengan memberi mereka nilai, apa pun bentuknya. Mungkin kalian bingung dengan kalimat ini, tampak abstrak? Oke, saya berikan beberapa ide mengenai ini, yaitu:

Menawarkan beberapa bantuan praktis. Jadi langsung take action aja, misalnya membantu teman pindahan kos-kosan, atau memasak makan malam.

Memberikan saran yang ciamik. Teman kita mungkin tidak selalu menginginkan nasehat tapi jika mereka meminta maka berikan saran terbaikmu berdasarkan pengalamanmu.

Hugs. Memberikan orang lain sebuah pelukan. Memeluk dan dipeluk membuat nyaman, dan membuat situasi orang lain setidaknya menjadi lebih baik. Tidak usah berkata apa-apa, cukup hanya sebuah pelukan.

Memberi dorongan dan motivasi untuk seseorang. Ada banyak keputusasaan di dunia ini. Jadi sebagai gantinya, jadilah pengecualian dan beri motivasi orang lain untuk percaya pada dirinya sendiri dan yakin dengan apa yang ingin mereka lakukan.

Dengarkan saja. Terkadang orang tidak menginginkan bantuan. Mereka hanya ingin curhat atau perlu seseorang untuk mendengarkan saat mereka memikirkan segalanya dan melepaskan emosi yang terpendam. Ini mungkin tidak tampak seperti bantuan besar, tapi bisa menjadi sangat penting bagi seseorang yang membutuhkannya. Jadi duduk di sana dengan 100% memusatkan perhatian kepadanya—jangan duduk di sana memikirkan sesuatu yang lain—cukup sediakan kedua telinga.

Membantu orang lain memandang sebuah perspektif baru. Untuk orang yang sedang ditimpa problem, mungkin mereka akan terbungkus dalam keruwetan dan membikin gunung masalah mencuat dari gundukan tanah. Tapi kamu bisa membantu dengan membubuhkan perspektifmu. Kalian berdua bisa membicarakannya, mungkin menertawakannya dan bahkan menemukan kesempatan yang ngumpet dalam kepusingan di kepala seseorang. Sebelum berdialog denganmu, mungkin dia merasa langit jatuh, namun dengan wacana baru, dia akan menemukan sesuatu yang ternyata malah berkilau.

Dan ingatlah untuk menepuk punggungmu sendiri dan hargai dirimu karena sanggup membantu seseorang keluar dari problematikanya. Jangan mengecilkan kontribusimu atau menganggap itu angin lalu.

Ambil jeda dan luangkan momen untuk diam-diam merenungkan bagaimana kamu telah melakukan sesuatu yang baik.

 

Be kind to yourself.

Jadilah sahabat yang baik untuk diri sendiri.

Bersikap baik kepada diri sendiri adalah hal yang sangat membantu untuk healthy self-esteem atau percaya diri yang sehat dan merupakan bensin untuk menjalani kehidupan yang lebih bahagia.

Ada banyak cara untuk bersikap lebih manis terhadap dirimu sendiri, tetapi tiga hal ini juga ampuh, yakni:

Change your input to things that are kind and constructive.

Jangan mengkritik dirimu sendiri seolah-olah kamu penjahat kelas kakap. Berilah masukan yang ramah dan konstuktif pada dirimu sendiri.

Pesan toksik dari orang-orang di sekitarmu atau manusia dengan radius jauh seperti media, iklan dan masyarakat biasanya malah membuat kamu meninju dirimu sendiri.

Jadi, sedikit demi sedikit, ganti asupan harian dan mingguanmu dengan input yang membuatmu lebih bugar.

Ini bisa menjadi motivasi untuk teman dan keluarga, bisa juga menolong seseorang yang situasinya hampir sama denganmu.

Mebiasakan membaca buku-buku praktis pengembangan diri atau blog juga bisa membantumu dengan solusi yang nyata, dan membantumu menghadapi tantangan di depan mata dan tujuan apa yang ingin kamu genggam.

Lebih banyak menginvestasikan waktu di alam dan situasi yang tenang untuk rileks dan mengisi batere dirimu sendiri. Luangkan waktu untuk bersantai.

Compare yourself to yourself.

Membandingkan dirimu dengan dirimu lagi.

Membandingkan apa yang kamu punya dan hasil yang telah kamu raih dengan prestasi orang lain adalah hal yang bisa membunuh motivasi dan membikin minder. Untuk apa? Hanya membuatmu lelah. Karena faktanya, akan ada seseorang yang selalu melangkah lebih dulu. Di atas langit pasti ada langit.

Jadi fokus sama diri sendiri aja. Hargai apa yang sudah kita capai. Ini sesuatu yang penting dan harus digarisbawahi, karena merupakan motivator yang powerful, konsentrasi pada dirimu sendiri bisa menjadi pengingat setinggi apa kamu telah menanjak dan berapa ratus kilo meter kamu telah berlari.

Give yourself a break.

Beristirahatlah.

Kadang saya mendengar bahwa kamu harus selalu positif dan selalu menjadi pemenang setiap saat supaya bisa seinchi lebih dekat dengan tujuanmu. Man, ini crap banget. Sampah abis, dan bener-bener nggak masuk logika. Memang sih terdengar inspiratif di teorinya. Tapi, realitasnya kita ini tidak sempurna. Setiap makhluk di bumi ini tidak ada yang perfecto. Jadi, menangislah jika memang sedih. Marahlah jika memang kesal. Normal-normal sajalah.

Hidup memang seperti ini. Kadang tingggi, kadang rendah. Kamu bisa ngejalanin hidup ala kamu sendiri. Kadang saya merasa lemas dan tidak memiliki energi, atau bahkan saya takut melakukan sesuatu. Dan ini wajar. And that’s OK. Ini tidak apa-apa.

Alih-alih memaksakan diri mewujudkan citra sempurna yang dimiliki orang lain dan/ atau memukuli badan Anda sendiri agar selalu berdiri tegap, lebih baik menetapkan standar manusia untuk diri Anda sendiri. Beri waktu dirimu untuk leha-leha sejenak. Beristirahat dari rutinitas. Jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, lebih baik kita beri diri kita jeda, dan tetap mengucapkan selamat pada diri kita sendiri. Santai saja.