Ingin Ramping dan Kurus? Aku Bisa Membuatmu Kurus Dengan Cepat Lho

Sumber Gambar

Berdasarkan Hormonal Obesity Theory (HOT), kita telah menarik sebuah dalil  bahwa insulin dengan kadar tinggi dapat menyebabkan obesitas. Meski kita telah membatasi asupan kalori, makan super sedikit, namun jika kita menyuntikkan insulin atau meminum obat yang menstimulasi insulin (sulphonyureas), kita tetap akan menggemuk. Jika memang teori ini benar adanya, maka, jika kita mengurangi insulin, harusnya kita meramping dong. Dengan kata lain, walaupun kita menambah kalori, tetapi jika insulin ditekan, seharusnya kita sanggup membuang lemak. Faktanya, ternyata teori tadi benar 100%.

Diabetes Tipe 1 adalah penyakit autoimun pankreas. Apakah itu? Sel penghasil insulin di tubuh telah rusak. Oleh karena itu, level insulin terjun bebas ke tingkat yang sangat rendah. Gula darah meningkat dalam darah. Tapi ciri khas penyakit ini adalah penurunan berat badan yang parah. Deskripsi klasik Aretaeus tentang diabetes tipe 1 “Diabetes adalah … mencairnya daging dan anggota badan menjadi air kencing”. Artinya, apa pun yang kamu makan, kamu tetap akan kurus kerontang. Sebelum ditemukan insulin, penyakit ini selalu berakibat fatal. Esensinya, insulin adalah sinyal bagi tubuh untuk menimbun lemak. Jika kita memberi insulin, tubuh akan bertambah gemuk. Jika kita menyedot insulin keluar, kita akan melangsing.

By: Dokter Jason Fung (I Can Make You Thin…Insulin – Hormonal Obesity V)

Dengan kalimat lain artinya adalah insulin merupakan salah satu pengendali utama bodi set weight (BSW). Jika jumlah insulin naik, tubuh kita diperintahkan untuk menambah berat badan. Inilah yang membuat nafsu makan kita menggila. Kita akan merasa sangat lapar dan terpaksa makan.

Jika kita tidak makan, kemudian tubuh akan menurunkan Total Energy Expenditure (TEE) atau Kalori keluar, sehingga meskipun kita makan sedikit semuanya berubah menjadi daging dan lemak. Nafsu makan menggelegak dan malas bergerak adalah akibat dan efek samping dari obesitas bukan penyebab kegemukan.

 The Great Gary Taubes telah mengatakan-

Kita tidak gemuk karena kita makan berlebihan

Kita makan berlebihan karena kita gemuk

Oleh karena itu, sekarang kita bisa membikin pertanyaan sempurna. Mengapa kita gemuk? Kita menjadi gendut karena kadar insulin kita terlalu tinggi. Dalam sebagian besar kasus, insulin adalah pemain utama dalam obesitas. Meskipun, bukan satu-satunya pelaku kejahatan—kortisol juga memainkan peran. Kortisol adalah hormon stres.

Nah, sekarang, jika kita berhipotesis bahwa kortisol yang meluber bisa mengakibatkan kegemukan, mudah saja solusinya, mari kita beri pasien asupan kortisol, lantas kita amati, apakah ia menggemuk atau tidak.

Kita bisa mengobservasi kasus dimana kortisol terlalu banyak diproduksi di tubuh. Ini disebut penyakit Cushing atau Cushing’s Syndrome. Ciri penyakit ini? Menggemuk.

Sumber Gambar

Di pasaran terdapat obat sintetis kortisol—sangat lumrah digunakan sebagai obat yang disebut prednisone, yaitu kortikosteroid. Ini adalah anti-inflamasi yang setrong dan sering digunakan dalam pengobatan asma, lupus dan gangguan inflamasi lainnya. Jadi, kalau kita memberikan prednison kepada seseorang, apa yang terjadi? Sindrom cushinoid akan berkembangbiak.

Dengan kata lain, pasien ini terlihat seperti berpenyakit Cushing. Sebagian besar mereka menyadari fakta bahwa mereka bertambah gemuk. Ciri khasnya, distribusi lemak tidak merata, dimana dinamakan obesitas truncal, yang artinya lemak tertimbun di bagian tengah tubuh, bukan di tempat biasanya lemak bersemayam (lengan dan kaki).

Sumber Gambar

Bagaimana jika terjadi sebaliknya? Jika kita percaya bahwa kortisol dapat menyebabkan obesitas, lalu bagaimana jika tingkat kortisol turun ke tingkat yang sangat rendah? Ya, ada juga penyakit Addisons. Ini juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal.

Kelenjar adrenal menghasilkan kortisol dan jika kelenjar ini rusak, maka kadar kortisol serta hormon lainnya berada di level sangat minimal. Ciri penyakit Addison? Penurunan berat badan.

Jadi apakah kunci kegemukan? Hormon. Dan ini adalah hubungan kausal. Satu hal menyebabkan yang lain. Ini adalah hubungan yang jauh lebih bertenaga dibandingkan kebanyakan studi korelasi (lihat peraturan #2 – Studi korelasi kebanyakan omong kosong)

Jika kita meningkatkan insulin, kita bertambah gemuk. Jika kita menurunkan insulin, kita menurunkan berat badan. Bobot tubuh kita (dan juga segala sesuatu di tubuh) diatur oleh hormon.

Variabel fisiologis yang penting bukan pada asupan kalori namun regulasi hormon. Kamu menggemuk jika hormon insulin dan kortisolmu tumpah-tumpah. Ini sungguh masuk akal.

Pertimbangkan hal ini. Jika kita makan 2000 kalori/ hari, jumlahnya mencapai 730.000 kalori dalam setahun (2000 * 365 = 730.000). Hampir semua orang, menambah berat badan sekitar 1-2 pon per tahun. Tidak banyak, tapi  bayangkan jika lebih dari 25 tahun, timbunan lemak di tubuh kita bisa mencapai 50 pound, ekstra. Dalam istilah kalori, ini berarti kelebihan kalori dari 7.200 kalori selama 1 tahun dengan asumsi bahwa 1 pon lemak kira-kira 3.600 kalori.

Tingkat kesalahannya sangat rendah, bahkan tidak mencapai angka 1%. Jika kita mempunyai kemampuan untuk melacak berapa banyak kalori yang kita makan dan berapa banyak kalori yang kita bakar, apakah menurutmu kamu bisa menghitungnya dengan sangat akurat? Sebagian besar dari kita bahkan tidak tahu berapa banyak kalori yang kita makan atau bakar pada waktu tertentu! Iya kan? Bagaimana ini bisa dikendalikan oleh otak rasional kita?

Seharusnya tubuh kita seperti ini. Idealnya. Tanpa insulin dan kortisol berlebihan.

Kita tidak mengendalikan berat badan kita, sama halnya kita nggak bisa mengontrol detak jantung kita. Keduanya berlangsung secara otomatis di bawah pengaruh hormon. Hormon memberitahu pada saat kita lapar. Hormon membisiki kita bahwa kita kenyang.  Hormon memberi tahu kita kapan harus meningkatkan pengeluaran energi. Hormon memberi tahu kita kapan harus memblokade energi mengalir.

Obesitas adalah disregulasi hormonal, yang mengakibatkan akumulasi lemak. Saat kita memforsir pengeluaran hormon, kita terkena penyakit seperti obesitas. Jika kita bisa mengerti bahwa obesitas adalah ketidakseimbangan hormon, maka kita siap untuk mengajukan pertanyaan selanjutnya—bagaimana kita mengatasi obesitas?

Jika kita percaya bahwa kelebihan kalori menyebabkan obesitas (Kalori Reduksi sebagai Primer) maka pengobatannya adalah mengurangi kalori. Dan ini adalah salah kaprah. Pemahaman gagal total. Jika kita paham bahwa obesitas disebabkan oleh insulin yang membludak, maka kita perlu menggeret insulin di kadar rendah.

Faktanya, jika kita melihat di data ini, bahwa pemahaman kita tentang obesitas keluar gelanggang dan tidak karu-karuan sejak zaman William Banting (pertengahan 1800an). Dari pertengahan 1800 sampai pertengahan 1900-an mereka percaya bahwa gula dan pati menyebabkan obesitas. Kegemukan diobati dengan memangkas gula dan pati. Dan hei, coba tebak, mereka telah sukses parah.

Dari tahun 1950 sampai 2000an, kita percaya bahwa kalori menyebabkan obesitas. Hal ini menyebabkan saran diet membatasi kalori—yang mana sudah pasti menuju gerbang neraka kegagalan. Dan hei, coba tebak, tingkat obesitas pun meledak.Kini, dengan membaca postingan ini kita 100% paham tentang dasar-dasar hormonal obesitas, kita sanggup melihat sebuah lingkaran utuh, dan kita sadar sebuah fakta bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab menjamurnya obesitas.

Kuncinya adalah me-restore insulin, dan menurunkan tingkat kortisol ke level sangat rendah. Sekali lagi, trik jitunya bukan menyeimbangkan kalori—namun menyelaraskan hormon.

Ingin Kurus dan Langsing? Simak Tentang Revolusi Atkins

Sumber Gambar

Revolusi Atkins – Hormon Obesitas

Penelitian jangka pendek diet-rendah-karbohidrat-ala-Atkins sangat menggembirakan. Tidak hanya pasien sanggup lebih langsing, namun profil metabolik para pasien menjadi lebih baik dibandingkan dengan diet-rendah-lemak, beberapa tahun yang lalu. Jutaan orang mengadopsi gaya hidup rendah karbohidrat, dan sepertinya menikmati manfaatnya. Menjelang pertengahan 2000-an, impian dokter Atkins mengenai Revolusi Diet telah berjalan dengan baik, mulus dan tepat sasaran. Ditambah lagi, penelitian lain, yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine nan bergengsi sepertinya menunjukkan bahwa diet Atkins mungkin bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan mempertahankan berat badan ideal.

By: Dokter Jason Fung

Dengan judul “Diets with High or Low Protein Content and Glycemic Index for Weight-Loss Maintenance”, penelitian ini dipublikasikan pada 25 November 2010. Sebanyak 773 pasien yang dipilih secara random setelah kehilangan berat 10% pada 4 kelompok protein tinggi dan rendah yang berbeda. Atau indeks glikemik rendah. Tiga dari 4 kelompok mulai menggemuk kembali. Satu-satunya kelompok yang berhasil mempertahankan penurunan berat badan adalah kelompok protein tinggi-kelompok indeks glikemik rendah. Ini terlihat sangat bagus bagi pengikut Atkins garis keras.

Pada tahun 2005, dalam Annals of Internal Medicine, artikel “Effect of a Low-Carbohydrate Diet on Appetite, Blood Glucose Levels, and Insulin Resistance in Obese Patients with Type 2 Diabetes” menunjukkan bahwa 2 minggu diet karbohidrat sangat rendah tanpa batasan  kalori ternyata sanggup mengurangi nafsu makan dan menurunkan berat badan. Dr. Boden menulis, “ketika kami menghilangkan karbohidrat, pasien secara spontan mengurangi konsumsi energi sehari-hari mereka sebesar 1.000 kalori per hari.” Tingkat insulin turun dan sensitivitas insulin dipulihkan. Great!

Dr. David Ludwig menyiramkan bensin ke api pada tahun 2012 saat menerbitkan artikelnya “Effects of Dietary Composition on Energy Expenditure During Weight-Loss Maintenance” pada tahun 2012 dalam Journal of American Medical Association. Dia mempelajari perbedaan Total Pengeluaran Energi (kalori yang terbakar) setelah penurunan berat badan, dia menemukan bahwa penurunan terbesar TEE adalah diet rendah lemak. Diet terbaik? Diet karbohidrat sangat rendah. Implikasinya di sini adalah diet karbohidrat yang sangat rendah akan menjaga metabolisme tetap tinggi dan mendorong penurunan berat badan. Hidup revolusi!

 Hal pertama yang terjentik di otak adalah bahwa karbohidrat olahan sering menyebabkan ‘kecanduan makanan’. Sementara protein dan lemak selalu menyalakan sinyal kenyang. Hormon seperti CCK dan peptide YY merespons protein dan lemak yang tertelan untuk memberi sinyal pada tubuh bahwa kita kenyang. Pikirkan terakhir kali Anda makan prasmanan, ketika Anda merasa sangat kekenyangan dan tidak sanggup mengunyah apa pun lagi. Sekarang, pikirkan makan 2 potong bistik daging. Ugh. Mungkin Anda tidak sanggup menelannya. Itulah hormon kenyang yang bekerja.

Tapi bagaimana jika Anda ditawari satu sendok kecil es krim dan pai apel? Sepertinya tidak terlalu sulit untuk melahapnya, bukan? Beberapa orang di keluarga saya biasa menyebut fenomena ‘perut kedua’. Artinya, setelah perut pertama kenyang, kami membayangkan ada perut kedua untuk makanan pencuci mulut.

Pikirkan makanan yang konon mempunyai efek ‘kecanduan’. Pasta, roti, biskuit, coklat, keripik. Sadar tentang sesuatu? Semua makanan yang mempunyai efek adiksi ini adalah karbohidrat yang sangat halus. Apakah ada yang pernah mengatakan bahwa mereka ‘kecanduan’ ikan? Apel? Daging sapi? Bayam? Not likely.

Pertimbangkan beberapa makanan yang mempunyai ciri khas memberikan rasa nyaman. Mac dan keju. Pasta. Es krim. Pai apel. Kentang tumbuk. Pancake. Notice anything?  Semua ini adalah karbohidrat yang sangat halus atau tepung. Karbohidrat olahan mudah menjadi ‘kecanduan’ dan membuat kita makan berlebihan justru karena tidak ada hormon kenyang alami. Pasalnya, tentu saja, karbohidrat olahan bukanlah makanan alami, tapi makanan hasil proses tingkat tinggi. Toksisitasnya terletak pada pengolahan.

There were objectors, of course. Salah satu konsentrasi utama pada diet Atkins adalah mengenyahkan water weight atau membuang air. Hal ini tentu saja benar. Salah satu tujuan nomor wahid pada diet adalah menurunkan kadar insulin dengan mengendalikan asupan karbohidrat.

Salah satu efek insulin yang diketahui adalah merangsang retensi garam dan air. Secara khusus, insulin bekerja pada tubulus proksimal di ginjal untuk merangsang reabsorpsi natrium. Jadi diet yang mengurangi kadar insulin dengan sangat membatasi karbohidrat mengakibatkan kita kehilangan garam dan air. Karena kita menumpuk banyak air di tubuh kita cukup banyak, dengan melakukan diet Atkins, awalnya, sebenarnya kita bukan kehilangan lemak, tapi kita melenyapkan air.

Sumber Gambar

Mengapa ini hal yang buruk?

Maksudku, siapa yang menginginkan pergelangan kaki oakematik membengkak sangat besar? Cankles (betis + pergelangan kaki) menggelembung—saya sih tidak mau. Hiiiy.

Kelebihan garam dan retensi air juga akan menyebabkan tekanan darah tinggi, sehingga kehilangan berat air merupakan hal yang sangat baik untuk saya. Jadi mengapa para kritikus selalu memalu dan mempermasalahkan hal ini?

Ada pendapat lain yang sering terdengar bahwa diet rendah karbohidrat membuat gizi tidak seimbang. Ini juga tidak masuk akal. Yang tubuh kita butuhkan pada dasarnya adalah asam lemak atau Fatty Acid, dan asam lemak ini tidak diproduksi oleh tubuh, jadi harus diimpor dari luar. Oleh karena itu, untuk bisa bertahan hidup kita menggantunglan diri pada asam lemak ini. Omega 3 dan Omega 6 adalah contoh asam lemak tadi.

Ada juga asam amino esensial. Ini adalah blok bangunan protein yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia. Oleh karenanya, kita bergantung pada makanan kita untuk menyediakan asam amino esensial ini agar bisa bertahan hidup. Phenyalanine, valin, dan treonin adalah contoh asam amino esensial.

Sumber Gambar

Tidak ada karbohidrat yang penting. Mereka tidak dibutuhkan untuk bertahan hidup. Karbohidrat pada dasarnya adalah rantai gula. Gula secara inheren tidak bergizi. Banyak makanan nabati yang mengandung karbohidrat (kangkung, brokoli) mengandung vitamin, mineral dan zat bermanfaat lainnya. Tapi karbohidrat itu sendiri tidak penting dan juga tidak sehat. Jika kita menghilangkan tepung, kita bisa menambahkan makanan bergizi lainnya dalam hidangan kita. Jadi, mengapa di dunia ini ada orang waras yang merekomendasikan memakan makanan yang kandungan gizinya 25% bangkrut, atau mengapa kita harus menambahkan karbohidrat yang adiktif?

Isu lain yang sering terdengar adalah bahwa diet tinggi protein buruk bagi ginjal. Pertama, dengan diet rendah karbohidrat menyebabkan kita mengonsumi makanan tinggi protein atau lemak, dan ini perlu kita kaji kembali. Dokter tertentu, seperti Dr Eenfeldt dengan sangat ciamik menulis blog hebat www.dietdoctor.com, merekomendasikan diet Low Carbohydrate High Fat (LCHF). Diet ini tampaknya telah mengakar di negara asalnya—Swedia—dan dengan cepat menyebar.

Diet tinggi protein mungkin tidak direkomendasikan untuk orang dengan masalah ginjal. Sebagai nephrologist, saya mengkhususkan diri pada penyakit ginjal. Dalam Penyakit Ginjal Kronis, kemampuan untuk mengatasi produk pemecahan protein terganggu dan diet protein tinggi tidak disarankan. Namun, untuk mereka dengan fungsi ginjal normal, tidak ada kekhawatiran. Beberapa penelitian terbaru menyorot masalah serupa. Dalam makalah “Comparative Effects of Low-Carbohydrate High-Protein Versus Low-Fat Diets on the Kidney—Friedman et al, Klinik J Am SocNephrol 7: 1103-1111; 2012 “Subjek obesitas sehat diperiksa secara khusus untuk efek yang merugikan pada ginjal. Intinya tidak ada masalah seperti itu. Mereka menulis bahwa diet protein tinggi “was not associated with noticeably harmful effects on GFR, albuminuria, or fluid and electrolyte balance”                         

Ingin Kurus dan Langsing? Baca Tentang Pima Paradox dan Sumo


Sumber Gambar

The Pima, Sumo and Canine Diets – Fenomena Obesitas
By: Dokter Jason Fung

Orang Pima Indian dari Amerika SouthWest memiliki tingkat obesitas dan diabetes tertinggi di Amerika Utara. Diperkirakan 50% orang dewasa Pima adalah obesitas dan di antaranya, 95% menderita diabetes. Bagaimana ini bisa terjadi? Ada banyak hipotesis. The Thrifty Gene Hypothesis menjadi populer di tahun 1970an dan beberapa orang masih mempercayainya. Menurut hipotesis ini, kita semua diprogram secara genetis untuk menggemuk. Tetapi, karena makanan pada umumnya tidak tersedia, kita tidak mengalami obesitas. Di zaman modern, makanan mudah didapat setiap saat. Gen kita sekarang bekerja melawan kita dan memaksa kita untuk makan dan menyimpan makanan sebagai lemak. Ada banyak masalah dengan teori ini.

Di masa makanan di alam berlimpah (crops, game, ikan), obesitas atau diabetes tidak tumbuh kembang pada orang Pima. Seorang pria seberat 160 pound dengan persentase lemak tubuh 10% (sangat kurus) bisa bertahan selama 30 hari tanpa makanan. Jadi, sesungguhnya, gen kita tentu saja tidak perlu untuk memprogram kita untuk memiliki 30 atau 40% lemak tubuh. Selain itu, super duper penting untuk menghindari kelebihan lemak tubuh agar sanggup bertahan hidup. Pada masa kita tinggal di goa, menurut saya, orang seberat 400 pon, yang mana hampir tidak bisa berjalan, pasti tidak akan sanggup bertahan di alam liar untuk waktu yang lama.


Suku Pima

Sebelum tahun 1900an, Pima hidup dengan cara tradisional, mereka bergantung pada pertanian, perburuan dan penangkapan ikan. Makanan olahan bukan bagian dari hidangan mereka. Semua laporan dari waktu itu menunjukkan bahwa Pima ‘sigap’ dan kondisinya sehat-sehat saja.

Pada awal 1900-an, pos perdagangan Amerika mulai terbentuk di sepanjang Barat. Tak lama kemudian, petani Amerika memindahkan pasokan air yang seharusnya untuk Pima, malah dialihkan untuk pertanian. Hal ini menyebabkan kelaparan meluas. Pemerintah memberikan bantuan pangan untuk meringankan beban mereka. Gula dan tepung mulai dipasok. Kedua benda itu mulai menggantikan makanan tradisional Indian Pima. Pada tahun 1950-an, terjadilah obesitas yang meluas terkait dengan kemiskinan yang mulai dienyahkan.

Situasi yang melanda Indian Pima tentu saja tidak unik. Obesitas dan diabetes (Diabesity) telah menjadi masalah bagi hampir semua suku asli Amerika. Hal ini terjadi beberapa dekade sebelum epidemi obesitas saat ini melanda di Amerika Utara. Sebagian besar suku asli mengembangkan obesitas di era 1920-1950, jauh sebelum epidemi saat ini yang dimulai pada tahun 1977.


Sumber Gambar

Beberapa orang percaya bahwa obesitas adalah merupakan akibat karena kita terlalu banyak menconggok di depan komputer, atau duduk manis bermain games, atau karena kemana-mana menggunakan mobil. Yang lain berasumsi karena adanya peningkatan prevalensi makanan cepat saji, atau karena makan di luar. Namun, ini tidak menjelaskan epidemi obesitas di Pima beberapa dekade sebelum obesitas meluas di Amerika Utara. Tampaknya obesitas paradoks telah terbentuk sebelum faktor-faktor yang disebutkan di atas.

Jadi, apa dong yang bisa merupakan penjelasan tentang Pima Paradox? Cukup sederhana. Obesitas di mana-mana penyebabnya sama saja, bukan hanya di Pima. The fattening carbohydrate atau karbohidrat yang menggemukkan. Ketika Pima mengganti makanan tradisional (yang tidak dimurnikan) dengan gula dan tepung yang sangat halus, mereka menjadi gemuk.


Makanan Pesumo Chankonabe

Saat mereka mengalami obesitas, mereka mengalami resistensi insulin dan setelah itu diabetes. Resistensi insulin menyebabkan peningkatan kadar insulin lebih tinggi dan melestarikan diabetes.

Coba kita tengok diet Sumo. Bagaimanapun, orang Jepang telah menghabiskan waktu lama mempelajari bagaimana membuat seseorang bertambah berat—sesuatu yang jarang diminati orang lain. Mereka juga terobsesi dengan toilet, manga dan pohon yang benar-benar kecil (bonsai), tapi kita tidak juga belajar dari mereka. Menarik, karena tidak ada budaya lain yang membuat studi tentang bagaimana cara menggemuk.

Timbangan pegulat sumo biasanya menunjukkan angka 400-600 pound, tapi tentu saja, porsi yang signifikan adalah otot dan juga lemak. Dasar diet mereka adalah chankonabe—sup ikan, daging, tahu dan sayuran. Dan, pastinya, 5-10 mangkuk nasi dan 6 liter bir. Dan itu hanya untuk makan siang—mereka juga akan makan segabruk lagi saat makan malam. Ini adalah makanan dengan kadar lemak rendah yang sangat ekstrim—sekitar 16% lemak dan 57% karbohidrat.

Tidur setelah makan juga rutin. Makan siang yang besar diikuti dengan tidur siang, dan makan malam yang banyak dilanjutkan dengan tidur. Let’s see. Diet rendah lemak. Tinggi dalam karbohidrat halus dan bir. Makan malam yang besar diikuti dengan tidur. Kedengarannya sangat mengerikan seperti diet yang direkomendasikan oleh American Heart Association.


Minum bir 6 Liter setiap malam sebelum tidur jika ingin menggemuk.

Mereka makan 10.000 kalori, dan mungkin Anda berpikir bahwa hal itu juga berperan. Tentu saja, bisa jadi itu mungkin, tapi kalori saja tidak cukup seperti yang telah kita eksplorasi di Seri Kalori. Ada kemungkinan mengonsumsi 5.000 kalori per hari dari karbohidrat rendah, tetapi tinggi lemak, dan ternyata tidak menimbulkan kenaikan berat badan yang signifikan. Jadi kalori sendiri tidak mencukupi. Overfeeding studies/ studi-makan-banyak juga menunjukkan kesulitan, kalori berlebih tidak menyebabkan kenaikan berat badan. Dalam beberapa penelitian overfeeding (makan banyak), subjek mengonsumsi sebanyak 10.000 kalori per hari, namun hanya naik beberapa kilogram.

Bukan hanya manusia yang sedang mengalami obesitas. Hal yang sama berlaku untuk hewan peliharaan juga. Lebih dari 50% kucing dan anjing tergolong kelebihan berat badan atau obesitas. Jika kita lihat dengan seksama kandungan apa yang ada dalam makanan anjing, kita akan mendapatkan petunjuk, apa penyebab obesitas.

Bahan pertama adalah jagung kuning. Ada juga makanan gluten jagung, tepung terigu utuh, tepung beras dan gula pasir. Semua karbohidrat olahan. Anjing, tentu saja adalah karnivora dan seharusnya tidak makan karbohidrat. Baik anjing ataupun manusia, bisa menggemuk karena karbohidrat olahan.


Sumber Gambar

Hal yang sama berlaku untuk ternak. Di peternakan industri saat ini, ada penekanan untuk membuat ternak digemukkan sehingga mereka bisa secepatnya sampai di meja makan. Sapi biasanya makan rumput, tapi ternyata ini cara yang sangat buruk untuk membuat mereka gemuk.

Biasanya, sapi yang dibesarkan untuk program gemuk, akan diberikan pakan dengan mayoritas 90% biji-bijian. Ini memiliki efek penggemukan yang melesat, sehingga bisa disembelih lebih cepat. Baik sapi ataupun manusia sama saja, jika ingin menjadi obesitas hanya ada satu cara yang super ampuh—karbohidrat yang menggemukkan. Di negara tropis yang tidak banyak tumbuh biji-bijian, molasses/ sari tebu bisa digunakan. Peternak, yang telah mempelajari segala cara untuk menggemukkan ternak, segera menyadari bahwa fattening carbohydrate/ karbohidrat halus bisa membuat hewan ternak membulat. Tidak ada yang lebih baik daripada itu.


Beer Belly atau Fatty Liver

Memberi makan biji-bijian sapi juga memiliki efek ada lemak di tengah-tengah otot. Ini, tentu saja, tidak normal atau tidak sehat bagi sapi. Lemak tidak seharusnya berada di tengah otot. Namun, memang membuat daging lebih empuk sehingga proporsi biji-bijian harus lebih banyak dibandingkan rumput.