Ingin Ramping dan Kurus? Aku Bisa Membuatmu Kurus Dengan Cepat Lho

Sumber Gambar

Berdasarkan Hormonal Obesity Theory (HOT), kita telah menarik sebuah dalil  bahwa insulin dengan kadar tinggi dapat menyebabkan obesitas. Meski kita telah membatasi asupan kalori, makan super sedikit, namun jika kita menyuntikkan insulin atau meminum obat yang menstimulasi insulin (sulphonyureas), kita tetap akan menggemuk. Jika memang teori ini benar adanya, maka, jika kita mengurangi insulin, harusnya kita meramping dong. Dengan kata lain, walaupun kita menambah kalori, tetapi jika insulin ditekan, seharusnya kita sanggup membuang lemak. Faktanya, ternyata teori tadi benar 100%.

Diabetes Tipe 1 adalah penyakit autoimun pankreas. Apakah itu? Sel penghasil insulin di tubuh telah rusak. Oleh karena itu, level insulin terjun bebas ke tingkat yang sangat rendah. Gula darah meningkat dalam darah. Tapi ciri khas penyakit ini adalah penurunan berat badan yang parah. Deskripsi klasik Aretaeus tentang diabetes tipe 1 “Diabetes adalah … mencairnya daging dan anggota badan menjadi air kencing”. Artinya, apa pun yang kamu makan, kamu tetap akan kurus kerontang. Sebelum ditemukan insulin, penyakit ini selalu berakibat fatal. Esensinya, insulin adalah sinyal bagi tubuh untuk menimbun lemak. Jika kita memberi insulin, tubuh akan bertambah gemuk. Jika kita menyedot insulin keluar, kita akan melangsing.

By: Dokter Jason Fung (I Can Make You Thin…Insulin – Hormonal Obesity V)

Dengan kalimat lain artinya adalah insulin merupakan salah satu pengendali utama bodi set weight (BSW). Jika jumlah insulin naik, tubuh kita diperintahkan untuk menambah berat badan. Inilah yang membuat nafsu makan kita menggila. Kita akan merasa sangat lapar dan terpaksa makan.

Jika kita tidak makan, kemudian tubuh akan menurunkan Total Energy Expenditure (TEE) atau Kalori keluar, sehingga meskipun kita makan sedikit semuanya berubah menjadi daging dan lemak. Nafsu makan menggelegak dan malas bergerak adalah akibat dan efek samping dari obesitas bukan penyebab kegemukan.

 The Great Gary Taubes telah mengatakan-

Kita tidak gemuk karena kita makan berlebihan

Kita makan berlebihan karena kita gemuk

Oleh karena itu, sekarang kita bisa membikin pertanyaan sempurna. Mengapa kita gemuk? Kita menjadi gendut karena kadar insulin kita terlalu tinggi. Dalam sebagian besar kasus, insulin adalah pemain utama dalam obesitas. Meskipun, bukan satu-satunya pelaku kejahatan—kortisol juga memainkan peran. Kortisol adalah hormon stres.

Nah, sekarang, jika kita berhipotesis bahwa kortisol yang meluber bisa mengakibatkan kegemukan, mudah saja solusinya, mari kita beri pasien asupan kortisol, lantas kita amati, apakah ia menggemuk atau tidak.

Kita bisa mengobservasi kasus dimana kortisol terlalu banyak diproduksi di tubuh. Ini disebut penyakit Cushing atau Cushing’s Syndrome. Ciri penyakit ini? Menggemuk.

Sumber Gambar

Di pasaran terdapat obat sintetis kortisol—sangat lumrah digunakan sebagai obat yang disebut prednisone, yaitu kortikosteroid. Ini adalah anti-inflamasi yang setrong dan sering digunakan dalam pengobatan asma, lupus dan gangguan inflamasi lainnya. Jadi, kalau kita memberikan prednison kepada seseorang, apa yang terjadi? Sindrom cushinoid akan berkembangbiak.

Dengan kata lain, pasien ini terlihat seperti berpenyakit Cushing. Sebagian besar mereka menyadari fakta bahwa mereka bertambah gemuk. Ciri khasnya, distribusi lemak tidak merata, dimana dinamakan obesitas truncal, yang artinya lemak tertimbun di bagian tengah tubuh, bukan di tempat biasanya lemak bersemayam (lengan dan kaki).

Sumber Gambar

Bagaimana jika terjadi sebaliknya? Jika kita percaya bahwa kortisol dapat menyebabkan obesitas, lalu bagaimana jika tingkat kortisol turun ke tingkat yang sangat rendah? Ya, ada juga penyakit Addisons. Ini juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal.

Kelenjar adrenal menghasilkan kortisol dan jika kelenjar ini rusak, maka kadar kortisol serta hormon lainnya berada di level sangat minimal. Ciri penyakit Addison? Penurunan berat badan.

Jadi apakah kunci kegemukan? Hormon. Dan ini adalah hubungan kausal. Satu hal menyebabkan yang lain. Ini adalah hubungan yang jauh lebih bertenaga dibandingkan kebanyakan studi korelasi (lihat peraturan #2 – Studi korelasi kebanyakan omong kosong)

Jika kita meningkatkan insulin, kita bertambah gemuk. Jika kita menurunkan insulin, kita menurunkan berat badan. Bobot tubuh kita (dan juga segala sesuatu di tubuh) diatur oleh hormon.

Variabel fisiologis yang penting bukan pada asupan kalori namun regulasi hormon. Kamu menggemuk jika hormon insulin dan kortisolmu tumpah-tumpah. Ini sungguh masuk akal.

Pertimbangkan hal ini. Jika kita makan 2000 kalori/ hari, jumlahnya mencapai 730.000 kalori dalam setahun (2000 * 365 = 730.000). Hampir semua orang, menambah berat badan sekitar 1-2 pon per tahun. Tidak banyak, tapi  bayangkan jika lebih dari 25 tahun, timbunan lemak di tubuh kita bisa mencapai 50 pound, ekstra. Dalam istilah kalori, ini berarti kelebihan kalori dari 7.200 kalori selama 1 tahun dengan asumsi bahwa 1 pon lemak kira-kira 3.600 kalori.

Tingkat kesalahannya sangat rendah, bahkan tidak mencapai angka 1%. Jika kita mempunyai kemampuan untuk melacak berapa banyak kalori yang kita makan dan berapa banyak kalori yang kita bakar, apakah menurutmu kamu bisa menghitungnya dengan sangat akurat? Sebagian besar dari kita bahkan tidak tahu berapa banyak kalori yang kita makan atau bakar pada waktu tertentu! Iya kan? Bagaimana ini bisa dikendalikan oleh otak rasional kita?

Seharusnya tubuh kita seperti ini. Idealnya. Tanpa insulin dan kortisol berlebihan.

Kita tidak mengendalikan berat badan kita, sama halnya kita nggak bisa mengontrol detak jantung kita. Keduanya berlangsung secara otomatis di bawah pengaruh hormon. Hormon memberitahu pada saat kita lapar. Hormon membisiki kita bahwa kita kenyang.  Hormon memberi tahu kita kapan harus meningkatkan pengeluaran energi. Hormon memberi tahu kita kapan harus memblokade energi mengalir.

Obesitas adalah disregulasi hormonal, yang mengakibatkan akumulasi lemak. Saat kita memforsir pengeluaran hormon, kita terkena penyakit seperti obesitas. Jika kita bisa mengerti bahwa obesitas adalah ketidakseimbangan hormon, maka kita siap untuk mengajukan pertanyaan selanjutnya—bagaimana kita mengatasi obesitas?

Jika kita percaya bahwa kelebihan kalori menyebabkan obesitas (Kalori Reduksi sebagai Primer) maka pengobatannya adalah mengurangi kalori. Dan ini adalah salah kaprah. Pemahaman gagal total. Jika kita paham bahwa obesitas disebabkan oleh insulin yang membludak, maka kita perlu menggeret insulin di kadar rendah.

Faktanya, jika kita melihat di data ini, bahwa pemahaman kita tentang obesitas keluar gelanggang dan tidak karu-karuan sejak zaman William Banting (pertengahan 1800an). Dari pertengahan 1800 sampai pertengahan 1900-an mereka percaya bahwa gula dan pati menyebabkan obesitas. Kegemukan diobati dengan memangkas gula dan pati. Dan hei, coba tebak, mereka telah sukses parah.

Dari tahun 1950 sampai 2000an, kita percaya bahwa kalori menyebabkan obesitas. Hal ini menyebabkan saran diet membatasi kalori—yang mana sudah pasti menuju gerbang neraka kegagalan. Dan hei, coba tebak, tingkat obesitas pun meledak.Kini, dengan membaca postingan ini kita 100% paham tentang dasar-dasar hormonal obesitas, kita sanggup melihat sebuah lingkaran utuh, dan kita sadar sebuah fakta bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab menjamurnya obesitas.

Kuncinya adalah me-restore insulin, dan menurunkan tingkat kortisol ke level sangat rendah. Sekali lagi, trik jitunya bukan menyeimbangkan kalori—namun menyelaraskan hormon.

Ingin Kurus Dan Ramping? Baca tentang Mengapa Kita Menggemuk

Sumber Gambar

Bagaimana Kita Bisa Menggemuk? – Kalori Bagian I

Pertanyaan yang super duper penting di dunia obesitas adalah MENGAPA KITA BISA MENGGEMUK? Mustahil bisa mengobati sebuah penyakit jika kita tidak mencari akar permasalahannya (etiologi). Katakanlah, jika Anda ngerti bahwa bakteri bisa menyebabkan infeksi, lantas target Anda menjadi fokus pada si bakteri. Untuk mencegah merajalelanya bakteri di tubuh Anda, sekarang Anda menjadi pencuci-tangan-pakai-sabun-garis-keras, misalnya. Jadi, kenapa sih kita bisa membulat–atau pertanyaan lebih ilmiah—Apakah etiologi obesitas? Pertanyaan itulah yang harus kita ajukan.

Tetapi, karena karena kita sering kali sok tau alias sotoy, maka kita jarang menimbang-nimbang pertanyaan ini karena kita MERASA sudah tahu jawabannya.

By: Dokter Jason Fung

Selama ini kita berasumsi kegemukan disebabkan:

  1. Ini adalah masalah kalori masuk versus kalori keluar calories in versus calories out.
  2. Ngunyah mulu, plus jarang gerak.

Kita membiarkan diri kita beranggapan bahwa kedua asumsi di atas merupakan fakta yang tidak bisa diganggu-gugat, jadi ngapain sih pake dipikirin segala? Kita juga sering mengira bahwa mau makan segabruk kek, mau molor bae itu murni merupakan hak azasi manusia dan ngapain repot, sih? Yang mana, mau makan bajing luncat atau melahap sayuran, merdeka aja, karena orang yang bersangkutan akan memanggul tanggungjawab masing-masing. Kita boleh makan brokoli atau bakwan. Kita bisa jogging selama 5 jam, atau duduk manis tersihir tayangan TV. Bebas.

Opini Ahli

Dengan kata lain, obesitas adalah kegagalan setiap individu manusia. Cause of obesity lies in the individual. Makan berlebihan (rakus) atau ogah gerak (malas) adalah kegagalan individu —sebenarnya, ini merupakan 2 dosa dari 7 dosa yang mematikan/ deadly sins. Jika kita bertanya kepada ‘ahli’, mereka setuju bahwa kunci langsing-singset adalah makan lebih sedikit dan bergerak non-stop.

Konsensus suci, Batman. Dengan begitu banyak “ekpert” misalnya Michelle Obama sampai dengan USDA yang mengklaim dirinya sebagai profesional medis (termasuk dokter dan ahli gizi) setuju bahwa ‘Eat Less, Move More’ adalah cara untuk melangsing. Anda mungkin berpikir bahwa itu 100% benar adanya, tidak perlu lagi kita perdebatkan.

Sumber Gambar

Tapi, ada satu hal yang mengganjal dan aneh sekali… Jika kita semua sepakat bahwa itu merupakan obat untuk obesitas (kita sudah menghabiskan miliaran untuk program meramping dan edukasi), tapi mengapa kita semakin menggemuk why are we getting fatter? Dengan kata lain, ‘obat’ ini nyebelin banget sih?

Ayo kita kembali ke bahasan semula. Jika penyebab obesitas adalah makan terlalu banyak dan berolahraga terlalu sedikit, kita bisa memikirkan obesitas dengan cara ini:

Teori Obesitas Konvensional

Saya menyebutnya Hipotesis Kalori sebagai Primer (CRaP). Ini berarti bahwa faktor utama (tapi bukan satu-satunya) dalam obesitas adalah kalori dan mengurangi kalori adalah pengobatan nomor wahid.

Lebih jauh lagi, alasan di balik makan terlalu banyak bukanlah hormon, bukan kelaparan, tapi pilihan pribadi. Ini juga bisa disebut model “Kalori masuk, Kalori keluar” (CICO), dan sering digambarkan sebagai skala. Kalori yang tidak digunakan untuk bahan bakar ketika berolahraga akan disimpan sebagai lemak.

Sumber Foto

Seiring berjalannya waktu, ketidakseimbangan kalori akan menggiring ke akumulasi penimbunan lemak. Ini sering disebut hukum pertama termodinamika ‘First Law of Thermodynamics‘—energi akan bisa diciptakan atau dihancurkan dalam sistem yang terisolasi. Hal ini membikin semuanya terdengar sangat sains dan membangunkan pemikiran Einstein, tetapi, jika diterapkan dengan biologi manusia, penerapan hukum termodinamika sebenarnya tidak terlalu pas.

Tubuh manusia bukanlah sistem yang terisolasi. Energi masuk dan keluar terjadi sepanjang waktu. Tubuh kita adalah sistem terbuka sehingga oleh karena itu termodinamika tidak aci dan salah fokus, mau dibolak-balik dengan cara apapun tetap saja tidak tepat. Baik Hukum Termodinamika Kedua maupun Ketiga tidak berlaku untuk manusia atau mahluk hidup lainnya, jadi mengapa Hukum Pertama diterapkan? Jawabannya adalah dengan menggunakan Hukum Pertama Termodinamika dalam diskusi membuat mereka tampak cerdas.

Dengan itu juga, mereka membuat teori obesitas mereka tampak sebagai sesuatu dengan kadar kredibilitas ilmiah yang tinggi. Maksud saya, saya tidak menerapkan Heisenberg’s Uncertainty Principle atau Prinsip Ketidakpastian Heisenberg ke menu sarapan saya? Jadi mengapa Hukum Pertama Termodinamika berlaku untuk obesitas? Luar biasanya ngawurnya. Tetapi, dengan mengaplikasikan “hukum” ini pada kalori masuk dan kalori keluar akan membuat pencetus teori ini mendapatkan respek yang sesungguhnya tidak pantas disandang. Apa yang dimaksud dengan orang-orang tersebut adalah jika massa lemak stabil maka kalori masuk harus diimbangi dengan kalori keluar.

Mereka berasumsi bahwa sebagian besar kalori dipergunakan untuk olahraga. Namun, ini salah kaprah karena sebenarnya tubuh bisa memilih bagaimana cara mengeluarkan energi yang tertelan. Mari kita lihat contohnya.

Katakanlah kita memakan 2000 kalori untuk energi, nah, nasib metabolik 2000 kalori itu bisa berbeda-beda. Kalori tersebut bisa jadi:

  1. Dibakar sebagai panas tubuh (Resting Energy Expenditure),
  2. Digunakan untuk produksi otot protein/ tulang/ otot,
  3. Dipakai sebagai energi ketika berolahraga/ pengerahan fisik,
  4. Atau disimpan sebagai lemak?

Kita tidak keberatan jika energi dibakar menjadi sumber panas, tapi kita sebal jika kalori disimpan sebagai lemak. Betul?

Sumber Gambar

Lagi pula, kalori keluar tidak stabil. Kadang dia akan naik menjadi 3000 kalori/ hari pada sebagian orang dan turun menjadi 1200 pada orang lain. Ini juga tergantung makanan apa yang kita konsumsi. Jadi, tidak sesimpel kalori bisa keluar kalau kita bergerak terus. Berdasarkan sudut pandang obesitas maka kita bisa menyimpulkan tubuh menyimpan lemak dengan cara:

Lemak Disimpan = Kalori masuk – Kalori keluar

Bila Anda memakai pola ini, maka hal yang menentukan apakah lemak akan disimpan atau dibuang adalah kalori. Jika kita berasumsi bahwa “Kalori keluar” adalah mutlak dan tidak bisa diganggu-gugat, berarti “Kita menjadi gemuk karena kita terlalu banyak makan”. Sekarang asumsi bahwa ‘Kalori Out’ adalah mutlak sudah jelas keliru, tetapi, untuk saat ini mari kita sederhanakan.

Tapi kita bisa mengatur ulang persamaan dengan cara ini:

Kalori Masuk = Lemak Tubuh + Kalori keluar

Jika kita berasumsi lagi bahwa “Kalori Keluar” adalah mutlak dan tidak pernah berubah (salah), maka implikasinya disini adalah bahwa “Kalori Masuk” bergantung pada lemak tubuh. Ini berarti bahwa jumlah yang kita makan ditentukan oleh apakah kita berada dalam mode “menyimpan lemak”.

Sekarang, hal ini membuat kita bertanya—Apa yang menyebabkan kita berada dalam mode menyimpan lemak? Dengan kata lain “Kita makan terlalu banyak karena kita gemuk”. Itu memunculkan pertanyaan yang tepat “Mengapa kita menjadi gemuk?” Atau “Apa itu etiologi obesitas?”—pertanyaan sentral blog ini dan akar penyebab obesitas, diabetes, penyakit jantung, kanker dan sebagian besar penyakit yang disebut penyakit peradaban diseases of civilization.

Kedua persamaan itu tidak salah, dan tidak melanggar “Hukum Pertama Termodinamika”, namun implikasinya sangat berbeda. Manakah interpretasi yang benar?

Ingin Langsing dan Kurus baca tentang Lemak Jenuh

Sumber Gambar

Lemak Jenuh Sebagai Efek Pelindung Untuk Penyakit Kardiovaskular—Hormon Obesitas

Lemak jenuh yang dipercaya sebagai racun ternyata malah menjadi sosok pahlawan pasca lemak transnya dilucuti. Dengan kata lain, lemak jenuh tidak berbahaya, tidak seperti yang telah digembar-gemborkan selama ini. Dan telah banyak penelitian menunjukkan fakta bahwa ada kemungkinan  lemak jenuh merupakan faktor protektif terhadap penyakit jantung. Studi “Dietary fats, carbohydrate, and progression of coronary atherosclerosis in postmenopausal women” memeriksa perkembangan angiografi penyakit koroner dan hubungannya dengan diet.

By: Dokter Jason Fung

Angiogram adalah tes jantung standar dimana pewarna dimasukkan ke urat arteri di sekitar jantung untuk menentukan apakah ada penyumbatan. Melihat 235 wanita dengan penyakit jantung menahun, mereka mengukur angiogram awal dan mengulanginya rata-rata 3,1 tahun. Mereka kemudian melihat diet para wanita ini untuk melihat apakah ada pola.

Mereka membagi wanita-wanita ini ke dalam kelompok sesuai dengan asupan lemak mereka, tampaknya tidak ada hubungan sama sekali. Wanita yang paling banyak mengkonsumsi lemak memiliki sedikit penyumbatan dibandingkan mereka yang memakan lemak paling sedikit. Diet rendah lemak malah yang paling banyak tersumbat.

Satu Makro nutrien yang menonjol dan terlihat sangat menyeramkan adalah karbohidrat. Asupan karbohidrat tertinggi dikaitkan dengan tingkat penyumbatan jantung tertinggi.

Tidak terlihat terlalu bagus untuk hipotesis Diet-Jantung. Orang-orang yang sedang mengikuti diet ala American Heart Association menyetujui diet rendah lemak membuat mereka berpenyakit jantung. Orang-orang yang mengonsumsi makanan berlemak tinggi malah tidak mengalami masalah.

Jenis lemak makanan selanjutnya dibagi untuk melihat apakah semua lemak jenuh alami memang berbahaya bagi kesehatan manusia. Kelompok yang mengonsumsi lemak paling jenuh memiliki regresi penyumbatannya. Penyakit jantung mereka mencair! Di sisi lain, kelompok yang mengonsumsi lemak jenuh paling sedikit penyakitnya malah semakin menjadi-jadi.

Mengamati industri minyak nabati, tampak bahwa mengonsumsi lebih banyak minyak ini cenderung diasosiasikan dengan progres yang semakin buruk. Tunggu sebentar. Bukankah minyak nabati ini seharusnya ‘sehat bagi jantung’? Bukankah lemak jenuh seharusnya menyumbat arteri? Sepertinya efeknya adalah kebalikan dari apa yang telah diajarkan. Ini juga bukan sekadar studi rinky dink. Buku itu ditulis oleh Dr. Mozaffarian dari sebuah sekolah kecil yang dikenal sebagai Harvard.

Lemak jenuh tidak buruk, mereka baik untuk kesehatan.

Studi besar lainnya Dietary fat intake and early mortality patterns – data from The Malmo Diet and Cancer Study diikuti lebih dari 29.000 subjek di atas 6,6 tahun. Di antara wanita, peningkatan asupan lemak jenuh dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung secara signifikan lebih rendah. Sekali lagi, tidak terlihat terlalu baik untuk Diet-Heart Hipotesis. Mengonsumsi lemak jenuh justru sangat aman.

Hasil yang sama terlihat dalam penelitian Dietary intake of saturated fatty acids and mortality from cardiovascular disease in Japanese. Diikuti kohort 58.543 pria dan wanita Jepang lebih dari 14,1 tahun, para peneliti melihat hubungan antara penyakit jantung, stroke dan asupan lemak jenuh. Tidak mengherankan, ada hubungan terbalik. Itu berarti bahwa mengonsumsi lemak jenuh justru malah melindungi kita dari penyakit jantung dan stroke. Pada tahun 2014, Japan Collaborative Cohort Study found virtually identical results.       Dari kesimpulan mereka, “total kematian berbanding terbalik dengan asupan asam lemak jenuh (SFA)”. Ya, lemak jenuh tidak buruk bagi Anda, itu bagus untuk Anda.

 Beberapa meta-analisis skala besar tentang percobaan mengenai lemak jenuh telah dipublikasikan. Pada tahun 2009, Dr Krause menerbitkan, Meta-analysis of prospective cohort studies evaluating the association of saturated fat with cardiovascular disease“. Setelah meneliti 21 studi yang mencakup 347.747 pasien, dia menyimpulkan: Tidak ada bukti signifikan untuk menyimpulkan bahwa lemak jenuh makanan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Bahkan, ada efek perlindungan kecil namun signifikan terhadap stroke.

Dr. Chowdhury dalam makalahnya Association of Dietary, Circulating, and Supplement Fatty Acids With Coronary Risk: A Systematic Review and Meta-analysissampai pada kesimpulan yang sama. Sementara lemak trans meningkatkan risiko penyakit koroner, lemak jenuh tidak. Tidak ada kekhawatiran bahwa lemak jenuh ganda menyebabkan penyakit. 

Lemak tak jenuh ganda mengandung omega 3 dan omega 6s. Sementara keduanya ditemukan di alam, makanan kita saat ini mungkin sangat berat dan tidak sehat, serta condong ke omega 6s. Ramsden memutuskan untuk menganalisis semua penelitian mengenai lemak tak jenuh ganda, namun membagi lemak tersebut dan menerbitkan makalah tersebut, Use of dietary linoleic acid for secondary prevention of coronary heart disease and death“. 

Gambaran keseluruhan menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kematian dengan lemak tak jenuh ganda. Namun, setelah diperiksa lebih dekat, Anda dapat melihat bahwa percobaan yang meningkatkan konsumsi omega 3 menunjukkan perlindungan terhadap penyakit jantung. Studi yang meningkatkan konsumsi omega 6 meningkatkan penyakit jantung. Omega 6, jika Anda ingat adalah minyak nabati yang kita konsumsi jauh melebihi omega 3 dengan faktor 15 sampai 30.

Awwww. Snap. Nutritionism menyerang lagi. Semua polyunsaturates tidak sama. Kita terlambat menyadari fakta bahwa minyak nabati highly inflammatory, yang diolah tingkat tinggi mungkin bukan untuk ‘jantung sehat’. Kemungkinan besar mereka berbahaya untuk hati jantung. Dan margarin baru saja berubah dari lemak trans menjadi minyak nabati … .. Saran untuk mengganti lemak jenuh menjadi minyak sayur mungkin belum bagus.

Sumber Gambar

Satu-satunya uji coba acak jangka panjang Test of Effect of Lipid Lowering by Diet on Cardiovascular Risk oleh Dr. Frantz, melihat efek perpindahan telah ditunjukkan pada dekade ini sebelumnya. The Minnesota Coronary Survey mengacak 9.057 narapidana di fasilitas psikiatri untuk mengikuti diet standar dengan lemak 39% (18% jenuh, 5% polyunsaturated, 16% monounsaturated, 446 mg cholesterol) hingga 38% diet lemak jauh lebih rendah pada lemak jenuh (9 % Jenuh, 15% tak jenuh ganda, 14% monounsaturated, 166 mg kolesterol). Hal ini dicapai dengan mengubah ke pengganti telur, margarin dan daging sapi rendah lemak—-semua makanan lezat dan artifisial. Selama masa tindak lanjut 4,5 tahun, mereka tidak dapat menunjukkan manfaat apapun dalam hal penyakit jantung.

Namun, mereka mampu menunjukkan perbedaan dalam angka kematian total. Bukan itu yang mereka cari. Kelompok yang sedang ditreatment meninggal lebih cepat daripada kelompok yang mengonsumsi semua lemak jenuh.

Apa? Mengkonsumsi makanan artifisial, buatan manusia, hasil proses industri tidak baik untuk Anda?

How can that possibly be?

 

Ingin Kurus dan Langsing? Simak Tentang Revolusi Atkins

Sumber Gambar

Revolusi Atkins – Hormon Obesitas

Penelitian jangka pendek diet-rendah-karbohidrat-ala-Atkins sangat menggembirakan. Tidak hanya pasien sanggup lebih langsing, namun profil metabolik para pasien menjadi lebih baik dibandingkan dengan diet-rendah-lemak, beberapa tahun yang lalu. Jutaan orang mengadopsi gaya hidup rendah karbohidrat, dan sepertinya menikmati manfaatnya. Menjelang pertengahan 2000-an, impian dokter Atkins mengenai Revolusi Diet telah berjalan dengan baik, mulus dan tepat sasaran. Ditambah lagi, penelitian lain, yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine nan bergengsi sepertinya menunjukkan bahwa diet Atkins mungkin bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan mempertahankan berat badan ideal.

By: Dokter Jason Fung

Dengan judul “Diets with High or Low Protein Content and Glycemic Index for Weight-Loss Maintenance”, penelitian ini dipublikasikan pada 25 November 2010. Sebanyak 773 pasien yang dipilih secara random setelah kehilangan berat 10% pada 4 kelompok protein tinggi dan rendah yang berbeda. Atau indeks glikemik rendah. Tiga dari 4 kelompok mulai menggemuk kembali. Satu-satunya kelompok yang berhasil mempertahankan penurunan berat badan adalah kelompok protein tinggi-kelompok indeks glikemik rendah. Ini terlihat sangat bagus bagi pengikut Atkins garis keras.

Pada tahun 2005, dalam Annals of Internal Medicine, artikel “Effect of a Low-Carbohydrate Diet on Appetite, Blood Glucose Levels, and Insulin Resistance in Obese Patients with Type 2 Diabetes” menunjukkan bahwa 2 minggu diet karbohidrat sangat rendah tanpa batasan  kalori ternyata sanggup mengurangi nafsu makan dan menurunkan berat badan. Dr. Boden menulis, “ketika kami menghilangkan karbohidrat, pasien secara spontan mengurangi konsumsi energi sehari-hari mereka sebesar 1.000 kalori per hari.” Tingkat insulin turun dan sensitivitas insulin dipulihkan. Great!

Dr. David Ludwig menyiramkan bensin ke api pada tahun 2012 saat menerbitkan artikelnya “Effects of Dietary Composition on Energy Expenditure During Weight-Loss Maintenance” pada tahun 2012 dalam Journal of American Medical Association. Dia mempelajari perbedaan Total Pengeluaran Energi (kalori yang terbakar) setelah penurunan berat badan, dia menemukan bahwa penurunan terbesar TEE adalah diet rendah lemak. Diet terbaik? Diet karbohidrat sangat rendah. Implikasinya di sini adalah diet karbohidrat yang sangat rendah akan menjaga metabolisme tetap tinggi dan mendorong penurunan berat badan. Hidup revolusi!

 Hal pertama yang terjentik di otak adalah bahwa karbohidrat olahan sering menyebabkan ‘kecanduan makanan’. Sementara protein dan lemak selalu menyalakan sinyal kenyang. Hormon seperti CCK dan peptide YY merespons protein dan lemak yang tertelan untuk memberi sinyal pada tubuh bahwa kita kenyang. Pikirkan terakhir kali Anda makan prasmanan, ketika Anda merasa sangat kekenyangan dan tidak sanggup mengunyah apa pun lagi. Sekarang, pikirkan makan 2 potong bistik daging. Ugh. Mungkin Anda tidak sanggup menelannya. Itulah hormon kenyang yang bekerja.

Tapi bagaimana jika Anda ditawari satu sendok kecil es krim dan pai apel? Sepertinya tidak terlalu sulit untuk melahapnya, bukan? Beberapa orang di keluarga saya biasa menyebut fenomena ‘perut kedua’. Artinya, setelah perut pertama kenyang, kami membayangkan ada perut kedua untuk makanan pencuci mulut.

Pikirkan makanan yang konon mempunyai efek ‘kecanduan’. Pasta, roti, biskuit, coklat, keripik. Sadar tentang sesuatu? Semua makanan yang mempunyai efek adiksi ini adalah karbohidrat yang sangat halus. Apakah ada yang pernah mengatakan bahwa mereka ‘kecanduan’ ikan? Apel? Daging sapi? Bayam? Not likely.

Pertimbangkan beberapa makanan yang mempunyai ciri khas memberikan rasa nyaman. Mac dan keju. Pasta. Es krim. Pai apel. Kentang tumbuk. Pancake. Notice anything?  Semua ini adalah karbohidrat yang sangat halus atau tepung. Karbohidrat olahan mudah menjadi ‘kecanduan’ dan membuat kita makan berlebihan justru karena tidak ada hormon kenyang alami. Pasalnya, tentu saja, karbohidrat olahan bukanlah makanan alami, tapi makanan hasil proses tingkat tinggi. Toksisitasnya terletak pada pengolahan.

There were objectors, of course. Salah satu konsentrasi utama pada diet Atkins adalah mengenyahkan water weight atau membuang air. Hal ini tentu saja benar. Salah satu tujuan nomor wahid pada diet adalah menurunkan kadar insulin dengan mengendalikan asupan karbohidrat.

Salah satu efek insulin yang diketahui adalah merangsang retensi garam dan air. Secara khusus, insulin bekerja pada tubulus proksimal di ginjal untuk merangsang reabsorpsi natrium. Jadi diet yang mengurangi kadar insulin dengan sangat membatasi karbohidrat mengakibatkan kita kehilangan garam dan air. Karena kita menumpuk banyak air di tubuh kita cukup banyak, dengan melakukan diet Atkins, awalnya, sebenarnya kita bukan kehilangan lemak, tapi kita melenyapkan air.

Sumber Gambar

Mengapa ini hal yang buruk?

Maksudku, siapa yang menginginkan pergelangan kaki oakematik membengkak sangat besar? Cankles (betis + pergelangan kaki) menggelembung—saya sih tidak mau. Hiiiy.

Kelebihan garam dan retensi air juga akan menyebabkan tekanan darah tinggi, sehingga kehilangan berat air merupakan hal yang sangat baik untuk saya. Jadi mengapa para kritikus selalu memalu dan mempermasalahkan hal ini?

Ada pendapat lain yang sering terdengar bahwa diet rendah karbohidrat membuat gizi tidak seimbang. Ini juga tidak masuk akal. Yang tubuh kita butuhkan pada dasarnya adalah asam lemak atau Fatty Acid, dan asam lemak ini tidak diproduksi oleh tubuh, jadi harus diimpor dari luar. Oleh karena itu, untuk bisa bertahan hidup kita menggantunglan diri pada asam lemak ini. Omega 3 dan Omega 6 adalah contoh asam lemak tadi.

Ada juga asam amino esensial. Ini adalah blok bangunan protein yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia. Oleh karenanya, kita bergantung pada makanan kita untuk menyediakan asam amino esensial ini agar bisa bertahan hidup. Phenyalanine, valin, dan treonin adalah contoh asam amino esensial.

Sumber Gambar

Tidak ada karbohidrat yang penting. Mereka tidak dibutuhkan untuk bertahan hidup. Karbohidrat pada dasarnya adalah rantai gula. Gula secara inheren tidak bergizi. Banyak makanan nabati yang mengandung karbohidrat (kangkung, brokoli) mengandung vitamin, mineral dan zat bermanfaat lainnya. Tapi karbohidrat itu sendiri tidak penting dan juga tidak sehat. Jika kita menghilangkan tepung, kita bisa menambahkan makanan bergizi lainnya dalam hidangan kita. Jadi, mengapa di dunia ini ada orang waras yang merekomendasikan memakan makanan yang kandungan gizinya 25% bangkrut, atau mengapa kita harus menambahkan karbohidrat yang adiktif?

Isu lain yang sering terdengar adalah bahwa diet tinggi protein buruk bagi ginjal. Pertama, dengan diet rendah karbohidrat menyebabkan kita mengonsumi makanan tinggi protein atau lemak, dan ini perlu kita kaji kembali. Dokter tertentu, seperti Dr Eenfeldt dengan sangat ciamik menulis blog hebat www.dietdoctor.com, merekomendasikan diet Low Carbohydrate High Fat (LCHF). Diet ini tampaknya telah mengakar di negara asalnya—Swedia—dan dengan cepat menyebar.

Diet tinggi protein mungkin tidak direkomendasikan untuk orang dengan masalah ginjal. Sebagai nephrologist, saya mengkhususkan diri pada penyakit ginjal. Dalam Penyakit Ginjal Kronis, kemampuan untuk mengatasi produk pemecahan protein terganggu dan diet protein tinggi tidak disarankan. Namun, untuk mereka dengan fungsi ginjal normal, tidak ada kekhawatiran. Beberapa penelitian terbaru menyorot masalah serupa. Dalam makalah “Comparative Effects of Low-Carbohydrate High-Protein Versus Low-Fat Diets on the Kidney—Friedman et al, Klinik J Am SocNephrol 7: 1103-1111; 2012 “Subjek obesitas sehat diperiksa secara khusus untuk efek yang merugikan pada ginjal. Intinya tidak ada masalah seperti itu. Mereka menulis bahwa diet protein tinggi “was not associated with noticeably harmful effects on GFR, albuminuria, or fluid and electrolyte balance”