Ingin Ramping dan Kurus? Aku Bisa Membuatmu Kurus Dengan Cepat Lho

Sumber Gambar

Berdasarkan Hormonal Obesity Theory (HOT), kita telah menarik sebuah dalil  bahwa insulin dengan kadar tinggi dapat menyebabkan obesitas. Meski kita telah membatasi asupan kalori, makan super sedikit, namun jika kita menyuntikkan insulin atau meminum obat yang menstimulasi insulin (sulphonyureas), kita tetap akan menggemuk. Jika memang teori ini benar adanya, maka, jika kita mengurangi insulin, harusnya kita meramping dong. Dengan kata lain, walaupun kita menambah kalori, tetapi jika insulin ditekan, seharusnya kita sanggup membuang lemak. Faktanya, ternyata teori tadi benar 100%.

Diabetes Tipe 1 adalah penyakit autoimun pankreas. Apakah itu? Sel penghasil insulin di tubuh telah rusak. Oleh karena itu, level insulin terjun bebas ke tingkat yang sangat rendah. Gula darah meningkat dalam darah. Tapi ciri khas penyakit ini adalah penurunan berat badan yang parah. Deskripsi klasik Aretaeus tentang diabetes tipe 1 “Diabetes adalah … mencairnya daging dan anggota badan menjadi air kencing”. Artinya, apa pun yang kamu makan, kamu tetap akan kurus kerontang. Sebelum ditemukan insulin, penyakit ini selalu berakibat fatal. Esensinya, insulin adalah sinyal bagi tubuh untuk menimbun lemak. Jika kita memberi insulin, tubuh akan bertambah gemuk. Jika kita menyedot insulin keluar, kita akan melangsing.

By: Dokter Jason Fung (I Can Make You Thin…Insulin – Hormonal Obesity V)

Dengan kalimat lain artinya adalah insulin merupakan salah satu pengendali utama bodi set weight (BSW). Jika jumlah insulin naik, tubuh kita diperintahkan untuk menambah berat badan. Inilah yang membuat nafsu makan kita menggila. Kita akan merasa sangat lapar dan terpaksa makan.

Jika kita tidak makan, kemudian tubuh akan menurunkan Total Energy Expenditure (TEE) atau Kalori keluar, sehingga meskipun kita makan sedikit semuanya berubah menjadi daging dan lemak. Nafsu makan menggelegak dan malas bergerak adalah akibat dan efek samping dari obesitas bukan penyebab kegemukan.

 The Great Gary Taubes telah mengatakan-

Kita tidak gemuk karena kita makan berlebihan

Kita makan berlebihan karena kita gemuk

Oleh karena itu, sekarang kita bisa membikin pertanyaan sempurna. Mengapa kita gemuk? Kita menjadi gendut karena kadar insulin kita terlalu tinggi. Dalam sebagian besar kasus, insulin adalah pemain utama dalam obesitas. Meskipun, bukan satu-satunya pelaku kejahatan—kortisol juga memainkan peran. Kortisol adalah hormon stres.

Nah, sekarang, jika kita berhipotesis bahwa kortisol yang meluber bisa mengakibatkan kegemukan, mudah saja solusinya, mari kita beri pasien asupan kortisol, lantas kita amati, apakah ia menggemuk atau tidak.

Kita bisa mengobservasi kasus dimana kortisol terlalu banyak diproduksi di tubuh. Ini disebut penyakit Cushing atau Cushing’s Syndrome. Ciri penyakit ini? Menggemuk.

Sumber Gambar

Di pasaran terdapat obat sintetis kortisol—sangat lumrah digunakan sebagai obat yang disebut prednisone, yaitu kortikosteroid. Ini adalah anti-inflamasi yang setrong dan sering digunakan dalam pengobatan asma, lupus dan gangguan inflamasi lainnya. Jadi, kalau kita memberikan prednison kepada seseorang, apa yang terjadi? Sindrom cushinoid akan berkembangbiak.

Dengan kata lain, pasien ini terlihat seperti berpenyakit Cushing. Sebagian besar mereka menyadari fakta bahwa mereka bertambah gemuk. Ciri khasnya, distribusi lemak tidak merata, dimana dinamakan obesitas truncal, yang artinya lemak tertimbun di bagian tengah tubuh, bukan di tempat biasanya lemak bersemayam (lengan dan kaki).

Sumber Gambar

Bagaimana jika terjadi sebaliknya? Jika kita percaya bahwa kortisol dapat menyebabkan obesitas, lalu bagaimana jika tingkat kortisol turun ke tingkat yang sangat rendah? Ya, ada juga penyakit Addisons. Ini juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal.

Kelenjar adrenal menghasilkan kortisol dan jika kelenjar ini rusak, maka kadar kortisol serta hormon lainnya berada di level sangat minimal. Ciri penyakit Addison? Penurunan berat badan.

Jadi apakah kunci kegemukan? Hormon. Dan ini adalah hubungan kausal. Satu hal menyebabkan yang lain. Ini adalah hubungan yang jauh lebih bertenaga dibandingkan kebanyakan studi korelasi (lihat peraturan #2 – Studi korelasi kebanyakan omong kosong)

Jika kita meningkatkan insulin, kita bertambah gemuk. Jika kita menurunkan insulin, kita menurunkan berat badan. Bobot tubuh kita (dan juga segala sesuatu di tubuh) diatur oleh hormon.

Variabel fisiologis yang penting bukan pada asupan kalori namun regulasi hormon. Kamu menggemuk jika hormon insulin dan kortisolmu tumpah-tumpah. Ini sungguh masuk akal.

Pertimbangkan hal ini. Jika kita makan 2000 kalori/ hari, jumlahnya mencapai 730.000 kalori dalam setahun (2000 * 365 = 730.000). Hampir semua orang, menambah berat badan sekitar 1-2 pon per tahun. Tidak banyak, tapi  bayangkan jika lebih dari 25 tahun, timbunan lemak di tubuh kita bisa mencapai 50 pound, ekstra. Dalam istilah kalori, ini berarti kelebihan kalori dari 7.200 kalori selama 1 tahun dengan asumsi bahwa 1 pon lemak kira-kira 3.600 kalori.

Tingkat kesalahannya sangat rendah, bahkan tidak mencapai angka 1%. Jika kita mempunyai kemampuan untuk melacak berapa banyak kalori yang kita makan dan berapa banyak kalori yang kita bakar, apakah menurutmu kamu bisa menghitungnya dengan sangat akurat? Sebagian besar dari kita bahkan tidak tahu berapa banyak kalori yang kita makan atau bakar pada waktu tertentu! Iya kan? Bagaimana ini bisa dikendalikan oleh otak rasional kita?

Seharusnya tubuh kita seperti ini. Idealnya. Tanpa insulin dan kortisol berlebihan.

Kita tidak mengendalikan berat badan kita, sama halnya kita nggak bisa mengontrol detak jantung kita. Keduanya berlangsung secara otomatis di bawah pengaruh hormon. Hormon memberitahu pada saat kita lapar. Hormon membisiki kita bahwa kita kenyang.  Hormon memberi tahu kita kapan harus meningkatkan pengeluaran energi. Hormon memberi tahu kita kapan harus memblokade energi mengalir.

Obesitas adalah disregulasi hormonal, yang mengakibatkan akumulasi lemak. Saat kita memforsir pengeluaran hormon, kita terkena penyakit seperti obesitas. Jika kita bisa mengerti bahwa obesitas adalah ketidakseimbangan hormon, maka kita siap untuk mengajukan pertanyaan selanjutnya—bagaimana kita mengatasi obesitas?

Jika kita percaya bahwa kelebihan kalori menyebabkan obesitas (Kalori Reduksi sebagai Primer) maka pengobatannya adalah mengurangi kalori. Dan ini adalah salah kaprah. Pemahaman gagal total. Jika kita paham bahwa obesitas disebabkan oleh insulin yang membludak, maka kita perlu menggeret insulin di kadar rendah.

Faktanya, jika kita melihat di data ini, bahwa pemahaman kita tentang obesitas keluar gelanggang dan tidak karu-karuan sejak zaman William Banting (pertengahan 1800an). Dari pertengahan 1800 sampai pertengahan 1900-an mereka percaya bahwa gula dan pati menyebabkan obesitas. Kegemukan diobati dengan memangkas gula dan pati. Dan hei, coba tebak, mereka telah sukses parah.

Dari tahun 1950 sampai 2000an, kita percaya bahwa kalori menyebabkan obesitas. Hal ini menyebabkan saran diet membatasi kalori—yang mana sudah pasti menuju gerbang neraka kegagalan. Dan hei, coba tebak, tingkat obesitas pun meledak.Kini, dengan membaca postingan ini kita 100% paham tentang dasar-dasar hormonal obesitas, kita sanggup melihat sebuah lingkaran utuh, dan kita sadar sebuah fakta bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab menjamurnya obesitas.

Kuncinya adalah me-restore insulin, dan menurunkan tingkat kortisol ke level sangat rendah. Sekali lagi, trik jitunya bukan menyeimbangkan kalori—namun menyelaraskan hormon.

Ingin Ramping dan kurus? Baca Tentang Insulin Menyebabkan Kamu Menggemuk

Sumber Gambar

Pada postingan sebelumnya, kita telah membedah hubungan antara insulin dengan obesitas. Kaitannya, bukan hanya bumbu pelengkap penyebab gemuk, namun sebagai pelaku utama. Selama beberapa dekade kita telah keliru, mengira yang menyebabkan kegemukan adalah kalori (teori CRAP). Hipotesis ini bagaikan jembatan yang belum kelar dibangun, namun dipaksa untuk dipakai. Studi demi studi menunjukkan bahwa mengurangi kalori TIDAK menyebabkan kurus. Pasien demi pasien telah mencoba menurunkan berat badan dengan membatasi kalori, namun tingkat gagalnya 100%, dan konsisten gagal maning gagal maning. Tapi, kita nggak bisa menyalahkan model kalori begitu aja dong, lantas apa sih yang menyebabkan kita batal melangsing? Salahkan saja pasiennya.

Karena pasien selalu gagal melangsing, atau berhasil menjadi ramping namun menggemuk lagi (diet yoyo), hanya ada 2 kemungkinan:

  1. Saran untuk mengurangi porsi makan, diet ketat, makan hidangan rendah lemak, tambah porsi olahraga adalah saran yang salah.
  2. Atau pasiennya bandel bin bader alias tidak mau mengikuti saran di atas tadi.

Dan sepertinya, orang-orang berasumsi para pasien tidak patuh, sehingga para dokter dan ahli gizi ini lantas memarahi, mengejek, meremehkan, menegur, mencaci dan menghujat. Kemudian kita berteriak-teriak lagi, kurangi porsi makan, bergerak lebih aktif. Seolah-olah kedua saran itu bisa menyembuhkan masalah mereka. Lagi pula, piramida makanan tidak mungkin salah, kan? Iya toh? Tapi, sialnya, meski pasien telah mengikuti anjuran tadi, si lemak membandel tak mau enyah juga. As a nagging tooth.

Para dokter, pastinya, tertarik dengan hipotesis Crap bagaikan semut tertarik pada gula. Obesitas bukan karena kita telah gagal paham mengenai akar masalahnya, namun sederhana saja, karena pasien pemalas dan rakus. Itu adalah permainan favorit mereka—menyalahkan pasien. Tapi, tentu saja, masalah utamanya  adalah hipotesis CraP. Itu salah total.

By: Dokter Jason Fung

Insulin Causes Weight Gain – Hormonal Obesity IV

Jika kamu menambah porsi makanmu alias menambah kalori, penambahan itu tidak akan menyebabkan kamu menggemuk, jadi, jika kamu mengurangi porsi makanmu, artinya, kamu juga tidak akan melangsing. Olahraga pontang-panting juga sia-sia, dan pembahasan lebih dalam akan kita beberkan di postingan selanjutnya. Jadi, jika begitu, apa dong yang sebenarnya merupakan etiologi obesitas? Insulin.

Apa yang terjadi bila kita memberi dosis tinggi insulin kepada pasien? Insulin membuat pasien bertambah gemuk. Semakin banyak insulin yang dia konsumsi, semakin banyak bobot yang ia dapatkan. Hampir tidak masalah berapa banyak kamu makan dan seberapa lama durasi olahragamu. Kamu akan terus membulat.

Kami telah mendemonstrasikan prinsip ini dengan melakukan percobaan yang aduhai dan intensif pada para pasien diabetes. Para peneliti telah menunjuk 14 pasien  diabetes dan menambah insulin sampai gula darahnya berangsur normal. Pada awalnya, mereka hanya minum pil. Selama 6 bulan, insulin ditingkatkan sampai dengan 100 unit per hari. Berat Badan meningkat sebesar 8,7 kg (19 lbs). Dan lucunya, asupan kalori harian mereka telah kita kurangi hingga 300 kalori/ hari. Dengan kata lain, meski makan lebih sedikit, berat badan pasien bertambah dan semakin menggila. Itu berarti bahwa bukan kalori yang mendorong kenaikan berat badan. Penyebab absolutnya adalah insulin!

Sumber Gambar

Coba pikir sekali lagi. Insulin adalah sinyal hormonal bagi tubuh untuk menimbun lemak—Body Set Weight (BSW). Jika insulin meningkat, kita meningkatkan BSW kita. Untuk mencapai bobot baru yang lebih tinggi ini, kita perlu makan lebih banyak atau mengurangi total pengeluaran energi (TEE). Jadi insulin membuat kita gemuk. Agar berubah menjadi gendut, si tubuh akan makan lebih banyak atau mengurangi TEE. Perilaku makan sebakul adalah sebagai respons terhadap sinyal hormonal untuk menggemuk. Dalam penelitian ini, dosis insulin meningkat secara masif alias besar-besaran. Di bawah sinyal hormonal ini, tubuh mencoba menambah berat badan (meningkatkan BSW). Seiring bertambahnya berat badan, pasien mencoba membatasi kalori. Karena mereka makan lebih sedikir, tubuh mereka terpaksa ‘dimatikan’ agar menghemat energi untuk menambah berat badan. TEE diturunkan. Kita merasa lelah, dingin, dan lapar.  Dan berat badan masih saja merangkak naik. Kedengarannya seperti diet rendah kalori model jadul a.k.a konvensional. Diet, olahraga, lemas lunglai lemah lesu dan masih saja belum bisa menurunkan berat badan. Faktanya, jika kita lebih teliti, ada korelasi langsung antara dosis total dan penambahan berat badan. Semakin banyak insulin yang diberikan, pasien semakin menggemuk. Semakin tinggi kadar insulin, semakin banyak bobot yang didapat. Insulin menyebabkan obesitas.

 Sebuah studi yang lebih baru (N Engl J Med 2007; 357: 1716-30 Holman RR) menunjukkan efek yang sama persis.

Dalam penelitian ini, 708 penderita diabetes diberikan insulin per oral atau diminum. Apa yang terjadi dengan berat badan mereka? Naik dong. Bukan surprise sih sebenarnya. Setiap ahli klinis sudah mengetahui bahwa insulin membuatmu menggemuk. Dan pasien yang diberi dosis tertinggi menggemuk paling drastis. Mereka yang mendapat sedikit, mendapatkan bobot paling sedikit. Insulin tidak hanya menyebabkan obesitas secara general, tapi juga bisa menyebabkan pertumbuhan lemak lokal. Mereka yang rutin menyuntikkan insulin terkadang mengalami lipohipertrofi.

Ini semakin memperkuat anggapan kita bahwa insulin adalah sinyal untuk menimbun lemak. Ada juga sih yang membantah bahwa obat diabeteslah yang bisa menyebabkan kita menimbun lemak. Saat kita mengurangi gula darah, gula diambil dari darah dan diubah menjadi lemak. Jika ini benar, pengobatan diabetes apa pun harus menyebabkan kenaikan berat badan yang sama. Kita bisa membandingkan pengobatan diabetes tipe 2 dengan obat yang berbeda. Beruntungnya, penelitian ini sudah selesai dilakukan. Ini adalah UKPDS gigantis (Pembelajaran Diabetes prospektif yang dilakukan oleh Inggris).

Begini penjelasannya. Ada beberapa pil untuk diabetes (oral hypoglycemics). Sulphonylureas (SU) adalah kelas pengobatan yang akan merangsang pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin. Jika insulin menyebabkan obesitas, seperti teori obesitas hormonal, maka kelas obat ini seharusnya membuat kita menggemuk.

Metformin adalah kelas pengobatan yang lain. This is an entirely different kettle of fish. Hal ini dianggap sebagai sensitizer insulin. Artinya, membantu insulin dalam tubuh bekerja lebih efisien. Obat ini tidak meningkatkan kadar insulin serum. Obat ini kece badai.

Sekarang kita bisa membandingkan efek berbeda dari 3 jenis obat—insulin, SU, dan metformin. Mereka semua memiliki efek mengurangi gula darah, namun efeknya pada kadar insulin dalam tubuh berbeda satu sama lain. Insulin akan menaikkan kadar darah paling banyak, SU akan menaikkan kadar tapi tidak sebanyak insulin, dan metformin tidak sama sekali. Apa efeknya terhadap berat badan? Seperti yang kita duga, kelompok insulin meningkatkan berat badan paling banyak. Klorpropamida dan gliburide (sulphonyureas) juga meningkatkan berat badan, tapi tidak sebanyak insulin. Kelompok metformin bersifat netral pada berat badan. Kelompok ini tidak menyebabkan pasien menggemuk. Jadi insulin, dan gliburide (yang mana meningkatkan kadar insulin) keduanya membuat pasien menjadi gemuk. Metformin, yang mengobati gula darah namun TIDAK menaikkan kadar insulin tidak menaikkan berat badan.

Sumber Gambar

Sejak dipublikasikannya UKPDS, ada obat baru yang diperkenalkan untuk mengobati diabetes.  Ini adalah kelas pengobatan DPP4. Mekanisme kerja obat ini adalah meningkatkan kadar insulin sebagai respon terhadap makanan. Obat ini tidak menyebabkan peningkatan tingkat insulin yang terus-menerus. Seperti yang kita harapkan, DPP4 bersifat netral pada berat badan. Dalam penelitian ini, glipizide (sulfonilurea yang meningkatkan kadar insulin), menyebabkan penambahan berat badan. Januvia, yang tidak menaikkan kadar insulin terus-menerus, tidak menyebabkan pasien menggemuk. Ini terlepas dari kenyataan bahwa gula diperlakukan ke tingkat yang sama. Hasilnya sangat konsisten. Obat yang meningkatkan kadar insulin menyebabkan kenaikan berat badan.

Menurunkan kadar insulin menyebabkan kita melangsing. Dengan hal ini, seharusnya membuat kita semakin menyadari pentingnya faktor hormonal pada obesitas.

Baru-baru ini, penelitian lain yang berjudul “Resistensi insulin dan peradangan memprediksi perubahan berat badan kinetik” menunjukkan bahwa prediktor kuat dari kembalinya di berat badan adalah resistensi insulin. Bukan willpower. Bukan asupan kalori. Bukan dukungan orang sekitar.

Insulin. Insulin. Insulin. Ini semua tentang insulin.

Di bawah pengaruh insulin, tubuh kita menerima instruksi untuk “menimbun lemak”. Sebagai responnya, kita makan lebih banyak dan/ atau mengurangi pengeluaran energi. Ini bukan tindakan sukarela.

Ingat ini: Pertanyaannya adalah BUKAN cara menyeimbangkan kalori, pertanyaannya adalah bagaimana menyeimbangkan hormon kita. Dalam kebanyakan kasus, pertanyaan krusial bukanlah bagaimana mengurangi kalori tapi bagaimana cara mengurangi insulin.

Ingin Ramping Dan Kurus? Baca Tentang Piramida Makanan Yang Sesat

Sumber Gambar

Beginilah cara kita memahami obesitas di tahun 1950an. Makanan tertentu membuat kita gemuk. Mereka adalah gula dan grup hidangan bertepung. Permen, camilan, dan makanan penutup membuat kita gendut. Begitu pula dengan roti, sereal, dan pasta. Lalu ada juga makanan lain yang tidak menyebabkan obesitas sama sekali. Makan brokoli dan apel tidak membuat kita gemuk, tidak peduli berapa banyak kalori yang kita makan.

Klik di sini untuk bagian Obesitas Hormonal I.

Segalanya mulai berubah di tahun 60an dan 70an. Lemak mulai difitnah sebagai penjahat dan dalang utama penyakit jantung. Perdebatan sengit terjadi antara sisi anti-lemak dan anti-karbohidrat. Masalah majornya adalah jika kita mengurangi porsi lemak, artinya kita harus menambah karbohidrat bahkan jika bisa berpiring-piring nan mumbul. Itu artinya karbohidrat mempunyai dua mata pisau yang tajam yaitu tidak baik untuk kesehatan secara general dan menggemukkan, terjadinya pun dalam waktu yang bersamaan.

Sumber Gambar

Satu-satunya jalan disonansi kognitif ini adalah mengatakan bahwa karbohidrat tidak lagi menggemukkan. Sebaliknya, kalorilah yang membikin kita menjadi gendut.

Tentu saja tidak ada bukti bahwa ini merupakan fakta. Itu hanya berupa asumsi. Ini, tentu saja, cenderung membuat ASS keluar dari U dan ME. Not just an ass, as it turns out, but an obese ass.

The Odious Dietary Guidelines 1977 – Hormonal Obesity II

Perdebatan ini diselesaikan oleh Senator George McGovern pada tahun 1977, bukan oleh para ilmuwan, namun oleh para politisi. Dia memutuskan, setelah beberapa hari bertemu dengan para jurnalis dan ilmuwan, lemak adalah kriminal, dan karbohidrat olahan sama polosnya seperti biarawati di sebuah biara. Dosa yang dikandung gula dibebaskan. Damai sejahtera menyertai kalian, sirup jagung fruktosa tinggi. Jadi, inilah hasilnya dari the odious Dietary Goals. Saran nutrisi dari seorang politisi. Pertanyaan lanjutannya, kita bukan keledai yang tidak sanggup berpikir kan?

By: Dokter Jason Fung

Kenali juga, bahwa ini adalah terobosan penting dari tradisi. Sebelum tahun 1977, tidak ada instansi pemerintah yang memberi tahu kita apa yang harus disantap. Ibu kita memberi tahu kita apa yang harus dimakan dan apa yang terlarang. Jika kita mengalami obesitas, mereka menyuruh kita untuk jangan mengunyah permen dan makanan bertepung (roti, pasta, kentang). Dan hei, coba tebak—biasanya dengan cara itu saja sudah cukup untuk mengendalikan masalah berat badan.

Sekarang Big Brother memiliki rekomendasi spesifik tentang apa yang harus dimakan dan tidak boleh ditelan. Ini diajarkan di semua sekolah negeri. Pamflet diproduksi jor-joran. Ibu kita bahkan tidak sempat memprotes. Rendah lemak. Rendah Lemak Jenuh. Dengan sadar kita telah menambah asupan karbohidrat agar bisa menciutkan persentase lemak. Makanan yang tadinya berefek membuat buncit sekarang dijadikan makanan sehat. Kita tidak boleh mengurangi asupan roti jika ingin melangsing. Kita harus makan lebih banyak roti. Gula? Itu baik-baik saja selama kamu menyantap makanan rendah lemak.

Dengan minimnya bukti ilmiah dan semangat maniak yang kebablasan, karbohidrat yang menggemukkan telah mengubah gandum sehat menjadi tepung tidak sehat.

Transformasi yang sungguh menakjubkan. Apakah ada bukti? Oh, itu tidak penting, Gan. Jaman now  adalah masanya ortodoksi gizi. Segala sesuatu yang berbeda adalah kafir. Jika kamu tidak mengikuti barisan, kamu diejek. Hasilnya adalah piramida-makanan yang termasyur menjadi salah satu pelajaran yang diselipkan di sekolah. Inilah kejayaan kontrafakta. Dasar piramida—makanan yang harus kita makan setiap hari—roti, pasta, nasi dan kentang.

Pesan utamanya adalah semuanya oke-oke saja asalkan rendah lemak. Lemak adalah masalah utama, begitu yang diajarkan kepada kita. Puncak keekstreman kekacauan itu terjadi pada tahun 1995, yaitu dengan adanya proklamasi pamflet “Rencana Makan untuk Orang Amerika: Diet Asosiasi Jantung Amerika.”

“Untuk mengendalikan jumlah dan jenis lemak, asam lemak jenuh dan kolesterol diet yang Anda makan, pilihlah makanan ringan dari kelompok makanan lain seperti … kue rendah lemak, kerupuk rendah lemak … pretzel yang tidak enak, permen keras, permen karet, gula pasir, sirup, madu, selai, jelly, selai jeruk.”

Dengan kata lain—permen, yang rendah lemak adalah makanan ringan yang sehat untuk kita semua. Hore!  Biarkan mereka makan kue! (asalkan rendah lemak – kamu bisa mengonsumsi gula dan tepung sesuai keinginan hatimu). Lalu apa yang terjadi dengan konsumsi makanan kita? Item makanan berlemak tinggi seperti mentega, telur dan daging merah menurun, sementara konsumsi dan biji-bijian dan gula menanjak. Sukses!

Sumber Gambar

Inilah yang diinginkan pemerintah. Diet Amerika berkurang dari konsumsi lemak rata-rata 45% menjadi 35%. Masyarakat menanggapi pedoman diet baru dengan sangat patuh.

 Jika kita melihat konsumsi gula, kita melihat ada peningkatan dari tahun 1820 sampai 1920an. Ini adalah hasil dari melonjaknya ketersediaan gula seiring dengan perkebunan gula yang tersebar di seluruh Amerika Selatan dan Karibia. Hal-hal yang diratakan dari tahun 1920 sampai 1977 atau lebih. Saat itulah persediaan gula kita melimpah ruah.

Tapi ibu kita masih memberitahu jangan memakan terlalu banyak makanan manis atau kita akan menjadi seperti pesumo. Jika dosa gula diusir, konsuminya akan terus meroket sampai dengan tahun 2000.

Cerita tentang gandum juga sangat mirip. Konsumsi gandum telah menurun sampai dengan tahun 1977. Lantas, kita melihat lonjakan tajam dalam konsumsi gandum sampai dengan tahun 2000.

Sekitar waktu yang sama, dokter menasihati pasien untuk berhenti merokok—tingkat merokok turun dari 33% menjadi 25%. Para dokter meminta para pasien untuk memperhatikan tekanan darah mereka. Hipertensi (tekanan darah tinggi) turun 40% dari tahun 1976-1996. Lantas, kami menyuruh orang-orang untuk menonton kolesterol darah mereka. Hiperkolesterolemia (kolesterol darah tinggi) turun 28% pada rentang yang sama.

Beberapa orang mengabaikan peringatan kesehatan masyarakat, tetapi, kami mendengarkan dan mematuhi. Berapa imbalan untuk rasa hormat yang besar terhadap ortodoksi nutrisi saat ini?

 Well, let me show you.

Postingan sebelumnya Hormon Obesitas Bagian 1.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Cara Menghancurkan Lemak Tubuh

Sumber Gambar

Kamu tahu, model teori obesitas yang jadul dan terbelakang? Di bawah ini gambarnya.

Kesimpulannya, makan banyak disebabkan karena adanya hormon mediasi, dan bukan karena orang itu rakus. Dan fakta lain yang lebih mencengangkan, makan banyak tidak menyebabkan kita menggemuk, dan makan sedikit tidak menyebabkan kita menjadi ramping. Mungkin bisa saja kamu melangsing, tapi dengan mengurangi porsi, kamu akan mengalami diet yoyo, alias bisa sih jadi ramping, tapi tidak permanen. Untuk bukti yang lebih WOW mari kita menilik kasus Sam Feltham.

Smash the Fat – Calories Part XI

Ini didasari karena adanya ambigu antara eksperimen overeating (makan banyak) versi purbakala dan jaman now alias kekinian, Sam Feltham memutuskan untuk melakukan penelitian fantastis dengan objek dirinya sendiri. Dia makan sebanyak 5 ribu kalori/ hari, dengan komposisi rendah karbohidrat, tinggi lemak (LCHF) dengan menu alami (bukan makanan palsu a.k.a olahan) selama 21 hari. Dasar penelitiannya adalah sebuah premis bahwa yang menyebabkan badan kita membulat bukan karena kalori yang berlebihan namun karena konsumsi karbohidrat olahan. Jika premis itu benar, maka ia tidak akan menggemuk meski jumlah kalorinya sangat tinggi (ingat, tingkat karbohidrat berada di level seminimal mungkin, tingginya kalori berasal dari lemak alami). Wunderbar!

By: Dokter Jason Fung

Contoh dietnya bisa dilihat di sini. Total kalori 5.794 per hari dengan makronutrisi terdiri dari karbohidrat 10%, lemak 53%, dan protein 37%. Jika mengikuti kalkulasi perhitungan kalori standar, seharusnya berat badannya menjadi 7,3 kg. Aktualnya, berat badannya hanya naik sebanyak 1,3 kg.

Yang lebih membuat kita terpelanting lagi adalah, ukuran pinggangnya malah mengecil sekitar 3 cm, yang artinya, memang benar berat badannya naik, namun berupa masa otot. Jika kamu perhatikan lebih seksama, kelebihan kalori tidak membuat kita menimbun lemak. Skala simpel kalori-masuk versus kalori-keluar sungguh tidak relevan.

Lantas, ada beberapa orang yang beradu pendapat bahwa Sam memiliki metabolisme yang cepat, tidak peduli apa yang dia makan, dia tidak akan menggemuk. Benarkah seperti itu? Apa yang akan terjadi jika Sam menendang diet LCHF (rendah karbohidrat tinggi lemak)? Apa yang akan terjadi jika Sam mengonsumsi 5.000 kalori tetapi mengikuti standar American Diabetes Association yang mana tinggi akan asupan karbohidrat?

Hasilnya sungguh brilian. Selama 21 hari dengan diet tinggi karbohidrat sebanyak 5.000 kalori. Lebih dari 21 hari, ia makan 5.793 kalori/ hari dengan makanan palsu yang terdiri dari tepung dan gula.

Makronutrisinya terdiri dari:

  1. Karbohidrat sebanyak 64%.
  2. Lemak sebesar 22%.
  3. Protein porsinya 14%.

Menariknya, ini serupa benar dengan apa yang direkomendasikan oleh para ahli gizi kepada kita. Lantas, bagaimana hasilnya? Apakah dengan kalori yang sama ia menggemuk atau meramping? Kamu bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri, berat badannya naik, dan sesuai dengan prediksi formula kalori—naik sebanyak 7.1 kg. Ukuran pinggang melar menjadi 9,25 cm.

Lihatlah gambarnya! Lipatan dagu yang aduhai, Batman. Hanya dalam jangka waktu 21 hari, cowok ganteng ini juga mempunyai love handles alias lipatan pinggang. Inilah yang akan terjadi jika kamu menuruti apa kata badan otoritas obesitas.

Sekarang kamu sudah mendapat gambaran yang sangat jelas, kan? Ada sesuatu yang lebih rumit daripada mengurangi kalori. Dengan jumlah kalori yang sama, satu diet—rendah karbohidrat, tinggi lemak, makanan natural, membuat kita meramping (ukuran pinggang pun mengecil). Di sisi lain, gaya diet standar yang disarankan oleh American Heart Association malah menaikkan berat badan kita sebanyak 15 pound. Jadi, penyebabnya bukan kelebihan kalori dong. Sepakat? Jika kita bersikap cuek pada model CRAP dan kalori, kemudian kita bisa fokus pada pertanyaan yang relevan.

Apa yang menyebabkan badan menggemuk? Apa etiologi obesitas? Pastinya bukan menghitung kalori.

Kita telah mendapatkan realita bahwa tubuh mempunyai setelan tertentu untuk berat badan. Jika kamu mencoba menaikkannya, tubuh akan mengupayakan agar dia kembali melangsing. Jika kamu berusaha menurunkannya, tubuh malah melonjakkan timbangan. Jadi, pertanyaan super pentingnya, apa yang mengontrol pengaturan berat badan?

Satu-satunya cara untuk mengurangi berat badan dengan sukses adalah dengan menurunkan BSW. Tetapi, kita bisa melakukan hal itu jika kita mengerti apa yang mengatur termostat berat badan?

Analoginya begini. Katakanlah kamu mengatur termostrat di rumahmu menjadi 30 celcius, yang mana sangat panas dan bikin uring-uringan. Supaya menjadi sejuk, kamu membeli AC. Memang sih, AC telah mendinginkan ruangan, namun termostatmu menyalakan heater sehingga AC dan heater saling beradu dan berkelahi satu sama lain.

Nah, begitu pula dengan berat badan. Kita mengurangi kalori, namun mengabaikan BSW. Kamu mencoba melangsing, namun tubuhmu mengembalikan lagi berat yang hilang. Kita lapar. Metabolisme mulai dimatikan.

Bukankah jauh lebih mudah jika kita mengatur termostat menjadi 21 celsius—temperatur yang nyaman, dibandingkan melawan tubuh kita sendiri? Alasan mengapa diet sangat sulit karena kita berantem dengan tubuh kita sendiri. Dan inilah tantangan selanjutnya, kita harus mencari tahu, apa yang sebenarnya mengendalikan BSW?