Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Dilema Daging Merah (2)

 

Sumber Gambar

Para pemuja diet rendah karbohidrat, akhirnya, terpaksa harus menghadapi dilema daging merah. Tadinya mereka berpikir, daging tidak membuat gemuk karena bukan karbohidrat. Tetapi, beberapa studi besar mempertanyakan asumsi ini.

Studi menarik “Perubahan Pola Makan dan Gaya Hidup dan Keuntungan Berat Jangka Panjang pada Wanita dan Pria” menunjukkan korelasi yang erat antara daging merah dan obesitas. Sejak ditemukan fakta bahwa protein sanggup membuat insulin melonjak, daging juga tidak sejinak yang dibayangkan. Pengalaman asik Atkins yang tak terhitung jumlahnya memperkuat hasil percobaan.

Jutaan pelaku diet pada akhir tahun 1990an dan awal 2000an mencoba Atkins rendah karbohidat-protein tinggi. Bagi beberapa orang, diet itu berhasil. Namun, janji Atkins tinggallah janji. Persentasi kegagalannya cukup tinggi. Dan, popularitasnnya pun berkurang.

Tidbit menarik lainnya dari penelitian tersebut melibatkan kegunaan olahraga. Secara keseluruhan, ada efek menguntungkan olahraga jika kamu ingin menggemuk. No surprise there.

Memecah setiap kelompok diet menjadi kuintil olahraga, kamu dapat melihat bahwa di dalam setiap kelompok diet, olahraga memang bermanfaat, namun durasinya harus sangat lama. Efek olahraga tidak terlalu signifikan. Ini juga bukan hal baru. Faktor yang sangat penting dalam menggemuk atau meramping adalah diet. Olahraga adalah hal sekunder. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, diet adalah Batman, olahraga adalah Robin. Risiko Diabetes tipe 2, terkait erat dengan obesitas dan daging merah juga telah diteliti.

“Konsumsi daging merah dan risiko diabetes tipe 2: 3 kohort orang dewasa AS dan analisis meta yang diperbarui” melihat kohort yang sama dengan penelitian sebelumnya. Menganalisis hasilnya secara terpisah untuk daging olahan dan belum diproses, ada korelasi kuat antara diabetes dan kedua jenis daging tersebut.

By: Dokter Jason Fung (Red Meat Dilemma 2 – Hormonal Obesity XXVII)

Namun, rasio bahaya hanya 1,19 untuk 100 gram daging merah tanpa diolah dibandingkan 1,5 untuk 50 gram daging olahan. Menempatkannya ke dalam bahasa Indonesia sederhana, itu berarti bahwa untuk setiap 100 gram ekstra daging yang tidak diproses (steak, pork chop dll), ada peningkatan 20% pada risiko diabetes. Untuk setiap tambahan 50 gram daging olahan (bacon, luncheon meats, dll) ada peningkatan 50% pada risiko diabetes.

Sumber Gambar

Seperti yang kita lihat dalam kasus karbohidrat, toksisitasnya tidak terletak pada makanan itu sendiri, tapi dalam pengolahannya. Sejumlah penelitian lain menunjukkan perbedaan antara daging olahan dan daging yang tidak diolah.

Sebuah tinjauan sistematis “Konsumsi daging dan olahan merah dan risiko insiden penyakit jantung koroner, stroke, dan diabetes: Tinjauan sistematis dan meta-analisis” menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara daging yang tidak diproses dan diabetes, penyakit jantung atau stroke, namun 42 % peningkatan risiko dengan daging olahan.

Hasil dari studi di Eropa diterbitkan dalam “Konsumsi daging dan hasil kematian terhadap Kanker dan Nutrisi dari The European Prospective Investigation.”

Meningkatnya angka kematian dan risiko kanker terlihat terutama dengan daging olahan. Efeknya jauh lebih lemah pada daging yang tidak diproses dan tidak penting secara statistik. Ini adalah pukulan lain terhadap diet Atkin. Saran untuk mengusir si roti dan hanya makan semua daging sepuasnya adalah saran yang salah kaprah.

Sosis, luncheon meats, daging asap dan daging olahan lainnya sama buruknya dengan karbohidrat. Toksisitasnya terdapat dalam pengolahan. Ini benar-benar masuk akal.

Tubuh kita berevolusi untuk makan berbagai jenis makanan tanpa menimbulkan masalah kesehatan. Beberapa makanan jaman kuda gigit besi mengandung daging dan lemak yang sangat tinggi, contohnya adalah Inuit. Yang lainnya, seperti Kitavans dan Okinawans, asupan hariannya sangat tinggi karbohidrat.

Namun kedua makanan tradisional itu berasosiasi dengan kesehatan yang baik. Coba kamu perhatikan, mereka berdua tidak termasuk makanan olahan. Mereka bukan daging olahan atau karbohidrat olahan. Melihat konsep kita untuk teori obesitas hormonal, kita dapat menambahkan efek protein hewani. Ada pemahaman baru yaitu protein menambahkan rasa kenyang dan mengurangi pengosongan perut. Pertimbangkan macronutrients utama—lemak, protein dan karbohidrat.

Sumber Gambar

Protein dan karbohidrat menstimulasi insulin pada derajat yang berbeda. Diet tinggi lemak banyak berpengaruh. Namun, selama 4 dekade terakhir, atas perintah otoritas nutrisi, kita telah mengurangi asupan lemak. Ini membuat kita mengkompensasinya dengan meningkatkan asupan protein dan karbohidrat.

Dengan demikian kita dapat melihat di mana kebingungan dengan teori kalori masuk dan kalori keluar. Karena nampaknya semua macronutrien sama, kita membayangkan bahwa semua makanan, terlepas dari kandungan gizi dapat diukur dalam unit yang sama—kalori.

Awalnya kita mencoba mengikuti diet rendah lemak dan tinggi karbohidrat. Saat gagal, pendekatan Atkins rendah lemak, protein tinggi diujicoba. Itu juga gagal. Sekarang kita meraba-raba tanpa tahu apa yang terjadi karena kita tidak memiliki kerangka kerja untuk memahami etiologi obesitas yang mendasarinya. Salah satu poin terpenting di sini adalah bahwa protein dan karbohidrat sebenarnya telah dilengkapi dengan faktor pelindung.

Pada karbohidrat pelindungnya adalah si serat. Karbohidrat yang tidak diproses mengandung serat yang sangat tinggi. Masyarakat tradisional sering makan lebih dari 50-100 gram serat. Standar diet Amerika Utara sekarang adalah karbohidrat yang diproses (menghilangkan serat).

Dengan protein diet, kita dilindungi oleh efek incretin dan perlambatan motilitas lambung. Diet protein meningkatkan kenyang sehingga kita akan merasa lebih ‘penuh’ dan makan lebih sedikit pada makanan berikutnya. 

Di tahun-tahun yang lalu, hidangan besar yang penuh protein akan diikuti dengan periode puasa yang panjang untuk ‘mencerna’. Sekarang cara makan seperti itu sudah tidak diikuti lagi.

Sementara kita dapat menikmati makan sepuas hati, seperti Thanksgiving, kita paranoid untuk melewatkan makan berikutnya karena kita secara tidak rasional khawatir bahwa melewatkan makanan berikutnya akan ‘menghancurkan’ metabolisme kita.

Kita melihat fenomena ini pada anak-anak. Jika mereka tidak lapar, mereka tidak akan makan. Kita juga melihat ini pada binatang liar—singa, harimau, ular dll.

Tahun pelatihan telah mempersiapkan kita untuk mengabaikan perasaan kenyang kita sehingga kita akan makan jika telah tiba jam makan, kita memaksakan diri untuk memamah biak meski tidak lapar. Jadi, kita menghindari efek perlindungan dari  incretins dengan secara kaku menjadwalkan makanan kita 3 kali sehari, come hell or high water.

You may not be hungry, but by god, you will eat! Intrisik atau pembawaan makanan pada dasarnya tidak ada yang buruk, proses pengolahannyalah yang membuatnya menjadi rusak. Semakin jauh kamu menyimpang dari makanan sungguhan, semakin banyak bahaya yang kamu hadapi.

Sumber Gambar

 

Apakah kamu harus makan protein bar? Tidak.

Apakah kamu harus makan pengganti makanan? Tidak.

Apakah kamu minum pengganti makanan shakes? Tidak. Sumpah itu ngeri banget.

Haruskah kamu menghindari daging olahan dan karbohidrat? Sejauh yang kamu bisa. Sulit untuk menghapus semua ini dari makanan kita. Oleh karena itu kita telah berevolusi selama berabad-abad membuat strategi diet lainnya untuk ‘mendetoksifikasi’ atau ‘membersihkan’ diri kita sendiri.

Sekarang ini, trik ini juga telah hilang dalam kabut waktu. Kita akan menemukan kembali rahasia kuno ini segera, tapi ya, itu adalah cliffhanger. Untuk saat ini, tetap berpegang pada makanan riil.

Ingin Kurus dan Langsing: Baca Tentang Dilema Daging Merah (1)

Sumber Gambar

Dilema Daging Merah – Hormon Obesitas

Apakah sebenarnya dilema daging dan protein hewani itu?

  1. Di satu sisi, protein hewani menaikkan insulin, sehingga bisa membuat kita gemuk,
  2. Di sisi lain, protein hewani mempunyai efek memperlambat pengosongan lambung, meningkatkan rasa kenyang sehingga sanggup membikin kita menjadi ramping.

Dalam satu ‘balutan’ kita dihadapkan pada dua efek. Lantas manakah efek yang lebih kuat?

By: Dokter Jason Fung

Salah satu studi asosiasi terbesar beberapa saat yang lalu berasal dari analisis data dengan menggabungkan tiga studi kohort yang sangat besar, yaitu:

  1. The Nurses Health Studies I.
  2. The Nurses Health Studies II.
  3. The Health Professional’s Follow Up study.

Melihat data gabungan ini, perbandingan dibuat antara makanan tertentu dan dan risiko obesitas. Meskipun ini bukan percobaan acak, namun data tersebut masih mengandung sejumlah data bermanfaat. Changes in Diet and Lifestyle and Long-Term Weight Gain in Women and Menditerbitkan di New England Journal of Medicine pada tahun 2011.

Salah satu hal terpenting yang dilakukan peneliti adalah melihat makanan tertentu. Beberapa dekade terakhir muncul aliran ‘nutrisisme’ dimana derajat makanan menjadi turun karena telah diklasifikasikan sebagai ‘karbohidrat’, protein dan lemak. Namun, dengan menggunakan metode itu, tetap tidak sanggup menangkap kompleksitas ilmu pangan. Sebuah alpukat, misalnya mengandung 88% lemak, 16% karbohidrat, dan protein 5% dengan serat 4,9 gram. Dengan kandungan nutrisi semacam itu, kemudian alpukat diklasifikasikan sebagai makanan dengan derajat rendah bahkan ‘buruk’ selama bertahun-tahun karena kandungan lemaknya yang tinggi, lantas sekarang direklasifikasi kembali sebagai makanan super. Sungguh perlakuan rasis pada makanan, dan mencla-mencle alias tidak konsisten. (Useful online tool for this sort of useless thing here). Ini adalah alat ukur yang sungguh tidak berguna. Perlu kita ketahui, dan ini merupakan wawasan yang sangat menarik, sesungguhnya ada ratusan nutrisi dan fitokimia dalam makanan yang mempengaruhi metabolisme kita yang tidak tertangkap oleh analisis sederhana semacam ini.

Sumber Gambar

Jadi sekali lagi, alat ini sungguh tidak bermanfaat, by the way, pada saat kita mengelompokkan makanan pada label makanan, sesungguhnya tidak menjelaskan mengapa mereka tidak membuat perbedaan yang signifikan. Saya membayangkan bahwa salah kaprah nutrisi membuat situasi menjadi amburadul alias acak-acakan dari masa ke masa. Coba Anda bayangkan saat dimana para pendukung aliran-rendah-lemak-garis-keras di tahun 1970an yang membagi makanan dalam tiga kelompok besar makro nutrisi. Awalnya, mereka berpikir semua lemak adalah makanan terkutuk. Setelah itu semua karbohidrat adalah buruk. Kemudian muncul lagi kelompok karbohidrat tercela dan karbohidrat baik. Lantas, muncul lagi lemak baik dan lemak jahat. Lalu, protein terpuji dan protein merugikan (hewani vs nabati misalnya). Faktanya, tidak semudah itu untuk membuat geng-geng makanan. Kita juga telah membuat klasifikasi artifisial pada tipe-tipe makanan—buah-buahan misalnya. Pisang adalah makanan yang harus diasingkan dan berry adalah buah-buahan yang diagung-agungkan. Basis pengelompokan ini berdasarkan gagasan indeks glisemik, jumlah lemak, atau jumlah gula.

Setelah memperhatikan sebanyak 120.877 laki-laki dan perempuan berusia di atas 12 sampai 20 tahun, para peneliti menghitung hubungan antara asupan makanan tertentu dan penambahan berat badan. Secara keseluruhan kenaikan berat badan rata-rata selama periode 4 tahun adalah 3,35 pound—mendekati 1 pon per tahun sesuai dengan perkiraan. Meskipun ini mungkin tidak terdengar banyak, lebih dari 40 tahun, katakanlah dari usia 20 sampai usia 60, akan membuat orang kelebihan berat badan sekitar 40 pounds, katakanlah berat badan rata-rata adalah 160 pound, 40 tahun kemudian akan menjadi 200 pound pada pasien pra-diabetes.

Penting untuk diingat bahwa studi asosiasi seperti ini tidak dapat membuktikan sebab-akibat. Namun, salah satu kekuatan penelitian ini adalah untuk dapat melihat hasil jangka panjang—sesuatu yang tidak dapat dilakukan pada uji coba acak. Karena kenaikan berat badan akan berakumulasi selama beberapa dekade, percobaan jangka pendek beberapa tahun mungkin tidak memberi tahu apa yang harus kita ketahui.

Tetapi, masih menarik untuk melihat datanya di sini. Cukup mudah untuk mengerti mengapa keripik kentang dan kentang goreng bisa menggemukkan.

Keduanya mengandung karbohidrat olahan tinggi yang meningkatkan insulin dan glukosa secara signifikan. Untuk alasan yang sama, permen dan makanan pencuci mulut, dan tepung dan semua makanan olahan sangat terkait dengan obesitas. Memang, sulit menemukan siapa saja yang berpendapat bahwa keripik kentang, makanan pencuci mulut dan roti putih tidak menggemukkan.

Tapi ada juga asosiasi yang kuat antara daging olahan, daging yang belum diproses dan mentega dengan obesitas. Karena mereka bukan karbohidrat, orang mungkin berasumsi bahwa mereka tidak menggemukkan.

Tapi faktanya, mereka juga membuat kita menjadi gemuk. Begitu Anda menyadari bahwa protein juga merangsang insulin, itu mulai membuat beberapa pengertian bahwa makanan ini juga dapat menyebabkan obesitas.

Namun daging dan dairy products tidak menggiring kita menjadi obesitas, terlepas dari fakta bahwa protein dari dairy akan menstimulasi insulin dengan derajat lebih tinggi. Masalahnya di sini mungkin mengenai kuantitas dari daging versus dairy yang telah kita bahas di last post. Jadi, meski Anda mengonsumsi dairy, namun jumlahnya tidaklah banyak.

Ada juga makanan yang membuat Anda tetap langsing–misalnya kacang-kacangan dan sayuran.

Hubungannya di sini tampak straightforward alias langsung tepat sasaran. Keduanya rendah gula dan seratnya sangat tinggi. Kedua efek tersebut akan cenderung menurunkan insulin dan melindungi terhadap penambahan berat badan. Tapi gandum utuh dan buah juga protektif. Sebuah kejutan bagi penggemar Atkin, sepertinya kandungan serat yang tinggi dalam makanan ini mungkin bersifat protektif.

Di antara minuman, minuman manis dan jus buah dikaitkan dengan obesitas. Tidak mengherankan—keduanya sangat tinggi gula dan seratnya sangat rendah. Susu skim mungkin memiliki sedikit hubungan, tapi susu utuh tidak. Lemak susu yang lebih tinggi mungkin menjadi pelindung di sini. Diet soda sangat protektif, tapi saya ragu apakah ini adalah efek sebenarnya atau apakah itu hanya mencerminkan fakta bahwa orang yang meminum diet soda memang sedang melakukan diet sehingga memang menurunkan asupan makanan.

Untuk mempermudah Anda memahami grafik, coba lihat makanan yang membuat Anda menggemuk, benang merahnya sama, semua makanan itu cenderung meningkatkan insulin. Kelompok makanan yang tidak menaikkan berat badan cenderung mengandung faktor pelindung—serat, fermentasi (yogurt), dan lemak.

Ini mungkin merupakan petunjuk untuk mengungkap mengapa diet Atkin’s menjadi bubar jalan. Awalnya dibayangkan sebagai karbohidrat rendah, diet tinggi lemak, namun ia berevolusi menjadi Atkins versi 2.0 pada 1990-an. Meski masih rendah karbohidrat, kegilaan rendah lemak tersebut mengubah reboot Atkins sebagai karbohidrat rendah, rendah lemak namun tinggi protein. Penggemar Atkins berpaling dari makanan asli ke kreasi Frankenfood seperti milkshake protein yang dipermanis dengan fruktosa, makanan pengganti artifisial dan protein bar.

Perusahaan farmasi, seperti Matt Taibbi’s vampire squid yang tergila-gila dengan uang, memadamkan saluran darahnya menjadi sesuatu yang berbau DUIT, dibuat menjadi sangat hepi karena bisa menggaruk laba maksimal dengan menciptakan produk nutrisi baru dalam rangka memenuhi kegemaran baru ini. Boost.  Ensure.  Optifast.  Slimfast. Pernahkah Anda membaca ingredients of these meal replacements alias kandungan dari makanan pengganti ini? Ini akan membuat Anda ngeri. Susu protein, fruktosa, minyak canola, minyak kedelai dan multivitamin. Apakah ini terdengar baik untuk Anda? Atau periksa the ingredients of Atkins Nutritionals Bar, atau bar Atkins Nutritionals. Lapisan rasa coklat, lapisan rasa selai kacang, gliserin, campuran protein, selulosa, dll. Ada gliserol yang lebih menyeramkan daripada protein!

Sumber Gambar

Tidak menyadari sebuah fakta bahwa TIDAK semua karbohidrat secara inheren menggemukkan, mereka juga menghindari buah dan sayuran yang lezat dan bergizi. Hal ini membuat diet sulit ditoleransi dan sudah pasti, para pengikutnya tidak patuh. Ini bukan diet yang bisa Anda ikuti seumur hidup, meski banyak yang mengklaim telah mengikuti diet ini. Revolusi Diet Dr. Atkin telah selesai.