Apakah Perempuan Menopause bisa Meramping? Dengan Puasa Intermittent, Bisa Dong

Mayoritas wanita menopause berasumsi bahwa mustahil untuk bisa meramping, bahkan lebih parah daripada itu, bisa jadi, melangsing di fase usia itu adalah biang kerok malapetaka dan agony.

Untungnya, saya memiliki privilege atau hak istimewa untuk bekerja dengan ribuan wanita yang berpuasa, dan dengan lantang saya akan blak-blakan bahwa menurunkan-berat-badan di fase menopause emang nggak mudah ya. But it isn’t impossible either. Tapi pasti bisa, dong.

By: Megan Ramos (Women and Fasting: Top Tips for Women Going Through Menopause Part 1)

Faktanya, para perempuan ini bisa mencapai hasil yang amazing kok, tetapi mereka harus sedikit lebih rajin daripada orang lain, dan harus lebih taat dengan beberapa prinsip basic puasa. Para pasien perempuan di klinik kami belum ada yang gagal satu pun, tetapi memang perlu banyak trial and error uji coba untuk dapet protokol yang benar-benar berfungsi.

Dalam seri posting ini, saya akan berbagi strategi paling oke, yang telah berhasil ngebantu banget para wanita dalam kelompok usia ini sukses meramping.

Fast Consistently and Be Patience

 Berpuasa Secara Konsisten dan Sabar

Melangsing jauh lebih rumit bagi wanita karena kita super kompleks secara hormonal daripada rekan-rekan pria kita. Tapi bukan berarti nggak bisa dapet prestasi yang sama, dong.

Sumber Gambar: jeffreydachmd.com

Faktanya, kita sanggup menjolok buah yang serupa, atau melangsing itu bisa digapai kok, terlepas gender apa pun. Sesungguhnya, pria dan perempuan, ya, sama aja. Hanya aja, spesial untuk para lady ini jalurnya memang lebih menukik dan berkelok-kelok.

Dalam posting saya sebelumnya tentang Wanita dan Berpuasa, kita membahas dua jalur berbeda yang dialami pria dan wanita ketika puasa dan memapas berat badan. Pada awalnya, pria cenderung kehilangan berlipat-lipat kiloan, tetapi kemudian mulai slow down.

Seorang pria bisa aja kehilangan 10 pound selama Minggu pertama, tetapi kemudian hanya memusnahkan 1 atau 2 pound pada Minggu 12, dan selama beberapa minggu ia mungkin nggak sanggup menendang berat badan sedikit pun, karena tubuh doski mencoba untuk membuang lemak yang lebih bandel.

Apa yang kita lihat pada wanita adalah kebalikannya. Indeed, si kecepatan keong banget pada awalnya, bahkan berat-badan-bergeming-dan-bertapa-tak-tergoyahkan di tempat yang sama selama beberapa minggu, tak mau bergeser sedikit pun, Sob. Tetapi dengan kesabaran dan konsisten, berat badan yang sanggup ditendang mulai melonjak!

Horeee!

Seorang wanita mungkin nggak melenyapkan berat badan pada Minggu ke-1, namun dia bisa jadi menghempas beberapa kilogram selama Minggu ke-12. Saya telah menyaksikan banyak wanita throw in the towel atau menyerah pasca beberapa minggu mencoba, karena mereka pikir ini hanyalah mode diet yang nggak ada faedahnya, sama seperti yang udah-udah.

Sebagai mantan wanita gemuk dan seseorang yang telah mencoba hampir setiap diet di planet ini, saya ngerti kok. Super ngerti banget sekali malah.

But nothing worthwhile comes easily. Tapi tidak ada satu pun hal berharga di jagat raya ini yang datang dengan mudah. Life is also a nonstop rollercoaster of happiness and sorrow. Hidup juga merupakan rollercoaster tanpa henti dari hepi dan sedih.

Satu hari semuanya tampak sempurna dan baik-baik aja, dan hari berikutnya shit hits the fan. Anda merasa dunia Anda runtuh. And what have we been taught to do when that happens? Dan apa yang telah diajarkan kepada kita ketika itu terjadi? Comfort ourselves with food. Menghibur diri dengan makanan.

Jika Anda ingin menurunkan berat badan berapa pun usia Anda, you need nip it in the bud right now, alias Anda harus bisa menghandlenya, Sob.

Life is never constantly stable. Hidup tidak pernah stabil, tidak pernah konstan. There are bumps and hurdles we face almost every day. Kadang jalan kehidupan bentuknya benjol-benjol, di kali yang lain rintangan meliuk-liuk, dan ini terjadi hampir setiap hari.

Anda harus stick dengan rejimen puasa Anda, terlepas hari itu sedang datang air bah atau neraka rembes, jika tidak begitu, Anda pasti akan gagal.

Saya telah menyaksikan pasien dan orang-orang terkasih mengalami diet yo-yo sepanjang hidup mereka. Juga, saya menghabiskan 27 tahun ngalamin yo-yoing atau berat badan naik-turun tiada henti. Dan karena itulah, I had to be real with myself atau harus tegas pada diri sendiri.

Saya baru berusia 27 tahun dan didiagnosis dengan salah satu penyakit paling mematikan di bumi ini—diabetes tipe 2.

Saya punya dua pilihan:

Pertama, saya bisa men-tackle diabetes dengan pendekatan yo-yo yang udah sangat terang-terangan selalu aja gagal. Hasilnya saya akan tetap diet selama satu dekade, juga ditambah dengan, saya kudu diet terus menerus, meski:

  1. Pekerjaan sedang membikin saya stres.
  2. Marah pada suami saya, atau.
  3. Ultra sedih ketika nenek saya meninggal.

Dan saya hanya harus hidup legawa dengan kerusakan yang dilakukan diabetes pada tubuh saya dalam kurun waktu itu.

Pilihan kedua, saya sepenuhnya berkomitmen pada protokol puasa selama 6 bulan saja.

It could only be 90% of the time. Mungkin hanya 90% aja dari total waktu kok. Memang sih ini mungkin seperti bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Tetapi penekanannya adalah apa pun akan saya lakukan asalkan saya nggak ngalamin yo-yo. Anything more wasn’t human. Saya harus mengizinkan diri saya menjadi manusia lagi dan tidak membiarkan makanan buruk meski hanya sebutir mengisi hari saya.

Sumber Gambar: popsugar.com

Dan goalnya adalah untuk nge-kick kegemukan saya, diabetes tipe 2, sindrom ovarium polikistik (PCOS), dan hati berlemak/ fatty liver (NAFLD) dalam 6 bulan sehingga saya bisa move on dengan hidup saya.

Dengan cara ini saya bisa menghindari kerusakan akibat diabetes, plus saya bisa menjalani hidup on my own terms atau aturan hidup ala saya sendiri, dong.

By buckling down, dengan tekad sangat baja ini, berarti saya tidak selalu menyandang status ‘narapidana’ atau merasa terpenjara pada rejimen puasa di masa depan.

Jadinya, di masa depan, saya bisa berpuasa saat saya mau, asalkan saya sedang fit atau cucok dengan agenda kegiatan saya.

Hasilnya adalah:

  • Dalam 6 bulan, A1c saya turun menjadi 4,6%.
  • Nggak ada lagi NAFLD.
  • PCOS hilang.
  • Obesitas lenyap.

And it was slow as hell to start, but nothing that truly works comes easily. Prosesnya lambat banget dan macam di tempat jagal ketika awal memulai, tetapi, nggak ada satu pun hal di dunia ini yang didapet dengan gampil. Semua butuh perjuangan, bukan begitu?

Kiat ahli: Rencanakan kegiatan di hari puasa



Dengan cara ini Anda selalu memiliki rencana before you get into a funk, atau merasa seperti di kawah Candradimuka atau tersiksa rasa super lapar ketika berpuasa.
Contoh:

  • Jika Anda selalu lapar pada pukul 6 sore, pergilah ke gym atau fitness class pada jam itu.
  • Jika Anda merasa stres di tempat kerja, go for a walk, berjalan-jalanlah.
  • Mandi garam Epsom jika Anda merasa lelah dan frustrasi di rumah.
  • Baca buku di teras belakang Anda.
  • Berkebun.
  • Atur lemari Anda.
  • Rencanakan tripketika Anda mencapai target Anda.
  • Meet up dengan teman baik untuk minum teh atau kopi.
     

Dalam artikel selanjutnya, kita akan berbicara tentang pentingnya clean fasting a.k.a puasa ‘bersih’ untuk wanita.

Ingin Ramping dan Kurus? Baca tentang Diet Keto versus Puasa Intermittent

Siapakah yang lebih kuat dan powerful, apakah puasa atau LowCarb High Fat (LCHF) alias keto? Terkadang ini seperti berdebat manakah yang lebih bertenaga, Batman atau Superman? (Superman, dong). Tapi keduanya adalah superhero, dan fokus kedua rejimen superhero ini adalah sama-sama menurunkan insulin. Mengapa keduanya dinamakan diet superhero? Karena berfondasikan pada penyebab diabetes tipe 2 dan obesitas.

Anda perlu memahami etiologi obesitas (penyebab krusialnya) jika Anda ingin mengusirnya.

Selama beberapa dekade, kita telah salah berasumsi bahwa pemicu obesitas adalah kalori yang bombastis. Namun, studi overfeeding atau riset tentang makan dengan porsi jumbo dan underfeeding a.k.a memamahbiak hidangan porsi imut, dengan SANGAT JELAS telah membuktikan bahwa hipotesis ini invalid.

Jika kalori menyebabkan obesitas, maka overfeeding atau makan-dengan-kalori-melimpah seharusnya nyebabin obesitas, dong. Emang sih, ini yang terjadi, tapi hanya dalam jangka pendek. Dalam waktu jangka panjang, berat badan kembali normal. Makan dengan kalori super banyak tidak akan membuat anda gemuk selamanya. Underfeeding kalori di sisi lain, seharusnya melahirkan langsing yang permanen. Tapi ternyata tidak. Jika Anda ingin melangsing lantas menggunakan strategi ngurangin kalori, dijamin kegagalannya 99%.

Sumber Gambar

Menggunakan model obesitas yang lebih rasional, misal sebagai kelainan hormonal (terutama insulin, tapi juga kortisol) menyebabkan hipotesis bahwa meningkatkan insulin harus mengarah pada penambahan berat badan yang langgeng.

By: Dokter Jason Fung (Power: Fasting vs Low Carb – Fasting 26)

Jika insulin dipapas, maka berat badan pun meluruh. And guess what? Itu beneran sukses lho. Jadi, jika kita paham bahwa insulin yang ‘tumpah-tumpah’ nyebabin manusia menggelembung, maka pengobatannya cukup-jelas-dan-benar-benar-sangat-jelas-ultra-jelas-dari-yang-terjelas, iya nggak?

Anda nggak perlu meminimalisir kalori, meski ada beberapa pendapat tumpang tindih. Anda perlu memangkas insulin sehingga mencetuskan penurunan berat badan, voila! Anda pun meramping. Ada 2 metode yang bisa menyabet tujuan ini, yaitu:

  1. Puasa.
  2. Makanan tinggi lemak, rendah karbohidrat atau diet Keto.

Karbohidrat olahan merupakan stimulus terbrutal untuk insulin, sehingga menendang karbohidrat, berefek pada mengurangi insulin.

Protein, terutama protein hewani juga membikin insulin mengangkasa, sehingga menjaga protein-tetap-rendah-dan-tinggi-lemak adalah strategi lain untuk menjaga kadar insulin tetap minor. Puasa, dengan membatasi segalanya, juga membuat insulin anjlok. ‘Puasa’ lemak yaitu nggak makan apa-apa kecuali lemak murni, mungkin juga berakibat yang sekufu, tapi penelitian masih jarang. Jadi puasa lemak dianggap belum shahih. Jadi ‘kopi bulletproof pasti bisa memetik destinasi yang selevel, yang mana sanggup melengserkan insulin tanpa menyusutkan kalori, namun datanya belum ada yang pasti.

Sumber Gambar

Pertanyaan selanjutnya adalah, diet mana yang lebih baik? LCHF/ keto atau Puasa?

Perbandingan kekuatan menunjukkan bahwa puasa selalu jadi pemenang nyaris setiap saat. Dalam studi diet-bebas-karbohidrat atau keto versus puasa pada penderita diabetes tipe 2, Anda dapat melihat bahwa keto bisa berhasil dengan sangat ciamik a.k.a sukses dengan baik banget

Namun, jika kita membandingkan respon glukosa pada diet keto versus Diet Standar, Anda dapat melihat bahwa gula darah turun. Tapi puasa berhasil dengan sukses yang lebih luks. Jika Anda mencoba menerjunkan glukosa darah, nggak ada yang sanggup mengalahkan puasa. Lagi pula, Anda nggak mungkin bisa lebih rendah dari nol. Bahkan di saat itu pun, diet bebas karbohidrat memang sangat oke—ngasih Anda 71% manfaat puasa, tanpa puasa yang beneran.

Diet standar adalah:

  1. 55% karbohidrat.
  2. Protein 15%, dan
  3. Lemak 30%.

Tidak jauh dari apa yang direkomendasikan oleh ahli diet. Dan, sebenarnya. Anda bisa melihat betapa buruknya kontrol glukosa darah jika memakai konsep itu.

Diet keto atau bebas karbohidrat adalah:

  1. <3% karbohidrat (yaitu ketogenic atau ultra-low carb).
  2. Protein 15% (moderat) dan.
  3. Lemak 82%.

LCHF cukup banyak mengatakan itu semua. Kalori yang diberikan adalah 25 kkal/ kg (1750 kalori untuk pria dengan berat 70 kg) dalam 3 kali makan—ini sama antara diet standar dan bebas karbohidrat. Jadi manfaat pembatasan karbohidrat sangat signifikan pada glukosa darah. Sekali ini, jadi bukan karena kalori yang dilimitasi.

This is useful knowledge, considering how many ill informed doctors and dieticians keep saying ‘It’s all about the calories’. Ini adalah pengetahuan yang berfaedah, mengingat betapa banyak dokter dan ahli diet yang nggak tahu informasi ini, lantas selalu mengatakan, “ini semua tentang kalori.” Sebenarnya, dalam riset ini, hubungan dengan kalori adalah nihil alias nggak ada sama sekali.

Siapa saja yang masih percaya bahwa ‘Ini semua tentang kalori’ padahal model Pengurangan Kalori sebagai Primer (CRaP) udah gagal tak henti-henti selama  50 tahun, nggak memikirkan hal-hal yang sulit banget atau sama sekali tidak begitu cerdas.

Jika strategi seperti CRaP gagal selama 50 tahun, kita harus mengubah strategi kita. Tidak perlu Albert Einstein mengatakan bahwa CRAP adalah definisi gila.

Grafik ini cukup serius. Melihat Standar Diet (disarankan ADA), Anda dapat melihat seberapa tinggi puncak glukosa tersebut. Anda mungkin bertanya pada diri sendiri, apakah orang-orang-berbudi-pekerti-luhur yang ada di ADA ini tahu bahwa makanan mereka, adalah agen yang ngirim si gula darah melonjak, tetapi, mengapa mereka malah merekomendasikannya? Apakah mereka mencoba membunuh kita? Sayangnya, jawabannya adalah ya. Mereka mencoba membunuh Anda. Emang sih, nggak sengaja, tapi ini karena ketidaktahuan mereka.

Tapi apa bebas karbohidrat saja nggak adekuat? Beneran nggak cukup nih? Saya memiliki banyak pasien yang membatasi karbohidrat mereka namun tetap memiliki gula darah yang jangkung.

Nah, pertanyaannya sekarang, gimana caranya supaya Anda bisa dapet lebih banyak power?

Maaf, Batman, sudah waktunya menelpon Superman. (Jangan repot-repot dengan Wonder Twins—mereka selalu nggak berguna. Nanti malah akan berubah menjadi lumba-lumba atau sejenisnya.)

Singkat kata, kita ini butuh puasa, Sob. Hasil penelitian bahkan lebih mengesankan saat Anda melihat kadar insulin. Hal ini sangat krusial, karena ternyata, kadar glukosa darah bukan pendorong esensial  pada penyakit obesitas dan diabetes. Insulin adalah “penjahat” nomor wahid. The entire strategy of weight loss hinges upon lowering insulin.

Bulletproof Coffee atau Kopi Bulletproof

Melihat total area di bawah kurva, Anda dapat melihat bahwa diet bebas karbohidrat dapat mengurangi insulin sekitar 50%, tetapi Anda bisa menambah 50% lagi dengan berpuasa. Itu double power. This makes sense, of course.

Diet bebas karbohidrat masih mengandung beberapa protein yang akan melambungkan insulin. Satu-satunya cara untuk ngedapetin yang super rendah lagi adalah dengan mengonsumsi lemak 100%—yang mayoritas merupakan konstruksi artifisial. Artinya, kita umumnya nggak makan minyak zaitun murni sebagai makanan atau melahap lemak babi murni.

Bulletproof coffee atau Kopi Bulletproof tentu saja merupakan ‘hack’ yang keren banget, tapi tidak pernah diuji oleh ribuan tahun sejarah manusia dan jutaan orang. Puasa telah bertahan dalam ujian waktu. Jadi, bagaimana? Semakin kita sering makan sampah olahan dan ultra olahan dan berpura-pura itu adalah makanan, artinya kita makin perlu berpuasa.

Jika Anda makan makanan cepat saji dalam jumlah gigantis (makanan yang sangat diolah akan mengirim insulin di level tinggi banget), maka Anda sangat-butuh-perlu-sekali berpuasa (nantinya, insulin tersebut turun kembali). Ini hanyalah metode tercepat dan terefisien untuk memangkas insulin.

Untungnya, ini juga tidak sesulit yang diyakini kebanyakan orang.

Bagaimana dengan glukagon? Ingat bahwa glukagon adalah kebalikan dari insulin. Salah satu peran fisiologis insulin utama adalah menekan glukagon. Dr Roger Unger melakukan banyak hal untuk mengeksplorasi peran biologis glukagon dan sering menganggapnya sebagai hal yang paling vital. Namun, dalam penelitian ini, sama sekali tidak memiliki relevansi klinis. Dalam berurusan dengan pasien, glukagon juga memainkan peran sedikit atau nggak sama sekali.

Jadi gini, ini saya akan mencoba jelaskan. Insulin nyebabin kenaikan berat badan—sehingga pemberian insulin melahirkan penambahan berat badan. Apakah mengurangi glukagon memicu gemuk? Tidak juga. Apakah glukagon yang ditambah menyebabkan meramping? Nggak.

Sumber Gambar

Tentu, glukagon memainkan peran utama dalam hati tikus, tapi saya nggak terlalu peduli. Saya acuh dengan manusia. Intinya riset ini adalah untuk memperkuat apa yang udah kita ketahui sih.

Insulin adalah promotor obesitas yang fundamental banget (tapi bukan satu-satunya). Oleh karena itu, bagi kebanyakan orang, memotong insulin adalah metode perfecto untuk ngobatin kegemukan. Diet bebas karbohidrat adalah taktik ampuh untuk mengurangi insulin. Tapi jika itu tidak berhasil, maka puasa intermiten menawarkan strategi yang lebih setrong berkali-kali lipat.

Pada diabetes tipe 2, Anda bisa memotong gula darah sebesar 50-70% dengan diet keto. Dan Anda bisa meluak sekitar 30% sisanya dengan puasa. Jadi, jika kita udah tahu gimana menyurutkan gula darah pada diabetes tipe 2 dengan trik diet—lantas mengapa kita masih juga butuh obat?

Inilah jawabannya, tentu saja Anda nggak butuh obat lagi dong. Obat diabetes tipe 2 mulai saat ini bisa Anda singkirkan. Karena diabetes Tipe 2 adalah penyakit yang sepenuhnya bisa dijungkirbalikkan.

Perbedaan Diagnosa untuk PCOS

Membuat diagnosis PCOS pada remaja memang sangat kusut. Ketika perempuan mulai menstruasi (disebut menarche), siklus biasanya tidak apik dan nggak selalu disertai ovulasi.

Di Amerika Serikat, usia lazimnya menarke adalah 12,4 tahun. Periode siklus nggak teratur ini sering berproses selama 2 tahun atau lebih, dan interval siklus biasanya berkisar dari 21-45 hari (rata-rata 32,2 hari).

By: Dokter Jason Fung (Differential Diagnosis PCOS 4)

Ini cukup dekat dengan siklus 35 hari yang didefinisikan sebagai oligomenore. Dengan demikian, pubertas konvensional dan siklus tidak teratur yang terlihat pada PCOS tumpang tindih secara signifikan.

Diagnosis ekstrem pada kelompok usia ini dapat nyebabin sebundel treatment nggak guna dan kekhawatiran yang tidak perlu. Pada tahun ketiga setelah menarche, 60-80% dari siklus adalah 21-34 hari, ini termasuk siklus dewasa normal, yang mana membuat perbedaan lebih gampil dideteksi.

Selama pubertas, ada eskalasi kadar testosteron yang memuncak beberapa tahun pasca menarche. Tes darah menjadi percuma aja, ini disebabkan karena nggak menyeleksi tingkat testoreron yang tingginya luar biasa, karena pada remaja, level normal tidak terdefinisi dengan rancak.

Testosteron yang melonjak ini, mengarah ke problematika jerawat yang jadi ciri khas masa remaja dan menghilang pada usia dewasa berikutnya. Suburnya jerawat meski hanya pada tahap sementara ini, memang nggak meramalkan penyakit di kemudian hari.

Acanthosis nigricans tampak seperti belang gelap beludru, biasanya ‘mencuat’ pada leher atau lipatan tubuh. Temuan klinis ini dianggap sebagai karakteristik resistensi insulin yang jangkung dan sering dijumpai pada pasien dengan diabetes tipe 2.

Tingkat keparahan acanthosis nigricans secara direk berkaitan dengan resistensi insulin level fatal. Semakin superior resistensi insulin, tambalan kulit semakin baplang dan bertambah gelap.

Ovarium polikistik atau PCOS, juga sulit didiagnosis selagi masa teenager. Trans-vaginal ultrasound (di mana probe ultrasound dimasukkan ke dalam vagina) ngasih gambaran ovarium yang paling gamblang.

Namun, ini biasanya dihindari pada gadis remaja, membikin diagnosis radiologis lebih elusif. Namun demikian, dalam penelitian, 26-54% dari remaja perempuan tanpa gejala memiliki ovarium polikistik (PCOS) jika diUSG.

Tiga kriteria yang digunakan untuk diagnosis PCOS:

  1. Hiperandrogenisme.
  2. Siklus tidak terstuktur, dan.
  3. Ovarium polikistik semuanya dapat ditemukan selama pubertas normal.

Kita butuh afeksi khusus jika melabeli pasien dengan PCOS, dan seringkali lebih bijaksana menangguhkannya sampai setelah selesai masa remaja untuk membuat diagnosis, karena ini bukan kondisi yang mendesak untuk diobati.

Tentunya, jika ada bukti diabetes tipe 2 atau obesitas, ini harus segera diobati. Obesitas sendiri diketahui terkait dengan melambungnya kadar insulin. Efek ini diperkirakan muncul selama pubertas dini. Selama Tanner tahap 3 (pubertas dini) misalnya, 93,8% remaja pra-remaja mengecap peningkatan testosteron. 0% insulin puasa non-obesitas juga 3 kali lebih tinggi pada barisan obesitas. Efek ini juga terlihat selama pubertas dan dewasa akhir, tetapi tidak ada gap yang nyata.

Perbedaan Diagnosa

Hiperandrogenisme dan ovarium polikistik tidak eksklusif untuk PCOS, sehingga penyakit lain yang menjiplak PCOS harus dikecualikan.

Maksudnya apa? PCOS nggak hanya ditandai dengan hiperandrogenisme (macho atau penampakan kayak laki-laki) dan adanya kista.

Meskipun kondisi ini jarang terjadi, mereka mungkin serius dan memprioritaskan treatment yang berbeda 180 derajat, jadi membikin perbedaan itu esensial.

Daftar kondisi paralel meliputi:

  1. Kehamilan
  2. Prolaktin berlebih
  3. Penyakit tiroid
  4. Hiperplasia Adrenal
  5. Sindrom Cushing
  6. Tumor penghasil androgen
  7. Obat diinduksi

PCOS hanya dapat didiagnosis ketika masalah lain ini telah ditelusuri, baik melalui pemeriksaan fisik atau laboratorium. Mari kita pertimbangkan kondisi lainnya.

Kehamilan


Kehamilan, sejauh ini adalah merupakan penyebab menstruasi mendadak berhenti. Dan ini gejala paling universal. Tentunya, tes kehamilan sederhana, baik tes rumah atau konfirmasi laboratorium adalah wajib. Nah, pemeriksaan PCOS juga sekufu alias sama aja, Sob. Akan memalukan banget jika diagnosis sederhana ini ditendang atau ditiadakan.

Hiperprolaktinemia

Hiperprolaktinemia adalah adanya ekses hormon prolaktin dalam darah. Prolaktin biasanya disekresikan oleh kelenjar pituitari di otak pada mamalia, termasuk manusia, tugasnya menghasilkan susu.

Prolaktin meningkat secara normal menjelang akhir kehamilan karena dibutuhkan untuk perkembangan payudara yang betul. Kan mau nyusuin.

Berbagai kondisi dapat menimbulkan hiperprolaktinemia, termasuk penyakit ginjal atau hati kronis, obat-obatan, dan penyakit tiroid. Penyakit umum lainnya adalah tumor kecil (mikro-adenoma) dari kelenjar pituitari yang dapat mensekresikan prolaktin ke dalam darah.

Diagnosis dibuat dengan mengukur kadar darah prolaktin. Tingkat prolaktin yang rabung dapat menghambat estrogen dan tanda ketidakteraturan menstruasi serta sulit untuk ovulasi atau sulit hamil. Ini mungkin meniru gejala-gejala PCOS.

Gejala lain yang dapat menyokong membedakan penyakit ini termasuk:

  1. Pembesaran payudara dan.
  2. Produksi ASI yang abnormal.

Gangguan Tiroid

Tiroid adalah kelenjar kecil di depan leher. Ini memangkas hormon tiroid yang mengontrol aspek metabolisme dalam jumlah banyak.

Gangguan hormon tiroid yang terlalu sedikit dapat:

  1. Menghasilkan penambahan berat badan.
  2. Ketidakteraturan menstruasi.
  3. Ketidaksuburan dan kerontokan rambut.

Yang mungkin ambigu dengan PCOS. Tes darah hormon tiroid (TSH, T3, T4) harus aplikasikan untuk menyingkirkan kondisi, yang sebetulnya, mudah diobati ini.


Kesalahan penerjemahan Hiperplasia Adrenal Kongenital Non-klasik (NCAH)

NCAH adalah kelainan genetik langka yang muncul dengan diagram klinis hiperandrogenisme yang mirip dengan PCOS, sering terjadi pada wanita muda. Androgen biasanya diproduksi di kedua indung telur dan korteks dari kelenjar adrenal.

Seringnya, NCAH melahirkankelebihan produksi androgen oleh kelenjar adrenal dan sindrom yang mengingatkan kita pada PCOS, dengan gejalanya yaitu menstruasi tidak teratur, hirsutisme, dan jerawat. Tes darah, khususnya respon 17-OH-PG terhadap stimulasi ACTH akan memisahkan antara NCAH dan PCOS.

Sindrom Cushing


Dalam beberapa kasus, tumor dapat menutupi kortisol yang volumenya berlimpah-limpah. Dalam kasus lain, kortisol sintetis (prednisone) digunakan sebagai obat untuk terapi penyakit autoimun (asma, lupus) dan transplantasi, tujuannya, untuk menekan sistem kekebalan tubuh.

Peningkatan kadar kortisol dapat membuahkan kenaikan berat badan, ketidakteraturan menstruasi dan infertilitas yang mungkin gejalanya malah tertukar dengan PCOS.

Kehadiran gejala lain seperti:

  1. Distribusi lemak yang nggak rata misalnya ada punuk kerbau.
  2. Striae.
  3. Penipisan kulit.
  4. Kelemahan otot dan atrofi.
  5. Kepekaan terhadap infeksi.
  6. Depresiasikepadatan tulang.
  7. Kondisi kejiwaan yang parah serta disfungsi kognitif,

Dapat membantu membedakannya dari PCOS. Tes darah dapat mendeteksi kadar kortisol yang jenjang yang terkait dengan PCOS.

Ekses Androgen (Obat/ Tumor diinduksi)


Tumor di kelenjar adrenal atau ovarium dapat mensekresi androgen yang jumlahnya aduhai, yang mana dapat menyebabkan hirsutisme, pembesaran klitoris, pendalaman suara, dan kebotakan pola pria. Ini sangat jarang, tetapi berkapasitas mengancam nyawa. Rata-rata usia diagnosis adalah 23,4 tahun, tumpang tindih secara substansial dengan PCOS.

Tumor biasanya memanifestasikan kadar androgen yang jauh lebih tinggi daripada yang dilihatdi PCOS, sehingga nyebabin gejala yang jauh lebih parah. Menerawang seperti menggunakan alat  CT scan perut mungkin krusial untuk menjaring tumor seperti itu.

Kelebihan androgen yang dipicu oleh obat biasanya kedapatan pada mereka yang secara diam-diam mengonsumsi testosteron,  biasanya dipake sebagian besar untuk mendongkrak kinerja atletik. Jadi memang mungkin atlet udah biasa mengonsumsi ini, Sob.

Karena pasien mungkin nggak selalu mengaku telah menggunakannya, indeks kecurigaan yang tinggi seharusnya menjadi alasan shahih untuk membikin diagnosis.

Epidemiologi

Dengan menerapkankriteria NIH 1990, prevalensi PCOS berkisar antara 6-9%, dengan tingkat yang sangat mirip di seluruh dunia, meskipun disparitas yang tinggi pada level obesitas.

Ketika memakai kriteria Rotterdam yang lebih luas, prevalensi PCOS umumnya dua kali lipat dari menggunakan kriteria NIH yang lebih tua.

Dengan demikian, perkiraan paling baru dari prevalensi mengungkapkan itu, yang mana mempengaruhi 15-20% wanita, sejauh ini, menjadikannya gangguan endokrin yang paling umum dari wanita muda.

Sumber Gambar

Sekitar 1 dari 15 wanita yang tidak terpilih di Amerika Serikat proporsinya sama aja, dengan yang ada di Spanyol, Yunani, dan Inggris. Ini membuktikan bahwa diperkirakan 105 juta wanita menderita.

Studi kembar menunjukkan bahwa ada pengaruh genetik yang jelas pada tingkat insulin puasa, indeks massa tubuh dan kadar androgen.

Sebuah studi besar Belanda yang membandingkan kembar identik dengan pasangan kembar fraternal, menemukan bahwa sekitar 70% PCOS dapat dikaitkan dengan pengaruh genetik. Ini sebanding dengan perkiraan bahwa 70% obesitas, mungkin terkait dengan genetika.

Dengan demikian, secara keseluruhan kemungkinan gen ini mempengaruhi predisposisi untuk obesitas dan PCOS. Obesitas dan PCOS bisa disebabkan oleh genetis dalam keluarga. Saudara perempuan pasien PCOS lebih cenderung memiliki gejala dengan perkiraan 22% juga mengamini kriteria diagnostik yang paripurna.

Pemaparan lebih lanjut, 24% dari saudara perempuan yang menderita hiperandrogenisme tetapi siklus menstruasinya cukup regular, kemungkinan menunjukkan bahwa mereka juga bertendensi menderita PCOS ringan. Ibu pasien dengan PCOS memiliki kadar androgen yang lebih tinggi, resistensi insulin dan sindrom metabolik.

Keluarga tingkat pertama, laki-laki atau perempuan mungkin lebih akan menanggung resistensi insulin.

Terlepas dari kecenderungan genetik yang setrong ini, nggak ada gen tunggal yang diidentifikasi sebagai faktor penyebab yang nunjukin bahwa PCOS adalah kelainan genetik kompleks dengan gen masif yang mana berkontribusi pada jenjang risiko yang alit.

Selain penderitaan manusia, beban ekonomi PCOS sangat hiper. Di Amerika Serikat, sekitar $4 miliar pada tahun 2004 digelontorkan untuk biaya terkait treatment-nya. PCOS adalah salah satu penyulut eminen pada infertilitas dan fertilisasi in-vitro, for your information ya, ini adalah industri multi-miliar dolar.

Wanita dengan PCOS yang akhirnya menjadi hamil berada pada eskalasi risiko komplikasi kandungan seperti diabetes gestasional, hipertensi yang diinduksi kehamilan dan pre-eklampsia.

PCOS dikaitkan dengan banyak penyakit yang nggak menjadi bagian dari kriteria diagnostik. Mungkin yang paling vital adalah riwayat berat badan yang melambung yang mana seringkali merupakan tanda untuk mendiagnosis PCOS.

28,3% wanita gemuk yang dirujuk ke satu klinik didiagnosis dengan PCOS, lalu berhasil menurunkan berat badan juga telah terbukti mengurangi testosteron, menghebatkan resistensi insulin dan melorotkan hirsutisme (lebih lanjut tentang ini nanti).


PCOS secara umum ditandai dengan menjulangnya obesitas yang parah, tetapi, santai aja efeknya cukup sederhana kok. Dianjurkan juga untuk secara rutin melakukan tes diabetes tipe 2. Mengukur glukosa puasa aja dapat diagnosis dengan mudah, tetapi manfaatnya mencapai 80% pasien pra-diabetes dan 50% pasien diabetes.


Ini berguna banget karena gaya hidup segera diperbaiki di tahap awal sehingga mencegah kerusakan organ lebih lanjut.


Pedoman saat ini merekomendasikan bahwa wanita dengan PCOS harus diskrining pake tes toleransi glukosa oral setiap 3-5 tahun. Jika ada faktor risiko lain, ini harus dilakukan setiap tahun.

Pertimbangan penting lainnya adalah merokok dan kesejahteraan psikologis. Baik depresi dan kecemasan adalah gejala universal di antara pasien PCOS. Pasien dengan PCOS biasanya akan dirawat di rumah sakit dibandingkan dengan mereka yang nggak memiliki penyakit.

PCOS digandengkan dengan obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan stroke. Diabetes tipe 2 yang merayap dan sindrom metabolik, menempatkan wanita berisiko semampai di kemudian hari dari penyakit jantung, stroke dan kanker.

Oleh karena itu, tagihan $4 miliar ini kemungkinan meremehkan total biaya fiskal penyakit ini, apalah artinya jika dibandingkan dengan penderitaan manusia, Sob. Sebagai perbandingan aja ya, biayanya 3 kali lipat dari total biaya hepatitis C lho.

Dalam mencoba memahami pengobatan PCOS yang tepat, perlu untuk menyelami penyebab penyakit. Karena kaitannya yang erat dengan obesitas dan diabetes tipe 2, PCOS telah jelas muncul sebagai penyakit metabolisme, bukan sekadar gangguan reproduksi, jadi menangkap tautan dengan obesitas adalah tempat terbaik untuk memulai.

Mantra Diabetes—Glucotoxicity

Saya telah mengobati pasien selama bertahun-tahun. Jadi saya udah punya mantra untuk mengobati diabetes dong, yaitu, “Glikemik harus dikontrol dengan ketat.” Di tubuh manusia ada ahli kepala endokrinologi dan dia akan menggongong, “turunkan gula darah ke kisaran normal dengan biaya yang juga normal, tentara!”

Tentara akan merespons, “Yes, Sir! Yes, Sir!”

Meskipun ini bukan penyebab penyakit, tetapi diabetes ditandai dengan gula darah tinggi. Padahal gula darah yang jangkung hanyalah gejala penyakit, bukan penyakit itu sendiri. Emang sih, pada penyakit diabetes tipe 1 penyebab utama penyakit ini adalah kekurangan insulin, jadi jelas fondasi manajemen penyakit ini adalah dengan mengganti insulin.

By: Dokter Jason Fung (The Diabetes Mantra – Glucotoxicity – T2D 11)

Tetapi, pada penyakit diabetes tipe 2, penyebab elementer penyakit adalah resistensi insulin. Oleh karena itu, logika yang berlaku adalah, pengobatannya tentu diarahkan untuk membalikkan resistensi insulin, bukan malah menurunkan gula darah, karena gula darah yang tinggi hanyalah gejala.

Lalu, karena diabetes tipe 2 mayoritas disebabkan oleh salah makan, hal yang rasional adalah dengan makan yang benar. Bukan justru mengonsumsi obat. Indeed, ada benang merah antara diabetes tipe 1 dan 2, yaitu, keduanya sama-sama ditandai dengan gula darah yang semampai.

Tetapi, karena kebanyakan meminjam buku pedoman untuk diabetes tipe 1, mereka menyamaratakan pengobatan untuk diabetes tipe 2, yaitu memakai insulin.

Di Amerika Serikat, sebagian besar pasien diabetes diobati menggunakan insulin. Jumlahnya hampir 1/3 pasien. Oleh karena itu, pada dekade terakhir, jumlah insulin yang digunakan untuk pasien meningkat sekitar 50%.

Mengingat bahwa 90-95% mereka mengalami diabetes tipe 2, jadi penggunaan insulin sesungguhnya sangat tidak tepat, jadi ini sangat mengerikan, iya kan? Pasien yang menggunakan obat-obatan dan insulin untuk diabetes mereka angkanya 85,3%, itu berdasarkan data tahun 2011.

Mencoba mengendalikan gula darah dengan ketat nggak akan berguna jika kaitannya untuk penyakit kardiovaskular, ini telah dibuktikan oleh percobaan dalam skala besar. Nggak masuk akal sama sekali, jika penyakit kebanyakan insulin kemudian obatnya dengan menambah asupan insulin, bener nggak?

Analoginya, itu seperti mencuci baju dengan nyemplungin mereka ke dalam air, tapi, ngeringinnya dengan… celupin juga ke air.

Jenis penyakit ini sangat berlawanan meski namanya sama-sama diabetes, yang satu terlalu sedikit insulin, satunya lagi terlalu melimpah. Mana mungkin dua penyakit yang berbeda 180 derajat, diobati dengan cara yang sama? Kita nggak idiot kan ya?

Sampai dengan pertengahan 1990-an, nggak jelas, apakah gula darah adiluhung itu termasuk kategori berbahaya? Padahal gula darah dalam jumlah inferior atau rendah, jauh lebih emergensi untuk jangka pendek. Banyak penyakit jantung dan kematian terkait dengan hipoglikemia.

JAMA Internal Medicine, tahun 2014, telah melakukan sebuah riset untuk melihat adanya fenomena hipoglikemia. Bayangin aja, ada 100.000 orang di IGD, dan 30.000 di rawat inap biasa yang berhubungan langsung dengan hipoglikemia. Perkiraan biaya perawatan ini adalah $600 juta, ini lebih dari 5 tahun. Risiko tinggi biasanya dialami oleh pasien yang lebih tua.

Diestimasikan, sekitar 404.000 pasien, dirawat rumah sakit, karena gula darah rendah, pada tahun 1999-2011. Di sisi lain, hanya 280.000 karena gula darah yang tinggi.

Hipoglikemia ini mempunyai sekuel yang cukup serius:

  1. Kejang.
  2. Pingsan.
  3. Bahkan kematian.

Penerbitan DCCT (Diabetes Control and Complications Trial) pada tahun 1993 di NEJM mengubah segalanya. Pasien diabetes tipe 1, diacak untuk mengontrol glukosa dengan ketat (injeksi sekitar 3- 4/ hari) dan suntikan konvensional (1-2/ hari), pada 1441 pasien. Gula darah rata-rata bisa diturunkan dengan dosis insulin yang besar.

Grup konvensional hasilnya mendekati 9%, dan kelompok-kontrol-ketat kira-kira 7%, ini dilihat dari A1C. AC1 atau 9% dianggap nggak tersupervisi jika membonceng standar ini. Seperti yang diperkirakan 3 kali lebih tinggi pada kelompok pengendalian intesif, pada saat terjadi hipoglikemia.

Kejadian retinopati terjun bebas sebesar 76%, pasca pengamatan lebih dari 6,5 tahun pada periode follow up. Ada penurunan sebesar 50% pada nefropati diabetik/ penyakit ginjal, dan saraf yang rusak berkurang sekitar 60%.

Efek pada pengendalian gula darah ketat pada beberapa eksperimen ditujukan untuk melihat penyakit vascular makro—serangan jantung dan stroke.

Apakah ada benefit dari pengamatan lebih lanjut ini memang masih misteri, tetapi, memang nggak ada efek yang nguntungin sih, pada akhir percobaan.

Pada tahun 2005, NEJM telah menerbitkan EDIC (Epidemiologi Diabetes Intervensi dan Complication), dan para pasien ini telah lama mengikuti uji coba ini. Kelompok pasien ini telah diikuti selama 17 tahun.

Cara kerjanya adalah, grup ini memang tidak diobati secara aktif, hanya diikuti saja, dan hasilnya adalah, kontrol glukosa darah mereka tetap sama, meski yang satu selama 6,5 tahun, dan yang lain 17 tahun. Rata-rata A1c adalah 7,8-7,9%.

Ini berkurang sekitar 50%, meski memang agak lama untuk mendeteksi adanya perubahan pada CVD. Paradigma glucotoxicity di diabetes tipe satu, terbentuk karena hal ini. Insulin yang kurang sebagai penanda diabetes tipe 1. Komplikasi diabetes berkurang secara substansial dengan diberikannya insulin yang berperan mengendalikan gula darah. Artinya, efek gula darah yang tinggi dapat disangkutkan dengan multipel toksisitas pada diabetes tipe 1. Tetapi, ini ada biaya.

Ini akan menjadi periode di mana hipoglikemik meningkat, seperti yang telah disebutkan di atas. Selanjutnya, pada kelompok intensif, kenaikan berat badan akan melonjak secara signifikan.

Jadi ini sangat jauh melampaui apa yang terjadi pada kelompok konvensional, sungguh kasian, karena 30% subjek pada insulin-dosis-tinggi, menggemuk dengan luar biasa. Tetapi, benefitnya memang nggak dapat diabaikan.

Ini nggak bertahan lama, pada akhir 1990-an, dokter telah khawatir dengan adanya kegemukan yang di atas rata-rata.

Indeks Massa Tubuh mereka meningkat dari 24 menjadi 31, ketika episode pengobatan, dan yang paling banyak mengalami kenaikan adalah yang didefinisikan pada kuartil pertama, yaitu 25% naiknya.  Atau dengan bahasa lain, mereka yang tadinya normal menjadi membulat ketika dokter berupaya mengurangi gula darah mereka.

Pengaruhnya bukan hanya itu, tekanan darah dan kolesterol juga kena imbasnya. Problem yang sangat terlihat adalah perut membuncit.

Apakah yang menjadi ciri khas pada diabetes tipe 2 adanya kombinasi hal-hal di bawah ini:

  1. Adipositas sentral (perut buncit).
  2. Hipertensi.
  3. Dislipidemia.

Atau lebih tepat dinamakan karakter sindrom metabolik. Ini bukanlah kabar baik. Plus, ada kabar buruk lain yang akan terjadi.

Pasca mengobservasi studi EDIC, periset mempertanyakan sekali lagi, apakah obesitas yang berlebihan ini ada efek merugikan. Pada subjek yang telah 17 tahun diberikan terapi insulin pada studi EDIC, klasifikasi arteri coroner (CAC), dan intimal medial (CIMT), mulai diukur ketebalannya.

Keduanya merupakan tindakan aterosklerosis yang diterima dengan baik—penumpukan plak di arteri yang menyebabkan serangan jantung dan stroke. Tindakan aterosklerosis harus segera dilakukan karena adanya penumpukan plak di arteri yang menjadi pemicu serangan jantung dan stroke.

Tanda hal buruk yang akan datang adalah adanya:

  1. Klasifikasi kadar yang tinggi
  2. Dinding pembuluh darah yang menebal.

CIMT ini diukur di tahun 1 dan tahun ke-6.

Sementara itu, CAC diukur pada tahun 8 dari EDIC atau 11 sampai dengan 20 tahun pasca eksperimen. Semakin studi EDIC ini diperpanjang, pasien terus menggemuk, lingkar pinggang terus membesar, dan dosis insulin bertambah lagi dan lagi. Tekanan darah yang paling buruk, dan parameter lipid yang terjelek juga dialami oleh mereka yang paling gemuk.

Skor CIMT dan CAC meningkat pada grup yang berat badannya bertambah dengan berlebihan ini, meski harus kita akui, ini nggak bahaya-bahaya banget. Artinya apaan sih? Pengurangan toksisitas glukosa pada diabetes tipe 1 bisa dilakukan dengan insulin, namun, dalam jangka panjang, racun dari treatment ini juga tampak sangat jelas.

Menggemuk karena insulin bukan masalah sepele, ini nggak sesimpel Anda tampak jelek dalam bikini. Konsekuensinya itu lho, sangat merusak. Obesitas disebabkan oleh insulin. Sindrom metabolik (problematika berkaitan dengan lipid, obesitas sentral, tekanan darah tinggi) akan terjadi bersamaan dengan obesitas. Yang lebih parah adalah, Anda mulai melihat adanya tanda subklinis aterosklerosis (CAC dan CIMT). Ada 2 jenis racun di sini.

Jadi apa akibat buruk dari dosis insulin makro ini:

  1. Toksisitas dari gula darah tinggi.
  2. Dalam jangka panjang menyebabkan obesitas.

Insulin yang sangat rendah pada diabetes tipe 1, menyebabkan masalah dominan pada toksisitas glukosa dalam jangka pendek (<10 tahun). Tetapi, jika insulin dosis tinggi diberikan dalam jangka waktu panjang, masalah yang muncul mirip dengan diabetes tipe 2 (kadar insulin yang melimpah).

Perkaranya adalah bahwa masalah toksisitas insulin ini nggak pernah terpikirkan selama ini. Hal yang menjadi konsentrasi dokter adalah hanya mengkonfirmasi adanya glucotoxicity, itu yang ditemukan pada riet DCCT/ EDIC.

Hasil gula darah yang persisten tingginya menyebabkan efek buruk baik pada diabetes tipe 1 dan 2. Dengan paradigma itu, menurunkan gula darah adalah harga mati—bahkan jika itu berarti sledgehammering/ membunuh seseorang dengan memberikan unit insulin beratus-ratus.

Produsen insulin, pastinya nggak seneng dengan riset ini. Jika Anda menanyakan, “Apakah ini berlaku pada diabetes tipe 2?” Ini adalah pertanyaan yang apik.

Gula darah yang tinggi pada diabetes tipe 2 dikarenakan resistensi insulin. Ide cantik jika Anda mengatakan bahwa menyuntikkan lebih banyak insulin, sama aja dengan memalu kepala si pasien.

Bagaimanapun, insulin tinggi adalah ciri khas dari pasien diabetes tipe 2. Tapi sialnya, inilah mantra yang berlaku untuk menurunkan gula darah. Tapi di sisi lain, untungnya, sekarang ada studi UKPDS yang mulai memberi sedikit atensi.