Apakah Perempuan Menopause bisa Meramping? Dengan Puasa Intermittent, Bisa Dong

Mayoritas wanita menopause berasumsi bahwa mustahil untuk bisa meramping, bahkan lebih parah daripada itu, bisa jadi, melangsing di fase usia itu adalah biang kerok malapetaka dan agony.

Untungnya, saya memiliki privilege atau hak istimewa untuk bekerja dengan ribuan wanita yang berpuasa, dan dengan lantang saya akan blak-blakan bahwa menurunkan-berat-badan di fase menopause emang nggak mudah ya. But it isn’t impossible either. Tapi pasti bisa, dong.

By: Megan Ramos (Women and Fasting: Top Tips for Women Going Through Menopause Part 1)

Faktanya, para perempuan ini bisa mencapai hasil yang amazing kok, tetapi mereka harus sedikit lebih rajin daripada orang lain, dan harus lebih taat dengan beberapa prinsip basic puasa. Para pasien perempuan di klinik kami belum ada yang gagal satu pun, tetapi memang perlu banyak trial and error uji coba untuk dapet protokol yang benar-benar berfungsi.

Dalam seri posting ini, saya akan berbagi strategi paling oke, yang telah berhasil ngebantu banget para wanita dalam kelompok usia ini sukses meramping.

Fast Consistently and Be Patience

 Berpuasa Secara Konsisten dan Sabar

Melangsing jauh lebih rumit bagi wanita karena kita super kompleks secara hormonal daripada rekan-rekan pria kita. Tapi bukan berarti nggak bisa dapet prestasi yang sama, dong.

Sumber Gambar: jeffreydachmd.com

Faktanya, kita sanggup menjolok buah yang serupa, atau melangsing itu bisa digapai kok, terlepas gender apa pun. Sesungguhnya, pria dan perempuan, ya, sama aja. Hanya aja, spesial untuk para lady ini jalurnya memang lebih menukik dan berkelok-kelok.

Dalam posting saya sebelumnya tentang Wanita dan Berpuasa, kita membahas dua jalur berbeda yang dialami pria dan wanita ketika puasa dan memapas berat badan. Pada awalnya, pria cenderung kehilangan berlipat-lipat kiloan, tetapi kemudian mulai slow down.

Seorang pria bisa aja kehilangan 10 pound selama Minggu pertama, tetapi kemudian hanya memusnahkan 1 atau 2 pound pada Minggu 12, dan selama beberapa minggu ia mungkin nggak sanggup menendang berat badan sedikit pun, karena tubuh doski mencoba untuk membuang lemak yang lebih bandel.

Apa yang kita lihat pada wanita adalah kebalikannya. Indeed, si kecepatan keong banget pada awalnya, bahkan berat-badan-bergeming-dan-bertapa-tak-tergoyahkan di tempat yang sama selama beberapa minggu, tak mau bergeser sedikit pun, Sob. Tetapi dengan kesabaran dan konsisten, berat badan yang sanggup ditendang mulai melonjak!

Horeee!

Seorang wanita mungkin nggak melenyapkan berat badan pada Minggu ke-1, namun dia bisa jadi menghempas beberapa kilogram selama Minggu ke-12. Saya telah menyaksikan banyak wanita throw in the towel atau menyerah pasca beberapa minggu mencoba, karena mereka pikir ini hanyalah mode diet yang nggak ada faedahnya, sama seperti yang udah-udah.

Sebagai mantan wanita gemuk dan seseorang yang telah mencoba hampir setiap diet di planet ini, saya ngerti kok. Super ngerti banget sekali malah.

But nothing worthwhile comes easily. Tapi tidak ada satu pun hal berharga di jagat raya ini yang datang dengan mudah. Life is also a nonstop rollercoaster of happiness and sorrow. Hidup juga merupakan rollercoaster tanpa henti dari hepi dan sedih.

Satu hari semuanya tampak sempurna dan baik-baik aja, dan hari berikutnya shit hits the fan. Anda merasa dunia Anda runtuh. And what have we been taught to do when that happens? Dan apa yang telah diajarkan kepada kita ketika itu terjadi? Comfort ourselves with food. Menghibur diri dengan makanan.

Jika Anda ingin menurunkan berat badan berapa pun usia Anda, you need nip it in the bud right now, alias Anda harus bisa menghandlenya, Sob.

Life is never constantly stable. Hidup tidak pernah stabil, tidak pernah konstan. There are bumps and hurdles we face almost every day. Kadang jalan kehidupan bentuknya benjol-benjol, di kali yang lain rintangan meliuk-liuk, dan ini terjadi hampir setiap hari.

Anda harus stick dengan rejimen puasa Anda, terlepas hari itu sedang datang air bah atau neraka rembes, jika tidak begitu, Anda pasti akan gagal.

Saya telah menyaksikan pasien dan orang-orang terkasih mengalami diet yo-yo sepanjang hidup mereka. Juga, saya menghabiskan 27 tahun ngalamin yo-yoing atau berat badan naik-turun tiada henti. Dan karena itulah, I had to be real with myself atau harus tegas pada diri sendiri.

Saya baru berusia 27 tahun dan didiagnosis dengan salah satu penyakit paling mematikan di bumi ini—diabetes tipe 2.

Saya punya dua pilihan:

Pertama, saya bisa men-tackle diabetes dengan pendekatan yo-yo yang udah sangat terang-terangan selalu aja gagal. Hasilnya saya akan tetap diet selama satu dekade, juga ditambah dengan, saya kudu diet terus menerus, meski:

  1. Pekerjaan sedang membikin saya stres.
  2. Marah pada suami saya, atau.
  3. Ultra sedih ketika nenek saya meninggal.

Dan saya hanya harus hidup legawa dengan kerusakan yang dilakukan diabetes pada tubuh saya dalam kurun waktu itu.

Pilihan kedua, saya sepenuhnya berkomitmen pada protokol puasa selama 6 bulan saja.

It could only be 90% of the time. Mungkin hanya 90% aja dari total waktu kok. Memang sih ini mungkin seperti bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Tetapi penekanannya adalah apa pun akan saya lakukan asalkan saya nggak ngalamin yo-yo. Anything more wasn’t human. Saya harus mengizinkan diri saya menjadi manusia lagi dan tidak membiarkan makanan buruk meski hanya sebutir mengisi hari saya.

Sumber Gambar: popsugar.com

Dan goalnya adalah untuk nge-kick kegemukan saya, diabetes tipe 2, sindrom ovarium polikistik (PCOS), dan hati berlemak/ fatty liver (NAFLD) dalam 6 bulan sehingga saya bisa move on dengan hidup saya.

Dengan cara ini saya bisa menghindari kerusakan akibat diabetes, plus saya bisa menjalani hidup on my own terms atau aturan hidup ala saya sendiri, dong.

By buckling down, dengan tekad sangat baja ini, berarti saya tidak selalu menyandang status ‘narapidana’ atau merasa terpenjara pada rejimen puasa di masa depan.

Jadinya, di masa depan, saya bisa berpuasa saat saya mau, asalkan saya sedang fit atau cucok dengan agenda kegiatan saya.

Hasilnya adalah:

  • Dalam 6 bulan, A1c saya turun menjadi 4,6%.
  • Nggak ada lagi NAFLD.
  • PCOS hilang.
  • Obesitas lenyap.

And it was slow as hell to start, but nothing that truly works comes easily. Prosesnya lambat banget dan macam di tempat jagal ketika awal memulai, tetapi, nggak ada satu pun hal di dunia ini yang didapet dengan gampil. Semua butuh perjuangan, bukan begitu?

Kiat ahli: Rencanakan kegiatan di hari puasa



Dengan cara ini Anda selalu memiliki rencana before you get into a funk, atau merasa seperti di kawah Candradimuka atau tersiksa rasa super lapar ketika berpuasa.
Contoh:

  • Jika Anda selalu lapar pada pukul 6 sore, pergilah ke gym atau fitness class pada jam itu.
  • Jika Anda merasa stres di tempat kerja, go for a walk, berjalan-jalanlah.
  • Mandi garam Epsom jika Anda merasa lelah dan frustrasi di rumah.
  • Baca buku di teras belakang Anda.
  • Berkebun.
  • Atur lemari Anda.
  • Rencanakan tripketika Anda mencapai target Anda.
  • Meet up dengan teman baik untuk minum teh atau kopi.
     

Dalam artikel selanjutnya, kita akan berbicara tentang pentingnya clean fasting a.k.a puasa ‘bersih’ untuk wanita.

Epidemi Obesitas (Penyebab Akar Masalahnya)

Sumber Gambar

Kali ini saya akan mengutip ucapan dokter Fung mengapa dia yang seorang ahli ginjal pada akhirnya tertarik mendalami tentang obesitas dan cara untuk meramping. Inilah penjelasannya.

By: Dokter Jason Fung (The Obesity Epidemic – Root Causes)

Saya dibesarkan di Toronto, Kanada pada prelude tahun 1970-an. Diri saya yang lebih yuvenil akan benar-benar terkejut bahwa hari ini, obesitas telah menjadi fenomena global yang mengambung dan tak terhentikan. Pada saat itu, kami bergidik serius pada isu Malthus bahwa populasi dunia akan segera menerobos produksi makanan dunia dan kita nggak akan sanggup lagi menangkis kelaparan massal. Atensi utama lingkungan adalah pendinginan global karena pantulan sinar matahari dari partikel debu di udara yang menyulut fajar Zaman Es baru.

Sumber Gambar

Saya ingin tahu apakah Majalah Time menyangka salah satu dari 51 hal yang harus kita aksikan adalah menjadi penguin. Sebaliknya, sekitar 50 tahun kemudian, kita menjaring diri kita menghadapi masalah yang persis egaliter. Pendinginan global telah lama surut menjadi perhatian serius, tetapi pemanasan global dan mencairnya lapisan es kutub merajai berita. Alih-alih makanan yang nadir secara global dan kelaparan universal, kita menumbuhkan epidemi obesitas, belum pernah terjadi lebih beberapa ratus tahun silam dalam sejarah manusia.

Ada banyak aspek yang lebih galau dari epidemi obesitas ini.

Pertama, apa pangkal penyebabnya? Fakta bahwa epidemi ini bersifat menyebar luas dan relatif baru membangkang cacat genetik yang menjadi geladak pada awalnya? Olahraga sebagai kegiatan rekreasi, adalah hal secuil besar yang bukan merupakan trend pada tahun 1970-an. Orang-orang tidak berkeringat dengan orang tua dalam dekade itu. Menjamurnya pusat kebugaran, klub lari, studio latihan dan segenusnya adalah produk tahun 1980-an.

 

Sumber Gambar

Saya bersabung dan membolak-balik pertanyaan ini selama bertahun-tahun. Orang-orang makan roti putih, es krim, dan kue Oreo pada tahun 1970-an. Pasta dan roti gandum utuh nggak ada tuh, mereka nggak dianggap wajar sebagai jamuan yang layak dimakan oleh orang-orang nyata. Mereka menggarap cara makan dengan metode yang ‘salah’ tetapi jarang ada yang ndut, ingin bukti? Gampang aja, coba lihat, saat Anda menilik foto-foto lama dari tahun 1970-an, nggak ada yang gemuk kan?

Kedua, mengapa kita tidak berdaya untuk menyabot epidemi ini? Tidak ada yang ingin menjelma fertil. Semua ilmuwan, dokter, dan ahli diet terbaik di zaman itu menganjurkan nasihat diet, semuanya tetap bersandar pada ajaran yang ngawur. Selama lebih dari tiga puluh tahun, para dokter telah merekomendasikan diet rendah lemak, yang diperkaya tinggi karbohidrat sebagai terapi asoy untuk kegemukan.

Sumber Gambar

Namun epidemi obesitas telah diakselerasi. Dari 1985 hingga 2011, prevalensi obesitas di Kanada merayap tiga kali lipat, dari 6 persen menjadi 18 persen. Semua bukti yang tersedia mengekspos bahwa orang-orang mencoba memotong kalori mereka, mencangkul-i lemak mereka dan berolahraga lebih bar-bar. Tapi mereka tidak sanggup melebur berat badan. Satu-satunya jawaban yang logis adalah kita tidak menginterpretasi masalahnya.

Makan terlalu banyak lemak dan terlalu membludak kalori bukanlah dilema, jadi menyabit lemak dan kalori bukanlah solusinya. Jadi, semuanya kembali ke interogasi-perdana-yang-esensial itu.

Apa yang membenihkan penambahan berat badan?

Pada 1990-an, saya lulus dari University of Toronto dan University of California, Los Angeles sebagai dokter dan spesialis ginjal. Dan saya harus berkata jujur bahwa saya tidak mengantongi minat sedikit pun untuk menyembuhkan obesitas. Tidak selama sekolah kedokteran, residensi, penataran khusus atau bahkan selama praktik. Tapi bukan saya doang kok. Ini faktual untuk setiap dokter yang praktik di Amerika Utara.

Sekolah kedokteran menginstruksikan kita belajar hal lain, hampir nggak ada nyinggung tentang gizi, dan bahkan kurang tentang tata cara menyembuhkan obesitas. Ada jam dan mata kuliah yang didedikasikan untuk obat-obatan yang tepat dan operasi untuk preskripsi.

Sumber Gambar

Saya mahir dalam aplikasi ratusan obat-obatan. Saya piawai dalam penggunaan dialisis. Saya tahu semua tentang preservasi dan indikasi pembedahan. Pengetahuan saya nol raksasa tentang nutrisi dan bahkan cetek tentang cara menyusutkan berat badan. Hal ini terlepas dari fakta bahwa epidemi obesitas sudah definit, dan epidemi diabetes tipe 2 yang berdiri latah tepat di belakangnya, dengan semua implikasi merusak organ tubuh yang lainnya.
Dokter tidak peduli dengan diet. Berat badan bukan perkara supaya tampak sekseh dalam bikini untuk musim renang di musim panas. Bukan cuma itu, lho.

Melubernya lemak di dalam tubuh bertanggung jawab penuh dalam ekspansi diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik, secara dramatis menumbuhkan risiko serangan jantung, stroke, kanker, penyakit ginjal, kebutaan, amputasi, dan kerusakan saraf, dan komplikasi lainnya.

Ini bukanlah merupakan topik kedokteran perifer yang digandrungi. Obesitas merupakan jantung dari seluruh penyakit, dan saya minim ilmu tentang itu. Saya mulai praktek sebagai spesialis ginjal pada awal tahun 2000, dan saya menemukan bahwa penyulut paling tipikal dari gagal ginjal, sejauh ini, adalah diabetes tipe 2.

Saya mengibaratkan pasien-pasien itu mengasah saya, satu-satunya cara yang membuat saya paham caranya. Awalnya, saya bersandar penuh pada obat-obatan seperti insulin dan prosedur seperti dialisis. Dari pengalaman, saya tahu bahwa insulin akan mengundang kenaikan berat badan.

Sebenarnya, semua orang tahu insulin menyebabkan ekskalasi bobot tubuh. Pasien akan curhat dengan nada prihatin. “Dokter,” kata mereka, “Anda selalu mengujarkan kepada saya untuk itu berat badan harus segera didaratkan. Tapi insulin yang kau berikan padaku membuat berat badanku membengkak, banyak pula. Bagaimana ini bisa membantu?”

Sumber Gambar

Untuk waktu yang lama, saya ngeblank, saya beneran tidak memiliki jawaban yang apik untuk mereka, karena fakta itu tidak berkontributif. Masalahnya adalah pasien saya tidak semakin afiat. Satu-satunya yang bisa saya kerjakan adalah saya hanya memegang tangan mereka saat mereka merosot dan kondisinya menjadi lebih buruk lagi dan lagi.

Saya menggarap semua yang dididik kepada saya, tetapi itu tidak ada gunanya. Sia-sia aja.
Secara bertahap, saya sadar apa biang keroknya. Akar bibit seluruh masalah adalah si obesitas itu sendiri. Obesitas melantarkan sindrom metabolik dan diabetes tipe 2, yang menyebabkan semua problem lainnya. Namun semua yang diajarkan kepada saya, hampir seantero sistem pengobatan modern, dengan farmakope-nya, dengan nanoteknologinya, dengan semua sihir genetika senter secara miopik tidak menembak pada masalah ultra inti.

Tidak ada ada satu ahli pun yang menjampi akar penyebabnya. Jika Anda mengobati penyakit ginjal, pasien masih tersisa dengan obesitas, diabetes tipe 2 dan semua komplikasi lainnya. Ini adalah cara saya, dan nyaris setiap dokter lain dibiasakan untuk praktik kedokteran. Tapi itu tidak berjaya.

Kita perlu menjampi dan membongkar obesitas. Kita mencoba untuk mengobati masalah yang disebabkan oleh obesitas daripada obesitas itu sendiri. Ketika orang-orang pupus berat badan-nya, diabetes tipe 2 mereka juga akan memental arahnya. Mengobati akar penyulut adalah satu-satunya solusi logis.

Jika mobil Anda bocor, resolusinya adalah tidak membeli lebih banyak minyak dan alat pel untuk mengeringkan tumpahan. Solusi yang logis adalah menemukan kebocoran dan menambalnya.

Sumber Gambar

Sebagai profesi medis, kami bersalah karena meneledorkan kebocoran itu. Jika Anda bisa memulihkan obesitas di awal, maka diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik tidak bisa membiak. Anda TIDAK dapat menyuburkan  penyakit ginjal jika Anda tidak menderita diabetes. Anda tidak bisa mengelaborasi kerusakan saraf jika Anda tidak pernah mengidap diabetes.
Terbersit  jelas dalam retrospeksi. Ihwalnya adalah saya tidak tahu cara menerbangkan kegemukan. Meskipun telah bekerja lebih dari dua puluh tahun di bidang kedokteran, saya menjaring bahwa rekognisi gizi saya sendiri belum sempurna.

Hal ini memicu pengembaraan selama satu dekade dan akhirnya menyetir saya untuk memformat program Intensif Dietary Management (IDM) dan Klinik Toronto Metabolik. Ketika berpikir serius tentang remedi obesitas, ada satu teka-teki yang sangat krusuial untuk dipahami. Apa yang menyebabkan interpolasi berat badan? Apa gara-gara prinsipilnya?

Alasan kita tidak pernah mereflesikan pertanyaan penting ini adalah kita sudah berpikir kita tahu jawabannya. Kita berpikir bahwa makan terlalu banyak kalori membuahkan obesitas.
Jika ini benar, maka solusi untuk melingsirkan berat badan itu sederhana. Makan lebih sedikit kalori. Tapi kita sudah menghandel kegembrotan dengan cara itu, tapi hasilnya nihil. Ad nauseam. Sampai pegel dan bosan sendiri.

Selama 50 tahun terakhir, satu-satunya degradasi berat badan yang pernah diberikan adalah memotong kalori dan berolahraga lebih banyak. Ini adalah strategi yang maha tidak efektif yang disebut ‘Eat Less, Move More’. Kita telah menyematkan jumlah kalori ke label makanan. Kita memiliki buku penilai kalori. Kita memiliki aplikasi penghitung kalori. Kita memiliki pembilang kalori pada mesin olahraga kita. Kita telah menggarap segala kemungkinan secara manusiawi untuk mereken kalori sehingga kita dapat memenggalnya.

Sumber Gambar

Apa strategi itu sukses? Apakah pon itu meleleh seperti manusia salju pada bulan Juli? Tidak. Terbetik kemungkinan memang seharusnya itu berhasil. Tetapi bukti empiris, polos seperti tahi lalat di ujung hidung Anda, bahwa itu nggak beraksi sama sekali.

Dari sudut fisiologi manusia, seluruh cerita kalori runtuh seperti rumah kartu. Tubuh nggak mengukur kalori karena tidak menyandang sensor kalori. Tubuh tidak mengindahkan ‘kalori’. Tidak ada reseptor kalori pada tekstur sel. Ia tidak memiliki kualifikasi untuk mengetahui berapa banyak kalori yang Anda telan atau tidak makan.

Jika tubuh Anda tidak mengukur kalori, mengapa Anda harus? Kalori murni adalah satuan energi yang disanggam dari fisika. Bidang penyembuhan obesitas, putus asa untuk menemukan ukuran sederhana energi makanan, mengalpakan fisiologi manusia 100% dan beralih ke fisika. Jadi, kami mendapat pepatah ‘kalori adalah kalori’.

Sumber Gambar

Tetapi itu bukan tanda tanya yang saya ingat, dan tak seorang pun pernah bertanya. Sebaliknya, pertanyaannya adalah ‘Apakah semua kalori dari energi makanan sama-sama membelendung si tubuh?’ Jawabannya tidak gamblang. Seratus kalori salad kangkung tidak sama dengan seratus kalori permen, yang satu membuat badan menjadi gempal, yang lainnya enggak sama sekali. Seratus kalori kacang tidak sama dengan seratus kalori roti putih dan selai, efek menggemukkannya tidak sama dong. Tapi selama 50 tahun terakhir, kita berpura-pura mereka sama-sama membuat  tembam.

Jadi saya mulai dari prolog. Menguraikan permadani busuk model Kalori untuk menjawab persoalan yang sangat  elementer dari penyebab super penting dari kenaikan berat badan adalah alasan saya menulis The Obesity Code.

Sumber Gambar

Sejak itu, dalam program Intensive Dietary Management (www.IDMprogram.com) saya telah merawat ribuan pasien selama 5 tahun terakhir. Saya kadang-kadang bertanya-tanya tentang mengapa konsep sederhana tentang menggunakan diet gratis seperti puasa untuk mengobati penyakit diet berlayar menjadi sebuah hambatan? Ini adalah skema medis tradisional.

Beginilah cara tarif sistem medis modern jika orang bisa menelan diet untuk menyopiri kesehatan dan takdir mereka sendiri. Membalikkan diabetes tipe 2, seperti yang saya teliti dalam The Diabetes Code, benar-benar sangat simpel, dan tidak melibatkan pemanfaatan obat-obatan atau operasi yang mahal. Ah, sekarang saya mengerti mengapa diet tidak berhasil menangkap traksi atau problematika sesungguhnya.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Asal-usul Diabetes Menjadi Epidemi

Sumber Gambar

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awal pekan ini merilis statistik baru mengenai epidemi global diabetes. Diabetes mellitus telah dikenal sebagai penyakit sepanjang sejarah manusia selama ribuan tahun. Teks medis Mesir kuno Ebers Papyrus, ditulis sekitar tahun 1550 SM. Pertama kali  menjelaskan tentang kondisi ‘buang air kecil terlalu banyak’. Sekitar waktu yang sama, tulisan-tulisan Hindu kuno mencatat penyakit madhumeha, yang secara longgar diterjemahkan sebagai madu urin. Pasien secara misterius membuangnya begitu saja, tapi anehnya, semut tertarik pada air kencing mereka. Pada tahun 250 SM seorang dokter Yunani bernama Apollonius of Memphis menyebut kondisi ‘diabetes’ yang, dengan sendirinya berkonotasi buang air kecil bombastis.

Thomas Willis menambahkan istilah ‘mellitus’ yang berarti ‘dari madu’ pada tahun 1675. Bentuk diabetes lain yang jauh lebih jarang disebut diabetes insipidus, yang berarti ‘hambar’. Kelainan ini juga ditandai dengan buang air kecil yang kelewat batas, namun urinnya tidak manis.
Penyebab utama diabetes insipidus adalah cedera otak, paling sering terjadi akibat trauma atau bedah saraf.

Umumnya, istilah diabetes mengacu pada diabetes mellitus. Pada tulisan di jurnal ini, kita juga akan menggunakan istilah diabetes yang berarti diabetes mellitus. Gambaran diabetes mellitus yang lebih lengkap akan menunggu sampai abad ke-1 Masehi ketika dokter Yunani Aretaeus dari Cappacdocia menulis deskripsi klasik diabetes tipe 1 sebagai “melelehkan daging dan anggota badan ke dalam air kencing”. Ini mengkaptur esensi fitur penyakit ini dalam bentuknya yang tidak diobati.

By: Dokter Jason Fung (How Diabetes became an Epidemic – T2D 10)

Ada urin eksesif, tapi juga membuang semua jaringan secara komplet. Penderita tidak bisa menambah berat badan apapun yang mereka makan. Dia berkomentar lebih jauh dengan mengatakan bahwa “hidup (dengan diabetes) berumur pendek, menjijikkan dan menyakitkan” karena tidak ada pengobatan yang efektif. Lovely.

Metode diagnosis klasik adalah mencicipi urin pasien karena pasien diabetes rasanya manis. Pada 1776 Matthew Dobson (1745-1784), dokter Inggris mengidentifikasi gula sebagai zat penyebab rasa manis dalam urin. Cara seperti itu sangat sulit untuk diketahui. Dia juga menduga bahwa manisnya darah (oh, that is sooo gross) juga karena gula.

Dia mengamati eskalasi pada pasien diabetes yang diobati dengan semua diet daging. Ini akan menjadi pengobatan diet pertama dari jenisnya. Sebaliknya, dokter Prancis Pierre Priorry (1794-1879) menyarankan penderita diabetes untuk mengonsumsi gula dalam jumlah besar untuk menggantikan yang hilang dalam urin. Seorang kolega diabetes yang cukup malang mengikuti saran ini meninggal dunia. Tak perlu dikatakan lagi, sejarah hanya menertawakan kebaikan Dr. Priorry.

Apollinaire Bouchardat (1806-1886) kadang-kadang disebut pendiri Diabetologi modern, menetapkan pola makannya sendiri berdasarkan observasinya bahwa kelaparan periodik selama perang 1870 Franco-Prusia mengakibatkan lebih sedikit glukosa dalam urin. Bukunya De la glycosurie ou diabète sucré, mendata makanan ‘terlarang’ seperti gula dan pati. Pada 1889, Joseph von Mering dan Oskar Minkowski akhirnya mengidentifikasi pankreas sebagai si organ pelaku kejahatannya.

Eksperimen menghilangkan seluruh pankreas dari anjing ternyata mengarah ke tanda dan gejala diabetes yang identik. Pada tahun 1910, Sir Edward Sharpey-Schafer mengusulkan bahwa hormon insulinlah yang bertanggung jawab. Kata insulin berasal dari insula Latin, yang berarti pulau karena hormon ini diproduksi di pulau Langerhans di pankreas.

Pada tahun 1910, Frederick Madison Allen (1879-1964) mengembangkan “pengobatan starvasi Allen” yang secara luas dianggap sebagai terapi diet terbaik hingga ditemukannya insulin. Diet ini sangat rendah kalori (1000 kalori per hari) dan sangat membatasi karbohidrat (<10g per hari).

Buku Mason “Studi Mengenai Glikosuria dan Diabetes” merevolusi perawatan diabetes. Pasien yang dirawat di rumah sakit diobati dengan wiski dan kopi hitam setiap dua jam dari jam 7 pagi hingga 7 malam. Ini terus dilakukan sampai gula menghilang dari urin. Mengapa whiskey? Nggak begitu jelas, sih, tetapi feeling saya, sih, pada saat itu, mereka berasumsi bahwa wiski bisa menyembuhkan hampir segalanya. Setidaknya itu membuat mereka tidak menelan apa pun kecuali wiski dan kopi.

Sementara penderita diabetes tipe 2 melakukannya dengan ekselen, pasien diabetes tipe 1 sering meninggal. Karena penyakit itu berakibat fatal, tetapi ini bukan tragedi. Justru, respon dari penderita diabetes tipe 2 adalah lonjakan prestasi yang menakjubkan, tidak seperti yang terlihat sebelumnya, dan Allen segera menjadi direktur penelitian diabetes di Rockefeller Institute. Dia dan Dr. Elliott Joslin dianggap spesialis diabetes terkemuka di era mereka.

Dr. Joslin menulis pada tahun 1916, “Masa-masa kurang gizi yang bersifat temporer itu sangat membantu dalam perawatan diabetes yang mungkin akan diakui oleh semua orang setelah dua tahun melakukan puasa”. Frederick Banting, Charles Best dan orang lain (John MacLeod) membuat terobosan dengan menemukan insulin di Universitas Toronto pada tahun 1921.

Sumber Gambar

Mereka mengisolasi dan memurnikan insulin dari pankreas babi dan memberikannya kepada pasien pertama pada tahun 1922. Leonard Thompson, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun hanya 65 pound ketika ia mulai disuntik insulin. Gejala dan tanda-tandanya dengan cepat menghilang. Enam pasien lainnya diobati dengan hasil gigantis, keduanya mendapatkan impak yang kece badai.

The lifespan atau umur perkiraan rata-rata pasien yang didiagnosis melambung dari 1,3 tahun menjadi 35 tahun! Eli Lilly and Company bermitra dengan Universitas Toronto yang lantas mengelaborasi produk secara komersial. Banting and Best mempatenkan secara gratis sehingga pasien di seluruh dunia dapat mewarisi manfaat.

Pada musim gugur 1923, 25.000 pasien diobati dengan menginjeksikan insulin. Banting dan MacLeod menerima Hadiah Nobel pada tahun 1923 untuk memperingati penemuan bersejarah mereka. Belakangan, Sir Frederick Sanger akan menerima Hadiah Nobel 1958 untuk karyanya yang menguraikan struktur asam amino insulin.

Euforia pun terjadi.

Dipercaya secara luas bahwa penyebab diabetes telah ditemukan dan penyembuhan sekarang udah eksis, dong.

Tes urine untuk glukosa disempurnakan. Jenis insulin baru dikembangkan. Penemuan Insulin benar-benar melampaui treatment diet dari abad sebelumnya. Tetapi secara eksplisit bahwa ada dua kelompok penderita diabetes.

Pada tahun 1936, Sir Harol Percival Himsworth (1905-1993) membagi penderita diabetes berdasarkan ‘sensitivitas insulin’. Pada 1948, Dr. Joslin berspekulasi bahwa banyak orang menderita diabetes yang tidak terdiagnosis dan bahwa insulin tidak dapat menyelesaikan semua masalah mereka.

Sumber Gambar

Pada tahun 1959, dua jenis diabetes diakui secara resmi:

  1. Diabetes tipe 1 (pasien hidup dengan insulin)
  2. Dan tipe 2 pasien wafat jika diberikan insulin.

Dengan pemahaman lebih lanjut, nama-nama insulin-dependent and non-insulin dependent secara formal melandai pada tahun 2003. Sebelumnya, nama juvenile dan adultonset diabetes juga dipakai. Tetapi, sejak diabetes tipe 1 dapat terjadi pada orang dewasa dan diabetes tipe 2 semakin lazim pada anak-anak, klasifikasi ini juga telah disemayamkan.

Apa yang ironis adalah bahwa meskipun banyak pengetahuan yang terkumpul dalam dua abad terakhir, perdebatan tentang diabetes memburuk dibandingkan tahun 1816 (8). Pada tahun 1800-an, tipe 1, atau defisiensi insulin yang parah mendominasi gelanggang.

Meskipun tingkat fatalnya hampir seragam, kasus-kasus ini masih relatif jarang dan diabetes tidak termasuk top 10 penyebab kematian.

Kita percepat pada tahun 2016, dan diabetes tipe 1 hanya mencapai 10% dari total kasus. Kasus-kasus ini secara efisien diobati dengan insulin. Diabetes tipe 2 mendominasi dan berkembang menjadi proporsi epidemi. Hampir semua pasien ini berbadan tambun atau obesitas dan akan menderita komplikasi yang terkait dengan diabetes mereka.

Lebih buruk lagi, prevalensi diabetes tipe 2 adalah fenomena baru, yang terjadi hanya dalam 30 atau 40 tahun terakhir. Di Cina, prevalensi telah meroket dari kurang dari 1% pada tahun 1980 menjadi 11,6% pada tahun 2010. Itu lebih dari 1160% kenaikan dalam satu generasi. Baik jumlah total penderita diabetes dan persentase populasi (usia yang disesuaikan) merayap. Yang lebih rombeng adalah sepertinya tidak ada akhir yang terlihat. Masalahnya bukan hal sepele. Pada 2012, diperkirakan bahwa diabetes menelan biaya $245 miliar di Amerika Serikat karena biaya kesehatan direk dan hilangnya produktivitas (10). 14,3% orang dewasa AS dideteksi menderita diabetes tipe 2, tetapi kasusnya bahkan lebih buruk daripada kelihatannya. Sejumlah 38% populasi memiliki pradiabetes, sehingga total prediabetes + diabetes adalah 52,3%. Ini berarti bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada lebih banyak orang penyakitan dibandingkan yang enggak. Luar biasa. Bagian dari memuncaknya prevalensi dari fakta bahwa kita melihat diabetes tipe 2 dalam populasi yang lebih muda dan bahkan balita.

Klinik pediatrik, yang dulu merupakan satu-satunya domain diabetes tipe 1, sekarang dikuasai oleh epidemi pasien diabetes tipe 2—yang mayoritas mengalami obesitas. Ini adalah fenomena dunia. Di Jepang, 80% dari semua kasus baru diabetes adalah diabetes tipe 2.

Tapi pertanyaannya masih tetap MENGAPA? Mengapa kita tidak berdaya untuk mencegah terjadinya diabetes tipe 2? Mengapa kita nggak berdaya mencegah si diabetes ke kelompok usia anak? Mengapa kita tidak sanggup menyetop kebobrokan akibat diabetes tipe 2 di tubuh kita? Mengapa kita tidak mencegah serangan jantung, stroke, kebutaan, penyakit ginjal, dan amputasi yang menyertai diabetes tipe 2?

Sumber Gambar

Lebih dari 3000 tahun setelah penemuannya, MENGAPA TIDAK ADA OBATNYA? Satu-satunya probabilitas adalah bahwa kita salah mengerti dasar penyakit yang disebut diabetes tipe 2. Kita harus menafsirkan pangkal masalahnya jika ingin sembuh. Dalam istilah medis, dinamakan etiologi. Apa etiologi diabetes tipe 2? Setelah kita memahami itu, kita dapat mulai mendesain treatment rasional yang memiliki peluang sukses.

Ingin Ramping Dan Mengusir Diabetes? Baca Tentang Puasa Mengobati Diabetes

Sumber Gambar

Diabetes Tipe 2 (T2D) sering disalahartikan sebagai penyakit yang ireversibel. Namun, di sisi lain, sudah menjadi rahasia umum, tentang terbongkarnya formulasi puasa yang ternyata sanggup menyembuhkan diabetes, pengetahuan ini sudah beredar dari berabad-abad yang lalu. Sesungguhnya.

Di tulisan sebelumnya, kita telah membahas mengenai pembedahan bariatrik.

Sementara  yang paling ekstrem adalah, operasi ini telah membuktikan bahwa kelainan metabolik yang mendasari T2D (hiperinsulinemia, resistensi insulin) seringkali dapat digulingkan 100%, setelah periode pengobatan intensif dengan bariatrik singkat (1 minggu).

Banyak penelitian awal dilakukan dengan operasi Roux-en-Y yang elusif, dimana merupakan juara operasi kelas berat. Cara meramping terbaik. Paling baik komplikasinya, maksud saya.

Ini adalah bedah yang bertema ‘Go Big or Go Home’ yang bertato di bisep masif para pelaku operasi. Tetapi bentuk pembedahan bariatrik yang lebih ringan pun menunjukkan kemungkinan reversibilitas T2D yang sama. Sebuah pita lambung, pada dasarnya, adalah sabuk yang ditanamkan di sekitar perut Anda. Mereka terus mengencangkan sabuk sehingga Anda nggak sanggup mengunyah lagi. Jika Anda mencoba makan segrabruk, Anda akan memuntahkan semuanya kembali. Lovely. Ini nggak cantik, tapi pasti gol.

Sekali lagi, hasil jangka panjang agak rapuh, namun hasil jangka pendek cukup mulus. Anda bisa melihat hasil uji lambung dibandingkan pengobatan dari grafik di atas. Pasien yang dirandom ke band lambung menunjukkan penurunan gula darah puasa yang substansial dan hasilnya mendingan lah.

By: Dokter Jason Fung  (Fasting Cures Type 2 Diabetes – T2D 4)

Dengan kata lain, T2D berbalik arah in a b-i-g way. Obat-obatan yang diberikan sendiri sama sekali tidak beres. Esensinya, mereka tetap sama. Kondisi mereka nggak membaik. Jadi, ya, bahkan penderita lambung yang ceroboh dan beratnya 500 pon ini didiagnosis mengidap diabetes selama 20 tahun, tetapi, ia bisa mendepak si diabetes dalam beberapa minggu, bahkan sebelum doi melangsing.

Salah satu pertanyaan utamanya adalah mengapa? Ada banyak hipotesis—yang akan kita pertimbangkan di tulisan selanjutnya—tapi ini adalah pembatasan kalori yang mendadak, sehingga kita bisa menanggok profit ini.

Sumber Gambar

Ini sama seperti waktu yang diuji, tradisi penyembuhan puasa kuno. Puasa adalah pembatasan makanan secara sukarela untuk tujuan keagamaan, kesehatan atau keperluan lainnya (misalnya mogok makan).

Apakah sebelum melakukan operasi bariatrik, kita wajib puasa? Jawaban singkatnya adalah iya. Spesialis diabetes ‘semua menganggap T2D sebagai penyakit kronis dan progresif. Tetapi, baik bariatrik maupun puasa membuktikannya salah. Pertimbangkan contoh nyata dari praktik saya. Seorang wanita berusia pertengahan 60-an dirujuk ke klinik saya menggunakan 120 unit insulin setiap hari bersama dengan 2 gram/ hari metformin (sejenis obat yang digunakan untuk T2D). Dia menderita T2D selama 27 tahun dan secara progresif menggunakan insulin dalam dosis tinggi dan lebih tinggi untuk mengendalikan gula darahnya. Namun, keadaan semakin memburuk.

Sumber Gambar

Jadi karena itulah dia dirujuk ke kami dalam Program Manajemen Diet Intensif. Kami memulainya dengan rejimen yang mencakup puasa di bawah pengawasan medis ketat. Kami memulai dengan puasa seminggu penuh dan segera mengurangi pengobatannya. Saat dia merasa sehat, dia melanjutkan untuk minggu kedua, lalu ketiga. Pada saat itu dia menghentikan insulinnya. Sudah lebih dari satu tahun sekarang, dan dia terus menyetop semua insulin dan pengobatan dengan HgbA1C sebesar 5,9%. Secara teknis, dia tidak lagi menderita diabetes (didefinisikan oleh A1C kurang dari 6%).

Dia merasa hebat—dengan lebih banyak energi sekarang daripada yang dia miliki selama lebih dari satu dekade. Suaminya sangat terkesan sehingga dia juga memulai program kami dan baru saja memenggal semua insulinnya.

Tapi tunggu! Ahli diabetes ‘bersikeras bahwa T2D adalah penyakit kronis dan progresif. Bagaimana wanita ini, dengan riwayat 27 tahun T2D, tiba-tiba membalikkan semua penyakitnya dan menjadi non-diabetes? Bagaimana ini bisa terjadi?

Jawabannya cukup sederhana. Logikanya, pernyataan bahwa T2D bersifat kronis dan progresif adalah salah kaprah. Itu hanya sebentuk kebohongan. ‘Para ahli’ bersikap economical dengan kebenaran. Spinning a yarn. Pulling a ‘Bill Clinton’.

Sumber Gambar

Tapi fakta bahwa diabetes dapat diobati dengan puasa telah diketahui hampir 100 tahun! Salah satu ahli diabetes yang paling terkenal dalam sejarah dunia—Dr. Elliot Joslin menulis tentang hal itu di Canadian Medical Association Journal pada tahun 1916!

Sebenarnya, dia berpikir bahwa sangat jelas bahwa puasa sangat membantu sehingga penelitian bahkan tidak perlu dilakukan. Ini, dari orang yang Universitas Harvard biasa menamai Pusat Joslin terkenal di dunia untuk Diabetes.

Apa yang terjadi? Well, ingatlah bahwa masih ada kebingungan massif tentang diabetes tipe 1 dan tipe 2 saat itu. Puasa tidak akan sangat berguna untuk Tipe 1, dan tipe 2 masih belum biasa saat itu.

Setelah penemuan insulin pada awal 1920-an, semua fokus beralih ke insulin sebagai ‘penyembuhan’ untuk diabetes. Sementara itu adalah kemajuan besar untuk tipe 1, tidak cukup obat mujarab untuk tipe 2.

Tetapi, sebagian besar minat dalam puasa hilang saat dokter memusatkan perhatian pada apa yang akan menjadi mantra mereka untuk abad berikutnya—obat-obatan, obat-obatan, obat-obatan. Efek dari kelaparan masa perang pada T2D juga jelas.

Selama perang dunia kedua, angka kematian akibat diabetes turun drastis. Pasca periode antar perang, saat orang kembali menyukai kebiasaan makan mereka yang biasa, si diabetes kembali bangkit.

Ini tentu saja cukup mudah dimengerti. Karena T2D pada dasarnya adalah penyakit gula berlebih di dalam tubuh, mengurangi asupan gula dan karbohidrat harusnya menyebabkan lebih sedikit penyakit, dong. Kembali ke titik bahwa bariatrics hanyalah sebuah operasi yang mau nggak mau mewajibkan pasiennya untuk berpuasa, Anda dapat langsung membandingkan efek puasa dan bariatrik.

Dalam sebuah studi menarik, pasien yang sedang menunggu untuk menjalani prosedur bariatrik harus berpuasa terlebih dahulu. Alasannya cukup sederhana. Banyak dari pasien obesitas yang tidak sehat ini memiliki hatinya dilumuri lemak yang gede bingit. Jika Anda bisa memangkas lemak hati ini dan menyusutkan berat badan mereka, risiko komplikasi bedah akan berkurang.

Penurunan ukuran hati akan membuat kerja di rongga perut jauh lebih mudah, para pembedah juga bisa melihat lebih jelas. Karena banyak dari prosedur ini yang dilakukan secara laparascopically, kemampuan untuk melihat lebih baik adalah keuntungan yang sangat besar. Selain itu, dengan distensi abdomen yang kurang, penyembuhan luka abdomen meningkat secara signifikan.

Karena itu, diputuskan untuk mencoba masa puasa bagi pasien tersebut sebelum menjalani operasi sebenarnya. Sementara itu, Anda bisa membandingkan kontrol gula dan penurunan berat badan selama periode puasa dan juga selama periode pasca operasi.

Karena bariatrik dianggap sebagai the heavy weight champ, ini adalah pertandingan David vs Goliath yang sesungguhnya (Fasting vs Surgery). Pada grafik di bawah ini, Anda bisa melihat hasilnya. Pada grafik pertama, puasa menyebabkan penurunan berat badan 7,3 kg dibandingkan dengan hanya 4kg untuk operasi. Grafik kedua menunjukkan keseluruhan ‘glisemia’ atau jumlah total gula dalam darah sepanjang hari.

Selama puasa, gula jauh lebih sedikit dalam darah (1293 vs 1478). Pada kedua hal tersebut, Anda dapat melihat bahwa puasa sebenarnya jauh lebih baik daripada bedah! Gula darah turun lebih cepat, seperti halnya berat badan.

Sumber Gambar

David (puasa) tidak hanya mengalahkan Goliath (bariatrics), he beat him like a rented mule. Jika semua manfaat operasi bariatric bertambah karena berpuasa, mengapa tidak cukup melakukan puasa dan melewatkan operasi? Jawaban standarnya adalah orang tidak bisa melakukan puasa tanpa memaksakan bedah.

Tapi pernahkah mereka menjajalnya? Bagaimana Anda tahu bahwa Anda tidak bisa berpuasa untuk jangka waktu lama jika Anda belum pernah mengujinya? Tidakkah sebaiknya Anda mencobanya sebelum menyerah?

Tapi poin utama saya adalah lagi, bukan untuk mengkritik atau memuji operasi. Sebaliknya, maksud saya adalah ini. Puasa menyembuhkan diabetes. Alih-alih penyakit kronis dan progresif yang telah digembar-gemborkan, malah T2D ternyata bisa menjadi kondisi yang bisa diobati dan reversibel.

Kedua praktik berpuasa dan bariatric membuktikan buktinya. Ini adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Diabetes tipe 2 sepenuhnya reversibel. Ini mengubah segalanya. Sebuah harapan anyar telah terbit.