“Asian Paradox”: Orang Asia Makan Nasi Begitu banyak Tapi Tetap Ramping

Halo, apa kabar kalian? Saya Sarah Sastrodiryo pemilik blog ini. Sudah lama kita berasumsi bahwa makan nasi bikin gemuk. Apakah benar faktanya begitu? Saking takutnya pada nasi dan karbo lainnya, akhirnya kita menghapus nasi untuk selama-lamanya.

Tetapi, jika memang begitu, nggak akan pernah ada istilah Asian Paradoks dong? Oleh karena itu, kali ini saya akan menerjemahkan tulisan dari Mark Sisson tentang Paradoks itu tadi. Cekidot.

By: Mark Sisson.

Manusia suka segala sesuatu yang berbau conterintuitive atau paradoks. Dengan ditemuin beberapa manifestasi dengan jumlah segepok adalah the eargerly point atau pokok, yang membuat kita bergairah untuk meriset. Lantas, kita membongkar bukti demi bukti, spesialnya, yang menyuport bagaimana cara kita makan, hidup, dan bergerak atau konsep:

  1. Eating.
  2. Living.
  3. Moving.

Sebelumnya kita telah membahas bagaimana The French Paradox atau Paradoks Perancis telah menggegerkan para ahli.

Dean Ornish akan menarik helai demi helai rambut yang kusut dan makan bekatul karena serangan tak langsung dari all smug surrender monkeys alias dari semua monyet-monyet bloon yang hobinya makan Brie, butter/ mentega, Duck Confit atau daging bebek super lemak dan  Gauloises yang menurut Mr. Dean akan menyebabkan serangan jantung.

Ada juga yang dinamakan Paradoks Israel atau Israeli Paradox, yang mana penyakit jantung meroket, terlepas dari fakta bahwa mereka mengonsumsi asam lemak omega-6, yang mereka klaim adalah minyak sehat.

Walter Willet mungkin ditemukan menangis di atas se-mug besar minyak Safflower ketika bangun.

Ada juga The American Paradox atau Paradoks ala Amerika, yang paling banyak memakan minyak jenuh tapi paling sedikit mengalami jantung koroner—ini membuat para periset bingung.

Semua paradoks memang merupakan hal yang mengejutkan.

Banyaknya scot-free dan omega-6 dari minyak sayur yang dilepaskan oleh minyak jenuh disapukan di atas arang pada saat barbeque, yang mungkin saja sudah teroksidasi.

Ini semua seharusnya bisa dijadikan alasan untuk mengevaluasi kembali kepercayaan jadul tentang kesehatan dan diet, jika seandainya kita semua mau jujur tentang hal ini.

Lalu, bagaimana dengan The Asian Paradox atau Paradoks ala Asia? Jika memang karbohidrat membuat Anda gemuk? Kok bisa sih mereka makan karbo banyak banget? Bagaimana mungkin mereka selalu langsing padahal makan nasi putih dan mie dengan porsi melimpah?

Bagaimana mereka makan karbo Portugal—porsi tukang gali— dan tetap ramping? Jangan-jangan karbohidrat nggak bikin gemuk?

First of all, saya memang akan mengkonfirmasi bahwa Asia makan banyak nasi. Statistik cukup jelas tentang konsumsi beras di Asia, orang western berasumsi bahwa nasi mungkin side dish atau lauk tambahan aja, bukan hidangan utama, tapi faktanya di Asia nasi memang santapan wajib.

Oleh karena itu, pada kali ini, saya akan menjelaskan mengapa Asian Paradox (seperti semua paradoks), aktualnya adalah bukan paradoks, dan mengapa saya menimbang ini cukup penting dan akan berdampingan dengan damai dengan primal paradoks yang lain.

Ini bagus. Karena Paradoks Asia justru ngasih kita kesempatan untuk mengevaluasi keyakinan kita selama ini.

Mereka bergerak lebih sering dengan ritme lambat

Di mana pun saya berada di kota besar dengan populasi imigran yang besar, saya notice ada pendekatan yang berbeda ketika mereka berjalan.

Baru-baru ini, saya dan Carrie mendatangi Golden Gate Park di San Fransisko, misalnya. Kami berdua menyadari perbedaannya, saat itu kami menghabiskan hari itu dengan berjalan-jalan dan tersesat.

Sumber Gambar

Memang ada banyak orang berjalan, jogging, dan aktif, tapi hanya orang Asia golongan tua yang tampak berolahraga dengan intensitas tinggi.

Exercising on purpose

Berolahraga dengan tujuan

Tujuannya:

  1. Membakar kalori.
  2. Meningkatkan VO2 max.

Nenek cina tua yang lewat menggunakan keds dan sweater rajutan, dan ibu muda mendorong stroller, celana legging ketat, topi baseball, dan sepatu lari trendy termutakhir.

Dengan earphone Bluetooth yang menancap di kuping, berbincang tentang bisnis, politik, masa lalu, dengan Bahasa lain, dua orang pelari yang kelihatan identik (sama-sama memakai sepatu Vibrams) dan mengenakan setelan rapih dan sepatu loafer.

Seorang pria asia yang sudah sepuh menggunakan kemeja berkerah, celana panjang katun atau slacks cruised pants dengan kecepatan sepuluh aja, sungguh sangat simple, dan sekelompok pengendara sepeda yang bisa lulus untuk kategori pro dilengkapi dengan gear, iklan-iklan dan sepatu spesial untuk bersepeda.

Untuk orang-orang Asia yang sudah tua atau the older Asian folks, mereka mayoritas berjalan mengandalkan kaki sendiri atau bersepeda, ini adalah cara untuk berpindah tempat dari sini ke sana.

Itu bukan karena ada acara khusus. Itu adalah kejadian sehari-hari. Itu normal. Bagi semua orang, ini adalah olahraga. Itu bukan acara besar di mana Anda harus prepare dan menghabiskan uang untuk ngerjain gituan.

Berjalan kaki dengan tujuan agar menjadi lebih sehat itu bagus, dan olahraga juga hebat, saya melakukan nyaris setiap saat. Asia yang sudah migrasi ke Amerika, dan orang Asia yang masih berada di negara asalnya memiliki perbedaan kultur yang cukup besar, itu berdasarkan pengamatan saya.

Orang-orang yang belum bermigrasi lebih aktif bergerak. Bukan berarti di negara asal mereka pergi ke gym centre, melakukan weight lifting dan lari sprint, hanya saja aktivitas harian rata-rata mereka memang lebih tinggi. Tindakan sederhana yang dilakukan secara rutin pasti bermanfaat untuk kesehatan, seperti yang sudah kita ketahui bersama.

Daily walking atau berjalan setiap hari dengan konsiten berasosiasi dengan beberapa benefit kesehatan yaitu:

  1. Meningkatkan sensitivitas insulin (sehingga lebih baik menoleransi karbohidrat seperti beras putih).
  2. Mood yang lebih baik.
  3. Menurunkan tekanan darah dan trigliserida.
  4. Dan umur panjang/ longevity.

Sudah seratus tahun Amerika telah menjadi negara mobil. Sudah lebih dari 50 tahun kita tidak harus berjalan kaki. Heck, seringnya kita nggak bisa berjalan kaki meski kita ingin, karena kita tinggal di suburban sprawl yang membutuhkan mobil untuk membeli grocery atau mengantarkan anak-anak ke sekolah. Sehingga, orang Amerika berjalan lebih sedikit dibandingkan dengan negara lain.

Sumber Gambar

Pada saat orang Asia mulai membeli lebih banyak mobil, kemana-mana naik kendaraan, tidak melakukan pekerjaan padat karya, saya curiga akan terjadi yang namanya:

  1. Intolerasi karbohidrat.
  2. Kanaikan lemak tubuh.
  3. Kesehatan umum memburuk secara umum.

It’s already happening, as you’ll see. Kamu lihat kan, ini sudah mulai kejadian, lho. Penentu terbesar untuk toleransi terhadap karbohidrat adalah level aktivitas harian.

Tetapi, meski di Amerika, untuk kota-kota yang nyaman untuk berjalan kaki dibandingkan menyetir seperti New York, masyarakat biasanya lebih sehat, lebih ramping dan berumur lebih panjang.

Sulit dipungkiri, sekarang segalanya telah berubah. Pada tahun 1989 65% of Chinese performed heavy labor, masyarakat Cina nggak lagi melakukan pekerjaan buruh di rutinitas sehari-hari.

Tahun 2000, proporsi mereka telah anjlok menjadi 50%—masih tetap unggul dibandingkan negara-negara western, tapi tren yang menurun jelas sangat terlihat. Proporsi obesitas meningkat pada tahun 2000.

Diet Makanan Bergizi yang Tidak Diproses

Gizi sangat tinggi di makanan tradisional Asia sudah jadi pengetahuan umum, nyaris semua orang tau mengenai hal itu.

Datangi restoran mie ala Vietnam, signature dari mereka adalah PHO, yang berisi:

  1. Kaldu tulang sumsum sapi buatan sendiri.
  2. Babat.
  3. Tendon.
  4. Brisket.
  5. Mie beras.

Pergilah ke restoran Thai kualitas tinggi bukan yang abal-abal, beli sup kaldu tulang dengan isi:

  1. Beberapa kubus darah babi.
  2. Sayuran hijau.
  3. Mie beras.
  4. Telur bebek.
Sumber Gambar

Pergilah ke restoran Cina dan pesan tumisan (sayangnya, minyak kedelai telah diganti dengan minyak jagung), ginjal babi, brokoli cina, nasi di sebelahnya.

Sekarang, datangi restoran Jepang, dan beli telur-salmon-tangkapan-liar yang digulung dengan rumput laut dan nasi, makarel sashimi, beberapa sup miso dengan potongan rumput laut.

Datanglah ke restoran barbekyu tipikal Korea yang berciri khas:

  1. Berlusin-lusin kimchi.
  2. Iga bakar pendek.
  3. Hati sapi.
  4. Hati sapi yang dibungkus selada.
  5. Nasi di sampingnya.

Nyaris di semua kultur, nasi memang selalu ada, tetapi faedah dari kaldu tulang (kontennya adalah kolagen), daging segar, kol fermentasi, jeroan, dan sayuran.

Beras tidak dibatalkan, emang sih nggak ada nutrisinya. Dan selalu eksis hampir pada semua sajian.

Of course, itu adalah makanan restoran. Tapi, jika Anda sangat penasaran, bagaimana rekan-rekan asia memasak, pergi ke supermarket dan perhatikan apa yang dibeli. Bahan pangan mereka nggak mewah atau plavorful, namun, sama bergizinya.

Berdirilah di meja kasir dan Anda akan melihat dua puluh jenis ikan: tiram hidup, kerang, kepiting, siput, bulu babi; seluruh pencernaan babi, seember kaki ayam, se-tas penuh daun herbal, sayuran eksotis seperti pare, makanan yang difermentasi, acar, selusin jenis sayuran akar, dan pastinya, nasi, dong.

Saya mengagumi kaki sapi tampan yang mengeluarkan kolagen dan sumsum yang sehat, dan membayangkan semua hidangan indah yang bisa dihasilkannya (sementara, mental  saya membandingkan isi stroller di pasar Asia dan standar grocery di standar Amerika, tebak siapa yang menang.)

Sudah banyak terjadi perubahan di kultur Asia:

  1. Asupan gula yang meningkat.
  2. Lemak babi dan gajih sapi digantikan oleh minyak jagung dan minyak kedelai.

Sekarang, jika Anda ingin mengisolasi nasi dari list nutrisi berat dan mengatakan, “terus ini tentang apa sih sebenernya?”

Nasi adalah makanan dengan konteks absolut mempunyai kadar gula yang rendah, NO HFCS—atau tanpa fruktosa, kandungannya hanya 55/45—kita seringkali berasumsi bahwa glukosa adalah penjahat nomor wahid, faktanya, fruktosa jauh lebih berbahaya karena ditimbun di organ hati. Fruktosa atau glukosa yang dipecah untuk HFCS adalah kekeliruan besar.

Padahal dulu di Asia:

  1. Konsumsi minyak nabati rendah.
  2. Memakan jeroan juga masih bisa diterima.

Jadi gini lho, katakanlah, memang ada fruktosa di dalam blueberry, tapi bukan berarti Anda mengutuk keseluruhan buah itu, dan mengatakan bahwa tidak melihat adanya vitamin di sana. Kita tetap harus fair, dengan menimbang seluruh komponen makanan.

Sumber Gambar

Similarly, Anda nggak akan mereduksi makanan tersebut hanya karena ‘cacat’ yang nihil, dalam hal menilai sesuatu jangan memakai pepatah, “nila setitik rusak susu sebelanga.”

Anda harus melihat seluruh gambar, faktanya, diet Asia mayoritas memang bergizi.

More Rice, Less Wheat

Lebih banyak nasi, sedikit gandum

Berkat monsoon yang regular atau musim hujan yang biasa, 90% budidaya beras yang diproduksi di dunia berlokasi di Asia. Karena kawasan ini terpapar beras lebih dari 10.000 tahun jadi mereka cenderung makan lebih banyak. Mereka sungguh beruntung, mereka bisa makan nasi, terutama nasi putih (yang sebagian besar merupakan makanan wajib di Asia).

Salah seorang teman saya dari Thailand yang tumbuh besar di USA, datang ke Hollywood pada tahun 60-an pernah berkata, “dedak itu untuk para ayam.”

Oleh karena itu, nasi adalah sumber glukosa non-toksik atau tidak beracun. Jika spektrum biji-bijian, yang mana gandum dan biji-bijian gluten lainnya selalu merupakan produk akhir, nasi dengan rileks sangat berlawanan.

Tetapi, ini nggak baik atau buruk. It just is. It’s pretty much neutral. Cukup netral. Terlepas apakah kamu bisa handle glukosa dalam jumlah banyak, namun, saya bisa pastikan bahwa bebas dari iritasi usus, asam fitat, dan lektin yang merusak.

Di sisi lain, jika makan gandum, dan kebetulan kamu punya alergi gluten, bibit dari agglutin, dan jumlah antinutrien yang mana digunakan untuk bersaing.

Ned Kock, seorang master (yang sayangnya kurang mendapat penghargaan), telah menulis serangkaian posting statistik tentang data studi China, menunjukkan, asupan beras diasosiasikan dengan reduksi penyakit kardiovaskular, sementara, intake tepung terigu berkaitan dengan penyakit kardiovaskular.

Level konsumsi nasi berkorelasi dengan naiknya CHD, yang mana, bukan faktor utama. Semua sederajat, orang-orang yang lebih sehat meski makan nasi seember besar dibandingkan dengan makanan cepat saji gandum sebaskom.

Apakah warga Asia tetap sesehat dulu?

Sayangnya, warga Asia tidak sesehat dan tidak lagi panjang umur. China dan India menghadapi epidemi diabetes. Di Taiwan, Korea, Vietnam, dan Thailand, angka diabetes juga melambung.

Cuaca yang sempurna—hidup nyaman tenteram loh jinawi, makanan junk food yang penuh dengan karbohidrat dan lemak berbahaya, dan kualitas tidur yang jelek—yang telah menghancurkan Amerika dan negara-negara industrial hampir seabad mendorong setumpuk penyakit yang menghinggapi nyaris seluruh Asia.

Lemak hewan tradisional telah digantikan oleh minyak goreng, dan asupan gula melonjak. Orang-orang lebih banyak makan gandum dan jarang jalan kaki lagi.

Negara-negara Asia mempunyai BMI rendah yang misleading/ menyesatkan. Pada BMI yang sama, Asia lebih berlemak dibanding ras lain. Jadi, secara rata-rata, orang Amerika atau Kepulauan Pasifik dengan BMI 25 memiliki lemak tubuh lebih sedikit daripada orang Cina dengan BMI 25.

Nggak jelas apakah tingginya lemak tubuh (tapi BMI-nya rendah) berkorespondensi dengan naiknya beberapa penyakit, tetapi, ini menunjukkan bahwa BMI sangat tidak bisa dipercaya sebagai barometer apakah diet di negara tertentu itu apik atau tidak. Anda bisa tergolong kategori skinny-fat dengan BMI rendah—dan ini biasa terlihat pada orang-orang Asia.

Jadi, seperti yang udah-udah, fenomena the Asian Paradox jatuh sudah; sesungguhnya nggak ada paradox, Sob. Asia tetap langsing pada pola makan nasi segabruk karena mereka banyak melakukan aktivitas aerobik yang mana bisa meningkatkan sensitivitas insulin, plus, lauk pauk pendamping nasi sangat tinggi nutrisi, karena nasi rasanya netral.

Any questions? Fire away!

Ide Tentang Diet Nasi Kempner

Sumber Gambar

Baru-baru ini, Denise Minger menulis sebuah tulisan yang memprovokasi pemikiran “In Defence of Low Fat”. Denise adalah penulis sebuah buku berjudul “Death by Food Pyramid” dan menjadi terkenal dalam sebuah kajian menyeluruh tentang China Study, yang oleh banyak orang, termasuk saya sendiri jauh, jauh lebih unggul dari analisis asli oleh penulis T Colin Campbell. Saya mengagumi keterbukaan pikirannya dan dia jelas-jelas telah banyak memikirkannya dan juga merefleksikannya dalam posting terakhirnya. Humornya juga membuat tulisannya cukup istimewa, dan saya mendorong kamu untuk membacanya, meskipun ini adalah posting blog terpanjang yang pernah ditulis.

Saya sangat setuju dengan pokok bahasannya bahwa kita tidak bisa begitu saja mengabaikan bukti yang bertentangan dengan kita, namun perlu dilihat lebih dekat. Namun, saya tidak setuju dengan semua kesimpulannya di posting terakhirnya, dan banyak komentar yang dibuat belum benar-benar membahas defisit kunci argumennya.

Denise menggambarkan Diet Nasi yang digunakan oleh Kempner yang terdiri dari nasi, gula dan buah-buahan dan jus. Ini sangat rendah lemak (<10%) dibandingkan dengan 20-30% diet khas ‘rendah lemak’. Hipotesis Denise adalah bahwa pada keadaan rendah lemak, ada sesuatu ‘keajaiban’ yang terjadi. Kempner adalah seorang dokter di Duke University pada tahun 1930an yang merawat lebih dari 18.000 pasien dengan diet karbohidrat olahan ini. Dan Denise menyatakan bahwa itu bekerja ‘ridiculously well’.

Ada 3 kelompok utama pasien yang diobati, sejauh yang saya bisa lihat—-penyakit ginjal, hipertensi ganas dan obesitas/ T2D. Jadi, ini diambil sebagai bukti bahwa diet lemak rendah ini bekerja karena si lemak super minor.

Itu tidak akurat. Kita dapat mengatakan bahwa Diet nasi bekerja, tapi kita tidak dapat menyimpulkan bahwa itu berhasil karena si lemak minimalis. Itu seperti mengatakan bahwa kedua antibiotik Amoxil dan Azitromisin bekerja untuk pneumonia karena keduanya dimulai dengan huruf ‘A’. Tidak, kita hanya bisa mengatakan bahwa itu berhasil, tapi mengapa?

Sumber Gambar

Selanjutnya, kita perlu mempertimbangkan setiap penyakit secara terpisah. Mengapa rendah lemak bekerja untuk penyakit ginjal? Mengapa mekanisme yang sama bisa menyembuhkan penyakit ginjal dan tekanan darah tinggi dan obesitas pada saat bersamaan. Mungkinkah ada mekanisme yang terpisah? Mari kita lihat.

Penyakit ginjal

Sekarang, saya seorang nefrolog (spesialis ginjal), jadi saya tidak akan menerima beberapa argumen melambai tangan bahwa diet rendah lemak memperbaiki penyakit ginjal. Ada ratusan macam penyakit ginjal. Penyakit ginjal apakah yang dirawat oleh Kempner? Itu bukan diabetes atau hipertensi, tapi penyakit ginjal primer atau glomerulonefritis. Secara statistik, kita dapat mengasumsikan bahwa sebagian besar dari ini adalah nefritis IgA – jenis peradangan yang paling umum di ginjal. Mengapa diet rendah lemak bekerja di sini? Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa itu akan terjadi. Namun, persentase nefritis IgA disebabkan oleh lektin makanan (protein pengikat karbohidrat) dan reaksi terhadap antigen makanan lainnya. Primer di antaranya adalah gliaden dan bovine serum albumin.

By: Dokter Jason Fung (Thoughts on the Kempner Rice Diet)

Gliadin sebagai masalah dalam penyakit gluten dan celiac. Ada hubungan yang jelas antara nefritis IgA dan penyakit seliaka. Dengan kata lain, penyakit celiac dan nefritis IgA sering terjadi berdampingan dan disebabkan oleh reaksi terhadap makanan lectin, gliadin.

Masalah diet utama lainnya pada nefritis IgA adalah postulat menjadi albumin serum sapi, yang mungkin sudah kamu duga ditemukan pada produk susu dan susu sapi. Sebenarnya, telah ada penelitian dan pembahasan yang menggunakan apa yang disebut ‘diet eliminasi’ di mana semua makanan dihilangkan dengan pengenalan ulang makanan secara bertahap yang antigen rendah (kebanyakan menghindari gandum dan produk susu). Dalam penelitian ini 11 dari 12 pasien membaik. Bukan karena lemaknya rendah (karena memang tidak), tapi karena mereka mengeluarkan lesin makanan dan antigen lainnya.

Sumber Gambar

Diet Kempner, dengan nasi dan buah dan gula juga memiliki diet antigen rendah. Jadi ini mungkin berhasil untuk nefritis IgA, tapi bukan karena lemaknya rendah, tapi karena menghilangkan gandum (gliadin) dan susu (albumin serum sapi). Jadi, ya, diet nasi Kempner mungkin telah bekerja dengan baik dalam penyakit ginjal—seperti yang ditunjukkan pada penelitian diet eliminasi lainnya mengenai penyakit ini juga. Tapi mekanismenya bukan yang low fat.

Hipertensi ganas

Area utama kedua yang menggambarkan sukses Kempner adalah dalam pengobatan hipertensi ganas .Ini adalah tekanan darah tinggi pada steroid dosis Mark McGwire. Ingatlah bahwa ini adalah zaman 50an dimana tidak ada pengobatan untuk tekanan darah tinggi selain berbaring di ruangan yang gelap dan memikirkan pikiran santai. Sebagian besar obat yang kita gunakan saat ini untuk menurunkan tekanan darah sama sekali tidak ada pada saat itu. Jadi tekanan darah tinggi adalah masalah yang sangat besar, karena pada dasarnya tidak ada pengobatan. Tapi Diet nasi itu berhasil.

Tapi kenapa? Salah satu hal yang kita ketahui setidaknya setengah abad adalah bahwa pembatasan natrium dapat menurunkan tekanan darah. Yang pasti, menurut saya tidak ada manfaatnya untuk diet sodium rendah pada orang yang tidak memiliki tekanan darah tinggi. Tapi bukan itu situasinya. Di sini kita memiliki tekanan darah super super tinggi tanpa obat untuk mengobatinya. Di tanah orang buta, orang bermata satu itu adalah raja. Diet nasi hampir nol sodium! Jika kamu terus melakukannya, ada kemungkinan besar tekanan darah kamu akan turun—bahkan mungkin cukup untuk menyelamatkan hidupmu.

 Rasanya tidak masuk akal bagi saya untuk mengatakan bahwa Diet nasi bekerja karena rendah lemak. Hal ini jauh lebih mungkin karena bekerja karena merupakan diet pembatasan garam yang ekstrem. Kamu juga bisa makan hanya minyak zaitun dan melakukannya dengan baik. Sama berlaku untuk klaim bahwa gagal jantung diobati. Ya, karena diet natrium nol.

Kegemukan

Inilah yang besar. Diet nasi adalah CARBOCALYPSE, seperti yang Denise gambarkan dengan semua karbohidrat olahan, namun orang kehilangan berat badan dan membalikkan diabetes tipe 2. Ini tunas panah langsung ke mata Low Carb Crazies, kan? Nggak kayak gitulah.

Jadi inilah dietnya:
Seorang pasien rata-rata 250 sampai 350 gm nasi (berat kering) setiap hari; Setiap jenis beras dapat digunakan tanpa natrium, klorida, susu, dan lain-lain telah ditambahkan selama proses pembuatannya. Semua jus buah dan buah-buahan diperbolehkan, kecuali kacang, kurma, alpukat dan buah kering atau buah kalengan atau turunan buah yang mengandung zat selain gula putih. Tidak lebih dari satu pisang sehari.

Gula putih dan dekstrosa bisa digunakan ad libitum; Rata-rata pasien membutuhkan sekitar 100 gram setiap hari, tapi jika perlu, sebanyak 500 gram sehari harus digunakan. Jus tomat dan sayuran tidak diijinkan. Wow. Anda bisa makan 2400 kalori gula halus dan menurunkan berat badan!

Dr. Atkins – take that!

Perbandingan grafis dari diet kalori yang sama terlihat seperti di atas. Tapi apakah ini perbandingan yang adil? Apakah kedua belah pihak makan 2400 kalori per hari? Nah, berapa asupan nasi rata-rata? 250 gm. Itu sedikit lebih dari 1 gelas, atau 850 kalori atau lebih. Rata-rata, mereka juga mengkonsumsi 100 gram gula.

Itu akan menjadi 387 kalori. Kami tidak tahu tentang buah, tapi ini adalah tahun 1950-an sebelum persik putih, sebelum nanas emas, dan jauh sebelum stroberi California jumbo tersedia sepanjang tahun. Jadi kita akan menebak bahwa rata-rata orang dalam Diet nasi akan mengkonsumsi total sekitar 1400 kalori per hari, hampir semua karbohidrat.

Bagaimana ini dibandingkan dengan diet standar?
Nah, rata-rata orang akan mengkonsumsi 2.400 kalori, misalnya, dan kita akan memperkirakan 60% karbohidrat. Itu membuat sekitar 1400 kalori karbohidrat. Diet nasi ini sama sekali tidak bersifat Carbocalypse!

Itu hanya jumlah karbohidrat yang sama tetapi tanpa protein atau lemak. Protein juga merangsang insulin, dan juga berkontribusi pada penambahan berat badan. Jadi yang kita bandingkan adalah 1400 kalori karbohidrat saja, atau 1400 kalori karbohidrat dengan 1000 kalori lemak/ protein lainnya. Tidak mengherankan di sini, 1400 kalori karbohidrat saja menang. Sebenarnya, tentu saja, Diet nasi hanya satu contoh lagi dari makanan monoton yang tidak realistis yang kadang-kadang mendapatkan pendukung yang tidak menyenangkan. Diet potatoe, optifast, slimfast, diet grapefruit dll. Jika kamu hanya makan satu hal, dengan cepat menjadi monoton dan semua kesenangan hilang dalam makan. Jadi kamu hanya akan makan jika benar-benar perlu untuk menghindari kelaparan karena, yah, makan kayak gitu, itu nggak asik.

Kempner kadang-kadang akan mencambuk pasiennya untuk membantu kepatuhan. Masalahnya adalah begitu kamu mulai makan normal, semua berat badan kembali. Saya bisa membuat diet yang disebut Fung PigBlood Diet. Makanlah sebanyak yang kamu suka! Makan siang atau malam. Makan kapan saja, dimana saja! Pertama tiga cambuk tanpa biaya tambahan! Selama kamu hanya makan Darah Babi, saya jamin kamu akan menurunkan berat badan.
Tentu—kamu akan baik-baik saja, karena kamu tidak akan makan sebagian besar waktu. Why? Cause it’s super-gross. Oh, tunggu, apakah itu berarti kamu akan banyak berpuasa? Tentu akan.

Saya akan mulai memesan tiket untuk upacara Nobel tahun depan. Obesitas—disembuhkan oleh darah babi! Ini juga, tentu saja, mengapa pendukung medis rendah lemak seperti Drs. Fuhrman, MacDougall dan Barnard semua tidak mengizinkan gula dan nasi tak terbatas. Karena tidak bekerja dalam campuran diet! Orang-orang ini tidak bodoh, you know.

Sebagian besar pendukung rendah lemak ini juga menghindari biji-bijian dan gula olahan, seperti kelompok Low Carb dan Paleo. Tidak bisakah kita semua akur? Sama berlaku untuk semua data tentang menurunkan penggunaan insulin pada Diet nasi. Ya, karena kebutuhan insulin tergantung pada karbohidrat dan protein. Itu sangat sesuai dengan pemahaman kita tentang bagaimana segala sesuatu bekerja. Makan karbohidrat olahan yang sama tapi kurang protein—Butuh lebih sedikit insulin. Kurang berat badan kurang insulin.

Roy Swank dan Multiple Sclerosis

Setelah selesai dengan Rice Diet, Denise membawakan makanan rendah lemak Sweat dan MS. Ini aneh karena 3 alasan utama. Pria tersebut mengumpulkan 150 pasien, memasukkannya ke dalam makanan rendah lemak dan menggambarkan berapa banyak pasien ini yang melakukannya dengan baik. Itu bagus untuk mereka. Tapi itu bukan sains yang hebat. Pertama, tidak ada kelompok pembanding. Berapa banyak pasien yang akan melakukannya dengan baik tanpa diet rendah lemak? Hal ini juga terlihat pada efek plasebo, efek no-cebo dan mengapa, sampai saat ini orang masih makan mumi sebagai obat. Hal yang sama berlaku untuk leaching, pengikisan darah, eksorsisme, dan praktik takhayul lainnya (pena harimau, cakar beruang).

Kamu perlu membandingkan satu kelompok dengan yang lain. Sama seperti kisah Terry Wahls yang hebat, itu juga bukan sains dan tidak bisa digunakan untuk membuktikan apapun. Studi terkontrol plasebo, misalnya, menunjukkan plasebo memiliki pengaruh yang hampir sama terhadap gejala subyektif asma sebagai obat nyata.

Operasi sulih memiliki efek yang sama dengan operasi nyata pada meniscectomy untuk nyeri lutut. Sebenarnya, Benjamin Franklin, pemuja puasa yang terkenal itu, merancang percobaan medis terkontrol plasebo yang pertama untuk menghilangkan mitos tentang mesmerisme atau ‘magnetisme hewan’ yang pendukungnya juga mengklaim kekuatan penyembuhan mistis. Jadi, mengumpulkan sekelompok pasien MS yang melakukannya dengan baik adalah hebat, tapi ini bukan ilmu pengetahuan yang hebat dan tentu saja tidak membuktikan apa-apa tentang makanan rendah lemak.

Poin utama kedua adalah bahwa sains berarti bahwa ini adalah hasil yang dapat direproduksi. Apakah ada orang lain yang bisa meniru temuan ini? Jika tidak, maka kita umumnya tidak mau menerimanya. Jika hanya satu dokter atau peneliti yang mampu menunjukkan hasilnya, maka hasilnya umumnya tidak diterima. Alasan mengapa?

Mari kita tinjau kembali kisah tercela dari seorang Mr. Andy Wakefield, mantan ahli bedah dan peneliti medis dari Bath, Inggris. Dia menulis sebuah makalah tahun 1998 yang diterbitkan di Lancet yang menuduh ada hubungan antara vaksin MMR dan autisme. Brian Deere, seorang jurnalis menggali cerita ini lebih jauh dan menemukan cerita induktif yang jauh lebih dalam dan lebih empuk. Wakefield dasarnya membuat seluruh kertas, karena ia memiliki kepentingan pribadi (uang) dalam membuktikan hal ini.

Hal ini menyebabkan selebriti seperti Jenny McCarthy mengambil penyebab tanpa vaksin dan secara langsung menyebabkan beberapa kematian anak-anak karena wabah campak. Ya, anak-anak meninggal karena Wakefield berbohong.

Bagaimana ini bisa ditemukan? Nah, ini sebagian karena tidak ada kelompok lain yang bisa meniru temuan kertas asli. Ini sangat mencurigakan, dan menyebabkan penyelidikan lebih lanjut tentang kertas asli yang sejak saat itu telah ditarik kembali dan juga penulisnya. Ketiga, kita kebanyakan membicarakan diet dalam hal mempengaruhi obesitas dan/ atau T2D. Entah bekerja atau tidak untuk MS sebagian besar tidak relevan dengan diskusi ini.Misalkan saya menemukan bahwa diet lemak 100% efektif dalam kelainan langka yang mempengaruhi 1 orang dalam 200 tahun terakhir di seluruh dunia. Itu bagus, tapi relevansinya dengan obesitas diabetes tipe 2? Tidak banyak. Jadi mungkin diet rendah lemak bagus untuk MS dan mungkin juga tidak. Terus?

Aku akan berakhir di sini dengan satu pemikiran lagi. Saya selalu mencari studi yang membantah pandangan saya tentang obesitas/ T2D. Itulah satu-satunya cara kita belajar. Itulah salah satu alasan saya membaca postingan blog Denise Minger dengan minat seperti itu. Saya tidak setuju dengan kesimpulannya, tapi tidak apa-apa. Intinya adalah berdiskusi dan mencoba menemukan hal yang penting dalam nutrisi. Untuk itu, Denise, saya akan mengucapkan terima kasih.

 PS; Saya akan membahas Diet Pritikin di pos lain, sebelum posting ini mengancam untuk menjadi yang terpanjang di dunia.

Update 26 Oktober 2015

Beberapa pembaca telah memperebutkan jumlah kalori yang saya gunakan menggunakan asumsi yang berbeda untuk jumlah nasi yang diambil dan jus buah. Saya setuju bahwa tentu saja mungkin untuk mendapatkan 2400 kalori Diet nasi. Namun, pertanyaannya begini. Berapa banyak kalori karbohidrat yang benar-benar dimakan untuk menurunkan berat badan?

Tampaknya beberapa hal ini bergantung pada mengapa Diet nasi digunakan. Untuk penyakit ginjal dan hipertensi, jumlah kalori rata-rata sekitar 2200 kalori / hari. Namun, ini bukan pasien yang membutuhkan penurunan berat badan. Dalam usaha untuk mengetahui berapa kalori yang dikonsumsi orang, seorang pembaca menunjukkan sebuah wawancara dengan Dr. Don Rosati (Direktur Program Diet Beras) yang dijemput setelah Walter Kempner. Untuk menurunkan berat badan, nampaknya beras dan gula tak terbatas TIDAK merupakan programnya, namun diet ketat dibatasi 800-1000 kalori. Seorang pasien, Jean Anspaugh menulis sebuah buku “Lemak seperti kita” di mana dia menggambarkan Diet Beras sebagai “menghabiskan (menghabiskan) semua uang yang mengonsumsi nasi dan buah dan kelaparan sampai mati”. Perhatikan dia tidak mengatakan “Saya makan nasi dan buah saya. Jadi, mungkin berat badan Diet nasi tidak persis sama dengan penyakit ginjal Diet nasi atau Pola Makan Hipertensi Ganas.

Ketiga, sebuah tulisan yang ditulis dalam JAMA 1974 oleh Dr. Eugene Stead, yang menjadi dokter kepala di Duke University juga menyebutkan Diet nasi sebagai pengobatan edema dan hipertensi yang hebat. Perhatikan tidak ada yang menyebutkan obesitas di sini. Namun, dia mencatat bahwa “Diet nasi rendah kalori, protein dan sodium klorida” (penekanan saya). Poin menarik lainnya adalah bahwa banyak orang yang bertahan dalam diet ini (dan melakukan dengan baik) makan kurang dari 20g/ hari protein—jauh di bawah jumlah harian yang direkomendasikan yang diperlukan dan jauh, jauh di bawah asupan saat ini. Saya perhatikan ini karena saya mendapat banyak kesedihan tentang orang yang khawatir dengan kekurangan protein saat berpuasa yang jauh overrated. Saya menyadari bahwa saya belum meninjau semua penelitian, karena, yah, banyak makalah ini berusia lebih dari 60 tahun dan saya tidak dapat mendapatkannya. Namun, tampaknya ada sejumlah besar tulisan yang menunjukkan bahwa penurunan berat badan diet nasi sebenarnya bukan diet 2400 kalori. Jadi, sekali lagi, untuk membandingkan diet nasi (800-1000 kalori karbohidrat olahan) untuk diet reguler (total kalori 2400 dengan sekitar 1400 kalori karbohidrat olahan), kamu dapat melihat bahwa sebenarnya tidak ada misteri mengapa Diet Nasi bekerja dan mengapa hal itu mati.