Apa yang Harus Kita Lakukan Saat Kita Nggak Tahu Harus Berbuat Apa (Eckhart Tolle & Oprah)

Sumber Gambar

Ini contoh skenarionya: perusahaan tempat Anda bekerja nyaris pailit. Semua anggaran dipangkas. Ada kemungkinan Anda didepak. Tapi bisa jadi enggak juga sih. Masih tentatif. Dampaknya, Anda galau dan bingung, apakah Anda harus ngambil kerjaan yang bayarannya kecil di perusahaan lain atau, ya udahlah bertahan aja di perusahaan ini, siapa tau Anda nggak di-cut.

By: Eckhart Tolle (What to do when you don’t know what to do)

Kasus lain: Anda baru aja punya bayi, Anda harus pindah dong, tapi Anda nggak bisa mutusin antara mencari lingkungan yang dekat dengan sekolah yang notabene ‘cakep’ atau berburu rumah yang sesuai anggaran aja.

Sumber Gambar

Problematika lainnya: Pasca 7 tahun hidup bersama, pernikahan bersulih menjadi serangkaian argumen pahit yang nggak berhenti-henti, tetapi Anda ndak yakin  apakah Anda harus berdamai aja dengan keadaan atau mengakhiri hubungan.

Kita semuanya punya pengalaman kayak gini—saat-saat which is kita tidak tau mesti ngapain dan nggak tau harus mutusin apa.

  1. Step pertama biasanya memunguti informasi. Anda kudu mengestimasi fakta dan situasi: Untuk apa dan perkara apa yang bertentangan.
  2. Tetapi meskipun begitu, Anda mungkin belum bisa menyimpulkan.

Misalnya, jika Anda menyaring antara dua pilihan, rumah dengan tiga kamar tidur, dengan harga yang sama, dan berada di lingkungan yang sama, Anda mungkin pening harus mutusin yang mana.

Pro dan kontra adalah satu fase lanjutan dalam memungut keputusan tetapi bukan yang super vital. Ketika kita tidak sanggup making up the mind atau netapin sesuatu, itu karena pikiran kita berisik banget, atau apa yang saya sebut disebabkan oleh “suara di kepala Anda.”

Mayoritas orang bahkan nggak tau mereka punya suara ini. Sialnya, si suara berisik itu udah ngambil porsi yang bombastis, menelurkan monolog batin yang nggak pernah ngerem ocehannya, ngegas terus, Sob.

Sumber Gambar

Kadangkala suara itu terbelit dalam dialog, karena terbagi menjadi dua, dan mulai mengobrol dengan diri sendiri. Perbincangan yang gencar dan seru banget itu seperti bunyi-dengungan-terus-menerus dari kulkas atau AC di kamar, dan setelah beberapa saat, Anda ndak denger lagi.

Selama pilihan dilematis dan ruwet, suara ini nggak punya kontribusi sama sekali. Malah nambah mumet. Seringkali si pikiran ini mengkritik, dan terus aja berkomentar tentang Anda dan segepok kesalahan yang pernah Anda lakukan. Dia juga mengecam dan mengkritik orang lain.

Ini kayak hidup dengan seseorang yang nggak tahan menghadapi Anda dan sudah muak maksimal. Anda nggak akan mau hidup dengan orang seperti itu. Anda akan cabut dari hubungan kayak gitu.

Namun, karena Anda tidak bisa bebas dari pikiran Anda, Anda terjebak. Hasilnya? Anda berkecil hati. Pesimis parah. Anda tidak dapat menilik sisi positif dari segala sisi.

Voice di balik batok kepala Anda juga melahirkan sebongkah besar masalah yang bukan sepenuhnya masalah. Itu hanya hal-hal yang belum berlangsung, situasi yang bisa terjadi besok atau minggu depan.

Mendengarkan masalah yang nggak nyata menyandang nama lain: khawatir. Itulah yang dibuat ucapan di otak Anda.

What if. Itu resah. Itu menyakitkan dan ‘bengis’. Oleh karena itu, Anda nggak bisa lagi merasakan keriaan hidup. Jika kehabisan ide lain, ocehan di kepala Anda lantas berubah menjadi komplen.

Di kasus ini, saya nggak berbicara tentang Anda menegur seseorang dan berkata, “Ini salah, dan itu harus diluruskan.” Misalnya, ketika Anda berada di hotel dan Anda mendapati nggak ada air panas di situ. Tentu aja, Anda harus menelepon resepsionis dan ngomong, “Saya mau mandi. Bisa bantuin saya, nggak? “Dalam kasus ini, Anda bisa mengubah sesuatu.

Tetapi ketika Anda berada dalam situasi di mana Anda masih di tahap mengambil keputusan, dan Anda nggak tahu ke mana harus pergi, suara berisik di kepala Anda mulai mengeluh tentang segala sesuatu yang lain, bahkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan situasi:

  1. Mengeluh perkara cuaca.
  2. Kesal dengan ekonomi.
  3. Mencaci diri sendiri, gimana hidup Anda seharusnya berubah.
  4. Mengapa semua orang bisa berhasil tetapi Anda tampaknya selalu gagal lagi dan lagi.
  5. Dan Anda kebelet harus segera mencari tau sekarang juga.

Mengeluh tidak berfaedah apa pun, kecuali beban. Ini kayak Anda membopong sekarung besar batu untuk dibawa-bawa di punggung. Saat Anda mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukan, itu malah mencegah Anda, dalam banyak kasus, menjadi nggak berbuat apa pun.

Sekarang bayangkan suara di dalam kepala Anda tiba-tiba berhenti. Anda sadar, wow, sangat sunyi senyap, Indah banget. Inilah yang Anda butuhkan untuk membuat keputusan yang efektif. You need to be present. Anda harus menjadi pengamat yang apik. Anda harus bebas dari apa pun. Anda hanya harus fokus dengan apa yang terjadi sekarang. Di detik ini. Konsentrasi pada momen ini aja.

Tentu saja, Anda nggak bisa hanya menjentikkan jari, dan tiba-tiba semua keinginan Anda terkabul. Tiba-tiba kemumetan Anda kelar. Nggak gitu pastinya.

Sebagian orang pertama kali mencecapnya selama olahraga ekstrem. Mendaki gunung, misalnya, kala meraba pijakan dan pegangan, mereka sebetulnya tidak berpikir sama sekali. Mereka present 100%, karena jika mereka tergelincir ke dalam pikiran, mereka akan terjerembab dari gunung.

Yang lain pergi ke alam. Mereka menatap keelokan di sekitar mereka, mereka mendengarkan burung-burung dan gemerisik dedaunan, dan sekonyong-konyong mereka menginsafi bahwa inilah si being.

Tetapi, Anda nggak harus menunggu kok untuk terlibat dalam aktivitas berbahaya atau pergi ke hutan belantara. Anda dapat mutusin untuk present di mana saja, dalam situasi apa pun, dengan menggeser fokus perhatian Anda menjauh dari pikiran dan mengalihkannya ke dalam aliveness di setiap jengkal tubuh Anda. Ketika Anda present, persepsi indra Anda—pendengaran Anda, penglihatan Anda—refleks merayap naik.

Anda akan merasai keheningan, sesuatu yang nggak harus Anda ‘rakit’. Sudah mendekam di sana, sekian lama, tertimbun di bawah berisiknya ocehan tentang, “gue harus ngapain?”

Anda sekarang sanggup membedakan antara: Inilah situasinya dan beginilah yang pikiran saya katakan tentang situasinya, atau, dengan kata lain.

Antara: “Saya mungkin kehilangan pekerjaan”, dan “konsekuensinya saya akan kehilangan rumah saya, dan harus membawa putri saya keluar dari sekolahnya, dan tinggal bersama orang tua saya, jadi saya harus mendapatkan pekerjaan lain pada akhir minggu, bahkan jika nggak ada pekerjaan dan saya tidak terampil untuk pekerjaan itu.” Maksudnya, Anda tetap peduli dengan masa depan, dan itu nggak berarti bahwa Anda nggak sanggup berpikir tentang apa yang akan Anda lakukan besok. Itu maksudnya, bahwa fokus atensi Anda adalah CUMA pada saat ini. Anda perlu merencanakan hal-hal spesifik tetapi segera kembali ke keaktifan apa yang sebenarnya terjadi di momen ini.

How do we do this? Gimana sih cara mengerjakan hal ginian? Salah satu triknya adalah mulai mengenali voice di balik tempurung kepala. Secara otomatis ketika Anda mendengar apa yang Anda pikirkan, Anda mungkin bisa stop berpikir.

Taktik lain adalah bertanya pada diri sendiri, “Masalah apa yang saya miliki saat ini?” Seringkali, ini membikin Anda terbangun. Anda harus mengakui: “Hmm, sebenernya, saat ini saya nggak punya masalah.

Misalnya, sebenernya sih di saat ini, Anda masih punya kerja. Anda mungkin kehilangannya nanti, tetapi pada detik ini Anda masih punya gawean.

Ya, Anda mungkin masih harus ngadepin situasi yang menantang, yang esok lusa ngebutuhin respons. Tapi itu bukan problem, kan? Itu sebuah event.

Lebih jauh, jika masalah mencuat, saat ini juga, maka Anda akan ngelakuin sesuatu untuk itu. Begitu Anda menyelami apa situasi Anda yang faktual—yang sesungguhnya bukan suara yang ada di kepala Anda—maka, tentu saja, Anda bisa berhenti struggling.

Situasinya ada. Jadi Anda nggak perlu gelisah tentang hal itu atau mabuk-mabukkan, atau menangis atau berdebat atau meminta nasihat orang lain.

Anda bisa menampiknya karena apa yang menyebabkan Anda sakit adalah gagasan Anda sendiri tentang hal itu—bukan karena event itu sendiri.

Faktanya, Anda bisa melanjutkan aktivitas normal—dan di situlah intuisi menyusup. Karena ketika Anda tersambung dengan keheningan, Anda juga konek dengan kecerdasan kreatif yang lebih banter dari pemikiran analitis.

Sangat sering, simpulan yang akurat kemudian muncul secara serta merta. Itu mungkin nggak terjadi segera.

Ini mungkin ‘menjinjing’ Anda kembali ke kesibukan rutin Anda, tetapi periode waktu ini ngasih intuisi Anda ruang dan keheningan yang dibutuhkan untuk nongol ke permukaan. In the end of the day, saya percaya, apakah Anda meninting satu cara atau yang lain no problemo.

Jika Anda present ketika Anda ‘merakit’ keputusan, maka Anda akan present dalam situasi berikutnya—dan siap untuk membangun alternatif saat dibutuhkan.

Tentu saja, Anda selalu bisa ngelakuin berbagai perkara secara divergen. Namun yang paling esensial bukanlah apa yang Anda lakukan, melainkan bagaimana Anda mengerjakannya—keadaan sadar yang dibawa ke proses, yang diharapkan akan membuat Anda merasakan aliveness dari semua pengalaman Anda.