Ingin Ramping dan Kurus? Baca Tentang Sejarah Hormon Obesitas

Sumber Gambar

Apakah yang menyebabkan kegemukan? Dari postingan sebelumnya, kita sudah menggagalkan teori bahwa kelebihan kalori bukan akar masalahnya. Sekarang, coba kita lebih fokus pada pertanyaan berikutnya, JADI APA SEBENARNYA PENYEBAB OBESITAS atau etiologi gemuk? Kita sudah terobsesi dengan kalori selama 50 tahun dan selalu saja menemui jalan buntu. Agar lingkaran setan ini bisa diputus, kita harus menemukan akar masalah yang paling mendasar. Jadi, apa sih penyebab adipositas itu? Mari kita kembali ke masa silam, dan melihat apa yang dipikirkan tentang obesitas oleh manusia jadul?

Historic Perspective on Obesity – Hormonal Obesity I

William Banting 1796-1878 dianggap telah menulis buku diet pertama. Saat remaja dan awal usia 20-an, berat badanya normal. Tetapi, saat menginjak usia 30-an, 40-an dan 50-an, bobot badannya merayap naik. Tidak banyak, hanya beberapa kilogram per tahun. Tak lama kemudian, ketika berusia 62 dan beratnya 202 pound. Tidak buruk menurut standar modern, tapi menjadi si monyet-chunky untuk standar waktu itu. Jadi, atas saran dokternya, ia mencoba mengurangi porsi makan. Tapi kemudian, dia merasa lelah, lapar dan berat badannya tidak melorot, bergeming di angka yang sama. Lalu, dia mencoba berolahraga lebih banyak. Dia mendayung di atas sungai Thames dan menjadi sangat sehat secara fisik. Namun, dia masih belum bisa menurunkan berat badannya.

Akhirnya, atas saran seorang ahli bedah Prancis, dia memulai diet baru. Dia tidak membatasi kalori, tapi pantang gula dan tepung—yang sekarang kita sebut karbohidrat olahan. Dia menghindari semua roti, susu, bir, permen dan kentang. Poor fellow ini mencintai karbohidrat, sesungguhnya, namun harus bagaimana lagi.

By: Dokter Jason Fung

Singkat cerita, dia pun melangsing dan merasa lebih sehat sehingga ia memutuskan untuk menerbitkan temuannya di “Letter on Corpulence Addressed to the Public”. Pamflet ini dianggap sebagai buku diet modern pertama. Berdasarkan pengalaman pribadi, Banting merasa bahwa kalori TIDAK menyebabkan kenaikan berat badan, tapi karbohidrat olahanlah si biang keroknya.

Sampai dengan 100 tahun berikutnya, gagasan mengenai bahwa gula dan tepung menyebabkan obesitas masih juga terkenal. Sir William Osler—dokter Kanada yang terkenal, disegani, dan cukup berpengaruh, yang juga menulis “Prinsip dan Praktik Pengobatan”— menggambarkan bahwa sebagian besar dokter pada awal tahun 1900-an menganggap bahwa karbohidrat olahan adalah penyebab utama obesitas. Dalam buku teks terkenalnya, dia menggambarkan pengobatan obesitas dengan makanan yang didominasi daging dan telur dan rendah karbohidrat olahannya. Dalam monograf 1882-nya “Obesitas dan Pengobatannya” Dr. Osler merasa bahwa makanan berlemak sangat penting untuk mengurangi obesitas karena mereka meningkatkan kenyang (perasaan kenyang).

Hal ini kontras dengan demonisasi lemak diet yang modern. Namun, toh kenyataannya, mengurangi lemak dan meningkatkan karbohidrat telah menyuburkan dengan epidemi obesitas. Mungkin Dr. Osler benar. Saran itu cukup standar untuk tahun 1950. Jika kamu meminta nasihat pada zaman itu, bagaimana supaya bisa kurus, mereka tidak akan membicarakan kalori. Kalori sebagai satuan energi sebagian besar tidak diketahui pada saat itu. Mereka akan mengatakan sebaliknya, bahwa makanan manis dan tepung bisa menyebabkan obesitas. Dr. Spock’s pemilik Baby and Child Care atau perawatan bayi, balita, dan batita—sebuah kitab suci cara membesarkan anak tahun 1950-an—menggambarkan bahwa anak kecil bisa menggemuk atau melangsing penyebab mayoritasnya adalah tergantung jumlah makanan penutup dan tepung yang dikonsumsi.

Sumber Gambar

Dr. Passmore dalam British Journal of Nutrition pada tahun 1963 menulis “Setiap wanita tahu bahwa karbohidrat menggemukkan”. Every. Woman. Knows. This was no secret. Everybody knew it.

Gagasan ini telah bertahan berpuluh-puluh tahun silam. Akal sehat dan pengamatan empiris bertugas untuk mengkonfirmasi kebenaran dari masalah ini. Gagasan ini adalah “Anti-Fragile” seperti yang telah dikatakan oleh Nassim Taleb. Dan obesitas bukanlah masalah besar saat itu.

Inilah yang mereka pikirkan: Namun, semuanya mulai berubah di tahun 1950an. Penyakit jantung meningkat. Apakah ini merupakan fakta atau sekedar asumsi, masih diperdebatkan. Gary Taubes berpendapat bahwa ini keliru dalam buku terobosannya “Why We Get Fat”. Namun demikian, orang-orang mulai mencari alasan di balik ‘epidemi hebat’ penyakit jantung ini.

Pelototan mereka segera jatuh pada makanan berlemak. The “Diet-Heart Hipotesis” semenjak mendapatkan daya tarik di tahun 1960-an. Ancel Keys, seorang ‘pakar’ gila yang sangat berpengaruh memainkan peran penting dalam mempopulerkan gagasan ini. Dengan antusiasme yang besar dan sains yang goyah, gerakan demonisasi lemak (makanan yang dikunyah manusia sejak, yah, kita menjadi manusia) ditancapkan. Masalah yang superior, meski saat itu kita tidak melihatnya.

Protein cenderung tetap konstan dalam makanan manusia. Hal ini sebenarnya cukup sulit untuk meningkatkan konsumsi protein menjadi lebih dari 20-30% kalori tanpa menggunakan protein bar/ shake dll. Jadi, jika seseorang membatasi karbohidrat, maka seseorang harus meningkatkan lemak makanan dan sebaliknya.  

Inilah hasilnya: Lemak Rendah = Karbohidrat Tinggi dan Karbohidrat Rendah = Lemak Tinggi. Karena lemak makanan sekarang menjadi penjahat kelas kakap, diet yang direkomendasikan oleh Heart Healthy adalah makanan apa pun asalkan kandungan karbohidratnya tinggi. Karena karbohidrat di belahan bumi barat cenderung disaring dan dihaluskan, kita makan lebih banyak lagi dan lagi, kita mengunyah roti dan pasta rendah lemak dengan gila-gilaan. Lagi pula, kita tidak sudi menukar hamburger dengan kembang kol dan kangkung, tapi, kita dengan senang hati mensubtitusi lemak dengan roti dan sepiring pasta ukuran jumbo.

Melalui debat ilmiah tahun 1950-an dan 1960 (terkadang sangat sengit) mereka mengamuk, sesekali maju lantas mundur. Beberapa pakar percaya bahwa lemak adalah kriminal, sementara ahli yang lain, seperti John Yudkin yakin bahwa karbohidrat olahan adalah biang keroknya.

Bukunya, “Murni, Putih dan Mematikan – Bagaimana Gula Membunuh Kita” adalah hal yang menakutkan, dan pastinya memenangkan penghargaan untuk Judul Buku Terbaik. Vitriol terkadang mencapai tingkat ekstrim. Jean Mayer, PhD dari Harvard pernah menyamakan  mengurangi karbohidrat  dalam diet “artinya setara dengan pembunuhan massal”. Hanya sedikit ekstrem … .

The American Heart Association merasa bahwa diet ini juga mode berbahaya. Umm … Bung … yang bener? Gagasan yang berusia 200 tahun? Ide yang telah bertahan dalam ujian waktu?

Lemak yang dikonsumsi manusia selama bertahun-tahun yang lalu? Itulah yang membunuh kita?

Tidakkah ini hal yang sangat genius, jika lemak diet akan membunuh kita, itu pasti sudah terjadi sebelumnya, katakanlah, 1 juta tahun yang lalu? Diet rendah lemak, tentu saja, sampai titik sekarang, sesungguhnya belum teruji pada manusia. Tak seorang pun dalam sejarah yang pernah memutuskan untuk menurunkan kandungan lemak dari makanan mereka karena alasan kesehatan. Kami tidak tahu apa efeknya. Tentu saja, ini saat dimana kita juga percaya bahwa kita bisa membuat zat yang lebih bergizi untuk bayi daripada ASI. Bahwa kita lebih cerdas dari 20 juta tahun evolusi. Jadi, daripada mengonsumsi lemak alami seperti krim, mentega, dan minyak zaitun, kita beralih ke minyak artifisial murni seperti margarin. Tentu saja, ini ternyata membunuh kita dengan lemak trans tapi itu adalah cerita untuk lain waktu.

Kita pindah dari lemak dan menuju karbohidrat olahan. Jadi siapa yang menang? Kamu sudah tahu jawabannya, dan kita semua semakin buruk karena telah memilih itu.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Mengapa Diet Lemak Rendah Adalah Hoax

Sumber Gambar

Berita Hoax Super Kejam dari Diet Rendah Lemak.

The Cruel Hoax of the Low Fat Diet – Calories Part IX

Bagaimana caranya agar kita bisa melangsing? Tentunya, selama ini kita telah mengira, kunci meluruhkan lemak itu sangat mudah. Tetapi, sayangnya, teori jadul tentang meramping memang sudah benar-benar kadaluarsa.

Apa sih sebenarnya yang terjadi di lapangan? Apakah jika kita mengurangi porsi dan berolahraga jor-joran bisa membuat kita menjadi langsing? Oleh karena itu, mari kita melihat studi yang telah dilakukan the gigantic Women’s Health Initiative.

Ini adalah sebuah studi National Institute for Health yang masif, mahal dan ambisius yang diterbitkan pada tahun 2006. Penelitian yang super duper kece dan ciamik. Hampir 50.000 wanita telah direkrut untuk uji coba ini. Studi ini merupakan standar emas absolut dalam percobaan ilmu medis, dan mungkin merupakan penelitian yang sangat krusial.

By: Dokter Jason Fung

Bagaimana cara kerja penelitian ini?

  1. Relawan diobservasi selama 7,5 tahun secara intensif.
  2. Jumlah yang diamati adalah sebanyak 19.541 perempuan.
  3. Para perempuan ini diedukasi agar mengurangi asupan lemak sebesar 20% dari kalori harian.
  4. Mereka diminta untuk menambah porsi sayuran sebanyak 5 piring/ hari, dan biji-bijian sampai dengan 6 piring/ hari.
  5. Selama setahun pertama, diadakan 12 sesi konseling dan wawancara.
  6. Aktivitas kelompok harus dilaporkan.
  7. Kampanye pesan disebarkan dan meminta umpan balik dari setiap individu.
  8. Wawancara dilakukan dengan cara mendengarkan secara reflektif.

Hal ini konsisten dengan rekomendasi dari badan nutrisi pada era itu (tahun 1993-1998). Jika kita melihat grafik di bawah ini, sepertinya konsultasi diet ini cukup berhasil mengubah kebiasaan makan. Jumlah asupan kalori berkurang dari 1.788 menjadi 1.446 kalori/ hari. Pengurangan kalori 361,4 kalori/ hari selama lebih dari 7 tahun. Total awesomeness!

Apakah hasilnya?

  1. Persentase kalori dari lemak berkurang dari 38,8% menjadi 29,8%.
  2. Karbohidrat dari biji-bijian meningkat dari 44,5% menjadi 52,7%.

Yang harus digarisbawahi, bahwa tujuan penelitian ini bukan untuk melihat pengurangan berat badan namun mengurangi kalori dari lemak.

Hal penting lainnya adalah kuantitas olahraga ditingkatkan. Dan beginilah hasilnya, aktivitas fisik sehari-hari menanjak dari 10 METs/ minggu menjadi 11,4 METs/ minggu. (METs adalah ukuran aktivitas fisik). Dengan kata lain, aktivitas fisik melambung sebanyak 14% selama 7.5 tahun.

The control group, sebaliknya hanya mendapatkan salinan Dietary Guidelines for Americans, tetapi, tidak melakukan kontak dengan ahli gizi lainnya.

Sialnya, hasil yang mencengangkan malah terjadi. Alih-alih bisa mengenyahkan lemak dengan mengikuti diet rendah kalori tinggi olahraga (eat less, move more), para pengikut studi ini malah menggemuk. Bobot rata-rata pada awal penelitian adalah 76,8 kg dengan Indeks Massa Tubuh sekitar 29,1. Jadi sesungguhnya apa yang terjadi?

Kelompok The Eat Less, Move More awalnya tampil memukau dan menggebrak panggung, karena sanggup menendang jauh si lemak sebanyak lebih dari 2kg selama tahun pertama. Tetapi, pada tahun kedua, berat badan mulai kembali, dan sudah sangat jelas bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara dua grup.

Mengurangi kalori sebanyak 361 kalori/ hari setiap hari selama 7 setengah tahun dan meningkatkan olahraga sebesar 14% hasilnya tidak jauh beda dengan orang yang tidak berdiet atau tidak olahraga. Dengan kata lain, semua usaha adalah sia-sia.

Kamu mungkin berasumsi bahwa lemak mereka kita telah menjadi otot oleh karena itu mereka menjadi lebih berat. Sayangnya, lingkar pinggang mereka tetap sama tuh, podo bae.

Strategi melangsing dengan mengurangi makan dan menambah porsi olahraga selama 7,5 tahun ternyata tidak menurunkan berat badan sama sekali, untuk mencapai sekilo pun tidak sanggup.

Dan bagian terburuknya adalah, selama 7,5 tahun berdiet, lingkar pinggang meningkat dari 89,0 menjadi 90,1 cm, dan WHR meningkat dari 0,82 menjadi 0,83. Ini mengindikasikan bahwa bukan hanya gagal untuk melangsing, tetapi lebih seram lagi, mereka malah semakin menggemuk.

Selama saya melakukan praktik, banyak pasien yang mengatakan kepada saya, “Saya nggak ngerti, kenapa saya nggak bisa langsing, padahal saya udah ngurangin porsi dan menambah durasi olahraga.”

Sumber Gambar

Dan saya mengerti betul apa yang dirasakan oleh para pasien. Karena, strategi melangsing dengan cara itu sudah dipastikan akan gagal total.

Pertanyaan pentingnya adalah apakah mengurangi kalori merupakan tindakan bodoh? Ya. Strategi mengurangi makan adalah kabar hoax yang super jahat. Mengapa? Karena banyak orang yang mempercayai hal itu. Jahat karena kita terlanjur percaya karena yang mengucapkannya adalah para ahli yang bisa dipercaya. Ini jahat, karena saat kita gagal melangsing, kita akan menyalahkan diri sendiri. Kita musti melempar teori ini ke tempat sampah, tempat asalnya.

 Izinkan saya mengatakan sebuah fakta sejelas mungkin. Makan terlalu banyak tidak menyebabkan obesitas. Berolahraga terlalu sedikit tidak menyebabkan obesitas. Karena itu, makan lebih sedikit dan bergerak lebih banyak tidak akan menyembuhkan obesitas. Buktinya sudah banyak. Terima itu.

Mari kita rekap apa yang kita ketahui sejauh ini.

  1. Pandangan konvensional tentang obesitas kita berasal dari Pengurangan Kalori sebagai model Primer. Namun, bukti konklusif menunjukkan bahwa mengikuti diet mengurangi diet rendah lemak tidak akan menurunkan berat badan. Model ini sudah terbukti salah kaprah.
  2. Tubuh bertindak sebagai termostat, bukan skala. Ada Body Set Weight (BSW) tertentu. Upaya untuk menurunkan berat badan Anda di bawah BSW akan menghasilkan aktivasi mekanisme untuk mendapatkan kembali berat tersebut. Ini termasuk rasa lapar yang luar biasa dan turunnya total pengeluaran energi (TEE).

 Jadi gimana dong caranya supaya kita bisa melangsing? Kita butuh teori baru yang menjelaskan mengapa kita bisa menggemuk? Apa sih yang nyebabin obesitas? Apa etiologi kegemukan? Kita perlu paham penyebab utamanya sebelum kita tahu cara ngobatinnya. Apa yang mengatur BSW? Apakah makan segambreng menyebabkan obesitas?

Sabar, kita akan sampai di sana …

Ingin Kurus Dan Ramping? Baca tentang Mengapa Kita Menggemuk

Sumber Gambar

Bagaimana Kita Bisa Menggemuk? – Kalori Bagian I

Pertanyaan yang super duper penting di dunia obesitas adalah MENGAPA KITA BISA MENGGEMUK? Mustahil bisa mengobati sebuah penyakit jika kita tidak mencari akar permasalahannya (etiologi). Katakanlah, jika Anda ngerti bahwa bakteri bisa menyebabkan infeksi, lantas target Anda menjadi fokus pada si bakteri. Untuk mencegah merajalelanya bakteri di tubuh Anda, sekarang Anda menjadi pencuci-tangan-pakai-sabun-garis-keras, misalnya. Jadi, kenapa sih kita bisa membulat–atau pertanyaan lebih ilmiah—Apakah etiologi obesitas? Pertanyaan itulah yang harus kita ajukan.

Tetapi, karena karena kita sering kali sok tau alias sotoy, maka kita jarang menimbang-nimbang pertanyaan ini karena kita MERASA sudah tahu jawabannya.

By: Dokter Jason Fung

Selama ini kita berasumsi kegemukan disebabkan:

  1. Ini adalah masalah kalori masuk versus kalori keluar calories in versus calories out.
  2. Ngunyah mulu, plus jarang gerak.

Kita membiarkan diri kita beranggapan bahwa kedua asumsi di atas merupakan fakta yang tidak bisa diganggu-gugat, jadi ngapain sih pake dipikirin segala? Kita juga sering mengira bahwa mau makan segabruk kek, mau molor bae itu murni merupakan hak azasi manusia dan ngapain repot, sih? Yang mana, mau makan bajing luncat atau melahap sayuran, merdeka aja, karena orang yang bersangkutan akan memanggul tanggungjawab masing-masing. Kita boleh makan brokoli atau bakwan. Kita bisa jogging selama 5 jam, atau duduk manis tersihir tayangan TV. Bebas.

Opini Ahli

Dengan kata lain, obesitas adalah kegagalan setiap individu manusia. Cause of obesity lies in the individual. Makan berlebihan (rakus) atau ogah gerak (malas) adalah kegagalan individu —sebenarnya, ini merupakan 2 dosa dari 7 dosa yang mematikan/ deadly sins. Jika kita bertanya kepada ‘ahli’, mereka setuju bahwa kunci langsing-singset adalah makan lebih sedikit dan bergerak non-stop.

Konsensus suci, Batman. Dengan begitu banyak “ekpert” misalnya Michelle Obama sampai dengan USDA yang mengklaim dirinya sebagai profesional medis (termasuk dokter dan ahli gizi) setuju bahwa ‘Eat Less, Move More’ adalah cara untuk melangsing. Anda mungkin berpikir bahwa itu 100% benar adanya, tidak perlu lagi kita perdebatkan.

Sumber Gambar

Tapi, ada satu hal yang mengganjal dan aneh sekali… Jika kita semua sepakat bahwa itu merupakan obat untuk obesitas (kita sudah menghabiskan miliaran untuk program meramping dan edukasi), tapi mengapa kita semakin menggemuk why are we getting fatter? Dengan kata lain, ‘obat’ ini nyebelin banget sih?

Ayo kita kembali ke bahasan semula. Jika penyebab obesitas adalah makan terlalu banyak dan berolahraga terlalu sedikit, kita bisa memikirkan obesitas dengan cara ini:

Teori Obesitas Konvensional

Saya menyebutnya Hipotesis Kalori sebagai Primer (CRaP). Ini berarti bahwa faktor utama (tapi bukan satu-satunya) dalam obesitas adalah kalori dan mengurangi kalori adalah pengobatan nomor wahid.

Lebih jauh lagi, alasan di balik makan terlalu banyak bukanlah hormon, bukan kelaparan, tapi pilihan pribadi. Ini juga bisa disebut model “Kalori masuk, Kalori keluar” (CICO), dan sering digambarkan sebagai skala. Kalori yang tidak digunakan untuk bahan bakar ketika berolahraga akan disimpan sebagai lemak.

Sumber Foto

Seiring berjalannya waktu, ketidakseimbangan kalori akan menggiring ke akumulasi penimbunan lemak. Ini sering disebut hukum pertama termodinamika ‘First Law of Thermodynamics‘—energi akan bisa diciptakan atau dihancurkan dalam sistem yang terisolasi. Hal ini membikin semuanya terdengar sangat sains dan membangunkan pemikiran Einstein, tetapi, jika diterapkan dengan biologi manusia, penerapan hukum termodinamika sebenarnya tidak terlalu pas.

Tubuh manusia bukanlah sistem yang terisolasi. Energi masuk dan keluar terjadi sepanjang waktu. Tubuh kita adalah sistem terbuka sehingga oleh karena itu termodinamika tidak aci dan salah fokus, mau dibolak-balik dengan cara apapun tetap saja tidak tepat. Baik Hukum Termodinamika Kedua maupun Ketiga tidak berlaku untuk manusia atau mahluk hidup lainnya, jadi mengapa Hukum Pertama diterapkan? Jawabannya adalah dengan menggunakan Hukum Pertama Termodinamika dalam diskusi membuat mereka tampak cerdas.

Dengan itu juga, mereka membuat teori obesitas mereka tampak sebagai sesuatu dengan kadar kredibilitas ilmiah yang tinggi. Maksud saya, saya tidak menerapkan Heisenberg’s Uncertainty Principle atau Prinsip Ketidakpastian Heisenberg ke menu sarapan saya? Jadi mengapa Hukum Pertama Termodinamika berlaku untuk obesitas? Luar biasanya ngawurnya. Tetapi, dengan mengaplikasikan “hukum” ini pada kalori masuk dan kalori keluar akan membuat pencetus teori ini mendapatkan respek yang sesungguhnya tidak pantas disandang. Apa yang dimaksud dengan orang-orang tersebut adalah jika massa lemak stabil maka kalori masuk harus diimbangi dengan kalori keluar.

Mereka berasumsi bahwa sebagian besar kalori dipergunakan untuk olahraga. Namun, ini salah kaprah karena sebenarnya tubuh bisa memilih bagaimana cara mengeluarkan energi yang tertelan. Mari kita lihat contohnya.

Katakanlah kita memakan 2000 kalori untuk energi, nah, nasib metabolik 2000 kalori itu bisa berbeda-beda. Kalori tersebut bisa jadi:

  1. Dibakar sebagai panas tubuh (Resting Energy Expenditure),
  2. Digunakan untuk produksi otot protein/ tulang/ otot,
  3. Dipakai sebagai energi ketika berolahraga/ pengerahan fisik,
  4. Atau disimpan sebagai lemak?

Kita tidak keberatan jika energi dibakar menjadi sumber panas, tapi kita sebal jika kalori disimpan sebagai lemak. Betul?

Sumber Gambar

Lagi pula, kalori keluar tidak stabil. Kadang dia akan naik menjadi 3000 kalori/ hari pada sebagian orang dan turun menjadi 1200 pada orang lain. Ini juga tergantung makanan apa yang kita konsumsi. Jadi, tidak sesimpel kalori bisa keluar kalau kita bergerak terus. Berdasarkan sudut pandang obesitas maka kita bisa menyimpulkan tubuh menyimpan lemak dengan cara:

Lemak Disimpan = Kalori masuk – Kalori keluar

Bila Anda memakai pola ini, maka hal yang menentukan apakah lemak akan disimpan atau dibuang adalah kalori. Jika kita berasumsi bahwa “Kalori keluar” adalah mutlak dan tidak bisa diganggu-gugat, berarti “Kita menjadi gemuk karena kita terlalu banyak makan”. Sekarang asumsi bahwa ‘Kalori Out’ adalah mutlak sudah jelas keliru, tetapi, untuk saat ini mari kita sederhanakan.

Tapi kita bisa mengatur ulang persamaan dengan cara ini:

Kalori Masuk = Lemak Tubuh + Kalori keluar

Jika kita berasumsi lagi bahwa “Kalori Keluar” adalah mutlak dan tidak pernah berubah (salah), maka implikasinya disini adalah bahwa “Kalori Masuk” bergantung pada lemak tubuh. Ini berarti bahwa jumlah yang kita makan ditentukan oleh apakah kita berada dalam mode “menyimpan lemak”.

Sekarang, hal ini membuat kita bertanya—Apa yang menyebabkan kita berada dalam mode menyimpan lemak? Dengan kata lain “Kita makan terlalu banyak karena kita gemuk”. Itu memunculkan pertanyaan yang tepat “Mengapa kita menjadi gemuk?” Atau “Apa itu etiologi obesitas?”—pertanyaan sentral blog ini dan akar penyebab obesitas, diabetes, penyakit jantung, kanker dan sebagian besar penyakit yang disebut penyakit peradaban diseases of civilization.

Kedua persamaan itu tidak salah, dan tidak melanggar “Hukum Pertama Termodinamika”, namun implikasinya sangat berbeda. Manakah interpretasi yang benar?

Ingin Kurus dan Langsing: Baca Tentang Dilema Daging Merah (1)

Sumber Gambar

Dilema Daging Merah – Hormon Obesitas

Apakah sebenarnya dilema daging dan protein hewani itu?

  1. Di satu sisi, protein hewani menaikkan insulin, sehingga bisa membuat kita gemuk,
  2. Di sisi lain, protein hewani mempunyai efek memperlambat pengosongan lambung, meningkatkan rasa kenyang sehingga sanggup membikin kita menjadi ramping.

Dalam satu ‘balutan’ kita dihadapkan pada dua efek. Lantas manakah efek yang lebih kuat?

By: Dokter Jason Fung

Salah satu studi asosiasi terbesar beberapa saat yang lalu berasal dari analisis data dengan menggabungkan tiga studi kohort yang sangat besar, yaitu:

  1. The Nurses Health Studies I.
  2. The Nurses Health Studies II.
  3. The Health Professional’s Follow Up study.

Melihat data gabungan ini, perbandingan dibuat antara makanan tertentu dan dan risiko obesitas. Meskipun ini bukan percobaan acak, namun data tersebut masih mengandung sejumlah data bermanfaat. Changes in Diet and Lifestyle and Long-Term Weight Gain in Women and Menditerbitkan di New England Journal of Medicine pada tahun 2011.

Salah satu hal terpenting yang dilakukan peneliti adalah melihat makanan tertentu. Beberapa dekade terakhir muncul aliran ‘nutrisisme’ dimana derajat makanan menjadi turun karena telah diklasifikasikan sebagai ‘karbohidrat’, protein dan lemak. Namun, dengan menggunakan metode itu, tetap tidak sanggup menangkap kompleksitas ilmu pangan. Sebuah alpukat, misalnya mengandung 88% lemak, 16% karbohidrat, dan protein 5% dengan serat 4,9 gram. Dengan kandungan nutrisi semacam itu, kemudian alpukat diklasifikasikan sebagai makanan dengan derajat rendah bahkan ‘buruk’ selama bertahun-tahun karena kandungan lemaknya yang tinggi, lantas sekarang direklasifikasi kembali sebagai makanan super. Sungguh perlakuan rasis pada makanan, dan mencla-mencle alias tidak konsisten. (Useful online tool for this sort of useless thing here). Ini adalah alat ukur yang sungguh tidak berguna. Perlu kita ketahui, dan ini merupakan wawasan yang sangat menarik, sesungguhnya ada ratusan nutrisi dan fitokimia dalam makanan yang mempengaruhi metabolisme kita yang tidak tertangkap oleh analisis sederhana semacam ini.

Sumber Gambar

Jadi sekali lagi, alat ini sungguh tidak bermanfaat, by the way, pada saat kita mengelompokkan makanan pada label makanan, sesungguhnya tidak menjelaskan mengapa mereka tidak membuat perbedaan yang signifikan. Saya membayangkan bahwa salah kaprah nutrisi membuat situasi menjadi amburadul alias acak-acakan dari masa ke masa. Coba Anda bayangkan saat dimana para pendukung aliran-rendah-lemak-garis-keras di tahun 1970an yang membagi makanan dalam tiga kelompok besar makro nutrisi. Awalnya, mereka berpikir semua lemak adalah makanan terkutuk. Setelah itu semua karbohidrat adalah buruk. Kemudian muncul lagi kelompok karbohidrat tercela dan karbohidrat baik. Lantas, muncul lagi lemak baik dan lemak jahat. Lalu, protein terpuji dan protein merugikan (hewani vs nabati misalnya). Faktanya, tidak semudah itu untuk membuat geng-geng makanan. Kita juga telah membuat klasifikasi artifisial pada tipe-tipe makanan—buah-buahan misalnya. Pisang adalah makanan yang harus diasingkan dan berry adalah buah-buahan yang diagung-agungkan. Basis pengelompokan ini berdasarkan gagasan indeks glisemik, jumlah lemak, atau jumlah gula.

Setelah memperhatikan sebanyak 120.877 laki-laki dan perempuan berusia di atas 12 sampai 20 tahun, para peneliti menghitung hubungan antara asupan makanan tertentu dan penambahan berat badan. Secara keseluruhan kenaikan berat badan rata-rata selama periode 4 tahun adalah 3,35 pound—mendekati 1 pon per tahun sesuai dengan perkiraan. Meskipun ini mungkin tidak terdengar banyak, lebih dari 40 tahun, katakanlah dari usia 20 sampai usia 60, akan membuat orang kelebihan berat badan sekitar 40 pounds, katakanlah berat badan rata-rata adalah 160 pound, 40 tahun kemudian akan menjadi 200 pound pada pasien pra-diabetes.

Penting untuk diingat bahwa studi asosiasi seperti ini tidak dapat membuktikan sebab-akibat. Namun, salah satu kekuatan penelitian ini adalah untuk dapat melihat hasil jangka panjang—sesuatu yang tidak dapat dilakukan pada uji coba acak. Karena kenaikan berat badan akan berakumulasi selama beberapa dekade, percobaan jangka pendek beberapa tahun mungkin tidak memberi tahu apa yang harus kita ketahui.

Tetapi, masih menarik untuk melihat datanya di sini. Cukup mudah untuk mengerti mengapa keripik kentang dan kentang goreng bisa menggemukkan.

Keduanya mengandung karbohidrat olahan tinggi yang meningkatkan insulin dan glukosa secara signifikan. Untuk alasan yang sama, permen dan makanan pencuci mulut, dan tepung dan semua makanan olahan sangat terkait dengan obesitas. Memang, sulit menemukan siapa saja yang berpendapat bahwa keripik kentang, makanan pencuci mulut dan roti putih tidak menggemukkan.

Tapi ada juga asosiasi yang kuat antara daging olahan, daging yang belum diproses dan mentega dengan obesitas. Karena mereka bukan karbohidrat, orang mungkin berasumsi bahwa mereka tidak menggemukkan.

Tapi faktanya, mereka juga membuat kita menjadi gemuk. Begitu Anda menyadari bahwa protein juga merangsang insulin, itu mulai membuat beberapa pengertian bahwa makanan ini juga dapat menyebabkan obesitas.

Namun daging dan dairy products tidak menggiring kita menjadi obesitas, terlepas dari fakta bahwa protein dari dairy akan menstimulasi insulin dengan derajat lebih tinggi. Masalahnya di sini mungkin mengenai kuantitas dari daging versus dairy yang telah kita bahas di last post. Jadi, meski Anda mengonsumsi dairy, namun jumlahnya tidaklah banyak.

Ada juga makanan yang membuat Anda tetap langsing–misalnya kacang-kacangan dan sayuran.

Hubungannya di sini tampak straightforward alias langsung tepat sasaran. Keduanya rendah gula dan seratnya sangat tinggi. Kedua efek tersebut akan cenderung menurunkan insulin dan melindungi terhadap penambahan berat badan. Tapi gandum utuh dan buah juga protektif. Sebuah kejutan bagi penggemar Atkin, sepertinya kandungan serat yang tinggi dalam makanan ini mungkin bersifat protektif.

Di antara minuman, minuman manis dan jus buah dikaitkan dengan obesitas. Tidak mengherankan—keduanya sangat tinggi gula dan seratnya sangat rendah. Susu skim mungkin memiliki sedikit hubungan, tapi susu utuh tidak. Lemak susu yang lebih tinggi mungkin menjadi pelindung di sini. Diet soda sangat protektif, tapi saya ragu apakah ini adalah efek sebenarnya atau apakah itu hanya mencerminkan fakta bahwa orang yang meminum diet soda memang sedang melakukan diet sehingga memang menurunkan asupan makanan.

Untuk mempermudah Anda memahami grafik, coba lihat makanan yang membuat Anda menggemuk, benang merahnya sama, semua makanan itu cenderung meningkatkan insulin. Kelompok makanan yang tidak menaikkan berat badan cenderung mengandung faktor pelindung—serat, fermentasi (yogurt), dan lemak.

Ini mungkin merupakan petunjuk untuk mengungkap mengapa diet Atkin’s menjadi bubar jalan. Awalnya dibayangkan sebagai karbohidrat rendah, diet tinggi lemak, namun ia berevolusi menjadi Atkins versi 2.0 pada 1990-an. Meski masih rendah karbohidrat, kegilaan rendah lemak tersebut mengubah reboot Atkins sebagai karbohidrat rendah, rendah lemak namun tinggi protein. Penggemar Atkins berpaling dari makanan asli ke kreasi Frankenfood seperti milkshake protein yang dipermanis dengan fruktosa, makanan pengganti artifisial dan protein bar.

Perusahaan farmasi, seperti Matt Taibbi’s vampire squid yang tergila-gila dengan uang, memadamkan saluran darahnya menjadi sesuatu yang berbau DUIT, dibuat menjadi sangat hepi karena bisa menggaruk laba maksimal dengan menciptakan produk nutrisi baru dalam rangka memenuhi kegemaran baru ini. Boost.  Ensure.  Optifast.  Slimfast. Pernahkah Anda membaca ingredients of these meal replacements alias kandungan dari makanan pengganti ini? Ini akan membuat Anda ngeri. Susu protein, fruktosa, minyak canola, minyak kedelai dan multivitamin. Apakah ini terdengar baik untuk Anda? Atau periksa the ingredients of Atkins Nutritionals Bar, atau bar Atkins Nutritionals. Lapisan rasa coklat, lapisan rasa selai kacang, gliserin, campuran protein, selulosa, dll. Ada gliserol yang lebih menyeramkan daripada protein!

Sumber Gambar

Tidak menyadari sebuah fakta bahwa TIDAK semua karbohidrat secara inheren menggemukkan, mereka juga menghindari buah dan sayuran yang lezat dan bergizi. Hal ini membuat diet sulit ditoleransi dan sudah pasti, para pengikutnya tidak patuh. Ini bukan diet yang bisa Anda ikuti seumur hidup, meski banyak yang mengklaim telah mengikuti diet ini. Revolusi Diet Dr. Atkin telah selesai.