Ingin Kurus dan Langsing: Baca Tentang Dilema Daging Merah (1)

Sumber Gambar

Dilema Daging Merah – Hormon Obesitas

Apakah sebenarnya dilema daging dan protein hewani itu?

  1. Di satu sisi, protein hewani menaikkan insulin, sehingga bisa membuat kita gemuk,
  2. Di sisi lain, protein hewani mempunyai efek memperlambat pengosongan lambung, meningkatkan rasa kenyang sehingga sanggup membikin kita menjadi ramping.

Dalam satu ‘balutan’ kita dihadapkan pada dua efek. Lantas manakah efek yang lebih kuat?

By: Dokter Jason Fung

Salah satu studi asosiasi terbesar beberapa saat yang lalu berasal dari analisis data dengan menggabungkan tiga studi kohort yang sangat besar, yaitu:

  1. The Nurses Health Studies I.
  2. The Nurses Health Studies II.
  3. The Health Professional’s Follow Up study.

Melihat data gabungan ini, perbandingan dibuat antara makanan tertentu dan dan risiko obesitas. Meskipun ini bukan percobaan acak, namun data tersebut masih mengandung sejumlah data bermanfaat. Changes in Diet and Lifestyle and Long-Term Weight Gain in Women and Menditerbitkan di New England Journal of Medicine pada tahun 2011.

Salah satu hal terpenting yang dilakukan peneliti adalah melihat makanan tertentu. Beberapa dekade terakhir muncul aliran ‘nutrisisme’ dimana derajat makanan menjadi turun karena telah diklasifikasikan sebagai ‘karbohidrat’, protein dan lemak. Namun, dengan menggunakan metode itu, tetap tidak sanggup menangkap kompleksitas ilmu pangan. Sebuah alpukat, misalnya mengandung 88% lemak, 16% karbohidrat, dan protein 5% dengan serat 4,9 gram. Dengan kandungan nutrisi semacam itu, kemudian alpukat diklasifikasikan sebagai makanan dengan derajat rendah bahkan ‘buruk’ selama bertahun-tahun karena kandungan lemaknya yang tinggi, lantas sekarang direklasifikasi kembali sebagai makanan super. Sungguh perlakuan rasis pada makanan, dan mencla-mencle alias tidak konsisten. (Useful online tool for this sort of useless thing here). Ini adalah alat ukur yang sungguh tidak berguna. Perlu kita ketahui, dan ini merupakan wawasan yang sangat menarik, sesungguhnya ada ratusan nutrisi dan fitokimia dalam makanan yang mempengaruhi metabolisme kita yang tidak tertangkap oleh analisis sederhana semacam ini.

Sumber Gambar

Jadi sekali lagi, alat ini sungguh tidak bermanfaat, by the way, pada saat kita mengelompokkan makanan pada label makanan, sesungguhnya tidak menjelaskan mengapa mereka tidak membuat perbedaan yang signifikan. Saya membayangkan bahwa salah kaprah nutrisi membuat situasi menjadi amburadul alias acak-acakan dari masa ke masa. Coba Anda bayangkan saat dimana para pendukung aliran-rendah-lemak-garis-keras di tahun 1970an yang membagi makanan dalam tiga kelompok besar makro nutrisi. Awalnya, mereka berpikir semua lemak adalah makanan terkutuk. Setelah itu semua karbohidrat adalah buruk. Kemudian muncul lagi kelompok karbohidrat tercela dan karbohidrat baik. Lantas, muncul lagi lemak baik dan lemak jahat. Lalu, protein terpuji dan protein merugikan (hewani vs nabati misalnya). Faktanya, tidak semudah itu untuk membuat geng-geng makanan. Kita juga telah membuat klasifikasi artifisial pada tipe-tipe makanan—buah-buahan misalnya. Pisang adalah makanan yang harus diasingkan dan berry adalah buah-buahan yang diagung-agungkan. Basis pengelompokan ini berdasarkan gagasan indeks glisemik, jumlah lemak, atau jumlah gula.

Setelah memperhatikan sebanyak 120.877 laki-laki dan perempuan berusia di atas 12 sampai 20 tahun, para peneliti menghitung hubungan antara asupan makanan tertentu dan penambahan berat badan. Secara keseluruhan kenaikan berat badan rata-rata selama periode 4 tahun adalah 3,35 pound—mendekati 1 pon per tahun sesuai dengan perkiraan. Meskipun ini mungkin tidak terdengar banyak, lebih dari 40 tahun, katakanlah dari usia 20 sampai usia 60, akan membuat orang kelebihan berat badan sekitar 40 pounds, katakanlah berat badan rata-rata adalah 160 pound, 40 tahun kemudian akan menjadi 200 pound pada pasien pra-diabetes.

Penting untuk diingat bahwa studi asosiasi seperti ini tidak dapat membuktikan sebab-akibat. Namun, salah satu kekuatan penelitian ini adalah untuk dapat melihat hasil jangka panjang—sesuatu yang tidak dapat dilakukan pada uji coba acak. Karena kenaikan berat badan akan berakumulasi selama beberapa dekade, percobaan jangka pendek beberapa tahun mungkin tidak memberi tahu apa yang harus kita ketahui.

Tetapi, masih menarik untuk melihat datanya di sini. Cukup mudah untuk mengerti mengapa keripik kentang dan kentang goreng bisa menggemukkan.

Keduanya mengandung karbohidrat olahan tinggi yang meningkatkan insulin dan glukosa secara signifikan. Untuk alasan yang sama, permen dan makanan pencuci mulut, dan tepung dan semua makanan olahan sangat terkait dengan obesitas. Memang, sulit menemukan siapa saja yang berpendapat bahwa keripik kentang, makanan pencuci mulut dan roti putih tidak menggemukkan.

Tapi ada juga asosiasi yang kuat antara daging olahan, daging yang belum diproses dan mentega dengan obesitas. Karena mereka bukan karbohidrat, orang mungkin berasumsi bahwa mereka tidak menggemukkan.

Tapi faktanya, mereka juga membuat kita menjadi gemuk. Begitu Anda menyadari bahwa protein juga merangsang insulin, itu mulai membuat beberapa pengertian bahwa makanan ini juga dapat menyebabkan obesitas.

Namun daging dan dairy products tidak menggiring kita menjadi obesitas, terlepas dari fakta bahwa protein dari dairy akan menstimulasi insulin dengan derajat lebih tinggi. Masalahnya di sini mungkin mengenai kuantitas dari daging versus dairy yang telah kita bahas di last post. Jadi, meski Anda mengonsumsi dairy, namun jumlahnya tidaklah banyak.

Ada juga makanan yang membuat Anda tetap langsing–misalnya kacang-kacangan dan sayuran.

Hubungannya di sini tampak straightforward alias langsung tepat sasaran. Keduanya rendah gula dan seratnya sangat tinggi. Kedua efek tersebut akan cenderung menurunkan insulin dan melindungi terhadap penambahan berat badan. Tapi gandum utuh dan buah juga protektif. Sebuah kejutan bagi penggemar Atkin, sepertinya kandungan serat yang tinggi dalam makanan ini mungkin bersifat protektif.

Di antara minuman, minuman manis dan jus buah dikaitkan dengan obesitas. Tidak mengherankan—keduanya sangat tinggi gula dan seratnya sangat rendah. Susu skim mungkin memiliki sedikit hubungan, tapi susu utuh tidak. Lemak susu yang lebih tinggi mungkin menjadi pelindung di sini. Diet soda sangat protektif, tapi saya ragu apakah ini adalah efek sebenarnya atau apakah itu hanya mencerminkan fakta bahwa orang yang meminum diet soda memang sedang melakukan diet sehingga memang menurunkan asupan makanan.

Untuk mempermudah Anda memahami grafik, coba lihat makanan yang membuat Anda menggemuk, benang merahnya sama, semua makanan itu cenderung meningkatkan insulin. Kelompok makanan yang tidak menaikkan berat badan cenderung mengandung faktor pelindung—serat, fermentasi (yogurt), dan lemak.

Ini mungkin merupakan petunjuk untuk mengungkap mengapa diet Atkin’s menjadi bubar jalan. Awalnya dibayangkan sebagai karbohidrat rendah, diet tinggi lemak, namun ia berevolusi menjadi Atkins versi 2.0 pada 1990-an. Meski masih rendah karbohidrat, kegilaan rendah lemak tersebut mengubah reboot Atkins sebagai karbohidrat rendah, rendah lemak namun tinggi protein. Penggemar Atkins berpaling dari makanan asli ke kreasi Frankenfood seperti milkshake protein yang dipermanis dengan fruktosa, makanan pengganti artifisial dan protein bar.

Perusahaan farmasi, seperti Matt Taibbi’s vampire squid yang tergila-gila dengan uang, memadamkan saluran darahnya menjadi sesuatu yang berbau DUIT, dibuat menjadi sangat hepi karena bisa menggaruk laba maksimal dengan menciptakan produk nutrisi baru dalam rangka memenuhi kegemaran baru ini. Boost.  Ensure.  Optifast.  Slimfast. Pernahkah Anda membaca ingredients of these meal replacements alias kandungan dari makanan pengganti ini? Ini akan membuat Anda ngeri. Susu protein, fruktosa, minyak canola, minyak kedelai dan multivitamin. Apakah ini terdengar baik untuk Anda? Atau periksa the ingredients of Atkins Nutritionals Bar, atau bar Atkins Nutritionals. Lapisan rasa coklat, lapisan rasa selai kacang, gliserin, campuran protein, selulosa, dll. Ada gliserol yang lebih menyeramkan daripada protein!

Sumber Gambar

Tidak menyadari sebuah fakta bahwa TIDAK semua karbohidrat secara inheren menggemukkan, mereka juga menghindari buah dan sayuran yang lezat dan bergizi. Hal ini membuat diet sulit ditoleransi dan sudah pasti, para pengikutnya tidak patuh. Ini bukan diet yang bisa Anda ikuti seumur hidup, meski banyak yang mengklaim telah mengikuti diet ini. Revolusi Diet Dr. Atkin telah selesai.

 

Ingin Langsing dan Ramping? Baca Tentang Epidemi Obesitas dan Diabetes di China

Sumber Gambar

Populasi dalam Transisi – Hormon obesitas 

Penduduk di China dan Timur Jauh secara perlahan telah mengembangkan epidemi diabetes dan obesitas yang populasinya nyaris meyusul Amerika Serikat. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, ada korelasi yang kuat antara obesitas dengan kenaikan asupan gandum dan gula. Dengan kedua komponen itu, kegemukan akan menggila dan merajalela.

Pada tahun 1990-an, studi INTERMAP menunjukkan bahwa makanan Cina sangat tinggi karbohidrat (beras putih) namun sangat rendah gula. Sehingga obesitas dan diabetes tingkatnya sangat rendah. Selama bertahun-tahun, hipotesis ini, menyebabkan si karbohidrat terbebas dari tuduhan sebagai penjahat utama penyebab kegemukan. Mereka beralasan, jika memang karbohidrat merupakan pelaku utama yang menyebabkan badan melar, seharusnya, di negara China kegemukan menjadi wabah.

By: Dokter Jason Fung

Namun, semua karbohidrat tidak setara. Gula, seperti telah kita beberkan sebelumnya, akan menggemukkan sebanyak dua kali lipat.

Gula mengandung glukosa dan fruktosa. Glukosa bisa meningkatkan insulin. Fruktosa jauh lebih berbahaya karena menyebabkan resistensi insulin.

Gandum, terutama dalam iterasi modern mungkin sangat menggemukkan karena berbagai alasan. Tingginya amilopektin berarti bahwa sebagian besar pati yang terkandung dalam tepung diubah secara efisien menjadi glukosa. Kombinasi mematikan gandum dan gula ini telah diperkenalkan ke dalam makanan Cina. Hasilnya adalah malapetaka diabetes di Cina. Prevalensi diabetes di China kini telah melampaui Amerika Serikat.

Inilah jawaban dari paradoks teka-teki kenapa Asia pemakan nasi tidak menggemuk. Mengapa orang Cina tidak memiliki epidemi diabetes pada tahun 1990 padahal mereka memakan nasi putih? Nah, karena mereka tidak makan gula (fruktosa), mereka tidak mengalami resistensi insulin. Karena mereka tidak ngemil sepanjang waktu, membuat periode tingkat insulin rendah selama beberapa jam, sehingga membantu mencegah mengguritanya resistensi insulin. Jadi, asupan nasi itu sendiri tidak membuat obesitas ataupun diabetes.

Begitu makanan mereka menjadi lebih kebarat-baratan, itu adalah bencana yang menunggu bom waktu. Dengan semakin tingginya asupan gula dan makan sepanjang waktu, resistensi insulin di hati mulai berkembang. Ditambah lagi dikombinasikan dengan asupan karbohidrat tinggi menyebabkan diabetes menjamur meski dengan tingkat obesitas jauh lebih rendah dari Amerika Serikat.

Grafik di bawah ini juga berguna untuk melihat Studi Migran Pulau Tokelau sebagai mikrokosmos dari apa yang terjadi sekarang di China. Kepulauan Tokelau adalah kelompok dari 3 atol karang kecil di Pasifik Selatan. Bagian dari Kerajaan Inggris sejak 1877, kedaulatan dipindahkan ke Selandia Baru pada tahun 1948. Makanan mereka didominasi oleh kelapa, ikan dan sukun. Jumlah lemak jenuh sangat tinggi karena mengonsumsi kelapa.

Pada tahun 1966, karena terancam kelebihan populasi, separuh penduduk asli dipindahkan ke Selandia Baru dimana makanan tradisional mereka mengalami perubahan cepat menjadi makanan Barat. Konsumsi makanan olahan modern seperti gula dan tepung meningkat lebih dari 6 kali lipat. Asupan gula meningkat dari 2% kalori menjadi 14% dalam 15 tahun.

Pada populasi tersebut ada peningkatan berat badan yang stabil. Rata-rata, pada tahun 1983 penduduk migran Tokelau naik berat badannya sekitar 11 pounds dibandingkan dengan non-migran, lanats lebih dari 20 pound lebih banyak pada tahun 1968.

Bagaimana dengan diabetes? Prevalensi diabetes hampir dua kali lipat. Dengan kata lain—sebuah malapetaka diabetes. Sama seperti China.

Karena diabetes hanyalah resistensi insulin tinggi, Anda dapat melihat bagaimana penambahan gula dan gandum secara signifikan meningkatkan resistensi insulin. Tingkat pengolahan yang tinggi juga akan cenderung menurunkan salah satu faktor pelindung utama—serat.

Lemak juga merupakan faktor pelindung alami yang telah diusir dari makanan tradisional. Dalam kasus Amerika Utara, hal itu memang sengaja dikurangi.

 Hal yang benar-benar menakutkan tentang semua ini, tentu saja, adalah bahwa jika kita tidak mengetahui penyebab epidemi diabetes, keadaan akan menjadi lebih buruk. Resistensi insulin menyebabkan peningkatan kadar insulin yang memberi umpan balik dan menyebabkan resistensi insulin lebih tinggi pada lingkaran setan yang klasik. Mbulet, alias tidak ada jalan keluar. Sangat mengerikan.

 

Sumber Gambar

Ingin Kurus dan Langsing? Waspadai Fruktosa dalam Gula


Sumber Gambar

Halo, Geng. Apa kabar?

Ini Sarah lagi. Eniwei, sebelum kita membahas ‘bahaya’ gula pasir yang jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan nasi atau roti (pati), saya ingin sedikit curhat. Hari ini saya stres agak berat. Penyebabnya saya sendiri sih. Saya pusing membaca tentang islam garis keras atau radikal or teroris yang mulai menancapkan kukunya perlahan tapi pasti. Saya sibuk membaca di… twitter. Akhirnya, setelah menulis status gak keru-keruan di sana, saya pun uninstall. Lega rasanya. Hal yang sama yang telah saya lakukan pada Facebook dan Whatsapp.

Dan saya kembali hepi, di sela-sela menerjemahkan jurnal dokter Fung, saya berolahraga lagi, berkeringat lagi. Jadinya hepi.

Oke, kembali ke topik kita mengenai gula. Di bawah ini, dokter Jason akan membahas bahaya fruktosa yang tersembunyi pada gula pasir (sukrosa). Yuuuuuk….

By: Dokter Jason Fung

Fruktosa dan fatty liver (Penyakit Hati Berlemak)
Kaitan antara fruktosa dan diebetes lebih erat dibandingkan teman sejawatnya—glukosa. Dari sudut pandang nutrisi, baik fruktosa maupun glukosa mengandung nutrisi yang esensial. Sebagai pemanis, keduanya serupa. Namun, fruktosa sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dibandingkan dengan glukosa karena metabolisme uniknya di dalam tubuh.

Cara tubuh memetabolisme keduanya sangat berbeda. Mengapa? Karena hampir setiap sel dalam tubuh dapat menggunakan glukosa untuk energi, namun sialnya, tidak ada satu pun yang bisa mengunakan fruktosa. Begitu fruktosa masuk ke dalam tubuh, hanya hati yang bisa memetabolismenya. Sementara glukosa dapat menyebar ke seluruh tubuh, kemudian setiap jaringan tubuh, dengan rakus akan menggunakannya sebagai energi. Tetapi fruktosa ditargetkan seperti peluru kendali yang langsung menembak hati.

Ketika sejumlah besar glukosa dimakan, dia akan beredar di hampir setiap sel di tubuh, muatannya akan disebar rata. Jaringan tubuh selain hati memetabolisme delapan puluh persen glukosa yang tertelan. Setiap sel dalam tubuh, termasuk jantung, paru-paru, otot, otak, dan ginjal membantu diri mereka terhadap prasmanan glukosa all-you-can-eat ini. Kemudian hanya tersisa dua puluh persen dari beban glukosa yang masuk agar hati bisa mengepel sisanya. Jika ada kelebihan glukosa, maka mereka akan diubah menjadi glikogen untuk cadangan makanan, lantas meninggalkan sedikit glukosa saja sebagai substrat untuk produksi lemak baru.

Hal yang sama TIDAK BERLAKU untuk fruktosa. Sejumlah besar fruktosa yang tertelan masuk, langsung ke hati, karena tidak ada sel lain yang dapat membantu memanfaatkan atau memetabolismenya, sehingga akan memberikan tekanan yang signifikan pada hati. Tingkat karbohidrat dan insulin mungkin 10 kali lebih tinggi di sini daripada di bagian lain. Dengan demikian hati terkena kadar karbohidrat jauh lebih tinggi—baik fruktosa dan glukosa daripada organ lainnya. (Kasihan si hati)

Analoginya adalah, hasilnya akan berbeda antara memukul dengan palu dibandingkan dengan jarum jahit, menekan dengan palu semua pukulan di arahkan pada satu titik. Dan sukrosa (gula pasir) menyediakan baik glukosa maupun fruktosa. Dimana glukosa akan dimetabolisme oleh 170 pon jaringan rata-rata manusia, sementara fruktosa akan dimetabolime dengan sesak napas dan ngos-ngosan hanya oleh si hati yang beratnya tidak lebih dari 5 pound. Artinya, fruktosa akan menyebabkan 20 kali lebih banyak terjadinya fatty liver (masalah utama resistensi insulin). Ini menjelaskan mengapa banyak masyarakat primitif sanggup menoleransi karbohidrat yang dikonsumsi dengan sangat ekstrim tanpa menyebabkan hiperinsulinemia atau resistensi insulin.


Kaget ya? Sumber Gambar

Hati memetabolisme fruktosa, glukosa, laktosa menjadi glikogen. Khusus untuk fruktosa, tidak ada batasan pada sistem metabolisme. Semakin banyak Anda makan, semakin Anda memetabolisme. Ketika gudang glikogen yang kapasitasnya terbatas telah penuh, kelebihan fruktosa diubah langsung menjadi lemak hati melalui de novo lipogenesis. Kelebihan fruktosa dapat meningkatkan DNL lima kali lipat, dan meningkatkan lemak hati hingga 38% hanya dalam delapan hari. Justru hati berlemak ini sangat krusial bagi perkembangan resistensi insulin.

Kecenderungan Fructose menyebabkan fatty liver unik di antara karbohidrat. Hati berlemak secara langsung menyebabkan pengaturan resistensi insulin dalam gerakan lingkaran setan hiperinsulinemia—resistensi insulin. Selain itu, efek fruktosa yang berbahaya ini tidak menyebabkan glukosa darah menjadi tinggi atau kadar insulin dalam darah tidak menimbulkan malapetaka. Selanjutnya, efek penggemukan ini, karena ia bertindak melalui hati berlemak dan resistensi insulin, tidak dapat dilihat dalam jangka pendek—hanya dalam jangka panjang.

Metabolisme etanol (alkohol) sangat mirip dengan fruktosa. Setelah tertelan, jaringan hanya bisa memetabolisme 20% alkohol yang menyebabkan 80% dikirim langsung ke hati, yang mana dimetabolisme menjadi asetaldehid, yang merangsang de novo lipogenesis. Intinya alkohol itu mudah berubah menjadi lemak hati.

Konsumsi etanol yang berlebihan merupakan penyebab fatty liver yang populer. Karena hati berlemak merupakan langkah signifikan yang akan menapak pada resistensi insulin, tidak mengherankan jika penggunaan etanol yang berlebihan juga merupakan faktor risiko untuk pengembangan sindrom metabolik.

Fruktosa dan resistensi insulin
Pengetahuan tentang menelan fruktosa dalam jumlah banyak dapat memicu resistensi insulin, sebenarnya, telah diketahui sejak tahun 1980. Subjek sehat yang diberi makan fruktosa 1000 kalori per hari menunjukkan sensitif insulin yang memburuk sebanyak 25%—hanya dalam jangka waktu tujuh hari! Mereka yang diberi tambahan 1000 kalori per hari glukosa tidak menunjukkan kemunduran yang serupa.
Sebuah studi 2009 yang lebih baru menguatkan betapa mudahnya fruktosa menginduksi resistensi insulin pada sukarelawan yang sehat. Subyek diberi makan 25 persen kalori harian mereka dengan Kool-Aid (minuman manis yang mengandung glukosa dan fruktosa). Banyak orang mengkonsumsi gula dalam jumlah tinggi ini dalam makanan mereka. Fruktosa, tapi bukan kelompok glukosa, telah meningkatkan resistensi insulin mereka sehingga mereka secara klinis diklasifikasikan sebagai pra-diabetes. Yang lebih luar biasa lagi, kondisi memburuk ini hanya membutuhkan waktu delapan minggu.


Fruktosa terdapat dalam buah-buahan juga. Jangan mengonsumsi buah terlalu banyak.

Hanya dibutuhkan enam hari fruktosa menggunung di tubuh kita dan menggiring pada resistensi insulin. Hanya butuh delapan minggu untuk memungkinkan pra-diabetes untuk membangun tempat pijakan yang kokoh. Apa yang terjadi setelah puluhan tahun mengkonsumsi fruktosa tinggi? Hasilnya adalah bencana diabetes; tepatnya, apa yang terjadi dewasa ini. Konsumsi berlebihan fruktosa merangsang hati berlemak dan mengarah langsung pada resistensi insulin.

Pasti ada sesuatu yang mengerikan tentang menelan fruktosa berlebihan. Ya, Dr. Robert Lustig benar. Gula adalah toksin.

Faktor toksisitas
Fruktosa sangat beracun karena beberapa alasan.
1. Pertama, metabolisme fruktosa hanya terjadi di dalam hati, sehingga hampir semua fruktosa yang tertelan menjadi tersimpan sebagai lemak baru. Sebaliknya, semua sel dapat membantu metabolisme glukosa.

2. Kedua, fruktosa dimetabolisme tanpa batas. Menelan fruktosa lebih banyak menyebabkan hepatic de novo lipogenesis dan melumuri hati dengan lebih banyak lemak. Tidak ada rem alami untuk memperlambat produksi lemak baru. Fruktosa secara langsung merangsang DNL secara independen dari insulin, karena fruktosa memiliki efek minimal pada glukosa darah atau kadar insulin serum yang tidak signifikan. Metabolisme fruktosa kurang diatur dengan ketat. Dengan demikian, bisa membanjiri mesin ekspor hati yang menyebabkan penumpukan lemak berlebihan di hati. Kita akan berbicara lebih banyak tentang bagaimana hati mencoba melepaskan diri dari lemak yang baru dibuat di bab berikutnya.

3. Ketiga, tidak ada jalur limpasan alternatif untuk fruktosa. Kelebihan glukosa disimpan dengan aman dan mudah di hati sebagai glikogen. Bila diperlukan, glikogen dipecah kembali menjadi glukosa sehingga memudahkan tubuh untuk mendapat energi. Fruktosa tidak memiliki mekanisme penyimpanan yang mudah. Hal ini dimetabolisme menjadi lemak, yang tidak mudah dibalikkan.
Sementara fruktosa adalah gula alami, dan bagian dari makanan manusia sejak zaman purba, kita harus selalu mengingat asas pertama toksikologi. Dosisnya membuat racun. Tubuh memiliki kemampuan untuk menangani sejumlah kecil fruktosa. Dan ini tidak berarti bahwa tubuh dapat menangani jumlah yang tidak terbatas tanpa konsekuensi kesehatan yang merugikan.


Sumber Gambar

Kesimpulan
Fruktosa pernah dianggap tidak berbahaya karena indeks glikemiknya rendah. Dalam jangka pendek, ada beberapa risiko kesehatan yang jelas. Sebaliknya, fruktosa menggunakan toksisitasnya terutama melalui efek jangka panjang pada lemak hati dan resistensi insulin. Efek ini telah diukur beberapa kali dalam beberapa dasawarsa, yang menyebabkan perdebatan sengit.

Sukrosa (gula pasir) atau sirup jagung fruktosa tinggi, dengan bagian glukosa dan fruktosa yang hampir sama, oleh karena itu memainkan peran ganda dalam obesitas dan diabetes tipe 2. Ini bukan sekadar ‘kalori kosong’. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan karena orang-orang tidak sadar dengan apa yang terjadi.

Glukosa adalah karbohidrat olahan yang secara langsung merangsang insulin. Tetapi, sebagian besar bisa langsung dibakar untuk energi sehingga hanya sedikit yang bisa dimetabolisme di hati. Meski begitu, konsumsi glukosa yang sangat tinggi juga bisa menyebabkan fatty liver. Efek glukosa segera terlihat dalam glukosa darah dan respon insulin.

Konsumsi fruktosa yang lebay secara langsung menghasilkan fatty liver, yang pada gilirannya secara langsung menciptakan resistensi insulin. Kemungkinan fruktosa menyebabkan fatty liver besarnya lima sampai sepuluh kali lebih besar dibandingkan glukosa. Ini memicu lingkaran setan. Resistensi insulin menyebabkan hiperinsulinemia, untuk ‘mengatasi’ resistensi ini. Namun, ini menjadi bumerang, karena hiperinsulinemia, yang diperparah oleh beban glukosa yang menyertainya, menyebabkan resistensi insulin lebih lanjut.


Kool Aid, tinggi fruktosa

Oleh karena itu, gula pasir merangsang produksi insulin baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Dengan cara ini, gula pasir jauh, jauh lebih mengancam daripada pati yang mengandung glukosa, seperti amilopektin. Melihat indeks glikemik, efek glukosa sudah jelas, namun efek fruktosa benar-benar tersembunyi. Fakta ini telah lama menyesatkan ilmuwan sehingga mengganggap gula sebagai warga kelas dua dalam obesitas. Gula adalah bahaya laten. Diam, namun menghanyutkan.

Karena sifatnya yang tersembunyi itu, efek menggemuk dan memicu resistensi insulin selama bertahun-tahun atau bahkan beberapa dekade tidak terlalu tampak. Studi pemberian makanan jangka pendek benar-benar tidak memunculkan bahaya fruktosa. Sebuah analisis sistemik baru-baru ini, dengan menganalisis banyak penelitian yang berlangsung kurang dari seminggu, menyimpulkan bahwa fruktosa tidak menunjukkan efek khusus di luar kalori. Namun efek fruktosa, begitu pula obesitas, berkembang selama beberapa dekade, bukan berminggu-minggu. Jika kita menganalisa hanya studi jangka pendek tentang merokok, kita mungkin membuat kesalahan yang sama dan menyimpulkan bahwa merokok tidak menyebabkan kanker paru-paru.

Menyingkirkan gula dan permen selalu menjadi langkah awal dalam mengurangi berat badan di hampir semua makanan sepanjang sejarah. Gula pasir bukan sekadar kalori kosong atau karbohidrat olahan. Ini jauh lebih berbahaya, karena merangsang insulin dan resistensi insulin secara bersamaan. Nenek moyang kita selalu mengetahui fakta ini, meski mereka tidak mengetahui fisiologi.

Kita telah mencoba menyangkal hal ini selama 50 tahun karena obsesi kita terhadap kalori. Dalam usaha kita untuk menyalahkan semua hal pada kalori, kita belum menyadari bahaya inheren dari konsumsi berlebihan fruktosa. Tapi sebenarnya, bau bangkai tidak akan bisa disembunyikan selamanya, kita tidak bisa memungkiri sebuah kebenaran selamanya, dan ada harga untuk kedunguan kita. Kita membayar untuk the caloric pied piper dengan epidemi kembar diabetes tipe 2 dan obesitas. Tapi efek gula yang bisa menggemukan namun cukup spesial akhirnya bisa dikenali lagi. Ini adalah kebenaran yang telah lama ditenggelamkan.

Jadi, ketika Dr. Lustig mempresentasikan on a lonely stage in 2009 dan menyatakan bahwa gula itu beracun, dunia mendengarkan dengan penuh perhatian. Karena profesor endokrinologi ini mengatakan sesuatu kepada kita, secara naluriah kita tahu benar. Terlepas dari semua omong kosong dan kepastian bahwa gula tidak menjadi masalah, dunia sudah tahu, di dalam hatinya, kebenaran sebenarnya. Gula adalah toksin.