Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Cara Menghancurkan Lemak Tubuh

Sumber Gambar

Kamu tahu, model teori obesitas yang jadul dan terbelakang? Di bawah ini gambarnya.

Kesimpulannya, makan banyak disebabkan karena adanya hormon mediasi, dan bukan karena orang itu rakus. Dan fakta lain yang lebih mencengangkan, makan banyak tidak menyebabkan kita menggemuk, dan makan sedikit tidak menyebabkan kita menjadi ramping. Mungkin bisa saja kamu melangsing, tapi dengan mengurangi porsi, kamu akan mengalami diet yoyo, alias bisa sih jadi ramping, tapi tidak permanen. Untuk bukti yang lebih WOW mari kita menilik kasus Sam Feltham.

Smash the Fat – Calories Part XI

Ini didasari karena adanya ambigu antara eksperimen overeating (makan banyak) versi purbakala dan jaman now alias kekinian, Sam Feltham memutuskan untuk melakukan penelitian fantastis dengan objek dirinya sendiri. Dia makan sebanyak 5 ribu kalori/ hari, dengan komposisi rendah karbohidrat, tinggi lemak (LCHF) dengan menu alami (bukan makanan palsu a.k.a olahan) selama 21 hari. Dasar penelitiannya adalah sebuah premis bahwa yang menyebabkan badan kita membulat bukan karena kalori yang berlebihan namun karena konsumsi karbohidrat olahan. Jika premis itu benar, maka ia tidak akan menggemuk meski jumlah kalorinya sangat tinggi (ingat, tingkat karbohidrat berada di level seminimal mungkin, tingginya kalori berasal dari lemak alami). Wunderbar!

By: Dokter Jason Fung

Contoh dietnya bisa dilihat di sini. Total kalori 5.794 per hari dengan makronutrisi terdiri dari karbohidrat 10%, lemak 53%, dan protein 37%. Jika mengikuti kalkulasi perhitungan kalori standar, seharusnya berat badannya menjadi 7,3 kg. Aktualnya, berat badannya hanya naik sebanyak 1,3 kg.

Yang lebih membuat kita terpelanting lagi adalah, ukuran pinggangnya malah mengecil sekitar 3 cm, yang artinya, memang benar berat badannya naik, namun berupa masa otot. Jika kamu perhatikan lebih seksama, kelebihan kalori tidak membuat kita menimbun lemak. Skala simpel kalori-masuk versus kalori-keluar sungguh tidak relevan.

Lantas, ada beberapa orang yang beradu pendapat bahwa Sam memiliki metabolisme yang cepat, tidak peduli apa yang dia makan, dia tidak akan menggemuk. Benarkah seperti itu? Apa yang akan terjadi jika Sam menendang diet LCHF (rendah karbohidrat tinggi lemak)? Apa yang akan terjadi jika Sam mengonsumsi 5.000 kalori tetapi mengikuti standar American Diabetes Association yang mana tinggi akan asupan karbohidrat?

Hasilnya sungguh brilian. Selama 21 hari dengan diet tinggi karbohidrat sebanyak 5.000 kalori. Lebih dari 21 hari, ia makan 5.793 kalori/ hari dengan makanan palsu yang terdiri dari tepung dan gula.

Makronutrisinya terdiri dari:

  1. Karbohidrat sebanyak 64%.
  2. Lemak sebesar 22%.
  3. Protein porsinya 14%.

Menariknya, ini serupa benar dengan apa yang direkomendasikan oleh para ahli gizi kepada kita. Lantas, bagaimana hasilnya? Apakah dengan kalori yang sama ia menggemuk atau meramping? Kamu bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri, berat badannya naik, dan sesuai dengan prediksi formula kalori—naik sebanyak 7.1 kg. Ukuran pinggang melar menjadi 9,25 cm.

Lihatlah gambarnya! Lipatan dagu yang aduhai, Batman. Hanya dalam jangka waktu 21 hari, cowok ganteng ini juga mempunyai love handles alias lipatan pinggang. Inilah yang akan terjadi jika kamu menuruti apa kata badan otoritas obesitas.

Sekarang kamu sudah mendapat gambaran yang sangat jelas, kan? Ada sesuatu yang lebih rumit daripada mengurangi kalori. Dengan jumlah kalori yang sama, satu diet—rendah karbohidrat, tinggi lemak, makanan natural, membuat kita meramping (ukuran pinggang pun mengecil). Di sisi lain, gaya diet standar yang disarankan oleh American Heart Association malah menaikkan berat badan kita sebanyak 15 pound. Jadi, penyebabnya bukan kelebihan kalori dong. Sepakat? Jika kita bersikap cuek pada model CRAP dan kalori, kemudian kita bisa fokus pada pertanyaan yang relevan.

Apa yang menyebabkan badan menggemuk? Apa etiologi obesitas? Pastinya bukan menghitung kalori.

Kita telah mendapatkan realita bahwa tubuh mempunyai setelan tertentu untuk berat badan. Jika kamu mencoba menaikkannya, tubuh akan mengupayakan agar dia kembali melangsing. Jika kamu berusaha menurunkannya, tubuh malah melonjakkan timbangan. Jadi, pertanyaan super pentingnya, apa yang mengontrol pengaturan berat badan?

Satu-satunya cara untuk mengurangi berat badan dengan sukses adalah dengan menurunkan BSW. Tetapi, kita bisa melakukan hal itu jika kita mengerti apa yang mengatur termostat berat badan?

Analoginya begini. Katakanlah kamu mengatur termostrat di rumahmu menjadi 30 celcius, yang mana sangat panas dan bikin uring-uringan. Supaya menjadi sejuk, kamu membeli AC. Memang sih, AC telah mendinginkan ruangan, namun termostatmu menyalakan heater sehingga AC dan heater saling beradu dan berkelahi satu sama lain.

Nah, begitu pula dengan berat badan. Kita mengurangi kalori, namun mengabaikan BSW. Kamu mencoba melangsing, namun tubuhmu mengembalikan lagi berat yang hilang. Kita lapar. Metabolisme mulai dimatikan.

Bukankah jauh lebih mudah jika kita mengatur termostat menjadi 21 celsius—temperatur yang nyaman, dibandingkan melawan tubuh kita sendiri? Alasan mengapa diet sangat sulit karena kita berantem dengan tubuh kita sendiri. Dan inilah tantangan selanjutnya, kita harus mencari tahu, apa yang sebenarnya mengendalikan BSW?

Ingin Kurus dan Langsing? Baca Tentang Insulin Menyebabkan Resistensi Insulin

Sumber Gambar

Apakah Penyebab Resistensi Insulin? Ternyata Insulin juga, Bro. Hormon Obesitas X

Kadar insulin bisa semakin tinggi jika kita mengalami insulin resisten. Trus emang kenapa? Apakah insulin resisten masalah besar buat gue? Ya. Problematika yang sangat spektakuler. Mengapa? Karena melonjaknya level insulin akan membuat Anda semakin bulat dan berpenyakit obesitas. Kali ini, kita akan mengeksplorasi dan mengupas kulit demi kulit hingga sampai di bagian inti. Untuk memulai teori hormon obesitas silakan buka Hormonal Obesity part I, click here.

By: Dokter Jason Fung

Pertanyaan susulannya adalah,

APA YANG SEBENARNYA MENYEBABKAN INSULIN RESISTEN? 

Jawabannya, sudah ada di judul postingan saya (Ha ha). Namun jika kita menilik sistem biologis, mari kita main tebak-tebakan. Menurut saya, tembakan jitu untuk membahas hal ini adalah dengan membongkar insulin itu sendiri. Jadi, apakah insulin membikin insulin resisten? Mari kita lihat buktinya.

Ada tumor langka yang disebut insulinomas yang mengeluarkan insulin dalam jumlah besar yang abnormal. Dalam kasus ini, pasien akan mengalami peningkatan insulin padahal mereka tidak makan apa-apa. Apa sih salah mereka? Dan apakah kenaikan insulin pada penderita tumor ini menyebakan insulin resisten?

Artikel ini Patients with insulinoma show insulin resistance in the absence of arterial hypertensionpasien dengan insulinoma menunjukkan resistensi insulin dan absen dari hipertensi arterial” menjawab pertanyaan itu.

Jika kita menyimak grafiknya, insulin dalam tubuh akan naik dan turun, begitu pula dengan resistensi insulin. Ini adalah cara tubuh kita melindungi diri sendiri, dan tentunya ini sangat baik.

Jika tubuh tidak mengalami resistensi terhadap insulin, kadar insulin yang tinggi dengan cepat akan menyebabkan gula darah sangat rendah, luar biasa rendah. Hipoglikemia berat ini akan menyebabkan kejang dan kematian dengan mendadak. Karena kita tidak ingin mati, tubuh memproteksi diri dengan mengembangkan resistensi insulin. Ini adalah tindakan yang brilian.

Lantas bagaimana cara menghilangkan insulinoma, tentu saja melalui operasi. Dengan melakukan this reverses the insulin resistance bisa menjungkirbalikan resistensi insulin dan kondisi ini bahkan berasosiasi dengan acanthosis nigricans. Intinya adalah, insulin yang tinggi menyebabkan resistensi insulin. Menurunkan insulin bisa mengusir insulin resisten.

Perawatan biasa dari kondisi ini adalah operasi untuk menghilangkan insulinoma. Melakukan hal ini membalikkan resistensi insulin dan bahkan kondisi terkait seperti acanthosis nigricans. Intinya adalah ini – kadar insulin yang tinggi menyebabkan resistensi insulin. Mengambil tingkat insulin tinggi akan membalikkan resistensi insulin.

Sumber Gambar

Langkah selanjutnya, apakah kita bisa membuat manusia mengalami resistensi insulin. Ini adalah yang telah mereka lakukan pada paper selanjutnya Production of insulin resistance by hyperinsulinemia in man” Diabetologia 28:70 –75, 1985 Rizza RA12 partisipan yang tidak mengalami kegemukan diberi waktu selama 40 jam. Satu grup diberikan dosis insulin yang tinggi dan semakin dinaikkan dosisnya, dan grup lain diberikan saline (grup yang dikontrol)

Gula darah tetap stabil dengan infus glukosa. Pada akhir percobaan, subjek diuji untuk mengetahui apakah resistensi insulin telah berkembang. Subjek yang memiliki infus insulin menunjukkan kemampuan 15% lebih rendah untuk menggunakan glukosa dibandingkan dengan yang tidak menerima insulin. Dengan cara lain, kelompok insulin mengembangkan resistensi insulin 15% lebih besar.

Implikasinya adalah ini—saya bisa membuat Anda resisten terhadap insulin. Saya bisa membuat setiap manusia di muka bumi ini mengalami insulin resisten. Yang perlu saya lakukan adalah memberi mereka insulin. Insulin menyebabkan resistensi insulin.

Studi lain menunjukkan hal yang sama, namun dengan dosis insulin fisiologis. Effect of sustained physiologic hyperinsulinemia and hyperglycemia on insulin secretion and insulin sensitivity in man Diabetologia Oct1994, Vol37, Iss 10, 1025-1035 Del Prato S. Penelitian sebelumnya menggunakan dosis insulin yang jauh lebih tinggi daripada yang terlihat secara alami. Penelitian ini menggunakan dosis insulin yang sering terlihat pada manusia.

Subjek penelitian adalah 15 pemuda sehat. Mereka diberi 96 jam infus insulin konstan. Subjek ini tidak gemuk, tidak pre-diabetes atau diabetes. Mereka adalah subyek sehat normal. Setelah 96 jam infus insulin, sensitivitas insulin mereka turun sebesar 20-40%.

Implikasinya sangat mengejutkan. Saya bisa membuat insulin resisten kepada pria kurus sehat ini. Karena diabetes tipe 2 adalah semua tentang resistensi insulin, itu berarti bahwa saya bisa membuat manusia sesehat apa pun mengalami resistensi insulin hanya dalam jangka waktu tiga hari. Tingginya level insulin bisa menyebabkan insulin resisten. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan sama seperti bayangan pada tubuh.

Sumber Gambar

Kita bisa melihat pola yang sama persis pada pasien diabetes tipe 2. Mari kita lihat studi menarik ini Intensive Conventional Insulin Therapy for Type II Diabetes Perawatan Diabetes 1993 16: 23-31 Henry RR. Pemikiran konvensional (dan yang keliru) pada saat itu adalah, mengendalikan gula darah adalah bagian terpenting dari diabetes.

Anda mungkin berpikir bahwa semakin lihai Anda mengendalikan gula, semakin baik diabetes dan Anda akan lebih sehat. Anda mungkin juga amburadul dan menyebabkan kerusakan tingkat tinggi yang tidak dapat diperbaiki lagi.

Tetapi, itu adalah pemikiran konvensional. Jadi mereka memilih penderita diabetes tipe 2 ini dan mengintensifkan pengobatan insulin mereka untuk mengendalikan gula darah secara ketat. Mereka memulai tanpa insulin, kemudian selama 6 bulan mengkonsumsi 100 unit sehari. Gula di dalam darah itu sangat, sangat terkontrol dengan perfek.

Namun apa yang terjadi dengan resistensi insulin mereka? Semakin banyak insulin yang mereka konsumsi,  resistensi insulin mereka semakin menanjak. Karena diabetes adalah penyakit resistensi insulin, itu berarti diabetes mereka semakin parah! Tingkat insulin yang tinggi menyebabkan resistensi insulin.

Di sinilah segala sesuatunya menjadi sangat menarik. Saya juga mengatakan bahwa insulin menyebabkan obesitas. Jika ini benar, Anda bisa berharap bahwa saat kita meningkatkan dosis insulin dari nol menjadi 100 unit/ hari selama 6 bulan, pasien akan menggemuk. Yup, memang betul, itulah yang terjadi. Berat badan pasien bertambah menjadi 8,7 kg (19 lbs) selama 6 bulan.

Sumber Gambar

Tapi perhatikan baik-baik asupan kalori mereka. Mereka mengonsumsi kurang dari 300 kalori pada awal penelitian. Jika Anda yakin tentang teori Pengurangan Kalori sebagai Primer (CRAP)—semua tentang mengurangi kalori—Anda akan menggaruk kepala Anda dengan bertanya-tanya bagaimana Anda bisa mengurangi 300 kalori per hari dan masih berat badan Anda bertambah hampir 20 pound.

 Tapi kita tahu bahwa kalori memang sama sekali tidak penting, tidak signifikan. Pertanyaan mayor dalam obesitas adalah: Apa yang mendorong insulin saya? Karena tingkat insulin naik, tubuh akan menimbun lemak. Mengurangi asupan kalori tidak berpengaruh apa pun. Jika kita mengurangi kalori, tubuh akan memangkas kalori yang dibakar dan membuat kita semakin gemuk. Jadi gimana dong? Jawabannya adalah insulin menyebabkan kita menumpuk lemak.

Itu membawa kita kembali ke pertanyaan tentang kenapa kita menggemuk? Insulin mendorong kenaikan berat badan. Tapi apa yang mendorong insulin? Hipotesis Karbohidrat-Insulin mengasumsikan bahwa asupan karbohidrat mendorong insulin, tapi itu tidak lengkap. Insulin sendiri akan mendorong resistensi insulin yang akan meningkatkan insulin dalam siklus self-reinforcing.

Semakin lama dan semakin tinggi kadar insulin, semakin tinggi resistensi insulin. Semakin tinggi resistansi, insulin semakin melonjak. Inilah yang menggerakkan efek ketergantungan waktu dari obesitas. The fat get fatter. Si gendut semakin bulat. Jika Anda mengalami obesitas dalam jangka waktu yang sudah cukup lama, maka semakin sulit untuk membasminya. Insulin menyebabkan kegemukan.

Semua orang tahu tentang kegemukan tergantung pada waktu. Namun, pemikiran terkini tentang obesitas sama sekali mengabaikan efek ini meskipun jelas terlihat bagi siapa saja dan semua orang. Karena diabetes tipe 2 adalah semua tentang resistensi insulin—ini juga membawa kita pada kesimpulan yang tak terhindarkan bahwa insulin merupakan penyebab diabetes.

Insulin menyebabkan obesitas dan diabetes. Inilah ilmu baru dari Diabesity. Dengan pemahaman baru ini, mengarah pada kemungkinan baru untuk penyembuhan penyakit diabetes. Jika kadar insulin tinggi adalah penyebabnya, maka penyembuhannya adalah menurunkan kadar insulin. Kita bisa menyembuhkan diabetes tipe 2 tanpa obat? Beneran, nih? Ya, tapi kita masih punya beberapa PR sebelum kita tiba di sana.

Ingin Langsing dan Ramping? Baca Tentang Epidemi Obesitas dan Diabetes di China

Sumber Gambar

Populasi dalam Transisi – Hormon obesitas 

Penduduk di China dan Timur Jauh secara perlahan telah mengembangkan epidemi diabetes dan obesitas yang populasinya nyaris meyusul Amerika Serikat. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, ada korelasi yang kuat antara obesitas dengan kenaikan asupan gandum dan gula. Dengan kedua komponen itu, kegemukan akan menggila dan merajalela.

Pada tahun 1990-an, studi INTERMAP menunjukkan bahwa makanan Cina sangat tinggi karbohidrat (beras putih) namun sangat rendah gula. Sehingga obesitas dan diabetes tingkatnya sangat rendah. Selama bertahun-tahun, hipotesis ini, menyebabkan si karbohidrat terbebas dari tuduhan sebagai penjahat utama penyebab kegemukan. Mereka beralasan, jika memang karbohidrat merupakan pelaku utama yang menyebabkan badan melar, seharusnya, di negara China kegemukan menjadi wabah.

By: Dokter Jason Fung

Namun, semua karbohidrat tidak setara. Gula, seperti telah kita beberkan sebelumnya, akan menggemukkan sebanyak dua kali lipat.

Gula mengandung glukosa dan fruktosa. Glukosa bisa meningkatkan insulin. Fruktosa jauh lebih berbahaya karena menyebabkan resistensi insulin.

Gandum, terutama dalam iterasi modern mungkin sangat menggemukkan karena berbagai alasan. Tingginya amilopektin berarti bahwa sebagian besar pati yang terkandung dalam tepung diubah secara efisien menjadi glukosa. Kombinasi mematikan gandum dan gula ini telah diperkenalkan ke dalam makanan Cina. Hasilnya adalah malapetaka diabetes di Cina. Prevalensi diabetes di China kini telah melampaui Amerika Serikat.

Inilah jawaban dari paradoks teka-teki kenapa Asia pemakan nasi tidak menggemuk. Mengapa orang Cina tidak memiliki epidemi diabetes pada tahun 1990 padahal mereka memakan nasi putih? Nah, karena mereka tidak makan gula (fruktosa), mereka tidak mengalami resistensi insulin. Karena mereka tidak ngemil sepanjang waktu, membuat periode tingkat insulin rendah selama beberapa jam, sehingga membantu mencegah mengguritanya resistensi insulin. Jadi, asupan nasi itu sendiri tidak membuat obesitas ataupun diabetes.

Begitu makanan mereka menjadi lebih kebarat-baratan, itu adalah bencana yang menunggu bom waktu. Dengan semakin tingginya asupan gula dan makan sepanjang waktu, resistensi insulin di hati mulai berkembang. Ditambah lagi dikombinasikan dengan asupan karbohidrat tinggi menyebabkan diabetes menjamur meski dengan tingkat obesitas jauh lebih rendah dari Amerika Serikat.

Grafik di bawah ini juga berguna untuk melihat Studi Migran Pulau Tokelau sebagai mikrokosmos dari apa yang terjadi sekarang di China. Kepulauan Tokelau adalah kelompok dari 3 atol karang kecil di Pasifik Selatan. Bagian dari Kerajaan Inggris sejak 1877, kedaulatan dipindahkan ke Selandia Baru pada tahun 1948. Makanan mereka didominasi oleh kelapa, ikan dan sukun. Jumlah lemak jenuh sangat tinggi karena mengonsumsi kelapa.

Pada tahun 1966, karena terancam kelebihan populasi, separuh penduduk asli dipindahkan ke Selandia Baru dimana makanan tradisional mereka mengalami perubahan cepat menjadi makanan Barat. Konsumsi makanan olahan modern seperti gula dan tepung meningkat lebih dari 6 kali lipat. Asupan gula meningkat dari 2% kalori menjadi 14% dalam 15 tahun.

Pada populasi tersebut ada peningkatan berat badan yang stabil. Rata-rata, pada tahun 1983 penduduk migran Tokelau naik berat badannya sekitar 11 pounds dibandingkan dengan non-migran, lanats lebih dari 20 pound lebih banyak pada tahun 1968.

Bagaimana dengan diabetes? Prevalensi diabetes hampir dua kali lipat. Dengan kata lain—sebuah malapetaka diabetes. Sama seperti China.

Karena diabetes hanyalah resistensi insulin tinggi, Anda dapat melihat bagaimana penambahan gula dan gandum secara signifikan meningkatkan resistensi insulin. Tingkat pengolahan yang tinggi juga akan cenderung menurunkan salah satu faktor pelindung utama—serat.

Lemak juga merupakan faktor pelindung alami yang telah diusir dari makanan tradisional. Dalam kasus Amerika Utara, hal itu memang sengaja dikurangi.

 Hal yang benar-benar menakutkan tentang semua ini, tentu saja, adalah bahwa jika kita tidak mengetahui penyebab epidemi diabetes, keadaan akan menjadi lebih buruk. Resistensi insulin menyebabkan peningkatan kadar insulin yang memberi umpan balik dan menyebabkan resistensi insulin lebih tinggi pada lingkaran setan yang klasik. Mbulet, alias tidak ada jalan keluar. Sangat mengerikan.

 

Sumber Gambar

Ingin Langsing dan Kurus baca tentang Lemak Jenuh

Sumber Gambar

Lemak Jenuh Sebagai Efek Pelindung Untuk Penyakit Kardiovaskular—Hormon Obesitas

Lemak jenuh yang dipercaya sebagai racun ternyata malah menjadi sosok pahlawan pasca lemak transnya dilucuti. Dengan kata lain, lemak jenuh tidak berbahaya, tidak seperti yang telah digembar-gemborkan selama ini. Dan telah banyak penelitian menunjukkan fakta bahwa ada kemungkinan  lemak jenuh merupakan faktor protektif terhadap penyakit jantung. Studi “Dietary fats, carbohydrate, and progression of coronary atherosclerosis in postmenopausal women” memeriksa perkembangan angiografi penyakit koroner dan hubungannya dengan diet.

By: Dokter Jason Fung

Angiogram adalah tes jantung standar dimana pewarna dimasukkan ke urat arteri di sekitar jantung untuk menentukan apakah ada penyumbatan. Melihat 235 wanita dengan penyakit jantung menahun, mereka mengukur angiogram awal dan mengulanginya rata-rata 3,1 tahun. Mereka kemudian melihat diet para wanita ini untuk melihat apakah ada pola.

Mereka membagi wanita-wanita ini ke dalam kelompok sesuai dengan asupan lemak mereka, tampaknya tidak ada hubungan sama sekali. Wanita yang paling banyak mengkonsumsi lemak memiliki sedikit penyumbatan dibandingkan mereka yang memakan lemak paling sedikit. Diet rendah lemak malah yang paling banyak tersumbat.

Satu Makro nutrien yang menonjol dan terlihat sangat menyeramkan adalah karbohidrat. Asupan karbohidrat tertinggi dikaitkan dengan tingkat penyumbatan jantung tertinggi.

Tidak terlihat terlalu bagus untuk hipotesis Diet-Jantung. Orang-orang yang sedang mengikuti diet ala American Heart Association menyetujui diet rendah lemak membuat mereka berpenyakit jantung. Orang-orang yang mengonsumsi makanan berlemak tinggi malah tidak mengalami masalah.

Jenis lemak makanan selanjutnya dibagi untuk melihat apakah semua lemak jenuh alami memang berbahaya bagi kesehatan manusia. Kelompok yang mengonsumsi lemak paling jenuh memiliki regresi penyumbatannya. Penyakit jantung mereka mencair! Di sisi lain, kelompok yang mengonsumsi lemak jenuh paling sedikit penyakitnya malah semakin menjadi-jadi.

Mengamati industri minyak nabati, tampak bahwa mengonsumsi lebih banyak minyak ini cenderung diasosiasikan dengan progres yang semakin buruk. Tunggu sebentar. Bukankah minyak nabati ini seharusnya ‘sehat bagi jantung’? Bukankah lemak jenuh seharusnya menyumbat arteri? Sepertinya efeknya adalah kebalikan dari apa yang telah diajarkan. Ini juga bukan sekadar studi rinky dink. Buku itu ditulis oleh Dr. Mozaffarian dari sebuah sekolah kecil yang dikenal sebagai Harvard.

Lemak jenuh tidak buruk, mereka baik untuk kesehatan.

Studi besar lainnya Dietary fat intake and early mortality patterns – data from The Malmo Diet and Cancer Study diikuti lebih dari 29.000 subjek di atas 6,6 tahun. Di antara wanita, peningkatan asupan lemak jenuh dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung secara signifikan lebih rendah. Sekali lagi, tidak terlihat terlalu baik untuk Diet-Heart Hipotesis. Mengonsumsi lemak jenuh justru sangat aman.

Hasil yang sama terlihat dalam penelitian Dietary intake of saturated fatty acids and mortality from cardiovascular disease in Japanese. Diikuti kohort 58.543 pria dan wanita Jepang lebih dari 14,1 tahun, para peneliti melihat hubungan antara penyakit jantung, stroke dan asupan lemak jenuh. Tidak mengherankan, ada hubungan terbalik. Itu berarti bahwa mengonsumsi lemak jenuh justru malah melindungi kita dari penyakit jantung dan stroke. Pada tahun 2014, Japan Collaborative Cohort Study found virtually identical results.       Dari kesimpulan mereka, “total kematian berbanding terbalik dengan asupan asam lemak jenuh (SFA)”. Ya, lemak jenuh tidak buruk bagi Anda, itu bagus untuk Anda.

 Beberapa meta-analisis skala besar tentang percobaan mengenai lemak jenuh telah dipublikasikan. Pada tahun 2009, Dr Krause menerbitkan, Meta-analysis of prospective cohort studies evaluating the association of saturated fat with cardiovascular disease“. Setelah meneliti 21 studi yang mencakup 347.747 pasien, dia menyimpulkan: Tidak ada bukti signifikan untuk menyimpulkan bahwa lemak jenuh makanan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Bahkan, ada efek perlindungan kecil namun signifikan terhadap stroke.

Dr. Chowdhury dalam makalahnya Association of Dietary, Circulating, and Supplement Fatty Acids With Coronary Risk: A Systematic Review and Meta-analysissampai pada kesimpulan yang sama. Sementara lemak trans meningkatkan risiko penyakit koroner, lemak jenuh tidak. Tidak ada kekhawatiran bahwa lemak jenuh ganda menyebabkan penyakit. 

Lemak tak jenuh ganda mengandung omega 3 dan omega 6s. Sementara keduanya ditemukan di alam, makanan kita saat ini mungkin sangat berat dan tidak sehat, serta condong ke omega 6s. Ramsden memutuskan untuk menganalisis semua penelitian mengenai lemak tak jenuh ganda, namun membagi lemak tersebut dan menerbitkan makalah tersebut, Use of dietary linoleic acid for secondary prevention of coronary heart disease and death“. 

Gambaran keseluruhan menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kematian dengan lemak tak jenuh ganda. Namun, setelah diperiksa lebih dekat, Anda dapat melihat bahwa percobaan yang meningkatkan konsumsi omega 3 menunjukkan perlindungan terhadap penyakit jantung. Studi yang meningkatkan konsumsi omega 6 meningkatkan penyakit jantung. Omega 6, jika Anda ingat adalah minyak nabati yang kita konsumsi jauh melebihi omega 3 dengan faktor 15 sampai 30.

Awwww. Snap. Nutritionism menyerang lagi. Semua polyunsaturates tidak sama. Kita terlambat menyadari fakta bahwa minyak nabati highly inflammatory, yang diolah tingkat tinggi mungkin bukan untuk ‘jantung sehat’. Kemungkinan besar mereka berbahaya untuk hati jantung. Dan margarin baru saja berubah dari lemak trans menjadi minyak nabati … .. Saran untuk mengganti lemak jenuh menjadi minyak sayur mungkin belum bagus.

Sumber Gambar

Satu-satunya uji coba acak jangka panjang Test of Effect of Lipid Lowering by Diet on Cardiovascular Risk oleh Dr. Frantz, melihat efek perpindahan telah ditunjukkan pada dekade ini sebelumnya. The Minnesota Coronary Survey mengacak 9.057 narapidana di fasilitas psikiatri untuk mengikuti diet standar dengan lemak 39% (18% jenuh, 5% polyunsaturated, 16% monounsaturated, 446 mg cholesterol) hingga 38% diet lemak jauh lebih rendah pada lemak jenuh (9 % Jenuh, 15% tak jenuh ganda, 14% monounsaturated, 166 mg kolesterol). Hal ini dicapai dengan mengubah ke pengganti telur, margarin dan daging sapi rendah lemak—-semua makanan lezat dan artifisial. Selama masa tindak lanjut 4,5 tahun, mereka tidak dapat menunjukkan manfaat apapun dalam hal penyakit jantung.

Namun, mereka mampu menunjukkan perbedaan dalam angka kematian total. Bukan itu yang mereka cari. Kelompok yang sedang ditreatment meninggal lebih cepat daripada kelompok yang mengonsumsi semua lemak jenuh.

Apa? Mengkonsumsi makanan artifisial, buatan manusia, hasil proses industri tidak baik untuk Anda?

How can that possibly be?