Apakah Perempuan Menopause bisa Meramping? Dengan Puasa Intermittent, Bisa Dong

Mayoritas wanita menopause berasumsi bahwa mustahil untuk bisa meramping, bahkan lebih parah daripada itu, bisa jadi, melangsing di fase usia itu adalah biang kerok malapetaka dan agony.

Untungnya, saya memiliki privilege atau hak istimewa untuk bekerja dengan ribuan wanita yang berpuasa, dan dengan lantang saya akan blak-blakan bahwa menurunkan-berat-badan di fase menopause emang nggak mudah ya. But it isn’t impossible either. Tapi pasti bisa, dong.

By: Megan Ramos (Women and Fasting: Top Tips for Women Going Through Menopause Part 1)

Faktanya, para perempuan ini bisa mencapai hasil yang amazing kok, tetapi mereka harus sedikit lebih rajin daripada orang lain, dan harus lebih taat dengan beberapa prinsip basic puasa. Para pasien perempuan di klinik kami belum ada yang gagal satu pun, tetapi memang perlu banyak trial and error uji coba untuk dapet protokol yang benar-benar berfungsi.

Dalam seri posting ini, saya akan berbagi strategi paling oke, yang telah berhasil ngebantu banget para wanita dalam kelompok usia ini sukses meramping.

Fast Consistently and Be Patience

 Berpuasa Secara Konsisten dan Sabar

Melangsing jauh lebih rumit bagi wanita karena kita super kompleks secara hormonal daripada rekan-rekan pria kita. Tapi bukan berarti nggak bisa dapet prestasi yang sama, dong.

Sumber Gambar: jeffreydachmd.com

Faktanya, kita sanggup menjolok buah yang serupa, atau melangsing itu bisa digapai kok, terlepas gender apa pun. Sesungguhnya, pria dan perempuan, ya, sama aja. Hanya aja, spesial untuk para lady ini jalurnya memang lebih menukik dan berkelok-kelok.

Dalam posting saya sebelumnya tentang Wanita dan Berpuasa, kita membahas dua jalur berbeda yang dialami pria dan wanita ketika puasa dan memapas berat badan. Pada awalnya, pria cenderung kehilangan berlipat-lipat kiloan, tetapi kemudian mulai slow down.

Seorang pria bisa aja kehilangan 10 pound selama Minggu pertama, tetapi kemudian hanya memusnahkan 1 atau 2 pound pada Minggu 12, dan selama beberapa minggu ia mungkin nggak sanggup menendang berat badan sedikit pun, karena tubuh doski mencoba untuk membuang lemak yang lebih bandel.

Apa yang kita lihat pada wanita adalah kebalikannya. Indeed, si kecepatan keong banget pada awalnya, bahkan berat-badan-bergeming-dan-bertapa-tak-tergoyahkan di tempat yang sama selama beberapa minggu, tak mau bergeser sedikit pun, Sob. Tetapi dengan kesabaran dan konsisten, berat badan yang sanggup ditendang mulai melonjak!

Horeee!

Seorang wanita mungkin nggak melenyapkan berat badan pada Minggu ke-1, namun dia bisa jadi menghempas beberapa kilogram selama Minggu ke-12. Saya telah menyaksikan banyak wanita throw in the towel atau menyerah pasca beberapa minggu mencoba, karena mereka pikir ini hanyalah mode diet yang nggak ada faedahnya, sama seperti yang udah-udah.

Sebagai mantan wanita gemuk dan seseorang yang telah mencoba hampir setiap diet di planet ini, saya ngerti kok. Super ngerti banget sekali malah.

But nothing worthwhile comes easily. Tapi tidak ada satu pun hal berharga di jagat raya ini yang datang dengan mudah. Life is also a nonstop rollercoaster of happiness and sorrow. Hidup juga merupakan rollercoaster tanpa henti dari hepi dan sedih.

Satu hari semuanya tampak sempurna dan baik-baik aja, dan hari berikutnya shit hits the fan. Anda merasa dunia Anda runtuh. And what have we been taught to do when that happens? Dan apa yang telah diajarkan kepada kita ketika itu terjadi? Comfort ourselves with food. Menghibur diri dengan makanan.

Jika Anda ingin menurunkan berat badan berapa pun usia Anda, you need nip it in the bud right now, alias Anda harus bisa menghandlenya, Sob.

Life is never constantly stable. Hidup tidak pernah stabil, tidak pernah konstan. There are bumps and hurdles we face almost every day. Kadang jalan kehidupan bentuknya benjol-benjol, di kali yang lain rintangan meliuk-liuk, dan ini terjadi hampir setiap hari.

Anda harus stick dengan rejimen puasa Anda, terlepas hari itu sedang datang air bah atau neraka rembes, jika tidak begitu, Anda pasti akan gagal.

Saya telah menyaksikan pasien dan orang-orang terkasih mengalami diet yo-yo sepanjang hidup mereka. Juga, saya menghabiskan 27 tahun ngalamin yo-yoing atau berat badan naik-turun tiada henti. Dan karena itulah, I had to be real with myself atau harus tegas pada diri sendiri.

Saya baru berusia 27 tahun dan didiagnosis dengan salah satu penyakit paling mematikan di bumi ini—diabetes tipe 2.

Saya punya dua pilihan:

Pertama, saya bisa men-tackle diabetes dengan pendekatan yo-yo yang udah sangat terang-terangan selalu aja gagal. Hasilnya saya akan tetap diet selama satu dekade, juga ditambah dengan, saya kudu diet terus menerus, meski:

  1. Pekerjaan sedang membikin saya stres.
  2. Marah pada suami saya, atau.
  3. Ultra sedih ketika nenek saya meninggal.

Dan saya hanya harus hidup legawa dengan kerusakan yang dilakukan diabetes pada tubuh saya dalam kurun waktu itu.

Pilihan kedua, saya sepenuhnya berkomitmen pada protokol puasa selama 6 bulan saja.

It could only be 90% of the time. Mungkin hanya 90% aja dari total waktu kok. Memang sih ini mungkin seperti bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Tetapi penekanannya adalah apa pun akan saya lakukan asalkan saya nggak ngalamin yo-yo. Anything more wasn’t human. Saya harus mengizinkan diri saya menjadi manusia lagi dan tidak membiarkan makanan buruk meski hanya sebutir mengisi hari saya.

Sumber Gambar: popsugar.com

Dan goalnya adalah untuk nge-kick kegemukan saya, diabetes tipe 2, sindrom ovarium polikistik (PCOS), dan hati berlemak/ fatty liver (NAFLD) dalam 6 bulan sehingga saya bisa move on dengan hidup saya.

Dengan cara ini saya bisa menghindari kerusakan akibat diabetes, plus saya bisa menjalani hidup on my own terms atau aturan hidup ala saya sendiri, dong.

By buckling down, dengan tekad sangat baja ini, berarti saya tidak selalu menyandang status ‘narapidana’ atau merasa terpenjara pada rejimen puasa di masa depan.

Jadinya, di masa depan, saya bisa berpuasa saat saya mau, asalkan saya sedang fit atau cucok dengan agenda kegiatan saya.

Hasilnya adalah:

  • Dalam 6 bulan, A1c saya turun menjadi 4,6%.
  • Nggak ada lagi NAFLD.
  • PCOS hilang.
  • Obesitas lenyap.

And it was slow as hell to start, but nothing that truly works comes easily. Prosesnya lambat banget dan macam di tempat jagal ketika awal memulai, tetapi, nggak ada satu pun hal di dunia ini yang didapet dengan gampil. Semua butuh perjuangan, bukan begitu?

Kiat ahli: Rencanakan kegiatan di hari puasa



Dengan cara ini Anda selalu memiliki rencana before you get into a funk, atau merasa seperti di kawah Candradimuka atau tersiksa rasa super lapar ketika berpuasa.
Contoh:

  • Jika Anda selalu lapar pada pukul 6 sore, pergilah ke gym atau fitness class pada jam itu.
  • Jika Anda merasa stres di tempat kerja, go for a walk, berjalan-jalanlah.
  • Mandi garam Epsom jika Anda merasa lelah dan frustrasi di rumah.
  • Baca buku di teras belakang Anda.
  • Berkebun.
  • Atur lemari Anda.
  • Rencanakan tripketika Anda mencapai target Anda.
  • Meet up dengan teman baik untuk minum teh atau kopi.
     

Dalam artikel selanjutnya, kita akan berbicara tentang pentingnya clean fasting a.k.a puasa ‘bersih’ untuk wanita.

Apakah Puasa Intermitten dan Keto Bisa Menyembuhkan Infeksi Bakteri?

Puasa telah diterka sebagai resep awet muda, terutama ketika ahli biologi dari Jepang—profesor Yoshinori Ohsumi—nemuin hasil bahwa, puasa bisa melahirkan terjadinya autophagy. Hipotesis ini dengan sah-dan-meyakinkan bisa dianggap sebagai seonggok fakta.

Berdasarkan penemuan itu, saya tetiba berpikir, jika begitu, manusia nggak perlu lagi dong meminum obat atau bahkan nenggak antibiotik, jika tubuh kita sanggup nendang penyakit secara auto pilot atau tanpa bantuan apa pun.

Semenjak saya melakoni puasa intermitten, saya ndak pernah ngalamin infeksi bakteri yang spektakuler, akibatnya, saya tidak punya empirical evidence—membuktikan dengan mempraktikkannya sendiri.

Lalu, bagaimana saya bisa tau bahwa bakteri bisa dipapas dengan puasa? Nah, oleh karena itu, saya mengambil contoh kasus dari Carl Franklin, sehingga kalian bisa membaca penuturannya langsung. Cekidot.

By: Carl Franklin

Disclaimer: Jika Anda menderita infeksi bakteri, sebaiknya, Anda segera mendatangi dokter. Jurnal ini bukanlah advis medis. Ini hanyalah berdasarkan pengalaman saya. Please be smart saat dealing dengan kehidupan biologi Anda. Ok? Great. Read on!

Sumber Gambar: naomiwhittel.com

Saya notice, sejak saya memulai journey keto, salah satunya termasuk puasa intermittent, sistem imun saya tampak sedikit nggak berkompromi. Saya lebih sering terserang pilek. Tahun 2016—pasca menjalani keto selama 4 bulan—ketika saya mendatangi Belgia dengan a-whopper-of-virus atau virus merembes ke tubuh, dan sialnya, ini berlangsung sepanjang musim panas lho.

Saya adalah vocalist utama untuk band saya, Franklin Brothers, karena saya sakit, jadinya saat itu saya nggak bisa nyanyi, dong. Saya pikir, jangan-jangan adakah koneksinya? Tetapi saya mengabaikannya.

Selain dari pada itu, untuk si bakteri, luka dan goresan yang seharusnya sudah sembuh kemudian terinfeksi dan butuh antibiotik untuk menyembuhkan. Dan, karena saya udah tau efek samping dari antibiotik— agak sangar, oleh karena itu saya jadi ingin meminimalisir pemakaian antibiotik, tentunya.

By: Carl Franklin (Can Fasting Heal a Bacterial Infection?)

Goresan terakhir berubah menjadi selulit, terasa cekot-cekot, kemudian gatal, kemudian kulit menjadi terinfeksi dan menyebar. It’s not good. Sekitar 10 hari bagian pergelangan tangan terbakar. Melepuh dan memerah. Meskipun saya telah menutupinya dengan krim antibiotik dan kasa, ia tetap terinfeksi dan terlihat tampak seperti selulit. Great. More antibiotics. Lebih banyak antibiotik, Sob.

Dapatkah Kita Menyembuhkan Infeksi Jamur Vagina di Rumah Tanpa Obat?

Sebagai catatan tambahan, saya dapet dokter baru tahun ini, Dr. Ken Berry. Dia adalah seorang dokter keluarga di pedesaan Tennessee. Dia menulis sebuah buku berjudul Lies My Doctor Told Me, yang mana pernah saya baca, dan itu benar.

Program yang dimilikinya adalah Anda bisa menemuinya langsung, cek darah, dan jika Anda nggak minum obat, Anda tetap akan dimonitor secara personal dan konstan, dan kita bisa request treatment jarak jauh juga.

Saya pernah punya pengalaman nggak enak dengan dokter lokal, oleh karena itu saya mutusin keluar dari zaman kegelapan, that was a no-brainer.

Anyway, hasil tes darah saya menunjukkan level testosteron yang minor. Jika tingkat testoteron kita rendah, infeksi kulit menelan waktu lebih lama untuk penyembuhan, itu berdasarkan info dari dokter Dr. Berry. Sedikit riset juga telah menegaskan hal ini. Jadi, saya segera mengoleskan testosterone gel untuk mengembalikan kadarnya ke standar normal.

Kembali ke infeksi. Karena feeling saya mengatakan bahwa sistem imun bisa juga dipengaruhi oleh puasa, maka saya pun melakukan beberapa riset, dan menemukan, on the face of that, dua studi yang hasilnya saling bertolak belakang.

Artikel ini mengutip sebuah penelitian tentang lalat buah ke jamur—memiliki gen nyaris sama dengan manusia—yang mana dipengaruhi oleh stres dan kekebalan tubuh. Memang, sih, itu bisa memperpanjang hidup mereka, tetapi di sisi lain, mereka menjadi lebih mudah terinfeksi. Tetapi, inget, riset ini dikerjakan pada lalat buah, Sob.

Mereka melompat ke beberapa kesimpulan:

  1. Puasa intermiten akan memiliki efek yang serupa pada jamur ini.
  2. Hasil pada lalat buah dan manusia akan ekuivalen. Jadi keduanya dianggap akan berefek sama.

Artikel kedua mengutip penelitian di Yale, yang mana tikus sengaja dipapar dengan virus dan infeksi bakteri, kemudian:

  1. Ada yang harus berpuasa, dan.
  2. Ada yang enggak puasa.

Ketika tikus diberi makan, satu bisa survive karena terinfeksi virus, tetapi yang terinfeksi bakteri malah tidak.

Sumber Gambar: mindbodygreen.com

Ketika berpuasa, hasilnya justru terbalik. Mereka yang terinfeksi virus nggak bisa bertahan, tetapi yang terkena infeksi bakteri anehnya bisa. Atlantik punya cerita tentang studi yang identik, dengan versi editorial.

Berikut kutipannya:
 “Pada prinsipnya, suatu hari seorang dokter bisa memberikan diagnosis bersama dengan rekomendasi diet khusus. Itu bisa mempercepat pemulihan dan membatasi krisis global penggunaan antibiotik berlebihan.”

Tahun lalu saya nemuin artikel ini, yang mengutip tentang puasa panjang untuk 3 hari, namun, ini bisa meregenerasi sistem kekebalan tubuh sepenuhnya, yang mana memiliki efek positif melawan infeksi bakteri. Seperti yang saya katakan: di permukaan, temuan dari studi pertama dan ketiga tampaknya kontradiktif.

Or do they?

Puasa intermiten berbeda dari puasa diperpanjang. Jika Anda puasa 23 jam, proses autophagy belum sempat selesai. Jadi sistem imun kita akan beregenerasi jika puasa selama tiga hari. Ini kedengeran kayak fenomena saat kamu nggak ngabisin antibiotik.

Bakteri mengembangkan resistensi terhadapnya. Mungkin ada sesuatu yang mirip, dan yang perlu kita garis bawahi adalah tentang RESISTENSI. This, however, is just a guess. Jika benar bahwa puasa intermiten akan membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi (yang tampaknya menjadi kasus saya) dan puasa diperpanjang dapat memiliki efek positif pada sistem kekebalan Anda yang akan membantu melawan infeksi bakteri, maka saya harus melakukan ekstensi puasa atau puasa dalam jangka waktu panjang, dan lihat apa yang terjadi pada selulit saya.

Now, before you say “that’s crazy, Carl. You could die!”  Sekarang, sebelum Anda mengatakan “itu gila, Carl. Kamu bisa mati!”

Saya berbagi ide tentang hal ini dengan dokter saya, dan dia setuju bahwa saya harus mencobanya—dengan catatan bahwa saya harus memonitornya setiap hari. Jika memburuk, kami akan menghentikan percobaan ini dan segera mengoleskan antibiotik.

Puasa beberapa hari, seharusnya nggak akan ada bedanya, dong. Namun, jika itu menjadi lebih tokcer, itu berarti puasa panjang adalah hal yang krusial. Jika begitu persoalannya, saya sanggup nyembuhin infeksi yang seharusnya membutuhkan antibiotik. Namun, ada confounder dalam eksperimen saya. Saya mulai mengoleskan testosteron pada hari kedua, yang mana mengakselerasi proses recovery.

Untuk menguji ini dengan total, saya harus memiliki kadar testoteron yang normal, dan kemudian berpuasa. Tapi kan, tujuan saya ngejalanin eksperimen ini adalah untuk mengusir infeksi tanpa antibiotik.

Jika itu jadi kenyataan, I’m happy for now, jika enggak, ya udahlah. Mungkin kita perlu melakukan lebih banyak percobaan lagi ke depannya.

On top of fasting, saya menemukan bahwa menyemprotkan air panas dari shower ke kulit yang terinfeksi, sepanas yang bisa saya tahan, menimbulkan perasaan aneh tetapi asik, seperti ketika menggaruk gatal.

Itu juga sepertinya menghilangkan rasa gatalnya. Saya tidak tahu mengapa ini terjadi, tetapi saya melakukannya dua kali sehari untuk mengendalikan rasa gatal. Saya juga mengoleskan Cetaphil, pelembab kulit, setiap hari.

 Ok, let’s look at some pictures, shall we? Oke, mari kita lihat beberapa foto, ya?

Hari Pertama

Ini adalah foto pertama yang saya ambil pada 11 Mei 2018: Pada hari saya mulai berpuasa. Pada saat itu, lukanya telah sembuh tetapi masih sangat sakit. Saya benar-benar berhenti makan sehari sebelumnya, 10 Mei, tetapi saya minum kopi dengan krim kental dua kali sehari.

Saya biasanya melakukan ini untuk merasa at ease atau nggak uring-uringan. Jadi, secara teknis ini bukannya tanpa makanan, tapi ‘makanan’ yang biasa diganti dengan krim kental. Saya minum 2 jenis alkohol non-karbohidrat (wiski) di malam hari. Saya membaca sebuah studi yang mengindikasikan bahwa mengonsumsi alkohol moderat mengaktifkan autophagy. Hey, as long as it doesn’t stop it, I’m all in! Hei, selama itu nggak menghentikan si puasa, saya ikut cara itu lah!

Ini gambar dari hari kedua: 12 Mei

Day two I was all in.

Hari kedua.
No food. Tidak ada makanan. Hanya kopi hitam, air, garam, dan suplemen. Ini adalah hari pertama di mana saya memakai testosteron.

Ini gambar dari hari ketiga. Ini adalah ketika saya sadar banget ini mulai memudar. Dan di sini kita berada di Hari ke 4. Practically gone. Beneran ilang, Sob.

Ringkasan, saya memiliki testosteron rendah. Saya udah ngerjain diet ketogenik dengan Intermitent Fasting atau puasa intermiten. Saya lebih mudah terinfeksi daripada biasanya.

Di putaran ketiga saya memutuskan untuk mengintervensinya dengan terapi testosteron dan puasa diperpanjang. Saya nggak tau sejauh mana ‘campur tangan’ ini berfaedah, tetapi hasilnya kan memang nggak bisa disangkal, kita semua telah melihatnya, Sob. Bahwa saya bisa membersihkan infeksi bakteri yang biasanya harus ‘dipenggal’ oleh antibiotik, dan itu membuat saya hepi.

Dr. Jason Fung dari Program IDM berkomentar: “Itu sangat menarik, Carl. Memang, sih, tidak ada sains yang ngebackup ini, tetapi bagi saya itu masuk akal. Whenever we get sick (flu etc.) we stop eating. Setiap kali kita sakit (flu dll.) Kita berhenti makan.

Itu adalah reaksi alami, jadi itu kayaknya sih cara tubuh memproteksi dirinya. Puasa mengunci glukosa, dan memaksa kita untuk menggunakan fatty acids atauasam lemak untuk energi, yang cihuynya, si asam lemak ini nggak bisa digunakan oleh bakteri.

Anda pada basic-nya membikin si bakteri menjadi kelaparan. Saya masih belum yakin bahwa itu adalah puasa 100% dan bukan testosteron.

Pada Hari ke-4, saya ingin sedikit lebih fokus dalam eksperimen.

Saya membatalkan puasa jam 3 sore, dan makan cukup banyak hidangan berlemak. Saya juga mutusin bahwa keesokan harinya saya TIDAK akan mengoleskan gel testosteron, tetapi SAYA AKAN kembali berpuasa.

Pagi berikutnya tampaknya sedikit lebih merah, gatal, dan saya bisa merasakan sedikit rasa sakit, padahal sehari sebelumnya nggak ada tuh. Ini foto dari hari ke-5: Anda dapat melihat bahwa itu sedikit lebih merah.

Saya akan melakukan puasa lebih panjang (minimal 3 hari) tanpa terapi testosteron Androgel, dan saya akan memposting foto di sini setiap hari. Hari 6 – Tidak ada Androgel. Kembali ke berpuasa. Seperti yang Anda lihat itu terlihat sedikit lebih merah.

Hari ke-6, membaik tanpa antibiotik

Kemarin saya berpuasa sepanjang hari hanya dengan minum zero-carb drinksminuman-tanpa-karbohidrat di malam hari. Sekarang ini semakin menarik. Here we are at day, kita berada di hari ke 7, atau lebih tepatnya, setelah 2 hari puasa tanpa testosteron. Ini terlihat lebih baik daripada kemarin, dan tampak menjanjikan. Hari ke 8, atau 3 hari berpuasa penuh (ada istirahat di tengah-tengah) tanpa testosteron. Still continuing to heal. Proses penyembuhan masih terus berjalan.

Sekali lagi, jika Anda memiliki infeksi bakteri, Anda harus segera berbicara dengan dokter Anda.

Carl Franklin

Ingin Kurus dan Ramping? Lihat Lebih Detail Tentang Kortisol

Sumber Gambar

Kamu ingin gemuk? Gampang. Saya bisa membuat semua orang menggendut. Bagaimana caranya? Gampang dan sangat sederhana. Hanya dengan meresepkan prednisone— versi sintetis dari hormon manusia kortisol—-kamu bisa segera menjadi bulat.

Prednisone digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit inflamasi, termasuk asma, rheumatoid arthritis, lupus, psoriasis, penyakit radang usus, kanker, glomerulonefritis dan myasthenia gravis. Kortisol membuatmu gemuk. Bukan kebetulan, baik insulin maupun kortisol memainkan peran kunci dalam metabolisme karbohidrat.  

Kortisol adalah hormon stres. Ini memediasi ‘flight or fight response’ dengan bantuan sistem saraf simpatik. Kortisol adalah bagian dari kelas hormon steroid yang disebut glukokortikoid (glukosa + korteks + steroid) yang diproduksi di korteks adrenal.

Mengapa tubuh menghasilkan kortisol? Sebagai respons terhadap stres. Pada masa Paleolitik, ini sering merupakan stres fisik, seperti dikejar predator. Pelepasan kortisol sangat penting dalam mempersiapkan tubuh kita untuk bertindak— to fight or flee atau untuk melawan atau melarikan diri. Kortisol meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi kebutuhan tidur. Secara substansial, tubuh menyetok gudang glukosa. Mengapa seperti itu? Tubuh menyediakan energi untuk otot, sebagai upaya membela diri agar tidak dimakan.

By: Dokter Jason Fung (A Closer look at Cortisol – Hormonal Obesity XXXX)

Semua energi dikumpulkan untuk bertahan dan menghadapi serangan stres selanjutnya. Pertumbuhan, pencernaan dan masalah jangka panjang lainnya dibatasi untuk sementara. Protein dipecah dan diubah menjadi glukosa (glukoneogenesis).

Cara Menurunkan Kortisol

Dalam keadaan puasa, kortisol memiliki beberapa mekanisme untuk meningkatkan glukosa dalam tubuh. Efek peningkatan glukosa darah prednison kortisol sintetis telah dikenal paling sedikit 40 tahun. Ini termasuk:

  1. Stimulasi glukoneogenesis hati
  2. Penghambatan pengambilan glukosa pada jaringan periferal
  3. Stimulasi lemak dan asam amino (membantu memberikan substrat untuk glukoneogenesis hati)

Sejumlah kegiatan fisik yang berat (fight or flight), akan segara membakar glukosa di gudang lemak, yang stoknya bertambah berkat peranan kortisol. Tak lama kemudian, kami mati, atau bahaya bisa diatasi. Dalam kedua kasus tersebut, tingkat kortisol menurun kembali ke tingkat rendah. Bagaimana cara tubuh beradaptasi? Untuk jangka pendek, tubuh akan meningkatkan kortisol dan glukosa.

Secara substansial suplai glukosa ditambah. Mengapa seperti itu? Karena otot membutuhkan berlimpah-limpah energi supaya tidak dimakan binatang buas. Insulin adalah hormon penyimpan glukosa. Jika insulin tinggi, tubuh akan menyimpan energi dalam bentuk glikogen dan lemak.

Kortisol, di sisi lain mempersiapkan tubuh untuk melakukan sebuah aksi. Kortisol memindahkan energi dari gudang, dan mengubahnya menjadi bentuk yang mudah dipakai seperti glukosa. Tetapi, efeknya sama saja, yaitu membuatmu menggemuk. Insulin dan kortisol berakting bertolak belakang saat menghadapi stres jangka pendek.

Namun, jika stres psikologis berlangsung dalam jangka waktu panjang, situasinya akan berbeda. Di zaman modern, stres kronis, stresor non fisik meningkatkan kortisol.

Misalnya, masalah perkawinan, masalah di tempat kerja, pertengkaran dengan anak-anak, dan kurang tidur adalah penyebab stres yang serius, tetapi tidak diikuti dengan kegiatan fisik yang memadai, sehingga glukosa darah tetap tinggi. Dalam kondisi stres yang kronis, kadar glukosa tetap tinggi.

Ciri-ciri kortisol tinggi atau mengalami cushing syndrome

Tidak ada aktivitas fisik  untuk membakar glukosa, dan tidak ada resolusi pada stressor. Glukosa darah bisa tetap tinggi selama berbulan-bulan. Peningkatan glukosa kronis ini dapat memicu pelepasan insulin. Kortisol yang meningkat secara kronis menyebabkan peningkatan insulin. Hal ini telah ditunjukkan dalam beberapa penelitian.

Sebuah studi telah mengukur secara berulangkali secara acak pada jam kerja. Kortisol meningkat dengan tingkat stres. Peningkatan kortisol terkait stres ini menunjukkan hubungan kuat yang konsisten dengan peningkatan glukosa dan peningkatan kadar insulin (16). Pendorong utama obesitas adalah insulin. Oleh karena itu, nggak heran jika ada hubungan antara BMI dengan perut buncit.

Dengan menggunakan kortisol sintetis, kita juga bisa meningkatkan insulin secara eksperimental. Relawan sehat diberi kortisol 50mg empat kali sehari selama 5 hari.

Tingkat insulin naik 36%. Studi lain menunjukkan bahwa penggunaan prednisone meningkatkan kadar glukosa sebesar 6,5% dan kadar insulin sebesar 20%. Seiring waktu, resistensi insulin juga berkembang terutama di organ hati. Ada hubungan dosis-respon langsung antara kortisol dan insulin.

Untuk setiap unit kenaikan kortisol gratis, insulin meningkat sebesar 9,7 mU / I. Penggunaan jangka panjang prednison dapat menyebabkan keadaan resisten insulin atau berkembangnya diabetes. Melonjaknya resistensi insulin yang terlihat pada diabetes tipe 2, menyebabkan naiknya kadar insulin.

Bahkan lima tahun setelah penyembuhan penyakit Cushing, tingkat insulin yang merayap naik tetap ada. Hal ini kemungkinan terkait dengan sindrom resistensi insulin yang telah berkembang. Ini adalah mekanisme lain dimana kelebihan kortisol menyebabkan peningkatan insulin. Glukokortikoid menghasilkan resistensi insulin pada otot rangka. Bagaimana cara kerjanya? Dengan mengganggu sinyal insulin, sehingga jaringan tidak menangkap sinyalnya.Bagaimana mekanisme molekuler? Ia melakukan pemetaan,  termasuk degradasi IRS-1, dan eskalasi kadar protein PTP1B dan p38MAPK. Setelah ia mengikat reseptor insulin, dia akan segera memberantakkan kerja insulin. Selain itu, otot melepaskan asam amino untuk glukoneogenesis, sehingga meningkatkan resistensi insulin. Glukokortikoid juga menekan adiponektin (meningkatkan sensitivitas insulin). Siapa yang mensekresikan adiponektin? Sel lemak.

Di satu sisi, resistensi insulin memang sesuai dengan ekpektasi, karena kortisol umumnya melawan insulin. Kortisol meningkatkan gula darah dimana insulin menurunkannya. Resistensi insulin ini, seperti yang akan kita lihat di bab selanjutnya, adalah faktor terkrusial yang menyebabkan kamu membulat. Resistensi insulin akan menembak langsung pada melompatnya kadar insulin.Tingginya level  insulin merupakan pendorong utama obesitas.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kortisol menegaskan resistensi insulin ini. Jika kortisol menaikkan insulin, maka memangkas kortisol harusnya mengurangi insulin. Situasi ini ditemukan pada pasien yang ditransplantasi, dan mengonsumsi kortisol sintesis selama bertahun-tahun, atau selama beberapa dekade.

a buffalo hump atau punuk kerbau

Menghentikan pemakaian prednisone menyebabkan penurunan insulin plasma sebesar 25%. Artinya berat badan turun sekitar 6.0%, dan lingkar pinggang mengecil menjadi 7,7%.

Kelebihan kortisol sama saja seperti kelebihan insulin, sama-sama menyebabkan konsekuensi kardiovaskular.

Ini juga dikenal sebagai sindrom metabolik yang ditandai dengan:

  1. Gula darah tinggi,
  2. Tekanan darah,
  3. Kolesterol dan
  4. Obesitas perut.

Sindrom Cushing juga mencakup insulin tinggi, gula darah, tekanan darah, kolesterol dan obesitas truncal. Apakah kelebihan kortisol, dari tekanan psikologis jangka panjang menyebabkan penambahan berat badan?  Tentu bukti anekdotal nampaknya menunjukkan bahwa stres menyebabkan obesitas.

Tapi ada beberapa penyakit tertentu yang ditandai dengan produksi kortisol yang berlebihan. Ini disebut penyakit Cushing atau sindrom Cushing. Harvey Cushing awalnya menggambarkan seorang wanita berusia 23 tahun pada tahun 1912 yang menderita kenaikan berat badan, pertumbuhan rambut yang berlebihan dan tidak mengalami haid. Gula darah tinggi dan diabetes setidaknya dialami 1/3 kasus.

Pasien yang memakai prednison jangka panjang sering terlihat mirip dengan pasien ini dan mengembangkan sindrom Cushinoid. Ada redistribusi lemak tertentu dari tungkai ke batang tubuh dan wajah disebut obesitas truncal. Istilah ‘moon face’ digunakan untuk menggambarkan kenaikan berat badan yang aneh di wajah.

A ‘buffalo hump’ atau  ‘punuk kerbau’ menggambarkan pengendapan lemak di belakang. Tapi ciri khas penyakit ini adalah penambahan berat badan. Dalam rangkaian kasus, 97% pasien menunjukkan kenaikan berat badan di area perut, dan 94% menunjukkan berat badan yang melambung tinggi. Resistensi insulin adalah karakteristik kunci lain dari sindrom Cushing. Kortisol dan prednison menyebabkanmu menjadi gembrot.

Banyak pasien mengeluh bahwa mereka menggemuk meski makan sedikit dan kosisten berolahraga. Setiap penyakit yang menyebabkan kelebihan sekresi kortisol menyebabkan penambahan berat badan. Kortisol menyebabkan timbangan bergeser ke kanan. Sindrom Cushing subklinis dikaitkan dengan obesitas.

Pasien ini bisa ditemukan dengan tes darah, namun belum memiliki gejala penyakit. Glukosa setelah puasa dan insulin juga membumbung pada pasien ini. Kortisol menyebabkan kamu menggemuk.

Namun, efek ini terlihat bahkan di dalam populasi normal, tanpa sindrom Cushing.

Dalam sampel acak dari Glasgow Utara, Skotlandia, tingkat ekskresi kortisol berkorelasi kuat dengan Indeks Massa Tubuh (BMI) dan ukuran pinggang. Tingkat kortisol yang lebih tinggi terlihat pada orang yang lebih gemuk. Kortisol terkait akumulasi lemak terutama deposito lemak di perut, yang menghasilkan rasio pinggang/ pinggang meningkat (WHR) atau buncit. Distribusi berat lemak di perut ini lebih berbahaya bagi kesehatan daripada lemak  di anggota tubuh yang lain.

Meditasi Bisa Menurunkan Kortisol

Untuk mengukur kortisol, kita bisa melihatnya dari besarnya ukuran perut. Orang dengan ekskresi kortisol lebih tinggi memiliki rasio pinggang dan pinggul yang lebih tinggi. Pasien yang di air liurnya ditemukan kortisol tingkat tinggi juga mengalami kenaikan BMI dan rasio pinggang/ pinggul.

Dengan kata lain, ada bukti substansial bahwa stimulasi kortisol kronis melambungkan insulin dan obesitas. Paparan jangka panjang terhadap kortisol dalam tubuh dapat diukur dengan analisis rambut kepala. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan pasien obesitas dengan berat badan normal, peneliti menemukan peningkatan kadar kortisol di kulit kepala.

Tes akhir adalah ini. Dapatkah saya membuat seseorang gemuk dengan prednison? Jika bisa, ini membuktikan hubungan kausal, bukan sekadar hubungan. Apakah prednisone menyebabkan obesitas? Ya, benar sekali! Kenaikan berat badan adalah salah satu efek samping pengobatan yang paling lumah dan populer.

Ini adalah hubungan kausal. Pemberian prednison dosis tinggi menyebabkan penambahan berat badan. Kortisol melonjak. Pasien menggemuk. Kortisol menyebabkan kenaikan berat badan.

Bagaimana jika dilakukan sebaliknya? Jika kortisol tinggi menyebabkan kenaikan berat badan, maka kadar kortisol yang rendah harusnya membuatmu meramping. Ya. Ini terjadi pada penyakit Addison. Juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal, Thomas Addison menggambarkan kondisi klasik ini pada tahun 1885. Kortisol diproduksi di kelenjar adrenal.

Jika mengalami kerusakan, level kortisol menjadi sangat rendah. Penyebab major penyakit Addison adalah kerusakan autoimun. Sebelumnya, tuberkulosis telah menjadi penyebab utama sindrom ini. Ciri khas penyakit Addison adalah penyusutan berat badan.

Dalam rangkaian kasus besar, 97% pasien menunjukkan kehilangan berat badan. Kadar kortisol turun. Orang melangsing. Kortisol menyebabkan kenaikan berat badan. Kortisol bisa menyebabkan kadar insulin tinggi dan resistensi insulin.

Mungkin ada jalur obesitas lain yang belum ditemukan. Tetapi, fakta yang tak terbantahkan adalah kelebihan kortisol menyebabkan kamu menggemuk. Dengan ekstensi, stres menyebabkan obesitas. Ini adalah sesuatu yang secara intuitif dipahami banyak orang, meskipun tidak ada bukti. Ini pasti masuk akal. Jauh lebih masuk akal daripada kalori yang menyebabkan kegemukan.

Mengurangi stres itu sulit, tapi sangat penting. Bertentangan dengan anggapan populer, duduk di depan televisi atau komputer adalah cara yang buruk untuk menghilangkan stres. Sebaliknya, merilis stres adalah proses yang aktif. Ada banyak metode penanggulangan stres yang telah teruji waktu. Ini termasuk meditasi kesadaran, yoga, terapi pijat, dan olahraga. Studi tentang intervensi perhatian dapat menggunakan yoga, meditasi terpandu, dan diskusi kelompok untuk berhasil mengurangi kortisol dan lemak perut.

Ingin Ramping dan Kurus? Baca Tentang Paranoia Terhadap Lemak dan Kolesterol

Sumber Gambar

“Sekarang semakin diakui bahwa kampanye rendah lemak didasarkan pada sedikit bukti ilmiah dan mungkin telah menyebabkan konsekuensi kesehatan yang tidak diinginkan.”

Sudah lebih dari satu dekade sejak peneliti Harvard yang terkenal Drs. Frank Hu dan Walter Willett menulis ini pada tahun 2001. Bahkan sekarang, juru kampanye rendah lemak ada di mana-mana, asalkan kamu mau memperhatikan. Harus kita akui, banyak hal yang telah berubah.

Baru-baru ini, pengakuan bahwa lemak jenuh mungkin bukan musuh, berani nongkrong dan unjuk gigi di halaman depan Time Magazine.

Sejarahnya begini. Petisi tentang lemak, akarnya dimulai pada tahun 1960an. Tokoh kunci yang merupakan ahli gizi terkemuka adalah Dr. Ancel Keys.

Pada tahun-tahun pasca perang, ada kekhawatiran yang meningkat mengenai apa yang disebut epidemi penyakit koroner yang melanda Amerika Serikat. Penyebab penyakit arteri koroner adalah plak aterosklerotik yang pecah. Studi patologis dengan jelas mengidentifikasi bahwa ada kolesterol yang terkandung di dalam plak ini.

Kita lantas heboh mencari siapa penjahatnya. Dan ditemukanlah penjahat kelas kakap yaitu kolesterol.

By: Dokter Jason Fung  (Fat Phobia – Hormonal Obesity XXXIV)

Kolesterol berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Hal ini tampaknya membuat beberapa pengertian dangkal. Kadar kolesterol tinggi diyakini menyebabkan penumpukan plak sehingga menghalangi arteri yang menyebabkan serangan jantung.

Jika kadar kolesterol darah tinggi, maka makan kolesterol menyebabkan levelnya meninggi juga dong. Ini mengabaikan fakta bahwa mayoritas (80%) kolesterol dalam darah diproduksi oleh hati kita. Hanya 20% yang berasal dari makanan. Dari reputasi yang buruk itu, mungkin kamu berasumsi bahwa kolesterol yang berasal dari makanan harus dieliminasi.  Sebenarnya, mungkin kenyataannya jauh daripada itu.

Kolesterol adalah blok bangunan utama di membran plasma yang mengelilingi semua sel di tubuh kita. Faktanya, kolesterol adalah bagian yang vital.  Setiap sel dalam tubuh kecuali otak, yang sangat spesial, memiliki kemampuan untuk membuat kolesterol. Jika kamu mengurangi kolesterol dalam makananmu, tubuhmu hanya akan menghasilkan lebih banyak kolesterol. Pada awal 1950-an, perhatian pada serangan jantung meningkat, yang mana melanda kalangan usia paruh baya secara acak.

Selama cuti panjang ke Universitas Oxford pada tahun 1951, Dr Ancel Keys dipukul oleh fakta bahwa pekerja Italia memiliki tingkat serangan jantung yang rendah dan berhipotesis bahwa asupan makanan rendah lemak membantu melindungi mereka. Melalui tahun 1950 ia memulai survei informal tentang diet di berbagai negara dan mengukur darah termasuk tingkat kolesterol darah.

Sumber Gambar

Dr Keys dengan gigih mengejar hipotesisnya bahwa peningkatan lemak diet menyebabkan kenaikan penyakit koroner. Hal ini menyebabkan Studi Tujuh Negara yang terkenal, sebuah studi observasional yang membandingkan tingkat penyakit koroner yang berbeda dan faktor diet dan gaya hidup yang berbeda.

Pada tahun 1970, ada 3 kesimpulan utama yang berkaitan dengan lemak:
1. Tingkat kolesterol memprediksi risiko penyakit jantung
2. Jumlah lemak jenuh dalam makanan memprediksi kadar kolesterol

  1. Lemak monounsaturated melindungimu dari penyakit jantung

SCS memberikan kontribusi penting untuk pemahaman kita tentang faktor risiko koroner lainnya yang pada akhirnya terbukti benar. Misalnya, secara signifikan memperkuat hubungan antara merokok dan penyakit jantung. Pentingnya tekanan darah juga diidentifikasi dalam penelitian ini. Aktivitas fisik diidentifikasi sebagai pelindung utama. Dari penelitian inilah minat mengikuti diet Mediterania meningkat, dan berlanjut sampai sekarang.

Banyak percobaan yang awalnya diawali dengan periode Low Fat Dr. Key, namun hal yang TERPENTING adalah bahwa total lemak tidak berkorelasi dengan penyakit jantung. Justru, dia memisahkan lemak jenuh dan tak jenuh yang ujung-ujungnya berakibat fatal.

Jadi, tampaknya lemak jenuh meningkat dalam makanan, kolesterol serum juga meningkat. Kesimpulan selanjutnya adalah karena lemak jenuh naik, begitu pula kematian akibat penyakit koroner. Ini adalah pertama kalinya lemak jenuh masuk ke layar radar. Ada beberapa masalah dengan ini, meski masih samar-samar.

Pertama, ini adalah studi korelasi. Itu berarti bahwa ini tidak bisa membuktikan sebab-akibat. Salah satu pendapat pribadi saya adalah bahwa studi korelasi kebanyakan omong kosong. Tidak ada yang lebih berbahaya dalam kedokteran sebagai studi korelasi.

Saya pernah menulis tentang ini sebelumnya. Mereka berbahaya karena kamu bisa dengan mudah dan keliru menarik kesimpulan kausal. Misalnya, wanita yang mengonsumsi hormone replacement memiliki kecenderungan akan mereduksi sebanyak 50% penyakit koroner. Tapi saat kamu memberi HRT, kamu meningkatkan tingkat penyakit jantung, pembekuan darah dan kanker payudara.

Masalahnya, wanita yang pernah memakai HRT juga lebih sehat dengan cara lain. HRT tidak bermanfaat, itu berbahaya, dan pembuat obat Wyeth dituntut, namun tiba-tiba perusahaan itu tidak eksis.

Jika kita membuat klaim yang sama tentang orang, itu akan disebut rasisme. Misalnya, banyak pemain bola basket yang berkulit hitam. Ada korelasi kuat. Tapi mereka menjadi jempolan karena bukan karena mereka berkulit hitam. Mereka menjadi jagoan karena berlatih keras berjam-jam.

Sumber Gambar

Banyak orang Cina pandai matematika. Tapi mereka menjadi ciamik bukan karena mereka orang Tionghoa. Mereka berlatih keras berjam-jam.

Ada banyak stereotip negatif juga, tapi saya lebih memilih untuk tidak mencantumkannya.

Kamu hanya bisa membuktikan bahwa lemak jenuh menyebabkan penyakit jantung melalui uji coba secara acak yang sangat mahal dan sulit dilakukan. Memang, ada kalanya data hasil observasi adalah yang terbaik. Data dari Studi Kesehatan Perawat yang besar dan Tindak Lanjut Profesional Kesehatan mengalami masalah yang sama. Meski harus kita akui bahwa datanya masih ada kekurangan. Mengapa demikian? Karena pengobatan berbasis bukti masih di tahap awal, dan masalah berdasarkan data observasi masih disepelekan hingga detik ini.  Jadi, jika di suatu negara kebetulan memiliki tingkat penyakit jantung tinggi, dan kebiasaan penduduknya adalah memakan lemak jenuh, bukan berarti lemak jenuh menyebabkan penyakit jantung.

Beberapa ilmuwan dapat segera menangkap cacat fatal nan parah ini. Drs. Yerushalmy  and Hilleboe (sebagai upaya menyanggah Dr. Keys) telah menulis:

But quotation and repetition of the suggestive association soon creates the impression that the relationship is truly valid, and ultimately it acquires status as a supporting link in a chain of presumed proof. Namun, kutipan dan pengulangan asosiasi sugestif segera menciptakan kesan bahwa hubungan tersebut benar-benar valid, dan akhirnya memperoleh status sebagai tautan pendukung dalam rangkaian bukti yang dianggap perlu.

Seperti yang ditulis Denise Minger di rawfoodsos.com. True.  That.  This, of course would soon be standard operating protocol for nutritional doctrines everywhere.

Ini tentu saja akan segera menjadi protokol operasi standar untuk doktrin gizi di mana-mana. Contohnya adalah, apakah kamu tidak yakin bahwa garam tidak enak? Gampang. Coba ulangi lagi dan lagi, sampai kamu yakin bahwa garam tidak enak. Apakah kamu tidak yakin bahwa lemak itu buruk untukmu? Coba ulangi lagi dan lagi, sampai kamu mual dan kamu merasa yakin. Oh, kamu nggak yakin tablet kalsium itu jelek? Ulangi lagi dan lagi.

Innuendo and repetition.

Masalah utama kedua adalah penerapan ilmu nutrisi yang salah kaprah. Mengapa demikian? Karena ini merupakan a fatal conceit atau kesombongan fatal yaitu kita telah salah memahami bahwa ada reaksi yang keliru terutama masalah biologi yang mencampurkan lemak, protein dan karbohidrat.

Di sini, misalnya, Dr. Keys membuat klaim (yang keliru namun sebenarnya tidak sengaja) bahwa semua lemak jenuh, semua lemak tak jenuh, semua kolesterol diet dan lain-lain sama. Ini mirip dengan membandingkan gula dengan kangkung karena keduanya mengandung karbohidrat. Atau membandingkan margarin yang kaya akan trans-fat dengan alpukat karena keduanya mengandung lemak. Atau membandingkan sepotong salami olahan—penuh dengan nitrit—dengan daging sapi organik—makanannya hanya rumput—hanya karena keduanya adalah protein.

Sekali lagi, jika kita menerapkannya pada orang, itu akan disebut rasisme. Kamu tidak bisa berasumsi bahwa teman negromu pintar bermain basket dan menyamakannya dengan Michael Jordan, hanya karena keduanya berkulit hitam.

Saya tidak bisa menyanyi seperti Celine Dion hanya karena saya orang Kanada. Saya tidak secerdas Albert Einstein hanya karena kita berdua laki-laki.

Di sini kesalahannya sudah jelas. Dalam nutrisi, kita gagal untuk mempertimbangkan makanan sebagai individu –semuanya unik, memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri. Tetapi, sebenarnya, beberapa orang telah mengeluh mengenai analisa Dr. Keys yang telah melakukan ‘cherry picked’ lantas meragukan teorinya, karena  korelasi si dokter sungguh ngawur.

Sumber Gambar

Mungkin kasusnya tidak persis seperti ini, namun benang merahnya adalah semua tidak relevan. Hal semacam ini memang sudah umum dan biasa terjadi dalam penelitian.

Sebenarnya dua fokus utama kita  adalah

  1. Penggunaan data observasional yang ngaco luar biasa,
  2. Dan bangkitnya ilmu nutrisi.

Salah satu korelasi penting yang dikoar-koarkan oleh Dr. Keys adalah ia ngotot TIDAK ada hubungan antara kolesterol diet dan kolesterol serum.

Karena kolesterol dalam darah (80%) sebagian besar diproduksi oleh hati, maka, jika kamu mengurangi kolesterol dari makanan, maka pengaruhnya nyaris tidak ada atau tidak signifikan sama sekali.

Ini dikenali sejak awal, namun demikian, hal itu menjadi tertanam dalam budaya populer bahwa kolesterol diet adalah JUELEEEEEEEEK sekali. Dari mana kita mendapat ide itu, saya juga nggak tahu. Blank.