Perbedaan Diagnosa untuk PCOS

Membuat diagnosis PCOS pada remaja memang sangat kusut. Ketika perempuan mulai menstruasi (disebut menarche), siklus biasanya tidak apik dan nggak selalu disertai ovulasi.

Di Amerika Serikat, usia lazimnya menarke adalah 12,4 tahun. Periode siklus nggak teratur ini sering berproses selama 2 tahun atau lebih, dan interval siklus biasanya berkisar dari 21-45 hari (rata-rata 32,2 hari).

By: Dokter Jason Fung (Differential Diagnosis PCOS 4)

Ini cukup dekat dengan siklus 35 hari yang didefinisikan sebagai oligomenore. Dengan demikian, pubertas konvensional dan siklus tidak teratur yang terlihat pada PCOS tumpang tindih secara signifikan.

Diagnosis ekstrem pada kelompok usia ini dapat nyebabin sebundel treatment nggak guna dan kekhawatiran yang tidak perlu. Pada tahun ketiga setelah menarche, 60-80% dari siklus adalah 21-34 hari, ini termasuk siklus dewasa normal, yang mana membuat perbedaan lebih gampil dideteksi.

Selama pubertas, ada eskalasi kadar testosteron yang memuncak beberapa tahun pasca menarche. Tes darah menjadi percuma aja, ini disebabkan karena nggak menyeleksi tingkat testoreron yang tingginya luar biasa, karena pada remaja, level normal tidak terdefinisi dengan rancak.

Testosteron yang melonjak ini, mengarah ke problematika jerawat yang jadi ciri khas masa remaja dan menghilang pada usia dewasa berikutnya. Suburnya jerawat meski hanya pada tahap sementara ini, memang nggak meramalkan penyakit di kemudian hari.

Acanthosis nigricans tampak seperti belang gelap beludru, biasanya ‘mencuat’ pada leher atau lipatan tubuh. Temuan klinis ini dianggap sebagai karakteristik resistensi insulin yang jangkung dan sering dijumpai pada pasien dengan diabetes tipe 2.

Tingkat keparahan acanthosis nigricans secara direk berkaitan dengan resistensi insulin level fatal. Semakin superior resistensi insulin, tambalan kulit semakin baplang dan bertambah gelap.

Ovarium polikistik atau PCOS, juga sulit didiagnosis selagi masa teenager. Trans-vaginal ultrasound (di mana probe ultrasound dimasukkan ke dalam vagina) ngasih gambaran ovarium yang paling gamblang.

Namun, ini biasanya dihindari pada gadis remaja, membikin diagnosis radiologis lebih elusif. Namun demikian, dalam penelitian, 26-54% dari remaja perempuan tanpa gejala memiliki ovarium polikistik (PCOS) jika diUSG.

Tiga kriteria yang digunakan untuk diagnosis PCOS:

  1. Hiperandrogenisme.
  2. Siklus tidak terstuktur, dan.
  3. Ovarium polikistik semuanya dapat ditemukan selama pubertas normal.

Kita butuh afeksi khusus jika melabeli pasien dengan PCOS, dan seringkali lebih bijaksana menangguhkannya sampai setelah selesai masa remaja untuk membuat diagnosis, karena ini bukan kondisi yang mendesak untuk diobati.

Tentunya, jika ada bukti diabetes tipe 2 atau obesitas, ini harus segera diobati. Obesitas sendiri diketahui terkait dengan melambungnya kadar insulin. Efek ini diperkirakan muncul selama pubertas dini. Selama Tanner tahap 3 (pubertas dini) misalnya, 93,8% remaja pra-remaja mengecap peningkatan testosteron. 0% insulin puasa non-obesitas juga 3 kali lebih tinggi pada barisan obesitas. Efek ini juga terlihat selama pubertas dan dewasa akhir, tetapi tidak ada gap yang nyata.

Perbedaan Diagnosa

Hiperandrogenisme dan ovarium polikistik tidak eksklusif untuk PCOS, sehingga penyakit lain yang menjiplak PCOS harus dikecualikan.

Maksudnya apa? PCOS nggak hanya ditandai dengan hiperandrogenisme (macho atau penampakan kayak laki-laki) dan adanya kista.

Meskipun kondisi ini jarang terjadi, mereka mungkin serius dan memprioritaskan treatment yang berbeda 180 derajat, jadi membikin perbedaan itu esensial.

Daftar kondisi paralel meliputi:

  1. Kehamilan
  2. Prolaktin berlebih
  3. Penyakit tiroid
  4. Hiperplasia Adrenal
  5. Sindrom Cushing
  6. Tumor penghasil androgen
  7. Obat diinduksi

PCOS hanya dapat didiagnosis ketika masalah lain ini telah ditelusuri, baik melalui pemeriksaan fisik atau laboratorium. Mari kita pertimbangkan kondisi lainnya.

Kehamilan


Kehamilan, sejauh ini adalah merupakan penyebab menstruasi mendadak berhenti. Dan ini gejala paling universal. Tentunya, tes kehamilan sederhana, baik tes rumah atau konfirmasi laboratorium adalah wajib. Nah, pemeriksaan PCOS juga sekufu alias sama aja, Sob. Akan memalukan banget jika diagnosis sederhana ini ditendang atau ditiadakan.

Hiperprolaktinemia

Hiperprolaktinemia adalah adanya ekses hormon prolaktin dalam darah. Prolaktin biasanya disekresikan oleh kelenjar pituitari di otak pada mamalia, termasuk manusia, tugasnya menghasilkan susu.

Prolaktin meningkat secara normal menjelang akhir kehamilan karena dibutuhkan untuk perkembangan payudara yang betul. Kan mau nyusuin.

Berbagai kondisi dapat menimbulkan hiperprolaktinemia, termasuk penyakit ginjal atau hati kronis, obat-obatan, dan penyakit tiroid. Penyakit umum lainnya adalah tumor kecil (mikro-adenoma) dari kelenjar pituitari yang dapat mensekresikan prolaktin ke dalam darah.

Diagnosis dibuat dengan mengukur kadar darah prolaktin. Tingkat prolaktin yang rabung dapat menghambat estrogen dan tanda ketidakteraturan menstruasi serta sulit untuk ovulasi atau sulit hamil. Ini mungkin meniru gejala-gejala PCOS.

Gejala lain yang dapat menyokong membedakan penyakit ini termasuk:

  1. Pembesaran payudara dan.
  2. Produksi ASI yang abnormal.

Gangguan Tiroid

Tiroid adalah kelenjar kecil di depan leher. Ini memangkas hormon tiroid yang mengontrol aspek metabolisme dalam jumlah banyak.

Gangguan hormon tiroid yang terlalu sedikit dapat:

  1. Menghasilkan penambahan berat badan.
  2. Ketidakteraturan menstruasi.
  3. Ketidaksuburan dan kerontokan rambut.

Yang mungkin ambigu dengan PCOS. Tes darah hormon tiroid (TSH, T3, T4) harus aplikasikan untuk menyingkirkan kondisi, yang sebetulnya, mudah diobati ini.


Kesalahan penerjemahan Hiperplasia Adrenal Kongenital Non-klasik (NCAH)

NCAH adalah kelainan genetik langka yang muncul dengan diagram klinis hiperandrogenisme yang mirip dengan PCOS, sering terjadi pada wanita muda. Androgen biasanya diproduksi di kedua indung telur dan korteks dari kelenjar adrenal.

Seringnya, NCAH melahirkankelebihan produksi androgen oleh kelenjar adrenal dan sindrom yang mengingatkan kita pada PCOS, dengan gejalanya yaitu menstruasi tidak teratur, hirsutisme, dan jerawat. Tes darah, khususnya respon 17-OH-PG terhadap stimulasi ACTH akan memisahkan antara NCAH dan PCOS.

Sindrom Cushing


Dalam beberapa kasus, tumor dapat menutupi kortisol yang volumenya berlimpah-limpah. Dalam kasus lain, kortisol sintetis (prednisone) digunakan sebagai obat untuk terapi penyakit autoimun (asma, lupus) dan transplantasi, tujuannya, untuk menekan sistem kekebalan tubuh.

Peningkatan kadar kortisol dapat membuahkan kenaikan berat badan, ketidakteraturan menstruasi dan infertilitas yang mungkin gejalanya malah tertukar dengan PCOS.

Kehadiran gejala lain seperti:

  1. Distribusi lemak yang nggak rata misalnya ada punuk kerbau.
  2. Striae.
  3. Penipisan kulit.
  4. Kelemahan otot dan atrofi.
  5. Kepekaan terhadap infeksi.
  6. Depresiasikepadatan tulang.
  7. Kondisi kejiwaan yang parah serta disfungsi kognitif,

Dapat membantu membedakannya dari PCOS. Tes darah dapat mendeteksi kadar kortisol yang jenjang yang terkait dengan PCOS.

Ekses Androgen (Obat/ Tumor diinduksi)


Tumor di kelenjar adrenal atau ovarium dapat mensekresi androgen yang jumlahnya aduhai, yang mana dapat menyebabkan hirsutisme, pembesaran klitoris, pendalaman suara, dan kebotakan pola pria. Ini sangat jarang, tetapi berkapasitas mengancam nyawa. Rata-rata usia diagnosis adalah 23,4 tahun, tumpang tindih secara substansial dengan PCOS.

Tumor biasanya memanifestasikan kadar androgen yang jauh lebih tinggi daripada yang dilihatdi PCOS, sehingga nyebabin gejala yang jauh lebih parah. Menerawang seperti menggunakan alat  CT scan perut mungkin krusial untuk menjaring tumor seperti itu.

Kelebihan androgen yang dipicu oleh obat biasanya kedapatan pada mereka yang secara diam-diam mengonsumsi testosteron,  biasanya dipake sebagian besar untuk mendongkrak kinerja atletik. Jadi memang mungkin atlet udah biasa mengonsumsi ini, Sob.

Karena pasien mungkin nggak selalu mengaku telah menggunakannya, indeks kecurigaan yang tinggi seharusnya menjadi alasan shahih untuk membikin diagnosis.

Epidemiologi

Dengan menerapkankriteria NIH 1990, prevalensi PCOS berkisar antara 6-9%, dengan tingkat yang sangat mirip di seluruh dunia, meskipun disparitas yang tinggi pada level obesitas.

Ketika memakai kriteria Rotterdam yang lebih luas, prevalensi PCOS umumnya dua kali lipat dari menggunakan kriteria NIH yang lebih tua.

Dengan demikian, perkiraan paling baru dari prevalensi mengungkapkan itu, yang mana mempengaruhi 15-20% wanita, sejauh ini, menjadikannya gangguan endokrin yang paling umum dari wanita muda.

Sumber Gambar

Sekitar 1 dari 15 wanita yang tidak terpilih di Amerika Serikat proporsinya sama aja, dengan yang ada di Spanyol, Yunani, dan Inggris. Ini membuktikan bahwa diperkirakan 105 juta wanita menderita.

Studi kembar menunjukkan bahwa ada pengaruh genetik yang jelas pada tingkat insulin puasa, indeks massa tubuh dan kadar androgen.

Sebuah studi besar Belanda yang membandingkan kembar identik dengan pasangan kembar fraternal, menemukan bahwa sekitar 70% PCOS dapat dikaitkan dengan pengaruh genetik. Ini sebanding dengan perkiraan bahwa 70% obesitas, mungkin terkait dengan genetika.

Dengan demikian, secara keseluruhan kemungkinan gen ini mempengaruhi predisposisi untuk obesitas dan PCOS. Obesitas dan PCOS bisa disebabkan oleh genetis dalam keluarga. Saudara perempuan pasien PCOS lebih cenderung memiliki gejala dengan perkiraan 22% juga mengamini kriteria diagnostik yang paripurna.

Pemaparan lebih lanjut, 24% dari saudara perempuan yang menderita hiperandrogenisme tetapi siklus menstruasinya cukup regular, kemungkinan menunjukkan bahwa mereka juga bertendensi menderita PCOS ringan. Ibu pasien dengan PCOS memiliki kadar androgen yang lebih tinggi, resistensi insulin dan sindrom metabolik.

Keluarga tingkat pertama, laki-laki atau perempuan mungkin lebih akan menanggung resistensi insulin.

Terlepas dari kecenderungan genetik yang setrong ini, nggak ada gen tunggal yang diidentifikasi sebagai faktor penyebab yang nunjukin bahwa PCOS adalah kelainan genetik kompleks dengan gen masif yang mana berkontribusi pada jenjang risiko yang alit.

Selain penderitaan manusia, beban ekonomi PCOS sangat hiper. Di Amerika Serikat, sekitar $4 miliar pada tahun 2004 digelontorkan untuk biaya terkait treatment-nya. PCOS adalah salah satu penyulut eminen pada infertilitas dan fertilisasi in-vitro, for your information ya, ini adalah industri multi-miliar dolar.

Wanita dengan PCOS yang akhirnya menjadi hamil berada pada eskalasi risiko komplikasi kandungan seperti diabetes gestasional, hipertensi yang diinduksi kehamilan dan pre-eklampsia.

PCOS dikaitkan dengan banyak penyakit yang nggak menjadi bagian dari kriteria diagnostik. Mungkin yang paling vital adalah riwayat berat badan yang melambung yang mana seringkali merupakan tanda untuk mendiagnosis PCOS.

28,3% wanita gemuk yang dirujuk ke satu klinik didiagnosis dengan PCOS, lalu berhasil menurunkan berat badan juga telah terbukti mengurangi testosteron, menghebatkan resistensi insulin dan melorotkan hirsutisme (lebih lanjut tentang ini nanti).


PCOS secara umum ditandai dengan menjulangnya obesitas yang parah, tetapi, santai aja efeknya cukup sederhana kok. Dianjurkan juga untuk secara rutin melakukan tes diabetes tipe 2. Mengukur glukosa puasa aja dapat diagnosis dengan mudah, tetapi manfaatnya mencapai 80% pasien pra-diabetes dan 50% pasien diabetes.


Ini berguna banget karena gaya hidup segera diperbaiki di tahap awal sehingga mencegah kerusakan organ lebih lanjut.


Pedoman saat ini merekomendasikan bahwa wanita dengan PCOS harus diskrining pake tes toleransi glukosa oral setiap 3-5 tahun. Jika ada faktor risiko lain, ini harus dilakukan setiap tahun.

Pertimbangan penting lainnya adalah merokok dan kesejahteraan psikologis. Baik depresi dan kecemasan adalah gejala universal di antara pasien PCOS. Pasien dengan PCOS biasanya akan dirawat di rumah sakit dibandingkan dengan mereka yang nggak memiliki penyakit.

PCOS digandengkan dengan obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan stroke. Diabetes tipe 2 yang merayap dan sindrom metabolik, menempatkan wanita berisiko semampai di kemudian hari dari penyakit jantung, stroke dan kanker.

Oleh karena itu, tagihan $4 miliar ini kemungkinan meremehkan total biaya fiskal penyakit ini, apalah artinya jika dibandingkan dengan penderitaan manusia, Sob. Sebagai perbandingan aja ya, biayanya 3 kali lipat dari total biaya hepatitis C lho.

Dalam mencoba memahami pengobatan PCOS yang tepat, perlu untuk menyelami penyebab penyakit. Karena kaitannya yang erat dengan obesitas dan diabetes tipe 2, PCOS telah jelas muncul sebagai penyakit metabolisme, bukan sekadar gangguan reproduksi, jadi menangkap tautan dengan obesitas adalah tempat terbaik untuk memulai.

Ingin Kurus dan Ramping? Lihat Lebih Detail Tentang Kortisol

Sumber Gambar

Kamu ingin gemuk? Gampang. Saya bisa membuat semua orang menggendut. Bagaimana caranya? Gampang dan sangat sederhana. Hanya dengan meresepkan prednisone— versi sintetis dari hormon manusia kortisol—-kamu bisa segera menjadi bulat.

Prednisone digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit inflamasi, termasuk asma, rheumatoid arthritis, lupus, psoriasis, penyakit radang usus, kanker, glomerulonefritis dan myasthenia gravis. Kortisol membuatmu gemuk. Bukan kebetulan, baik insulin maupun kortisol memainkan peran kunci dalam metabolisme karbohidrat.  

Kortisol adalah hormon stres. Ini memediasi ‘flight or fight response’ dengan bantuan sistem saraf simpatik. Kortisol adalah bagian dari kelas hormon steroid yang disebut glukokortikoid (glukosa + korteks + steroid) yang diproduksi di korteks adrenal.

Mengapa tubuh menghasilkan kortisol? Sebagai respons terhadap stres. Pada masa Paleolitik, ini sering merupakan stres fisik, seperti dikejar predator. Pelepasan kortisol sangat penting dalam mempersiapkan tubuh kita untuk bertindak— to fight or flee atau untuk melawan atau melarikan diri. Kortisol meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi kebutuhan tidur. Secara substansial, tubuh menyetok gudang glukosa. Mengapa seperti itu? Tubuh menyediakan energi untuk otot, sebagai upaya membela diri agar tidak dimakan.

By: Dokter Jason Fung (A Closer look at Cortisol – Hormonal Obesity XXXX)

Semua energi dikumpulkan untuk bertahan dan menghadapi serangan stres selanjutnya. Pertumbuhan, pencernaan dan masalah jangka panjang lainnya dibatasi untuk sementara. Protein dipecah dan diubah menjadi glukosa (glukoneogenesis).

Cara Menurunkan Kortisol

Dalam keadaan puasa, kortisol memiliki beberapa mekanisme untuk meningkatkan glukosa dalam tubuh. Efek peningkatan glukosa darah prednison kortisol sintetis telah dikenal paling sedikit 40 tahun. Ini termasuk:

  1. Stimulasi glukoneogenesis hati
  2. Penghambatan pengambilan glukosa pada jaringan periferal
  3. Stimulasi lemak dan asam amino (membantu memberikan substrat untuk glukoneogenesis hati)

Sejumlah kegiatan fisik yang berat (fight or flight), akan segara membakar glukosa di gudang lemak, yang stoknya bertambah berkat peranan kortisol. Tak lama kemudian, kami mati, atau bahaya bisa diatasi. Dalam kedua kasus tersebut, tingkat kortisol menurun kembali ke tingkat rendah. Bagaimana cara tubuh beradaptasi? Untuk jangka pendek, tubuh akan meningkatkan kortisol dan glukosa.

Secara substansial suplai glukosa ditambah. Mengapa seperti itu? Karena otot membutuhkan berlimpah-limpah energi supaya tidak dimakan binatang buas. Insulin adalah hormon penyimpan glukosa. Jika insulin tinggi, tubuh akan menyimpan energi dalam bentuk glikogen dan lemak.

Kortisol, di sisi lain mempersiapkan tubuh untuk melakukan sebuah aksi. Kortisol memindahkan energi dari gudang, dan mengubahnya menjadi bentuk yang mudah dipakai seperti glukosa. Tetapi, efeknya sama saja, yaitu membuatmu menggemuk. Insulin dan kortisol berakting bertolak belakang saat menghadapi stres jangka pendek.

Namun, jika stres psikologis berlangsung dalam jangka waktu panjang, situasinya akan berbeda. Di zaman modern, stres kronis, stresor non fisik meningkatkan kortisol.

Misalnya, masalah perkawinan, masalah di tempat kerja, pertengkaran dengan anak-anak, dan kurang tidur adalah penyebab stres yang serius, tetapi tidak diikuti dengan kegiatan fisik yang memadai, sehingga glukosa darah tetap tinggi. Dalam kondisi stres yang kronis, kadar glukosa tetap tinggi.

Ciri-ciri kortisol tinggi atau mengalami cushing syndrome

Tidak ada aktivitas fisik  untuk membakar glukosa, dan tidak ada resolusi pada stressor. Glukosa darah bisa tetap tinggi selama berbulan-bulan. Peningkatan glukosa kronis ini dapat memicu pelepasan insulin. Kortisol yang meningkat secara kronis menyebabkan peningkatan insulin. Hal ini telah ditunjukkan dalam beberapa penelitian.

Sebuah studi telah mengukur secara berulangkali secara acak pada jam kerja. Kortisol meningkat dengan tingkat stres. Peningkatan kortisol terkait stres ini menunjukkan hubungan kuat yang konsisten dengan peningkatan glukosa dan peningkatan kadar insulin (16). Pendorong utama obesitas adalah insulin. Oleh karena itu, nggak heran jika ada hubungan antara BMI dengan perut buncit.

Dengan menggunakan kortisol sintetis, kita juga bisa meningkatkan insulin secara eksperimental. Relawan sehat diberi kortisol 50mg empat kali sehari selama 5 hari.

Tingkat insulin naik 36%. Studi lain menunjukkan bahwa penggunaan prednisone meningkatkan kadar glukosa sebesar 6,5% dan kadar insulin sebesar 20%. Seiring waktu, resistensi insulin juga berkembang terutama di organ hati. Ada hubungan dosis-respon langsung antara kortisol dan insulin.

Untuk setiap unit kenaikan kortisol gratis, insulin meningkat sebesar 9,7 mU / I. Penggunaan jangka panjang prednison dapat menyebabkan keadaan resisten insulin atau berkembangnya diabetes. Melonjaknya resistensi insulin yang terlihat pada diabetes tipe 2, menyebabkan naiknya kadar insulin.

Bahkan lima tahun setelah penyembuhan penyakit Cushing, tingkat insulin yang merayap naik tetap ada. Hal ini kemungkinan terkait dengan sindrom resistensi insulin yang telah berkembang. Ini adalah mekanisme lain dimana kelebihan kortisol menyebabkan peningkatan insulin. Glukokortikoid menghasilkan resistensi insulin pada otot rangka. Bagaimana cara kerjanya? Dengan mengganggu sinyal insulin, sehingga jaringan tidak menangkap sinyalnya.Bagaimana mekanisme molekuler? Ia melakukan pemetaan,  termasuk degradasi IRS-1, dan eskalasi kadar protein PTP1B dan p38MAPK. Setelah ia mengikat reseptor insulin, dia akan segera memberantakkan kerja insulin. Selain itu, otot melepaskan asam amino untuk glukoneogenesis, sehingga meningkatkan resistensi insulin. Glukokortikoid juga menekan adiponektin (meningkatkan sensitivitas insulin). Siapa yang mensekresikan adiponektin? Sel lemak.

Di satu sisi, resistensi insulin memang sesuai dengan ekpektasi, karena kortisol umumnya melawan insulin. Kortisol meningkatkan gula darah dimana insulin menurunkannya. Resistensi insulin ini, seperti yang akan kita lihat di bab selanjutnya, adalah faktor terkrusial yang menyebabkan kamu membulat. Resistensi insulin akan menembak langsung pada melompatnya kadar insulin.Tingginya level  insulin merupakan pendorong utama obesitas.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kortisol menegaskan resistensi insulin ini. Jika kortisol menaikkan insulin, maka memangkas kortisol harusnya mengurangi insulin. Situasi ini ditemukan pada pasien yang ditransplantasi, dan mengonsumsi kortisol sintesis selama bertahun-tahun, atau selama beberapa dekade.

a buffalo hump atau punuk kerbau

Menghentikan pemakaian prednisone menyebabkan penurunan insulin plasma sebesar 25%. Artinya berat badan turun sekitar 6.0%, dan lingkar pinggang mengecil menjadi 7,7%.

Kelebihan kortisol sama saja seperti kelebihan insulin, sama-sama menyebabkan konsekuensi kardiovaskular.

Ini juga dikenal sebagai sindrom metabolik yang ditandai dengan:

  1. Gula darah tinggi,
  2. Tekanan darah,
  3. Kolesterol dan
  4. Obesitas perut.

Sindrom Cushing juga mencakup insulin tinggi, gula darah, tekanan darah, kolesterol dan obesitas truncal. Apakah kelebihan kortisol, dari tekanan psikologis jangka panjang menyebabkan penambahan berat badan?  Tentu bukti anekdotal nampaknya menunjukkan bahwa stres menyebabkan obesitas.

Tapi ada beberapa penyakit tertentu yang ditandai dengan produksi kortisol yang berlebihan. Ini disebut penyakit Cushing atau sindrom Cushing. Harvey Cushing awalnya menggambarkan seorang wanita berusia 23 tahun pada tahun 1912 yang menderita kenaikan berat badan, pertumbuhan rambut yang berlebihan dan tidak mengalami haid. Gula darah tinggi dan diabetes setidaknya dialami 1/3 kasus.

Pasien yang memakai prednison jangka panjang sering terlihat mirip dengan pasien ini dan mengembangkan sindrom Cushinoid. Ada redistribusi lemak tertentu dari tungkai ke batang tubuh dan wajah disebut obesitas truncal. Istilah ‘moon face’ digunakan untuk menggambarkan kenaikan berat badan yang aneh di wajah.

A ‘buffalo hump’ atau  ‘punuk kerbau’ menggambarkan pengendapan lemak di belakang. Tapi ciri khas penyakit ini adalah penambahan berat badan. Dalam rangkaian kasus, 97% pasien menunjukkan kenaikan berat badan di area perut, dan 94% menunjukkan berat badan yang melambung tinggi. Resistensi insulin adalah karakteristik kunci lain dari sindrom Cushing. Kortisol dan prednison menyebabkanmu menjadi gembrot.

Banyak pasien mengeluh bahwa mereka menggemuk meski makan sedikit dan kosisten berolahraga. Setiap penyakit yang menyebabkan kelebihan sekresi kortisol menyebabkan penambahan berat badan. Kortisol menyebabkan timbangan bergeser ke kanan. Sindrom Cushing subklinis dikaitkan dengan obesitas.

Pasien ini bisa ditemukan dengan tes darah, namun belum memiliki gejala penyakit. Glukosa setelah puasa dan insulin juga membumbung pada pasien ini. Kortisol menyebabkan kamu menggemuk.

Namun, efek ini terlihat bahkan di dalam populasi normal, tanpa sindrom Cushing.

Dalam sampel acak dari Glasgow Utara, Skotlandia, tingkat ekskresi kortisol berkorelasi kuat dengan Indeks Massa Tubuh (BMI) dan ukuran pinggang. Tingkat kortisol yang lebih tinggi terlihat pada orang yang lebih gemuk. Kortisol terkait akumulasi lemak terutama deposito lemak di perut, yang menghasilkan rasio pinggang/ pinggang meningkat (WHR) atau buncit. Distribusi berat lemak di perut ini lebih berbahaya bagi kesehatan daripada lemak  di anggota tubuh yang lain.

Meditasi Bisa Menurunkan Kortisol

Untuk mengukur kortisol, kita bisa melihatnya dari besarnya ukuran perut. Orang dengan ekskresi kortisol lebih tinggi memiliki rasio pinggang dan pinggul yang lebih tinggi. Pasien yang di air liurnya ditemukan kortisol tingkat tinggi juga mengalami kenaikan BMI dan rasio pinggang/ pinggul.

Dengan kata lain, ada bukti substansial bahwa stimulasi kortisol kronis melambungkan insulin dan obesitas. Paparan jangka panjang terhadap kortisol dalam tubuh dapat diukur dengan analisis rambut kepala. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan pasien obesitas dengan berat badan normal, peneliti menemukan peningkatan kadar kortisol di kulit kepala.

Tes akhir adalah ini. Dapatkah saya membuat seseorang gemuk dengan prednison? Jika bisa, ini membuktikan hubungan kausal, bukan sekadar hubungan. Apakah prednisone menyebabkan obesitas? Ya, benar sekali! Kenaikan berat badan adalah salah satu efek samping pengobatan yang paling lumah dan populer.

Ini adalah hubungan kausal. Pemberian prednison dosis tinggi menyebabkan penambahan berat badan. Kortisol melonjak. Pasien menggemuk. Kortisol menyebabkan kenaikan berat badan.

Bagaimana jika dilakukan sebaliknya? Jika kortisol tinggi menyebabkan kenaikan berat badan, maka kadar kortisol yang rendah harusnya membuatmu meramping. Ya. Ini terjadi pada penyakit Addison. Juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal, Thomas Addison menggambarkan kondisi klasik ini pada tahun 1885. Kortisol diproduksi di kelenjar adrenal.

Jika mengalami kerusakan, level kortisol menjadi sangat rendah. Penyebab major penyakit Addison adalah kerusakan autoimun. Sebelumnya, tuberkulosis telah menjadi penyebab utama sindrom ini. Ciri khas penyakit Addison adalah penyusutan berat badan.

Dalam rangkaian kasus besar, 97% pasien menunjukkan kehilangan berat badan. Kadar kortisol turun. Orang melangsing. Kortisol menyebabkan kenaikan berat badan. Kortisol bisa menyebabkan kadar insulin tinggi dan resistensi insulin.

Mungkin ada jalur obesitas lain yang belum ditemukan. Tetapi, fakta yang tak terbantahkan adalah kelebihan kortisol menyebabkan kamu menggemuk. Dengan ekstensi, stres menyebabkan obesitas. Ini adalah sesuatu yang secara intuitif dipahami banyak orang, meskipun tidak ada bukti. Ini pasti masuk akal. Jauh lebih masuk akal daripada kalori yang menyebabkan kegemukan.

Mengurangi stres itu sulit, tapi sangat penting. Bertentangan dengan anggapan populer, duduk di depan televisi atau komputer adalah cara yang buruk untuk menghilangkan stres. Sebaliknya, merilis stres adalah proses yang aktif. Ada banyak metode penanggulangan stres yang telah teruji waktu. Ini termasuk meditasi kesadaran, yoga, terapi pijat, dan olahraga. Studi tentang intervensi perhatian dapat menggunakan yoga, meditasi terpandu, dan diskusi kelompok untuk berhasil mengurangi kortisol dan lemak perut.

Ingin Kurus dan Ramping? Baca Tentang Dilema Daging Merah (2)

 

Sumber Gambar

Para pemuja diet rendah karbohidrat, akhirnya, terpaksa harus menghadapi dilema daging merah. Tadinya mereka berpikir, daging tidak membuat gemuk karena bukan karbohidrat. Tetapi, beberapa studi besar mempertanyakan asumsi ini.

Studi menarik “Perubahan Pola Makan dan Gaya Hidup dan Keuntungan Berat Jangka Panjang pada Wanita dan Pria” menunjukkan korelasi yang erat antara daging merah dan obesitas. Sejak ditemukan fakta bahwa protein sanggup membuat insulin melonjak, daging juga tidak sejinak yang dibayangkan. Pengalaman asik Atkins yang tak terhitung jumlahnya memperkuat hasil percobaan.

Jutaan pelaku diet pada akhir tahun 1990an dan awal 2000an mencoba Atkins rendah karbohidat-protein tinggi. Bagi beberapa orang, diet itu berhasil. Namun, janji Atkins tinggallah janji. Persentasi kegagalannya cukup tinggi. Dan, popularitasnnya pun berkurang.

Tidbit menarik lainnya dari penelitian tersebut melibatkan kegunaan olahraga. Secara keseluruhan, ada efek menguntungkan olahraga jika kamu ingin menggemuk. No surprise there.

Memecah setiap kelompok diet menjadi kuintil olahraga, kamu dapat melihat bahwa di dalam setiap kelompok diet, olahraga memang bermanfaat, namun durasinya harus sangat lama. Efek olahraga tidak terlalu signifikan. Ini juga bukan hal baru. Faktor yang sangat penting dalam menggemuk atau meramping adalah diet. Olahraga adalah hal sekunder. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, diet adalah Batman, olahraga adalah Robin. Risiko Diabetes tipe 2, terkait erat dengan obesitas dan daging merah juga telah diteliti.

“Konsumsi daging merah dan risiko diabetes tipe 2: 3 kohort orang dewasa AS dan analisis meta yang diperbarui” melihat kohort yang sama dengan penelitian sebelumnya. Menganalisis hasilnya secara terpisah untuk daging olahan dan belum diproses, ada korelasi kuat antara diabetes dan kedua jenis daging tersebut.

By: Dokter Jason Fung (Red Meat Dilemma 2 – Hormonal Obesity XXVII)

Namun, rasio bahaya hanya 1,19 untuk 100 gram daging merah tanpa diolah dibandingkan 1,5 untuk 50 gram daging olahan. Menempatkannya ke dalam bahasa Indonesia sederhana, itu berarti bahwa untuk setiap 100 gram ekstra daging yang tidak diproses (steak, pork chop dll), ada peningkatan 20% pada risiko diabetes. Untuk setiap tambahan 50 gram daging olahan (bacon, luncheon meats, dll) ada peningkatan 50% pada risiko diabetes.

Sumber Gambar

Seperti yang kita lihat dalam kasus karbohidrat, toksisitasnya tidak terletak pada makanan itu sendiri, tapi dalam pengolahannya. Sejumlah penelitian lain menunjukkan perbedaan antara daging olahan dan daging yang tidak diolah.

Sebuah tinjauan sistematis “Konsumsi daging dan olahan merah dan risiko insiden penyakit jantung koroner, stroke, dan diabetes: Tinjauan sistematis dan meta-analisis” menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara daging yang tidak diproses dan diabetes, penyakit jantung atau stroke, namun 42 % peningkatan risiko dengan daging olahan.

Hasil dari studi di Eropa diterbitkan dalam “Konsumsi daging dan hasil kematian terhadap Kanker dan Nutrisi dari The European Prospective Investigation.”

Meningkatnya angka kematian dan risiko kanker terlihat terutama dengan daging olahan. Efeknya jauh lebih lemah pada daging yang tidak diproses dan tidak penting secara statistik. Ini adalah pukulan lain terhadap diet Atkin. Saran untuk mengusir si roti dan hanya makan semua daging sepuasnya adalah saran yang salah kaprah.

Sosis, luncheon meats, daging asap dan daging olahan lainnya sama buruknya dengan karbohidrat. Toksisitasnya terdapat dalam pengolahan. Ini benar-benar masuk akal.

Tubuh kita berevolusi untuk makan berbagai jenis makanan tanpa menimbulkan masalah kesehatan. Beberapa makanan jaman kuda gigit besi mengandung daging dan lemak yang sangat tinggi, contohnya adalah Inuit. Yang lainnya, seperti Kitavans dan Okinawans, asupan hariannya sangat tinggi karbohidrat.

Namun kedua makanan tradisional itu berasosiasi dengan kesehatan yang baik. Coba kamu perhatikan, mereka berdua tidak termasuk makanan olahan. Mereka bukan daging olahan atau karbohidrat olahan. Melihat konsep kita untuk teori obesitas hormonal, kita dapat menambahkan efek protein hewani. Ada pemahaman baru yaitu protein menambahkan rasa kenyang dan mengurangi pengosongan perut. Pertimbangkan macronutrients utama—lemak, protein dan karbohidrat.

Sumber Gambar

Protein dan karbohidrat menstimulasi insulin pada derajat yang berbeda. Diet tinggi lemak banyak berpengaruh. Namun, selama 4 dekade terakhir, atas perintah otoritas nutrisi, kita telah mengurangi asupan lemak. Ini membuat kita mengkompensasinya dengan meningkatkan asupan protein dan karbohidrat.

Dengan demikian kita dapat melihat di mana kebingungan dengan teori kalori masuk dan kalori keluar. Karena nampaknya semua macronutrien sama, kita membayangkan bahwa semua makanan, terlepas dari kandungan gizi dapat diukur dalam unit yang sama—kalori.

Awalnya kita mencoba mengikuti diet rendah lemak dan tinggi karbohidrat. Saat gagal, pendekatan Atkins rendah lemak, protein tinggi diujicoba. Itu juga gagal. Sekarang kita meraba-raba tanpa tahu apa yang terjadi karena kita tidak memiliki kerangka kerja untuk memahami etiologi obesitas yang mendasarinya. Salah satu poin terpenting di sini adalah bahwa protein dan karbohidrat sebenarnya telah dilengkapi dengan faktor pelindung.

Pada karbohidrat pelindungnya adalah si serat. Karbohidrat yang tidak diproses mengandung serat yang sangat tinggi. Masyarakat tradisional sering makan lebih dari 50-100 gram serat. Standar diet Amerika Utara sekarang adalah karbohidrat yang diproses (menghilangkan serat).

Dengan protein diet, kita dilindungi oleh efek incretin dan perlambatan motilitas lambung. Diet protein meningkatkan kenyang sehingga kita akan merasa lebih ‘penuh’ dan makan lebih sedikit pada makanan berikutnya. 

Di tahun-tahun yang lalu, hidangan besar yang penuh protein akan diikuti dengan periode puasa yang panjang untuk ‘mencerna’. Sekarang cara makan seperti itu sudah tidak diikuti lagi.

Sementara kita dapat menikmati makan sepuas hati, seperti Thanksgiving, kita paranoid untuk melewatkan makan berikutnya karena kita secara tidak rasional khawatir bahwa melewatkan makanan berikutnya akan ‘menghancurkan’ metabolisme kita.

Kita melihat fenomena ini pada anak-anak. Jika mereka tidak lapar, mereka tidak akan makan. Kita juga melihat ini pada binatang liar—singa, harimau, ular dll.

Tahun pelatihan telah mempersiapkan kita untuk mengabaikan perasaan kenyang kita sehingga kita akan makan jika telah tiba jam makan, kita memaksakan diri untuk memamah biak meski tidak lapar. Jadi, kita menghindari efek perlindungan dari  incretins dengan secara kaku menjadwalkan makanan kita 3 kali sehari, come hell or high water.

You may not be hungry, but by god, you will eat! Intrisik atau pembawaan makanan pada dasarnya tidak ada yang buruk, proses pengolahannyalah yang membuatnya menjadi rusak. Semakin jauh kamu menyimpang dari makanan sungguhan, semakin banyak bahaya yang kamu hadapi.

Sumber Gambar

 

Apakah kamu harus makan protein bar? Tidak.

Apakah kamu harus makan pengganti makanan? Tidak.

Apakah kamu minum pengganti makanan shakes? Tidak. Sumpah itu ngeri banget.

Haruskah kamu menghindari daging olahan dan karbohidrat? Sejauh yang kamu bisa. Sulit untuk menghapus semua ini dari makanan kita. Oleh karena itu kita telah berevolusi selama berabad-abad membuat strategi diet lainnya untuk ‘mendetoksifikasi’ atau ‘membersihkan’ diri kita sendiri.

Sekarang ini, trik ini juga telah hilang dalam kabut waktu. Kita akan menemukan kembali rahasia kuno ini segera, tapi ya, itu adalah cliffhanger. Untuk saat ini, tetap berpegang pada makanan riil.

Mau Kurus dan Ramping? Baca Tentang Apakah Susu Menggemukkan?

Sumber Gambar

Protein susu menstimulasi level insulin menjadi tinggi, apakah penyebabnya? Karena adanya efek incretin. Meski, tidak menyebabkan naiknya gula darah. Jika insulin melambung, apakah ini berarti susu menggemukan? Jawabannya lebih ruwet, Bro. Seperti yang kita lihat di jurnal sebelumnya, protein merangsang insulin sebagian besar karena efek incretin. Ini adalah hormon yang disekresi di perut yang membantu pencernaan dan merangsang insulin. Mereka dilepaskan sebagai respons terhadap konsumsi ketiga macronutrients—lemak, protein dan glukosa.

Implikasinya adalah semua makanan bisa merangsang pelepasan insulin, bukan hanya karbohidrat.Lemak diet memiliki efek paling rendah terhadap sekresi insulin. Sebaliknya, hanya karbohidrat yang memiliki efek signifikan pada glukosa.Untuk makanan bertepung, ada korelasi yang sangat akrab antara indeks glisemik dan indeks insulin. Namun, dalam beberapa kasus, khususnya pada produk susu (dairy), ada perbedaan besar. Sebagian besar makanan olahan susu memiliki skor GI yang sangat rendah (15-30) namun skor Insulin Index sangat tinggi (90-98).

Sekilas, ini mungkin tampak mengimplikasikan protein susu sebagai kontributor utama diabetes. Di sini ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa ini benar adanya.Sebuah studi observasi Eropa baru-baru ini yang diterbitkan secara besar-besaran menerbitkan “Asupan Diet Protein Total, Hewan, dan Sayuran dan Risiko Diabetes Tipe 2 dalam Investigasi Calon Calonorpean ke dalam Studi Kanker dan Nutrisi (EPIC) -NL”. Ada 38.094 peserta dalam studi EPIC yang diikuti lebih dari 10 tahun secara prospektif. Semakin tinggi konsumsi protein dan konsumsi protein hewani, maka risiko diabetes tipe 2 pun melonjak. Ini tampak sepele namun sangat signifikan.

Rekomendasi diet lain yang sering diberikan adalah saran untuk mengonsumsi lebih banyak ikan. Dengan kandungan lemak omega 3 yang tinggi, ini tampak merupakan saran yang bagus. Lemak omega 3 diketahui mengubah ekspresi gen reseptor proliferator-aktivator peroksisom. Dengan demikian, ekspektasi kita terhadap si ikan, ia sanggup memberikan efek menguntungkan yaitu bisa mereduksi diabetes tipe 2.

By: Dokter Jason Fung  (Is Dairy Fattening? – Hormonal Obesity XXIV)

Periset dari Harvard melihat data dari 3 kohort prospektif besar (Studi Kesehatan Perawat 1 dan 2, dan Tindak Lanjut Profesi Kesehatan). Ini termasuk 195 204 subjek yang diikuti selama 14-18 tahun. Makalah “Asam lemak Long Chain Omega 3, asupan ikan, dan risiko diabetes mellitus tipe 2” dipublikasikan pada tahun 2009 di AJCN.

Hasilnya sungguh mengejutkan, tidak ada manfaat dengan memakan banyak ikan. Sebenarnya, hal yang sebaliknya tampak benar. Ada peningkatan yang sederhana namun signifikan pada diabetes dengan naiknya asupan ikan. Asupan ikan tertinggi memiliki 24% peningkatan risiko terkena diabetes tipe 2.

Melihat data ini, tampak bahwa asupan protein tinggi, terutama protein hewani mungkin merugikan sebagian karena peningkatan insulin. Haruskah kita semua menjadi vegan? Data di sini adalah sesuatu yang jelas. 

Berkenaan dengan produk susu, penelitian observasional besar lainnya tampaknya menunjukkan bahwa, konsumsi susu yang meningkat menyebabkan berat badan tidak naik.

Hubungan ini dieksplorasi dalam makalah “Asosiasi antara konsumsi makanan susu dan perubahan berat badan di atas 9 y pada 19 352 wanita perimenopause” yang diterbitkan di AJCN pada tahun 2006. Mammography Swedish Cohort adalah sebuah penelitian observasional berbasis masyarakat yang menggunakan kuesioner recall makanan untuk memperkirakan produk susu asupan dan membandingkannya dengan perubahan berat badan.

Efeknya relatif sederhana, namun tidak ada kenaikan kenaikan berat badan dengan tingginya konsumsi produk susu. Melihat produk susu yang berbeda, konsumsi susu utuh, susu asam, keju dan mentega sepertinya berasosiasi dengan rendahnya kenaikan berat badan. Minum susu rendah lemak, di sisi lain, menghasilkan kenaikan berat badan yang minor.

Di Amerika Serikat, studi CARDIA mengambil sampel 3157 orang dewasa muda di 4 wilayah metropolitan dan mengukur indikator sindrom metabolik termasuk obesitas selama masa tindak lanjut 10 tahun. Kelompok dengan asupan susu tertinggi tampaknya memiliki tingkat obesitas terendah. Penelitian ini juga mengkonfirmasi hasil ini untuk sindrom metabolik lainnya. Asupan susu yang lebih tinggi bersifat protektif, tidak merugikan.

Sebuah studi di Teheran, yang diterbitkan di AJCN juga menunjukkan bahwa konsumsi susu yang lebih tinggi berkorelasi dengan risiko sindrom metabolik yang lebih rendah.

Bagaimana dengan diabetes tipe 2? Studi Follow-up Profesional Profesi Kesehatan secara prospektif memeriksa hubungan antara diabetes tipe 2 dan asupan susu. 41 254 orang mengambil bagian dalam penelitian besar ini dan 12 tahun masa tindak lanjut, asupan susu dikaitkan dengan insiden diabetes tipe 2 yang rendah secara sederhana setelah penyesuaian usia dan BMI.

Studi CARDIA selanjutnya menyelidiki efek independen dari serat pada sindrom metabolik. Tingkat referensi 1,0 dipilih untuk kelompok dengan susu tinggi dan serat tinggi.  

Meminum susu tinggi protein tapi serat rendah memiliki potensi hampir tiga kali lipat risiko Insulin Resistance Syndrome (IRS), seperti halnya susu rendah tapi serat tinggi. Meminum susu rendah lemak, diet serat rendah meningkatkan risikonya hampir 7 kali! Ini tentu saja bukan kabar baik bagi Standard American Diet (SAD). Konsumsi susu terus menurun sejak tahun 1970an.

Selanjutnya, peningkatan makanan olahan telah mengakibatkan menurunnya asupan serat makanan. Itu menempatkan SAD dalam kategori risiko tertinggi dengan hampir 7 kali risiko IRS. Jadi datanya saling bertentangan sekali.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peningkatan asupan protein buruk untuk diabesitas sementara data kualitas tinggi lainnya menunjukkan bahwa itu baik. Hal ini menyebabkan banyak debat kusir di arena persilatan dunia maya.

Sumber Gambar

Ada orang yang percaya bahwa susu itu baik karena tinggi lemak dan protein (rendah karbohidrat tinggi lemak). Ada orang-orang yang percaya bahwa semua susu harus dienyahkan dari makanan kita (beberapa orang paleo). Ada orang yang percaya bahwa daging merah harus diusir dari diet kita (vegan, vegetarian). Ada yang percaya bahwa daging merah itu baik karena mengandung protein dan lemak tinggi (Atkins).

Apakah karbohidrat buruk? Apakah lemak makanan buruk? Apakah protein buruk? Oh man, my head is starting to hurt…