Cara Menemukan Soulmate dan Cinta Apa Adanya

Sumber Gambar

Menemukan teman/ pasangan yang biasa kita sebut soulmate, yang mana mencintai kita dengan tulus itu gampang nggak sih? Kenapa ya, PERASAAN gue udah melakukan hal baik, tapi mereka nanggepinnya lain? Gue nggak layak dapet cinta apa ya?

Ahik. Pertanyaan yang ngegemesin, bukan?

Gue akan menjawab pertanyaan nomor wahid. Menemukan pasangan atau teman yang mencintaimu dengan tulus bisa jadi perkara naudzubilah susah—kayak ngebongkar kode bom Bunker Buster–, atau bisa jadi malah segampil menjentikkan jari.

Namun, percayalah, menggantungkan harapan kepada orang lain jauh lebih sulit dibandingkan jika jij berharap pada diri sendiri. Oke, menggantungkannya sih gampang lah ya, tapi, pada saat dia  tidak melakukan hal sesuai yang kita inginkan, hmm. Ini yang menjadi persoalan.

Yang bakal terjadi adalah kamu akan menyalahkan orang lain, uring-uringan kepada keadaan, dan menyalahkan dirimu sendiri pada saat realita tidak sesuai dengan cita-cita. Efek sampingnya adalah kecewa. Memang sih, gue sepakat kecewa temporer itu normal. Kecewa itu bagian dari perasaan manusia. Wajar, Baby. Namun yang jadi persoalan adalah kamu menumpuk rasa kecewa itu dan nggak bisa move on dari rasa kecewa tadi. Nggak bisa nerima, dan nggak sanggup ngiklasin. Jadi terus aja diinget-inget dan diungkit-ungkit.

Itu akan mendepakmu dari rasa bahagia. Dan bagi gue, masalah paling vital dan paling esensi adalah SAAT KAMU MERASA TIDAK BAHAGIA dan pada akhirnya tersentuh depresi. Jadi, sebaiknya bagaimana, ya? Gue akan membahasnya nanti.

Pertanyaan kedua tentang berharap agar dicintai. Semua orang berharap dicintai, disayangi, dikagumi, diperlakukan dengan respek. Tapi, apakah semua orang mau melakukan itu kepadamu?

Gue yakin, nggak. Ada kalanya, kamu niatnya apa, dia menanggapinya apa. Dan akhirnya malah jadi situasi yang nyebelin. Atau dia sudah punya persepsi lain terhadapmu, sehingga apapun yang kamu lakukan adalah salah di matanya. Atau mungkin kamu pernah melakukan kesalahan di masa lalu, jadi dia selalu mengaitkannya dengan jejak langkahmu, jadi, meskipun kamu sudah berubah, tetep aja kamu salah di matanya. Atau kamu mungkin berbeda dalam hal ideologis dengannya, sehingga yang ada adalah selalu memakai sepatu masing-masing, jadi tidak akan menemukan titik temu. Banyak kemungkinan. Dan itu manusiawi sekali.

Tapi, dan ini adalah tapi yang besar, orang lain akan bersikap baik atau “jahat” itu BUKAN URUSANMU. Yang terpenting adalah kamu sudah memberikan cinta, dan bagaimana caramu untuk menghadapi situasi itu?

Misal, kamu merasa telah bersikap baik kepadanya. Kamu  telah berniat untuk membuat situasi menjadi harmonis. Dan kamu telah membuka dirimu agar orang lain dapat berbagi hal baik atau buruk. Namun ternyata, orang lain menanggapinya berbeda. Orang lain malah menganggap kamu reseh, aneh, freak, biang kerok kerusuhan, dan hal-hal beraura negatif yang lain—monggo kasih label. Terus gimana? Nangis seharian? Berbulan-bulan? Think twice deh. Jangan nyakitin diri sendiri ataupun orang lain.

Sumber Gambar

Contoh lainnya, kamu telah memberikan cinta, dan orang itu tidak membalasnya. Apakah ini sebuah masalah? Sebenarnya, menurut pendapat gue: THIS IS NO BIG DEAL AT ALL. Kamu dapat meninggalkannya kok. Sederhana saja, artinya kalian tidak mempunyai gelombang yang sama. Jadi nggak perlu memperkeruh keadaan, bukan? Dan jangan terlalu lebay alias menjadikan ini jadi perkara gigantis gitu. Merasa dirimu korban dan apalah. Berhenti dong, Baby!

Ini berlaku bukan hanya untuk hubungan kekasih, namun juga bisa dengan teman, keluarga dan lain-lain.

Solusinya bagaimana? Seperti yang sudah gue sentil tadi, menjauhlah. Nggak perlu bersikap buruk, atau berlebihan, namun lebih baik menjaga jarak.

Dan untuk orang yang sudah kepalang sentimen, ya udahlah ya, lebih baik nggak usah berkomunikasi. Bukan berarti benci. Karena kebencian akan menggerogoti rasa bahagiamu. Nggak berbicara satu sama lain itu dengan tujuan kamu nggak jadi sumber kemarahannya/ ke-muak-annya. Stop lah ngasih stok hal berbau negatif atau pasokan gosip untuk orang lain. Kasian dirimu dan orang lain juga.

Dan jangan lupa, ngebagi cinta pada orang lain bukan berarti kamu melupakan untuk mencintai diri sendiri. Jika kamu melihat gejala ketidakrespekkan, oh, please, jangan sakiti dirimu. Lebih baik mengambil jarak antara Semarang ke Merauke, Dear.

Dan sekali lagi, ini bukan perkara kamu adalah orang yang durjana sampah dunia, dan dia adalah orang baik—ini berlaku sebaliknya—ini hanyalah masalah kecocokkan aja kok.

Pertanyaan yang bagi gue cukup menohok, apa yang kita cari di dunia ini jika bukan rasa damai dan bahagia?

Jadi, berilah waktu kepada dirimu dan orang tersebut, agar semuanya menjadi harmonis kembali. Bukan berarti kamu mengabaikan masalah, dan lari dari masalah. Kamu hadapi itu, selesaikan itu, buang energi negatifmu, dan silakan memberikan waktu baik untukmu maupun dia.

Cintai dirimu dan orang lain, hasilnya seperti apa, que sera-sera aja.

Cara Menemukan Si Soul-mate tanpa Mencarinya


Tetap mencari? Ha ha.

Aloha. Ini Sarah lagi. 🙂

Agak sedikit aneh bagi saya ketika harus membicarakan masalah soulmate/ jodoh/ belahan jiwa, you name it, karena saya tidak memusingkan hal itu. Namun, ada banyak teman saya, dan mungkin salah satunya kamu yang sedang membaca artikel ini, yang puyeng karena sibuk mencari di mana jodohmu, apakah dia telah salah alamat?

Seperti biasa, saya malas untuk menceritakan pengalaman saya sendiri dengan detail, karena ada yang lebih pakar dibandingkan saya, namun di sisi lain, saya juga ingin berbagi sesuatu yang sanggup membuatmu, setidaknya menarik bibirmu ke kanan dan ke kiri alias kamu bisa tersenyum lagi setelah mengurung diri berhari-hari karena depresi.

Here we go….

Tips Mencari Jodoh (Ha ha)
By Astra Niedra

“The privilege of a lifetime is to become who you truly are.” ~Carl Jung

Seringkali, ketika kamu menginginkan seorang kekasih, kamu merasa dirimu belum sempurna, sehingga kamu mencari seseorang yang bisa membuatmu merasa komplit, atau kamu membayangkan dia seperti tokoh khayalanmu yang perfecto numero uno. Jadi, kamu memoles diri, membohongi diri sendiri, dan berpura-pura menjadi orang lain—yang menurutmu ideal—sehingga bisa menarik kandidat-kanditat potensial.

Menurut pengalaman saya, menemukan jodoh itu bukan seperti itu caranya. Tapi lebih baik menjalani hidup sejujur-jujurnya sajalah, Dear. Namun, tenang saja, di bawah ini adalah langkah-langkah yang telah saya praktikan dan berhasil.

Yaitu:

1. Stop looking for your soul mate and find the missing parts of you.
Berhenti mencari jodohmu dan tambal bagian-bagian di dalam dirimu yang menurutmu masih bolong.
Mungkin terdengar counterintuitive alias bertolak belakang dengan intuisi, namun, justru pada saat saya berhenti grabak-grubuk mencari di mana si jodoh, saya bertemu dengan suami saya. Saya berhenti menguber “the one” pasca putus, setelah menjalani relationship selama 2 tahun.

Lantas, apa yang harus kita lakukan jika bukan berburu pengganti? Fokuskan perhatianmu ke dirimu sendiri—berkenalan dengan diri sendiri, dan menerima apa adanya—dengan lebih memperhatikan diri sendiri kita bisa menyembuhkan luka masa lalu, juga, mengeksplorasi dan mengembangkan bagian baru dari diri kita.

Pada jaman dahulu, sebelum saya mendapatkan pencerahan ini, saya selalu membutuhkan orang lain agar merasa utuh dan hepi. Wajib memiliki seseorang yang mencintai saya, agar bisa merasa dicintai.

Sejujurnya, putus dengan pacar terasa sangat pedih karena ada yang hancur, dan seolah-olah sebagian diri saya lebam karena dicambuki.

Tetapi, harta karun apa yang saya temukan? I had to learn to be whole, saya harus belajar menjadi bulat sempurna tanpa kisi-kisi yang bisa disusupi angin jahat. Dan ketika saya melangkah setahap demi setahap di jalan itu, hidup saya berubah.

2. Live your life as you want to live it.
Jalani hidup seperti yang kamu inginkan.
Kala saya mulai menjaring hal-hal lain tentang diri saya sendiri dan mulai mengikuti apa yang terbaik menurut saya, saya mulai merasa hidup dan rasanya…. indah. Saya tidak lagi mengikuti aturan individu lain atau gagasan di kepala orang lain mengenai apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya.

Bisa jadi ini akan mengecewakan beberapa orang yang dekat denganmu, misalnya seperti keluarga. But if you want to find fulfillment in your life, you have to fulfill yourself, not someone else! Tapi, kamu kan ingin mencari sesuatu yang bisa melengkapi dirimu, lakukan sendiri dong, dan itu tugasmu, bukan kewajiban keluargamu.


Bertepuk sebelah tangan, sudah biasa, ditinggal tanpa alasan, sudah biasa, tapi aku tetap bernyanyi

Dan mengerjakan apa yang tertepat untukmu berarti kamu harus berada di tempat, pekerjaan, dan orang-orang yang sefrekuensi denganmu. Kamu akan mendapatkan kesempatan yang lebih gigantis untuk bertemu dengan si soulmate, karena jodohmu akan terkoneksi dengan jalan hidup.

3. Stop trying to appeal to an imagined, potential partner.
Berhentilah mencoba menarik pasangan potensial sesuai khayalanmu.

‘Efek samping’ dari memilih cara hidup yang kamu inginkan secara otomatis membuatmu menjadi lebih menarik. Maksud saya begini. Mungkin saat ini sedang trend semua orang membuat apps atau website, namun hobimu adalah jadi sales panci. Kamu menikmati setiap momen ketika kamu berteriak, “Dibeli-dibeli, serebu dapet serebu!” Mengapa kamu harus memaksakan diri belajar coding di depan laptop jika kamu lebih menyukai menyebar-nyebar ludah di udara bebas dan melihat langsung ekspresi pembeli? Kamu akan menjadi lebih ‘nyata’, otentik, substansial, passionate, bergairah, bahagia, dan present (tidak berhabu terus alias berkhayal babu atau mengawang-awang). Hal ini membuat kamu lebih cantik atau ganteng dengan cara alami dan tanpa usaha, dan itu juga akan membuat kamu lebih menarik bagi jodohmu yang entah sedang ada di belahan bumi mana.

Sedangkan ketika kamu menjadi orang lain dengan berasumsi bahwa itu yang dianggap menarik oleh orang-orang di luar sana, kamu mengubah cara berperilaku dan berpenampilan sehingga jika jodohmu nongol, dia mungkin tidak mengenalimu.
So, just be yourself, jadilah dirimu sendiri, Nyai, Akang. Apakah itu berarti kamu berjas dan berdasi atau berbikini atau sempakan doang, atau pakaian kasual atau lebih formal, atau jika kamu berpakaian apa pun sesuai dengan apa yang sedang kamu hadiri, tetaplah menjadi dirimu sendiri.

Kamu nggak perlu mempunyai celana ukuran XS atau XXL atau dengan kata lain berat badanmu nggak harus ada di standar tertentu (jika itu membuatmu nggak hepi dan merasa tidak mengenali diri sendiri), tidak pula harus memiliki biseps seukuran perut gajah atau memakai sepatu yang bikin cantengan. Pergilah ke gym hanya jika kamu menyukainya, lakukan yoga jika kamu mencintainya, jalan kaki atau berselancar atau bersepeda jika memang kamu menikmati aktivitas tersebut.


Jika kamu ingin mempunyai pasangan berbadan bagus, mengapa tidak menyeting goal untuk dirimu sendiri. Sumber gambar.

Pasangan jangka panjang tidak akan peduli pada penampilan artifisial. Jadi, ketukan apa yang paling enak didenger oleh kupingmu? Apa yang terasa paling ciamik untukmu, lakukan aktivitas yang nona dan tuan sukai, kenakan pakaian yang sesuai denganmu dan bikin kamu nyaman.

Kamu akan jauh lebih menarik bagi jodohmu jika kamu terlihat seperti apa adanya kamu.

4. If you are attracted to particular qualities in someone else, find or develop those qualities in yourself.
Jika kamu tertarik pada kualitas tertentu pada orang lain, temukan atau kembangkan kualitas itu dalam dirimu sendiri.

Sebagian besar dari kita hanya mengekspresikan sebagian kecil dari diri kita. Secara tidak sengaja, kita membuat limit pada kepribadian atau pola pikir—kita hanya merespons terhadap lingkungan masa kecil kita. Ini adalah tahap yang tidak dapat dihindari dalam proses perkembangan kita karena kita harus membentuk ego atau diri sendiri—yang memungkinkan kita bertahan dan berkembang dalam keluarga dan lingkungan sosial kita.

Dan cara kita melakukannya adalah dengan menumbuhkan karakteristik yang memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup kita dan menyingkirkan karakteristik yang tidak dihargai atau dibutuhkan.

Jadi kita semua memiliki bagian tersembunyi dari diri kita sendiri yang pada suatu saat kita perlu gali lebih dalam.
Ketika kita belum menemukan dan memeluk bagian-bagian yang bisa membuat kita utuh, kita tertarik pada hubungan dengan orang lain dengan mencari potongan puzzle yang hilang. Ini seperti kita secara tidak sadar mencoba membuat komplet diri kita melalui relationships.

Hubungan ini biasanya melibatkan daya tarik intens di tahap awal, dan ditandai oleh feelings of completeness atau perasaan merasa terlengkapi. Tapi mau tidak mau, mereka menjadi tertahan oleh pola hubungan yang kuat, dimana kedua manusia itu terjebak saling berkaitan satu sama lain, satu bagian utama dari diri mereka sendiri terikat simpul dan tidak bisa berlari kemana-mana. Ini disebut “bonding patterns” atau pola ikatan.


Ha ha. Ya, bayar yang musti dibayar, dan self-love. Sumber Gambar.

Jadi, misalnya, seorang yang kebapakan menjadi tertarik pada wanita manja yang membutuhkan kasih sayang “bapak”, wanita yang keibuan akan menarik pasangan yang memiliki sifat kenakanan atau “needy son.” Kamu sedang menjalin hubungan romantis atau ngasuh anak sih?
Jika wanita tersebut tidak sadar akan tanggung jawabnya sendiri, dia akan bergantung pada pasangannya untuk bertanggung jawab. Dan jika pria itu tidak terkoneksi dengan his nurturing side atau cara ‘mengasuh’ dirinya sendiri, dia pasti ingin diasuh oleh pasangannya. Tapi kemudian ketika stres, tekanan, dan konflik muncul dalam hubungan, pola ikatan ini berubah negatif, dan para pasangan saling menyalahkan, saling kecewa, saling tidak menghargai dan saling benci.

Saya sangat bersyukur telah belajar tentang pola ikatan, karena,
1. Hubungan saya menjadi lebih menyenangkan, seru, fantastis.
2. Dan juga merupakan panduan jika tiba-tiba, saya mengalami kehilangan koneksi.

Karena pola ikatan adalah cara alami bagaimana kita mencintai dan ingin dicintai, pola ikatan tidak dapat dihindari. Meski kita sangat conscious, alias sober atau selalu sadar, tetapi, pasti suatu ketika kita mungkin akan mengalami unconscious atau tidak sadar. Ya, namanya juga manusia. Tetapi, dan ini tetapi yang seukuran pulau Palau, pola ikatan bisa merupakan navigasi yang menjamin kesuksesan.


Sugar Daddy?

Bila kamu menyadari bahwa kamu tertarik pada orang lain karena orang itu memiliki hal yang kurang di dirimu, dan kemudian kamu bekerja untuk memiliki kualitas itu, hubunganmu akan berubah. Misal begini, setiap bulan kamu pusing dengan tagihan ini itu, kamu berharap bahwa ada pangeran kaya raya tajir melintir yang kesurupan, dan bisa nyelesein masalah keuanganmu itu, maka hubunganmu akan selalu hamsyong. Namun, jika kamu sadar bahwa untuk menutupi segala pengeluaran kamu harus bekerja dan membuang daftar yang bikin kamu bokek, kamu akan menarik orang yang tepat.

Jika kamu sudah menjalin hubungan dan kamu sedang memulai proses ini, maka saat kamu dan pasanganmu mulai sadar dengan fakta ini, kamu mulai menjadi lebih mandiri satu sama lain dan hubungan kalian akan menjadi lebih kaya.


Sumber Gambar


5. Engage with life; accept the gifts that are offered to you.

Terlibat dengan kehidupan; Menerima hadiah yang ditawarkan kepadamu.

Pada malam saya bertemu dengan suami saya, seorang teman telah mengundang saya ke sebuah pesta yang diselenggarakan oleh salah seorang temannya, dan pada awalnya saya tidak yakin apakah saya ingin pergi.

Saya tergoda untuk menolak undangan karena saya tidak mengenal orang yang pesta itu, dan itu adalah hari Minggu malam, jadi saya harus bekerja keesokan harinya. Tapi saya tidak punya alasan kuat untuk tidak pergi dan saya telah berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan menerima hadiah yang ditawarkan kepada saya, seperti mengatakan ya kepada undangan yang sepertinya datang entah dari mana. Dan ini salah satunya.


Sumber Gambar

Ketika saya sampai di pesta itu, itu dia: suami masa depan saya, dengan siapa saya memiliki tiga anak dan dua puluh lima tahun hidup bersama yang indah.

Apakah saya mencari seseorang saat pergi ke pesta itu?
Tidak. Dan itu merupakan kejutan menemukan dia di sana.
Jika saya sengaja mencari pasangan, saya mungkin tidak akan berbicara dengan suami saya malam itu.

Bila kamu bertemu dengan semua orang dan menyaringnya dengan tujuan kontrak seumur hidup, itu agak merusak segalanya. Kamu atau dia akan menjadi tidak jujur dan tidak apa adanya. Dia juga anggap menganggap dirinya sebagai “calon mangsa” sehingga dia akan lari darimu.

Cara termudah untuk berhenti menilai orang lain sebagai calon suami/ istri potensial adalah berhenti mencari calon pasangan dan berkoneksilah dnegan orang lain dengan ketertarikan yang tulus. Kemudian nikmati hubungan yang berkembang, baik itu sebagai teman, rekan kerja, atau berdasarkan a mutual interest.


Semesta punya rencana indah buatmu, santai aza! Sumber Gambar.

6. When you meet someone, don’t hurry things; allow the relationship to unfold.
Bila kamu bertemu seseorang, jangan terburu-buru; Biarkan relationship berkembang apa adanya.

Bila kamu bertemu seseorang, biarkan koneksi menjadi berkembang dan berkembang. Jika orang itu adalah belahan jiwamu, dia juga akan tertarik padamu, jadi jika kalian berdua saling memperhatikan satu sama lain, maka sesuatu akan berkembang. Tidak perlu bermain game atau mencoba teknik rayuan tertentu atau untuk mencapai milestones pada waktu tertentu. Hubungan jangka panjang yang berhasil bukanlah sebuah permainan.


Nggak usah buru-buru, jodoh gak kemana. Sumber gambar.

Apakah kamu benar-benar ingin menjalin hubungan dengan seseorang yang harus kamu manipulasi atau kamu dimanipulasi? Apakah kamu ingin pasanganmu terpesona dengan gambar yang telah kamu ciptakan sehingga kamu harus menyembunyikan diri dengan cara tertentu? Atau apakah kamu ingin pasanganmu mencintaimu dengan sepenuh hati? Hubungan seperti apa yang ingin kamu tawarkan kepada anak-anak jika kamu memilikinya?

Setiap hubungan itu unik, sama seperti setiap orang itu spesial, jadi bagaimana hubunganmu dengan pasanganmu akan menjadi istimewa juga. Kamu tidak bisa merencanakannya dengan cara tertentu. Kamu harus terlibat dengan proses itu dan terkoneksi satu sama lain, dan kemudian membuat keputusan. Tidak ada satu baris pun yang bisa kamu katakan, tidak ada satu tindakan pun yang bisa kamu ambil, yang akan menghasilkan hasil tertentu.

All you can do is live your life more fully, learn to accept and love yourself more fully, and you will love and be loved more fully.